| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini |Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Senin, 05 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII

 
Senin, 05 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXVII

Tuhan selalu dekat pada orang yang menyebut Dia dalam iman yang benar, harapan yang tak tergoncangkan dan dalam cinta sempurna. (St. Ambrosius)

   

Antifon Pembuka (Luk 10:36.37)

"Siapakah sesama orang yang jatuh ke tangan penyamun?" 'Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.' "Pergilah dan lakukanlah demikian."

Doa Pagi


Ya Allah, Engkau telah menanamkan Sabda-Mu di dalam hati kami dan melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah memberi kami teladan bagaimana melaksanakan Sabda-Mu itu. Kami mohon, doronglah kami menunjukkan belas kasih kepada sesama kami, sebagaimana Putra-Mu telah melakukannya. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Penyaliban dan Kebangkitan dalam Kaca Patri
Di belakang altar di Gereja Legazpi, Bicol, Filipina adalah set mural kaca patri dan patung Yesus Kristus.
Wayne S. Grazio/flickr (CC BY-NC-ND 2.0)
 

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (1:6-12)
  
"Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia." 
 
Saudara-saudara, aku heran, bahwa kalian begitu cepat berbalik dari Allah, yang telah memanggil kalian oleh kasih karunia Kristus, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil; hanya ada orang-orang yang mengacaukan kalian dan yang bermaksud memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi seandainya kami sendiri atau pun seorang malaikat dari surga mewartakan kepada kalian suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi, "Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia." Jadi bagaimana sekarang? Adakah aku mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah aku mencoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencari perkenanan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku menerimanya bukan dari manusia, dan bukan pula manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya.
Ayat. (Mzm 111:1-2.7-8.9.10c)

1. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan di tengah jemaat. Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
2. Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh; perintah-Nya lestari untuk selama-lamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.
3. Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya, Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya; kudus dan dahsyatlah nama-Nya! Dia akan disanjung sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952.
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 13:34)
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Inilah Injil Suci menurut Lukas (10:25-37)

"Siapakah sesamaku?"
  
Pada suatu ketika, seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus, "Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya, "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya, "Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus, "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, 'Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.' Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu, "Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya." Yesus berkata kepadanya, "Pergilah, dan lakukanlah demikian!"
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)

Renungan
  
 Sebagai umat Kristiani yang baik—umat yang menghadiri Misa setiap hari dan menyambut Tubuh Kristus setiap hari—saya rasa Anda semua sudah mengetahui jawaban atas pertanyaan ini. Anda sudah tahu jawaban atas pertanyaan ahli Taurat tersebut: "Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?" Jawabannya bukanlah sekadar menghadiri Misa setiap hari. Menghadiri Misa setiap hari memang sangat baik; hal itu membantu kita mencapai hidup kekal. Namun, ada hal yang lebih dari sekadar itu. Hal itu adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap akal budi, segenap jiwa, dan segenap kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Hal ini tampak sangat sulit dan berat; terkadang memang tidak mudah untuk melakukannya. Terkadang kita lebih mengasihi hal-hal lain daripada Allah. Terkadang kita lebih mengasihi keluarga, uang, benda-benda, atau ciptaan duniawi lainnya daripada Sang Pencipta. Jadi, ahli Taurat itu sebenarnya tidak sedang mencari jawaban yang sesungguhnya atas pertanyaan tersebut. Ia sedang menguji Yesus. Namun, karena Yesus adalah Allah yang senantiasa penuh hikmat, Ia memanfaatkan kesempatan itu. Yesus menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan penjelasan kepadanya dan kepada kita semua.
   
Dalam bacaan pertama, kita membaca bagaimana orang-orang meninggalkan penyembahan kepada Allah dan mulai menyembah hal-hal lain. Saat kita dibaptis—baik saat kita sudah dewasa maupun saat masih bayi (di mana Gereja menggunakan iman orang tua kita untuk membaptis kita)—sejak saat itulah kita menjadi umat Allah, umat Yesus Kristus, dan pengikut Kristus. Di dalam jiwa kita, terdapat meterai pembaptisan yang menjadikan kita milik Kristus, umat Kristiani. Tidak ada apa pun—tidak ada Injil lain—yang dapat mengubah kenyataan itu. Sekalipun kita tumbuh dewasa dan dunia merusak kita, serta kita mulai mengikuti jalan dunia alih-alih mengikuti apa yang kita yakini sejak awal, kita tetaplah milik Allah. Dia akan mengakui kita sebagai milik-Nya. Kelak saat kita meninggal, Dia akan berkata, "Engkau adalah milik-Ku," bukan milik Iblis ataupun milik hal-hal duniawi yang sempat kita sembah karena pengaruh dunia, melainkan milik Allah yang hidup. 
 
Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak boleh ada Injil lain; hanya Injil sejati yang kita terima sejak awal itulah yang berlaku. Hanya ada 4 Injil yakni Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Tidak ada yang lain. Baptisan yang kita terima—baik melalui iman orang tua kita maupun iman kita sendiri—seharusnya menjadi penuntun hidup kita sejak saat itu hingga akhir hayat. 
   
Kita tidak boleh menyembah apa pun selain Allah yang hidup—baik itu uang maupun pemimpin duniawi—yaitu Allah yang dalam nama-Nya kita dibaptis: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dengan demikian, kita hendaknya menghadiri Misa setiap hari. Hal ini akan membantu kita mencapai kehidupan kekal. Sebagaimana Yesus menyimpulkan: pergilah dan lakukanlah seperti orang Samaria yang baik hati itu. Pergilah dan jadilah sesama bagi orang lain. Bukan hanya bagi tetangga yang kita kenal atau yang tinggal tepat di sebelah rumah kita, melainkan bagi siapa saja. Dengan cara itulah kita mengupayakan kehidupan kekal. Marilah kita berdoa bersama. Kiranya Allah Yang Mahakuasa menolong kita. Terkadang kita merasa bahwa hal ini sulit. Ya, memang sulit untuk menjadi murid-Nya. Bagi Yesus pun, wafat di kayu salib demi kita adalah hal yang berat. Ia pun mengalami pencobaan. Namun pada akhirnya, Ia berkata, "Biarlah terjadi menurut kehendak-Mu." Bukan menurut kehendak-Ku, melainkan biarlah kehendak-Mu yang terjadi. Dan Ia wafat demi kita. Maka, marilah kita pergi dan menjadi orang Samaria yang baik hati bagi sesama kita; marilah kita peka terhadap kebutuhan setiap orang yang dihadirkan Allah dalam hidup kita. Ada orang-orang yang datang kepada kita bukan semata-mata karena keinginan mereka sendiri. Allah mendekatkan mereka kepada kita agar kita dapat menolong mereka, mengulurkan tangan kasih—tangan Yesus yang bekerja melalui kita—kepada mereka, dan membawa mereka kembali kepada-Nya. Puji syukur bagi Tuhan Yesus Kristus, kini dan sepanjang masa. 
 
   
 
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini

Antifon Komuni (Yoh 13:34)

Perintah baru Kuberikan kepadamu, yaitu agar kamu saling mengasihi sebagaimana Aku mengasihi kamu.

Doa Malam


Allah Bapa kami yang mahabaik, terimalah persembahan hidup kami hari ini yang telah Kauberi kepercayaan mengelola talenta dua dinar untuk mengurus sesama kami yang membutuhkan pertolongan. Jika berkenan kepada-Mu, terimalah; jika ada kekurangan dan kesalahan, sudilah Engkau mengampuni kami. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

 



RENUNGAN PAGI

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy