Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Rabu, 30 September 2026 Peringatan Wajib St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

 
Rabu, 30 September 2026
Peringatan Wajib St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
                
Mereka yang menjalani hidup yang buruk hingga akhir tidak akan pernah mengalami kematian yang baik. - Santo Hieronimus
                

Antifon Pembuka (Yos 1:8)

Kitab suci hendaknya kau baca senantiasa dan kaurenungkan siang malam. Perliharalah dan laksanakanlah segala sesuatu yang tertulis di dalamnya. Maka jalan hidupmu akan lurus dan sabda Tuhan akan kaupahami.

atau (Bdk. Mzm 1:2-3)

Diberkatilah dia yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam. Ia akan menghasilkan buahnya pada musimnya.

Blessed indeed is he who ponders the law of the Lord day and night: he will yield his fruit in due season.

Doa Pagi

Allah Bapa, sumber pengetahuan dan kebenaran, dalam hati Santo Hieronimus, imam-Mu, telah Kautanamkan cinta mesra terhadap Kitab Suci. Semoga umat-Mu semakin banyak menimba kekuatan dari sabda-Mu dan menemukan sumber kehidupan di dalamnya.
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 
   


Bacaan dari Kitab Ayub (9:1-12.14-16) 

 
"Masakan manusia benar di hadapan Allah?" 
 
Ayub berkata kepada Bildad sahabatnya, "Sungguh, aku tahu, bahwa beginilah adanya: masakan manusia benar di hadapan Allah? Jika ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya. Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat bersikeras melawan Dia, dan tetap selamat? Dialah yang memindahkan gunung-gunung tanpa diketahui orang, yang menjungkir-balikkannya dalam murka-Nya. Ia menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. Ia memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai. Seorang diri Ia membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut. Ia menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan. Dialah yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyak. Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak tahu. Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya, 'Apa yang Kaulakukan?' Bagaimana mungkin aku dapat membantah Dia, dan memilih kata-kata di hadapan Dia? Walaupun benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasih kepada yang mendakwa aku. Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Semoga doaku sampai ke hadirat-Mu, ya Tuhan
Ayat. (Mzm 88:10bc-11.12-13.14-15)
1. Aku telah berseru kepada-Mu, ya Tuhan, sepanjang hari, aku telah mengulurkan tanganku kepada-Mu. Adakah Engkau melakukan keajaiban di hadapan orang-orang mati? Masakah jenazah mereka bangkit untuk bersyukur kepada-Mu?
2. Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan? Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri kealpaan?
3. Tetapi aku ini, ya Tuhan, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu. Mengapa, ya Tuhan, Kaubuang aku? Mengapa Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku?

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Flp 3:8-9)
Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah, agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya.

     
Inilah Injil Suci menurut Lukas (9:57-62)
 
"Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi."  

Sekali peristiwa, ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan, datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus, “Aku akan mengikuti Engkau, ke mana pun Engkau pergi.” Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu kepada orang lain Yesus berkata, “Ikutlah Aku!” Berkatalah orang itu, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus menjawab, “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Seorang lain lagi berkata, “Tuhan, aku akan mengikuti Engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)


Renungan
 
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk menempatkan Dia sebagai prioritas utama. Jika kita menyebut diri kita sebagai orang Kristen, maka Kristus harus menjadi yang utama dalam hidup dan segala aktivitas kita. 
   
Salah satu orang dalam kisah Injil itu meminta izin kepada Yesus untuk pergi menguburkan ayahnya terlebih dahulu—sebuah tindakan yang sangat baik, mengingat kita sebagai anak harus mengasihi, menghormati, dan menaati orang tua, serta mengurus mereka saat mereka meninggal dan memastikan mereka dimakamkan dengan layak.
   
Yesus tidak mempermasalahkan hal itu. Namun, Dia berkata kepada orang Yahudi dalam kisah Injil tersebut: "Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." Budaya Yahudi pada masa itu sangatlah berpusat pada keluarga. Mendengar hal itu, orang mungkin akan bereaksi, "Wah, apa maksudnya? Apa yang Dia katakan? Apakah Dia mengerti betapa pentingnya ikatan keluarga bagi kami?"  Namun, itulah Yesus Kristus. Dia tahu persis apa yang Dia katakan. Untuk menjadi murid sejati, kita harus memandang kepada-Nya—bukan kepada keluarga ataupun hal-hal lain yang menjauhkan kita dari-Nya.
  
Saat membaca bagian Injil ini kemarin malam, saya sempat merenung. Bayangkan jika seorang pengkhotbah, guru, atau imam mengatakan hal yang sama kepada seorang Kristen—seperti yang Yesus katakan kepada orang itu: "Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." Padahal, yang meninggal adalah ayah atau ibu Anda; Anda sedang berduka, merasakan kesedihan yang mendalam di hati. Namun, guru yang Anda ikuti justru berkata, "Ikutlah Aku saja; biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
  
Saya katakan kepada Anda, terkadang guru atau imam seperti itu di masyarakat kita saat ini akan diabaikan atau ditanggapi dengan sinis: "Baiklah, kalau begitu sikap Anda—jika Anda tidak menghargai keluarga saya—silakan saja dengan agama Anda." Yesus tidak ingin sekadar mengatakan hal-hal manis yang ingin didengar orang agar mereka mau mengikuti-Nya. Dia menyampaikan kebenaran. Terserah kepada kita untuk menerima kebenaran itu atau tidak.  Yesus menghendaki kita menjadi murid sejati yang memahami apa yang akan membawa kita ke surga. 
   
Minggu ini, kita telah membaca kisah Ayub, yang mengalami berbagai pencobaan berat. Dia kehilangan segalanya: anak-anak, istri, harta benda, dan segala miliknya. Kemarin, ia sempat mempertanyakan tindakan Allah. 
   
Ia bertanya-tanya, mengapa ia dilahirkan? Ia berharap seandainya ia mati saat dilahirkan. Ia berharap seandainya ia tidak pernah lahir. Hari ini ia sedang berbicara dengan sahabatnya. Minggu ini, Allah akan menjawabnya. Allah akan mengajukan pertanyaan kepadanya, sama seperti yang dilakukan-Nya kepada Ayub. Terkadang kita mempertanyakan Allah. Terkadang kita berkata, "Mengapa hal ini terjadi dalam keluargaku? Mengapa aku sakit? Mengapa anak-anakku tidak mendengarkanku? Mengapa tidak ada damai sejahtera dalam keluargaku? Ya Allah, mengapa Engkau menciptakan aku seperti ini?" 
   
Saya mengajak Saudara untuk terus hadir dalam Misa setiap hari, baik minggu ini maupun minggu depan, dan mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang akan Allah sampaikan kepada Ayub. Serta mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang akan Allah sampaikan kepada kita masing-masing—kita yang terkadang mempertanyakan alasan mengapa kita dilahirkan. Marilah kita berdoa memohon agar Allah Yang Mahakuasa menolong kita menjadi murid Kristus yang sejati. Menjadi pribadi yang mengikuti apa yang dikatakan Kristus kepada kita, bukan mengikuti apa yang menurut kita benar bagi diri kita sendiri. (RENUNGAN PAGI)    

 
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini 
 
 
Antifon Komuni (Bdk. Yer 15:16)

Tuhan Allah, perkataanmu ditemukan dan aku menikmatinya. Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku.
 
Lord God, your words were found and I consumed them; your word became the joy and the happiness of my heart.      
        

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy