Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, hari ini Gereja mengajak kita mengenang sosok St. Maria Faustina Kowalska, seorang biarawati Polandia yang melalui penglihatannya, menghadirkan Devosi kepada Kerahiman Ilahi yang kini begitu hidup di tengah umat. Perjalanan rohaninya bermula dari sebuah keluarga miskin kelas pekerja di Głogowiec, Polandia, tempat ia dilahirkan dengan nama Helena Kowalska. Meskipun ketertarikannya pada kehidupan religius sudah tumbuh sejak usia belia, ia harus menunda panggilan tersebut karena ketiadaan restu orang tua dan tuntutan untuk bekerja demi menghidupi keluarga pada usia enam belas tahun. Namun, panggilan Tuhan tak pernah pudar, hingga akhirnya pada tahun 1924, ia diterima di Kongregasi Suster-suster Perawan Maria Berbelaskasih dan mengikrarkan diri dengan nama religius Maria Faustina dari Sakramen Mahakudus.
Dalam keheningan hidup membiaranya, tepat pada tanggal 22 Februari 1931, Suster Maria Faustina menerima sebuah penglihatan agung yang mengubah jalan hidupnya. Ia melihat Yesus berpakaian putih dengan sinar merah dan pucat memancar dari Hati-Nya, yang kemudian menjadi cikal bakal citra dan devosi Kerahiman Ilahi yang terus ia wartakan di sisa hidupnya. Perutusannya kemudian membawanya ke Wilno, di mana dengan bimbingan Beato Michael Sopoćko, ia mulai mencatat setiap pengalaman rahmatnya dalam sebuah buku harian yang kelak kita kenal dengan judul "Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku". Tentu saja, jalan ini tidaklah mudah karena ia sempat menghadapi berbagai pertentangan. Dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun serta penelitian Gereja yang sangat intensif untuk memastikan bahwa semua pengalaman rohani dan tulisannya benar-benar sejalan dengan ajaran iman serta murni dari Tuhan.
Di tengah perjuangan batin dan pelayanannya, Maria Faustina kembali ke Polandia pada tahun 1936 dan mulai dijangkiti penyakit—yang diyakini sebagai tuberkulosis—yang perlahan merenggut kekuatan raganya. Meski demikian, kesetiaannya dalam memajukan devosi Kerahiman Ilahi tak pernah surut hingga ia menghembuskan napas terakhirnya di Krakow pada tanggal 5 Oktober 1938, dan pada tahun 2000, Gereja secara resmi mengangkatnya sebagai seorang Santa. Kini, devosi yang ditinggalkannya menjadi pengingat abadi akan kasih dan kemurahan Tuhan yang tak terbatas, yang diberikan tanpa prasangka layaknya kasih seorang Samaria yang baik hati. Tuhan senantiasa sabar dan penuh belas kasih, memanggil kita semua untuk meneladani Kristus dalam setiap langkah hidup kita.
Terinspirasi oleh iman dan ketekunan St. Faustina yang luar biasa di tengah segala ujian, marilah kita menyambut dengan sepenuh hati panggilan Tuhan untuk senantiasa setia. Terutama di masa-masa yang penuh tantangan ini, marilah kita meluangkan waktu dan upaya untuk berbelas kasih serta merawat saudara-saudari kita yang membutuhkan. Dengan komitmen yang baru, mari kita dedikasikan diri untuk mencintai dan melayani Tuhan dengan pengabdian yang lebih sungguh-sungguh mulai saat ini. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua, memberkati segala niat baik dan upaya kita, sekarang dan sepanjang masa. Amin.




