Selasa, 01 September 2009 :: Hari Biasa Pekan XXII

Selasa, 01 September 2009
Hari Biasa Pekan XXII

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati -- Luk 6:36


Doa Renungan

Allah Bapa yang mahapengasih dan penyayang, puji syukur atas berkat-Mu yang kami terima pada hari ini. Rahmat kehidupan dan kesehatan yang boleh kami rasakan. Kami mohon kepada-Mu, pimpin dan dampingilah kami dalam menjalankan semua rencana dan pekerjaan kami. Sehingga dengan demikian kami dapat menjadi saluran rahmat dan berkat bagi setiap orang yang akan kami jumpai hari ini. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat Tesalonika (5:1-6.9-11)

"Kristus telah wafat untuk kita, agar kita hidup bersama Dia."

1 Saudara-saudara, tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput. 4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, 5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. 6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang hidup.
Ayat.
(Mzm 27:1.4.13-14)
1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
2. Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
3. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita, dan Allah mengunjungi umat-Nya.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (4:31-37)

"Aku tahu siapa Engkau: Engkau Yang Kudus dari Allah."

31 Sekali peristiwa Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. 32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. 33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: 34 "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." 35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. 36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar." 37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

"Diam keluarlah dari padanya!"

(1Tes 5:1-6.9-11; Luk 4:31-37)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kata-kata yang keras dan singkat pada umumnya memang berpengaruh bagi para pendengarnya, apalagi jika kata-kata tersebut keluar dari orang-orang yang berwibawa karena jabatan, kedudukan atau kepribadiannya. Begitulah yang terjadi ketika Yesus menghardik setan yang merasuki seseorang sambil berkata: “Diam, keluarlah dari padanya”, maka setanpun terhempas keluar dari orang yang bersangkutan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang dinilai berwibawa di dalam kehidupan bersama, entah di dalam keluarga, tempat kerja atau masyarakat, untuk meneladan Yesus: berkata tepat dan singkat pada sasaran atau tujuan, lebih-lebih dalam rangka mengingatkan atau menegor mereka yang bersalah atau melanggar peraturan atau tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Dengan kata lain hendaknya tidak terlalu banyak bicara atau memberi nasihat. Memang agar kata-kata, entah sebagai nasihat, tegoran, peringatan, pujian dst.. dapat tepat sasaran, maka hendaknya lebih banyak bersikap mendengarkan: dengarkan apa yang sedang terjadi, dengarkan harapan, dambaan, keluh kesah, kritikan dst.. dari saudara-saudari anda. Tentu saja yang juga tidak kalah penting atau utama dan terutama adalah bahwa orang senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari dalam rangka memperdalam dan memperkuat kewibawaannya. Yang utama dan pertama-tama akan dihormati dan dijunjung tinggi di dalam kehidupan beragama atau beriman adalah mereka yang bersatu dengan Tuhan alias hidup suci atau berbudi pekerti luhur, bukan karena pangkat, kedudukan, gelar atau kekayaan akan harta benda, dst… Bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan mampu mengalahkan aneka macam bentuk godaan setan.

· “Kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar” (1Tes 5:4-6), demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Tesalonika, kepada kita semua orang beriman. Pada malam hari pada umumnya orang tidur atau ada beberapa orang yang bermabuk-mabukan jika tidak dapat tidur. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi ‘anak-anak terang dan anak-anak siang’, artinya hidup jujur, terbuka, transparan, terang-terangan alias tidak melakukan aneka macam bentuk korupsi atau kebohongan. Kejujuran kiranya merupakan keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini mengingat dan memperhatikan masih cukup banyak tindakan korupsi dan kebohongan di sana-sini. Memang ada rumor “hidup jujur akan hancur’, tetapi kiranya lebih dari itu yang benar, yaitu “hidup jujur akan hancur dan akhirnya mujur”. Keutamaan kejujuran ini hendaknya sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja butuh keteladanan dari para orangtua atau bapak-ibu. Selanjutnya hendaknya di sekolah-sekolah juga dibiasakan dan dididikkan kejujuran dalam seluruh proses pembelajaran. “Be honest” (=Jujurlah), itulah tulisan yang terpampang di halaman sepak bola, dan dapat anda lihat begitu masuk ke komplek Kolese Kanisius-Jakarta. Kejujuran dan kedisiplinan hendaknya menjadi cirikhas di sekolah-sekolah kita, agar kelak kemudian hari anak-anak ketika telah menjadi dewasa menjadi sadar dan siap sedia terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk semakin memperdalam hidup beriman.

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mzm 27:13-14)

Jakarta, 1 September 2009


Ignatius Sumarya, SJ

Senin, 31 Agustus 2009 :: Hari Biasa Pekan XXII

Senin, 31 Agustus 2009
Hari Biasa Pekan XXII

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya -- Mzm 136:1


Doa Renungan

Ya Allah, aku bersyukur kepada-Mu, karena Engkau menganugerahi nafas hidup baru hari ini. Ya Allah, Putera-Mu Yesus Kristus telah ditolak di tempat asal-Nya, sehingga warta Kerajaan Allah tidak diterima di sana. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam budi dan hatiku, agar aku peka menangkap kehadiran-Mu dalam setiap peristiwa yang akan kualami selama hari ini. Dengan demikian imanku semakin tumbuh subur. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (4:13-17)

"Mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan oleh Allah bersama Yesus."

13 Saudara-saudara, kami ingin agar kamu mengetahui tentang orang-orang yang sudah meninggal dunia, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. 14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. 15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. 16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan akan datang menghakimi dunia dengan adil
Ayat.
(Mzm. 96:1.3.4-15.11-12.13)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.
2. Sebab mahabesarlah Tuhan, dan sangat terpuji, Ia lebih dahsyat daripada segala dewata. Sebab segala allah para bangsa adalah hampa, tetapi Tuhan, Dialah yang menjadikan langit.
3. Biarlah langit bersukacita dan bumi bersoraksorai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya; biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
4. Biarlah mereka bersukacita di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Roh Tuhan menyertai Aku; Aku diutus Tuhan mewartakan kabar baik kepada orang-orang miskin.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (4:16-30)

"Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang miskin. Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya."

Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!" Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan


"Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

(1Tes 4:13-17a; Luk 4:18-30)


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Slirane iku biyen nakal kok saiki dadi pastor” (= “Anda itu dahulu kurangajar, tetapi sekarang dapat menjadi pastor”), demikian kata mantan guru SMP saya ketika sebagai pastor muda saya diminta memberi retret para guru katolik, antara lain para mantan guru SMP saya. Apa yang pernah saya alami ini kiranya dapat menggambarkan bagaimana orang-orang Nazaret kurang percaya kepada Yesus ketika Ia membacakan Kitab Taurat dan kemudian bersabda :”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”. Nas atau ayat-ayat yang dibacakan menyatakan bahwa Yesus diurapi untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang tertindas. Dengan kata lain kedatangan Yesus di tengah saudara-saudari-Nya merupakan rahmat Allah. Kita semua kiranya dipanggil untuk meneladan Yesus, dimana kita hadir atau berada diharapkan menjadi rahmat atau berkat bagi saudara-saudari kita. Kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menyelamatkan dan membahagiakan orang lain, terutama bagi mereka yang merasa miskin, tertawan, buta dan tertindas dalam berbagai bentuk. Jika kita semua dapat saling menjadi rahmat atau berkat, maka kiranya hidup bersama akan menjadi bahagia, damai sejahtera, tidak ada lagi yang miskin, tertindas, tertawan atau buta. Maka kami berharap kepada mereka yang sering membuat keributan atau kerugian bagi orang lain karena keserakahan atau kesombongannya dengan rendah hati bertobat dan memperbaharui diri.

· “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia” (1Tes 4:13-14), demikian peringatan Paulus kepada umat di Tesalonika, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Jika selama hidup di dunia ini kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, artinya hidup baik dan berbudi pekerti luhur, maka kita boleh percaya ketika kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia pada saat itu juga hidup mulia bersama Allah di sorga untuk selama-lamanya. Maka marilah kita berusaha untuk senantiasa berbudi pekerti luhur, yang antara lain menghayati keutamaan-keutamaan ini: “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Tentu saja kita tidak akan mungkin menghayati keutamaan-keutamaan tersebut semuanya secara unggul, tetapi ketika kita unggul dalam salah satu keutamaan tersebut di atas kiranya secara inklusif kita juga menghayati keutamaan-keutamaan lainnya. Marilah kita saling membantu dalam penghayatan atau pelaksanaan keutamaan-keutamaan tersebut di atas.



“Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit”

(Mzm 96:3-5).


Jakarta, 31 Agustus 2009


Ignatius Sumarya, SJ

Minggu, 30 Agustus 2009 :: Hari Minggu Biasa XXII

Minggu, 30 Agustus 2009
Hari Minggu Biasa XXII

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahabaik, baharuilah selalu diri kami berkat Roh Kudus yang Kaucurahkan. Berilah kami rahmat untuk menerima kehadiran Putra-Mu dalam hidup kami sehingga dapat meneladan Dia dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dlam hidup. Dengan demikian menjadi nyata bahwa kami adalah murid Yesus Kristus Putera-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang segala masa. .

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Ulangan (4:1-2.6-8)

"Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu; dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan."

1 "Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. 2 Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu. 6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. 7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? 8 Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan PS. 848
Ref. Tuhan siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?
Ayat.
(Mzm 15:2-3.3-4.4-5)
1.Yaitu orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
2.Yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya, yang memandang hina orang yang tercela, tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang takwa.
3.Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Rasul Yakobus (1:17-18.21.22.27)

"Hendaklah kamu menjadi pelaku firman."

Saudara-saudara, 17 setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. 18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. 21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. 22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil PS. 956
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat:
Atas kehendaknya sendiri, Allah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita menjadi anak sulung diantara semua ciptaan-Nya.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (7:1-8.14-15.21-23)

"Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia."

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan


SIKAP BERAGAMA YANG SEJATI ?

Rekan-rekan yang baik!

Dalam tiap agama ditumbuhkan dan dikembangkan hidup rohani lewat lembaga hukum, aturan, tatacara, upacara, dan pemahaman kisah-kisah sakral (Kitab Suci). Jadi ada tujuan, yakni kerohanian, dan ada pula sarananya, yaitu kelembagaan tadi. Dalam kenyataan kerap tujuan dan sarana saling bertukar. Misalnya, tata upacara atau hukum-hukum agama menjadi makin dipentingkan dan menyingkirkan semua yang dirasa tidak sejalan. Akibatnya, kelembagaan lambat laun menjadi tujuan beragama, bukan lagi sarana. Orang bisa mulai merasa sesak, kurang leluasa. Sering dalam keadaan ini ada pembaruan untuk menjernihkan tujuan semula. Hidup beragama biasanya berada di antara dua kutub itu. Bisa lebih dekat dengan yang satu, bisa menjauh dari yang lain. Ada kecenderungan untuk hanya melihat tujuan sehingga sarana kelembagaan disepelekan. Tapi ada juga tarikan untuk mementingkan sarana dengan akibat tujuan menjadi kabur.


Permasalahan ini tercermin pula dalam petikan Injil Minggu Biasa XXII B ini (Mrk 7:1-8.14-15.21-23). Yesus ditanyai orang Farisi dan ahli Taurat, mengapa murid-muridnya tidak menaati adat turun temurun membasuh tangan sebelum makan. Orang-orang itu curiga Yesus dan murid-muridnya ini kaum yang tidak peduli lagi akan lembaga agama. Dari jawaban yang diberikannya, dapat disimpulkan bahwa Yesus bukannya hendak mengurangi wibawa kelembagaan agama. Ia malah ingin memurnikannya sehingga dapat membawa ke tujuan yang sesungguhnya. Ia memakai bahasa yang amat nyata seperti pernyataan bahwa yang perlu dibasuh bukannya tangan atau piring mangkuk, melainkan batin manusia. Maklum, tindakan-tindakan buruk timbul dari itikad buruk yang ada dalam batin, bukan karena tindakannya sendiri.

LATAR BELAKANGNYA

Di kalangan orang Yahudi pada zaman Yesus, pembasuhan tangan sebelum makan termasuk kesalehan yang dijalankan oleh para imam dan mereka yang berurusan dengan ibadat. Adat seperti itu dirincikan di dalam Talmud, yakni kumpulan penjelasan aturan dan hukum agama yang terangkum dalam Misyna. Misyna sendiri merupakan penjabaran dari hukum-hukum Taurat. Bagaimanapun juga,tidak ada kewajiban seperti itu bagi yang bukan imam. Orang Farisi dan para ahli Taurat tidak termasuk golongan imam. Memang ada kewajiban membasuh diri sebelum masuk dalam Bait sebelum beribadat, tetapi yang dibicarakan dalam Injil hari ini ialah pembasuhan tangan secara ritual sebelum makan. Sebenarnya Yesus tidak akan terlalu ditanya-tanya mengenai hal serupa karena permasalahannya hanya menyangkut para imam Yahudi. Yesus dan para muridnya bukan imam dan tidak bertugas sebagai imam dalam masyarakat Yahudi ketika itu.

Masalah yang terungkap dalam petikan hari ini mencerminkan keadaan pada zaman generasi kedua pengikut Yesus. Pada masa itu, praktek membasuh tangan juga dijalankan oleh orang Yahudi yang bukan imam sebelum makan sebagai ungkapan kesalehan. Para pengikut Yesus generasi kedua dari kalangan Yahudi banyak yang tidak menjalankannya. Mereka sebenarnya mengikuti adat yang lebih tua dan tidak menambah-nambah dengan pelbagai praktek kesalehan. Mengapa? Mereka belajar dari generasi pertama yang mengikuti sikap Yesus terhadap hukum agama, yakni menghayati semangatnya, bukan huruf atau bentuk luarnya. Patut diingat, para pengikut Yesus waktu itu belum menganggap diri dan belum dianggap memeluk "agama" baru. Mereka tidak mengikuti ritualisme dan legalisme yang semakin terasa di beberapa kalangan Yahudi pada zaman setelah Yesus. Baru kemudian mereka makin menjadi agama baru karena makin berbeda dengan tatacara dalam agama Yahudi. Markus menyusun Injilnya dengan latar belakang seperti ini.

Kaum Farisi itu orang-orang yang sebetulnya dengan sungguh-sungguh mau hidup menjalankan perintah agama secara radikal. Bahkan harfiah. Mereka mau menunjukkan begini inilah hidup mengikuti ajaran agama turun-temurun. Mereka berpengaruh besar dalam Sanhedrin, yakni lembaga peradilan agama dan pemerintahan di kalangan orang Yahudi. Mereka punya keyakinan, hidup seperti yang mereka jalani itu nanti akan berlangsung juga di akhirat. Jadi mereka mau menyucikan hidup duniawi sehingga menjadi semacam antisipasi hidup nanti. Di kalangan seperti inilah mulai tumbuh upaya-upaya kesalehan yang lebih besar dari yang biasa diatur dalam adat dan hukum agama.

Kisah pembicaraan antara Yesus dan orang Farisi serta ahli Taurat di sini tersusun atas dasar keyakinan para pengikut Yesus mengenai pemikiran dan sikap sang Guru sendiri. Bukan berarti pembicaraan dalam petikan ini tak pernah terjadi. Bisa saja pada zaman Yesus sudah ada beberapa kelompok orang saleh yang mempraktekkan pembasuhan ritual meski bukan imam. Orang yang menanyai Yesus itu mengira kelompok Yesus ini bisa jadi berasal kaum saleh baru tadi, seperti mereka sendiri.

PEGANGAN

Dalam menanggapi kecenderungan ritualisme dan upaya menjamin keselamatan lewat sarana kesalehan itu para pengikut Yesus dari generasi kedua dan selanjutnya mencoba mengingat-ingat apa yang kiranya bakal diajarkan Yesus sendiri. Ada dua garis yang mereka temukan, dan kedua-duanya termaktub dalam Injil hari ini.

Pertama, mereka yakin bahwa sang Guru mengajarkan ibadat yang tulus, bukan sekadar puji-pujian dangkal yang tidak disertai keyakinan rohani. Ini termaktub dalam Mrk 7:6-7. Di situ ditampilkan kembali Yes 29:13 yang berisi amatan tajam terhadap kurangnya integritas dalam kehidupan agama orang-orang di Yerusalem, pusat keyahudian waktu itu. Agama dijadikan dalih kepentingan manusiawi, kepentingan pihak yang berkuasa waktu itu. Akibatnya macam-macam ketidakadilan terjadi dan dibenarkan oleh cara beragama. Ibadat di Bait memang dikelola baik, tetapi korupsi, kemelaratan didiamkan saja. Dengan demikian hidup rohani makin terpisah dari kehidupan yang nyata. Inilah yang dikecam oleh orang seperti Nabi Yesaya. Gemanya terdengar dalam petikan hari ini.

Kedua, para murid dari generasi kedua itu juga tahu bahwa hidup rohani yang tulus, jadi hidup beragama yang sejati, bertujuan memurnikan batin manusia. Bila sungguh-sungguh, maka tak perlu lagi khawatir apa ada yang mengotori atau yang perlu disucikan dulu. Orang sudah hidup dalam kesucian batin yang mengangkat yang ada di luar. Bahkan mereka yakin Guru mereka menganggap yang ada dalam hidup sehari-hari itu bersih, tidak mengotori. Yang bisa mengotori itu tentunya batin yang tak bersih. Inilah yang digemakan dalam Mrk 7:14-15. Dengan kata lain, bila orang beranggapan yang di luar itu hanya mengotori belaka, maka dapat disimpulkan bahwa kehidupan batin yang bersangkutan sendirilah yang tidak beres.

Dua pokok jawaban itu tetap berarti bagi zaman kita. Sekarang ada kecenderungan menjalankan sikap agamaist secara berlebihan. Yang ada di luar lingkup keagamaan dianggap kotor dan busuk. Tetapi perlu diingat, manakah tujuan hidup beragama yang sebenarnya: melawan dunia dengan asal melawan atau mengembangkan hidup rohani yang mantap sehingga dapat berdialog dengan pihak lain. Mungkin kita akan merasa kita sudah jauh lebih maju dari pelbagai kelompok "lain". Kita merasa toleran, terbuka, berpijak pada kenyataan di masyarakat. Sungguh sudah bersihkah yang ada di dalam batin? Apakah kita memiliki cara pandang yang memadai mengenai keadaan di sekitar. Atau asal giat belaka, asal mengubah, asal memasyarakat? Arah jawaban kedua di atas tadi masih banyak artinya. Hanya bila kita juga bersih dari dalam maka yang keluar akan bersih, bila tidak maka kita hanya mengeruhkan suasana.

DAFTAR KEBUSUKAN

Pada akhir bacaan Injil hari ini (Mrk 7:21-22) terdapat daftar panjang pelbagai macam kebobrokan moral. Jumlahnya 13. Baiklah dibaca kembali satu persatu dengan perhatian pada artinya:

1. pikiran jahat (=itikad busuk),
2. percabulan (=kelakuan birahi yang tak bisa dibenarkan),
3. pencurian,
4. pembunuhan,
5. perzinahan (=ketaksetiaan di antara suami istri),
6. keserakahan (=bibit korupsi dan kolusi),
7. kejahatan (=tindak kekerasan),
8. kelicikan (=tipu daya untuk mencelakan),
9. perbuatan tak senonoh (=tak menghargai perasaan orang lain),
10. iri hati (dulu terutama tenung dan santet karena iri akan keberhasilan orang lain), 11. hujat (=fitnah menjatuhkan nama orang),
12. kesombongan (sikap takabur, termasuk sikap kurang menghormati yang keramat),
13. kebebalan (tak bisa membeda-bedakan apa yang boleh dan tak boleh dikerjakan).


Yang pertama dan yang terakhir erat berhubungan. Bila orang tak punya sikap batin bijak (kebusukan no. 13), maka yang ada dalam pikirannya ialah rencana yang akhirnya buruk belaka (kebusukan no. 1). Tiadanya kebijaksanaan batin tadi akan menelurkan 11 kebusukan yang didaftar di antaranya. Bagi pembaca zaman itu, cukup jelas bahwa Yesus tidaklah mendaftar kebusukan begitu saja, melainkan mengajar mereka di mana benih kebusukan sendiri merajalela, yakni dalam batin manusia yang tak peduli lagi akan sisi-sisi rohani. Batin yang demikian itu memupuk kebusukan. Bagaimana keluar dari sana? Tumbuhkan kepekaan rohani sehingga kebusukan tak subur lagi.


Salam hangat,


A. Gianto

Sabtu, 29 Agustus 2009 :: Pw. Wafatnya St. Yohanes Pembaptis

Sabtu, 29 Agustus 2009
Pw. Wafatnya St. Yohanes Pembaptis

Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." -- Yoh 3:3


Doa Renungan

Allah Bapa yang mahabaik, Engkau telah menghembuskan nafas-Mu ke dalam tubuh manusia, sehingga ia hidup. Pada hari ini, Engkau telah menganugerahkan kehidupan kepadaku. Maka aku bersyukur kepada-Mu seraya memohon rahmat agar pada hari ini, aku berlaku setia, benar dan adil terhadap semua orang yang kujumpai. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yeremia (1:17-19)

"Kalian belajar kasih mengasihi dari Allah."

Sekali peristiwa, Tuhan berkata kepadaku, Yeremia, "Baiklah engkau bersiap! Bangkitlah dan sampaikanlah kepada umat-Ku segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imam dan rakyat negeri lain. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 818
Ref. Tuhan, sudi dengarkan rintihan umat-Mu.
Ayat.
(Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17)
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri; sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku, ya Allah, luputkanlah aku dari tangan orang fasik.
3. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
4. Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu, sebab aku tidak dapat menghitungnya. Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (6:17-29)

"Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis."

Sekali peristiwa Herodes menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di dalam penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, yakni karena Herodes telah memperisteri Herodias, isteri Filipus saudaranya. Yohanes pernah menegur Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam kepada Yohanes, dan bermaksud membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan terhadap Yohanes. Karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci; jadi ia melindunginya. Tetapi setiap kali mendengarkan Yohanes, hati Herodes selalu terombang-ambing; namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, yakni ketika Herodes -- pada hari ulang tahunnya -- mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesar, para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu putri Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes serta tamu-tamunya. Maka Raja Herodes berkata kepada gadis itu, "Mintalah dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!" Lalu Herodes bersumpah kepadanya, "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun itu setengah dari kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan kepada ibunya, "Apa yang harus kuminta?" Jawab ibunya, "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta, "Aku mau, supaya sekarang juga engkau memberikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!" Maka sangat sedihlah hati raja! Tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya, ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada puteri Herodias, dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu, mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kubur.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan

Suatu hari, seorang karyawan menegur secara baik-baik pimpinan perusahaan – tempat ia bekerja – yang telah melakukan kesalahan dan tidak konsisten dengan peraturan yang dibuatnya sendiri. Sebagai akibatnya, karyawan tersebut sering diperlakukan dengan tidak adil oleh pimpinan perusahaan tersebut. Bahkan, pimpinan perusahaan tersebut sering mencari-cari kesalahan karyawan tersebut agar bisa dikeluarkan dari perusahaan.

Kisah karyawan dan pimpinan perusahaan tersebut sama dengan apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis. Banyak terjadi, orang yang ingin menyatakan kebenaran diperlakukan dengan tidak adil, dianiaya, dan bahkan dibunuh.

Beranikah kita berlaku seperti karyawan tersebut [atau Yohanes Pembaptis] untuk menyatakan kebenaran dengan menegur orang lain yang salah, dengan segala konsekuensinya? Ataukah kita malah berlaku seperti pimpinan perusahaan tersebut [atau Herodes]: tidak mau menerima teguran dari orang lain dan bahkan menganiaya orang yang menegur kita?

Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan dan keberanian untuk menegur orang lain yang berbuat salah, dan berikanlah juga aku kerendahan hati yang mendalam supaya aku bisa menerima teguran dari orang lain. Amin.

Ziarah Batin 2009
obormedia.com

Jumat, 28 Agustus 2009 :: Pw. St. Agustinus, Uskup Pujangga Gereja

Jumat, 28 Agustus 2009
Peringatan Wajib St. Agustinus, Uskup Pujangga Gereja

Marilah mencoba memahami bahwa Tuhan adalah Tabib, dan bahwa penderitaan adalah obat demi keselamatan, bukan hukuman demi kebinasaan -- St. Agustinus

Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Engkaulah keselamatan siapa saja yang berseru kepada-Mu. Katakanlah sabda-Mu, agar menjadi pegangan kami dalam bahaya dan bebaskanlah kami dari keragu-raguan. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menolong kami dan teguhkanlah iman kami akan kehadiran-Mu di tengah kami dalam diri Yesus, Putra-Mu yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (4:1-8)

"Inilah kehendak Allah, yaitu supaya kamu semua kudus."

Saudara-saudara, demi Tuhan Yesus kami minta dan menasihati kalian: Kalian telah mendengar dari kami, bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang sudah kalian turuti! Tetapi baiklah kalian melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. Kalian tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. Yang dikehendaki Allah adalah supaya kamu semua kudus. Ia menghendaki agar kalian menjauhi percabulan. Hendaknya kamu masing-masing hidup dengan isterinya sendiri, dalam kekudusan dan kehormatan, bukan dalam keinginan hawa nafsu, seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dalam hal-hal ini jangan ada orang memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Sebab Tuhan akan membalas semuanya itu, sebagaimana dahulu telah kami katakan dan kami tegaskan kepadamu. Allah memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan untuk melakukan apa yang kudus. Karena itu barangsiapa menolak ini, bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus-Nya juga kepadamu.

Mazmur Tanggapan PS 836
Ref. Segala bangsa bertepuktanganlah, berpekiklah untuk Allah raja semesta.
Ayat.
(Mzm 97:1.2b.5-6.10.11-12)
1. Tuhan adalah Raja. Biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita! Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.
2. Gunung-gunung luluh laksana lilin di hadapan Tuhan, di hadapan Tuhan semesta alam. Langit memberitakan keadilan-Nya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
3. Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan! Dia memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, dan akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.
4. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.

Bait Pengantar Injil
Alleluya
Berjaga-jagalah dan berdoalah selalu, agar kalian layak berdiri di hadapan Anak Manusia.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (25:1-13)

"Lihatlah pengantin datang, pergilah menyongsong dia!

Pada suatu hari Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak. Sedangkan yang bijaksana, selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya. Tetapi karena pengantin itu lama tidak datang-datang, mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Tengah malam terdengarlah suara berseru, 'Pengantin datang! Songsonglah dia!' Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, 'Berilah kami minyakmu sedikit, sebab pelita kami mau padam.' Tetapi yang bijaksana menjawab, 'Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kalian. Lebih baik kalian pergi membelinya pada penjual minyak.' Tetapi sementara mereka pergi membelinya, datanglah pengantin, dan yang sudah siap sedia masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah. Lalu pintu ditutup. Kemudian datanglah juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata, 'Tuan, Tuan, bukakanlah kami pintu!' Tetapi tuan itu menjawab, 'Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kalian.' Karena itu, berjaga-jagalah sebab kalian tidak tahu akan hari maupun saatnya.'
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan


Injil Peringatan Wajib St. Agustinus, Uskup Pujangga Gereja ini (Mat 25:1-13) menampilkan perumpamaan sepuluh gadis yang bermaksud mengiringkan pengantin lelaki menjemput mempelai perempuan dan ikut pesta pernikahan. Lima dari kesepuluh gadis tadi siap tetapi lima lainnya tidak. Mereka tidak membawa persediaan minyak bagi pelita mereka sehingga harus pergi membelinya. Tapi pada saat itu mempelai lelaki yang ditunggu-tunggu akhirnya datang dan kelima gadis yang pergi membeli minyak tadi tertinggal dan tak bisa ikut dalam pesta pernikahan.

Perumpamaan ini termasuk rangkaian pengajaran yang sama-sama memaparkan gagasan berikut:
- Ada dua kelompok orang yang menanti-nantikan: Mat 24:37-41 (yang satu terbawa, yang lain tertinggal); 45-51 (hamba setia, hamba jahat); 25:14-46 (domba di kanan, kambing di kiri).
- Tertundanya kedatangan orang yang dinantikan: Mat 24:48 (majikan para hamba); 25:14.19 (pemberi talenta).
- Saat kedatangannya tak terduga-duga: Mat 24:29-36; 50-51.
- Bisa diamati gelagatnya: Mat 24:29-36.43 (nasihat berjaga-jaga; inti pewartaan Mat 24-25).
- Perlu kewaspadaan dan usaha: Mat 24:45-51 (hamba yang berjaga-jaga) ; 25:14-30 (menjalankan talenta).
Marilah kita lihat dari dekat beberapa unsur di dalam perumpamaan sepuluh gadis ini.



"PADA WAKTU ITU..."

Petikan hari ini mulai dengan ungkapan "Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama...". Dibicarakan di sini saat pemisahan siapa yang akan masuk siapa yang akan tertinggal di luar, seperti juga sudah disebutkan dalam Mat 24:40 ("Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan") dan nanti dalam Mat 25:32 ("Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan [Anak Manusia yang datang dalam kemuliaannya] dan ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing.").Yang dimaksud dengan "Hal Kerajaan Surga" ialah keadaan pada akhir zaman itu nanti.

Apakah ini ramalan? Banyak pembaca Injil Matius pada zaman itu berpikir demikian. Maklum mereka mengira bahwa akhir zaman akan segera datang. Namun perkiraan ini mau tak mau semakin disesuaikan dengan kenyataan bahwa akhir zaman yang ditandai dengan macam-macam kekalutan dan kekacauan tak kunjung tiba walau tanda-tanda yang disebutkan dalam Mat 24:4-18 sudah hadir. Nyatanya dunia masih terus berlangsung. Orang-orang juga terus hidup. Injil Matius menjelaskan bahwa akhir jagat tetap akan datang tidak lama lagi, tetapi kapan persisnya tidak diketahui. Tak ada yang tahu, malaikat tidak tahu, bahkan anak (manusia) sendiri yang akan datang dengan kemuliaan tidak mengetahuinya. Hanya Bapa di surga yang tahu. Diajarkan kepada komunitas orang percaya pada waktu itu agar tetap waspada dan sigap. Itulah sebabnya perumpamaan mengenai sepuluh gadis tadi tampil dalam pembicaraan mengenai akhir zaman. Di sini terlihat betapa iman mereka tetap hidup dan teologi mereka tidak mentok. Tidak terpancang pada gagasan dan perkiraan belaka.

Bagaimana dengan orang pada zaman ini? Bila pelita iman tetap dihidupkan dengan minyak nalar yang tak kering, maka tak usah takut menafsirkan Mat 24-25 bagi orang sekarang bukan sebagai ramalan bahwa akhir zaman akan segera datang. Namun demikian, kewaspadaan serta kesiagaan yang diajarkan di situ tetap memiliki bobot dan arti. Malah makin besar. Bagaimana penjelasannya?

IKUT PESTA PERNIKAHAN, PELITA, DAN MINYAK

Perumpamaan ini didasarkan pada kebiasaan yang sudah pada zaman Matius tidak ada lagi, tapi yang tetap menampilkan makna yang jelas. Di situlah kuatnya gaya tutur perumpamaan. Di sebuah dusun, menjadi aib besar bagi seorang gadis yang memasuki umur dewasa bila tidak sempat ikut meramaikan pesta pernikahan salah satu dari antara mereka sebagai pengiring pengantin. Akan susah baginya untuk bersuami. Ia akan sulit menemukan tunangan yang akan menjadi suaminya. Sisa hidupnya tidak akan terurus. Ia harus menantikan sampai ada yang menebusnya. Dan memang dalam masyarakat Yahudi dulu ada kelompok seperti ini. Kerap mereka yang tidak menikah ini tergolong bersama dengan kelompok "janda". Bukan kehidupan yang menyenangkan, dibicarakan orang, dicibiri, dijauhi. Hanya dipelihara, dikasihani.

Dalam perumpamaan ini nasib mereka dijelaskan sebagai akibat kebodohan mereka sendiri. Mereka teledor tidak membawa cukup bekal dan kehilangan kesempatan berharga ikut mempelai lelaki menjemput pengantinnya. Ketika mereka menyusul, pintu tidak akan dibuka bagi mereka. Terlambat. Permintaan mereka agar pintu dibuka tidak dilayani dan mereka dianggap orang yang tak dikenal.

Dalam sejarah penafsiran, kerap ada uraian mengenai pelita dan minyak. Pelita dapat dilihat sebagai lambang terang iman yang menuntun pembawanya. Penolakan lima gadis yang bijaksana untuk memberi minyak mereka tak usah ditafsirkan sebagai sikap menaruh kepentingan diri di atas kebutuhan sesama. Penolakan itu menunjukkan betapa minyak dan pelita menjadi bagian yang tak terpisahkan dari yang membawanya. Jelas yang dimaksud bukan minyak sungguhan, melainkan minyak yang menghidupkan orang dari dalam dan tak dapat diparuh untuk orang lain. Juga angka sepuluh sering dilihat sebagai cara mengatakan seluruh komunitas orang yang percaya, Gereja, di situ ada yang sigap dan ada yang lamban dalam menunggu sang Mempelai, yakni Kristus. Bila begitu, maka ada imbauan untuk membantu agar jangan sampai orang jadi lamban, siap-siaplah dengan bekal. Juga agar yang sigap hendaknya, dalam arah tafsir ini, agar tetap awas.

MENDENGARKAN SABDA

Petikan hari ini mengingatkan kita pada perumpamaan orang bijak yang mendirikan rumah di atas batu (Mat 7:24-27). Rumahnya tak bakal rubuh bila hujan turun dan angin menerpa. Tetapi orang yang bodoh membangun rumah di atas pasir. Gampang. Tapi bila datang hujan dan banjir rumahnya akan musnah. Di situ bijaksana atau bodoh diukur dengan "mendengar perkataanku". Yang tidak mendengarkan tapi merasa sudah berseru "Tuhan, Tuhan" akan terpaksa mendengar jawaban "Aku tidak mengenalmu!" (7:21-23). Seruan sia-sia dan jawaban yang sama diperdengarkan kepada lima gadis lamban yang datang menyusul ketika pintu sudah ditutup (25:11-12).

Dari perbandingan itu jelas bahwa kebodohan kelima gadis tadi intinya ialah sikap kurang mau memberi ruang gerak pada Sabda Ilahi dalam kehidupan mereka. Bagi mereka, Sabda bukan kenyataan yang dihayati. Ini kecerobohan bertindak yang akhirnya membuat mereka tidak dapat ikut di dalam kegembiraan yang mereka harap-harapkan.

Tertundanya kedatangan yang ditunggu-tunggu itu bisa jadi kesempatan berharga untuk semakin belajar mendengarkan. Bukan agar menjadi waswas mengenai kapan datangnya yang ditunggu dan mulai ikut dalam upaya ramal meramal. Yang berbekal kebijaksanaan boleh tetap tenang dan yakin bahwa yang ditunggu pasti akan datang. Kapan terserah yang kuasa. Ini kebijaksanaan orang yang mendengar Sabda Ilahi Tidak memaksa-maksa, tidak mendahului, melainkan membiarkan-Nya datang dengan derap langkahNya sendiri. Ini sama dengan mengawasi gerak gerikNya dan membuat orang bisa selangkah dengan-Nya nanti.

MAIN MAIN DENGAN "MISTERI" DAN AGAMA?
Orang sekarang sebetulnya mempunyai hubungan yang mendua dengan kenyataan Yang Keramat. Bagaimana kita baca gejala di media hiburan beberapa tahun terakhir ini? Dalam tayangan TV semakin dipertontonkan macam-macam misteri yang sebenarnya merendahkan kekeramatan. Orang boleh jadi tidak lagi dapat membiarkannya datang dengan wajahnya sendiri. Orang mau memanipulasinya. Dalam gagasan Injil sama dengan menolak mendengarkan Sabda Ilahi. Sama saja dengan berlaku "lamban" dan "bodoh" (Yunaninya "moros") bukan sebagai orang yang sigap menengarai keadaan, bijak (Yunaninya "phronimos").

Ironinya, dalam manipulasi Yang Keramat itu ialah disertakannya unsur-unsur agama. Di situ agama ditayangkan sebagai cara-cara memperoleh kekuatan memanuver kekuatan-kekuatan itu. Bukan sebagai kebijaksanaan memahami gerak geriknya. Bisa diingat kembali yang disampaikan dalam Mat 7:22. Di situ pembenaran diri bahwa orang telah bernubuat atas nama Tuhan, mengusir setan demi nama-Nya, mengadakan banyak mukjizat demi namaNya hanya akan dijawab (ayat 23): "Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari hadapanku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!" Ini peringatan agar tidak berlaku sebarangan

Apakah teologi kristiani dapat menyumbangkan sesuatu? Tentu saja. Sederhana. Mengajar mendengarkan dan kemudian menyampaikan yang didengar itu dalam bahasa manusia. Memperdengarkan Sabda Ilahi dalam bahasa yang bisa dimengerti. Itulah yang disampaikan itu "teo-logi", wacana tentang Yang Ilahi setelah mendengarkannya. Bukan sebaliknya.

Apakah juga ada ajakan bagi pelayan kehidupan orang yang beragama, bagi para pelayan sabda? Ya. Ada ajakan untuk semakin membantu orang dapat menjadi kaum "phronimoi", kaum yang sigap dan bijak yang membangun rumah di atas dasar yang kukuh, yang pandai-pandai membawa bekal dan menjaga pelita hidup tetap menyala.


Salam hangat,


A. Gianto


Arsip mirifica.net Injil Minggu Biasa XXXII 31 Oktober 2005

Kamis, 27 Agustus 2009 :: Pw. St. Monika

Kamis, 27 Agustus 2009
Pw. St. Monika

Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan -- Kol 2:3

Doa Renungan

Allah Bapa penuh kasih, menyambut hari baru ini, aku memuji nama-Mu, sebab karunia kehidupan yang Kauperkenankan untuk kuterima. Pada hari ini, Engkau mengajakku untuk senantiasa berjaga-jaga dalam hidup ini. Semoga hari ini aku selalu setia memupuk imanku dengan taat pada perintah-perintah-Mu. Dengan demikian seluruh pekerjaan dan rencanaku hari ini senantiasa tertuju pada-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (3:7-13)

"Semoga Tuhan membuat kamu berkelimpahan dalam kasih persaudaraan."

7 Saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. 8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. 9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? 10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. 11 Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu. 12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. 13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan PS 815
Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu ya Tuhan.
Ayat.
(Mzm 90:3-5a.12-13.14.17)
1. Tuhan, Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.
2. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, -- berapa lama lagi? -- dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
3. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat. Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas kami! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya perbuatan tangan kami, teguhkanlah!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berjaga-jaga dan bersiap-siaplah, sebab kalian tidak tahu bilamana Anak Manusia datang.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (24:42-51)

"Hendaklah kalian selalu siap siaga."

42 Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. 43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. 44 Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." 45 "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? 46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: 49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, 50 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, 51 dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan



“Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.”


(1Tes 3:7-13; Mat 24:42-51)

Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Monika hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Penjaga yang baik, entah penjaga malam atau satpam, pada umumnya senantiasa berjaga-jaga terus menerus demi keamanan lingkungan hidup beserta seluruh penghuninya.

St.Monika yang kita kenangkan pada hari ini juga seorang ‘penjaga’, yaitu menjaga anaknya, Agustinus, agar tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman, maka St.Monika dijadikan pelindung dan teladan bagi kaum ibu. Seorang ibu yang baik kiranya senantiasa menjagai atau mengasuh dan merawat anaknya dengan penuh kasih, sehingga ada lagu yang berbunyi “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Maka dengan ini kami berharap kepada para ibu untuk meneladan St.Monika dalam cara hidup dan cara bertindak dalam rangka mengasuh dan merawat anak-anaknya. Sebaliknya kita semua, yang juga pernah menjadi anak, baiklah kita bersyukur dan berterima kasih atas penjagaan, perawatan dan pengasuhan ibu kita masing-masing, dan tentu saja syukur dan terima kasih tersebut kita wujudkan dengan tindakan nyata dengan saling menjaga, mengasuh dan merawat satu sama lain dalam hidup kita sehari-hari, dimanapun dan kapanpun. Kita juga dipanggil untuk merawat dan mengurus aneka macam sarana-prasarana atau harta benda dan kekayaan yang kita miliki atau menjadi tanggungjawab kita. Kebanyakan orang Indonesia kurang dalam hal merawat atau mengurus segala sesuatu dengan baik. Merawat atau mengurus memang butuh keutamaan-keutamaan seperti ‘teliti, tekun, cermat, rendah hati, sabar, kasih dst..’

· “Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu.Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu” (1Tes 3:10-12), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Tesalonika. Kesaksian Paulus ini kiranya dapat menjadi pedoman hidup kita juga, maka marilah kita saling mendoakan agar kita dapat hidup dan bertindak ‘dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang’. Doa-berdoa merupakan salah satu cirikhas orang hidup beragama atau beriman, dan kiranya berdoa dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dan dalam situasi atau kondisi apapun. Doa yang baik dan benar bukan banyaknya kata-kata, gerak-gerik tubuh dll.., tetapi hati yang terarah sepenuhnya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Mengawali dan mengakhiri kegiatan-kegiatan hendaknya dengan doa, entah kegiatan apapun seperti makan, bekerja, bepergian, tidur, hubungan seksual antar suami-isteri, dst.. Ingat pepatah “Jauh di mata, dekat di hati”. Pepatah ini kiranya merupakan ajakan atau nasihat bagi kita semua untuk saling dekat dan mesra dalam hati, meskipun secara phisik berjauhan. Kedekatan atau kemesraan hati atau rohani ini kiranya dapat kita hayati dalam saling mendoakan satu sama lain. Saling mendoakan ini rasanya baik jika dibiasakan di dalam keluarga: suami dan isteri saling mendoakan, orangtua berdoa bagi anak-anaknya, anak-anak berdoa bagi orangtuanya. Di kantor-kantor atau tempat kerja sebaiknya pada awal kerja dan akhir kerja juga diselenggarakan doa bersama secara singkat. Para pengemudi sebaiknya juga berdoa secara singkat sebelum menjalankan mobil atau kendaraannya agar selamat di perjalanan dan sampai tujuan.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya TUHAN -- berapa lama lagi? -- dan sayangilah hamba-hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami”(Mzm 90:12-14)

Jakarta, 27 Agustus 2009

Ignatius Sumarya, SJ

Rabu, 26 Agustus 2009 :: Hari Biasa Pekan XXI

Rabu, 26 Agustus 2009
Hari Biasa Pekan XXI

Tetapi buah Roh ialah: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan -- Gal 5:22


Doa Renungan

Allah Bapa kami yang penuh kasih sayang, Engkau selalu menghendaki yang baik bagi manusia, bukan yang jahat. Engkau tak hendak menyerahkan kami kepada penderitaan dan maut, tetapi memperuntukkan kami bagi kebahagiaan. Kami mohon, berilah kami nafas kehidupan baru, bila tertimpa oleh kesesakan. Bangkitkanlah kami untuk kehidupan. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami yang hidup berkuasa, sekarang dan selamanya. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (2:9-13)

"Sambil bekerja siang malam kami memberitakan Injil Allah kepada kalian."

9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. 13 Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.
Ayat.
(Mzm 139:7-12b)
1. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, Engkau pun ada di situ.
2. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, di sana pun tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
3. Jika aku berkata, "Biarlah kegelapan melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sempurnalah cinta Allah dalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (23:27-32)

"Kalian ini keturunan pembunuh nabi-nabi."

27 Pada waktu itu Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. 29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh 30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. 32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

“Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih


Saudara-saudari yang terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kuburan yang terawat dengan baik pada umumnya nampak bersih, indah dan menarik, namun isi kuburan adalah bangkai atau barang busuk. Maka jika Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ‘sama seperti kuburan yang dilabur putih’ berarti kecaman ini sungguh keras dan menyakitkan bagi mereka. Mungkinkah kita juga seperti para ahli Taurat atau orang Farisi, yang nampak bersih, rapi dan indah di bagian luar tetapi bagian dalam, hati dan jiwa serta akal budi busuk? Jika kita memang seperti atau mirip orang Farisi atau ahli Taruat yang dikecam oleh Yesus, baiklah hal itu kita sadari dan tentu saja hendaknya segera bertobat atau memperbaiki diri. Seperti ahli Taurat atau orang Farisi juga berarti gila akan harta benda/uang, pangkat/jabatan dan kehormatan duniawi, sebagaimana dihayati oleh sementara orang pada masa kini. Jika kita sungguh memberi hormat kepada orangtua atau nenek-moyang kita hendaknya tidak menjadi orang yang gila akan harta benda/uang, pangkat/jabatan dan kehormatan duniawi, melainkan gila akan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan jiwa. Maka baiklah kita kenangkan aneka macam nasihat, petuah, teladan hidup yang baik dari orangtua kita masing-masing dan kemudian kita hayati dalam hidup kita sehari-hari. Kami percaya bahwa orangtua kita masing-masing telah menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup serta mengajarkannya kepada kita anak-anaknya. Marilah “mikul dhuwur, mendhem jero” (= mengangkat tinggi-tinggi, mengubur dalam-dalam) orangtua kita masing-masing, arti memuliakan orangtua dengan perbuatan-perbuatan baik, yang membahagiakan dan menyelamatkan diri kita sendiri maupun orang lain.

· “Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.” (1Tes 2:11 -12) , demikian kata Paulus kepada umat di Tesalonika. Bagi kita yang menjadi “Paulus” kemungkinan adalah para guru, entah guru di sekolah atau guru agama atau pastor/pendeta/pak haji, dst.., yang kiranya senantiasa memberi nasihat-nasihat ‘seperti bapa terhadap anak-anaknya’, nasihat agar kita hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kita masuk ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya, sehingga ketika kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia sewaktu-waktu kembali hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga bersama Allah.

Hidup sesuai dengan kehendak Allah antara lain berarti senantiasa melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing. Semua aturan dan tatanan hidup hemat saya dijiwai oleh dan demi cintakasih, maka kiranya jika kita hidup saling mengasihi dan dalam kasih terus menerus dalam hidup kita sehari-hari berarti kita telah menghayati atau melaksanakan aneka tatanan dan aturan tersebut. “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."(Mrk 3:35). Dengan saling mengasihi dimanapun dan kapanpun maka dengan siapapun kita adalah saudara atau sahabat, tidak ada lagi aneka macam bentuk diskriminasi dalam kehidupan bersama. Memang untuk itu kita diharapkan untuk tidak hidup mengikuti keinginan atau selera pribadi alias seenaknya sendiri. Hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi berarti membawa orang yang bersangkutan ke penderitaan dan kesengsaraan untuk selama-lamanya.

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (Mzm 139:7-10)

Jakarta, 26 Agustus 2009



Ignatius Sumarya, SJ

Selasa, 25 Agustus 2009 :: Hari Biasa Pekan XXI

Selasa, 25 Agustus 2009
Hari Biasa Pekan XXI

Hai anak-Ku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu -- Amsal 3:21

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (2:1-8)


"Kami rela membagi dengan kalian, bukan hanya Injil Allah, melainkan hidup kami sendiri."


1 Saudara-saudara, kamu sendiri tahu, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis--hal itu kamu ketahui--dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi--Allah adalah saksi-- 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal kami.
Ayat.
(Mzm. 139:1-3.4-6)
1. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
2. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu di atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (23:23-26)


"Yang satu harus dilakukan, tapi yang lain jangan diabaikan."


23 Pada waktu itu Yesus bersabda, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. 25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan


Menjadi bangga dan sungguh bermanfaat untuk orang lain serta sesama karena kualitas diri yang handal, dinyatakan oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika. Sebuah keberanian yang hebat, sekaligus menjadi tanda kematangan seorang rasul utusan Allah. Paulus menunjukkan kualitas diri seperti itu bukan untuk mencari kehormatan diri, namun untuk meyakinkan umat akan kasih Allah yang mereka ungkapkan secara sungguh-sungguh untuk Allah yang menguji hati kita. Apa yang diungkapkan Santo Paulus, rasanya dalam kebudayaan kita tidaklah tepat, bahkan dianggap tabu. Namun senyatanya kalau tidak hati-hati, dalam sopan santun dan basa-basi yang ada pada kita, banyak hal yang kita ungkapkan bukan sebagai sebuah kualitas dan ketulusan hati, namun sebagai basa-basi yang penuh dengan tipuan.

Peristiwa peresmian sebuah proyek, orang mempunyai hajatan misalnya menikahkan atau hajatan yang lain, sering kali disertai dengan berutang sana sini, ataupun kalaupun dengan modal sendiri, ada harapan kembali modal. Apa yang diyakini baik oleh saudara-saudara kita, sering kali dibarengi dengan pamrih tertentu yang aduhai beratnya. Sikap sangat merendah ketia dipuji karena merasa tidak nyaman dengan pujian itu, sering kali membuat tanggapan kepada orang lain juga tidak tulus. Ada beberapa orang yang ketika dipuji langsung mengucapkan terima kasih sekaligus merasa diteguhkan dalam setiap sikap hidupnya. Sikap seperti itu menjadi salah satu cara belajar untuk memuji dengan tulus sekaligus memberi isi dari pujian yang diberikan oleh orang lain. Mari kiat bangga akan kualitas diri kita yang hebat, demi untuk menyenangkan hati Allah.



FX. Sukendar W, Pr - Inspirasi Batin 2009

Selasa, 25 Agustus 2009 :: Hari Biasa Pekan XXI

Selasa, 25 Agustus 2009
Hari Biasa Pekan XXI

Hai anak-Ku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu -- Amsal 3:21

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (2:1-8)

"Kami rela membagi dengan kalian, bukan hanya Injil Allah, melainkan hidup kami sendiri."

1 Saudara-saudara, kamu sendiri tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis--hal itu kamu ketahui--dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi--Allah adalah saksi-- 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal kami.
Ayat.
(Mzm. 139:1-3.4-6)
1. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
2. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu di atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (23:23-26)

"Yang satu harus dilakukan, tapi yang lain jangan diabaikan."

23 Pada waktu itu Yesus bersabda, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. 25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan


Menjadi bangga dan sungguh bermanfaat untuk orang lain serta sesama karena kualitas diri yang handal, dinyatakan oleh Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika. Sebuah keberanian yang hebat, sekaligus menjadi tanda kematangan seorang rasul utusan Allah. Paulus menunjukkan kualitas diri seperti itu bukan untuk mencari kehormatan diri, namun untuk meyakinkan umat akan kasih Allah yang mereka ungkapkan secara sungguh-sungguh untuk Allah yang menguji hati kita. Apa yang diungkapkan Santo Paulus, rasanya dalam kebudayaan kita tidaklah tepat, bahkan dianggap tabu. Namun senyatanya kalau tidak hati-hati, dalam sopan santun dan basa-basi yang ada pada kita, banyak hal yang kita ungkapkan bukan sebagai sebuah kualitas dan ketulusan hati, namun sebagai basa-basi yang penuh dengan tipuan.

Peristiwa peresmian sebuah proyek, orang mempunyai hajatan misalnya menikahkan atau hajatan yang lain, sering kali disertai dengan berutang sana sini, ataupun kalaupun dengan modal sendiri, ada harapan kembali modal. Apa yang diyakini baik oleh saudara-saudara kita, sering kali dibarengi dengan pamrih tertentu yang aduhai beratnya. Sikap sangat merendah ketia dipuji karena merasa tidak nyaman dengan pujian itu, sering kali membuat tanggapan kepada orang lain juga tidak tulus. Ada beberapa orang yang ketika dipuji langsung mengucapkan terima kasih sekaligus merasa diteguhkan dalam setiap sikap hidupnya. Sikap seperti itu menjadi salah satu cara belajar untuk memuji dengan tulus sekaligus memberi isi dari pujian yang diberikan oleh orang lain. Mari kiat bangga akan kualitas diri kita yang hebat, demi untuk menyenangkan hati Allah.



FX. Sukendar W, Pr - Inspirasi Batin 2009

Senin, 24 Agustus 2009 :: Pesta St. Bartolomeus, Rasul

Senin, 24 Agustus 2009
Pesta St. Bartolomeus, Rasul

Kuatkanlah hatimu hai segala rakyat negeri, demikianlah firman Tuhan, bekerjalah sebab Aku ini menyertai kamu -- Hagai 2:5

Doa Renungan

Allah Bapa kami di surga, kami bersyukur kepada-Mu atas anugerah kehidupan yang boleh kami terima.ah menyatakan diri kepada Santo Bartolomeus, rasul-mu yang suci, sehingga dia berani mengikuti-Mu dengan tekun dan setia. Ajarilah kami berdoa dan mengalahkan kejahatan berkat daya cinta kasih yang telah nampak di tengah kami dalam diri Yesus Al Masih yang sabda-Nya menyelamatkan kami. Dialah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Wahyu (21:9b-14)

"Tembok kota kudus dibangun atas dua belas batu dasar."

9b Aku Yohanes, mendengar seorang malaikat berkata kepadaku, "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." 10 Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. 11 Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. 12 Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. 13 Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. 14 Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Para kudus-Mu, ya Tuhan, memaklumkan Kerajaan-Mu yang semarak mulia.
Ayat.
(Mzm 145: 10-11,12-13ab,17-18)
1. Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.
2. Mereka memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia. Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan.
3. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (1:45-51)

"Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya."

45 Sekali peristiwa, Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." 46 Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" 47 Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" 48 Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." 49 Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" 50 Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." 51 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan


"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"
(Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51)


Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Bartolomeus, Rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Natanael atau Bartolomeus mungkin menjengkelkan bagi Filipus ketika diberitahu bahwa Filipus telah bertemu Yesus, Penyelamat Dunia, dari Nazaret, kemudian berkata: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret”. Tetapi ternyata Filipus berkata kepada Natanael : ”Mari dan lihatlah”. Dan setelah melihat, Natanael pun akhirnya percaya. “Melihat” dalam Injil Yohanes memiliki arti atau makna yang mendalam. Orang yang berhati, berjiwa dan berbudi baik ketika melihat sesuatu pada umumnya akan tergerak untuk berbuat baik: ada yang tidak beres segera dibereskan, yang tidak baik segera diperbaiki, dst.. Natanael begitu bertemu dan melihat Yesus langsung mengimaniNya sebagai Anak Allah, Penyelamat Dunia. Kita semua, yang dianugerahi mata tubuh baik alias tidak buta, kiranya dapat meneladan Natanael atau Bartolomeus. Lihatlah keindahan ciptaan Allah seperti manusia, binatang atau tanaman! Misalnya manusia, entah laki-laki atau perempuan, entah cantik atau tidak cantik, entah tampan atau tidak tampan, entah kaya atau miskin dst.. Lihat mereka tidak hanya dengan mata tubuh saja, tetapi juga dengan mata hati, maka anda pasti akan heran dan terkagum-kagum betapa indahnya setiap manusia, yang diciptakan sebagai citra dan gambar Allah. Kita dipanggil untuk melihat “malaikat-malaikat Allah turun naik kepada sesama atau saudara-saudari” kita alias apa-apa yang baik dalam diri sesama kita. Percayalah bahwa baik dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita apa yang baik lebih banyak dan dominant daripada apa yang jelek atau jahat.

· "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." (Why 21:9b). Pengantin perempuan pada umum dirias sedemikian rupa sehingga nampak bagaikan bidadari cantik, menarik dan mempesona bagi siapapun yang melihatnya. Bau wangi-wangian memancar dari pengantin perempuan, menusuk hidung dan mungkin juga membuat orang bergairah dan gembira. Apa yang dimaksudkan dengan pengantin perempuan dalam Kitab Wahyu ini kiranya adalah sahabat-sahabat Tuhan alias orang-orang baik yang berbudi pekerti luhur, yang sungguh beriman atau suci, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang sungguh bahagia dan ceria lahir maupun batin. Kegembiraan atau keceriaan yang demikian ini kiranya bagi anda yang pernah menjadi pengantin perempuan dapat mensharingkan pengalamannya kepada orang lain. Banyak orang memberi salam gembira dan mereka juga berpakaian begitu indah dan mempesona; semua perhatian terarah pada sang pengantin. Sebagai orang beriman kita diharapkan demikian juga: kahadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun menarik, memikat dan mempesona bagi orang lain, dan mereka yang melihatnya juga menjadi gembira dan ceria. Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘pewarta-pewarta gembira’, alias menyebarluaskan apa-apa yang menggembirakan dan menyelamatkan. Marilah kita saling membantu untuk menjadi ‘pengantin perempuan’ atau sahabat-sahabat Tuhan, agar kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun sungguh gembira dan ceria dan dengan demikian menarik, memikat dan mempesona bagi siapapun. Apa yang tersiar dari diri kita hendaknya ‘berbau wangi’ alias apa-apa yang baik dan membuat orang lain semakin ceria dan gembira.

“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad” (Mzm 145:10-13a)

Jakarta, 24 Agustus 2009

Ign Sumarya, SJ

Minggu, 23 Agustus 2009 :: Hari Minggu Biasa XXI

Minggu, 23 Agustus 2009
Hari Minggu Biasa XXI

Akan tetapi, aku dan seisi rumahku kami akan melayani Tuhan.” --- Yosua 24: 15.

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, bukalah hati kami terhadap Dia yang membebaskan kami, yaitu Yesus Al Masih, sabda yang ramah bagi siapa pun yang mencari makna hidup dan kebahagiaan. Dialah harapan bagi orang yang mengalami kesesakan dan penindasan. Dialah sabda-Mu sendiri yang hadir di tengah-tengah kami dan menjadi pengantara keselamatan bagi kami. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yosua (24:1-2a.15-17.18b)

"Kami akan beribadah kepada Tuhan,sebab Dialah Allah kita."

Menjelang wafatnya, Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel , para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan PS. 857
Ref. Kecaplah betapa sedapnya Tuhan, kecaplah betapa sedapnya Tuhan
Ayat.
(Mzm 34:2-3.16-17.18-19.20-21.22-23)
1. Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati, mendengarnya dan bersuka cita.
2. Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat, untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.
3. Apabila orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan. Dari segala kesesakannya, mereka Ia lepaskan. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
4. Kemalangan orang benar memang banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semua itu; Ia melindungi segala tulangnya, dan tidak satu pun yang patah.
5. Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. Tuhan membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (5:21-32)

"Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Saudara-saudara, hendaklah kamu saling merendahkan diri dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya, untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil PS. 956
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat: Sabda-Mu ya Tuhan, adalah roh dan hidup. Sabda-Mu adalah hidup yang kekal.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:60-69)

"Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal."

Setelah Yesus menyelesaikan ajaran-Nya tentang roti hidup, banyak dari murid-murid-Nya berkata, "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan


Rekan-rekan,

Yoh 6:60-69 menunjukkan bagaimana para murid yang paling dekat pun merasakan kesulitan memahami perkataan Yesus mengenai dirinya sebagai roti kehidupan yang turun dari surga. Lebih sukar lagi mengerti penjelasan Yesus dalam Yoh 6:65 bahwa tak ada seorang pun dapat datang kepadanya bila Bapa tidak mengaruniakannya. Untuk menemukan jalan sampai ke Bapa katanya perlu lewat Yesus. Tapi sekarang ditandaskan, untuk datang ke Yesus perlu karunia dari Bapa. Mau ke mana pembicaraan yang melingkar-lingkar ini? Tak mengherankan, banyak yang meninggalkannya dan tak jadi pengikutnya lagi. Agama kan mesti dijalani, tidak diomongkan melulu! Kita ini cuma ingin menjalankan yang dimaui Yang Kuasa, kok pakai putar-putar begitu. Begitulah pikir para murid. Marilah kita dalami Injil yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXI tahun B ini.

SANDUNGAN
Seperti disinggung di atas, kejadian ini berhubungan erat dengan pengajaran Yesus mengenai dirinya sebagai roti kehidupan dalam 6:25-50. Begini ceritanya. Di Kapernaum Yesus didatangi banyak orang yang mengharapkan makanan berlimpah seperti diberikannya beberapa waktu sebelumnya di seberang lain. Harapan seperti itu bahkan pernah membuat orang-orang sedemikian bersemangat sampai mau mengangkatnya menjadi raja. Tetapi Yesus menyingkir (Yoh 6:15). Baik diketahui, penguasa wilayah di Galilea waktu itu ialah Herodes Antipas yang kurang disukai orang Yahudi karena memihak kepentingan kaisar Romawi. Gairah orang banyak akan Yesus dilandasi harapan akan seorang pemimpin yang lebih memperjuangkan orang setempat. Yesus pun tahu akan hal ini. Tersirat dari kata-katanya yang memuat sindiran dalam Yoh 6:26: "...kamu mencari aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, [yakni percaya akan siapa Yesus itu sesungguhnya], melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang Yesus dianggap berkampanye politik dengan bagi-bagi makanan gratis! Tapi kali ini ia tidak menjauhi orang-orang yang mencarinya, melainkan memberi pengajaran bagaimana mereka mesti memurnikan harapan mereka. Ia berusaha membuat mereka sadar bahwa yang mereka butuhkan ialah makanan yang memberi hidup kekal, bukan sekadar pengisi kebutuhan sesaat. Orang banyak diajaknya mau menyadari kehadiran ilahi di dunia ini.

Sebetulnya mereka bersimpati pada imbauan Yesus tadi, tetapi mereka juga ingin tahu bagaimana "menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah", bagaimana dapat hidup sebaik-baiknya menurut kehendak-Nya. Yesus menjawab, hendaknya mereka percaya kepada dia yang telah diutus Allah sendiri kepada mereka (Yoh 6:28-29). Maksudnya, diri Yesus sendiri. Hendaknya mereka terbuka menerima ajarannya mengenai siapa Yang Maha Kuasa itu dan dengan demikian memperoleh hidup dariNya. Orang-orang itu kemudian menegaskan dalam ay. 31 bahwa leluhur mereka sudah tahu dan mempercayai perkara itu - mereka diberiNya makan roti dari surga. Mereka berpikir akan Kel 16:4 pengalaman umat di gurun dalam perjalanan ke Tanah Terjanji. Yesus kemudian menerapkan kepercayaan turun temurun itu kepada dirinya. Dia inilah roti kehidupan yang sebenarnya, yang kini diberikan dari surga untuk membuat manusia sampai ke tujuan perjalanan hidup mereka. Bukan seperti manna yang menjadi penyambung hidup sementara, dirinya memungkinkan orang sampai pada hidup kekal (Yoh 6:48-50).

Pengajaran baru seperti ini tidak begitu saja diterima orang. Injil Yohanes menyampaikan kesulitan dari dua kelompok orang. Dalam Yoh 6:50-59 (dibacakan Minggu lalu) ditunjukkan reaksi dari kalangan orang-orang Yahudi yang berkumpul mendengarkan pengajarannya di rumah ibadat di Kapernaum. Tanggapan kritis berikutnya berasal dari kalangan murid sendiri (ay. 60-69 yang dibacakan hari ini). Sulit mencernakan penegasan Yesus bahwa dirinya itu roti kehidupan dalam arti tadi. Kok sejauh itu. Apa kami sendiri dianggap tidak mampu mengalami kerahiman Allah secara langsung. Apa ini bukan klaim rohani yang berlebih-lebihan? Begitulah kiranya yang berkecamuk dalam benak para murid. Yesus mengerti kesulitan mereka. Memang perkataannya mengguncang, juga bagi mereka yang sudah mulai mengikutinya.

SPIRITUALITAS BARU
Pengajaran Yesus kepada orang-orang sezamannya dulu memang amat berani. Luar biasa! Bukan hanya mengguncang, tapi juga serasa meruntuhkan bangunan doktrin keagamaan yang hingga saat itu tak dipertanyakan dan tak boleh dipertanyakan. Yesus mengurungkan satu pokok yang paling dasar dalam bangunan keagamaan Yahudi, yakni gagasan bahwa dari hari ke hari umat dihidupi langsung oleh Allah dengan makanan dari surga. Ditegaskannya, hal itu belum cukup untuk menjamin orang sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni hidup abadi. Yang bakal menghidupi manusia ialah semua yang dilakukan dan diajarkannya. Pada kesempatan lain, ia bahkan berbicara mengenai keruntuhan Bait. Dan dirinya akan menjadi Bait, yakni tempat kediaman Allah, yang sesungguhnya. Maka orang diajak memasuki Bait yang baru ini, bersatu dengan yang paling inti dalam kehidupannya, yakni memperkenalkan Allah dalam wajah kebapaannya kepada seluruh umat manusia.

Tentu saja klaim seradikal itu bikin geger. Memang, bila tidak dicermati dengan hidup batin, lembaga keagamaan satu saat malah akan membekukan kehadiran ilahi yang sebenarnya tak dapat dipancang begini atau begitu dengan pasak doktrin dan peraturan ritual. Namun apa sekarang semuanya perlu ditanggalkan? Mana pegangan bahwa yang dipegang sekarang ini benar dan bukan hanya harapan semu? Tidak makin keblinger?

Yohanes mengajak pembacanya, dulu dan kini, untuk berani menghadapi soal ini. Pegangan satu-satunya ialah kata-kata Yesus sendiri. His words against our own convictions! Tapi apa kita tidak bakal jatuh ke dalam pelbagai spekulasi dan sikap otoriter lagi? Kalau mau lebih dikonkretkan? Yesus yang mana yang mesti kita pegang? Yang dijelaskan oleh Pastor, Uskup, Paus? Yang dirumuskan dalam Katekismus Gereja Katolik? Yang dialami dalam retret? Dan mana tuntunan Roh? Bagaimana dengan penjelasan yang jauh lebih menarik dari kalangan lain? Di situ ada kehangatan, lebih meriah, lebih menampung daripada kelompok kita sendiri! Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak.

Petikan hari ini juga menyodorkan hal sama kepada para murid dulu. Dan perkataan keras yang sulit dicerna telah membuat banyak pengikutnya mengundurkan diri. Tegas-tegas disebut demikian dalam Yoh 6:66. Dan Yesus sendiri seperti sudah lupa daratan. Ia malah menantang kelompok yang paling dekat, paling pilihan, yakni kedua belas murid. Yesus menantang, apa kalian tidak mau pergi juga? Dan seakan-akan belum cukup, malah mengatakan salah satu di antara dua belas murid pilihannya itu bahkan telah jadi Iblis! yang dimaksud ialah Yudas Iskariot, yang akan berkhianat.

SUDUT PANDANG YOHANES
Dua hal pokok disampaikan Yohanes. Pertama mengenai roti kehidupan yang turun dari surga. Berarti surga kini datang ke dunia manusia. Surga bukan lagi tempat sudah jadi yang nun jauh di sana dan belum terjangkau. Yang hendak ditawarkan Injil hari ini ialah benih surga yang tumbuh di dunia ini yang bila tumbuh terus akan membesar dan menaungi semua yang hidup di bawahnya. Tetapi dunia manusia telah sedemikian teralienasi dari keilahian tadi sehingga tidak dapat lagi menerimanya, tak dapat mencernakannya dan menjadikannya bagian dalam kehidupannya. Ini ironi terbesar dari keberadaan manusia. Satu-satunya jalan ialah bila Yang Maha Kuasa membuat manusia mampu ke sana. Caranya ialah dengan membuat satu orang dari antara manusia dapat melihat dan menghidupi kehadiran surga. Yesus ialah orang itu. Inilah kiranya yang dimaksud dengan karunia yang disebut dalam ay. 65. Sebetulnya tidak sesulit seperti dipikirkan para murid. Justru itulah yang terjadi.

Kedua, Yohanes menyampaikan pengakuan Petrus akan kemesiasan Yesus dengan cara yang khas. Pada bagian awal Injilnya, Yohanes menceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis memberi tahu dua orang muridnya bahwa Yesus yang lewat di situ itu adalah Anak Domba Allah (Yoh 1:36), maksudnya persembahan yang mendapat perkenan penuh dari Allah. Salah seorang yang mendengar sang Pembaptis itu, yakni Andreas, selanjutnya menemui Simon, saudaranya dan mengatakan "kami telah menemukan Mesias" dan membawanya kepada Yesus dan Yesus memberi Simon nama baru, yakni Kefas, artinya Petrus (Yoh 1:40-42). Dan kini di saat-saat kritis, Petrus menemukan kembali kekuatan yang memegangnya pada perjumpaan pertama tadi. Ia tak melihat orang lain yang dapat diikuti selain Yesus sendiri, ia memiliki perkataan yang membawa ke hidup kekal - ia itulah Yang Kudus dari Yang Maha Kuasa. Maksudnya, dirinya itulah tempat keilahian sendiri hadir secara utuh.

Surga itu kenyataan yang dapat mulai dibangun di sini bersama dengan dia yang ada dalam batin kita - Roti Kehidupan. Lebih lanjut, perjumpaan dengan dia yang amat dekat dengan Allah sendiri menumbuhkan kerohanian yang makin matang. Yesus bukan guru yang mengajarkan abc belaka, ia mengajak orang belajar menemukan Yang Ilahi yang sering samar-samar terlihat dan lirih terdengar.




Salam hangat,
A. Gianto