![]() |
| SiouxFall Diocese |
Minggu, 25 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXX
Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rm16:26 ; lih. Rm1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. (Dei Verbum, 5)
Antifon Pembuka (Mzm 105:3-4)
Bersukacitalah hati orang yang mencari Tuhan! Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya!
Let the hearts that seek the Lord rejoice; turn to the Lord and his strength; constantly seek his face.
Lætetur cor quærentium Dominum: quærite Dominum, et confirmamini: quærite faciem eius semper.
Doa Pagi
Allah yang kekal dan kuasa, ciptakanlah dalam diri kami hati yang tulus dan setia agar kami mampu melayani Engkau, ya Allah, yang mahaagung, dengan penuh bakti dan kasih. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Keluaran (22:21-27)
Hari Minggu Biasa XXX
Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rm16:26 ; lih. Rm1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan” dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. (Dei Verbum, 5)
Antifon Pembuka (Mzm 105:3-4)
Bersukacitalah hati orang yang mencari Tuhan! Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya!
Let the hearts that seek the Lord rejoice; turn to the Lord and his strength; constantly seek his face.
Lætetur cor quærentium Dominum: quærite Dominum, et confirmamini: quærite faciem eius semper.
Doa Pagi
Allah yang kekal dan kuasa, ciptakanlah dalam diri kami hati yang tulus dan setia agar kami mampu melayani Engkau, ya Allah, yang mahaagung, dengan penuh bakti dan kasih. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Keluaran (22:21-27)
"Jika kamu menindas seorang janda atau anak yatim, maka murka-Ku akan bangkit, dan Aku akan membunuh kamu."
Beginilah firman Tuhan, "Janganlah orang asing kautindas atau kautekan,
sebab kamu pun pernah menjadi orang asing di tanah Mesir. Seorang janda
atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau sampai menindas
mereka ini, pasti Aku akan mendengarkan seruan mereka. Jika mereka
berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit, dan
Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga istrimu menjadi janda dan
anak-anakmu menjadi yatim. Jika engkau meminjamkan uang kepada salah
seorang dari umat-Ku, yakni orang yang miskin di antaramu, janganlah
engkau berlaku sebagai seorang penagih utang terhadap dia; dan janganlah
kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah
temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya sebelum
matahari terbenam, sebab hanya itu sajalah penutup tubuhnya, hanya
itulah pembalut kulitnya; jika tidak, pakai apakah ia pergi tidur? Maka,
apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya sebab Aku
ini pengasih."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Aku mengasihi Engkau, ya Allah, kekuatanku.
Ayat. (Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2)
1. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku; ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahanan dan penyelamatku.
2. Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah Tuhan, seruku; maka aku pun selamat dari para musuhku.
3. Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku, Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1Tes 1:5c-10)
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Aku mengasihi Engkau, ya Allah, kekuatanku.
Ayat. (Mzm 18:2-3a.3bc.47.51ab; Ul: 2)
1. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan, kekuatanku; ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahanan dan penyelamatku.
2. Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah Tuhan, seruku; maka aku pun selamat dari para musuhku.
3. Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku, Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1Tes 1:5c-10)
"Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah dan menantikan kedatangan Anak-Nya."
Saudara-saudara, kamu tahu bagaimana kami bekerja di antara kamu demi kepentinganmu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman Tuhan dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya. Di mana-mana telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah berbicara lagi tentang hal itu. Sebab mereka sendiri bercerita tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk mengabdi kepada Allah yang hidup dan benar, serta untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 14:23)
Jika seorang mengasihi Aku, ia akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.
Inilah Injil Suci menurut Matius (22:34-40)
"Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat 22:37) Perkataan Yesus ini menyatakan kepada kita apa yang paling penting dalam hidup. Allah yang penuh kasih, yang memberikan perintah-perintah ini, juga menganugerahkan pertolongan yang kita perlukan untuk memahaminya saat muncul kebingungan. Oleh karena itu, izinkan saya mengajak kita semua untuk mencermati empat kata yang terdapat dalam ajaran Yesus tentang mengasihi Allah. Empat kata tersebut adalah: "dengan segenap akal budimu". Sering kali kita tidak mengaitkan akal budi dengan tindakan mengasihi. Bagi sebagian orang, penalaran yang mendalam dianggap bertolak belakang dengan kasih; namun dengan bijaksana, Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi Allah bukan hanya dengan segenap hati dan jiwa, melainkan juga dengan segenap akal budi kita. Jika kita tidak menggunakan akal budi, kita tidak dapat mengasihi. Itulah sebabnya ensiklik kedua Paus Benediktus XVI diberi judul "Caritas in Veritate", yang berarti kasih dalam kebenaran. Jika kita mencoba memisahkan kebenaran dari kasih, maka kasih itu menjadi hampa dan palsu. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Bersikap tanpa pertimbangan akal budi berarti gagal dalam mengasihi. Kasih dalam pernikahan, persahabatan, kasih terhadap sesama, bahkan kasih terhadap musuh, semuanya menuntut penggunaan akal budi yang cermat.
Kita harus meluangkan waktu untuk menimbang persoalan-persoalan yang rumit, membuat penilaian yang tepat mengenai apa yang benar dan salah, serta membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Mengasihi dalam kebenaran—terutama di zaman yang sering kali bertentangan dengan kebajikan kesetiaan dan kemurnian—menuntut kerja keras untuk mengarahkan akal budi kita pada ajaran iman yang tetap dan tak berubah, sebagaimana termuat dalam Kitab Suci, Magisterium, serta Katekismus Gereja Katolik. Hal ini terutama berlaku ketika muncul pertanyaan seputar kasih dalam pernikahan dan hubungan homoseksual. Katekismus menyatakan bahwa dalam pengajaran-Nya, Yesus secara tegas mengajarkan makna asli dari persatuan antara pria dan wanita, sebagaimana dikehendaki oleh Sang Pencipta sejak awal. Persatuan perkawinan antara pria dan wanita tidak dapat diceraikan; Allah sendirilah yang telah menetapkannya. Oleh karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Sebagaimana kita pahami, kasih dalam pernikahan—yakni pemberian diri secara total, sebagaimana diungkapkan dalam keintiman seksual—hanya ditemukan dalam perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita, yang hubungannya terbuka terhadap kehadiran anak. Mengenai hubungan homoseksual, Katekismus mengajarkan hal berikut:
Kitab Suci dan Tradisi senantiasa menyatakan bahwa tindakan homoseksual secara intrinsik tidak teratur. Tindakan tersebut bertentangan dengan hukum kodrat, menutup tindakan seksual terhadap anugerah kehidupan, dan tidak bersumber dari komplementaritas (saling melengkapi) afektif dan seksual yang sejati. Dalam keadaan apa pun, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Katekismus selanjutnya menegaskan, pada paragraf berikutnya, bahwa pria dan wanita yang memiliki kecenderungan homoseksual yang mendalam harus diterima dengan rasa hormat, belas kasih, dan kepekaan. Segala bentuk diskriminasi yang tidak adil terhadap mereka harus dihindari. Orang-orang ini dipanggil untuk memenuhi kehendak Allah dalam hidup mereka; dan jika mereka adalah umat Kristiani, mereka dipanggil untuk menyatukan berbagai kesulitan yang mungkin mereka hadapi akibat kondisi tersebut dengan pengorbanan salib Tuhan.
Sejalan dengan ajaran ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa pria dan wanita yang mengalami ketertarikan terhadap sesama jenis tidak boleh dikucilkan oleh keluarga atau teman-teman mereka, melainkan harus dikasihi sebagai anak-anak Allah. Yesus bersabda kepada kita semua: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Mat 5:8) Sungguh suatu anugerah untuk mengetahui bahwa mereka yang suci hatinya akan dapat melihat Allah dan bersukacita dalam kehadiran-Nya untuk selama-lamanya. Kita semua harus berupaya memperoleh rahmat untuk merangkul sabda bahagia dari Yesus ini dan menghayatinya dengan setia setiap hari. Dan jika kita pernah menyimpang dari kebijaksanaan ini, marilah kita dengan penuh keyakinan berpaling kepada rahmat pertobatan, penyesalan, dan hidup baru yang ditemukan dalam sakramen pengakuan dosa.
Saat kita berupaya mengikuti perintah Yesus untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita, tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras dalam belajar, melakukan diskresi (penilaian rohani), dan berpikir dalam doa bersama Gereja. Proses ini membebaskan kita dari kesesatan zaman kita sendiri dan—jika kita tekun—membawa kita menuju kepenuhan hidup serta kebenaran yang ditemukan dalam persekutuan dengan Yesus. Yesus menyebut iblis sebagai bapa segala dusta karena si jahat tidak pernah berhenti berusaha untuk menyesatkan kita. Syukur kepada Allah atas anugerah akal budi untuk berpikir, atas pengajaran Gereja yang terus-menerus untuk mengarahkan penilaian rohani kita, serta atas terang Roh Kudus yang menuntun pikiran dan keputusan kita.
Ketika Paus Fransiskus menyampaikan pemikirannya dalam sebuah wawancara, sudah sepatutnya kita mendengarkan dengan penuh hormat dan berupaya untuk memahami. Pada saat yang sama, sebagaimana beliau sendiri akan katakan, komentar-komentar semacam itu tidaklah sama dengan pelaksanaan tugas dan wewenang untuk mengajar secara definitif mengenai iman dan moral dalam persekutuan penuh dengan semua uskup.
Rasul Paulus menulis dengan terus terang dan penuh syukur, "Menurut pendapatku, Allah menempatkan kami, para rasul, pada tempat yang paling akhir... Kami menjadi orang-orang bodoh oleh karena Kristus." (1Kor 4:9) Jika Anda mengunjungi kota Roma dan mendekati Basilika Santo Petrus dari arah Sungai Tiber di sebelah timur, Anda akan disambut oleh lengan-lengan anggun dari barisan pilar karya Bernini, yang dihiasi dengan lebih dari seratus patung orang kudus di kedua sisinya serta di sepanjang fasad Basilika tersebut. Di tengah keindahan dan simetri yang memukau ini, Anda mungkin tidak akan menyadari keberadaan batu-batu raksasa yang menjadi fondasi Basilika Santo Petrus. Namun, jika Anda meluangkan waktu untuk mengamatinya dari dekat, tidak banyak hal yang tampak memanjakan mata. Batu-batu tersebut hanyalah bongkahan besar yang berfungsi sebagai landasan bagi patung-patung yang indah, jendela kaca patri, penopang eksternal (flying buttresses), serta mosaik-mosaik yang rumit. Meski demikian, setiap batu raksasa itu dipahat dengan cermat dan disusun secara harmonis, sehingga keindahan gereja paling terkenal di dunia ini dapat terus bertahan, memancarkan cahayanya, dan memberikan harapan bagi dunia. Batu-batu yang menopang Basilika Santo Petrus ini mengingatkan kita bahwa Gereja adalah keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sendiri sebagai batu penjurunya.
Setiap keluarga, setiap rumah tangga di dalam Gereja—terlepas dari salib apa pun yang kita pikul atau kesulitan apa pun yang kita hadapi—menemukan fondasi yang kokoh dalam kasih Kristus dan kebenaran Injil. Allah, yang memberikan dua perintah utama kepada kita—untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama—juga menganugerahkan harapan saat kita menjalankan perintah tersebut dengan kasih karunia-Nya. Sesungguhnya, hal ini merupakan jalan yang pasti menuju kebahagiaan dan kekudusan hidup. Yesus bersabda, jika engkau ingin memperoleh hidup, turutilah segala perintah-Nya. Saat kita menerima Yesus dalam Komuni Kudus, dan saat kita disucikan serta diperbarui oleh-Nya melalui sakramen pengakuan dosa, kita menjadi sosok sebagaimana yang dikehendaki Allah saat Ia menciptakan kita: sebagai putra dan putri yang dikasihi-Nya. Kepada merekalah Ia berfirman, "Janganlah takut, hai kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan Kerajaan itu kepadamu." (Luk 12:32) Dengan hidup di hadirat Tuhan, kita dapat menjadi perwujudan kasih di dalam rumah kita, di tengah keluarga besar dan sahabat, serta di dunia yang lebih luas. (THOMAS/RENUNGAN PAGI)
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
“Konsili
suci mengajarkan juga bahwa bahkan jika kadang terjadi bahwa seseorang
memiliki pertobatan yang disempurnakan oleh kasih dan telah berdamai
dengan Tuhan sebelum menerima sakramen, maka berdamainya ia dengan Tuhan
tidak menjadi bagian dari pertobatannya, tetapi kehendak yang kuat akan
sakramen inilah yang termasuk dalam pertobatannya.” (Konsili Trente, De
Sacramento paenintentiae, ch.4).




