| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini |Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Selasa, 27 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXX

 
Selasa, 27 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXX

“Terimalah apa pun yang Yesus berikan; dan berikanlah apa pun yang Ia minta, dengan senyum yang lebar.” (St. Teresa dari Kalkuta)


Antifon Pembuka (Luk 13:21)

Kerajaan Allah itu seumpama ragi yang diambil seorang ibu, dan dicampur dengan terigu tiga takar sehingga seluruhnya beragi.

Doa Pagi

Allah Bapa yang Maha Pengasih, taburkanlah kiranya sabda-Mu di seluruh dunia dan perkenankanlah kami menghasilkan buah, buah cinta kasih dan keadilan karena Dia yang telah berkenan memanggul dosa kami dan membebaskan kami. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.  
   
 
 
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Efesus (5:21-33)

"Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Saudara-saudara, hendaknya kalian saling merendahkan diri dalam takwa kepada Kristus. Para isteri hendaknya tunduk kepada suaminya, seolah-olah kepada Tuhan. Sebab suami adalah kepala isteri, sebagaimana Kristus adalah kepala atas Gereja. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, begitu pulalah isteri hendaknya tunduk kepada suaminya dalam segala hal. Para suami hendaknya mengasihi isterinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat, dan telah menyerahkan diri bagi jemaat untuk menguduskannya setelah menyucikannya dengan air dan firman. Maksudnya ialah supaya dengan demikian Kristus menempatkan jemaat di hadapan-Nya dalam keadaan cemerlang, tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi kudus dan tidak bercela. Demikian pula suami harus mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri; maka yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tak pernah orang membenci tubuhnya sendiri. Sebaliknya ia merawat dan mengasuhnya seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Karena itu pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dengan Gereja. Bagaimanapun juga bagi kalian masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri, dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan.
Ayat. (Mzm 128:1-2.3.4-5; R:1)
1. Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
2. Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur yang ada di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
3. Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan, orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion: boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Mat 11:25)
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang sederhana.
    
Inilah Injil Suci menurut Lukas (13:18-21)

"Biji itu tumbuh dan menjadi pohon."

Ketika mengajar di salah satu rumah ibadat, Yesus bersabda, “Kerajaan Allah itu seumpama apa? Dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya.” Dan Yesus berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)

Renungan
  
Kita sering kali hidup dengan asumsi bahwa "semakin besar, semakin baik." Dunia mengukur kesuksesan, kekuatan, dan keberhasilan dari angka, popularitas, serta skala yang raksasa. Namun, Yesus justru memiliki pandangan yang sepenuhnya berlawanan. Ketika Ia memulai karya-Nya, Ia tidak langsung mengumpulkan ribuan pengikut atau mendirikan institusi raksasa; Ia memanggil para murid secara personal, satu per satu, hingga terkumpul sebuah kelompok kecil dan bersahaja bersama-Nya. Cara pandang yang unik ini semakin ditegaskan ketika Ia mengajar di sebuah rumah ibadat. Alih-alih menyamakan Kerajaan Allah dengan kerajaan dunia yang tak tertandingi atau istana yang megah, Ia justru mengumpamakannya dengan sesuatu yang sangat remeh: sebutir biji sesawi yang ditaburkan orang di kebunnya. Biji yang sangat kecil dan seolah tak berarti itu, dalam prosesnya, tumbuh menjadi pohon yang begitu rindang hingga burung-burung di udara dapat bersarang di ranting-rantingnya. Tak berhenti di situ, Yesus kembali memberikan perumpamaan lain yang senada, membandingkan Kerajaan Allah dengan ragi yang diambil seorang wanita dan diaduk ke dalam tiga sukat tepung terigu. Meskipun jumlah raginya sedikit, kehadirannya yang sunyi perlahan namun pasti mampu membuat seluruh adonan tersebut beragi dan mengembang.

Bagi Yesus, yang kecil justru sering kali lebih baik, dan realitas ini mengundang kita untuk merenungkan makna di baliknya secara lebih mendalam. Kehadiran dan karya Tuhan tidak selalu berada di tengah sorak-sorai atau kerumunan massa yang masif, melainkan sering kali tersembunyi di balik hal-hal yang sederhana. Cobalah rasakan keheningan satu atau dua orang yang sedang khusyuk berdoa di kapel adorasi abadi pada larut malam, atau seorang imam yang sendirian di sakristi, mendaraskan Ibadat Harian dalam kesunyian untuk mendoakan keselamatan dunia. Bayangkan pula segelintir sukarelawan tangguh yang tanpa pamrih berjibaku memadamkan api yang berkobar di tengah hutan, menyelamatkan kehidupan di luar pandangan kamera. Hal-hal besar yang sungguh berdampak sering kali bermula dan digerakkan oleh kekuatan-kekuatan kecil semacam ini. Ada bahaya terselubung di balik kebesaran; ketika kita menjadi besar, merasa kuat, dan berjumlah banyak, kita sangat mudah tergoda untuk menjadi sombong dan hanya mengandalkan kehebatan kita sendiri. Sebaliknya, ketika kita dalam keadaan kecil dan menyadari segala keterbatasan yang ada, hati kita menjadi lebih terbuka dan rendah hati. Di titik ketidakberdayaan itulah kita akhirnya tersadar bahwa, persis seperti biji sesawi yang bertumbuh dan ragi yang bekerja dalam diam, segala sesuatunya bergantung sepenuhnya pada rahmat dan penyelenggaraan Allah.
 
  
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
  
Antifon Komuni (Luk :13:19)
 
Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil orang dan ditaburkan di kebunnya. Biji ini tumbuh dan menjadi pohon, sehingga unggas di udara dapat bersarang di ranting-rantingnya. 
 
 
Doa Malam

Allah Bapa Yang Mahabaik, jadikanlah aku yang kecil dan hina ini, ibarat biji yang tumbuh menjadi pohon dan mampu menaungi sesama dan membawa rasa aman. Semoga hidupku berarti dan menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Mu, sepanjang segala masa. Amin.  
     
RENUNGAN PAGI

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy