Selasa, 01 November 2011 Hari Raya Semua Orang Kudus (Rm. Ign Sumarya, SJ)

Selasa, 01 November 2011
Hari Raya Semua Orang Kudus

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahapengasih, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Bimbingan dan kasih-Mu senantiasa menyertai kami sehingga kami mampu mengikuti Yesus, Putra-Mu untuk melaksanakan sabda-Nya, dan kelak kami dapat memuji nama-Mu dan berbahagia bersama para kudus di surga. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Renungan


Kiranya kita semua tahu atau kenal dengan Ibu Teresa dari Calcuta, entah melalui bacaan buku atau media cetak atau media elektronik. Ia adalah seorang biarawati yang tersentuh dan tergerak hatinya atas penderitaan jutaan manusia yang miskin dan berkekurangan serta kurang menerima perhatian; ia meninggalkan kemegahan biara dan sekolah yang diasuhnya dan kemudian ‘menggelandang’ di jalanan untuk menemani orang yang hampir mati atau sakit, bayi yang dibuang oleh yang melahirkannya, memberi makan apa adanya kepada mereka yang kelaparan dst.. Pribadi dan karyanya begitu memikat, mempesona dan menarik banyak orang, dan pada suatu saat diwawancari oleh seorang wartawan TIME. “Ibu menurut kata banyak orang ibu adalah orang suci atau santa yang masih hidup. Sebenarnya orang suci itu semacam apa ibu?”, demikian kurang lebih pertanyaan sang wartawan kepada Ibu Teresa. Dan dengan rendah hati dan mantap Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang dapat mengintip siapa itu Tuhan, siapa itu manusia dan apa itu harta benda”. Memang dari cara hidup dan cara bertindak ibu Teresa kita dapat mendalami kebenaran perihal ‘siapa Tuhan, siapa manusia dan apa harta benda’. Maka marilah pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini kita mawas diri, entah dengan cermin ibu Teresa dari Calcuta, santo-santa pelindung kita masing-masing atau bacaan-bacaan hari ini. Perkenankan saya merefleksikan secara sederhana apa yang tertulis dalam Injil hari ini.

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3)

Miskin di hadapan Allah” berarti menggantungkan atau mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah, menyadari dan menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, cara hidup dan cara bertindaknya dikuasai atau dirajai oleh Allah sehingga hidup dan bertindak menurut kehendak Allah. Dalam keadaan atau kondisi dan situasi apapun orang yang ‘miskin di hadapan Allah’ senantiasa bergembira dan berbahagia, karena bersama dan bersatu dengan Allah, dan tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam penghayatan iman. Ia dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat 5:4)

Menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah” memang butuh perjuangan dan pengorbanan alias siap sedia untuk berdukacita. Berdukacita berarti ada yang meninggal atau ditinggalkan, dan tentu saja dalam hal ini bukan orang, melainkan keinginan, nafsu, harapan atau dambaan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia
.” (Yoh 16:20-21), demikian sabda Yesus. Marilah sabda Yesus ini kita renungkan, refleksikan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)

Buah atau dampak ketahanan dan ketabahan dalam berdukacita atau penderitaan adalah lemah lembut, sabar dan tekun, tidak kasar dan tidak terburu-buru dalam menghadapi segala sesuatu. Yang bersangkutan juga hidup membumi, memperhatikan hal-hal sederhana dengan penuh cintakasih, ia mengerjakan hal-hal sederhana dan kecil dengan kasih yang besar. Kami percaya bahwa pada umumnya rekan-rekan perempuan atau para ibu lebih lemah lembut dari pada rekan-rekan laki-laki atau para bapak, maka kami berharap rekan-rekan perempuan atau para ibu dapat menjadi teladan dalam kelemah lembutan dalam hidup sehari-hari di dalam lingkungan hidup maupun lingkungan kerjanya, dan kepada rekan-rekan laki-laki atau para bapak hendaknya tidak malu-malu belajar lemah lembut juga dari rekan-rekan perempuan atau para ibu.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).

Perkembangan dari lemah lembut adalah ‘lapar dan haus akan kebenaran’, yang bersangkutan sungguh membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam nasihat, saran, ajaran , informasi dst.. dalam rangka menemukan kebenaran. Kebenaran sejati antara lain adalah bahwa kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Maka yang bersangkutan sungguh menghayati diri sebagai yang diperhatikan, banyak orang memperhatikannya, dan dengan demikian ia sungguh dipuaskan dengan berbagai bentuk perhatian.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)

Orang yang menghayati diri sebagai yang diperhatikan banyak orang berarti kaya akan kemurahan hati, maka yang bersangkutan akan bermurah hati juga kepada orang lain atau siapapun juga. Murah hati berarti hatinya dijual murah alias siapapun boleh minta diperhatikan atau ia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kemurahan hati Allah, terutama dan pertama-tama melalui orangtua kita masing-masing, khususnya ibu kita yang telah mengandung dan melahirkan serta membesarkan dan mengasuh kita dengan sepenuh hati. Maka selayaknya sebagai umat beriman kita saling bermurah hati atau memperhatikan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)

Buah bermurah hati adalah suci atau “sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1Yoh 3:2-3). Orang suci adalah “orang yang menaruh pengharapan kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”. Orang suci mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya. Ia sungguh menjadi ‘kekasih Allah’

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)

“Menjadi kekasih Allah” secara otomatis akan “membawa damai” dimana pun ia berada atau kemana pun ia pergi, terutama damai di hati. Bersama dan bergaul dengan ‘kekasih Allah’ akan terasa sejuk, damai dan tenteram serta aman. Perdamaian menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, maka marilah kita sebagai orang beriman atau kekasih Allah senantiasa menjadi saksi atau teladan perdamaian serta menyebarluaskan perdamaian kepada siapapun dan dimanapun . “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Paus Paulus II memasuki millennium ketiga yang sedang kita jalani ini. Pembawa damai berarti senantiasa mengampuni siapapun yang telah menyalahi atau menyakitinya.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10)

Memang ketika kita disalahi atau disakiti segera mengampuninya dan tidak balas dendam , kita akan merasa ‘teraniaya’. Baiklah jika demikian adanya marilah kita memandang dan menatap Dia yang tergantung di kayu salib. Untuk mewujudkan Kerajaan Allah/Sorga atau Allah yang meraja di dunia ini memang harus melalui penderitaan bahkan sampai wafat di kayu salib. Teraniaya atau menderita karena kebenaran adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka nikmati saja apa adanya.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11)

Tibo kebrukan ondho” = Jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah Jawa. Ada kemungkinan dalam keadaan teraniaya dan menderita karena kebenaran kita masih dicela dan difitnah. Sekali lagi nikmati dan hayati aneka celaan dan fitnahan dalam dan bersama Tuhan, meneladan Yesus, Penyelamat Dunia, yang telah mengalaminya.

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan”
(Mzm 24:1-4b)

Ign Sumarya, SJ - 1 November 2011





BACALAH: http://forkatwg.blogspot.com/2011/10/menggapai-kekudusan.html

Selasa, 01 November 2011 Hari Raya Semua Orang Kudus

Selasa, 01 November 2011
Hari Raya Semua Orang Kudus

"Betapa menguntungkan direndahkan; itu satu-satunya jalan ke arah kesucian." (St Teresia dari Kanak-kanak Yesus).

Antifon Pembuka

Bergembiralah kita semua dalam Tuhan merayakan semua orang kudus. Malaikat pun bersuka ria berpesta dan memuji-muji Putra Allah.

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, dalam Perayaan Hari Semua Orang Kudus ini kami kenangkan semua orang kudus yang mengimani dan mempercayakan dirinya kepada cinta kasih-Mu entah mereka itu terkenal entah tidak. Dengan para kudus itu kami telah Kau perkenankan dalam umat-Mu, dalam Gereja-Mu. Maka kami mohon dengan perantaraan mereka penuhilah doa keinginan kami dan perkenankanlah kami ikut serta dilimpahi belas kasih-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Wahyu (7:2-4.9-14)

"Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya, mereka terdiri dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa"

Aku, Yohanes, melihat seorang malaikat muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup. Dengan suara nyaring ia berseru kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, katanya, "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!" Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel. Kemudian dari pada itu aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya, dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa. Mereka berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih, dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dengan suara nyaring mereka berseru, "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta, dan bagi Anak Domba!" Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta, tua-tua dan keempat makhluk yang ada disekeliling takhta itu. Mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah sambil berkata, "Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, hikmat dan syukur, hormat, kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin! "Seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku, "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu, dan dari manakah mereka datang?" Maka kataku kepadanya, "Tuanku, Tuan mengetahuinya!" Lalu ia berkata kepadaku, "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar! Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan
Ayat. (Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6)
1. Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkan di atas sungai-sungai.
2. Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan dan tidak bersumpah palsu.
3. Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes (3:1-3)

"Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya."

Saudara-saudara terkasih, lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita sungguh anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita ini sudah anak-anak Allah, tetapi bagaimana keadaan kita kelak belumlah nyata. Akan tetapi kita tahu bahwa, apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, ia menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
Demikianlah sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 11:28)
Datanglah pada-Ku, kamu semua yang letih dan berbeban berat. Aku akan membuat lega.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:1-12a)

"Bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga."

Sekali peristiwa ketika melihat banyak orang yang datang, Yesus mendaki lereng sebuah bukit. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya. Lalu Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, katanya, "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika demi Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat; bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan


Setiap orang ingin bahagia. Segala usaha ditempuh agar kebahagiaan itu didapatkan. Usaha yang ditempuh masing-masing orang berbeda-beda tergantung bagaimana dia mengartikan kebahagiaan itu. Ada yang menyangka kebahagiaan itu ada dalam harta benda sehingga seluruh hidupnya dipakai untuk mengumpulkan harta benda. Ada yang mengira kebahagiaan itu ada dalam jabatan tinggi, akibatnya orang mengejarnya mati-matian. Apakah ketika hal-hal itu diperoleh, orang otomatis bahagia? Ternyata tidak. Harta benda dan jabatan sering kali belum cukup memenuhi kerinduan manusia akan kebahagiaan.

Sabda bahagia Yesus hari ini mengingatkan kita akan jalan kebahagiaan yang bisa ditempuh kalau kita menginginkan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati dapat kita peroleh kalau kita hidup dalam keutamaan-keutamaan, senantiasa mengandalkan Tuhan, dan memperjuangkan kebenaran serta perdamaian. Siapa pun dijanjikan kebahagiaan jika melewati jalan itu. Lewat jalan ini orang bukan hanya akan memperoleh kebahagiaan, tetapi juga kekudusan. Pada diri semua orang kudus yang dirayakan pestanya hari ini, kita mendapatkan contoh konkret pribadi-pribadi yang berhasil melewati jalan itu. Mereka bukan hanya menjadi bahagia, tetapi juga kudus.

Ya Tuhan, berkat teladan para kudus, semoga aku tidak henti-hentinya memperjuangkan kebahagiaan dan kekudusan dalam hidup sehari-hari. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian

BACALAH: http://forkatwg.blogspot.com/2011/10/menggapai-kekudusan.html

Senin, 31 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXXI

Senin, 31 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXXI

“Cinta kasih hidup dari pengorbanan” (St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus)

Antifon Pembuka

Segala sesuatu berasal dari Allah tercipta oleh-Nya dan tertuju kepada-Nya. Bagi-Nya kemuliaan selama-lamanya.


Doa Pagi

Tuhan, kasih setia-Mu sungguh tak terhingga. Engkau justru menunjukkan kasih-Mu di kala kami berusaha berpaling dari-Mu dan menuruti kehendak kami sendiri. Terpujilah Engkau yang selalu bermurah hati kepada kami. Amin.

Adam dan Hawa tidak taat kepada kehendak Allah sehingga manusia ikut jatuh dalam dosa. Berkat ketaatan Yesus kepada kehendak Bapa, manusia selamat. Hubungan manusia dengan Allah yang rusak karena dosa diperbaiki kembali. Karena pada dasarnya, Allah ingin manusia itu selamat dan bahagia. Maka, orang beriman yang taat akan mampu menyelamatkan sesamanya.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (11:29-36)

"Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua."

Saudara-saudara, Allah tak pernah menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Dahulu kalian tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang kalian mendapat kemurahan karena orang-orang Israel tidak taat. Demikian pun sekarang mereka tidak taat, supaya memperoleh kemurahan berkat kemurahan yang telah kalian peroleh. Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. Alangkah dalamnya kekayaan, kebijaksanaan dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-Nya, tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberi Allah sesuatu, sehingga Allah wajib menggantinya? Sebab segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah, dan menuju kepada Allah. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya. Amin.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku, ya Tuhan
Ayat. (Mzm 69:30-31.33-34.36-37)

1. Aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan lagu syukur.
2. Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah! Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan.
3. Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya; anak cucu hamba-hamba-Nya akan mewarisinya, dan orang-orang yang mencintai nama-Nya akan diam di situ.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alelluya
Ayat. Jika kalian tetap dalam firman-Ku, kalian benar-benar murid-Ku, dan kalian akan mengetahui kebenaran.

Kasih sejati itu tidak menuntut balasan jasa. Hal ini sangant sulit dilakukan, karena orang suka menerima balas budi dan pengakuan. Sebaliknya, Yesus mampu mengasihi manusia sampai sehabis-habisnya, walau manusia seringkali mengkhianati-Nya. Kasih sejati lebih suka memberi daripada menerima. Berbahagialah orang yang suka memberi tanpa pamrih.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (14:12-14)

"Janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, melainkan undanglah orang-orang miskin dan cacat."


Yesus bersabda kepada orang Farisi yang mengundang Dia makan, “Bila engkau mengadakan perjamuan siang atau malam, janganlah mengundang sahabat-sahabatmu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu, atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula, dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta. Maka engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalas engkau. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Pamrih adalah suatu kecenderungan yang ada dalam diri manusia. Orang melakukan sesuatu karena ada maksud tersembunyi di baliknya. Mereka menantikan balasan dan imbalannya. Itulah cara hidup balas budi, politik dagang sapi. Di sini jelas maksudnya, orang diundang untuk bekerja tanpa pamrih, untuk melayani tanpa mengharapkan imbalan jasa. Itulah sebabnya Yesus menasihati para pendengar-Nya untuk berbuat baik kepada mereka yang tidak mampu memberikan sesuatu sebagai balasan, dan menyerahkan seluruh pembalasannya kepada Tuhan sendiri.

Doa Malam


Tumbuhkanlah dalam hati kami ya Yesus, rasa syukur atas segala kebaikan-Mu yang boleh kami alami sepanjang bulan Oktober ini. Semoga kami mampu berbuat baik dan menjadi saluran kasih dan kebaikan-Mu, tidak hanya pada sesama yang baik tetapi juga kepada sesama yang sungguh berkekurangan. Amin.


RUAH

Bacaan Harian 31 Oktober - 06 November 2011

UJUD-UJUD KERASULAN DOA BULAN NOVEMBER 2011

Ujud Umum: Semoga Gereja-gereja Katolik Timur beserta warisan tradisi mereka yang sangat luhur semakin dikenali dan dihormati sebagai warisan rohani bagi seluruh Gereja.

Ujud Misi: Semoga Gereja di Benua Afrika menemukan kekuatan dalam Kristus untuk memperjuangkan keadilan dan rekonsiliasi sebagaimana dicanangkan oleh Sinode Para Uskup Afrika yang kedua.

Ujud Gereja Indonesia: Sadar akan tanggung jawab bersama, semoga semua warga bahu-membahu dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Bacaan Harian 31 Oktober - 06 November 2011


Senin, 31 Oktober: Hari Biasa Pekan XXXI (H).
Rm 11:29-36; Mzm 69:30-31.33-34.36-37; Luk 14:12-14.

Yesus memberi perhatian istimewa kepada orang-orang miskin, baik jasmani maupun rohani. Yesus juga mengajak kita untuk melakukan yang sama. Orang-orang seperti itu ada di sekitar kita. Apa yang kita buat untuk mereka?

Selasa, 01 November: Hari Raya Semua Orang Kudus (P).
Why 7:2-4.9-14; Mzm 24:1-4ab.5-6; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a.

Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan setia untuk menjalankan tugas perutusan kita. Pekerjaan ini tidak mudah. Ada banyak tantangan dan godaan. Namun, semua orang kudus yang kita rayakan hari ini menjadi teladan dan sekaligus menjadi dorongan bagi kita untuk mengusahakannya dengan bantuan rahmat Allah.

Catatan:

1. Dalam rangka “Hari Raya Mengenang Arwah Semua Orang Beriman” (tgl. 2 November), setiap orang Kristen dapat memperoleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal.
2. Caranya: mengunjungi makam dan/atau mendoakan arwah orang yang meninggal,
•yang menjalankan setiap hari dari tgl. 01 – 08 Nopember memperoleh indulgensi penuh;
•yang menjalankan pada hari-hari lain, memperoleh indulgensi sebagian.
Rabu, 02 November: Peringatan Arwah Semua Orang Beriman (U/T).
2Mak 12:43-46; Mzm 130:1-8; 1Kor 15:12-34; Yoh 6:37-40.

Hari ini kita semua dipanggil untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga, sahabat dan kenalan yang telah meninggal. Kita percaya bahwa semua orang beriman kepada Kristus akan beroleh hidup yang kekal di dalam Kerajaan-Nya. Sebab, Yesus sendiri mengatakan bahwa Bapa menghendaki semua yang diberikan-Nya kepada Yesus, jangan ada yang hilang, tetapi supaya Yesus membangkitkan mereka pada akhir zaman.

Kamis, 03 November: Hari Biasa Pekan XXXI (H).
Rm 14:7-12; Mzm 27:1.4.13-14; Luk 15:1-10.

Panggilan murid Kristus adalah tidak membiarkan satu domba pun hilang. Tengoklah di sekitar kita, adakah domba-domba yang terlepas dari Sang Gembala? Yesus mengajak kita untuk juga menjadi gembala yang baik yang tidak tinggal diam terhadap domba yang hilang.

Jumat, 04 November: Jumat Pertama | Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus, Uskup (P).
Rm 15:14-21; Mzm 98:1-4; Luk 16:1-8.

Yesus memuji bendahara yang tidak jujur itu bukan karena ketidakjujurannya, tetapi karena perbuatannya yang cerdik dalam mengatasi situasi krisis. Dalam keadaan terjepit, ia melakukan kebaikan dengan mengurangi beban hutang orang-orang yang berhutang kepada tuannya. Kebaikan ini adalah jalan untuk keluar dari kemalangan dan mendapatkan stuasi rahmat dalam hidupnya.

Sabtu, 05 November: Hari Biasa Pekan XXXI (H).
Rm 16:3-9.16.22-27; Mzm 145:2-5.10-11; Luk 16:9-15.

Menjalankan ajaran kasih Tuhan mulai dari hal-hal sederhana dan yang kecil-kecil akan memampukan kita untuk menjalankan yang lebih besar. Ada banyak hal sederhana dan kecil yang dapat kita lakukan sehari-hari di mana pun kita berada untuk mewujudkan kasih itu.

Minggu, 06 November: Hari Minggu Biasa XXXII (H).
Keb 6:13-17; Mzm 63:2-8; 1Tes 4:13-18 (1Tes 4:13-14); Mat 25:1-13.

Kedatangan Tuhan yang kedua kali adalah pasti. Itulah saat Kerajaan Tuhan mencapai kepenuhannya. Tapi, tidak ada seorang pun tahu kapan saat kedatangan Tuhan itu. Karena kedatangannya tidak diketahui, kita mungkin bisa lupa untuk mempersiapkan diri. Kalau begitu, setiap saat kita bisa disergap oleh kedatangan Tuhan yang tak terduga, seperti lima gadis-gadis yang bodoh. Maka, marilah kita seperti gadis-gadis yang bijaksana dengan pelita yang terus menyala dan minyak yang cukup. Hidup iman harus terus berkobar mulai sekarang juga dan harus mempunyai daya tahan untuk masa yang jauh.

Kata & Perbuatan

Minggu, 30 Oktober 2011 Hari Minggu Biasa XXXI

Minggu, 30 Oktober 2011
Hari Minggu Biasa XXXI

"Doa menyegarkan jiwa dan memberikan rasa tenang" --- St Yohanes Krisostomus

Antifon Pembuka (Mzm 37:22-23)

Jangan tinggalkan daku, ya Allahku, janganlah jauh dari padaku. Bergegaslah menolong aku, ya Tuhan penyelamatku.

Doa Renungan


Allah Bapa yang mahakuasa dan maharahim, berkat rahmat-Mulah umat beriman dapat mengabdi dan menghormati Engkau sebagaimana mestinya. Semoga kami jangan sampai membuat kesal hati-Mu, tetapi berusaha hidup murni, agar memperoleh kebahagiaan yang Kaujanjikan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Maleakhi (1:14b-2:2b.8-10)

"Kamu telah menyimpang dari jalan; dengan pengajaranmu, kamu membuat banyak orang tergelincir."

"Aku ini Raja yang besar," firman Tuhan semesta alam, "dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa. Maka sekarang, kepada kamulah tertuju perintah ini, hai para imam! Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk. Kamu telah menyimpang dari jalan; dengan pengajaranmu kamu membuat banyak orang tergelincir; kamu merusakkan perjanjian dengan Lewi," firman Tuhan semesta alam. "Maka Aku pun akan membuat kamu hina dan rendah bagi seluruh umat ini, oleh karena kamu tidak mengikuti jalan yang Kutunjukkan, dan kamu memandang bulu dalam pengajaranmu. Bukankah kita sekalian mempunyai satu Bapa? Bukankah satu Allah yang menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu nama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita?"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/4, PS 842
Ref. Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.
Ayat. (Mzm 131:1.2.3)

1. Tuhan aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
2. Sungguh, aku telah menenangkan jiwaku; aku telah membuatnya diam seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
3. Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (2:7b-9.13)

"Kami rela membagi dengan kamu bukan hanya Injil Allah melainkan juga hidup kami sendiri."

Saudara-saudara, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya, demikianlah besarnya kasih sayang kami kepadamu, sehingga kami rela membagi dengan kamu bukan hanya Injil Allah, melainkan juga hidup kami sendiri, karena kamu memang kami kasihi. Kamu tentu masih ingat akan usaha dan jerih payah kami. Sebab sementara kami bekerja siang malam, agar jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. Karena itulah kami tak putus-putusnya mengucap syukur kepada Allah, sebab kamu telah menerima sabda Allah yang kami beritakan itu. Pemberitaan kami telah kamu terima bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai sabda Allah, sebab memang demikianlah adanya. Dan sabda Allah itu bekerja giat dalam diri kamu yang percaya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mat 23:9a.10b)
Hanya satulah Bapamu, yaitu Dia yang di surga, hanya satulah Pemimpinmu, yaitu Mesias.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (23:1-12)


"Mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukan."

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu. Tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. Mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu suka disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Kristus. Siapa pun yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan


MANUSIA, SIAPAKAH ENGKAU?

"Manusia, siapakah engkau?" adalah judul buku Seri Sumber Hidup 6. Pertanyaan yang sama sangat cocok sebagai pertanyaan reflektif untuk merenungkan Injil hari ini. Kata Yesus, "
Tetapi kamu, janganlah kamu suka disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Kristus." (Mat 23:8-10)

Manusia adalah bagian dari suatu dunia semesta. Santa Teresa dari Avila dalam gambarannya mengenai jiwa manusia, dia berbicara tentang kediaman kedalaman manusia yang tidak terhitung jumlahnya. Dalamnya laut dapat diukur, tetapi dalamnya hati siapa yang mampu mengerti?

Proses pengenalan ke dalam hati manusia dapat dilalui lewat beberapa tahap. Pertama, taraf dangkal tentang hal-hal yang dapat diketahui: di mana Anda dilahirkan? Apa pekerjaan anda? Apakah anda memiliki KTP? Setiap orang tahu bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu hampir tidak memperkaya pengetahuan kita tentang kedalaman pribadi manusia yang bersangkutan.
Kedua, taraf lebih dalam tentang cap tertentu yang sering kita lekatkan pada pribadi manusia lain. Dia itu pemabuk, peminum. Dia itu pembual. Dia itu 'gajah diblangkoni' -- bisa kotbah tetapi tidak bisa melakoni (melaksanakan) dan sebagainya. Kedalaman lubuk hati diri manusia itu sendiri yang tahu, bahwa ia tidak sama atau tidak sama dengan apa yang dikatakan dan dipikirkan orang tentang dirinya.
Ketiga, lebih dalam lagi, taraf bawah sadar. Taraf di mana manusia menyadari luka psikisnya dan menjadi sadar akan luka-lukanya untuk berangsur-angsur dapat melepaskannya.

Andaikata diajukan pertanyaan yang menentukan sesuai judul, "Manusia, siapakah engkau?" kirnaya jawabannya: Aku ini dari Allah -- aku ini menuju Allah. Santo Agustinus mpernah menyatakan, "Bagiku Allah adalah lebih akrab daripada keakrabanku sendiri." Kepribadian kita yang sebenarnya ada di dalam Allah. Inti pribadiku menyangkut Allah, dilahirkan dari Allah, tersembunyi dalam Allah. Maka Yesus mengecam cara hidup -- kepribadian - ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang
"mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. Mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi." (Mat 23:4-7)

Pertanyaan permenungan: Manusia, siapakah engkau? kok memberi beban di atas bahu orang lain, sementara engkau tidak melakukannya? Manusia, siapakah engkau, karena engkau masih suka pamer supaya dilihat orang? Manusia, siapakah engkau, sehingga engkau masih mendamba penghormatan di dunia ini?

Beranikah kita berkata dari kedalaman hati seperti Santo Agustinus, "Aku ini manusia dari Allah. Aku ini manusia yang sedang menuju Allah"?

RUAH

Minggu, 30 Oktober 2011 Hari Minggu Biasa XXXI (Matius 23:1-12)

BOROK KEHIDUPAN AGAMA?

Rekan-rekan yang budiman,
Suatu ketika kepada orang banyak dan para muridnya Yesus menuturkan sikap tercela para ahli Taurat dan kaum Farisi (Mat 23:1-12, Injil Minggu Biasa XXXI tahun A tgl. 30 Oktober 2011). Sekalipun mereka ini memiliki hak untuk mengajarkan Taurat, janganlah kelakuan mereka diikuti. Mereka membebani orang dengan ajaran-ajaran tanpa bersedia menjalaninya sendiri. Mereka suka dipandang sebagai orang saleh, ingin diberi tempat kehormatan di tempat ibadat, mengharapkan sanjungan di hadapan umum.... Tingkah mereka ini boleh dikata sudah menjadi karikatur oberagama.

BOROK KEHIDUPAN?

Teks hari ini gampang dipakai untuk melancarkan kritik terhadap para pemimpin masyarakat khususnya di kalangan para tokoh agama. Tetapi apakah Injil pertama-tama bertujuan membuka borok-borok kehidupan agama seperti itu? Seandainya hanya itu, akan lebih menarik bila didatangkan seorang karyawan pastoran atau biara untuk curhat tiga menit di mimbar sebagai selingan dalam khotbah. Dia bakal jadi narasumber otentik. Atau bila keadaan mengizinkan, tayangkan sekaligus video (dengan muka para pembicara dikelabukan demi anonimitas) mengenai keluhan-keluhan seorang istri atau seorang suami atau anak terhadap tuntutan yang terasa terlalu besar untuk menjalankan hidup berumah tangga ideal menurut ajaran Gereja. Peragaan seperti itu akan lebih seru. Tapi itukah warta Injil hari ini? Rasa-rasanya bukan. Pewarta sabda tidak diminta menitip-nitipkan kritik ke dalam Injil, memuatinya dengan nasihat dan seruan moralistis, atau memakainya sebagai pijakan bercurhat.

DI BAIT ALLAH PADA HARI-HARI TERAKHIR


Ketika Yesus tiba di kota Yerusalem, orang banyak menyambutnya dengan meriah. Seluruh kota jadi gempar (Mat 21:10). Pada hari itu juga ia datang di Bait Allah dan menyadarkan orang bahwa rumah doa itu kini telah jadi sarang "penyamun" (21:12-13). Di situ juga ia menyembuhkan orang-orang buta dan orang-orang timpang. Imam-imam kepala dan ahli Taurat tidak senang melihat kepopuleran Yesus di wilayah mereka. Tetapi malam hari itu juga Yesus ke luar kota dan bermalam di Betania yang terletak di sebelah timur Yerusalem (21:18). Keesokan harinya ia kembali ke Bait Allah (21:23). Di situ terjadi serangkai pembicaraan dengan para pemimpin Yahudi yang mempertanyakan asal kuasa Yesus. Dalam kesempatan inilah ia mengajar dengan perumpamaan mengenai para penggarap kebun anggur yang mau merebut hasil dan tanah majikan (21:33-45), perumpamaan para undangan ke perjamuan nikah dan pakaian pesta (22:1-14). Juga waktu itulah dipaparkan pemecahan masalah membayar pajak kepada Kaisar (22:15-22), jawaban bagi penolakan orang Saduki terhadap kebangkitan (22:23-33), dan pengajaran mengenai hukum yang terutama (22:34-40) dan penjelasan mengenai hubungan antara Yesus dan Daud (22:41-46). Peristiwa yang disampaikan Injil hari ini terjadi di Bait Allah juga. Pengajaran ini disusul dengan tujuh kecaman keras terhadap sikap para ahli Taurat dan orang Farisi termasuk para pemimpin (23:13-36) dan keluhan terhadap kota Yerusalem (23:34-35). Setelah itu Yesus keluar dari Bait Allah dan Injil Matius mulai menceritakan pengajaran Yesus mengenai akhir zaman (24:1-25:46). Ini semua terjadi dua hari ia ditangkap untuk disalibkan dua hari menjelang Paskah orang Yahudi (26:2).

Konteks di atas memberi arti yang lebih penuh pada pengajaran Yesus. Matius menampilkan Yesus sebagai orang yang berkuasa mengajarkan mengenai Allah - di rumah-Nya sendiri. Bukan lagi para ahli Taurat dan orang Farisi yang kini berkuasa. Wibawa mereka sudah pudar karena mereka sendiri tidak menjalankan yang mereka ajarkan. Dan ini dirasakan orang banyak. Namun kuasa yang kini dimiliki Yesus membawa risiko. Para tokoh yang tak senang akan kepopuleran Yesus ini membuat rencana untuk menjatuhkannya (26:1-5). Yesus juga sadar bahwa risiko ini muncul dari keteguhannya dalam mengasihi Allah dengan seutuh-utuhnya dan mengasihi sesama yang sama-sama manusia seperti dia... Ia menghayati yang diajarkannya. Di situlah integritasnya. Ini dilihat orang banyak pula.

DUDUK DI KURSI MUSA?


Dikatakan dalam terjemahan yang lazim dipakai di Indonesia bahwa ahli Taurat dan orang Farisi "telah menduduki kursi Musa". Sayang kata "menduduki" dapat memberi kesan "menghuni dengan tanpa hak, merebut" yang tidak dimaksud di sini. Lebih cocok bila dipakai "duduk di kursi Musa". Dalam tradisi Yahudi ketika itu memang para ahli Taurat dan kaum Farisi diakui memiliki wewenang mengajarkan dan menafsirkan Taurat dengan wibawa seperti yang dimiliki Musa sendiri. Pengaruh mereka mulai besar pada abad ke-5 seb. Masehi, yakni setelah orang Yahudi kembali dari pengasingan di Babilonia. Pada zaman itu dibutuhkan pegangan untuk membangun kembali kehidupan bangsa dan agama. Dapat dimengerti bila sisi "hukum" ajaran agama lebih ditonjolkan. Tiap kali masyarakat Yahudi terdesak oleh kuasa politik dari luar, maka ciri-ciri legalistis kepercayaan mereka makin menjadi menonjol. Keadaan seperti ini sering dijumpai di pelbagai masyarakat, juga pada zaman kita sekarang. Tentu saja ada ekses. Dan inilah yang dibicarakan dalam petikan hari ini. Pengajaran dan kesaksian hidup pribadi sering tidak sejalan. Boleh dikatakan ketimpangan itu berpusat pada diabaikannya hidup beragama yang semestinya bergantung pada dua perintah yang terbesar yang dibicarakan dalam bagian sebelumnya (Mat 22:34-40; bacaan Injil Minggu Biasa XXX/A).

PEMBACA INJIL MATIUS: DULU DAN SEKARANG

Injil Matius tumbuh di kalangan orang-orang Yahudi yang telah menjadi pengikut para rasul. Orang-orang itu memiliki latar pendidikan Taurat yang kuat dan memang berusaha hidup menurut Taurat dengan baik. Tentu ada dari mereka yang akhirnya keterlaluan dan bersikap legalistis...juga setelah bergabung dengan para pengikut Yesus. Mereka inilah yang dibicarakan dalam Injil hari ini. Meski penggambarannya dilatarbelakangi kecaman Yesus terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi, masalahnya lebih menyangkut kehidupan di dalam komunitas muda yang memang tumbuh dari kalangan Yahudi. (Tidak semua pemimpin dan ahli Taurat atau kaum Farisi tercela. Ada orang-orang seperti Yusuf Arimatea dan Nikodemus, ada juga Saulus, orang Farisi yang fanatik tetapi yang kemudian menjadi rasul Paulus.) Pembaca dari zaman dulu melihat kembali secara kritis ke masa lampau mereka sendiri dan dengan halus menyampaikan kepada rekan-rekan mereka agar tidak menempuh cara lama itu. Mereka mau menyadari sisi mana dari cara hidup mereka tidak bisa lagi memberi inspirasi dan tidak bisa menjawab tantangan zaman. Mereka mau menimba kebijaksanaan dari ingatan para guru mereka yang masih mengenal Yesus ketika mengajar di Yerusalem dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh di sana. Inilah yang ditampilkan Matius.

Tentunya pembaca dari zaman kita sekarang tidak hanya berminat pada konteks yang dulu-dulu saja. Orang zaman ini ingin membaca Injil sebagai inspirasi hidup. Bila tidak tergesa-gesa, sebenarnya kuncinya juga terdapat di dalam Injil Matius sendiri. Secara sederhana begini. Seluruh pengajaran Yesus menjelang akhir hidupnya dalam Mat 23 ditampilkan oleh Matius sebagai gema pengajarannya ketika ia mulai tampil di muka umum, yakni ketika ia mengajar "orang banyak dan murid-muridnya" di sebuah bukit (Mat 5:1 dan 5:17-7:29).

Baik diperiksa bagaimana bagian yang memuat tujuh kecaman terhadap pemimpin, ahli Taurat dan orang Farisi (Mat 22:13-36, kelanjutan bacaan hari ini) berpadanan dengan Sabda Bahagia (Mat 5:3-12). Mereka yang dicela itu dikatakan telah menutup pintu-pintu Kerajaan Surga (22:13), bdk. orang miskin dan orang yang dianiaya yang dalam Sabda Bahagia dikatakan bakal memiliki Kerajaan Surga (5:3 dan 10); mereka disebutkan calon penghuni neraka (22:15), bdk. pembawa damai yang akan disebut anak-anak Allah (5:9); mereka disebut buta (22:16-22), bdk. orang yang bersih hatinya yang akan melihat Allah (5:8); mereka mengabaikan belas kasihan (22:23-24), bdk. orang yang berbelaskasihan yang akan mendapat belas kasihan (5:7); mereka rakus tak pernah kenyang (22:25-26), bdk. orang lapar dan haus yang akan dipuaskan (5:6); batin mereka membusuk seperti mayat yang dikubur (22:27-28), bdk. orang berduka cita yang akan dihibur (5:4); kelakuan jahat mereka akan menjadi hukuman mereka sendiri (22:29-35), bdk. orang lemah lembut yang akan imemilik bumi.

Diberikan gambaran keadaan bila pengajaran di bukit dan Sabda Bahagia tidak dihayati. Mereka yang merasa mau menegakkan hukum agama akan menindas kehidupan agama dari dalam! Ini kendala beragama yang tidak berusaha mengembangkan inti sikap beragama sendiri. Malah bisa memburuk dan memborok. Pada titik ini Injil Matius hendak membawa pembaca kembali ke inti kehidupan orang yang percaya, yakni ke inti pewartaan Yesus sendiri: mengajak orang menyongsong masa depan di dalam Kerajaan Surga sehingga menemukan kembali manusia yang utuh. Dan sekali lagi, di situ kemerdekaan manusia serta kebijaksanaan menghayatinya menjadi pusat perhatian.

Salam hangat,
A. Gianto

Sabtu, 29 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXX

Sabtu, 29 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXX

Kita tidak dapat memiliki hidup lepas dari Yesus Kristus -- St Ignatius dari Antiokhia

Antifon Pembuka

Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan

Doa Renungan


Terpujilah Engkau ya Tuhan, yang selalu memberikan apa yang terbaik bagi kami, sebab seluruh keberadaan kami sangat berharap di hadapan-Mu. Ampunilah kami jika Engkau mendapati kami kurang bersyukur dalam hidup ini. Amin.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (11:1-2a.11-12.25-29)

"Jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka berarti lain daripada hidup dari antara orang mati?"

Saudara-saudara, mungkinkah Allah menolak umat-Nya? sekali-kali tidak! Sebab aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya yang telah Dia pilih. Maka aku bertanya: Apakah bangsa Israel tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi karena pelanggaran mereka keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka menjadi cemburu. Jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, apalagi kesempurnaan mereka. Saudara-saudara, hendaknya kalian mengetahui rahasia ini, agar jangan menganggap dirimu pandai. Sebagian dari bangsa Israel telah menjadi tegar hati sampai segenap bangsa lain masuk. Dengan demikian akhirnya seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis, "Dari Sion akan datang Penebus. Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari Yakub. Inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." Mengenai Injil, orang-orang Israel adalah musuh Allah oleh karena kalian, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. Sebab Allah tak pernah menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan tidak akan membuang umat-Nya.
Ayat. (Mzm 94:12-13a.14-15.17-18; Ul:14a)

1. Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya Tuhan, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka.
2. Sebab Tuhan tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati.
3. Jika bukan Tuhan yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi. Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya Tuhan, menyokong aku.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (14:1.7-11)

"Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan."

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.



Renungan

Yesus mengajarkan kerendahan hati. Rendah hati itu berarti lemah lembut. Rendah hati berarti tidak menonjolkan diri. Kerendahan hati erat kaitannya dengan penyerahan diri dan ketergantungan kepada Tuhan. Yesus merupakan teladan dalam kerendahan hati. Selama hidup-Nya di dunia ini, Yesus berjalan dalam kerendahan hati di tengah dunia yang dikuasai kesombongan dan keangkuhan.

Setiap orang tanpa sadar memiliki kecenderungan untuk ingin ditinggikan. Ada yang dimuliakan karena bakat, ketrampilan atau status sosialnya. Namun, ada yang mencari-cari dengan cara meninggikan diri. Yesus mengajarkan bahwa kehormatan yang sejati akan diberikan orang lain kepada kita, bukan karena kita sombong atau meninggikan diri, tetapi justru karena kita merendahkan diri. Dengan merendahkan diri, menjadi rendah hati, seseorang tahu menempatkan diri dan lebih memuliakan Tuhan, bukan diri sendiri.


Yesus, semoga kami berani mewartakan kerendahan hati, di tengah dunia yang menawarkan kesombongan dan keangkuhan.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Harian

Jumat, 28 Oktober 2011 Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul

Jumat, 28 Oktober 2011
Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul

“Bangunlah dirimu sendiri di atas imanmu yang paling suci” (St Yudas)

Antifon Pembuka

Merekalah orang suci, yang dipilih Tuhan dalam cinta sejati. Mereka dimahkotai kemuliaan abadi, dan Gereja disinari ajaran mereka.


Doa Pagi

Terima kasih ya Yesus, karena Engkau menguduskan kami menjadi anggota keluarga Allah. Jagalah pintu hati kami agar dapat mencerminkan kasih-Mu yang sejati sehingga hati kami menjadi bait Allah Roh Kudus yang kami hidupi dalam keseharian kami. Amin.

Sakramen baptis membuat orang beriman lahir kembali. Ia dilepaskan dari dosa asal, diangkat menjadi anak Allah, dan disatukan menjadi anggota Gereja kudus. Ia masuk ke dalam bilangan persekutuan para kudus di surga. Dengan demikian, ia telah memperoleh rahmat pengudus sebagai warga keluarga Allah. Ia mampu menjadi sumber berkat Tuhan bagi orang lain.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus (2:19-22)

Saudara-saudara, kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan sewarga dengan orang kudus dan anggota keluarga Allah. Kamu dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di atas Dia tumbuhlah seluruh bangunan, yang rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus dalam Tuhan. Di atas Dia pula kamu turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 834
Ref. Nama Tuhan hendak kuwartakan, di tengah umat kumuliakan
atau Di seluruh bumi bergemalah suara mereka.
Ayat. (Mzm 19:2-3.4-5; Ul: lh.5a)
1. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
2. Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.

Ayat. Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur, ya Tuhan.

Doa menjadi daya kekuatan bagi karya pelayanan. Orang akan mampu berkarya dengan baik bila seluruh hidupnya dipenuhi Roh Tuhan. Dari dirinya akan memancarkan kuasa yang berasal dari Tuhan. Sehingga setiap kata dan perbuatannya dapat selaras. Ia menjadi pribadi yang dapat dipercaya dan diandalkan. Banyak orang akan mengikutinya dengan penuh sukacita.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:12-19)

"Yesus memilih dari antara murid-murid-Nya dua belas orang yang disebut-Nya rasul."

Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, Andreas saudara Simon, Yohanes dan Yakobus, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya, dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Yesus sungguh menunjukkan pentingnya doa sebelum melakukan hal-hal penting dalam kehidupan-Nya. Ia berdoa semalam suntuk sebelum memilih dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Selanjutnya, bersama-sama dengan orang pilihan-Nya itu Yesus melakukan sebuah pelayanan. Banyak orang datang dari pelbagai penjuru. Mereka tertarik oleh kuasa-Nya untuk menyembuhkan. Namun, Yesus tidak lupa menggunakan kesempatan tersebut untuk mengajar mereka.

Doa Malam


Berdoa, itulah yang Engkau lakukan setiap kali akan mengambil suatu keputusan penting, ya Yesus. Engkaulah andalan kami. Mampukan kami dari saat ke saat agar selalu melibatkan Engkau dalam peristiwa hidup dan kami tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Amin.


RUAH

Kedua orang rasul Yesus ini kita rayakan pestanya pada hari yang sama. St. Simon disebut “orang Zelot (setia)” karena ia amat taat kepada hukum Yahudi. Suatu ketika, Simon dipanggil oleh Yesus untuk menjadi rasul-Nya. Simon menyerahkan jiwanya serta mengerahkan tenaganya untuk mewartakan Injil. Bersama para rasul yang lain, Simon menerima karunia Roh Kudus pada hari Pentakosta. Kemudian, menurut tradisi, ia pergi ke Mesir untuk mewartakan iman. Selanjutnya, ia pergi ke Persia bersama dengan rasul St. Yudas, dan keduanya wafat sebagai martir di sana.

St. Yudas disebut juga Tadeus, artinya “si pemberani”. Yudas-lah yang mengajukan kepada Kristus pertanyaan yang terkenal pada Perjamuan Malam Terakhir. St. Yudas bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”

St. Yudas dikenal sebagai santo pelindung “perkara yang sulit atau hampir tidak ada harapannya.” Umat beriman mohon bantuan doanya ketika tampaknya hampir tidak ada harapan sama sekali atas persoalan mereka. Seringkali Tuhan menjawab doa-doa mereka oleh karena bantuan doa rasul yang terkasih ini.

St. Simon dikenal sebagai “orang Zelot” dan St. Yudas Tadeus disebut “si Pemberani”. Marilah kita berdoa mohon semangat perutusan dan cinta yang menyala-nyala seperti mereka di dalam hati kita.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

Kamis, 27 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXX

Kamis, 27 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXX

“Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah” (Rm 8:38-39)


Antifon Pembuka

Makhluk mana pun takkan dapat memisahkan kita dari cinta kasih Allah, yang dinyatakan dalam Kristus Yesus Tuhan kita.

Doa Renungan


Ya Tuhan, hambatan dan tantangan selalu datang silih berganti dalam hidup kami. Tumbuhkanlah dalam hati kami harapan-harapan baru dan perkenankanlah kami tetap setia kepada jalan-Mu sehingga kami tidak mengalami kebinasaan dalam hidup ini. Amin.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (8:31b-39)

"Tiada makhluk mana pun yang dapat memisahkan kita dari cinta kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus."

Saudara-saudara, jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Allah bahkan tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya demi kita sekalian. Bagaimana mungkin Dia tidak menganugerahkan segalanya bersama Anak-Nya itu kepada kita? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka! Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus yang telah wafat? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit? Yang juga duduk di sisi kanan Allah? Yang malahan menjadi pembela kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan? Penganiayaan? Kelaparan? Ketelanjangan? Bahaya? Atau pedang? Seperti ada tertulis, 'Karena Engkaulah kami berada dalam bahaya maut sepanjang hari dan dianggap sebagai domba sembelihan.' Tetapi dalam segalanya itu kita akan menang oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, baik maut maupun hidup, malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa baik yang di atas maupun yang di bawah, atau suatu makhluk lain mana pun, takkan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, ya Tuhan.

Ayat. (Mzm 109:21-22.26-27.30-31)

1. Engkau, ya Allah, Tuhanku, bertindaklah kepadaku demi kebesaran nama-Mu, lepaskanlah aku karena kasih setia-Mu yang murah! Sebab sengsara dan miskinlah aku, dan hatiku terluka dalam diriku.
2. Tolonglah aku, ya Tuhan, Allahku, selamatkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya mereka tahu bahwa tangan-Mulah ini, bahwa Engkaulah, ya Tuhan, yang telah melakukannya.
3. Aku hendak bersyukur nyaring kepada Tuhan dengan mulutku, aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. Sebab Ia berdiri di sebelah kanan orang miskin untuk menyelamatkan dia dari orang-orang yang menghukumnya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:31-35)

"Tidak semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem."

Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Yesus masih dalam perjalanan ke Yerusalem sebagai tujuan akhir perjalanan-Nya. Yerusalem adalah tempat para nabi dibunuh. Yesus yang mengerti diri-Nya juga sebagai nabi melihat nasib-Nya akan berakhir di Yerusalem. Ketika para rasul menghalangi dia untuk pergi ke Yerusalem karena mereka tahu bahwa dia pasti akan dibunuh di sana, Yesus dengan tegas menghardik mereka. Dia tidak takut sedikit pun akan apa yang menjadi risiko pilihan hidup-Nya. Dia tidak menunjukkan sikap kompromi kepada orang-orang yang menjadi lawan-Nya. Dia secara terbuka memanggil Herodes sebagai serigala.

Menjadi nabi dan menyerukan suara kenabian memang menanggung risiko berat. Kita menjadi musuh banyak orang. Oleh karena itu, begitu sering kita memperhalus inti pewartaan kita dengan lebih diplomatis dan malah berkompromi dengan orang-orang yang menentang kita dengan mengorbankan kebenaran. Begitu sering kita tidak mengatakan kebenaran hanya karena mau menyenangkan orang lain. Kita begitu takut untuk tidak disenangi orang. Paulus—dalam suratnya kepada umat di Tesalonika—mengingatkan kita supaya ”berbicara” bukan untuk menyenangkan hati manusia, tetapi menyenangkan hati Allah (bdk. 1Tes. 2:4).

Ya Tuhan, berilah aku kekuatan dan keberanian untuk mewartakan hanya kebenaran. Apa pun yang terjadi, kuserahkan segalanya dalam perlindungan-Mu. Amin.


Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian

Rabu, 26 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXX

Rabu, 26 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXX

“Selama manusia berziarah dalam daging, ia paling sedikit tidak dapat hidup tanpa dosa ringan” (St. Agustinus)


Antifon Pembuka

Allah yang menyelami hati sanubari manusia mengetahui maksud Roh Kudus. Sebab Roh Kudus berdoa untuk umat Allah, sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Doa Pagi


Syukur dan terima kasih ya Tuhan, atas keberadaan kami. Engkau sungguh menyelami lubuk hati dan memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi kami. Buatlah kami untuk semakin mampu bekerja sama dengan rahmat-Mu yang tersedia bagi kami. Amin.

Roh Allah bersemayam di dalam hati nurani setiap manusia. Dalam setiap tindakannya, manusia selalu diarahkan oleh suara hatinya. Suara hatinya selalu membisikkan untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar. Bahkan, Roh itu membantu bila manusia tidak mampu berdoa. Tidak heran bila Allah mengetahui kebutuhan tiap manusia sebelum ia mengatakannya.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:26-30)

"Bagi mereka yang mengasihi Tuhan, segala sesuatu mendatangkan kebaikan."

Saudara-saudara, Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelami hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih Allah sejak semula, mereka itu juga ditentukan sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan Allah dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Aku percaya akan kasih setia-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 13:4-5.6)

1. Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya Tuhan, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, supaya musuhku jangan berkata, “Aku telah mengalahkan dia”, dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.
2. Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Allah telah memanggil kita untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.

Allah mengundang setiap orang kepada keselamatan-Nya. Namun, Allah juga tidak mau memaksakan kehendak-Nya. Tiap orang bebas untuk menanggapi atau menolak undangan Allah ini. Konsekuensinya, orang yang menanggapi undangan Allah akan selamat, sedangkan yang menolak akan menderita. Keselamatan Allah memerlukan kerja sama dari pihak manusia.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:22-30)

"Mereka datang dari timur dan barat, dan akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah."

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar. Maka bertanyalah orang kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berusahalah masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu, ‘banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan menutup pintu, kalian akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakan pintu bagi kami’. Tetapi dia akan berkata, ‘Aku tidak tahu dari mana kalian datang’. Maka kalian akan berkata, ‘Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu, dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami’. Tetapi ia akan berkata, ‘Aku tidak tahu dari mana kalian datang. Enyahlah dari hadapanku, hai kalian semua yang melakukan kejahatan!’ Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kalian melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi ada di dalam Kerajaan Allah, tetapi kalian sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari timur dan barat, dari utara dan selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Ingatlah, ada orang terakhir yang akan menjadi terdahulu, dan orang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Yang terpenting itu bukan soal lamanya menjadi Kristen, tetapi mutu kehidupan. Orang harus berjuang melalui pintu yang sempit untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka yang menyangka dirinya adalah orang-orang pertama akan menemukan dirinya ditempatkan pada posisi terakhir. Sekali lagi, di sini ditekankan kembali soal pentingnya pertobatan dan hidup sesuai dengan Injil keselamatan Allah. Keselamatan dan hukuman tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Doa Malam


Tuhan Yesus, Engkau bersabda, “Berusahalah masuk melalui pintu yang sempit.” Berkatilah usaha kami untuk tidak mencari kesenangan sendiri tetapi mencari kehendak-Mu dalam hidup kami, itulah jalan sempit menuju kerajaan-Mu. Amin.


RUAH

Selasa, 25 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXX

Selasa, 25 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXX

"Solidaritas adalah keutamaan Kristen yang unggul" (Katekismus Gereja Katolik, 1948)

Antifon Pembuka

Orang yang melangkah menangis sambil menaburkan benih, akan pulang dengan sorak-sorai membawa berkas-berkas panenannya.

Doa Pagi

Bapa, setiap hari bahkan setiap saat Engkau memberikan pengajaran kepada kami. Teguhkanlah hati kami untuk menerima dan mengamini agar segala peristiwa hari ini agar hidup kami menjadi lebih bermakna. Tuntunlah langkah kami dalam perkataan, pikiran, dan perbuatan kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Orang beriman hidup dalam pengharapan. Ia selalu optimis menatap masa depan yang cerah. Rasa pesimis dan ragu-ragu sebagai wujud iman yang lemah telah ditinggalkannya. Iman yang tangguh menjadikan dirinya mampu menghayati hidupnya sebagai anugerah Tuhan yang harus dipertanggungjawabkannya. Karena iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:18-25)

"Seluruh makhluk dengan rindu menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan."

Saudara-saudara, aku yakin penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya; tetapi penaklukan ini dalam pengharapan, sebab makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan, dan masuk dalam kemerdekaan mulia anak-anak Allah. Kita tahu, sampai sekarang ini seluruh makhluk mengeluh dan merasa sakit bersalin; dan bukan hanya makhluk-makhluk itu saja! Kita yang telah menerima Roh Kudus sebagai kurnia sulung dari Allah, kita pun mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan lagi pengharapan. Sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang sudah dilihatnya? Tetapi kalau kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, maka kita akan menantikannya dengan tekun.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; Ul: lh. 3)

1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa-ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
4. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.

Ayat. Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Orang mudah mengabaikan sesuatu yang kecil dan sedikit. Namun, ALlah memakai yang kecil dan sedikit untuk menunjukkan karya keselamatan-Nya. Biji sesawi dan ragi itu kecil dan sedikit namun sangat berarti dalam hidup manusia. Semua orang beriman hendaknya menjadi biji sesawi dan ragi dalam hidup bersama. Ia menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:18-21)

"Biji itu tumbuh dan menjadi pohon."

Ketika mengajar di salah satu rumah ibadat, Yesus bersabda, "Kerajaan Allah itu seumpama apa? Dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya." Dan Yesus berkata lagi, "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Perumpamaan hari ini melukiskan datangnya Kerajaan Allah, datangnya pemerintahan Allah yang menyelamatkan dalam diri Yesus. Memang pelan tapi pasti. Karya Allah ini akan digenapi secara luar biasa pada akhirnya, walaupun pada awalnya kelihatan kecil dan sederhana.

Doa Malam

Yesus, dampingilah kami dalam melaksanakan hal-hal kecil agar kesetiaan kami terus bertumbuh dalam hal-hal yang kecil itu. Semoga hidup kami menjadi saluran rahmat bagi diri sendiri dan sesama, bagaikan ragi yang diaduk-aduk dalam tepung sehingga seluruhnya beragi. Amin.

RUAH

Senin, 24 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXX

Senin, 24 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXX

“Tanpa Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa” (St. Agustinus)

Antifon Pembuka

Roh Allah memberi kesaksian kepada roh kita, bahwa kita ini anak-anak Allah. Kalau anak, berarti juga ahli waris, yakni ahli waris Allah bersama Kristus.

Doa Renungan


Pimpinlah aku ya Allah agar hari ini aku hidup sebagai anak-anak-Mu yang berbuat baik dan bertutur kata yang baik. Dengan demikian hidupku menghasilkan buah-buah yang baik dan dapat dinikmati oleh siapa saja yang aku jumpai hari ini. Amin.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:12-17)

"Kalian telah menerima Roh yang menjadikan kalian anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, "Abba, ya Bapa".

Saudara-saudara, kita ini orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab jika kalian hidup menurut daging, kalian akan mati. Tetapi jika oleh Roh kalian mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, maka kalian akan hidup. Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kalian menerima bukan roh perbudakan yang membuat kalian menjadi takut lagi, melainkan Roh yang menjadikan kalian anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Abba, ya Bapa’. Roh itu memberi kesaksian bersama-sama roh kita bahwa kita ini anak Allah. Dan kalau kita ini anak, berarti juga ahliwaris, yakni ahliwaris Allah, sama seperti Kristus. Artinya jika kita menderita bersama dengan Dia, kita juga akan dipermuliakan bersama dengan Dia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan.
Ayat. (Mzm 68:2.4.6-7ab.20-21)

1. Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.
2. Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.
3. Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:10-17)

"Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari sabat?"

Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata, “Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh.” Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum? Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis. Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?” Waktu Yesus berbicara demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Penyembuhan perempuan yang sudah delapan belas tahun menderita pada hari Sabat menjadi isu besar dalam pertikaian Yesus dengan orang Farisi. Bagi orang Farisi, hari Sabat telah ditetapkan sebagai hari untuk istirahat. Orang tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apa pun. Sikap legalistis ini dikecam oleh Yesus. Manusia hidup bukan untuk peraturan, tetapi peraturan untuk manusia. Kita pun kadang terjebak dalam sikap dan pola hidup yang sama. Kita sibuk dengan peraturan-peraturan yang tidak substantif dan memaksakan itu kepada orang lain. Dengan sikap legalistis ini, kita justru menghambat serta menghalangi karya kasih dan belas kasihan Allah.

Dalam pertikaian itu, Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa karya belas kasihan Allah tidak bisa dibatasi oleh peraturan-peraturan agama. Allah tidak pernah beristirahat melakukan pekerjaan belas kasihan dan penyembuhan kepada semua orang. Hal ini menunjukkan kasih dan perhatian Allah terhadap umat kesayangan-Nya. Siapakah manusia yang bisa menghalangi kasih Allah yang diberikan kepada orang yang sangat membutuhkannya setiap saat? Hendaknya kasih di atas segala-galanya dalam hidup kita.

Tuhan Allahku, Engkau tidak pernah lelah menunjukkan kasih setia dan perhatian-Mu kepadaku. Berikanlah aku kesadaran akan luas dan dalamnya kasih-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian

Bacaan Harian 24 - 30 Oktober 2011


Senin, 24 Oktober 2011: Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 8:12-17; Mzm. 68:2,6-7ab,20-21; Luk. 13:10-17

Belas kasih merupakan sikap hati yang gelisah melihat segala sesuatu tidak teratur. Ia ingin cepat membereskan hal itu sehingga tercapailah keteraturan hidup bersama. Yesus tergerak oleh belas kasihan melihat orang sakit. Rasa belas kasih mengalahkan peraturan hari Sabat. Keselamatan jiwa lebih mendesak daripada hanya menaati hukum dan peraturan.

Selasa, 25 Oktober 2011: Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 8:18-25; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Luk. 13:18-21

Orang beriman diberi kemampuan untuk melihat dalam gelap. Melihat kemuliaan di balik penderitaan dan kesengsaraan. Oleh karena itu, orang beriman bisa tetap optimis hidupnya dalam situasi dan kondisi apa pun.

Rabu, 26 Oktober 2011: Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 8:26-30; Mzm. 13:4-5,6; Luk. 13:22-30.

Jalan menuju Kerajaan Allah itu sesak; sementara begitu banyak jalan lebar dan pintas yang tampak menawarkan yang indah-indah. Semua itu memang dihadirkan di hadapan kita untuk menguji kesetiaan dan ketekunan kita. Mampukah kita menghadapi tantangan itu unuk tetap berjalan menuju Kerajaan Allah?

Kamis, 27 Oktober 2011: Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 8:31b-39; Mzm. 109:21-22,26-27,30-31; Luk. 13:31-35

Yesus mempunyai tugas perutusan dan rencana yang harus dilaksanakan sampai tuntas. Hambatan dan tantangan apa pun tidak boleh menggagalkan rencana tersebut. Maka, sikap Yesus sangat jelas: entah apa pun akibatnya, kehendak Bapa harus terjadi.

Jumat, 28 Oktober 2011: Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul (M)
Ef 2:19-22; Mzm. 19:2-3.4-5; Luk. 6:12-19

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin berusaha mengikuti ajaran-ajaran-Nya. Tetapi sanggupkah kita juga menjadi ‘rasul’ yang siap diutus mewartakan ajaran-Nya itu di manapun kita berada. Yesus bukan saja mau menyelamatkan diri kita sendiri-sendiri, tetapi Ia juga mau menyelamatkan semua yang lain. Untuk itu Ia membutuhkan kita sebagai pewarta kerajaan-Nya, menjadi penjala manusia.

Sabtu, 29 Oktober 2011: Hari Biasa Pekan XXX (H)
Rm. 11:1-2a,11-12,25-29; Mzm. 93:12-13a,14-15.17-18; Luk. 14:1,7-11

Seperti umumnya manusia, kita cenderung bertindak mencari pujian, mengutamakan diri, dan sombong akan kemampuan diri. Yesus hari ini mengajarkan untuk rendah hati. Rendah hati artinya rela dan siap sedia mengutamakan kepentingan orang lain, mendahulukan orang lain dan tidak selalu berpusat pada diri sendiri. Dengan sikap itulah kita ditinggikan oleh-Nya.

Minggu, 30 Oktober 2011: Hari Minggu Biasa XXXI (H)
Mal. 1:14b - 2:2b,8-10; Mzm. 131:1,2,3; 1Tes.2:7b-9,13; Mat. 23:1-12

Renungkan hal sederhana ini: Apakah tingkah dan tindakanku sudah sejalan dengan imanku? Kalau jawabannya ’ya’, berbahagialah karena Kerajaan Surga dekat denganku. Tetapi kalau ’tidak’, masih ada ’biaya yang harus aku keluarkan’ untuk sampai pada Kerajaan itu. Renungkanlah, berapa dan apa biayanya!

Minggu, 23 Oktober 2011 Hari Minggu Biasa XXX - Hari Minggu Evangelisasi

Minggu, 23 Oktober 2011
Hari Minggu Biasa XXX - Hari Minggu Evangelisasi

"Lebih baik tinggal diam namun berkarya nyata daripada lantang berbicara tetapi hampa" (St Ignatius dari Antiokhia)


Antifon Pembuka (Mzm 104:3-4)

Bergembiralah kamu semua yang mencari Tuhan! Selamilah Tuhan dan kuasa-Nya, carilah selalu wajah-Nya!

Pengantar


Bulan Oktober dengan perayaan Hari Minggu Evangelisasi, memberi kesempatan kepada keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, tarekat-tarekat hidup bakti, serikat-serikat gerejani dan kepada seluruh umat untuk membarui komitmen mereka terhadap pewartaan Injil dan kegiatan pastoral dengan semangat misioner yang lebih besar.

Peristiwa tahunan ini mengajak kita untuk menghayati liturgi, katekese, karya sosio-karitatif-kultural secara lebih intensif yang semuanya merupakan ajakan Tuhan Yesus agar kita berhimpun pada meja Sabda-Nya dan Ekaristi, sebab Ia menghendaki kita merasakan kehadiran-Nya, bimbingan-Nya, supaya kita semakin bersatu dengan Dia sebagai Guru dan Tuhan. (Pesan Paus Benediktus XVI pada hari Minggu Evangelisasi 2010)

Doa Renungan


Allah Bapa yang kekal dan kuasa, semoga iman kami semakin mendalam, harapan kami semakin mantap dan cinta kasih kami semakin meluas. Semoga kami semakin menyukai perintah-perintah-Mu, sehingga layak menerima janji-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Keluaran (22:21-27)

"Jika kamu menindas seorang janda atau anak yatim, maka murka-Ku akan bangkit, dan Aku akan membunuh kamu."


Beginilah firman Tuhan, "Janganlah orang asing kautindas atau kautekan, sebab kamu pun pernah menjadi orang asing di tanah Mesir. Seorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau sampai menindas mereka ini, pasti Aku akan mendengarkan seruan mereka. Jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit, dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga istrimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, yakni orang yang miskin di antaramu, janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih utang terhadap dia; dan janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu sajalah penutup tubuhnya, hanya itulah pembalut kulitnya; jika tidak, pakai apakah ia pergi tidur? Maka, apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya sebab Aku ini pengasih."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = bes, 4/4, PS 839
Ref. Aku mengasihi Tuhan, Dia sumber kekuatan. Hidupku 'kan menjadi aman dalam lindungan-Nya
Ayat. (Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2)

1. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku; ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahanan dan penyelamatku.
2. Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah Tuhan, seruku; maka aku pun selamat dari para musuhku.
3. Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku, Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (1Tes 1:5c-10)

"Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah dan menantikan kedatangan Anak-Nya."

Saudara-saudara, kamu tahu bagaimana kami bekerja di antara kamu demi kepentinganmu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman Tuhan dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya. Di mana-mana telah tersiar kabar tentng imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah berbicara lagi tentang hal itu. Sebab mereka sendiri bercerita tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah yang hidup dan benar, serta untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 14:23)
Jika seorang mengasihi Aku, ia akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (22:34-40)

"Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."


Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka. Seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, "Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?" jawab Yesus kepadanya, "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Rekan-rekan yang baik,

Minggu Biasa XXX tahun A ini dirayakan dengan bacaan Injil dari Mat 22:34-40. Di situ Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang hendak menjajaki pengetahuan keagamaannya. Ditanyakan kepadanya, manakah perintah yang paling utama dalam Taurat. Jawabnya, perintah yang terutama dan yang pertama ialah (Ul 6:5) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." Dan perintah yang kedua ialah (Im 19:18) "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Ditambahkannya, pada kedua perintah itu bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Kitab para nabi menurut orang Yahudi meliputi kitab-kitab sejarah dari Hak sampai Raj dan nabi-nabi Yes, Yer, Yeh dan ke-12 nabi lain; Dan tidak termasuk di sini).

TENTANG TAURAT

Pertanyaan kepada Yesus berbunyi "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" membuat orang berpikir, dari sekian banyak perintah, manakah yang paling pokok. Namun, dalam rumusan aslinya, pertanyaan tadi sebenarnya berbunyi: "Guru, perintah macam apa bisa disebut besar di dalam Taurat?" Jadi yang dipertanyakan bukanlah yang mana, melainkan macamnya, jenisnya, kategorinya... Pertanyaan ini mengarah pada ciri-ciri yang membuat perintah tertentu dapat dikatakan perintah besar. Memang diandaikan perintah-perintah dalam Taurat tidak sama bobotnya. Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus memiliki kemampuan menimbang-nimbang Taurat dan bukan hanya asal kutip sana sini.

Memang dalam kesadaran orang Yahudi yang terpelajar, ada macam-macam bobot. Dan tidak bisa dipukul rata. Yesus sendiri di lain kesempatan juga menunjukkan kepekaan ini. Misalnya hukum Sabat (Mat 12:1-14). Di situ kewajiban menguduskan Sabat dibawahkan kepada kewajiban berkurban dan melaksanakan belas kasihan. Mana prinsip memahami perintah yang satu lebih pokok dari yang lain? Soal ini dijawab Yesus dengan mengutarakan dua perintah yang disebutkannya sebagai tempat bergantung semua hukum Taurat dan kitab para nabi.

Perintah mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh-penuhnya yang dikutipnya dari Ul 6:5 itu termasuk ayat-ayat suci yang wajib didoakan dua kali sehari (pagi dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh. Perintah Im 19:8 mengenai mengasihi sesama itu disertakannya sebagai perintah utama yang kedua.

ISI PERINTAH UTAMA DAN MAKNANYA

Semalam saya mengajak tiga sekawan Matt, Luc, dan Mark ngobrol ke sana ke mari tentang perbincangan Yesus dengan pemuka-pemuka Yahudi seperti disampaikan Matt. Berikut ini beberapa potong pembicaraan kami di sela-sela seruputan wedang ndongo dan kue-kue Mon Ami yang dibekalkan pemiliknya ketika mau pulang ke Roma.

GUS: Kalian ini menyampaikan peristiwa yang sama tapi menaruh dalam konteks yang berbeda-beda. Bikin bingung pembaca. Matt, lu bilang kayak di atas tadi. Tapi, ekseget tahu kau memakai bahan dari Mark kan?

MATT [mulai tak tenang, rada segan dengan kaum penafsir]: Versi Ul 6:5 yang dikutip Mark itu memuat empat unsur "segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatanmu". Sebenarnya "segenap akalbudi" yang dipakai Mark itu kan untuk menjelaskan arti "segenap hati". Bagi orang Yahudi seperti kami, hati itu tempat bernalar, bukan tempat perasaan. "Segenap kekuatan" yang ada dalam teks Perjanjian Lama tidak dikutip kembali oleh Mark dan juga tak kutampilkan kembali karena sudah jelas bagi kami. [MARK manggut-manggut] Tapi Luc, ah dia tulis sesuai teks Perjanjian Lama "dengan segenap hati, jiwa, kekuatan", tetapi ia juga masukkan tambahan Mark yang menyebut "dan segenap dan akal budi."

LUC: Kalau pakai sumber Perjanjian Lama mestinya cermat, gitu kan?

MATT: Kau tentang Perjanjian Lama tahumu apa sih! Dalam versimu [Luk 10:25-28] kedua perintah itu kautaruh dalam mulut ahli Taurat yang menanyai Yesus, bukan dalam kata-kata Yesus seperti kami laporkan. Lu aje yang cermatan dikit dulu dong!

MARK [buru-buru menyela sebelum Luc sempat menukas Matt]: Sudah, sudah, yang itu asalnya juga dari tulisanku. Memang Yesus mengutip kedua perintah tadi [Mrk 12:29-31]. Tapi seperti kuceritakan, ahli Taurat tadi kemudian mengulang yang dikatakan Yesus [Mrk 12:32-33]. Ini yang diolah Luc, ya kan? Jadi kalian berdua benar. Jangan berantem kayak anak kecil, malu ah.

LUC: Peristiwa tanya jawab itu kupakai untuk mengantar kisah orang Samaria yang baik hati yang menjelaskan bagaimana orang Samaria yang biasanya dianggap tak masuk hitungan sekalipun toh bisa betul-betul menjadi sesama bagi orang Yahudi yang kena musibah di perjalanan.

MATT: Bagiku, tanya jawab itu menunjukkan bahwa Yesus tak kalah piawai dengan ahli Taurat dalam menafsirkan Perjanjian Lama.

GUS [mulai tertarik]: Gimana?

MATT: Begini, seperti ditulis Mark, ada tambahan dari Yesus bahwa tak ada perintah yang lebih utama dari keduanya tadi. Nah tambahan ini kupertajam dengan mengungkapkannya kembali demikian: "Pada kedua perintah inilah bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

GUS: Jadi, Matt, kau bermaksud menonjolkan pandangan Yesus bahwa kedua perintah memang menjadi dasar dan menjiwai semua hukum Taurat dan kitab para nabi.

MATT [tersenyum puas, dapat angin]: Benar. Bukan maksud Yesus mengabaikan hukum-hukum lain. Justru ia mau menunjukkan makna kumpulan hukum itu. Ini kurang ditekankan Mark, apalagi Luc.

LUC: Tapi Matt , you kan tidak memberi contoh bagaimana mengasihi Tuhan sepenuh-penuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Orang sekarang lebih mudah menangkap bila diberi cerita. Pendekatan naratif. Itulah sebabnya kutampilkan perumpamaan orang Samaria itu.

MATT: Oke, deh. Cerita orang Samaria yang engkau tampilkan itu menjelaskan perintah kedua. Tapi perintah pertama?

LUC: Belum ngerti? Seluruh kisah Yesus menuju tujuan perjalanannya di Yerusalem (Luk 9:51-19:28) itu penjelasan naratif tentang mengasihi Tuhan dengan sepenuh-penuhnya. Kan nanti pada akhirnya di kayu salib Yesus menyerahkan nyawanya kepada Bapanya yang dikasihinya sepenuh-penuhnya - itu caraku menjelaskan.

MARK: Sudahlah, kita tak perlu menjelaskan sendiri tulisan kita, serahkan saja kepada ekseget.

GUS: Terima kasih, kukira kalian sendiri mau jadi penafsir. Gini, mengenai "kasihilah sesama seperti dirimu sendiri" ada sesuatu yang masih perlu diulas. Kan kalian maksudkan, kasihilah sesama yang punya pengalaman sama seperti dirimu sendiri, begitu kan. Jadi diingatkan bahwa kita ini pada dasarnya mengalami pahit getirnya kehidupan seperti orang lain. Maka ingat nanti kalau sudah lebih beruntung, gitu kan, jangan lupa orang yang sedang ada dalam kesusahan, ya kan? Jadi tafsirnya bukan mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri kita sendiri.

MATT [melirik ke Mark yang tampak setuju]: Benar! Itu juga yang kumaksud dalam Mat 19:19 dan 22:39. Paul juga gitu, lihat Rom 13:9, Gal 5:14, juga Opa Jim dalam Yak 2:8.

LUC: Persis. Kalau mau bilang mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, mestinya diulang kata "mengasihi" itu. Aku ingat kalimat seperti itu dalam tulisan Oom Hans (Yoh 15:12), "Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti aku (=Yesus) mengasihi kamu."

GUS [lega mereka bertiga saling setuju]: Kalau bisa kurumuskan kembali, mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap "hati" /"akalbudi") yang keluar dari keyakinan (= segenap "jiwa") dan tekad utuh (= segenap "kekuatan"). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tapi dengan pengertian. Lalu mengasihi sesama itu kan karena sesama itu seperti kita-kita ini juga dalam suka duka kehidupan ini. Kalian tak keberatan dengan parafrase ini kan?

BERKEAGAMAAN?


Pembicaraan malam itu kemudian semakin berpusat pada kemampuan Yesus memperlihatkan apa itu inti ajaran Taurat dan para nabi, dari hukum-hukum dan kisah-kisah yang mengajarkan hidup sebagai orang percaya. Saya lontarkan pertanyaan kepada ketiga rekan ini bagaimana penjelasannya kok Yesus bisa melihat sedalam itu dan menyampaikan pemahamannya kepada orang banyak. Jawab mereka satu dan sama: Yesus memenuhi kedua perintah utama tadi. Boleh dikatakan, seluruh hidupnya diserahkan untuk mengasihi Yang Mahakuasa dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan dan tekad yang matang. Dan semuanya ini terungkap dalam kesediaannya ikut merasakan yang dialami orang lain. Ia percaya orang lain itu juga seperti dia sendiri: dikasihi Allah dan oleh karenanya dapat mengasihi-Nya. Inilah dasar dan inti hidup beragama.

Pembicaraan dengan ketiga rekan tadi semakin memperjelas betapa inti hidup beragama itu sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama, bukan aturan-aturan agama belaka yang malah bisa menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto