Kobus: Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 01 Juli 2012 Hari Minggu Biasa XIII (B)

Minggu, 01 Juli 2012
Hari Minggu Biasa XIII (B)

Allah Sumber Kehidupan Kekal

"Engkau tidak dapat berdoa di rumah seperti di dalam gereja, di mana sejumlah besar orang hadir dan di mana orang berseru kepada Allah seperti dari satu hati" ---- St Yohanes Krisostomus


Antifon Pembuka (Mzm 47:2)


Segala bangsa bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai.

Doa


Allah Bapa yang penuh kasih sayang, Engkau selalu menghendaki yang baik bagi manusia, bukan yang jahat. Engkau tak hendak menyerahkan kami kepada penderitaan dan maut, tetapi memperuntukkan kami bagi kebahagiaan. Kami mohon, berilah kami napas kehidupan baru, bila ditimpa oleh kesesakan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (1:13-15; 2:23-24)


"Karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia."


Allah tidak menciptakan maut, dan Ia pun tak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa. Sebaliknya Ia menciptakan segala sesuatu supaya ada; dan supaya makhluk-makhluk jagat menemukan keselamatan. Racun yang membinasakan tidak ditemukan di antara mereka, dan dunia orang mati tidak merajai bumi. Maka kesucian mesti baka. Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan menjadikannya gambar hakikat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 838

Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.
Ayat. (Mzm 30:2+4.5-6.11-12a+13b; Ul: 2a)

1. Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak membarkan musuh-musuhku, bersukacita atas diriku. Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan daku, di antara mereka yang turun ke liang kubur.
2. Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi oleh-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab hanya sesaat Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
3. Dengarlah, Tuhan, dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku! Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (8:7.9.13-15)


"Hendaklah kelebihanmu mencukupkan kekurangan saudara-saudara yang lain."

Saudara-saudara, hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih, sebagaimana kamu kaya dalam segala sesuatu; dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, yakni: Sekalipun kaya, Ia telah menjadi miskin karena kamu, supaya karena kemiskinan-Nya, kamu menjadi kaya. Sebab kamu dibebani bukan supaya orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihanmu mencukupkan kekurangan orang-orang kudus, agar kelebihan mereka kelak mencukupkan kekuranganmu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963

Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (5:21-43)


"Hai anak, Aku berkata kepadamu: bangunlah."

Sekali peristiwa, setelah Yesus menyeberang dengan perahu, datanglah orang banyak berbondong-bondong, lalu mengerumuni Dia. Ketika itu Yesus masih berada di tepi danau, Maka datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah Yairus di depan kaki Yesus. Dengan sangat ia memohon kepada-Nya, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Ketika Yesus masih berbicara, datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu, dan berkata, “Anakmu sudah mati! Apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka, dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Dan tibalah mereka di rumah kepala ibadat, dan di sana Yesus melihat orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk, Yesus berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Yesus. Maka Yesus menyuruh semua orang itu keluar. Lalu Ia membawa ayah dan ibu anak itu, dan mereka yang bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam kamar anak itu. Lalu Yesus memegang tangan anak itu, seraya berkata, “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Yesus berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu. Lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Yoh 17:20-21)

Ya Bapa, Aku berdoa bagi mereka agar mereka bersatu

Renungan


Saudara-saudara yang terkasih, pada renungan kali ini saya tertarik untuk merenungkan tema: Allah sumber kehidupan Kekal. Bicara tentang kehidupan kekal, ada beberapa pertanyaan yang bisa direnungkan. Apa yang dimaksud dengan kehidupan kekal? Apakah kita sudah memiliki kehidupan kekal itu? Berkenaan pertanyaan pertama, Yesus sendiri menyampaikan dalam doa-Nya: “inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, sebagai satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. (Yoh 17:3).

Bila hidup kekal berarti mengenal Allah, maka pengenalan akan Allah mengandaikan adanya sebuah hubungan terus menerus sampai pada sebuah kualitas pengenalan yang sesungguhnya. Karena nyatanya, pengenalan bukanlah pengetahuan semata. Orang bisa tahu banyak tentang Allah, namun belum tentu mengenal Allah sebaik dan seperti pengetahuannya. Dari definisi singkat ini kiranya kita bisa menjawab pertanyaan kedua, apakah kita memiliki hidup yang kekal itu. Jawabannya kembali kepada kita masing-masing. Apakah kita sudah mengenal Allah sebagai satu satunya Allah yang benar? Apakah kita yakin bahwa Yesus sungguh diutus Bapa untuk kita? Pertanyaan ini tidak untuk dijawab seketika, tapi biarlah seluruh proses kehidupan kita yang menjawabnya.

Kembali pada tema di atas “Allah sumber kehdiupan kekal”, bacaan-bacaan Kitab Suci pada Minggu Biasa ke 13, juga berbicara tentang hidup kekal. Dalam bacaan Pertama dari Kitab Kebijaksanaan dikatakan: "memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap. Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya supaya ada, dan supaya makhluk-makhluk jagad menyelamatkan. (Keb. 1:13-14). Dari situ, Allah kita kenal sebagai sosok yang tidak menginginkan kebinasaan manusia. Sejak awal mula Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej 1:27). Dengan begitu Allah ingin kita menjadi ahli waris kerajaanNya. Namun, keinginan Allah yang begitu mulia itu apakah terwujud dalam kehidupan manusia? Benarkah manusia akhirnya mampu memancarkan dirinya sebagai gambar Allah? bernakah manusia lalu tidak mengalami kebinasaan, tidak mengalami maut? Bicara tentang Allah sebagai sumber kehidupan kekal, rasanya mesti bertitik tolak pada pengalaman nyata manusia, bahwa kebinasaan itu terjadi. Maut dan penderitaan sungguh tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Salahkah Allah? Tidak mampukah Allah? persoalannya bukan pada pertanyaan tersebut, melainkan pada pribadi manusia. Meksi Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya, Allah bukanlah diktator dan manusia bukanlah robot yang disetel sejak awal kehidupannya. Lalu diarahkan masa depannya nyaris “lurus tak berbelok”. Allah memberikan kebebasan pada makhluknya untuk menentukan dan membentuk dirinya. Pengalaman manusia pertama yang salah menggunakan kebebasan dan menjadikan dirinya tidak taat menyebabkan dia jatuh dalam dosa. Dosa keserakahan, dosa tidak pernah puas dengan apa yang sudah dikaruniakan Allah dan dosa ingin menjadi “tandingan” Sang Pencipta.

