Senin, 21 September 2026
Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil
“Matius, seorang pemungut cukai, menjadi contoh pertobatan dan pengampunan bagi banyak pemungut cukai dan pendosa” (St. Beda Venerabilis)
Antifon Pembuka (Bdk. Mat 28:19-20)
Tuhan bersabda, “Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka. Ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
Go and make disciples of all nations, baptizing them and teaching them to observe all that I have commanded you, says the Lord.
Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil
“Matius, seorang pemungut cukai, menjadi contoh pertobatan dan pengampunan bagi banyak pemungut cukai dan pendosa” (St. Beda Venerabilis)
Antifon Pembuka (Bdk. Mat 28:19-20)
Tuhan bersabda, “Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka. Ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
Go and make disciples of all nations, baptizing them and teaching them to observe all that I have commanded you, says the Lord.
Pada Misa ini ada Madah Kemuliaan
Doa Pagi
Allah Bapa Mahamurah, kerahiman-Mu tiada taranya. Santo Matius, pegawai pajak, telah Kaupilih menjadi rasul dan kelak juga pengarang Injil-Mu. Semoga kami dikuatkan oleh teladan hidupnya dan dibantu oleh doa permohonannya serta mengikat diri pada-Mu dengan hati teguh. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (4:1-7.11-13)
"Ada macam-macam tugas pelayanan demi pembangunan umat."
Saudara-saudara, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihati kamu, supaya sebagai orang-orang yang terpanggil, kamu hidup sepadan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua. Akan tetapi, kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita Injil, gembala umat, maupun pengajar; semuanya itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi tugas pelayanan demi pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian, akhirnya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 834
Ref. Nama Tuhan hendak kuwartakan di tengah umat kumuliakan.
atau Di seluruh bumi bergemalah suara mereka.
Ayat. (Mzm 19:2-3.4-5; R:5a)
1. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
2. Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.
Bait Pengantar Injil, do = bes, PS 954
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 5:16)
Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur.
Inilah Injil Suci menurut Matius (9:9-13)
"Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus."
Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Hari ini kita merayakan Santo Matius yang agung—tentu saja salah satu dari kedua belas rasul dan penulis Injil menurut Matius. Ia adalah seorang pemungut cukai; hal ini merupakan bagian dari kisah, kesaksian, dan pengalaman hidupnya saat mulai mengikuti Yesus sebagai murid-Nya. Namun, agar kita benar-benar memahami makna menjadi pemungut cukai pada zaman Yesus—serta betapa hal itu dipandang sebagai sesuatu yang memalukan atau skandal bagi orang-orang di sekitarnya—ada baiknya kita mengetahui bagaimana situasinya saat itu.
Saya pernah membaca bahwa cara yang tepat untuk memahaminya adalah dengan membayangkan Matius sebagai pemungut cukai yang bekerja untuk Kekaisaran Romawi—pihak yang menindas, membunuh, dan tentu saja merampas segalanya dari rakyat di berbagai wilayah, termasuk bangsa Yahudi. Situasinya bisa diibaratkan seperti seorang Yahudi yang bekerja untuk Nazi; itu adalah bentuk pengkhianatan yang paling buruk. Tentu saja, orang seperti itu akan dikucilkan oleh masyarakat. Ia adalah sosok yang sangat dibenci. Selain itu, kita berbicara tentang budaya yang mengucilkan siapa pun yang dianggap najis dan berdosa. Jangankan bersikap ramah atau bersahabat, mereka bahkan tidak mau mendekati orang-orang seperti itu.
Matius adalah salah satu dari orang-orang tersebut, namun justru dialah yang dipilih Yesus untuk menjadi salah satu sahabat terdekat-Nya. Ketika orang-orang bertanya mengapa hal itu terjadi, Yesus dengan tegas berkata bahwa Ia datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa. Hal ini bukan sekadar kesaksian indah mengenai jati diri dan misi Yesus, melainkan juga sebuah pengingat—seiring inspirasi yang diberikan Santo Matius—bahwa kita tidak memiliki alasan untuk tidak mengikuti Yesus. Terlepas dari anggapan kita mengenai layak atau tidaknya kita menjadi murid-Nya, Ia datang bagi kita semua—kita semua yang berdosa. Ia datang untuk menyembuhkan kita, memberikan hidup baru, dan mengundang kita untuk menjadi sahabat karib-Nya. Sungguh indah melihat kesaksian tentang Matius.
Paus Fransiskus sering kali merujuk pada salah satu lukisan favoritnya, yaitu lukisan karya Caravaggio yang menggambarkan peristiwa pemanggilan Matius di Gereja San Luigi di Roma; lukisan yang memperlihatkan Yesus sedang menunjuk ke arah Matius sementara Matius tampak terkejut. Ia merasa senasib dengan saya, karena tentu saja ia pasti terkejut saat dipanggil oleh Guru yang sudah memiliki banyak pengikut—atau setidaknya mulai dikenal luas sebagai pengkhotbah dan penyembuh, bahkan sebelum orang-orang sepenuhnya menyadari bahwa Dia adalah Mesias. Namun, fakta bahwa ia dipanggil untuk menjadi bagian dari lingkaran yang begitu dekat dengan Allah membuatnya sangat terkejut. Namun, indah juga melihat karya-karya agung masa kini yang—meski bergenre berbeda—tetap merupakan bentuk seni sakral.
Contohnya adalah serial The Chosen, sebuah cara yang sangat indah untuk menyaksikan kehidupan Yesus, di mana Roh Kudus menggunakan berbagai jenis seniman untuk menggambarkannya. Salah satu karakter favorit—menurut saya—adalah Matius; kita tidak hanya melihat keterkejutannya atau kerendahan hati yang harus ia miliki, tetapi juga bagaimana ia dikucilkan oleh banyak orang, termasuk oleh para rasul lainnya, yang membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar bisa menerimanya. Hal itu terjadi meskipun Yesus terus-menerus turun tangan mengingatkan mereka akan misi mereka. Namun, ada satu hal yang indah: kita melihat Matius senantiasa mencatat segala sesuatu—sebuah gambaran yang mungkin sangat mirip dengan proses penulisan Injil yang ia lakukan kelak.
Jadi, karunia dan bakat alami yang ia miliki—yang sebelumnya membuatnya dipekerjakan sebagai pemungut cukai oleh Kekaisaran Romawi (sebuah pekerjaan yang menuntut keteraturan, kemampuan analisis, dan ketelitian dalam mencatat)—kini diarahkan pada tujuan yang benar. Yesus tidak hanya datang dan memanggilnya untuk mengikut Dia—dengan segala keberdosaannya—agar ia mengalami pertobatan; Dia juga memanggilnya untuk mengikut Dia dengan membawa serta bakat-bakat alaminya, namun kini mengarahkannya pada kebaikan dan itu juga merupakan pengingat yang indah bagi kita, karena saat kita menjadi orang berdosa—seperti kenyataannya kita memang demikian—banyak hal yang terjadi bukan sekadar jatuh ke dalam godaan, melainkan juga penyalahgunaan karunia kita untuk tujuan yang keliru. Namun, ketika kita mulai mengikuti Yesus dan mengalami pertobatan hati, Dia tidak hanya membawa kita lebih dekat kepada-Nya, tetapi karunia-karunia itu pun tidak akan hilang. Sosok diri kita sebagaimana Dia ciptakan tidak akan lenyap. Dia akan mengambil karunia-karunia tersebut dan mengarahkannya bagi tujuan-tujuan-Nya, demi kemuliaan Allah. Hal ini sungguh indah karena Dia mengasihi kita apa adanya, sesuai dengan bagaimana Dia menciptakan kita; dan rancangan penciptaan-Nya bagi kita adalah untuk melayani Allah serta mengasihi-Nya dan sesama seperti diri kita sendiri. Itulah yang Dia harapkan dari kita—baik dalam keberdosaan maupun dalam karunia-karunia yang kita miliki. Maka pada hari ini, marilah kita mengambil inspirasi dari Santo Matius dan memohon perantaraanya. (RENUNGAN PAGI)
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Antifon Komuni (Mat 9:13)
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, demikianlah firman Tuhan.
I did not come to call the just, but sinners, says the Lord.




