Easter Anthology (2 dari 5)

Sebelumnya http://renunganpagi.blogspot.com/2003/04/easter-anthology-1-dari-5.html

"Kisah Tiga Batang Pohon"

Di suatu masa tiga batang pohon tumbuh di atas sebuah bukit dalam hutan. Suatu hari mereka bercakap-cakap, memperbincangkan harapan-harapan dan impian mereka.
Pohon yang pertama berkata, "Suatu hari nanti aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat penyimpanan harta. Ukiran-ukiran yg rumit akan menghiasi tubuhku sehingga semua orang akan memandang dan mengagumi kecantikanku".
Pohon yang kedua tak mau kalah berkata, "Suatu hari nanti aku berkeinginan menjadi sebuah kapal yang besar. Aku akan membawa para raja dan ratu mengarungi lautan dan menjelajah samudra sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang akan merasa aman berada dalam diriku karena kekuatanku".
Akhirnya pohon yg ketiga berkata, "Aku tidak memiliki ambisi apa-apa selain tetap tumbuh di bukit ini agar aku dapat merenungkan rahasia-rahasia langit dan bumi."
Tahun-tahun pun berlalu. Doa dan impian mereka seperti tak terjawab ditelan kebisuan hari-hari yang telah lewat. Sampai suatu hari datanglah sekelompok penebang kayu ke atas bukit itu.
Seorang penebang kayu menghampiri pohon pertama dan berkata, "Pohon ini tampak kuat dan kokoh. Kukira tukang kayu manapun akan bersedia membelinya." Dan dia mulai menebang pohon itu. Pohon tersebut sangat bahagia mendengar ucapan penebang tersebut. Dalam bayangannya seorang tukang kayu akan menjadikannya sebuah peti penyimpan harta.
Seorang penebang lainnya menghampiri pohon yang kedua dan berujar, "Tampaknya pohon ini kuat, sepertinya aku akan mendapat keuntungan besar dengan menjualnya kepada tukang pembuat kapal". Sama seperti pohon yang pertama, pohon yang kedua tersebut bahagia membayangkan dirinya dibentuk menjadi sebuah kapal yg besar.
Sebaliknya, ketika seorang penebang menghampiri pohon yang ketiga, dia justru sangat ketakutan karena dia tahu dia segera akan dipisahkan dari tanah kelahirannya dan tempatnya tumbuh. Penebang kayu itu berkata, "Aku tidak perlu sesuatu yang khusu dari pohon ini jadi aku bawa saja." Chop! Chop! Chop! Ditebanglah pohon itu.
Ketika pohon pertama dibawa kepada tukang kayu, tukang kayu tersebut membuatnya menjadi sebuah kotak tempat makanan hewan. Setelah jadi, dia diletakkan di sebuah kandang dan dipenuhi dengan jerami....
Batang pohon kedua dipotong-potong dan dibentuk menjadi sebuah perahu kecil kemudian dijual kepada para nelayan untuk mereka gunakan menangkap ikan....
Batang pohon ketiga di potong-potong dalam ukuran yang besar besar dan ditinggalkan begitu saja dalam kegelapan setelah itu....
Kembali tahun-tahun berlalu. Ketika pohon-pohon tersebut sudah melupakan harapan dan impian mereka, suatu hari seorang pria dan seorang wanita datang ke kandang tempatnya berada. Si wanita melahirkan seorang Bayi lalu meletakkan Bayi tersebut dalam kotak makanan hewan yang dibuat dari pohon pertama yang dipenuhi jerami. Si pria berharap menemukan pelaminan yang lebih baik untuk Bayi itu, tetapi hanya palungan itulah yg tersedia.
Tahun-tahun berikutnya, sekelompok orang berada dalam sebuah perahu penangkap ikan yang terbuat dari batang pohon kedua. Salah seorang dari mereka sedang kelelahan dan akhirnya tertidur. Ketika mereka ada di tengah -tengah laut, gelombang besar melanda mereka dan pohon tersebut tidak yakin kalau dia cukup kuat untuk menyelamatkan orang-orang yang berada dalam perahu tersebut. Orang-orang tersebut membangunkan Orang yang sedang tidur itu. Dia terbangun, lalu berdiri sambil berkata "Diam, tenanglah !" Badai tersebut berhenti seketika.
Beberapa tahun kemudian seseorang datang mendapatkan pohon yang ketiga dari tempat penyimpanannya. Pohon tersebut diseret sepanjang jalan dan massa berteriak mengejek dan menghujat Orang yang sedang memikul kayu tersebut. Ketika mereka sampai pada suatu bukit, Orang tersebut dipakukan pada kayu tersebut dan diangkat tinggi sampai mati.
Pohon pertama, pohon kedua, dan pohon ketiga akhirnya berbahagia. Harapan, impian, dan doa mereka akhirnya dijawab oleh Pencipta mereka pada waktu-Nya sendiri, dalam wujud yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


"A Cross in My Pocket"

I carry a cross in my pocket
A simple reminder to me
Of the fact that I am a Christian
No matter where I may be

This little cross is not magic
Nor is it a good luck charm
It isn't meant to protect me
From every physical harm

It's not for identification
For all the world to see
It's simply an understanding
Between my Saviour and me

When I put my hand in my pocket
To bring out a coin or key
The cross is there to remind me
Of the price He paid for me

It reminds me too, to be thankful
For my blessings day by day
and to strive to serve Him better
In all that I do & say

It's also a daily reminder
Of the peace and comfort I share
With all who know my Master
And give themselves to His care

So, I carry a cross in my pocket
Reminding no one but me
That Jesus Christ is the Lord of my life
If only I'll let Him be


The Holy Week & Easter in Mexico (Semana Santa y Pascua)

Every church courtyard looks like a garden on the move. Women & children are carrying armloads of roses, dahlias, zinnias, & other bright blossoms to the church. The altar must be banked with fresh flowers for Palm Sunday.
Some people carry flower covered crosses made of palm leaves into the church to be blessed on this very special occasion.
The blessing of the palms is done in remembrance of a Sunday nearly 2000 years ago. on that day Jesus & His followers came up to Jerusalem. Jesus was greeted by the crowd who welcomed Him by spreading palm branches in His path. For this reason the day is called Palm Sunday.
This holiday is the beginning of a season more important than Christmas in the Church year. The Christmas season recalls the birth of Christ. The Easter season recalls the events leading up to His sufferings, death on the cross, & His resurrection, or rising from the dead. Easter doesn't fall on the same day every year, but it is the 1st Sunday after the full moon following the official beginning of spring (21 March). It may come late in March or even toward the end of April.
The week between Palm Sunday, when Jesus entered Jerusalem in triumph & Easter Sunday is known as the Holy Week.
In many towns & villages of mexico, people act out the scenes that took place in Jerusalem during the last week of Jesus' life on the earth.
The observances in Taxco, a town, about 100 miles of Mexico City, are particularly dramatic. There are religious processions every day of the Holy Week. At the head of each procession, people carry banners with words such as: "Jesus is Our Saviour" or "Jesus is with Us". They also carry a statue of a saint dressed in robes of gold-trimmed satin & jeweled crown.
People line the streets to watch the processions, but there is no joy nor laughter among them. The onlookers are as sober & sad as the marchers. Now & then a man or a woman, with a deep sigh, will step out of the crowd & join the procession. Seldom does anybody drop out of the line of the marchers, for to do so would be a sign of weakness.
On the Thursday of the Holy Week, a group of people dressed in mourning, with chains tied to their ankles, plod through the streets. Their chains clank as they walked. Some of them play slow tunes on a small flute called the chirimia; others beat on small drums. They represent souls chained to their sins, who cannot enter heaven until their sins are atoned.
Later in the week, a large number of men called penitentes join the procession. Each of these men has made a manda, a vow to inflict pain on himself to comemorate Jesus' physical sufferings.
The penitentes are barefoot & wear long black skirts. Their heads are covered by black hoods with holes for eyes, nose, & mouth. They are usually bare from shoulders to the waist. Across his shoulders each man carries a long bundle of thorny cactus. His wrists are tied to the end of the cactus stalks, so he must hold his arms straight out from his shoulders. The strain of holding his arms in this position adds to the pain from the prick of the cactus spines. Most of the men hold lighted candles on their upturned hands. As the candles burn, hot wax drips down on their hands, but the men try not to show how much they're suffering. The penitentes stay with the procession for an hour or sometimes even 2.
Friday, the day of Jesus' crucifixion, is a sad day for fasting, mourning, & going to Church services. An even greater number of penitentes than before join the afternoon & evening processions. Deep sighs, sobs, & moans come from the people as they watch the penitentes bearing their pain & remember the sufferings of Jesus.
All week long tensions ave been building up to a fever pitch. But on Saturday, after morning mass, the tension breaks with the bang of firecrackers.
A huge, ugly straw figure of Judas, the man who betrayed Jesus, has been hung high above a street. Strings of firecrackers crisscross the figure. Tied in among the firecarckers are small gifts, given by local merchants.
Someone leans out of a window & lights a long fuse leading to the hanging Judas. With a tremendous bang-bing-bang, the Judas figure catches fire. As the firecrackers blaze & pop, the small gifts tied among them shower down into the street. Children scarmble & push to get the tiny dolls, tin whistles, & other toys.
The burning of Judas figure on this particular Saturday is a widespead custom in Mexico. Sometimes a shopkeepr pays for the figure to be hung near his shop. More often the people of a town or neighbourhood pay for it.
People try to get the ugliest Judas to burn. The Judas figure may be shaped like a fierce devil with fangs, horns, & a forked tail Often it has the face of a person who is particularly disliked by the people of the town, perhaps the face of an unpopular politician.
With sunrise on Easter Sunday, a very different kind of holiday spirit settles on cities, towns, & villages. This is the day that marks Jesus' rising from the dead. As everywhere in the world among Christians, Easter services are well attended. The air of serene happiness found there lasts throughout this final day of the Holy Week

From "Fiesta Time in Mexico" by Rebecca B. Marcus & Judith Marcus (1974)

Pange Lingua Gloriosi

Pange lingua gloriosi
Corporis mysterium,
Sanguinisque pretiosi,
Quem in mundi pretium
Fructus ventris generosi,
Rex effudit gentium.

Nobis datus, nobis natus
Ex intacta Virgine
Et in mundo conversatus,
Sparso verbi semine,
Sui moras incolatus
Miro clausit ordine.

In supremae nocte cenae
Recum bens cum fratribus,
Observata lege plene
Cibis in legalibus,
Cibum turbae duodenae
Se dat suis manibus

Verbum caro, panem verum
Verbo carnem efficit:
Fitque sanguis Christi merum,
Et si sensus deficit,
Ad firmandum cor sincerum
Sola fides sufficit.

Tantum Ergo

Tantum ergo Sacramentum
Veneremur cernui:
Et antiquum documentum
Novo cedat ritui:
Praestet fides supplementum
Sensuum defectui.

Genitori, Genitoque
Laus et iubilatio,
Salus, honor, virtus quoque
Sit et benedictio:
Procedenti ab utroque
Compar sit laudatio. Amen.

Popule Meus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Quia eduxi te de terra Aegypti: parasti Crucem Salvatori tuo.

Hagios o Theos.
Sanctus Deus.
Hagios Ischyros.
Sanctus Fortis.
Hagios Athanatos, eleison hymas.
Sanctus Immortalis, miserere nobis.

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Quia eduxi te per desertum quadraginta annis, et manna cibavi te, et introduxi in terram satis optimam: parasti Crucem Salvatori tuo. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Quid ultra debui facere tibi, et non feci? Ego quidem plantavi te vineam meam speciosissimam: et tu facta es mihi nimis amara: aceto namque sitim meam potasti: et lancea perforasti latus Salvatori tuo. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego propter te flagellavi Aegyptum cum primogenitis suis: et tu me flagellatum tradidisti. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego te eduxi de Aegypto, demerso Pharaone in Mare Rubrum: et tu me tradidisti principibus sacerdotum. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego ante te aperui mare: et tu aperuisti lancea latus meum. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego ante te præivi in columna nubis: et tu me duxisti ad prætorium Pilati. Ego ante te praeivi in columna nubis: et tu me duxisti ad praetorium Pilati. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego te pavi manna per desertum: et tu me cecidisti alapis et flagellis. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego te potavi aqua salutis de petra: et tu me potasti felle et aceto. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego propter te Chananaeorum reges percussi: et tu percussisti arundine caput meum. Chorus

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego dedi tibi sceptrum regale: et tu dedisti capiti meo spineam coronam.

Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contristavi te? Responde mihi! Ego te exaltavi magna virtute: et tu me suspendisti in patibulo Crucis. Chorus

Ecce Lignum Crucis

Ecce lignum Crucis, in quo salus mundi pependit.

Venite, adoremus

Crux Fidelis

Chorus 1
Crux fidelis,
inter omnes Arbor una nobilis:
Nulla silva talem profert,
Fronde, flore, germine:

Chorus 2:
Dulce lignum, dulces clavos,
Dulce pondus sustinet.

Pange, lingua, gloriosi
Lauream certaminis,
Et super Crucis trophaeo
Dic triumphum nobilem:
Qualiter Redemptor orbis
Immolatus vicerit. Chorus 1

De parentis protoplasti
Fraude Factor condolens,
Quando pomi noxalis
In necem morsu ruit:
Ipse lignum tunc notavit,
Damna ligni ut solveret. Chorus 2

Hoc opus nostrae salutis
Ordo depoposcerat:
Multiformis proditoris
Ars ut artem falleret:
Et medelam ferret inde,
Hostis unde laeserat. Chorus 1

Quando venit ergo sacri
Plenitudo temporis,
Missus est ab arce Patris
Natus, orbis Conditor,
Atque ventre virginali
Carne amictus prodiit. Chorus 2

Vagit infans inter arcta
Conditus præsepia:
Membra pannis involuta
Virgo Mater alligat:
Et Dei manus pedesque
Stricta cingit fascia. Chorus 1

Lustra sex qui jam peregit,
Tempus implens corporis,
Sponte libera Redemptor
Passioni deditus,
Agnus in Crucis levatur
Immolandus stipite. Chorus 2

Fella potus ecce languet:
Spina, clavi, lancea,
Mite corpus perforarunt,
Unda manat et cruor:
Terra, pontus, astra, mundus,
Quo lavantur flumine! Chorus 1

Flecte ramos, arbor alta,
Tensa laxa viscera,
Et rigor lentescat ille,
Quem dedit nativitas:
Et supeni membra Regis
Tende miti stipite. Chorus 2

Sola digna tu fuisti
Ferre mundi victimam:
Atque portum præparare
Arca mundo naufrago:
Quam sacer cruor perunxit,
Fusus Agni corpore. Chorus 1

Sempiterna sit beatae
Trinitati gloria:
Aequa Patri Filioque;
Par decus Paraclito:
Unius Trinique nomen
Laudet universitas. Amen. Chorus 2

Stabat Mater Dolorosa

Stabat Mater Dolorosa
iuxta Crucem lacrimosa,
dum pendebat Filius.

Cuius animam gementem,
constristatam et dolentem
pertransivit gladius.

O quam tristis et afflicta
fuit illa benedicta,
Mater Unigeniti!

Quae maerebat et dolebat,
pia Mater, dum videbat
nati poenas inclyti.

Quis est homo qui non fleret,
Matrem Christi si videret
in tanto supplicio?

Quis non posset contristari
Christi Matrem contemplari
dolentem cum Filio?

Pro peccatis suae gentis
vidit Iesum in tormentis,
et flagellis subditum.

Vidit suum dulcem Natum
moriendo desolatum,
dum emisit spiritum.

Eia, Mater, fons amoris
me sentire vim doloris
fac, ut tecum lugeam.

Fac, ut ardeat cor meum
in amando Christum Dominum
ut sibi complaceam.

Sancta Mater, istud agas,
crucifixi fige plagas
cordi meo valide.

Tui Nati vulnerati,
tam dignati pro me pati,
poenas mecum divide.

Fac me tecum pie flere,
crucifixo condolere,
donec ego vixero.

Iuxta Crucem tecum stare,
et me tibi sociare
in planctu desidero.

Virgo virginum praeclara,
mihi iam non sis amara,
fac me tecum plangere.

Fac, ut portem Christi mortem,
passionis fac consortem,
et plagas recolere.

Fac me plagis vulnerari,
fac me Cruce inebriari,
et cruore Filii.

Flammis ne urar succensus,
per te, Virgo, sim defensus
in die iudicii.

Christe, cum sit hinc exire,
da per Matrem me venire
ad palmam victoriae.

Quando corpus morietur,
fac, ut animae donetur
paradisi gloria. Amen.


Exsultet iam
angelica turba caelorum exsultent divina mysteria et pro tanti Regis victoria, tuba insonet salutaris.

Gaudeat et tellus tantis irradiata fulgoribus et, aeterni regis splendore illustrata, totius orbis se sentiat amisisse caliginem.

Laetetur et Mater Ecclesia tanti luminis adornata fulgoribus: et magnis populorum vocibus haec aula resultet.

Quapropter adstantes vos, fratres carissimi, ad tam miram huius sancti luminis claritatem, una mecum, quaeso, Dei omnipotentis misericordiam invocate.

Ut, qui me non meis meritis intra Levitarum numerum dignatus est aggregare luminis sui claritatem infundens cerei huius laudem implere perficiat.

Per Dominum nostrum Iesum Christum Filium suum, qui cum eo vivit et regnat in unitate Spiritus Sancti, Deus, per omnia saecula saeculorum.


Dominus vobiscum

Et cum spirit tuo

Sursum corda

Habemus ad Dominum

Gratias agamus Domino Deo nostro.

Dignum et iustum est.

Vere dignum et iustum est, invisibilem Deum Patrem omnipotentem Filiumque eius unigenitum, Dominum nostrum Iesum Christum, toto cordis ac mentis affectu et vocis ministerio personare.

Qui pro nobis aeterno Patri
Adae debitum solvit et veteris piaculi cautionem pio cruore detersit.

Haec sunt enim festa
Paschalia, in quibus vere ille Agnus occiditur, cuius sanguine postes fidelium consecrantur.

Haec nox est, in qua primum patres nostros, filios Israel, eductos de Aegypto,
Mare Rubrum sicco vestigio transire fecisti. Haec igitur nox est, quae peccatorum tenebras columnae illuminatione purgavit.

Haec nox est, quae hodie per universum mundum in Christo credentes a vitiis saeculi, et caligine peccatorum segregatos reddit gratiae, sociat sanctitati.

Haec nox est, in qua, destructis vinculis mortis, Christus ab inferis victor ascendit.

Nihil enim nobis nasci profuit, nisi redimi profuisset.

O mira circa nos tuae pietatis dignatio! O inaestimabilis dilectio caritatis: ut servum redimeres, Filium tradidisti!

O certe necessarium
Adae peccatum, quod Christi morte deletum est!

felix culpa quae talem et tantum meruit habere Redemptorem!

O vere beata nox, quae sola meruit scire tempus et horam, in qua Christus ab inferis resurrexit!

Haec nox est, de qua scriptum est: Et nox sicut dies illuminabitur: et nox illuminatio mea in deliciis meis.

Huius igitur sanctificatio noctis fugat scelera, culpas lavat: et reddit innocentiam lapsis, et maestis laetitiam. Fugat odia, concordiam parat, et curvat imperia.

In huius igitur noctis gratia, suscipe, sancte Pater laudis huius sacrificium vespertinum, quod tibi in haec cerei oblatione sollemni, per ministrorum manus de operibus apum, sacrosancta reddit ecclesia.

Sed iam columnae huius praeconia novimus, quam in honorem Dei rutilans ignis accendit. Qui, licet sit divisus in partes, mutuati tamen luminis detrimenta non novit. Alitur enim liquantibus ceris, quas in substantiam pretiosae huius lampadis apis mater eduxit.

O vere beata nox, quae exspoliavit Aegyptos, ditavit Hebraeos nox, in qua terrenis caelestia, humanis divina iunguntur!

Oramus ergo te, Domine, ut cereus iste in honorem tui nominis consecratus, ad noctis huius caliginem destruendam, indeficiens perseveret. Et in odorem suavitatis acceptus, supernis luminaribus misceatur. Flammas eius lucifer matutinus inveniat: Ille, inquam, lucifer, qui nescit occasum: Ille qui regressus ab inferis, humano generi serenus illuxit.

Precamur ergo te, Domine, ut nos famulos tuos, omnemque clerum, et devotissimum populum, una cum beatissimo Papa nostro N. et Antistite nostro N. quiete temporum concessa, in his paschalibus gaudiis, assidua protectione regere, gubernare, et conservare digneris. Per eundem Dominum nostrum Iesum Christum Filium tuum, qui tecum vivit et regnat in unitate Spiritus Sancti, Deus, per omnia saecula saeculorum.


Haec Dies

Haec dies quam fecit Dominus
Exultemus et laetemur in ea
Hallelujah hallelujah. Amen.

"Angelique Part 1"

The libretto of this ballet (better known as "Giselle") story was written by the Romantic French poet, Theophile Gautier, in collaboration with the librettist Jules-Henri Vernoy de St Georges, based on Arthurian/medieval legend told by his German contemporary, Heinrich Heine. Although the story isn't particularly set at Eastertide, however, a strong Christian message is conveyed in this story as the hero & heroine are redeemed by the power of the Cross & Resurrection. This retelling was specially written for by Hansel.

Ketika seberkas sinar matahari yang keemasan menerobos masuk melalui jendela kamarnya dan angin pagi yang semilir menyibak tirai serta membelai wajahnya, Angelique- nama gadis itu- terbangun dan perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya.
Sejenak dia bertanya-tanya dalam hati, gerangan apakah yang menyebabkan matahari bersinar lebih cerah dan burung-burung berkicau lebih merdu pagi ini? Apa sebabnya hari ini bunga-bunga tampak lebih semarak seolah berlomba menebar pesona keindahan dan keharuman mereka? Mengapa seluruh alam seperti tergabung dalam suatu orkestra yang harmonis, mengumandangkan simfoni yang mengagungkan Sang Pencipta?
Ah, ya, tentu saja! Bukankah hari ini adalah hari panen? Mereka akan bersuka-ria memetik hasil kerja keras mereka selama ini penuh rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang berkenan memberkahi mereka sehingga jerih payah mereka tidaklah sia-sia. Para pemuda pergi ke ladang dan akan kembali dengan kereta-kereta yang dimuati dengan hasil panen mereka sementara para gadis akan menantikan dan menyambut kepulangan mereka dengan tarian dan nyanyian gembira lalu dilanjutkan dengan pesta penuh sukacita.
Dengan benak yang dipenuhi oleh pikiran-pikiran indah tersebut, gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya, bergegas membersihkan diri dan berhias.
Dikenakannya gaunnya yang terindah, yang biasanya hanya dia kenakan pada hari Minggu untuk ke gereja dan kesempatan-kesempatan khusus, seperti menghadiri upacara pembaptisan, pesta pernikahan, dan hari-hari raya seperti Natal dan Paskah. Gaun tersebut seputih gaun pengantin di bagian bawah dan di bagian atasnya penuh sulaman bunga-bunga, berwarna-warni bagaikan pelangi. Dia bercermin sambil menyisir rambutnya yang bagaikan benang emas mutu terbaik, yang dibiarkannya tergerai menyentuh bahu, dengan ujung melengkung indah ke dalam.
Ditatapnya cermin di hadapannya lama-lama. Bayangan yang terpantul adalah bayangan seraut wajah cantik dengan mata laksana berlian biru yang bersinar lembut dan teduh, pipi yang berseri bagaikan mahkota bunga mawar merah muda sama seperti warna bibirnya yang manis, serta hidung yang mungil dan mancung. Dia sadar, kini dia bukan lagi seorang gadis kecil melainkan seorang wanita muda.
Apakah Louis akan hadir? Ah! Seandainya saja aku lebih mengenal siapa dia sesungguhnya, gumamnya pada diri sendiri.
Louis? Ya, Louis, pemuda itu! Pemuda yang dijumpainya di gereja dua atau tiga Minggu ini. Tak seorangpun tahu siapa sesungguhnya pria muda yang gagah dan tampan itu, yang tersenyum padanya saat dia mencuri-curi pandang ke arahnya ketika umat sedang melagukan puji-pujian di gereja. Pria muda yang hari Minggu lalu menitip salam padanya lewat sahabatnya, Felicite, sepulang dari misa bersama ibunya, Berthe. Selain namanya, dia hanya tahu bahwa Louis adalah pendatang baru dari kota dan tinggal sendiri di pondoknya yang terletak agak jauh, di dekat hutan. Meskipun pemuda itu berpakaian seperti pemuda lainnya, namun ada sesuatu yang tak dimengertinya, yang membuat penampilannya tampak agung dan mulia.
"Angelique! Bergegaslah sayang! Kawan-kawanmu telah lama menunggu," terdengar ibunya berseru.
Seruan ibunya menyadarkannya dari lamunannya. Ada semburat malu di pipinya ketika dia membayangkan seandainya saja ibunya tahu apa yang sedang dilamunkannya.
Segera dia menyelesaikan berdandan dan bergegas keluar dari dalam kamar. Beberapa orang gadis telah menanti mengajaknya bergabung mempersiapkan pesta panen.
"Jangan memaksakan diri kalau kau lelah, Angelique! Ingat kondisi tubuhmu yang lemah!" kata Berthe menasehati putri tunggalnya, sebab dia tahu betapa gadis itu mencintai tarian dan nyanyian.
"Ah, Ibu, tidaklah baik selalu mencemaskan keadaanku! Aku akan baik-baik saja. Belum pernah aku merasa sesehat dan sekuat hari ini. Lagi pula siapa yang mau duduk bermalas-malasan pada hari yang ceria ini," kata Angelique sedikit merajuk.
"Yah! Ibu hanya khawatir kau tak dapat menjaga diri sehingga mengganggu kesehatanmu. Ibu lupa kalau kau sudah bukan gadis kecil yang tak dapat menjaga diri lagi sekarang," kata Berthe tersenyum sambil mencium kedua belah pipi anak gadisnya.
Mereka berlalu dengan riang.
Berthe memandang kepergian Angelique dan kawan-kawannya dan menghela nafas panjang. Dia memang punya alasan untuk khawatir.
Angelique adalah satu-satunya yang dia miliki di dunia ini setelah suaminya tiada bertahun-tahun lalu ketika Angelique masih dalam buaian. Dialah satu-satunya curahan kasih-sayangnya. Berthe tahu bahwa kondisi kesehatan Angelique memang rapuh sejak kecil dan rasa takut akan kehilangan putrinyalah yang membuat Berthe menjadi seorang ibu yang selalu terlalu mencemaskan keadaan putrinya.
Kini setelah Angelique beranjak dewasa, dia semakin punya alasan untuk mengkhawatirkan putrinya. Berthe bukannya tak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hati putrinya itu, apa yang membuatnya mengatakan bahwa dia belum pernah merasa sesehat dan sekuat hari ini.
Pasti pemuda itu yang membuatnya bersemangat, katanya dalam hati.
Berthe mengakui dalam hati bahwa pemuda pendatang baru itu memang tampan dan menarik sehingga wajar jika putrinya memikirkannya. Namun naluri keibuannya mengatakan bahwa pemuda asing itu bukanlah pria yang tepat bagi Angelique. Dia tidak tahu siapa pemuda itu sesungguhnya- tak seorang pun yang tahu- bahkan namanya pun tidak diketahuinya dengan pasti. Apakah Leon? Atau Frederic? Maurice? Louis? Seorang pria yang tidak jelas asal usulnya bukanlah pasangan yang tepat bagi seorang wanita, yang jelas bukan bagi putrinya. Dia cemas dengan apa yang akan terjadi pada Angelique bila pria itu bukan saja tak layak untuk mendapatkan cintanya tetapi juga menghancurkan hidup dan kebahagiaannya.
Beberapa hari yang lalu Hilarion, seorang pemburu di desa itu, datang pada Berthe dan mengutarakan maksud hatinya meminta Angelique menjadi istrinya. Dia memang belum menyetujui lamaran Hilarion tersebut. Tetapi dalam hati dia berharap bahwa Angelique dapat belajar mencintai pemuda pemburu yang dia tahu meski berpembawaan kasar namun jujur itu.
Ah, seandainya saja Hilarion dapat bersikap sedikit lembut dan seandainya saja pemuda asing itu tak pernah datang ke desa ini, Berthe menarik nafas panjang lagi. Dia boleh saja punya beribu andai namun kenyataan berbicara lain... To be continued

"Angelique Part 2"

Sementara Berthe mencemaskan putrinya di rumah, Angelique dan gadis-gadis petani lainnya tengah bersukaria menantikan kedatangan para pemuda yang sedang pergi memanen di ladang.
Bagi Angelique yang keadaan kesehatannya mengharuskannya sehari-hari tinggal di rumah untuk mengerjakan jahitan dan pekerjaan rumah lainnya sementara teman-temannya bekerja di ladang, pesta panen itu sungguh merupakan saat yang dinanti-nantikannya sepanjang tahun. Hanya pada saat panenlah ibunya mengizinkannya keluar rumah untuk berbagi kegembiraan dengan teman-temannya.
Nah, itu mereka datang! Petiklah harpamu, tiuplah serulingmu, dan nyanyikan lagumu untuk mengiringi tarian kami!
Dipimpin Angelique, para gadis menari menyambut para pemuda yang tiba dengan kereta-kereta mereka yang dimuati hasil panen yang melimpah tersebut.
Pastor Dominique datang disertai Suster Ancille dari biara terdekat untuk mengucapkan doa syukur dan memberkati hasil panen mereka. Sejenak suasana menjadi hening dan khidmat tatkala pastor sedang memanjatkan doa dan memberikan berkatnya, namun setelah itu pesta yang penuh sukacita kembali berlangsung dengan semarak.
Oh, sungguh suatu hari yang cemerlang dan patut dikenang!
Louis tampak hadir di antara para pemuda bersama seorang pria rekannya yang juga belum pernah mereka kenal sebelumnya. Namun karena ramah dan pandai membawakan diri, penduduk desa tidak keberatan dengan kehadiran mereka, bahkan mengajak mereka berdua turut larut dalam kegembiraan mereka.
Mereka berdua tampak memandangi para gadis yang sedang menari tersebut dengan penuh minat dari kejauhan
Louis mengarahkan pandangannya ke arah para gadis sambil matanya bergerak seolah-olah mencari seseorang. Ketika dilihatnya gadis yang dijumpainya di gereja itu, hatinya menjadi girang.
"Wilfred! Carilah tahu dan ceritakan kepadaku semua tentang wanita muda jelita yang memimpin para gadis itu menari! Dia bagaikan bidadari Dia adalah penjelmaan keanggunan dan pesona itu sendiri," kata Louis kepada rekannya.
Wilfred menjawabnya, "Aku akan mencari tahu tentang dia dari para pemuda ini." Dan dia beranjak pergi.
Sebentar kemudian dia kembali kepada Louis dan menceritakan kepadanya apa yang diketahuinya tentang gadis itu dari para pemuda.
Louis tersenyum mendengar penuturan rekannya tersebut. Dia menjadi lebih yakin untuk mengenal Angelique lebih lanjut setelah mengetahui bahwa gadis itu bukanlah kekasih siapapun.
Ketika para gadis itu selesai menari, Louis menghampiri Angelique dan menyapanya, "Nona manis, izinkanlah aku mendapat kehormatanmu untuk menjadi pasanganmu dalam tarian berikutnya!"
"Aku bukanlah seorang nona manis namun aku tersanjung oleh kesediaanmu menari denganku," jawab Angelique malu-malu tetapi disambutnya dengan mantap uluran tangan Louis dan mulailah langkah-langkah tarian mereka.
Alangkah serasinya tarian mereka! Pasangan-pasangan yang lain sampai berhenti menari dan membuat lingkaran di sekeliling mereka, bertepuk tangan menyaksikan kegagahan dan keanggunan pasangan tersebut dalam menari. Jelas sekali bagi yang lain-lain bahwa mereka berdua sedang dilanda asmara.
Ya! Cinta memang pembuat ilusi yang terbesar. Cinta menutupi segala kekurangan manusia dan hanya mengizinkan segala yang terbaik yang tampil. Seandainya saja mereka berdua tidaklah menari seindah itu pun orang-orang hanya akan memperhatikan cara Louis memeluk rekan menarinya tersebut dan memperlakukannya seolah dia adalah sesuatu yang sangat berharga dan rapuh, serta sinar mata Angelique yang memancarkan kebahagiaan
Hanya ada sepasang mata yang menatap mereka dengan pandangan yang tak bersahabat. Dan sepasang mata itu adalah milik Hilarion, si pemburu, yang juga hadir dalam keramaian tersebut. Sedari tadi dia telah mengawasi Louis dan Wilfred ketika dilihatnya mereka berdua tengah memperhatikan Angelique menari. Api cemburu membakar hatinya dan membuat darahnya menggelegak oleh amarah yang tertahan manakala menyaksikan gadis pujaannya tersebut menari dengan pemuda asing itu.
Sungguh tak adil, pikirnya, aku telah mengenal Angelique lebih lama dari pemuda itu, namun mengapa harus dia yang mendapatkan cintanya?
Ketika pemandangan itu dirasakannya terlalu menyakitkan bagi dirinya, Hilarion segera berlalu dari tempat itu, berlari ke dalam hutan, di mana dia dapat meneriakkan segala sakit hati dan kekecewaannya tanpa ada yang mengetahui atau terusik olehnya kecuali mungkin para satwa penghuninya.
Sementara itu Louis dan Angelique tengah beristirahat sejenak di bawah keteduhan pohon birch sambil menyaksikan pasangan-pasangan lainnya menari.
"Manis, aku tak berhak memaksamu untuk mempercayaiku tetapi apa yang kukatakan adalah tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam. Sebelum bertemu denganmu, aku tak percaya bahwa seorang pria bisa sebahagia ini dengan kehadiran seorang wanita di sisinya," ujar Louis menyatakan cintanya pada Angelique.
"Bagaimana aku tahu bahwa akulah wanita yang kaumaksud?" Angelique bertanya menggoda sambil tersenyum kepada kekasihnya.
Louis tidak segera menjawab melainkan menggenggam lembut tangan gadisnya dan membawanya ke dadanya.
"Ini dadaku. Di dalamnya ada hati yang membara oleh api cinta yang kaunyalakan. Tidakkah kaurasakan debarannya? Setiap aliran darah dalam tubuhku dihidupi oleh cintamu."
Angelique tertunduk malu mendengar jawaban itu. Dia bangkit dari duduknya dan memetik setangkai bunga daisy putih yang banyak tumbuh di atas rerumputan. Dipetiknya mahkota bunga itu satu per satu, sambil berjalan agak menjauh dari Louis, dia menggumamkan sesuatu.
"Dia mencintaiku, dia tak mencintaiku, dia mencintaiku...."
Louis tersenyum menyaksikan kepolosan kekasihnya. Wajahnya cerah ketika menggumamkan ‘dia mencintaiku’, namun berubah muram ketika menggumamkan ‘dia tak mencintaiku’. Dia mendekati Angelique, tangannya terulur memetik mahkota terakhir bunga itu sebelum Angelique sempat menggumamkan apa-apa dan berkata, "Aku mencintaimu!"
Angelique menoleh ke arahnya dan tersenyum ceria. Louis memetik setangkai mawar merah muda yang tumbuh di semak tak jauh dari situ, menyerahkannya kepada kekasihnya dan berkata, "Bagi yang secantik bunga ini."
Diterimanya bunga itu dan dibiarkannya tangan Louis melingkari pinggangnya dan bibirnya mendaratkan ciuman yang lembut dan dalam pada bibirnya Betapa manisnya! Bahkan madu pun tak semanis ciuman kekasih bila cinta datang mengetuk pintu hati
Arak-arakan para pemuda dan gadis menghampiri mereka dan mengajak mereka bergabung kembali, memimpin menari.
Mereka menari dan menyanyi berkeliling desa. Ketika arak-arakan tersebut melewati pondok Berthe, wanita itu keluar dari dalam rumah untuk melihatnya.
Alangkah terkejutnya Berthe menyaksikan putrinya menari dengan pemuda asing itu. Betapa cemas hatinya bila hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Terdorong oleh rasa cemasnya Berthe menghampiri pasangan tersebut dan memisahkan mereka... To be continued

"Angelique Part 3"

"Angelique! Cukuplah, Nak, janganlah kaubuat dirimu sampai kelelahan seperti ini!"
"Ibu! Sudah kukatakan aku akan baik-baik saja! Aku sama sekali tidak kelelahan. Janganlah Ibu memperlakukanku seperti anak kecil di hadapan kawan-kawanku!"
Berthe terdiam memandang putrinya tersayang yang tampak marah padanya tersebut. Setelah menghela nafas panjang dia berkata, "Angelique, apa yang ibu lakukan adalah demi kebaikanmu sendiri, Nak. Akan ibu ceritakan sebuah cerita yang pernah ibu dengar dari orang tua ibu sendiri. Cerita yang ibu yakini kebenarannya meski mungkin banyak di antara kalian yang akan menganggap ini hanyalah dongeng isapan jempol belaka. Ini juga untuk kalian para gadis, dengarkanlah! Ini adalah cerita tentang para wili."
"Para wili? Siapakah gerangan para wili tersebut? Apakah hubungan mereka dengan kami, para gadis?" tanya Angelique heran karena baru sekali ini didengarnya nama tersebut.
"Sepertinya ibuku juga pernah menceritakan tentang para wili kepadaku, namun aku tidak begitu memperhatikannya," timpal Cecile dan Charlotte berbarengan.
"Apakah para wili tersebut ada hubungannya dengan hantu?" tanya Yolande membelalakkan sepasang mata coklatnya yang bulat itu lebar-lebar
"Ya! Para wili memang ada hubungannya dengan hantu. Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal sebelum hari pernikahan mereka karena dikhianati oleh pria-pria yang pernah menyatakan cinta palsu pada mereka. Roh-roh mereka yang penasaran menjelma menjadi hantu tiap malam dalam hutan, dan mereka akan memaksa setiap pria yang berani melintasi hutan untuk menari bersama mereka sampai akhirnya mati kelelahan."
"Oh, sungguh suatu cerita yang menyedihkan dan juga menakutkan! Tak dapat kubayangkan seandainya Pascal sampai hati mengkhianatiku, pasti aku juga akan mati merana dan menjelma menjadi wili," kata Felicite agak terbawa emosinya mendengar penuturan ibu Angelique tersebut.
"Maka dari itu kalian para gadis haruslah dapat menjaga diri! Janganlah membiarkan diri kalian tertipu oleh seorang pria yang tak cukup berharga mendapatkan cinta kalian, atau kalian akan mengalami nasib seperti wanita-wanita tersebut!" Berthe mengakhiri ceritanya sambil melirik ke arah putrinya.
Angelique hanya membisu. Sesungguhnya seperti kawan-kawannya dia tak ingin mengalami nasib yang menyedihkan seperti para wanita itu, namun di lain pihak dia tidak dapat mempercayai bahwa Louis akan mengkhianati cintanya. Di samping itu dia juga tahu alasan ibunya kurang bersimpati terhadap Louis, karena mengharapkannya menerima cinta Hilarion.
Sambil tersenyum ditatapnya ibunya dan berkata, "Meskipun aku mempercayai cerita yang ibu tuturkan, namun aku yakin bahwa aku tak akan mengalami nasib seperti itu. Percayalah, Bu, aku akan menikah dan hidup bahagia!"
Angelique beranjak pergi mendapatkan kekasihnya yang menantinya bersama para pemuda diikuti para gadis kawannya. Berthe hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sedih menyaksikan kekeraskepalaan putri tunggalnya tersebut.
Perayaan berlanjut dengan meriah. Angelique yang dinobatkan menjadi ratu dalam pesta tersebut oleh para pemuda didudukkan di atas kereta yang dihiasi oleh sulur-sulur anggur dan bunga-bungaan sementara para gadis menari mengelilinginya.
Louis bertepuk tangan bersama para pemuda dan tersenyum menyaksikan betapa cemerlangnya kecantikan kekasihnya yang duduk di antara bunga-bunga tersebut. Sungguh dia layak menjadi ratu dari bunga-bunga tersebut!
Tiba-tiba Wilfred dengan tergesa-gesa menghampirinya dan membisikkan sesuatu kepadanya yang membuat ekspresi wajahnya berubah cemas. Segera saja keduanya berlalu dari tempat itu sebelum ada yang melihat.
Di tengah pesta yang penuh suka-cita tersebut berlangsung dengan meriah tiba-tiba terdengarlah suara terompet perburuan berkumandang. Serombongan pemburu berderap di atas kuda mereka melintasi tempat tersebut. Mereka tampak gagah dan berwibawa. Di antara rombongan pemburu tersebut tampak seorang wanita cantik menunggangi kuda putihnya di samping seorang pria setengah baya yang berpenampilan agung.
Ternyata rombongan pemburu tersebut adalah rombongan bangsawan penguasa wilayah setempat yang disebut sebagai the Duke of Courland. Pria tua yang berpenampilan agung tersebut adalah sang duke sendiri sedangkan wanita cantik di sampingnya adalah putrinya yang bernama Countess Mathilde.
Pemimpin rombongan tersebut, seorang pria jangkung, bertanya kepada mereka, "Kami rombongan pemburu the Duke of Courland kebetulan melewati desa ini dalam perjalanan kami. Apakah ada tempat di sekitar sini di mana sang duke bersama putrinya dapat beristirahat sejenak untuk melepas lelah?"
Angelique turun dari atas kereta dan memberanikan diri tampil ke depan berkata, "Pondok kami tak jauh dari sini Yang Mulia. Bila Yang Mulia tak berkeberatan, Anda sekalian dapat beristirahat melepas lelah di pondok kami dan kami akan sungguh merasa diberi kehormatan karenanya."
Sang duke menjawab, "Kuterima keramahanmu tersebut, gadis baik. Terima kasih!"
Angelique bersama para penduduk desa membawa rombongan bangsawan tersebut ke pondoknya... To be continued

Angelique Part 4"

Berthe sungguh tak menyangka akan kedatangan tamu agung, penguasa wilayah di mana dia tinggal. Dengan tergopoh-gopoh dia bergegas menyiapkan tempat bagi para bangsawan tersebut dan menyajikan hidangan sederhana, buah-buahan, gula-gula, dan anggurnya yang terbaik dibantu oleh putrinya.
Angelique tak dapat mengalihkan pandangan matanya dari Countess Mathilde. Belum pernah dilihatnya wanita yang begitu cantik dan anggun dalam balutan busana yang begitu indah.
Gaun merahnya terbuat dari beludru dan ditaburi oleh mutiara. Sepasang kaus tangannya terbuat dari sutra warna perak. Kerah bulunya dari kulit ermine asli. Rambutnya ditata sedemikian rupa dan dihiasi oleh permata yang bersinar-sinar indah. Dia mengagumi kecantikan sang countess meski agak takut melihat gayanya yang begitu anggun dan dewasa. Ketika Countess Mathilde sedang menikmati hidangan yang disajikan Angelique memberanikan diri berjongkok di belakangnya dan menyentuh ujung gaun yang dikenakan sang countess, membawanya ke pipinya untuk merasakan kelembutannya dan membayangkan bila dirinyalah yang mengenakan gaun seindah itu. Saat ibunya menegurnya atas kelakuannya yang dianggapnya kurang pantas, Countess Mathilde hanya tersenyum ramah penuh pengertian pada Angelique Hilanglah rasa takut Angelique pada Countess Mathilde.
Sementara para bangsawan tersebut beristirahat melepas lelah dan menikmati keramahan yang telah diperlihatkan sang nyonya rumah, para gadis menari untuk menghibur mereka.
Angelique memohon kepada ibunya agar diizinkan bergabung bersama para gadis tersebut. Mula-mula sang ibu tak mengizinkannya.
"Tidak Angelique! Kau sudah cukup menari untuk hari ini, kau di sini membantu ibu melayani para tamu!" tegas Berthe.
Angelique tampak sedikit kecewa. Countess Mathilde yang menyaksikan hal ini kemudian berkata kepada Berthe, "Ibu yang baik, izinkanlah putrimu menari untukku! Aku yakin aku akan menyenanginya."
Sang ibu tak kuasa menolak. Dia mengizinkan putrinya menari untuk sang countess bersama para gadis lainnya. Angelique tersenyum gembira pada sang countess, mengucapkan terima kasih kemudian bergabung bersama kawan-kawannya menari.
Bila Angelique mengagumi kecantikan dan keanggunan Countess Mathilde, sebaliknya sang countess sendiri begitu terpikat oleh kejelitaan dan pesona Angelique yang begitu murni seolah alam telah memberikan segala miliknya yang terbaik untuk ditampilkan pada diri gadis muda ini. Sosoknya yang sempurna dilatari oleh pemandangan alam yang begitu asri di sekitarnya- langit cerah membiru dengan pepohonan sycamore yang tinggi menaungi- berpadu dalam tariannya, terpancar lewat gerakan lengan, kaki dan lehernya yang gemulai.
Countess Mathilde memperhatikan Angelique menari sambil berkata dalam hati, alangkah mempesonanya gadis ini, begitu alami penuh keceriaan hidup yang muda. Dia bertepuk tangan ketika Angelique telah menyelesaikan tariannya dan memanggilnya untuk duduk di sampingnya.
"Gadis manis siapakah namamu?" tanya Countess Mathilde.
"Angelique, Yang Mulia."
"Kau sungguh memikatku dengan kejelitaan dan pesonamu, Angelique. Bersediakah kau bila aku memintamu ikut pulang besertaku ke puriku untuk menjadi kepala dayang-dayang di sana?"
Angelique tercenung sejenak mendengar permintaan ini. Bila dia ikut Countess Mathilde pulang ke purinya dan menjadi kepala dayang-dayang di sana tentu dia akan memperoleh semua barang indah yang hanya dapat diimpikannya selama ini. Namun di lain pihak dia juga menyadari bahwa hidup di puri tentu membuatnya harus terikat oleh peraturan-peraturan yang berlaku di sana. Di sini dia begitu mencintai hidupnya yang bebas sementara di sana segala lakunya harus dijaga. Di sini dia memang tidak memiliki apa-apa, tetapi di sini adalah rumahnya di mana tinggal ibunya yang sangat mengasihinya; sahabat-sahabatnya: Felicite, Cecile, Charlotte, Yolande, Francoise, Jeanne, dan Marguerite yang sudah bagaikan saudari-saudarinya sendiri; dan di atas semua itu di sini ada Louis.
Karena itu sambil tersenyum dia menggelengkan kepala menolak permintaan Countess Mathilde, "Terima kasih atas kemurahan hati yang Anda tawarkan pada diri saya, Yang Mulia. Namun sungguh menyesal saya tak dapat menerimanya."
"Mengapa? Adakah sesuatu yang memberatkan hatimu? Apakah kau takut ibumu tidak mengizinkanmu?"
"Bukan itu, Yang Mulia."
Countess Mathilde tersenyum dan berkata, "Ah, kalau begitu pastilah cinta seorang pemuda yang telah menambat hatimu di tempat ini, bukankah begitu?"
Angelique tak mampu menjawab hanya menundukkan kepalanya dan tampak bahagia.
"Jika memang demikian, Angelique, aku tak akan memintamu lebih jauh. Memang tiada yang lebih membahagiakan hati seorang wanita selain berada bersama pria yang dicintainya. Aku memahamimu karena aku sendiri baru saja bertunangan dengan pria yang kucintai," kata Countess Mathilde seraya menunjukkan cincin pertunangan yang menghiasi jarinya.
Angelique mengagumi keindahan cincin emas bermata berlian tersebut. Countess Mathilde kemudian melepas peniti emas bertatahkan permata yang menghiasi gaunnya dan memberikannya kepada Angelique, berkata, "Terimalah peniti ini sebagai tanda aku turut berbahagia atas cinta kalian. Hanya inilah yang dapat kuberikan kepadamu, kuharap kau menyukainya."
Mata Angelique terbelalak takjub menerima peniti yang demikian indah itu dari Countess Mathilde. Mula-mula dia berkeberatan menerimanya, namun sang countess bersikeras agar dia menerimanya.
"Terimalah Angelique, semoga persahabatan kita kekal adanya! Sekarang kalau boleh aku ingin bertemu dengan kekasihmu, akan kukatakan kepadanya agar menjagamu baik-baik untukku."
Angelique segera beranjak pergi menemui Louis setelah mengucapkan terima kasih kepada Countess Mathilde atas pemberiannya. Namun dia tidak menjumpai Louis di antara para pemuda. Tak seorangpun yang tahu ke mana pemuda itu pergi bersama rekannya itu. Maka dia kembali kepada Countess Mathilde dan mengatakan kepadanya bahwa dia tidak menemukan kekasihnya tersebut.
Dalam pada itu rombongan bangsawan itu bermaksud melanjutkan kembali perburuan mereka setelah cukup beristirahat di pondok Berthe. Namun Countess Mathilde yang masih lelah memohon kepada ayahnya agar diizinkan tinggal di situ lebih lama lagi. Akhirnya diputuskan mereka melanjutkan perburuan mereka tanpa mengajak serta Countess Mathilde, namun bila sang countess telah cukup beristirahat dia dapat menyusul mereka ke dalam hutan. The Duke of Courland meninggalkan terompet perburuannya di depan pondok Berthe agar sang countess dapat memberi tanda kepada mereka jika dia telah siap bergabung kembali bersama mereka, agar mereka dapat kembali untuk menjemputnya. Dan rombongan pemburu itu berangkatlah, sedangkan sang countess masuk ke dalam pondok bersama Berthe untuk beristirahat.
Sementara itu apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Louis? Mengapakah dia terburu-buru meninggalkan keramaian ketika Wilfred datang padanya untuk mengabarkan sesuatu? Di mana dia berada saat para bangsawan tersebut beristirahat di pondok Berthe?
Rupanya Louis dan rekannya memang sengaja menghindari peretemuan dengan rombongan tersebut. Keduanya bersembunyi dalam pondok Louis di tepi hutan. Ketika mereka melihat bahwa rombongan pemburu tersebut telah masuk ke dalam hutan, mereka keluar dari dalam pondok.
"Uh, hampir saja! Untunglah kau segera datang memberitahukan hal ini kepadaku, jika terlambat sedikit saja entah apa yang akan terjadi?" ujar Louis.
"Sebaiknya Paduka lebih berhati-hati sedari sekarang, karena mungkin saja ayah Paduka telah mengirimkan orang-orangnya ke seluruh pelosok negeri ini untuk menemukan Paduka."
"Akan kuturuti saranmu tersebut. Sekarang tampaknya keadaan telah aman. Kita dapat kembali ke perayaan itu."
Kedua orang itu pun bergegas pergi... To be continued

"Angelique Part 5"

Tetapi benarkah keadaan telah aman? Sesosok tubuh tampak mengendap-endap keluar dari persembunyiannya.
Rupanya Hilarion yang kebetulan melewati pondok itu sekembalinya dari hutan tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara pria saingannya dengan rekannya. Ketika mereka berlalu, dia keluar dari persembunyiannya. Dia merasa heran mendengar pemuda asing itu dipanggil dengan sebutan 'Paduka'. Mengapa pula dia begitu takut identitasnya yang sebenarnya diketahui?
Terdorong oleh api cemburu yang membakar hatinya, Hilarion bertekad menyelidiki dan membongkar siapa sebenarnya pemuda yang mengaku bernama ‘Louis’ ini.
Dia memasuki pondok Louis. Pondok itu tampak tidak jauh berbeda dengan pondok petani lainnya. Di sana-sini peralatan pertanian dan pertukangan tergeletak begitu saja seperti lazimnya rumah seorang pria yang hidup sendiri tanpa ada seorang wanita yang merawatnya.
Hilarion melangkah masuk lebih jauh lagi ke dalam pondok untuk menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan siapa Louis yang sesungguhnya. Namun usahanya sia-sia saja karena tak ditemukannya sesuatu yang istimewa dalam pondok itu yang dapat memberitahukan kepadanya siapa sebenarnya pemuda asing itu.
Dengan kecewa dia keluar dari dalam pondok tersebut.
Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah benda panjang yang terbungkus kain tergeletak tersembunyi di sudut ruang. Segera diambilnya benda tersebut dan dibukanya kain yang membungkus benda tersebut. Matanya mengernyit ketika melihat sinar dari benda yang ditemukannya itu. Sebilah pedang yang sarungnya terbuat dari emas dan bertatahkan berlian. Ada simbol kerajaan terukir pada sarung pedang itu....
Pada saat yang sama Louis dan rekannya sedang bersuka-ria bersama para pemuda dan gadis desa.
Angelique keluar dari pondoknya untuk bergabung kembali bersama mereka. Betapa girang hatinya menjumpai kekasihnya ada bersama mereka. Dia tidak menanyakan ke mana dia tadi pergi. Disambutnya uluran tangannya ketika yang lain-lainnya meminta mereka menari.
Tiba-tiba Hilarion muncul di tengah-tengah mereka dan berseru, "Hentikan!"
Semua yang hadir terkejut mendengar seruan tersebut. Seketika keriangan terhenti. Hilarion menghampiri dan memisahkan pasangan tersebut, kemudian berkata ketus kepada Louis, "Jangan lagi kau dekati Angelique! Aku tak tahu siapa dirimu sebenarnya, namun aku tahu bahwa kau bukanlah dirimu yang kautunjukkan selama ini."
Louis menatap Hilarion dengan pandangan tak mengerti. Angelique bertanya kepada Hilarion, "Dia adalah Louis tentu saja. Apa maksudmu dia bukan dirinya yang sesungguhnya? "
"Louis? Huh!" Hilarion tersenyum sinis, kemudian lanjutnya, "tanyakan pada Louismu apakah dia mengenali benda ini!"
Dilemparkan pedang yang ditemukannya ke atas tanah. Angelique memungutnya dan bertanya kepada kekasihnya, "Louis, apakah kau mengenali pedang ini?"
"Tentu saja dia mengenali miliknya sendiri. Aku menemukannya di pondoknya" jawab Hilarion. "Tahulah bahwa pedang itu hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan dan kaum bangsawan. Aku juga mendengar percakapan antara pria itu dengan rekannya yang memanggilnya dengan sebutan 'Paduka'. Aku tidak tahu apakah tujuan sesungguhnya dia menyamar dan hidup sebagai seorang petani di antara kita. Satu hal yang jelas dia bukanlah orang yang selama ini kalian kenal. Dia adalah seorang bangsawan! Ya, bangsawan, kataku! Dan sebagai seorang bangsawan dia hanya mempermainkan cintamu sebab tak mungkin seorang ningrat menikahi seorang rakyat jelata."
Louis hanya membisu mendengar pernyataan Hilarion yang ditujukan kepadanya.
"Dusta!" Angelique berpaling pada Louis, katanya, "Katakan bahwa yang diucapkannya itu dusta!"
"Angelique! Kau tahu bahwa aku tak pernah berdusta. Kalau kau tak mempercayaiku, cobalah periksa simbol yang ada pada sarung pedang itu dengan simbol pada terompet ini!" ujar Hilarion seraya menyodorkan terompet perburuan yang ditinggalkan di depan pondoknya.
Angelique mengamati simbol pada kedua benda itu. Wajahnya memucat saat melihat bahwa yang dikatakan Hilarion adalah benar, sedangkan Louis tampak gelisah.
Hilarion berkata lagi, "Jika kau masih belum mempercayaiku akan kubuktikan bahwa aku tidak berdusta." Ditiupnya terompet yang tergenggam di tangannya itu.
Suara terompet itu membuat Countess Mathilde dan Berthe keluar dari dalam pondok untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Pangeran Christophe! Bagaimana Anda dapat berada di tempat ini, Paduka? Dan pakaian yang Anda kenakan...?" tanya sang countess terkejut melihat Louis ada di tempat itu.
"Pangeran Christophe?" Angelique bingung dengan semua yang terjadi.
"Ya, dia adalah Pangeran Christophe putra Raja Baldwin, tunanganku!" terang Countess Mathilde.
Pada saat itu rombongan para bangsawan tiba kembali di tempat itu. Mereka semua mengenali Pangeran Christophe yang memaksakan diri tertawa seolah semua ini hanyalah permainan yang sekarang usai. Namun tidak demikian halnya bagi Angelique. Dia masih belum mempercayai apa yang dia saksikan dan dengar.
"Ini...tidak! Katakan bahwa mereka salah! Katakan pada mereka bahwa kau adalah Louis! Katakan pada mereka kau kekasihku!" ujar Angelique terbata-bata. Ditatapnya mata kekasihnya untuk mencari apakah ada cinta di sana, namun betapa terkejutnya tatkala yang dijumpainya justru kebenaran yang menyakitkan.
"Angelique, aku..." Pangeran Christophe tak dapat meneruskan kata-katanya.
"Angelique, aku tidak tahu bagaimana dia mengenalmu, tetapi dia adalah Pangeran Christophe, tunanganku," kata sang countess lagi.
Sekarang semuanya menjadi jelas bagi Angelique. Kekasihnya dan tunangan Countess Mathilde adalah pria yang sama, Louis adalah Pangeran Christophe.
Segalanya seakan berakhir bagi gadis itu. Semuanya seolah direnggut dari padanya dalam sekejap. Hatinya terkoyak oleh kebohongan ini. Teringat olehnya kata-kata manis kekasihnya saat menyatakan cintanya padanya, ketika dia memetik mahkota bunga daisy terakhir di tangannya dan menyatakan mencintainya. Lalu teringat olehnya cerita ibunya tentang para wili, bagaimana nasib para wanita yang dikhianati oleh pria-pria yang mereka cintai.
Tiba-tiba Angelique tertawa lalu disusul menangis memilukan Matanya nyalang menatap satu persatu wajah-wajah di sekelilingnya. Berthe memeluk putrinya, dengan pandangan marah dihardiknya Pangeran Christophe, "Lihatlah perbuatanmu!"
Angelique melepaskan diri dari pelukan ibunya dan mulai menari. Mula-mula lambat namun makin lama makin cepat dan liar.
Ibunya berseru memohon agar dia berhenti menari, "Hentikan! Demi ibumu, kasihanilah ibumu ini! Berhentilah, ibu mohon!"
Namun, kehilangan akal sehatnya, tak dihiraukannya seruan itu dan terus menari. Dia terus menari sampai suatu ketika jantungnya berhenti berdenyut. Dia terjatuh ke atas tanah. Ibu dan kawan-kawannya berlari mendapatkannya. Namun terlambat...gadis malang itu telah tiada!
Berthe menjerit dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh putri tunggalnya yang tak lagi bernyawa itu. Kawan-kawan Angelique meratap di sekelilingnya. Countess Mathilde memalingkan pandangannya ke arah lain dan ayahnya memeluknya. Pangeran Christophe berdiri mematung seperti tak mempercayai penglihatannya sementara Hilarion menundukkan kepalanya.
"Bedebah! Semua ini kesalahanmu!" teriak Pangeran Christophe menghunus pedangnya hendak menyerang Hilarion. Para pemuda menahannya agar tidak melukai Hilarion sementara pemburu itu melarikan diri. Akhirnya dijatuhkannya pedangnya, berlutut di atas tanah dan menangis di hadapan tubuh kekasihnya yang berada dalam dekapan ibunya.
Hari yang cemerlang itupun berakhir dengan duka. Tawa berganti isak tangis, kegembiraan berubah menjadi ratapan dan air mata. Sungguh tragis! To be continued

"Angelique Part 6"

Rembang petang membayang jauh dalam hutan. Pepohonan cedar yang tinggi dan pepohonan poplar yang tumbuh merapat seakan menghalangi sinar bulan yang kebiruan menembus kegelapannya. Desir angin malam yang berbisik di antara daun-daun pepohonan willow yang banyak tumbuh di sekitar danau di tengah hutan terdengar seperti desah kesedihan. Siulan burung hantu dan burung-burung malam lainnya yang memecah kesunyian menambah seram suasana malam yang muram.
Jauh di dalam hutan, di bawah bayang-bayang pepohonan willow yang mengelilinginya, di sana terdapat sebuah makam baru. Di dalamnya terbaring jazad seorang gadis yang baru dua hari yang lalu meninggal pada siang hari yang naas itu. Dialah Angelique*, gadis yang baru pertama kali mengenal cinta namun telah terluka tertusuk durinya.
Senja itu, setelah menjalani semua upacara yang diperlukan bagi orang mati, jenazah Angelique dibawa ke tempat peristirahatannya sementara, untuk menanti dibangkitkan pada Hari Pengadilan Terakhir saat semua jiwa harus mempertanggungjawabkan hidup yang telah mereka jalani di dunia ini di hadapan Sang Hakim Agung.
Air mata dan doa mengiringi perjalanannya yang terakhir dari gereja menuju ke hutan, tempatnya dimakamkan, terutama saat kidung Requiem Aeternam dilantunkan. Bunyi lonceng gereja seolah mengingatkan kepada semua bahwa maut dapat datang kapan saja pada siapa saja, pria atau wanita, tak peduli tua-muda, miskin-kaya.
Pastor Dominique memberikan berkatnya yang terakhir sebelum jenazah Angelique diturunkan ke liang lahat kemudian tanah ditimbunkan dan bunga-bunga diletakkan di atasnya.
Satu per satu dari yang hadir mengucapkan doa mereka untuk kedamaian jiwa Angelique lalu meninggalkan tempat itu.
Semuanya trenyuh saat menyaksikan Berthe meninggalkan tempat itu dipapah oleh sahabat-sahabat putrinya. Duka yang terpancar lewat mata Berthe mengingatkan semua yang hadir pada duka Bunda Maria sendiri saat berdiri di bawah salib Putranya, kepedihan semua ibu yang harus merelakan anak-anak mereka diambil dari mereka. Tak ada yang sampai hati membayangkan bahwa malam itu Berthe pulang ke pondoknya tanpa ada putrinya yang menyongsong kedatangannya seperti biasa. Kemudian the Duke of Courland dan Countess Mathilde beserta rombongan mereka juga meninggalkan tempat itu. Hanya Pangeran Christophe sendiri yang masih tinggal, berdiri membisu memandangi makam yang juga merupakan tempat hatinya turut dikuburkan bersama kekasihnya. Countess Mathilde ragu-ragu meninggalkan tunangannya seorang diri. Dia ingin menemani Pangeran Christophe, tetapi ayahnya menggelengkan kepala seolah berkata agar dia membiarkan tunangannya itu sendiri.
Malam ketiga setelah kematian Angelique....
Semakin larut malam, semakin dingin dan mencekam kesunyian dalam hutan. Bulan yang kadang tertutup oleh kabut kehijauan mengintip dari balik dedaunan pohon.
Sesosok tubuh tampak berlutut di hadapan makam Angelique. Dialah Hilarion, si pemburu, yang kecemburuannya telah mendatangkan malapetaka bagi gadis yang dicintainya. Dia tidak berani mengunjungi makam Angelique di siang hari karena takut bertemu dengan Pangeran Christophe, yang pasti akan membunuhnya jika melihatnya di sana. Karena itu hanya di malam hari dia berani datang mengungkapkan cinta dan penyesalannya kepada pujaan hatinya. Dia tidak tahu bahwa Pangeran Christophe belum menengok lagi makam kekasihnya sejak pemakamannya.
Sekonyong-konyong dilihatnya bayangan putih berkelibatan di antara pepohonan willow. Hilarion bangkit dan memasang sikap waspada. Dia tidak yakin makhluk apakah yang dilihatnya itu. Namun setelah bukan hanya sekali namun berulang kali dilihatnya bayangan putih itu berkelibatan dia hampir yakin bahwa yang dilihatnya bukanlah makhluk fana yang berdaging dan darah.
Ketakutan Hilarion segera menyingkir dari situ... To be continued

*) Karena kematiannya dianggap tidak wajar, jenazah Angelique tidak dapat dimakamkan di halaman gereja seperti kebiasaan di zaman itu.

"Angelique Part 7"

Makhluk apakah yang sesungguhnya telah dilihat oleh Hilarion? Itu adalah bayangan para wili yang menampakkan diri. Roh-roh wanita-wanita yang semasa hidupnya dikhianati oleh pria-pria yang mereka cintai sehingga mereka meninggal dalam kesedihan, seperti dalam cerita yang dituturkan oleh Berthe. Roh-roh tersebut kini menjelma menjadi makhluk-makhluk yang tiap malam menghantui pria-pria yang berani melintasi hutan dan memaksa mereka menari bersama sampai mati kelelahan.
Para wili berkelibatan ringan di antara pepohonan willow, menari di bawah sinar bulan yang suram. Gaun mereka putih, seputih wajah mereka yang pucat tanpa ekspresi. Kerudung mereka yang panjang menyelubungi kepala mereka sampai ke badan.
Ratu para wili yang disebut Ratu Myrthe muncul didampingi kedua dayangnya, Moyna dan Zulme. Gaun dan kerudungnya seperti milik para pengikutnya hanya saja di atas kepalanya terdapat mahkota dari rangkaian daun dan bunga ivy yang membedakannya dari para wili yang lain.
Ratu Myrthe membuka kerudung panjangnya diikuti oleh para wili yang membungkukkan badan mereka memberi hormat di hadapan sang ratu. Kemudian Ratu Myrthe mendekati makam Angelique dan mengayunkan sepucuk ranting yang berada dalam genggaman tangannya serta memerintahkan agar roh gadis itu bangkit.
Roh Angelique bangkit dari kuburnya. Gaun, kerudung, dan ekspresi wajahnya tidak berbeda dengan para wili. Dia memberi hormat pada Ratu Myrthe yang membuka kerudung yang menyelubungi wajahnya. Roh Angelique menari berputar-putar seolah-olah merasa lega telah terbebas dari timbunan tanah.
Ratu Myrthe berkata, "Sambutlah Angelique, pengikut kita yang baru, yang mencintai seorang pangeran dan tertipu olehnya!"
Para wili berkumpul di sekeliling Angelique seolah gembira ada roh baru yang bergabung bersama mereka.
"Ceritakan kisahmu pada kami, Angelique!" perintah Ratu Myrthe.
"Dua pria mencintaiku. Hilarion si pemburu dan....” Angelique memulai kisahnya.
"Pangeran Christophe, benarkah demikian?" potong Ratu Myrthe.
"Dia tidak memberitahukan kepadaku bahwa dia adalah seorang pangeran. Dia tidak menceritakan pertunangannya dengan Countess Mathilde kepadaku. Dia hanya mengatakan bahwa dia adalah Louis yang mencintaiku."
Para wili mengerang mendengar penuturan rekan mereka yang baru.
"Hilarion terbakar api cemburu. Dia menceritakan kebenaran kepadaku dan membongkar rahasia Pangeran Christophe. Pangeran Christophe tidak dapat mengingkari kebenaran yang menyakitkan ini ini ketika kubertanya kepadanya," lanjut Angelique. "Kemudian kukira aku kehilangan akal sehatku dan mulai menari, terus menari, meskipun ibu memintaku berhenti. Aku menari hingga kurasakan nyeri di dada. Jantungku berhenti berdenyut dan nafasku terputus. Aku jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Kurasa aku telah mati sekarang karena kini aku berada di antara kalian para wili. Ibuku pernah bercerita tentang kalian kepadaku, namun aku tak pernah menyangka bahwa akhirnya aku akan menjadi salah satu dari kalian"
"Dan kau sepatutnya tahu bahwa kau sungguh beruntung dapat bergabung dengan kami. Pikirkan betapa senangnya menari di bawah sinar bulan tanpa hidup kita terganggu oleh makhluk-makhluk terkutuk yang menamakan diri mereka kaum pria!" Ratu Myrthe berkata dengan nada penuh amarah Matanya yang hijau bersinar-sinar kejam. Teringat olehnya saat dia menghunjamkan belati yang dibawanya ke dadanya sendiri sehingga mengakibatkan kematiannya. Sakit memang. Namun lebih pedih lagi mengetahui bahwa pria yang dicintainya telah mengkhianatinya.
Dulu sekali, semasa hidupnya, Ratu Myrthe adalah seorang ratu yang bertunangan dengan raja muda dari negeri tetangga namun kemudian merasa dikhianati saat mengetahui bahwa kekasihnya juga menjalin cinta dengan saudarinya sendiri. Dia merasa sedih, marah, dan berputus asa sehingga akhirnya nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Kebenciannya terhadap kekasihnya bukannya sirna dengan kematiannya melainkan justru bertambah besar dengan membenci semua pria yang dianggapnya sebagai makhluk yang tidak setia dan suka berkhianat. Kebencian tersebut demikian besarnya sehingga rohnya bangkit dari kuburnya dan menjelma menjadi wili yang pertama. Kemudian Iblis mendatanginya dan menawarkan kekuatan jahat kepadanya dengan syarat dia harus mengumpulkan pengikut yang mengalami nasib seperti dirinya. Ratu Myrthe setuju. Maka jadilah dia ratu para wili.
Tiba-tiba terdengar bunyi gemersik dedaunan dan ranting beradu. Pendengaran para wili yang tajam menangkap bunyi itu. Mereka menengok ke arah datangnya bunyi tersebut.
"Dengar! Aku merasakan kehadiran seorang manusia di sekitar kita. Pasti dia adalah seorang pria! Jangan biarkan dia lolos! Kita paksa dia menari dengan kita. Kita lihat apakah kekuatannya sebesar nyalinya mendekati kita. Ikuti aku!" perintah Ratu Myrthe kepada para pengikutnya.
Para wili tersebut menghilang dalam kegelapan hutan mengejar korbannya... To be continued

"Angelique Part 8"

Angelique ragu-ragu mengikuti mereka. Dia masih belum bisa mempercayai kenyataan bahwa kini dia adalah wili, makhluk yang pernah diceritakan ibunya saat memperingatkannya agar berhati-hati terhadap pria. Dia tidak yakin apakah kebenciannya terhadap pria cukup kuat sehingga membuatnya menjadi wili. Dia bertanya-tanya apakah dia harus menjadi wili untuk seterusnya. Lalu di manakah surga yang sering dia dengar dari khotbah pastor di gereja? Dan neraka? Atau mungkin inilah neraka, di mana jiwa-jiwa hidup dalam kebencian tanpa cinta kasih?
Terdengar suara langkah kaki orang berjalan. Angelique bersembunyi di balik pepohonan untuk melihat siapakah yang datang. Tengoklah sesosok tubuh berjalan menuju makamnya! Dia membawa rangkaian bunga lily putih dan dedaunan rosemary di tangannya dan meletakkannya di atas makam kemudian berlutut untuk mengucapkan doanya. Dialah Pangeran Christophe, pria yang dicintainya.
"Louis," bisiknya.
Sekembalinya dari pemakaman Angelique, Pangeran Christophe jatuh sakit oleh rasa bersalah dan kesedihan yang menderanya sedemikian hebat. Wilfred yang setia selalu di sampingnya untuk merawatnya.
Malam ini dia terjaga dari tidurnya, dari mimpi yang menghantui dan menggelisahkan. Wajah Angelique yang terkejut dan kecewa saat mengetahui kebenaran yang menyakitkan itu, Angelique yang menari-nari liar sebelum jatuh terkulai di atas tanah, tubuhnya yang diam tak bergerak dalam pelukan ibunya, seakan-akan disaksikannya lagi semua kejadian di siang yang menyedihkan itu dalam mimpinya.
Peluh membasahi sekujur tubuhnya yang bertelanjang dada. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Dilihatnya Wilfred tertidur lelap di kursi tak jauh dari pembaringannya. Tanpa membangunkan Wilfred, dikenakannya pakaian dan sepatunya. Dia bermaksud mengunjungi makam Angelique untuk menyatakan penyesalan dan mendoakan kedamaian jiwa kekasihnya, serta mengenang kelembutan sikapnya saat dia menyatakan cinta padanya. Dia tidak mengetahui bahwa malam ini roh Angelique telah dibangkitkan dari kuburnya oleh ratu para wili.
Diiringi keluh kesah yang panjang Pangeran Christophe meratap, "Maafkan aku kekasih! Apa yang telah kuperbuat? Bukannya kebahagiaan melainkan penderitaan dan maut yang kuberikan kepadamu. Namun sesungguhnya aku hanya mencintaimu, percayalah, Angelique! Bukan maksudku untuk mendustaimu atau mempermainkan cintamu. Sesungguhnya atas kehendak orang tuakulah aku bertunangan dengan Countess Mathilde, namun aku tak pernah mencintainya. Karena itu setelah melaksanakan pertunanganku dengannya di purinya, aku memutuskan untuk tidak segera kembali ke istana agar mereka tidak dapat menyelenggarakan perkawinanku. Justru saat itulah aku bertemu denganmu! Dan bagaimana mungkin aku dapat mencintai wanita lain setelah bertemu denganmu? Kaulah satu-satunya yang kuinginkan sebagai pendampingku, Angelique."
Angelique mendengarkan semua yang diucapkan oleh sang pangeran dan dia memaafkannya. Dalam hati Angelique tiada tempat bagi kebencian dan dendam, yang ada hanya cintanya yang tulus bagi kekasihnya. Didekatinya Pangeran Christophe. Angin dingin yang berhembus dari arah belakang membuat Pangeran Christophe berpaling.
Alangkah terkejutnya sang pangeran menyaksikan bayangan Angelique berdiri di hadapannya! Bergaun putih ringan melayang, wajahnya pucat namun masih sejelita semula, di bibirnya tersungging senyuman lemah Dia tampak begitu nyata sekaligus maya.
Antara takut dan gembira Pangeran Christophe mencoba menyentuh bayangan kekasihnya. Bayangan tersebut melompat menjauhinya. Sang pangeran mencoba sekali lagi namun bayangan tersebut menghindar terlalu cepat untuk dapat ditangkapnya. Kemudian dia menyodorkan rangkaian bunga yang dibawanya kepada bayangan Angelique. Bayangan tersebut mendekat dan memetik dua pucuk ranting rosemary, tetapi ketika sang pangeran berusaha menggapainya dia kembali melompat menghindar sambil mengayun-ayunkan dua pucuk ranting di tangannya seolah menggoda sang pangeran. Setiap kali sang pangeran berusaha mendekatinya setiap kali pula bayangan Angelique menjauhinya....
Sementara itu di tempat yang terbuka dekat danau di tengah hutan para wili mengepung korban mereka dan menarikan tarian maut mereka.
Siapakah gerangan pria malang yang menjadi korban para wili tersebut? Tak lain adalah Hilarion. Para wili yang mendengar suara langkah kaki Hilarion yang melarikan diri dari makam Angelique tidak bermaksud membiarkannya pergi begitu saja dan mengejarnya. Langkah ringan para wili membuat mereka dengan cepat menyusulnya. Kini dia berada dalam kepungan makhluk-makhluk yang tanpa belas kasihan memaksanya menari bersama mereka meskipun dia telah sangat lelah.
Hilarion mencoba melarikan diri ke arah timur namun di sana Moyna telah menantinya sambil menarikan tarian dari negeri Timur Jauh. Semasa hidupnya Moyna adalah putri seorang mandarin yang melarikan diri dari rumah orang tuanya bersama pemuda yang dicintainya. Tak disangkanya kekasihnya adalah penipu berhati busuk yang tega menjualnya kepada seorang pedagang budak yang kejam. Moyna menemui ajalnya saat mencoba melarikan diri dari pedagang budak tersebut. Rohnya yang penasaran terus berkeliaran tanpa arah sampai bertemu dengan Ratu Myrthe yang menjadikannya pengikutnya. Kini Moyna dapat menarikan tarian yang pernah dia tarikan di masa remaja untuk membalas dendam terhadap pria.
Hilarion berlari ke arah barat tetapi Zulme telah berada di sana menarikan tarian seperti yang biasa ditarikan oleh penari-penari kuil Hindu. Zulme adalah seorang penari kuil semasa hidupnya. Dia telah mengikat janji sehidup semati dengan seorang ksatria di hadapan api suci kuil sebelum ksatria tersebut pergi bertempur. Setelah pertempuran usai, Zulme bersama para penari lainnya menyongsong kepulangan para prajurit yang dipimpin oleh sang ksatria membawa kemenangan. Dia membawa karangan bunga untuk dikalungkan di leher kekasihnya. Namun betapa hatinya hancur mengetahui bahwa sang kekasih bukan saja pulang membawa kemenangan tetapi juga seorang istri, putri bangsawan yang diberikan kepadanya sebagai hadiah kemenangannya. Lebih dari itu, sang kekasih juga bersikap seolah-olah tidak pernah mengenalnya bahkan menyuruhnya berlalu dari hadapannya. Zulme kemudian mengakhiri hidupnya dalam kobaran api suci kuil. Seperti halnya Moyna, rohnya berkeliaran penuh dendam sampai bertemu Ratu Myrthe yang mengangkatnya sebagai dayangnya bersama Moyna. Kini di tengah hutan yang luas ini, di bawah bulan yang bersinar kebiruan, Zulme menari seperti saat dia menyongsong para prajurit pulang dari pertempuran dengan tujuan untuk melampiaskan kesumatnya kepada kaum pria.
Hilarion berlari ke selatan tetapi para wili yang lain telah menunggu di sana.
Dia ke utara namun Ratu Myrthe sendirilah yang menantinya di sini. Hilarion tak tahu apa yang harus dilakukannya saat makhluk-makhluk tersebut semakin mendekat. Kini dia menyadari tak ada jalan lain baginya selain kembali menari bersama para wili.
"Oh, biarkan aku berhenti! Apakah kesalahanku? Aku tidak pernah berkhianat terhadap wanita!" Hilarion mencoba memprotes. Namun sia-sia.
"Kesalahanmu adalah menjadi seorang pria, dan semua pria tak pantas dikasihani! Kau akan tetap menari sampai kelelahan dan mati!" tegas Ratu Myrthe.
Maka pria malang itu terus menari walaupun berlawanan dengan kehendaknya sendiri, meskipun dia berusaha keras untuk berhenti. Kekuatan Ratu Myrthe terlampau besar baginya untuk dilawan. Dia terus menari sampai akhirnya kelelahan mengakibatkan matanya berkunang-kunang dia jadi tak dapat memperhatikan langkahnya dan tergelincir jatuh ke dalam danau. Air danau yang sedingin es itu menjadi saksi kematian seorang pria yang kecemburuannya mengakibatkan wanita yang dicintainya meninggal karena patah hati.
Tetapi meskipun telah jatuh seorang korban, para wili tersebut belumlah merasa puas. Mereka tidak akan pernah merasa puas sebelum seluruh pria binasa.
"Aku merasakan keberadaan pria lain dalam hutan ini. Cari sampai dapat! Dia tidak akan keluar hidup-hidup dari hutan ini atau kita bukanlah para wili!" Ratu Myrthe berseru bengis sambil melayang menerobos kegelapan hutan diikuti oleh para wili... To be continued

"Angelique Part 9"

Dalam pada itu Pangeran Christophe masih berusaha mengejar bayangan kekasihnya namun sejauh itu pula usahanya sia-sia. Bayangan Angelique seakan mempermainkannya. Kadang-kadang dia seperti menanti Pangeran Christophe menggapainya namun selalu saja bayangan tersebut sirna saat sang pangeran hampir berhasil menyentuhnya.
Meskipun terkesan menggoda, sesungguhnya Angelique hanya bermaksud membuat Pangeran Christophe segera meninggalkannya, karena dia tahu bahwa para wili tidak akan membiarkan sang pangeran berlalu dengan selamat dari tempat itu. Menembus kabut dan kegulitaan malam, dia terus menuntun kekasihnya berlalu menjauhi bahaya.
Terlambat! Para wili telah mengetahui keberadaan Pangeran Christophe. Ratu Myrthe memerintahkan para pengikutnya mengepung calon korban mereka. Seperti segerombolan burung pemakan daging menyerang mangsanya, demikianlah para wili mengelilingi Pangeran Christophe.
Pangeran Christophe sangat terkejut dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi atau apa yang harus diperbuatnya. Dia tidak tahu siapakah para wanita yang bergaun dan berpenampilan sama seperti bayangan kekasihnya, yang mengepungnya tersebut. Belum pernah didengarnya cerita tentang para wili.
Angelique berdiri merentangkan tangannya di depan kekasihnya untuk melindunginya dari ancaman para wili. Dia memohon kepada Ratu Myrthe agar berkenan melepaskan Pangeran Christophe, "Biarkan dia pergi, Ratu! Dia tidak bermaksud mengkhianatiku. Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Kasihanilah dia!"
"Sama seperti kita mengasihi kaumnya yang lain," ujar Ratu Myrthe dingin. Lalu tegasnya, "Dia harus mati!"
Angelique merasa bahwa sia-sia sajalah dia mencoba memohon kemurahan hati ratu para wili tersebut, karena itu dia tidak mengulangi permohonannya lagi melainkan bertekad melindungi kekasihnya itu meskipun itu berarti dia harus melawan Ratu Myrthe dan kekuatan jahatnya beserta seluruh pengikutnya.
Angelique menyadari bahwa ini bukan hanya merupakan pertentangan antara dirinya dengan ratu para wili yang tak mengenal belas kasihan tersebut, tetapi lebih dari itu pertentangan antara cinta dengan kebencian, antara dendam yang tak berkesudahan dengan maaf.
Ratu Myrthe yang melihat pemberontakan di mata Angelique menjadi murka Dia menjatuhkan keputusan yang lebih kejam ke atas diri Pangeran Christophe. Diayunkannya ranting berkekuatan gaib yang tergenggam di tangannya kepada pasangan tersebut sambil berseru geram, "Kau akan menjadi penyebab kematiannya sama seperti dia menyebabkan kau mati!"
Angelique tak berdaya melawan kekuatan Ratu Myrthe yang menyebabkan dirinya mulai menari. Pangeran Christophe yang juga terpengaruh oleh mantera jahat dari ratu para wili itu pun tak dapat menghentikan gerakan tubuhnya menari. Para wili di sekeliling mereka ikut menari.
Berjam-jam lamanya mereka menari. Cabang dan ranting pepohonan willow yang melambai-lambai oleh hembusan angin malam terdengar seperti musik yang dimainkan untuk mengiringi tarian yang mematikan itu. Sungguh suatu malam yang dipenuhi bayangan maut!
Bagi Angelique yang sudah mengalami kematian, tarian itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap dirinya. Dia tidak lagi memiliki jantung yang dapat berhenti berdenyut dalam dadanya. Dia tidak dapat mengalami kematian untuk kedua kalinya. Namun bagi Pangeran Christophe maut seakan mengintainya sedemikian dekat lewat tarian tersebut. Dia mulai kepayahan dan terjatuh. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya dan nafasnya terdengar satu-satu. Angelique segera menyongsongnya, melindunginya dari para wili yang lain sementara sang pangeran beristirahat memulihkan kekuatannya... To be continued

selanjutnya http://renunganpagi.blogspot.com/2004/04/easter-anthology-3-dari-5.html