Pengalaman itu tentu tidak membuat Allah kehilangan akal. Allah terus mendekati manusia. Allah terus merangkul kita supaya kita kembali kepada Dia sumber kehidupan kekal dan bukan sumber kebinasaan dan kematian. Ia mengutus Putra-Nya yang tunggal, supaya kita semakin dekat dan mengenal Allah. Mengenal Yesus sebagai utusan Bapa adalah bagian dari hidup kekal itu. Maka kita harusnya semakin diteguhkan mana kala menyaksikan pengalaman iman Yairus, kepala rumah ibadat yang tersungkur dihadapan Yesus dan berkata: “anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” (Mrk 5:23). Dan jawaban Yesus adalah; “jangan takut, percaya saja.” (Mrk 5:36). Yesus hadir sebagai sumber kehidupan kekal dimana ada keberanian dan kepercayaan. Berani untuk menunjukkan iman. Peristiwa Yesus mebangkitkan anak perempuan Yairus dan menyembuhkan perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan (Mrk 5:16), menjadi tanda nyata bahwa sumberk kehidupan kekal itu ada.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sering sekali kita mengalami kematian-kematian yang membuat kita membutuhkan penyembuhan dan kehidupan kekal. Matilah rasa kepekaan kita mana kala sudah tidak mau peduli pada keadaan orang lain. Matilah kerendahan hati kita mana kala kesombongan menguasai dan menganggap diri yang paling hebat. Matilah kemampuan mengampuni kita manakala, manakala kita merasa yang paling benar dan tidak ada tempat dalam hati kita untuk kesalahan dan kelemahan orang lain. Namun, orang bijak mengatakan melalui pengalaman-pengalaman, entah itu yang menyenangkan atau tidak, terlebih melalui pengalaman yang sangat sulit, bahkan sesulit akal sehat menerimanyapun, kita semua sedang dibentuk. Menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk semakin hari semakin mengenal Allah. Kita diolah menjadi orang-orang memiliki kehidupan kekal.

Bila itu terjadi maka benarlah yang dikatakan oleh St. Paulus kepada jemaat di Korintus, bahwa kita kaya dalam segala sesuatu-dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam pelayanan kasih. (bdk 2 Kor 8:7). Itulah buah-buah kehidupan kekal. Maka mari kita kembali pada pertanyaan di atas: bagiku, apakah kehidupan kekal itu? apakah aku sudah memiliki kehidupan kekal? Tuhan berkati upaya kita untuk menjawabnya.

Salam dan berkat.

Pastor Antonius Purwono, SCJ

Minggu, 01 Juli 2012: Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 01 Juli 2012: Hari Minggu Biasa XIII
Keb 1:13-15; 2:23-24; 2Kor 8:7.9.13-15; Mrk 5:21-43.
Setiap orang, pada umumnya menginginkan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan. Kita rela melakukan apa saja supaya sehat, selamat, dan bertahan hidup. Inilah yang juga dicari dan diupayakan oleh kepala rumah ibadat dan perempuan yang menderita pendarahan, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan Injil tadi (Mrk 5:21-43).
Pencarian dan usaha untuk selamat ini sesuai dan nyambung dengan kehendak Tuhan, sebagaimana ditegaskan dalam bacaan pertama. “Allah tidak menciptakan maut, dan Ia pun tidak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa. Sebaliknya, Ia menciptakan segala sesuatu supaya ada dan supaya makhluk-makhluk jagat menemukan keselamatan” (Keb 1:13-14).
Kesehatan, keselamatan, dan kehidupan, di satu sisi merupakan anugerah Tuhan. Tuhanlah sang empunya kehidupan. Dialah pemilik hidup kita yang sesungguhnya. Kita sama sekali tidak memiliki hidup tetapi oleh Tuhan dianugerahi kesempatan untuk hidup. Tuhan pulalah sang sumber keselamatan dan sang penyelamat bagi kita. Dengan usaha kita sendiri, kita tidak mungkin selamat. Mengandalkan amal kita, tidak pernah cukup untuk menggapai keselamatan karena kita lebih banyak ngomelnya daripada ngamalnya. Kesehatan juga anugerah Tuhan.
Namun, di sisi lain, kita juga harus mengupayakan, menjaga, dan memeliharanya. Kita tidak bisa hanya pasif dan tidak berbuat sesuatu atau malah berbuat seenaknya sendiri karena semuanya sudah dijamin oleh Tuhan. Bacaan kedua mengingatkan kita akan pentingnya upaya-upaya saling menyelamatkan. “Hendaklah sekarang ini, kelebihanmu mencukupkan kekurangan orang-orang kudus” (2Kor 8:14). Kita masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kalau kelebihan dan kekurangan itu kita hayati dalam kasih, yakni dengan saling menolong, melengkapi, dan mencukupkan, keselamatan akan terjamin dan kehidupan tetap lestari.
Selain ditekankan mengenai pentingnya usaha-usaha untuk saling menyelamatkan, ada hal yang tidak kalah penting, yaitu iman dan pengharapan. Kedua hal inilah yang sungguh-sungguh dihayati oleh kepala rumah ibadat dan perempuan yang menderita pendarahan, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan Injil. Marilah kita perhatikan dengan seksama apa yang mereka lakukan.
Didasari dan didorong oleh iman dan pengharapan yang besar kepada Tuhan, kepala rumah ibadat, yang anak perempunannya sedang sakit, datang kepada Yesus dan tersungkur di depan kaki-Nya (ay.22) serta memohon dengan sangat agar Tuhan menyembuhkan anaknya (ay.33). Kepala rumah ibadat itu menghayati imannya dengan datang kepada Tuhan, tersungkur (merendahkan diri) di hadapan-Nya, dan memohon kepada Tuhan agar anaknya disembuhkan. Ketika ada orang yang mencoba melemahkan imannya, Yesus mengatakan, “Jangan takut, percaya saja”. Akhirnya, betul … iman dan pengharapan kepala rumah ibadat membuahkan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan bagi anak perempuannya. Banyak orang yang menyaksikannya menjadi takjub.
Demikian pula dengan wanita yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Didasari dan didorong oleh iman dan pengharapannya yang kuat (ay.28), ia mendekati Yesus dan menjamah jubahnya (ay.27), kemudian juga tersungkur di depan Yesus dan menceritakan dengan tulus apa yang dialami dan diimaninya (ay.34). Perempuan itu menghayati imannya dengan mendekati Yesus dan menjamah-Nya. Lagi-lagi ditegaskan bahwa iman perempuan itu telah menyelamatkannya dari penderitaan yang telah sekian lama ditanggung (ay.34). 
Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita mendapatkan teladan penghayatan iman dan pengharapan yang luar biasa. Kita juga mendapatkan jawaban atas kerinduan dan upaya kita untuk selamat dan bertahan hidup, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Tuhanlah yang menciptakan kita dan Ia menghendaki agar kita semua selamat. Maka, kita harus menggantungkan kerinduan dan usaha kita untuk selamat itu kepada Tuhan dengan beriman dan berpengharapan yang kokoh-kuat. Kita hayati iman dan pengharapan kita itu dengan cara datang dan mendekati Tuhan yang lebih dulu datang dan mendekati kita, dengan tersungkur untuk merendahkan diri di hadapan-Nya, dan dengan penuh kepercayaan memohon kepada-Nya, serta dengan takjub kepada-Nya. Ketakjuban pada Tuhan ini akan melahirkan pujian dan syukur kepada-Nya.
Selain mengandalkan Tuhan, dalam kehidupan bersama, kita juga harus saling menyelamatkan. Dengan semangat kasih, kita manfaatkan kelebihan kita untuk mencukupkan kekurangan sesama dan pada gilirannya kekurangan-kekurangan kita juga akan dicukupkan oleh orang lain. Dengan demikian, melalui semangat hidup saling menolong, melengkapi, dan mencukupkan, keselamatan kita akan terjamin dan kehidupan tetap lestari. Kalau kita semua berkekurangan, tidak usah kuatir sebab Tuhan maha kaya. “Sekalipun kaya, Ia telah menjadi miskin, supaya karena kemiskinan-Nya, kita menjadi kaya” (bdk. 2Kor 8:9).
Demikianlah, bacaan-bacaan hari ini memberi inspirasi kita mengenai pentingnya iman, pengharapan, dan kasih demi keselamatan kita. Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Rm. Ag. Agus Widodo, Pr

Sabtu, 30 Juni 2012 Hari Biasa Pekan XII

Sabtu, 30 Juni 2012
Hari Biasa Pekan XII

“Penghormatan terhadap Ekaristi di luar Misa adalah harta yang tak ternilai untuk hidup Gereja” (Beato Yohanes Paulus II)


Antifon Pembuka (Mat 8:11)


Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat, dan duduk makan bersama di dalam Kerajaan Surga dengan Abraham, Ishak dan Yakub.


Doa Pagi


Ya Yesus, bantulah aku agar pada hari yang baru ini aku dapat menyelami rencana Bapa atas diriku. Berkatilah agar aku tidak bertegar hati. Sebaliknya, semoga aku mampu bersyukur atas penyelenggaraan Bapa yang mengutus Engkau sebagai Tuhan dan Penyelamatku, kini dan sepanjang masa. Amin.


Betapa berat penderitaan bangsa Israel di tanah pembuangan pasca keruntuhan Yerusalem. Inilah konsekuensi dari dosa penyembahan berhala yang mereka lakukan.


Bacaan dari Kitab Ratapan (22:2.10-14.18-19)


"Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai putri Sion."

Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub. Dalam amarah-Nya Ia menghancurkan benteng-benteng puteri Yehuda. Ia mencampakkan ke bumi, dan mencemarkan kerajaan serta pemimpin-pemimpinnya. Maka duduklah para tua-tua puteri Sion tertegun di tanah. Mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah. Mataku kusam dengan air mata, hatiku remuk redam. Hancur luluh hatiku karena reruntuhan puteri bangsaku, sebab kanak-kanak dan bayi jatuh pingsan di lapangan-lapangan kita. Mereka bertanya kepada ibunya, “Mana roti dan anggur?” Di lapangan-lapangan kota mereka jatuh pingsan seperti orang yang gugur ketika menghembuskan napas di pangkuan ibunya. Apa yang dapat kunyatakan kepadamu? Dengan apa aku dapat menyamakan dikau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara Sion? Karena luas bagaikan lautlah reruntuhanmu. Siapa yang akan memulihkan dikau? Nabi-nabimu melihat penglihatan yang dusta dan hampa bagimu. Mereka tidak menyatakan kesalahanmu guna memulihkan dikau kembali. Mereka mengeluarkan bagimu ramalan-ramalan yang dusta dan menyesatkan. Berteriaklah dengan nyaring kepada Tuhan, hai puteri Sion! Cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam. Janganlah kauberi dirimu istirahat. Janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah, pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam. Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan. Angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan di ujung-ujung jalan karena lapar!

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan

Ref. Ya Tuhan, janganlah Kaulupakan terus-menerus umat-Mu yang tertindas.
Ayat. (Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21; Ul:19b)

1. Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu? Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami.
2. Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus. Lawan-lawanmu mengaum di tempat pertemuan-Mu dan telah mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda. Mereka kelihatan seperti orang mengayunkan kepalan tinggi-tinggi.
3. Mereka siap menebas kayu-kayuan yang lebat; dan sekarang ukir-ukirannya seluruhnya dipalu mereka dengan kapak dan beliung; mereka menyulut tempat kudus-Mu dengan api, mereka menajiskan tempat kediaman nama-Mu sampai pada tanah.
4. Pandanglah kepada perjanjian, sebab tempat-tempat gelap di bumi penuh kekerasan. Janganlah biarkan orang yang terinjak-injak kembali dengan kena noda. Biarlah orang sengsara dan orang miskin memuji-muji nama-Mu.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

Yesus melakukan penyembuhan jarak jauh terhadap hamba seorang perwira, dan jarak dekat terhadap ibu mertua Petrus yang sakit demam. Serangkaian penyembuhan Yesus ini menunjukkan betapa Tuhan sangat solider dengan kehidupan manusia.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:5-17)


"Banyak orang akan datang dari timur dan barat, dan duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub."

Pada suatu hari Yesus masuk ke kota Kapernaum. Maka datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan mohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi perwira itu berkata kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit, ‘Pergi!’ maka ia pergi; dan kepada seorang lagi, ‘Datang!’, maka ia datang. Ataupun kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu, Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu sendiri akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan wanita itu, lalu lenyaplah demamnya. Wanita itu lalu bangun dan melayani Yesus. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan, dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu, dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah sabda yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan


Sebagai jawaban atas iman seorang perwira kafir, Yesus melaksanakan karya penyembuhan terhadap hamba dari perwira itu. Yesus juga menyembuhkan ibu mertua Petrus dan banyak orang sakit di Kapernaum. Hanya dengan mata iman, kita akan mampu melihat segala kejadian dan peristiwa kehidupan sebagai bukti kasih Tuhan bagi kita.


Doa Malam


Ya Tuhanku dan Allahku, di penghujung bulan Juni ini aku bersyukur kepada-Mu atas penyelenggaraan-Mu dalam hidupku. Sembuhkanlah jiwa dan ragaku agar aku mampu membaktikan hidupku bagi kemuliaan nama-Mu dan kebaikan bersama. Amin.



RUAH

Jumat, 29 Juni 2012 Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul

Jumat, 29 Juni 2012
Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul

Renungan

MESIAS, BATU KARANG, DAN KUNCI KERAJAAN SURGA

Rekan-rekan yang budiman!
Hingga kini ketiga Injil Sinoptik memperkenalkan Yesus terutama lewat ajarannya, lewat penyembuhan yang dilakukannya, termasuk tindakan mengusir roh jahat, dan lewat peristiwa perbanyakan roti. Orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa dia lain dari orang-orang luar biasa lainnya. Siapakah dia sesungguhnya? Dalam Mat 16:13-19 yang dibacakan pada hari raya S. Petrus dan S. Paulus, Petrus menyuarakan kesadaran para murid bahwa Yesus itu Mesias, anak Allah yang hidup. Penegasan ini sebetulnya satu sisi saja dalam pewartaan mengenai siapa sebenarnya Yesus. Sisi yang lain menyangkut perjalanan ke arah penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus yang diungkapkan ketiga Injil Sinoptik langsung sesudah penegasan akan kemesiasan Yesus.

Bacaan kedua (2 Tim 4:6-8.17-18) mengutarakan bagaimana seorang tokoh dalam gereja awal, Timotius, mendapat imbauan agar melanjutkan pekerjaan yang telah diawali dan dijalankan dengan penuh dedikasi oleh Paulus, yakni membina kehidupan bersama antar orang-orang yang mengimani Yesus sang Mesias. Karya ini adalah karya ilahi tetapi yang menyertakan manusia, seperti Paulus sendiri. Ia merasa telah menjalankan semuanya dengan sebaik-baiknya. Ketika ia dimusuhi, ia tidak gentar karena yakin Tuhan sendiri tetap menyertainya. Inilah keteguhan iman yang terasa dari bacaan kedua.

Disarankan, sebaiknya homili pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus dipusatkan bukan pada kehidupan para rasul itu sendiri (asal usul, profesi, kejadian-kejadian yang mereka alami di sana sini), melainkan pada peran yang mereka jalankan, yakni mempersaksikan iman para pengikut Yesus siapa sebenarnya dia itu, yakni Yesus Sang Mesias, Yesus Kristus, Tuhan yang memimpin kembali umat manusia ke jalan keselamatan. Petrus menjadi dasar yang kukuh dan Paulus memungkinkan banyak orang ikut berbagi keselamatan tadi.

POKOK PEWARTAAN

Memang ada pelbagai perkiraan di masyarakat mengenai siapa Yesus itu. Dan di Kaisaria Filipi para murid diajak Yesus berbicara mengenai pelbagai pendapat mengenai dirinya. Sudah matang saatnya para murid dituntun mengenali siapa dia itu sebenarnya. Mereka telah mendengar ajarannya, telah melihat perbuatannya, dan menyaksikan kekuatannya. Kini tibalah waktunya memahami siapa dia itu.

Tentu saja mulai disadari bahwa Yesus yang mempesona dan diikuti banyak orang ini ialah dia yang resmi ditugasi Allah dan kedatangannya yang dinanti-nantikan banyak orang. Dialah Mesias yang diharapkan membangun kembali umat Allah seperti dahulu kala. Dialah yang bakal memimpin orang banyak makin mendekat kepada Allah sendiri. Di dalam kesadaran orang banyak, Mesias ini ialah keturunan Daud yang akan mengawali zaman adil dan damai. Dalam keagamaan Yahudi, gagasan Mesias seperti ini disatukan dengan pengertian "Anak Manusia", seperti terungkap dalam penglihatan Daniel (Dan 7:13). Gereja Awal juga percaya bahwa Yesus ialah tokoh ini.

Keyakinan di atas mau tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus akhirnya mengalami penderitaan, ditolak oleh para pemimpin masyarakat Yahudi yang sah ("tetua, imam kepala dan ahli Taurat" ialah tiga macam anggota di dalam Sanhedrin, badan resmi masyarakat Yahudi) sampai dibunuh. Namun demikian, nanti dengan pelbagai cara para murid Yesus juga mengalami kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Dan pengalaman inilah yang membuat mereka percaya bahwa Yesus itulah sungguh Mesias.

Rumusan penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 "Engkaulah Mesias" mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu. Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, "Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16). Matius menambahkan "anak Allah yang hidup" untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiranNya di dunia. Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Maklum di kalangan Yahudi harapan akan Mesias politik ini amat kuat. Persoalan ini tidak amat terasa dalam lingkungan Lukas yang bukan berasal dari kalangan Yahudi. Mereka lebih berminat memahami apakah kuasa dan kekuatan Yesus itu memang berasal dari Allah sendiri. Karena itu ditandaskan dalam Luk 9:20 bahwa Mesias tadi "dari Allah". Maksudnya, Yesus datang dari Dia dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri Yesus untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.

SIAPAKAH "ANAK MANUSIA" ITU?

Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa "Anak Manusia" ada jawaban yang bermacam-macam. Ungkapan "Anak Manusia" dipakai merujuk pada diri Yesus. Dalam kesadaran orang Yahudi pada zaman Yesus, ada kaitan antara tokoh yang dinanti-nantikan datangnya sebagai Mesias dengan penglihatan dalam Dan 7:13 yang menggambarkan tokoh yang mirip manusia itu terlihat datang mengarah kepada Yang Mahakuasa dan mendapat kuasa di bumi dan di langit.

Dengan memakai ungkapan itu Yesus hendak memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya. Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajarannya, mengenai tindakannya, mengenai kelakuannya. Ia ingin mendengar bagaimana orang menerapkan siapa tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu, siapa "Anak Manusia" tadi. Para murid diajak menengarai pelbagai pandangan yang ada mengenai dirinya: ia seperti Yohanes Pembaptis, tokoh spiritual yang masih segar dalam ingatan orang, juga bisa dibandingkan dengan Elia, seorang nabi besar yang diceritakan telah naik ke langit dan tentunya akan kembali diutus Allah mendatangi umat pada saat-saat mereka membutuhkan dampingan dan arahan, atau seperti nabi Yeremia yang dikenal tak jemu-jemunya memperingatkan umat dan para pemimpin agar tetap setia pada Allah di tengah penderitaan dan mengajarkan kerohanian yang sejati dan bukan praktek luar-luar saja.

BAGI KALIAN, SIAPA AKU INI?

Pendapat-pendapat itu tidak bisa dikatakan meleset. Walaupun demikian, ada pemahaman yang dapat lebih menolong. Yesus menanyai Petrus dengan ungkapan yang berbeda, "Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?" Tidak lagi ditanyakan apa kata orang, melainkan apa katamu. Juga tidak lagi dipakai sebutan "Anak Manusia", melainkan "aku". Petrus kini tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Pertanyaan Yesus kepadanya bukan pertanyaan kepada individu Petrus saja. Setelah menanyai para murid, pada ay. 15 disebutkan Yesus bertanya kepada "mereka" - yakni para murid tadi. Terjemahan LAI "apa katamu" tidak amat jelas. Memang dalam bahasa Indonesia "-mu" bisa berarti tunggal bisa pula jamak. Teks asli dalam bahasa Yunani memakai kata "kalian" yang hanya bisa berarti jamak. Maka pertanyaan tadi jelas ditujukan kepada para murid, begitu juga menurut Injil Markus dan Lukas. Dalam situasi itulah Petrus tampil mewakili para murid. Oleh karena itu, tak usah ditafsirkan bahwa di sini ada imbauan untuk menumbuhkan jawaban iman yang digarap secara pribadi, bukan rumus-rumus yang siap pakai saja. Memang iman yang dewasa dan kuat juga semakin pribadi sifatnya. Tetapi tanya jawab dengan Petrus ini bukan ke sana arahnya.

Jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Matius secara khusus menyoroti Petrus. Setelah penegasan tadi, pada ay. 17, Matius menambahkan episode Yesus menyebut Petrus berbahagia karena pengetahuan tadi didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dalam dua ayat berikutnya Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan ini tidak ada dalam Injil lain.

BATU KARANG DAN KUNCI

Batu karang jadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya "petra", ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu menghunjam. Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya "hades", Ibraninya "syeol") takkan bisa menguasainya, maksudnya takkan dapat mematikan kumpulan orang yang percaya tadi.

Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyah. Petrus digambarkan sebagai tempat Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut.

Gambaran di atas dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga! Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya-daya maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang syeol menganga tadi. Tidak amat membantu bila kata-kata itu ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi "juru kunci gerbang surga" menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan dibiarkan di luar tidak peka konteks. Malah tafsiran itu akan membuat warta Injil Matius kurang terasa.

Bisakah gagasan kunci Kerajaan Surga dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja, asal dilandasi dengan pengertian di atas. Bukan dalam artian juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.


Salam hangat,
A. Gianto.

Jumat, 29 Juni 2012 Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul

Jumat, 29 Juni 2012
Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul


Hari ini disucikan karena rasul-rasul bahagia Petrus dan Paulus di martir. Para martir ini menyaksikan apa yang mereka wartakan. (St. Agustinus)

Antifon Pembuka

Waktu hidup di dunia mereka menanamkan Gereja dengan menumpahkan darah-Nya. Piala Tuhan diminumnya dan mereka menjadi sahabat Allah.

Doa Pagi

Ya Allah, pada Hari Raya Rasul Santo Petrus dan Paulus ini, Engkau telah melimpahkan sukacita yang sejati. Bantulah Gereja-Mu untuk senantiasa mengikuti ajaran-ajaran Rasul-rasul-Mu, yang telah menyampaikan dasar iman kepada kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Setelah membunuh Yakobus, Herodes menangkap Petrus dan menjebloskannya ke dalam penjara. Pada malam harinya, Malaikat Tuhan membebaskan Petrus dengan menuntunnya keluar dari penjara. Petrus menyadari bahwa Allahlah yang telah menyelamatkannya dari tangan Herodes.

Bacaan dari Kisah Para Rasul (12:1-11)

"Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes."


Waktu terjadi penganiayaan terhadap jemaat, Raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Pada malam sebelum Herodes menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus untuk membangunkannya. Kata malaikat itu, “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Lalu kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Petrus pun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar, dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi; sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 838
Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.
Ayat. (Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; Ul: 2/4)
1. Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarkan dan bersukacita.
2. Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya. Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.
3. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya!
4. Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang bertakwa, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!


Paulus yakin akan memperoleh keselamatan kekal, karena telah memelihara iman kepada Yesus Kristus. Paulus percaya bahwa Tuhan yang telah mendampingi seluruh hidupnya juga akan menganugerahkan keselamatan kepadanya. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama dari antara Allah dan manusia.

Bacaan dari Surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius (4:6-8.17-18)

"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran."

Saudaraku terkasih, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan, dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Tuhan akan melepaskan daku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 16:18)
Engkaulah Petrus, dan di atas wadas ini akan Kudirikan jemaat-Ku, dan kerajaan maut tidak akan mengalahkannya.

Rasul Petrus mewakili para rasul memberi pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Karena pengakuan inilah, Petrus memperoleh kepercayaan dari Yesus untuk menerima kunci Kerajaan Surga. Dialah orang pertama yang dilantik oleh Yesus sendiri menjadi pemimpin Gereja.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (16:13-19)


"Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku."

Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Petrus, mewakili teman-temannya mengakui bahwa Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Berkat pengakuan iman tersebut, Petrus tidak hanya dikatakan sebagai orang yang berbahagia, tetapi juga mendapatkan tugas kepercayaan dari Yesus. Dia menjadi batu karang, wadas yang kokoh yang di atasnya dibangun jemaat Kristus. Karena dasar kokoh, alam maut tidak akan menguasainya. Kita pun juga dipanggil untuk memiliki iman yang mendalam akan Yesus, sebagai Mesias. Di atas iman itulah, kita bagaikan batu-batu hidup membangun Gereja, umat Allah.

Doa Malam


Allah yang maharahim, luputkanlah kami dari segala niat yang jahat, yang berusaha memisahkan kami dari pada-Mu, agar kami tidak salah jalan dan tersesat. Kami sadar bahwa tanpa Engkau kami tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan yang baik sekecil apa pun. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

RUAH

Kamis, 28 Juni 2012 Peringatan Wajib St Ireneus, Uskup dan Martir

Kamis, 28 Juni 2012
Peringatan Wajib St Ireneus, Uskup dan Martir

“Cahaya Tuhan adalah sumber hidup; barangsiapa melihat Dia, mendapatkan hidup” (St. Ireneus)


Antifon Pembuka (Yeh 34:11.23-24)

Aku akan memperhatikan domba-domba-Ku, mengangkat seorang gembala sebagai pemimpin, dan Aku, Tuhan sendiri, menjadi Allah mereka.


Doa Pagi

Yesus, sumber kekuatan hidup kami, sabda-Mu adalah pelita bagi jalan hidup kami. Semoga kami bukan hanya menjadi pendengar sabda-Mu tetapi juga menjadi terang bagi sesama kami, teristimewa mereka yang kami jumpai hari ini. Amin.


Karena Raja Yehuda berpaling dari Tuhan, Yerusalem diserang oleh Raja Babel. Akibatnya, seluruh rakyat dibawa ke pembuangan. Kemudian Raja Babel mengangkat Matanya menjadi Raja Yehuda yang baru dan memberinya nama Zedekia. Ketidaksetiaan kepada Allah selalu membuahkan kebinasaan, karena orang yang menolak Allah berarti memihak dosa.


Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (24:8-17)


Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja, dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Nehusta, puteri Elnatan, dari Yerusalem. Yoyakhin melakukan yang jahat di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan ayahnya. Pada waktu itu majulah tentara Nebukadnezar, raja Babel, menyerang Yerusalem, dan kota itu terkepung. Nebukadnezar sendiri datang menyerang sementara orang-orangnya mengepung kota itu. Lalu keluarlah Yoyakhin, raja Yehuda, mendapatkan raja Babel: ia sendiri, ibunya, perwira-perwiranya, para pembesar dan pegawai-pegawai istananya. Raja Babel menangkap Yoyakhin pada tahun yang kedelapan pemerintahannya. Seluruh isi rumah Tuhan dan isi istana raja dikeluarkannya; dikeratnya pula emas dari segala perkakas emas yang dibuat oleh Salomo, raja Israel, di bait Tuhan seperti yang disabdakan Tuhan. Seluruh penduduk Yerusalem diangkutnya ke pembuangan; semua panglima dan semua pahlawan yang gagah perkasa: sepuluh ribu tawanan; juga semua tukang dan pandai besi. Tidak ada yang ditinggalkan kecuali orang-orang lemah dari rakyat negeri. Nebukadnezar mengangkut Yoyakhin ke pembuangan di Babel; juga ibunda raja, isteri-isteri raja, pegawai-pegawai istananya, dan orang-orang berkuasa di negeri itu dibawanya sebagai orang buangan dari Yerusalem ke Babel. Semua orang yang gagah perkasa, tujuh ribu orang banyaknya, para tukang dan para pandai besi, seribu orang banyaknya; sekalian pahlawan yang sanggup berperang, dibawa oleh raja Babel sebagai orang buangan ke Babel. Kemudian raja Babel mengangkat paman Yoyakhin, yang bernama Matanya, menjadi raja menggantikan Yoyakhin, dan menukar namanya menjadi Zedekia.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan

Ref. Mulut orang benar menuturkan kebijaksanaan.

Ayat. (Mzm 37:3-4.5-6.30-31)

1. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memenuhi keinginan hatimu!
2. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah pada-Nya, maka Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan menampilkan hakmu seperti siang.
3. Mulut orang benar menuturkan kebijaksanaan, dan lidahnya mengatakan kebenaran. Taurat Allah ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidaklah goyah.


Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya

Ayat. (Yoh 14:23)
Barangsiapa mengasihi Aku, akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya. Alleluya.


Yesus mengakhiri rangkaian kotbah-Nya di bukit dengan ajaran mengenai iman (akan Yesus) sebagai dasar hidup yang kokoh bagaikan rumah yang kokoh karena didirikan di atas batu. Sebaliknya, hidup akan menjadi rapuh dan goyah apabila bukan Kristus yang menjadi dasarnya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:21-29)


Dalam khotbah di bukit Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?’ Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata, ‘Aku tidak pernah mengenal kalian! Enyahlah dari pada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!’” Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas wadas. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh, sebab didirikan di atas wadas. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga robohlah rumah itu, dan hebatlah kerusakannya.” Setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Siapakah orang bijaksana dan orang bodoh menurut Yesus? Orang bijaksana adalah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakan dalam hidupnya. Dia bagaikan orang yang membangun rumah di atas wadas yang kokoh. Rumahnya akan kuat bertahan. Sebaliknya, orang bodoh adalah orang yang mendengarkan sabda Tuhan tetapi tidak menghayatinya dalam kehidupan. Dia bagaikan orang yang membangun rumahnya di atas pasir. Rumahnya akan hancur berantakan. Manakah yang kita pilih, menjadi orang bijaksana atau orang bodoh? St. Ireneus adalah contoh orang bijaksana.


Doa Malam


Ya Yesus, Engkau mengajar kami bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Mu, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Mu di surga.” Sebab itu, urapilah hati kami ya Tuhan agar kami mampu melakukan kehendak Bapa dan menjadikannya makanan kami setiap hari, sebagaimana Engkau telah memberi teladan, bahwa makanan-Mu adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Mu. Dengan demikian, kelak kami Engkau perkenankan menikmati sukacita abadi di dalam Kerajaan Surga. Ini kami mohon kepada-Mu ya Tuhan dan Juruselamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.



RUAH

Surat Kepada Keluarga bulan Juni 2012

Melihat kangguru dan anak di kantungnya

Kita diingatkan, bahwa kebaikan lahir di dekat hati

Rasa aman diberikan melalui kesediaan melindungi

Dan persatuan dijamin dalam lelah bersama

Anak-anak adalah masa depan milik dunia

Sekarang ini, mereka bersekolah bersama kita

Buatlah mereka damai di dalam genggamanmu

Lahirkan pribadi mencintai, karena sapaan lembutmu

Tanpa dibatasi waktu..hanya kegembiraan

bersama..

KELUARGA KELUARGA YANG TERKASIH

Suatu kegembiraan karena akhirnya masa liburan tiba bagi anak-anak kita. Anak-anak mempunyai lebih banyak kesempatan bersama sama kita. Dalam beberapa minggu, mereka menjadi sepenuhnya anak-anak kita, karena seluruh acara mereka sekarang menjadi acara bersama kita, orang tuanya, dan saudara-saudarinya. Mau di bawa kemana anak-anak kita itu dalam liburan dari tugas belajar?

Masa liburan menjadi kesenangan sekaligus menjadi tantangan bagi kita para orang tua untuk mendampingi anak-anak di saat mereka menikmati liburan dan membutuhkan kedekatan dengan keluarganya.. Kedua faktor, edukasi dan kegembiraan, sangat baik dialami anak-anak kita pada masa liburan ini. Anak-anak secara alami selalu berada dalam masa belajar untuk mengantar mereka menjadi semakin dewasa, termasuk pada waktu liburan tiba, tanpa beban study formal.

Keluarga-keluarga terkasih, apakah kita sudah merencanakan suatu liburan yang menyenangkan? Atau kita merencanakan program tertentu yang didesain untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan anak-anak dalam liburannya? Untuk sebagian anak-anak, kata “liburan” membuat mereka membayangkan paket-paket liburan atau kursus-kursus spesial. Yang lain mungkin sudah membayangkan suatu liburan ke luar negeri atau tempat wisata yang jauh.

Anak-anak dari keluarga sederhana memikirkan untuk menghabiskan masa liburan bersama teman-teman atau membantu orang tuanya, ikut bekerja, atau sekedar mengunjungi sanak family di kampung halaman. Pertanyaan anak-anak dari semua kalangan sebenarnya sama: apakah aku akan mengalami liburan yang menyenangkan dan berkesan? Kita sebagai orang tua ditantang untuk menghadirkan suatu liburan yang bermutu bagi mereka, apapun kondisi keluarga kita.

Kita sudah cukup banyak menghadapi pengalaman kesulitan bersama-anak-anak kita. Komunikasi bersama mereka kadang menjadi begitu langka, karena kesibukan masing-masing ketika mereka sekolah. Dalam masa liburan, kita perlu menyediakan waktu yang lebih dari cukup untuk semakin mengenal satu sama lain. Keluarga memang hidup dan tinggal serumah, tetapi ini membuat kita merasa kaget melihat perubahan dan perkembangan anak-anak kita yang berubah pesat. Kita seperti kehilangan kendali atas mereka.

Masa liburan akan menjadi masa yang menyenangkan, karena anak-anak yang berlibur bersama kedua orang tuanya yakin bahwa orang tua mereka memberi perhatian dan menyayangi mereka melalui kebersamaan di antara mereka. Ambillah waktu untuk berbagi: omong-omong, pergi ke tempat khusus (tidak harus ke tempat yang mahal dan jauh); mengunjungi nenek-kakek, oom atau tantenya; atau barangkali merencanakan acara menanam pohon bersama di depan rumah dan mengecat tembok dan pagar.

Keluarga-keluarga terkasih, acara kebersamaan bagi kita di Jakarta dan sekitarnya menjadi suatu acara yang mahal. Bukan karena tempat tujuan, melainkan suatu kesempatan langka untuk seluruh anggota keluarga, anak-anak dan orang tuanya dalam suatu relasi tanpa batas waktu dan ekspresi bebas yang menunjukkan cinta dan penerimaan. Beberapa minggu menjadi saat emas bagi suatu pendidikan nilai kebersamaan, kerukunan, kasih, perhatian, kerjasama, dll. di antara orang tua-anak yang mengubah dan meneguhkan.

Tempat sebaik dan seindah apapun tidak banyak berarti, kalau mereka pergi sendiri. Tetapi kalau mereka menikmati sapaan ramah dan tulus satu sama lain, waktu liburan bahkan bisa menjadi kesempatan memberikan dukungan, pendampingan, didikan, dan peneguhan yang lebih mahal dari program-program liburan berkelas apapun tanpa adanya waktu bersama untuk suatu relasi manusiawi dengan anggota keluarga yang lain.

Barangkali kita harus belajar dari masa kecil atau kisah-kisah masa kecil kita (para orang tua) masing-masing. Memancing, mengunjungi nenek-kakek, berkebun, memasak, membacakan buku cerita, reparasi mobil/motor bersama, berbelanja bersama, olahraga keluarga, dan pergi ke Gereja bersama dalam waktu yang sama, menjadi pilihan untuk menjalani waktu liburan istimewa.

Pendidikan nilai dan prakteknya sekaligus dapat diberikan ketika orang tua dan anak-anaknya tidak dikejar-kejar waktu. Inilah saat terindah sepanjang tahun yang sesungguhnya diperlukan oleh semua anggota keluarga. Jadilah orang tua yang baik dan bijaksana. Pakailah saat-saat liburan sebagai saat emas untuk menjadikan anak-anak kembali “menjadi milik kita”, bukan milik sekolah; bukan milik teman-temannya; bukan milik komputer, TV, dan buku-bukunya; melainkan menjadi milik kita sepenuhnya, sebagai satu keluarga.

Selamat berlibur..!

Alexander Erwin MSF

Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta

Bacaan Harian 25 Juni - 01 Juli 2012

Bacaan Harian 25 Juni - 01 Juli 2012

Senin, 25 Juni: Hari Biasa Pekan XII (H).

2 Raj 17:5-8.13-15a.18; Mzm 60:3.4-5.12-13; Mat 7:1-5.

Menggosip atau membicarakan orang lain sudah menjadi gaya hidup orang-orang zaman ini. Bagaimana tidak! Mulai dari acara TV sampai dengan lingkup kehidupan kita, tidak ada habis-habisnya orang membicarakan orang lain. Bila yang dibicarakan tentang kebaikan mungkin masih baik tetapi apabila yang dibicarakan yang jelek-jelek saja, itu yang tidak elok. Menghakimi orang lain sangat mudah untuk kita lakukan tetapi kita sering lupa melihat diri kita. Apakah kita sudah baik di mata Allah dan sesama sehingga kita dapat menghakimi? (lih. Yak 4:12)

Selasa, 26 Juni: Hari Biasa Pekan XII (H).

2Raj 19:9b-11.14-21.31-35a.36; Mzm 48:23a.3b-4.10-11; Mat 7:6.12-14.

Yehuda mengalami nasib yang berbeda daripada yang dialami Israel . Hizkia, raja Yehuda, masih percaya kepada Tuhan dan mengandalkan kekuatan Tuhan untuk menghadapi musuh. Ia berdoa dalam kesesakannya. Karenanya, Hizkia membebaskan Yerusalem dari kepungan musuh. Bagi kita, dalam kesesakan dan kesulitan mari dengan yakin tetap mengandalkan Tuhan.

Rabu, 27 Juni: Hari Biasa Pekan XII (H).

2Raj 22:8-13; 23:1-3; Mzm. 119:33.34.35.36.37.40; Mat 7:15-20.

Setiap pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. “Maka, apabila kita ingat akan perbuatan baik Allah di dalam kehidupan kita dan di dalam kehidupan para kudus, kita dapat melihat di dalamnya suatu jaminan, bahwa rahmat sedang bekerja di dalam kita” (Katekismus Gereja Katolik, 2005)

Kamis, 28 Juni: Peringatan Wajib St. Ireneus, Uskup dan Martir (M).

2Raj 24:8-17; Mzm 37:3-4.5-6.30-31; Mat 7:21-29.

Banyak orang menyerukan nama Tuhan tapi demi diri sendiri. Banyak orang yang bernubuat tentang Tuhan, mengusir setan atas nama-Nya tetapi demi kepopuleran diri mereka. Sekalipun sering menyebut nama-Nya, mereka tidak akan diterima dalam Kerajaan Surga.

Jumat, 29 Juni: Hari Raya St Petrus dan St Paulus, Rasul (M).

Kis 12:1-11; Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19

Rasul Paulus menjadi pemenang. Ia telah mengakhiri pertandingan dengan baik. Ia berhasil mencapai garis finish. Ia pun berhasil merebut mahkota juara, yang ia sebut mahkota kebenaran. Tuhan sendiri yang memberikannya pada hari-Nya. Banyak orang gugur di tengah jalan karena tidak tekun memelihara iman.


Sabtu, 30 Juni: Hari Biasa Pekan XII (H).

Rat 2:2.10-14.18-19; Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21; Mat 8:5-17.

Yesus menanggung kelemahan dan penyakit kita. Dia menaruh perhatian kepada segala penderitaan kita. Dengan demikian, semakin mendalam iman dan pengenalan kita akan Yesus, kiranya makin mendorong kita untuk tidak tinggal diam melihat penderitaan sesama.

Minggu, 01 Juli 2012: Hari Minggu Biasa XIII (H).

Keb 1:13-15; 2:23-24; Mzm 30:2.4.5-6.11.12a.13b; 2Kor 8:7.9.13-15; Mrk 5:21-43.

Orang sakit merasa diri sangat tidak berdaya. Ia menggantungkan diri kepada belas kasih orang lain. Ia percaya dengan sepenuh hati bahwa orang lain akan menolongnya. Orang beriman menyerahkan diri sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Keselamatan memang menuntut iman dan penyerahan yang besar.

Rabu, 27 Juni 2012 Hari Biasa Pekan XII

Rabu, 27 Juni 2012
Hari Biasa Pekan XII

Kita ini merupakan satu tubuh, karena Kristus mengikat ikita bersama dengan ikatan cinta. (St Sirilus dari Aleksandria)

Antifon Pembuka (Mzm 119:34)

Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu. Dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.

Doa


Allah Bapa kami maha pengasih dan penyayang, kami bersyukur kepada-Mu atas cinta kasih yang kami kenal dari Yesus Putra-Mu. Semoga cinta kasih itu menjadi sumber segala sesuatu yang kami katakan dan kami lakukan, agar sirnalah segala duka, perang serta perselisihan, terhalau oleh keserasian dan keselarasan di antara manusia di dunia. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (22:8-13; 23:1-3)

"Di depan rakyat raja membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah Tuhan, dan diadakannyalah perjanjian di hadapan Tuhan."

Di masa pemerintahan Raja Yosia Imam Besar Hilkia berkata kepada Safan, panitera raja, "Telah kutemukan kitab Taurat itu di rumah TUHAN!" Lalu Hilkia memberikan kitab itu kepada Safan, dan Safan terus membacanya. Kemudian Safan, panitera itu, masuk menghadap raja, disampaikannyalah kabar tentang itu kepada raja: "Hamba-hambamu ini telah mengambil seluruh uang yang terdapat di rumah TUHAN dan memberikannya ke tangan para pekerja yang diangkat mengawasi rumah itu." Safan, panitera itu, memberitahukan juga kepada raja: "Imam Hilkia telah memberikan kitab kepadaku," lalu Safan membacakannya di depan raja. Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya. Kemudian raja memberi perintah kepada imam Hilkia, kepada Ahikam bin Safan, kepada Akhbor bin Mikha, kepada Safan, panitera itu, dan kepada Asaya, hamba raja, katanya: "Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi rakyat dan bagi seluruh Yehuda, tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang bernyala-nyala terhadap kita, oleh karena nenek moyang kita tidak mendengarkan perkataan kitab ini dengan berbuat tepat seperti yang tertulis di dalamnya." Sesudah itu raja menyuruh orang mengumpulkan semua tua-tua Yehuda dan Yerusalem. Kemudian pergilah raja ke rumah TUHAN dan bersama-sama dia semua orang Yehuda dan semua penduduk Yerusalem, para imam, para nabi dan seluruh orang awam, dari yang kecil sampai yang besar. Dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah TUHAN itu. Sesudah itu berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk-petunjuk ketetapan-Mu.
Ayat. (Mzm 119:33-34.35-36.37.40)
1. Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk-petunjuk ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.
2. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu; dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.
3. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.
4. Lalukanlah mataku dari hal-hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!
5. Sesungguhnya aku rindu akan titah-titah-Mu, hidupkanlah aku dengan keadilan-Mu!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 15:5.5b)
Tinggallah dalam Aku, dan Aku dalam kamu, sabda Tuhan; barangsiapa tinggal dalam Aku, akan menghasilkan banyak buah.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:15-20)

"Dari buahnyalah kalian akan mengenal mereka."

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata, "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Salah satu masalah yang menjadi sumber konflik dan permusuhan di dalam kerukunan umat beragama di negara kita adalah hadirnya sekte-sekte atau aliran kepercayaan yang memberi ajaran menyesatkan. Ada sekte yang mengatakan bahwa kiamat akan segera datang dan yang diselamatkan hanya sekian ribu orang saja; ada aliran lain yang mengajak melakukan perbuatan maksiat supaya anggotanya mendapat banyak rezeki dan semacamnya. Jika kita melihat dengan hati yang jernih, kita akan melihat buah-buah yang tidak baik dari ajaran-ajaran tersebut.

Itulah yang dikatakan Yesus dalam sabda-Nya hari ini. Yesus mengajak kita semua agar waspada terhadap nabi-nabi palsu yang menyamar seperti domba. Tuhan Yesus memberikan cara bagaimana mengenali mereka. Caranya adalah melihat buahnya. Buah yang baik pasti berasal dari pohon yang baik.

Sedangkan buah yang jelek pasti berasal dari pohon yang jelek. Tidak ada pohon baik mengasilkan buah jelek begitu juga sebaliknya. Selain itu, kita juga perlu waspada terhadap diri sendiri. Kita perlu melihat kembali buah-buah dari kehidupan kita. Kalau buah-buah dari hidup kita tidak baik, tidak membawa kegembiraan dan kedamaian bagi orang lain, jangan-jangan kita adalah pohon yang tidak baik! Jangan-jangan kita adalah nabi-nabi palsu yang menyamar menjadi domba!


Ya Tuhan, semoga buah dari kehidupanku membawa kedamaian, kegembiraan, dan kesejahteraan bagi orang lain sehingga semakin banyak orang yang datang kepada-Mu dan memuliakan Allah. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian