| Author Lothar Spurzem |
Minggu, 01 Maret 2026
Hari Minggu Prapaskah II
Apabila kita tetap tabah mengakui dan mencintai Tuhan, kita mendapat kemenangan yang Ia peroleh, dan menerima ganjaran yang Ia janjikan. (St. Leo Agung)
Antifon Pembuka (Mzm 27:8-9)
Kepada-Mu, ya Tuhan, hatiku berkata, "Kucari wajah-Mu." Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, janganlah memalingkan muka daripadaku.
Tibi dixit cor meum, quæsivi vultum tuum, vultum tuum Domine requiram: ne avertas faciem tuam a me.
(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mazmur 84)
Doa Pagi
Ya Allah, Engkau menghendaki agar kami mendengarkan Putra-Mu yang terkasih. Semoga Engkau berkenan menggerakkan hati kami dengan Sabda-Mu dan memurnikan mata batin kami agar dapat memandang kemuliaan-Mu dengan sukacita. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Kejadian (12:1-4a)
Hari Minggu Prapaskah II
Apabila kita tetap tabah mengakui dan mencintai Tuhan, kita mendapat kemenangan yang Ia peroleh, dan menerima ganjaran yang Ia janjikan. (St. Leo Agung)
Antifon Pembuka (Mzm 27:8-9)
Kepada-Mu, ya Tuhan, hatiku berkata, "Kucari wajah-Mu." Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, janganlah memalingkan muka daripadaku.
Tibi dixit cor meum, quæsivi vultum tuum, vultum tuum Domine requiram: ne avertas faciem tuam a me.
(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mazmur 84)
Doa Pagi
Ya Allah, Engkau menghendaki agar kami mendengarkan Putra-Mu yang terkasih. Semoga Engkau berkenan menggerakkan hati kami dengan Sabda-Mu dan memurnikan mata batin kami agar dapat memandang kemuliaan-Mu dengan sukacita. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Kejadian (12:1-4a)
"Panggilan Abraham, bapa Umat Allah."
Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 812
Ref. Kasih setia-Mu kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Atau Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Ayat. (Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Ul: 22)
1. Firman itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 1:8b-10)
Ayat. (Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Ul: 22)
1. Firman itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 1:8b-10)
"Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup."
Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Mrk 9:6)
Dari awan terdengarlah suara Bapa, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."
Inilah Injil Suci menurut Matius (17:1-9)
"Wajah-Nya bercahaya seperti matahari."
Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka: Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Bagi kita yang tinggal di gedung-gedung tinggi, kita tahu ada perbedaan antara tinggal di lantai bawah dan di lantai atas. Selain perbedaan harga, di mana lantai atas dipatok dengan harga lebih tinggi, ada juga perbedaan pemandangan. Di lantai bawah, pemandangannya bisa cukup ramai dan berantakan, karena kita hanya bisa melihat lingkungan sekitar di permukaan tanah. Selain itu, karena lebih dekat dengan tanah, kita akan melihat lebih banyak kotoran, dan jika ada orang yang tidak bertanggung jawab tinggal di lantai atas, kita juga akan melihat sampah berjatuhan dan air menetes dari pakaian dan pel.
Di lantai atas, yang mungkin membuat kita terkesan adalah pemandangannya. Kita bisa melihat lebih jauh dan lebih banyak, dan udaranya lebih berangin dan mungkin lebih segar. Mungkin juga lebih tenang, dan dengan pemandangan yang bagus, dapat memberikan rasa ketenangan dan kedamaian. Jadi, jika kita punya pilihan, dan jika kita tidak perlu mempertimbangkan pemadaman listrik dan kerusakan lift, maka kemungkinan besar kita akan memilih untuk tinggal di lantai atas. Namun, dinamika kehidupan bukanlah tentang pilihan apakah kita ingin tetap tinggal di lantai atas atau harus menanggung tinggal di lantai bawah. Kehidupan bukanlah tentang selalu berada di puncak atau selalu berada di lembah. Bahkan, kehidupan seperti siklus naik turun, dan pasang surut.
Dalam Injil minggu lalu, kita mendengar bahwa Yesus pergi ke padang gurun dan di sana Ia menghadapi godaan iblis. Kita dapat membayangkan bahwa itu bukanlah gambaran yang menyenangkan dengan kondisi padang gurun yang keras dan pasir yang kering. Dan kita juga dapat membayangkan betapa menantangnya bagi Yesus untuk menolak godaan iblis dalam kondisi seperti itu.
Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus dan tiga murid-Nya naik ke gunung yang tinggi. Di gunung itu, Yesus berubah rupa, dan wajah-Nya bersinar seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi seputih cahaya. Yesus berada dalam kemuliaan ilahi-Nya, dan Musa serta Elia muncul dan berbicara dengan-Nya. Itu adalah pemandangan yang menakjubkan, dan Petrus meringkas semuanya ketika ia berkata: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini." Ya, sungguh luar biasa berada di puncak gunung, tetapi sungguh mengerikan berada di padang gurun. Bahkan lingkungannya pun sangat berbeda. Di padang gurun, hanya ada pasir gurun yang panas dan kering. Di gunung, ada rasa kekuatan dan keagungan, karena gunung sering dianggap sekokoh batu. Jadi, dalam hidup, dan bahkan dalam iman, ada saat-saat ketika kita merasa seaman batu, dan ada saat-saat ketika kita merasa berjalan di atas pasir panas dan bahkan tenggelam ke dalam pasir hisap. Tetapi keagungan gunung dan penderitaan padang gurun memiliki pelajaran bagi kita. Batu-batu gunung dan pasir padang gurun dapat menceritakan kisah ini kepada kita.
Dua sahabat sedang berjalan di padang gurun dan terlibat dalam pertengkaran. Seorang teman menampar teman lainnya di wajah. Yang ditampar merasa sakit hati, tetapi tanpa berkata apa-apa, ia menulis di pasir: Hari ini sahabatku menampar wajahku. Mereka terus berjalan sampai menemukan oasis. Karena haus, mereka berhenti untuk minum air. Yang ditampar terpeleset dan jatuh ke kolam, lalu mulai tenggelam. Temannya menyelamatkannya. Malam itu, ia menulis di batu: Hari ini sahabatku menyelamatkan hidupku. Teman yang menampar dan menyelamatkan sahabatnya bertanya kepadanya, “Setelah aku menyakitimu, kau menulis di pasir dan sekarang kau menulis di batu, mengapa?” Ia menjawab: “Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menuliskannya di pasir agar angin pengampunan dapat menghapusnya. Tetapi, ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik untuk kita, kita harus mengukirnya di batu agar selalu diingat.”
Jadi, marilah kita mengingat keagungan ilahi yang Yesus nyatakan di puncak gunung itu, dan marilah kita mendengarkan ajaran-Nya tentang kasih dan pengampunan. Dan ketika kita tenggelam dalam penderitaan di pasir gurun yang panas, marilah kita ingat apa yang Yesus katakan kepada murid-murid-Nya: "Bangkitlah, jangan takut." Jadi, ketika kita merasa berdiri di atas pasir panas atau bahkan di pasir hisap, marilah kita berseru kepada Yesus, dan Dia akan mengangkat kita ke puncak gunung untuk melihat kemuliaan-Nya.. (RENUNGAN PAGI)
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Baca juga artikel lama kami: 7 Simbol dari catatan Injil tentang Transfigurasi, sebagaimana dijelaskan oleh Benediktus XVI
Antifon Komuni (Mat 17:5)
Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia.
Visionem quam vidistis, nemini dixeritis, donec a mortuis resurgat Filius hominis.
(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mzm 45:2ab,3,4,5,6,7,8,18ab atau Mzm 97:1,2,3,4,5,6,11,12)
“Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya di hadapan saksi-saksi yang
dipilih-Nya; dan Ia membuat tubuh, yang Ia miliki bersama dengan manusia
lainnya. Ia bersinar dengan cahaya cemerlang, hingga wajah-Nya menjadi
terang seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti kapas.
Dengan mengubah rupa-Nya seperti ini, Tuhan khususnya ingin
menghindarkan, agar para murid jangan sampai mendapatkan sandungan dalam
hatinya, salib.” (Paus Leo Agung)



