| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini |Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Kamis, 22 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXIX

 
Kamis, 22 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXIX
  
    "Tuhan kita telah menciptakan pribadi-pribadi untuk semua keadaan dalam kehidupan, dan dalam semua keadaan itu, kita melihat orang-orang yang mencapai kekudusan dengan memenuhi kewajiban mereka dengan baik." - St. Antonius Maria Claret

Antifon Pembuka (Mzm 33:11-12)

Rencana Tuhan tetap selamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya.
      
Doa Pagi

  
Ya Allah, Engkau telah mengutus Putra-Mu kepada kami. Kami mohon, semoga pertentangan-pertentangan yang terjadi dalam rangka menanggapi kedatangan Putra-Mu itu, tidak menghancurkan kami tetapi justru semakin menguji kemurnian dan kesungguhan iman kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
      

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus (3:14-21)

       
"Semoga kalian berakar dan beralas dalam kasih, dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah."
          
Saudara-saudara, aku bersujud di hadapan Bapa, pokok segala keturunan di surga dan di bumi. Aku berdoa supaya seturut kekayaan kemuliaan-Nya Ia menguatkan dan meneguhkan kalian oleh Roh yang di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu, Kristus diam di dalam hatimu, dan kalian berakar dan beralas dalam kasih. Aku berdoa supaya kalian bersama dengan semua orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus; juga supaya kalian dapat mengenal kasih itu, sekalipun melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa semoga kalian dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Dia sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita doakan atau kita pikirkan, seperti ternyata dari kuasa yang bekerja dalam diri kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam Jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya. Amin.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan. 
Ayat. (Mzm 33:1-2.4-5.11-12.18-19; R: 22)
1. Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
2. Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
3. Tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya!
4.Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

Bait Pengantar Injil, do = g, 4.4, PS 959
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 24:42a.44) 

Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, supaya aku memperoleh Kristus dan berada dalam Dia.  
      
Inilah Injil Suci menurut Lukas (12:49-53)

    
"Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan."
          
Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala! Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung! Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan! Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puteranya, dan putera melawan bapanya, ibu melawan puterinya, dan puteri melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu, dan menantu melawan ibu mertuanya."
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)

 

Renungan
 

 
Dalam keheningan batin, doa Rasul Paulus kepada Bapa bergema sebagai sebuah kerinduan terdalam umat manusia: agar kita diteguhkan oleh Roh, sehingga Kristus sungguh-sungguh diam di dalam hati kita dan kita berakar kuat dalam kasih. Kerinduan untuk dipenuhi oleh kehadiran Allah ini bukanlah sekadar harapan pasif, melainkan sebuah dorongan keberanian yang melintasi ruang dan waktu, seperti yang diserukan dengan lantang oleh Uskup Agung Krakow, Karol Wojtyla, pada tanggal 16 Oktober 1978  yang terpilih sebagai penerus Petrus. Saat ia muncul di balkon untuk menyapa dunia, ia mengutip perkataan Yesus: "Jangan takut." 
  
Enam hari kemudian, pada tanggal 22 Oktober, ia dilantik secara resmi sebagai Paus, sebagai penerus Petrus, Uskup Roma. Kala itu, ia tidak mengutip perkataan Yesus, melainkan mengutip perkataan Santo Paulus. Ia berkata, "Bukalah hatimu lebar-lebar bagi Kristus. Bukalah hatimu lebar-lebar bagi Kristus. Jangan takut."
    
Delapan bulan berselang, ia kembali ke tanah kelahirannya, Polandia, selama sembilan hari—dari tanggal 1 hingga 9 Juni 1979. Para cendekiawan menyebut peristiwa tersebut sebagai "sembilan hari yang mengubah dunia."
   
Pada hari terakhir kunjungannya, ia memimpin Misa— di hadapan dua juta rakyatnya di sebuah alun-alun di Warsawa. Saat ia hendak memulai khotbah, massa tidak membiarkannya, karena dua juta orang tersebut mulai menyerukan tiga kata: "Kami menginginkan Tuhan." Dua juta orang di bawah penindasan komunis berseru: "Kami menginginkan Tuhan." 
 
Pada akhirnya, seruan "Kami menginginkan Tuhan" dan ajakan "Jangan takut" merupakan undangan yang tak lekang oleh waktu bagi kita semua pada hari ini. Di tengah berbagai tantangan dan "penindasan" modern yang mungkin mengungkung hidup kita, kita dipanggil untuk kembali berlutut dan membuka batin bagi kepenuhan Allah. Ketika kita membiarkan Kristus bertahta dengan leluasa di dalam hati kita, ketakutan akan sirna, dan melalui keberanian serta iman kita, kemuliaan Allah akan terus terpancar di dalam Gereja dan di dalam Kristus Yesus, turun-temurun sampai selama-lamanya.

Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini  
 
 Kamis Pekan Biasa ke-29
Komentar hari ini
Paus Benediktus XVI, Angelus, 19 Agustus 2007

 
Dalam Injil [hari ini] ada ungkapan Yesus yang selalu menarik perhatian kita dan perlu dipahami dengan benar.

Ketika Ia sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, di mana kematian di kayu salib menanti-Nya, Kristus bertanya kepada para murid-Nya: "Apakah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan." Dan Ia menambahkan: "Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya." (Luk 12: 51-53).

Siapa pun yang memiliki sedikit saja pengetahuan tentang Injil Kristus tahu bahwa itu adalah pesan perdamaian yang luar biasa; Seperti yang ditulis oleh Santo Paulus, Yesus sendiri "adalah damai sejahtera kita" (Ef 2:14), Dia yang mati dan bangkit untuk merobohkan tembok permusuhan dan meresmikan Kerajaan Allah yang adalah kasih, sukacita, dan damai.
Jadi, bagaimana perkataan-Nya dapat dijelaskan? Kepada siapa Tuhan mengacu ketika Dia berkata bahwa Dia datang - menurut versi Santo Lukas - untuk membawa "pertentangan" atau - menurut versi Santo Matius - "pedang" (Mat 10:34)?
Perkataan Kristus berarti bahwa damai yang Dia bawa kepada kita bukanlah sinonim dari ketiadaan konflik. Sebaliknya, damai Yesus adalah hasil dari pertempuran terus-menerus melawan kejahatan. Perjuangan yang Yesus bertekad untuk dukung bukanlah melawan manusia atau kekuatan manusia, tetapi melawan Setan, musuh Allah dan manusia.
Siapa pun yang ingin melawan musuh ini dengan tetap setia kepada Allah dan kebaikan, tentu harus menghadapi kesalahpahaman dan terkadang penganiayaan yang nyata.
Karena itu, semua orang yang ingin mengikuti Yesus dan mengabdikan diri mereka tanpa kompromi kepada kebenaran, harus tahu bahwa mereka akan menghadapi pertentangan dan bahwa meskipun mereka sendiri tidak menginginkannya, mereka akan menjadi tanda perpecahan di antara orang-orang, bahkan di dalam keluarga mereka sendiri. Sesungguhnya, kasih kepada orang tua adalah perintah suci, tetapi untuk dihayati dengan autentik, kasih itu tidak akan pernah dapat didahulukan daripada kasih kepada Allah dan kasih kepada Kristus.

Maka, dengan mengikuti jejak Tuhan Yesus, sesuai dengan kata-kata terkenal Santo Fransiskus dari Assisi, umat Kristiani menjadi "alat-alat perdamaian"; bukan perdamaian yang tidak konsisten dan hanya tampak, tetapi perdamaian yang nyata, yang dikejar dengan keberanian dan keuletan dalam komitmen harian untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (lih. Rm 12:21) dan membayar sendiri harga yang menyertainya.

Doa Malam

Tuhan, Allah kami, Putra-Mu Yesus selalu hidup konsekuen dengan pengajaran-Nya. Berikanlah Roh Kudus kepada kami untuk mengikuti-Mu dengan tidak ragu-ragu di jalan yang mengantar kami kepada-Mu dan kepada sesama kami. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.
 
TD/RENUNGAN PAGI

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy