Minggu, 04 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXVII
Hari Minggu Biasa XXVII
Pesta Santo Fransiskus dari Assisi
Antifon Pembuka (Bdk. Est 3:2-3)
Semesta alam takluk kepada kehendak-Mu, ya Tuhan, dan tidak ada yang dapat menentangnya. Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, langit dan bumi serta segala isinya. Engkaulah Tuhan atas semesta alam.
Allah Yang Mahatinggi dan mulia, terangilah kegelapan hatiku. Berilah aku iman yang teguh, harapan yang pasti, dan kasih yang sempurna, serta hikmat dan pengertian, ya Tuhan, agar aku dapat melaksanakan perintah-Mu yang kudus dan benar.
- Santo Fransiskus dari Assisi
Antifon Pembuka (Bdk. Est 3:2-3)
Semesta alam takluk kepada kehendak-Mu, ya Tuhan, dan tidak ada yang dapat menentangnya. Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, langit dan bumi serta segala isinya. Engkaulah Tuhan atas semesta alam.
Within your will, O Lord, all things are established, and there is none
that can resist your will. For you have made all things, the heaven and
the earth, and all that is held within the circle of heaven; you are the
Lord of all.
In voluntate tua, Domine, universa sunt posita, et non est qui possit
resistere voluntati tuæ: tu enim fecisti omnia, cælum et terram, et
universa quæ cæli ambitu continentur: Dominus universorum tu es.
Doa Pagi
Allah Yang
Mahakuasa dan kekal, kebaikan-Mu tiada tara, jauh melampaui segala yang
kami mohon dan jauh melebihi jasa-jasa kami. Curahkanlah belas kasih-Mu
atas kami, singkirkanlah segala yang menggelisahkan hati kami, dan
tambahkanlah apa yang belum terungkap dalam doa-doa kami. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dan Renungan khusus untuk Peringatan St. Fransiskus dari Assisi tersedia di bagian akhir setelah renungan Minggu Biasa XXVII
Bacaan dari Kitab Yesaya (5:1-7)
"Kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel."
Aku hendak menyanyikan lagu tentang kekasihku, lagu kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihmu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lubang tempat memeras anggur, lalu dinantinya supaya kebuh itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang masam. Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem dan orang Yehuda, adililah Aku dan kebun anggur-Ku itu. Apakah yang masih harus Kuperbuat untuk kebun anggur-Ku itu yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya ia menghasilkan buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? Masa sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis. Aku akan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak; Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuhlah putri malu dan rumput; Aku akan memerintakan awan-awan supaya jangan menurunkan hujan di atasnya. Kebun anggur Tuhan semesta alam itu ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinantikan-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman; dinantikan-Nya kebenaran, tetapi hanya ada keonaran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = e, 4/4, R066
Ref. Kebun anggur Tuhan ialah umat Israel
Ayat. (Mzm 80:9+12.13-14.15-16.19-20; Ul: Yes 5:7)
1. Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir; Kauhalau bangsa-bangsa, lalu Kautanam pohon itu. Dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke Sungai Efrat.
2. Mengapa Engkau menggempur temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat? Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang memakannya.
3. Ya Allah semesta alam, kembalilah, pandanglah dari langit dan lihatlah! Tengoklah pohon anggur ini, lindungilah batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!
4. Maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu; biarlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu. Ya Tuhan, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka selamatlah kami.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (4:6-9)
"Lakukanlah semua yang telah kamu lihat padaku, maka Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai kamu."
Saudara-saudara, janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, itulah yang harus kamu pikirkan. Dan apa yang telah kamu pelajari, apa yang telah kamu terima, apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu! Maka Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai kamu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = es, 2/2, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 15:16)
Aku telah memilih kamu dari dunia, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, sabda Tuhan.
Inilah Injil Suci menurut Matius (21:33-43)
"Kebun anggur itu akan ia sewakan kepada penggarap-penggarap lain."
Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, "Dengarkanlah perumpamaan ini. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: yang seorang mereka pukuli, yang lain mereka bunuh, dan yang lain lagi mereka lempari dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang pertama. Tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya tuan itu menyuruh anaknya kepada mereka, pikirnya, 'Anakku akan mereka segani.' Tetapi, ketika para penggarap itu melihat anak itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Ia adalah ahli waris! Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.' Maka mereka menangkap dia, dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" Kata imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi kepada Yesus, "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan ia sewakan kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasil kepadanya pada waktunya." Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru? Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu Aku berkata kepadamu, 'Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.'
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
"Janganlah khawatir akan apa pun juga." Demikian tulis Rasul Paulus dalam bacaan kedua hari ini, yakni suratnya kepada jemaat di Filipi. Yesus pun sering mengajarkan hal yang sama: janganlah khawatir. Tentu, hal ini jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, terutama di suasana seperti saat ini. Nenek saya tidak pernah berusaha berhenti merasa khawatir sampai usianya menginjak 81 tahun. Ia yakin bahwa merasa khawatir adalah sebuah kewajiban baginya. Saya ingat betul kejadian bertahun-tahun silam, tepat sebelum saya berangkat untuk menempuh studi selama empat tahun; Nenek berkata kepada saya, "Aku tahu aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarga kita. Hanya akulah yang merasa khawatir." "Siapa yang akan memikirkan nasib mereka jika aku sudah tiada?" Kepada siapa pun yang meminta nasihatnya tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup, ia selalu mengatakan dua hal: tetaplah sibuk dan bekerjalah dengan keras. Jauh di lubuk hatinya, saya rasa ia tahu bahwa kerja keras saja tidaklah cukup; namun, karena ia bukan seorang wanita yang hidup dalam iman, satu-satunya hal yang merasa wajib ia lakukan selain bekerja hanyalah merasa khawatir. Masalahnya, kekhawatiran tidaklah membantu siapa pun. Hal itu justru mengalihkan perhatiannya dari upaya membangun hubungan yang baik dengan sesama, serta menyulitkannya untuk mengarahkan pandangan kepada Tuhan.
Santa Teresa dari Avila, yang menghadapi banyak kesulitan dalam upayanya mereformasi Ordo Karmel, juga pernah bergulat dengan rasa cemas. Ia bahkan pernah berkata kepada Yesus, "Tuhan, jika beginilah cara-Mu memperlakukan sahabat-sahabat-Mu, tidak mengherankan jika Engkau hanya memiliki sedikit sahabat." Namun, berkat rahmat Tuhan dan bimbingan rohani yang baik, Santa Teresa akhirnya menyadari betapa sia-sianya rasa khawatir itu. Pada akhirnya, saat menghadapi kesulitan dan kemunduran yang memalukan—yang sering sekali ia alami—ia belajar untuk berkata, "Tuhan, aku tahu dalam iman bahwa Engkau menyertaiku. Apa pun yang terjadi, biarlah aku percaya bahwa Engkau sedang berkarya di sini: menyembuhkan luka, membebaskan jiwa dari dosa, memurnikan hati, serta mewujudkan hal-hal yang jauh lebih besar daripada yang dapat kulihat." Santa Teresa belajar bahwa obat penawar kekhawatiran adalah dengan mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu; dengan demikian, apa pun yang kita butuhkan akan dianugerahkan-Nya kepada kita.
Dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus hari ini, terdapat eskalasi kekerasan yang dilakukan oleh para penggarap kebun anggur. Setiap adegan berikutnya ditandai dengan tindakan permusuhan yang semakin mengejutkan. Pada adegan pertama, para penggarap menangkap hamba-hamba pemilik kebun. Mereka memukuli seorang hamba, melempari hamba lainnya dengan batu, dan membunuh hamba yang ketiga. Pada adegan kedua, lebih banyak lagi hamba yang diutus, dan mereka diperlakukan dengan lebih kejam lagi. Lalu pada adegan ketiga, pemilik kebun mengutus satu-satunya anak laki-lakinya, dengan harapan mereka setidaknya akan menghormati anaknya itu; namun mereka justru menangkapnya, melemparkannya ke luar kebun anggur, dan membunuhnya.
Perhatikanlah bahwa saat Yesus selesai menceritakan kisah itu, Ia mengarahkan perhatian kita bukan kepada para penggarap dan kekerasan mereka yang terus meningkat, melainkan kepada sang pemilik kebun, yang dalam perumpamaan alegoris ini melambangkan Allah Bapa. Sama sekali tidak ada momen di mana pemilik kebun itu menggunakan kekerasan. Ia tidak menuntut pembalasan "mata ganti mata" atau "gigi ganti gigi". Sebaliknya, dalam setiap situasi, Ia berusaha mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Setelah menyampaikan perumpamaan itu, Yesus menguji para pendengar-Nya untuk melihat apa yang telah mereka pelajari. Ia bertanya kepada mereka, apa yang akan dilakukan pemilik kebun anggur itu terhadap para penggarap tersebut saat ia datang? Mereka menjawab bahwa ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dengan kematian yang mengerikan dan menyewakan kebun anggurnya kepada penggarap-penggarap lain.
Perhatikanlah, mereka hanya berfokus pada kekerasan dan pengkhianatan yang terus meningkat dari pihak para penggarap. Mereka sama sekali mengabaikan respons sang pemilik kebun dalam perumpamaan tersebut. Maka mereka menjawab bahwa ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dengan kematian yang mengerikan. Namun, bukan demikianlah cara Tuhan menanggapi, dan bukan pula cara Allah Bapa bertindak sepanjang sejarah dalam menghadapi segala kekerasan dan ketidakadilan umat pilihan-Nya. Justru sebaliknya, Ia terus mengutus lebih banyak lagi hamba kepada mereka. Para nabi—seperti Yeremia, Hosea, Elia, dan yang lainnya. Dan meskipun mereka berulang kali diperlakukan dengan buruk, pada saat yang tepat, Ia mengutus satu-satunya Anak-Nya yang terkasih. Bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menebusnya melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya sendiri.
Sebagai Anak Domba Allah yang tak berdosa, Ia menanggung dosa dan rasa malu kita. Ia mengatasi kekerasan dengan pengampunan, menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, dan menghadirkan Kerajaan Allah. Saat kita mendengar kabar tentang kekerasan yang mengerikan, bagaimana reaksi kita? Apakah tanggapan kita dibentuk oleh iman kita kepada Allah? Ketika konflik muncul dalam keluarga atau di negara kita sendiri, atau ketika sikap meremehkan martabat manusia membayangi budaya kita, apakah kita membiarkan diri dikuasai oleh kecemasan dan kekhawatiran? Memang mudah untuk bersikap demikian, namun hal itu tidaklah bermanfaat.
Ada langkah-langkah konstruktif yang bisa kita ambil, namun pada akhirnya, baiklah kita memanjatkan doa seperti doa Santa Faustina: "Yesus, aku percaya kepada-Mu." Dengan mengandalkan kerahiman Allah, kita dapat mempraktikkan nasihat Santo Paulus dalam Surat Filipi hari ini. "Janganlah khawatir tentang apa pun juga, tetapi dalam segala hal, sampaikanlah permohonanmu kepada Allah melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur; maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."
Nenek saya berusia 81 tahun ketika kakek saya meninggal dunia. Beliau masih hidup selama 16 tahun lagi, dan selama masa itu, perlahan-lahan, beliau mulai melepaskan kekhawatirannya karena cahaya iman mulai menyingsing secara bertahap dalam hidupnya. Saya teringat akan surat yang beliau tulis untuk saya saat kakek saya meninggal dunia. Itu adalah kali pertama dalam surat-suratnya kepadaku ia menyebut kata "Tuhan". Dan saat ia menutup surat dengan ungkapan kasih dan doa, belum pernah sebelumnya ia menggunakan kata-kata itu. Aku selalu menutup surat-suratku untuknya dengan cara demikian, namun ia tidak pernah melakukannya. Namun, hal yang jauh lebih bermakna dalam surat itu adalah saat ia mengatakan sesuatu yang positif tentang umat Katolik.
Ia berkata, "Ketika kakekmu meninggal, aku menerima 240 pucuk surat dan bunga."
"Semuanya—kecuali 40 pucuk—berasal dari umat Katolik. Aku mendapati bahwa umat Katolik tahu bagaimana menghadapi kematian. Yesus senantiasa mencari kita." Belas kasih-Nya sungguh ajaib, dan membebaskan kita dari kekhawatiran jika kita berserah diri kepada-Nya. Sementara dunia membalas kekerasan dengan kekerasan, dan di tengah banyaknya hal di sekeliling kita yang dapat menimbulkan kekhawatiran, marilah kita ingat bahwa Kristus senantiasa menanggapi dengan pengampunan dan belas kasih. (THOMAS/RENUNGAN PAGI)
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
"Segala kegelapan di dunia tidak dapat memadamkan cahaya sebatang lilin." (Santo Fransiskus dari Assisi)
Antifon Komuni (Rat 3:25)
Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
The Lord is good to those who hope in him, to the soul that seeks him.
Atau (Bdk. 1Kor 10:17)
Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh sebab kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.
Though many, we are one bread, one body, for we all partake of the one Bread and one Chalice.
Bacaan dan renungan khusus
untuk Pesta St. Fransiskus dari Assisi:
Antifon Pembuka
Santo Fransiskus, utusan Allah, meninggalkan rumah ayahnya, melepaskan harta warisannya, dan menjadi miskin dan hina dina. Tetapi Tuhan mempermuliakannya.
Francis, the man of God, left his home behind, abandoned his inheritance and became poor and penniless, but the Lord raised him up.
atau (Gal 6:14)
Mihi autem absit glorári, nisi in cruce Dómini nostri Jesu Christi: per quem mihi mundus crucifíxus est, et ego mundo.
Ayat. (Mzm. 141: 2)
1. Voce mea ad Dóminum clamávi: voce mea ad Dóminum deprecátus sum.
2. Gloria Patri et Filio et Spiritui Sancti sicut erat in principio et nunc, et semper, et saecula saeculorum. Amen.
Mihi autem absit glorári, nisi in cruce Dómini nostri Jesu Christi: per quem mihi mundus crucifíxus est, et ego mundo.
Doa Pagi
Ya Allah, Santo Fransiskus menjadi miskin dan rendah hati seperti Kristus sendiri. Semoga, kami umat-Mu, bersukacita di dalam Dikau agar kami, yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, dapat menikmati sukacita abadi. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Berikut ini adalah bacaan yang disarankan untuk Peringatan hari ini. Akan tetapi, bacaan untuk Peringatan juga dapat diambil dari Bacaan Umum Orang Kudus Laki-laki dan Perempuan: Untuk Para Religius, #737-742. #737-742 atau dari Masa Biasa
Bacaan I
Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (50:1.3-4.6-7)
Pemimpin saudara-saudaranya dan kebanggaan umatnya, ialah Simon bin Onias, imam besar. Di masa hidupnya ia memperbaiki rumah Tuhan dan di masanya Bait Allah dikukuhkannya. Di zamannya dipahatlah sebuah penadah air, dan sebuah waduk sebesar lautan. la berpikir-pikir bagaimana keruntuhan umat dapat dicegah, dan kota diperkuatnya untuk menghadap pengepungan. Laksana bintang kejora di tengah-tengah awan-kemawan, dan bagaikan bulan purnama, seperti matahari yang bersinar di atas Bait Allah Yang Mahatinggi, dan sebagai pelangi bersemarak di tengah mega yang cemerlang;
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2, 5, 7-8, 11; Ul: 5a)
1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
2. Aku memuji Tuhan yang telah memberikan nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak akan goyah.
3. Engkau memberitahukan kepadaku, ya Tuhan, jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.
Bacaan II
Pemimpin saudara-saudaranya dan kebanggaan umatnya, ialah Simon bin Onias, imam besar. Di masa hidupnya ia memperbaiki rumah Tuhan dan di masanya Bait Allah dikukuhkannya. Di zamannya dipahatlah sebuah penadah air, dan sebuah waduk sebesar lautan. la berpikir-pikir bagaimana keruntuhan umat dapat dicegah, dan kota diperkuatnya untuk menghadap pengepungan. Laksana bintang kejora di tengah-tengah awan-kemawan, dan bagaikan bulan purnama, seperti matahari yang bersinar di atas Bait Allah Yang Mahatinggi, dan sebagai pelangi bersemarak di tengah mega yang cemerlang;
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisanku.
Ayat. (Mzm 16:1-2, 5, 7-8, 11; Ul: 5a)
1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
2. Aku memuji Tuhan yang telah memberikan nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak akan goyah.
3. Engkau memberitahukan kepadaku, ya Tuhan, jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.
Bacaan II
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (6:14-18)
Saudara-saudara, aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Bagi semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, dan bagi semua orang yang menjadi milik Allah, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat. Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Saudara-saudara, Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai rohmu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4 kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (lih. Mat 11:25)
Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil.
Bacaan Injil
Saudara-saudara, aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Bagi semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, dan bagi semua orang yang menjadi milik Allah, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat. Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Saudara-saudara, Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai rohmu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4 kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (lih. Mat 11:25)
Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil.
Bacaan Injil
Inilah Injil Suci menurut Matius (11:25-30)
Sekali peristiwa berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab misteri Kerajaan Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan oleh Bapa kepada-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, serta orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”
Sekali peristiwa berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab misteri Kerajaan Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan oleh Bapa kepada-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, serta orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang Kupasang, dan ringanlah beban-Ku.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Dalam hal Ekaristi—yang menjadi topik nasihat pertama dari dua puluh delapan nasihat yang ia tulis bagi para saudaranya—ia menguraikannya secara paling panjang dan mendalam. Ia mengajarkan bahwa Kristus hadir di tengah kita dalam rupa yang sederhana; kita diajak untuk memandang-Nya dengan mata iman dan meyakini bahwa rupa roti dan anggur itu sungguh-sungguh merupakan Tubuh dan Darah-Nya yang hidup dan nyata. Ia senantiasa menegaskan bahwa Yesus selalu menyertai kita dan setia hadir dalam Ekaristi. Ia juga melambungkan pujian yang indah bagi Santa Perawan Maria. Ia menggunakan ungkapan "Perawan yang menjadi Gereja," yang bermakna bahwa Maria adalah anggota pertama Gereja; sosok yang secara pribadi menjadi perwujudan sekaligus pemenuhan hakikat Gereja itu sendiri.
Ia menaruh kekaguman, rasa hormat, dan devosi yang mendalam kepada Bunda Maria, sosok yang dipilih Allah untuk menjadi istana, tabernakel, kediaman, jubah, serta hamba dan ibu bagi-Nya. Ia memupuk devosi yang besar ini terhadap Maria. Selain itu, ia juga mengikrarkan kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan—menjadi ordo pertama yang mengikrarkan ketiga kaul tersebut. Ia sendiri menghayati kemiskinan sebagaimana yang ia lihat dalam kehidupan Tuhan kita—teladan kerendahan hati yang rela merendahkan diri, menjadi sama seperti kita, dan menjadi hamba yang hina dalam penderitaan. Ia pun bergaul serta melayani mereka yang paling hina, seperti para penderita kusta dan kaum miskin.
Hari ini kita merayakan Pesta agung Santo Fransiskus. Saya ingin menyambut saudara-saudara Fransiskan setempat di mana pun Anda berada yang melakukan karya luar biasa bagi kaum miskin. Santo Fransiskus adalah salah satu orang kudus yang paling dicintai. Ia hidup antara tahun 1181 hingga 1226, suatu masa yang penuh perubahan besar di Abad Pertengahan. Muncul kelas pedagang baru, dan ayah Santo Fransiskus termasuk di dalamnya; beliau adalah seorang pedagang kain. Ia biasa bepergian jauh hingga ke Prancis untuk membeli kain. Ia sangat mencintai budaya dan rakyat Prancis, hingga akhirnya menamai putranya Fransiskus. Pada masa itu, biara-biara Benediktin—yang telah berdiri selama berabad-abad sebelumnya—menjadi sumber stabilitas yang besar, bahkan kota-kota sering kali tumbuh dan berkembang di sekitar biara-biara tersebut.
Namun, masa perubahan ini juga ditandai dengan mobilitas yang lebih tinggi akibat Perang Salib. Sistem jalan raya dikembangkan untuk mengumpulkan orang-orang—menghimpun pasukan untuk berangkat ke Tanah Suci—yang pada gilirannya memungkinkan orang untuk lebih banyak bepergian. Selain itu, terjadi konflik antara kota-kota yang berada di bawah kekuasaan Paus dan kota-kota kekaisaran. Assisi adalah kota kekaisaran, dan sering terjadi konflik antara kota-kota tetangga, bahkan antara kaisar dan raja-raja pada masa itu. Banyak orang mendambakan kebebasan dari belenggu sistem feodal. Munculnya kelas pedagang memberikan mereka akses terhadap uang; penggunaan mata uang logam mulai berkembang dan meluas saat itu. Pasukan tentara bayaran pun dapat dibentuk, sehingga kebutuhan akan perlindungan tradisional tidak lagi sebesar sebelumnya. Mungkin inilah yang memicu kerinduan yang lebih besar akan kebebasan pada masa itu. Saya rasa, salah satu hal yang membuat orang begitu mencintai Santo Fransiskus—terutama di masa kini saat kita mungkin memikul beban hidup yang berbeda—adalah kebebasan, sukacita, kedamaian, serta kesederhanaan hidup Injili yang ia teladankan.
Santo Fransiskus sendiri mengalami peristiwa pertobatan. Ia pernah ikut serta dalam pasukan Perang Salib dan sempat melakukan perjalanan bersama mereka selama satu hari, hingga akhirnya ia menerima sebuah penglihatan yang mempertanyakan: manakah yang lebih mulia, melayani sang tuan atau melayani sang hamba? Dia ingin menjadi seorang ksatria dan melakukan hal-hal besar. Namun, Tuhan berfirman kepadanya untuk melayani Sang Tuan—melayani-Nya. Maksudnya, menjadikan-Nya yang utama dalam hidupnya. Dia juga memiliki pengalaman bertemu dengan seorang penderita kusta di padang Assisi; orang itu menjadi utusan Tuhan baginya. Peristiwa itu sungguh memanggilnya untuk bertobat. Dia pun bergumul batin memikirkan apa yang sebenarnya Tuhan kehendaki darinya. Bagaimana ia harus menjalani hidup baru ini, bahkan melakukan pembaruan di sekitarnya? Ada perdebatan mengenai bagian mana yang sebenarnya ia buka dalam buku Misa—buku yang memuat bacaan Kitab Suci serta doa-doa Misa—di gereja San Nicolo. Sebagian orang meyakini—bahkan ada sebuah buku Misa yang tersimpan di museum St. Francis Hughes di Baltimore—bahwa ia membuka bagian Markus 10:21, kisah tentang pemuda kaya. Yesus memandangnya dengan penuh kasih dan berkata, "Pergilah, juallah apa yang kaumiliki, berikanlah hasilnya kepada orang-orang miskin, lalu datang dan ikutlah Aku."
Kemudian dalam Lukas bab 9, saat pengutusan kedua belas murid, dikatakan agar mereka tidak membawa apa-apa untuk perjalanan itu. Dalam Matius 16: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku." Jadi, ada unsur menjual harta benda, berbagi dengan orang miskin, pewartaan Injil, serta sikap bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Baru-baru ini, saya merenungkan hal yang indah mengenai pengutusan itu. Seorang imam berkata bahwa mungkin para rasul—atau ketujuh puluh murid yang diutus itu—merasa khawatir. "Bagaimana jika kami ditolak? Bagaimana jika perbekalan kami tidak cukup untuk perjalanan?" Imam itu kemudian menawarkan sebuah renungan. Mungkin Yesus berkata, "Aku tidak ingin kalian mengkhawatirkan hal-hal itu. Jadi, janganlah membawa apa-apa. Dengan begitu, kalian tidak perlu khawatir akan kehilangan apa pun, bukan? Milikilah sikap lepas bebas agar kalian bisa sepenuhnya bergantung pada Kristus." Dan tentu saja, ada pula makna salib. Untuk menjadi murid, kita menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Dikatakan bahwa para orang kudus adalah pembaharu sejati dalam masyarakat, yang dibimbing oleh terang Allah. Mereka dibimbing oleh kehadiran Allah dan firman-Nya. Santo Fransiskus pun melihat kehadiran itu di alam semesta. Ia mungkin merupakan salah satu tokoh pertama yang benar-benar mengungkapkan hal tersebut—melihat tangan kasih Allah dalam dunia ciptaan di sekitarnya serta memandang adanya persaudaraan dengan makhluk-makhluk ciptaan lainnya.
Pada masa itu, terdapat kelompok-kelompok sesat lain yang berupaya menyikapi berbagai persoalan, namun dua tarekat pengemis (mendicant orders)—yaitu Dominikan dan Fransiskan—muncul sebagai jalan pembaruan yang sejati. Mereka hidup dari derma dan pergi mewartakan Injil kepada dunia di sekitar mereka. Seperti yang telah saya sebutkan, pada masa itu terdapat gerakan biara yang begitu besar, bahkan kota-kota pun tumbuh di sekeliling biara-biara agung tersebut. Biara-biara itu memiliki harta benda, kekayaan, dan bangunan fisik, serta menjadi pusat pembelajaran, ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, stabilitas, dan kemakmuran bagi masyarakat. Namun, muncul pula godaan akan kekayaan dan materi, serta risiko kehilangan fokus pada Injil. Mereka dituduh telah menjauh dari pola hidup umat Kristen perdana, dan khususnya kaum klerus pada dasarnya, mereka mulai terjerumus ke dalam kehidupan duniawi. Kelompok-kelompok sesat pun menentang pelayanan uskup dan menyebarluaskan ajaran-ajaran sesat.
Pada masa itu, terdapat kaum Albigensian; mereka memandang rendah dunia materi dan menolak kekayaan, yang pada akhirnya berkembang menjadi penolakan terhadap segala realitas materi—bahkan penyangkalan akan kehendak bebas—serta paham dualisme yang mengakui adanya prinsip keilahian kedua dalam sosok Allah yang jahat. Jadi, itu adalah upaya yang gagal dalam menanggapi persoalan-persoalan zaman itu. Santo Fransiskus menyusun peraturan hidupnya dan menyerahkannya untuk mendapatkan persetujuan Gereja. Di sini kita melihat kerendahan hati untuk mempraktikkan ketaatan serta membiarkan diri dibimbing oleh Gereja dan cara hidup Injili. Seperti yang telah saya sebutkan, daya tarik utamanya bagi banyak orang jelas terletak pada kebebasan, sukacita, dan damai sejahtera ini.
Injil hari ini berkata kepada kita: "Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu." Jadilah seperti anak-anak yang menerima segalanya dari tangan Tuhan kita dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Segala pembaruan berpusat pada Yesus Kristus—bahwa Dia menyelamatkan kita melalui salib—seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam bacaan hari ini dari Surat Galatia, bahwa ia hanya akan bermegah dalam salib. Dan itulah tempat terjadinya pembaruan; itulah satu-satunya hal yang penting. Ia mengatakan bahwa yang terpenting adalah seseorang diciptakan kembali. Hal itu terjadi melalui salib. Santo Fransiskus pun memikul salib itu dengan cara yang istimewa. Bahkan, ada salib San Damiano—salib yang indah, tempat ia berdoa untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan dengan hidupnya. Dan Tuhan menyapanya serta berkata, "Bangunlah kembali Gereja-Ku yang kulihat sedang runtuh ini."
Awalnya, Santo Fransiskus mengira itu berarti pembangunan fisik bangunan gereja, namun kemudian jelaslah bahwa kita perlu membangun kembali "Gereja" dalam diri kita sendiri terlebih dahulu; pembaruan itu bermula dari diri kita masing-masing secara pribadi. Jadi, pembaruan itu datang melalui salib. Ia sendiri menerima stigmata pada dua tahun terakhir hidupnya. Ia begitu menyatu dengan Kristus dan begitu terfokus pada hal itu. Dan tentu saja, ketika kita berfokus pada Kristus, kita memusatkan perhatian pada Dia, pada firman-Nya, dan pada Kitab Suci. Segala ajaran dan nasihat-Nya sarat dengan rujukan serta kutipan dari Kitab Suci—hal-hal yang nyata dan dapat kita lihat.
Dalam hal Ekaristi—yang menjadi topik nasihat pertama dari dua puluh delapan nasihat yang ia tulis bagi para saudaranya—ia menguraikannya secara paling panjang dan mendalam. Ia mengajarkan bahwa Kristus hadir di tengah kita dalam rupa yang sederhana; kita diajak untuk memandang-Nya dengan mata iman dan meyakini bahwa rupa roti dan anggur itu sungguh-sungguh merupakan Tubuh dan Darah-Nya yang hidup dan nyata. Ia senantiasa menegaskan bahwa Yesus selalu menyertai kita dan setia hadir dalam Ekaristi. Ia juga melambungkan pujian yang indah bagi Santa Perawan Maria. Ia menggunakan ungkapan "Perawan yang menjadi Gereja," yang bermakna bahwa Maria adalah anggota pertama Gereja; sosok yang secara pribadi menjadi perwujudan sekaligus pemenuhan hakikat Gereja itu sendiri.
Ia menaruh kekaguman, rasa hormat, dan devosi yang mendalam kepada Bunda Maria, sosok yang dipilih Allah untuk menjadi istana, tabernakel, kediaman, jubah, serta hamba dan ibu bagi-Nya. Ia memupuk devosi yang besar ini terhadap Maria. Selain itu, ia juga mengikrarkan kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan—menjadi ordo pertama yang mengikrarkan ketiga kaul tersebut. Ia sendiri menghayati kemiskinan sebagaimana yang ia lihat dalam kehidupan Tuhan kita—teladan kerendahan hati yang rela merendahkan diri, menjadi sama seperti kita, dan menjadi hamba yang hina dalam penderitaan. Ia pun bergaul serta melayani mereka yang paling hina, seperti para penderita kusta dan kaum miskin.
Dalam pelayanan—dan khususnya dalam Ekaristi—ia berpesan agar kita tidak menahan apa pun bagi diri sendiri, supaya Dia yang menyerahkan diri-Nya sepenuhnya bagi kita dapat menerima kita sepenuhnya pula. Jadi, pembaruan yang dibawa oleh Fransiskus dan ordonya ini memberikan dampak besar bagi masyarakat, budaya, dan seni. Demi mencapai esensi Injil—yakni mengikuti Tuhan kita serta membangun komunitas dan ketaatan—ia membentuk ordo ketiga bagi kaum awam. Tujuannya agar mereka dapat menghayati nasihat-nasihat Injil tersebut—bukan sebagai kaul seperti yang diucapkan kaum religius, melainkan dengan menghayati semangat pelepasan diri, kemurnian hati, kerendahan hati, dan ketaatan—karena itulah jalan sejati menuju pembaruan.
Di luar Basilika Agung Santo Yohanes Lateran—yang merupakan kediaman awal para paus—terdapat sebuah patung megah berukuran lebih besar dari aslinya yang menggambarkan para biarawan Fransiskan sedang hendak meminta pengesahan atas peraturan hidup (regula) mereka. Lokasinya memang cukup jauh dari Lateran, namun jaraknya cukup dekat untuk bisa melihat keterkaitannya. Saat mereka mendekat, Paus Innosensius III kala itu mendapat penglihatan tentang sosok pria kecil yang miskin sedang menopang bangunan Santo Yohanes Lateran yang mulai runtuh dengan bahunya. Ia mendapatkan penglihatan itu bahkan sebelum Fransiskus tiba di sana; kemudian, ia bersama orang-orang di sekitarnya menyetujui peraturan hidup yang akan dijalani Santo Fransiskus, yang kelak menjadi sumber pembaruan luar biasa bagi Gereja. (RENUNGAN PAGI)
Antifon Komuni (Mat 5:4)
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Blessed are the poor in spirit, for theirs is the Kingdom of Heaven.
atau (Luk 12:42)
Fidélis servus et prudens, quem constítuit dóminus super famíliam suam: ut det illis in témpore trítici mensúram.





