| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini |Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Minggu, 06 September 2026 Hari Minggu Biasa XXIII

 
Minggu, 06 September 2026
Hari Minggu Biasa XXIII
       
“Seseorang yang ingin mengasihi Allah tidak benar-benar mencintai-Nya jika orang tesebut memiliki tidak memiliki keinginan dan semangat untuk terus-menerus menderita bagi Dia.” – St. Aloysius Gonzaga
           
Antifon Pembuka (Mzm 119:137,124)

Engkau adil, ya Tuhan, dan hukum-hukum-Mu benar. Perlakukanlah hamba-Mu sesuai dengan kasih setia-Mu.

Iustus es Domine, et rectum iudicium tuum: fac cum servo tuo secundum misericordiam tuam.
Mzm. Beati immaculati in via: qui ambulant in lege Domini.

You are just, O Lord, and your judgment is right; treat your servant in accord with your merciful love.

    
Doa Pagi

Ya Allah, Engkau telah menebus kami dan mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Pandanglah anak-anak kesayangan-Mu dengan rela hati, supaya semua orang yang percaya pada Kristus memperoleh kebebasan sejati serta warisan abadi. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

"Kaca Patri Agnus Dei - ditemukan di Katedral Florence (Basilica di Santa Maria del Fiore), Italia" Credit: mammuth/istock.com 
 
Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (33:7-9)

"Jika engkau tidak berkata apa-apa kepada orang jahat, Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya darimu."

Beginilah firman Tuhan, "Wahai engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar suatu firman dari-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Kalau aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! Dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, maka orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi darimu Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya. Sebaliknya, jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = d, 4/4, PS 854
Ref. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati.
Atau: Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.
Ayat. (Mzm 95:1-2.6-7.8-9; Ul: 8)
1. Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan bersorak-sorai bagi gunung batu keselamatan kita. Biarlah kita memandang nama-Nya dengan lagu syukur, bersorak-sorai bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
2. Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kta. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.
3. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.
   
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (13:8-10)
 
"Kasih itu kegenapan hukum Taurat."
  
Saudara-saudara, janganlah berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman berikut ini: Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini, serta segala firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (2 Kor 5:19)
Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus, dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita. 
 
Inilah Injil Suci menurut Matius (18:15-20)
  
"Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmumu, engkau telah mendapatnya kembali."
   
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan dikau, bawalah seorang atau dua orang lain, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Dan lagi Aku berkata kepadamu, jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka."
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe  
(U. Terpujilah Kristus)



Renungan
    
 Selain melayani di paroki pada akhir pekan, saya juga menjadi rohaniwan di sekolah menengah kami, sehingga saya banyak menghabiskan waktu bersama kaum muda. Terkadang saya merasa hal itu membuat saya lebih cepat tua, namun di sisi lain, hal itu juga membuat saya tetap merasa muda dalam artian tertentu. Mereka membuat saya paham akan istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan modern—yang terkadang bagus, namun lebih sering terdengar konyol dan tidak masuk akal.
   
Namun, salah satu gagasan modern yang nyata ada saat ini adalah konsep "biarkan dirimu menjadi dirimu sendiri". Biarkan saya menjadi diri saya, dan biarkan Anda menjadi diri Anda sendiri. Ini adalah gagasan tentang individualisme total: bahwa saya tidak boleh memaksakan sesuatu kepada Anda, dan Anda tidak boleh memaksakan apa pun kepada saya.  Akan tetapi, itu adalah gagasan yang sama sekali tidak mencerminkan semangat Kristiani. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyampaikan sesuatu yang sangat radikal—sesuatu yang selaras dengan pesan Nabi Yehezkiel dan Rasul Paulus. Ia menegaskan bahwa sebagai saudara dan saudari dalam Kristus, kita saling memiliki satu sama lain.
 
Pertama-tama, kita memang harus mempertanggungjawabkan keputusan, tindakan, bahkan pikiran kita sendiri. Namun, ada pula panggilan bagi kita untuk saling membantu dan menolong; untuk menarik sesama keluar dari hal-hal, dosa, ataupun gaya hidup buruk yang membelenggu mereka. 
   
Kita dipanggil untuk menjadi saksi bagi mereka dalam semangat kasih, dan kita memikul tanggung jawab akan hal itu. Tentu saja, kita harus senantiasa memastikan bahwa motivasi kita dalam melakukan hal ini adalah murni. Jika motivasi kita semata-mata untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, maka hati kita perlu dimurnikan. Namun, jika motivasi kita adalah kasih terhadap sesama—seperti yang kita dengar hari ini: saling mengasihi dan mengasihi sesama sebagaimana kita ingin dikasihi dan sebagaimana kita mengasihi diri sendiri—maka saya tentu berharap jika saya berada dalam bahaya, seseorang akan memperingatkan saya. Sebaliknya, saya juga berharap memiliki keberanian untuk menarik orang lain keluar dari bahaya yang mungkin menjerat mereka. 
   
Oleh karena itu, kita perlu memurnikan motivasi kita; bukan untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik atau untuk sekadar menegur dengan keras, melainkan untuk menghadirkan kebaikan yang kita lihat mungkin terwujud dalam hidup mereka.  Menurut saya, salah satu seniman terhebat dalam sejarah dunia—dan tentu saja ada banyak seniman hebat lainnya, namun khususnya dalam kehidupan Gereja—adalah Michelangelo. Ia terkenal karena berbagai karya lukis seperti "The Last Judgment" (Penghakiman Terakhir), tetapi juga karena "Pietà", sebuah patung yang menggambarkan Bunda Maria sedang memangku Yesus setelah penyaliban. Ia adalah pematung yang luar biasa dengan teknik memahat yang sangat unik. 
   
Banyak pematung biasanya menggunakan perhitungan matematis yang sangat presisi untuk menentukan seberapa dalam mereka harus memahat guna membentuk lengkungan hidung, atau seberapa jauh mereka harus mengikis batu—baik dalam hitungan inci maupun sentimeter (atau sistem metrik yang digunakan Michelangelo). Namun, Michelangelo melihat sesuatu yang sama sekali berbeda. Ia melihat karya akhirnya sudah "terperangkap" di dalam bongkahan marmer tersebut. 
   
Baginya, peran atau tugas seorang pematung adalah membebaskan karya akhir itu dari segala hal yang menghalanginya—yakni membuang kelebihan marmer yang selama ini menyembunyikan mahakarya tersebut. Menurut saya, ini adalah gambaran yang indah tentang makna persahabatan Kristen yang sejati; bagaimana kita benar-benar hidup sebagai saudara dan saudari, melihat potensi kekudusan dalam diri sesama kita, serta membantu mereka. Kita tidak hanya sekadar menunjukkannya, tetapi juga berjalan bersama dan membantu mereka mengeluarkan potensi diri dari hal-hal yang menghalangi terwujudnya mahakarya akhir tersebut—hal-hal yang menghalangi mereka mencapai kekudusan. Tentu saja, hal ini mengandung risiko dan bisa terasa menakutkan, karena kita mungkin akan ditolak atau dianggap memiliki niat yang tidak tulus. Mereka mungkin mengira kita sedang mengkritik atau menghakimi mereka. Namun, hidup memang menuntut keberanian mengambil risiko, terutama dalam kehidupan sebagai orang Kristen. 
   
Kita melihat Yesus dan para rasul-Nya melakukan berbagai hal yang—dalam tanda kutip—"tidak aman". Kehidupan Kristen menuntut keberanian mengambil risiko, dan kita harus ingat bahwa tidak ada satu pun bacaan yang mengatakan bahwa kita bisa mengendalikan hasil akhirnya. Dan menurut saya, hal ini merupakan tantangan berat—sesuatu yang cukup sulit saya pergumulkan, setidaknya dalam peran saya sebagai seorang imam. Bacaan-bacaan ini memanggil kita untuk memberikan kesaksian; kita dipanggil untuk membantu saudara-saudari kita keluar dari dosa dan mendorong mereka untuk meninggalkannya. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pada akhirnya kita bertanggung jawab atas tindakan mereka ataupun atas keputusan mereka untuk mendengarkan kita atau tidak. 
 
Pada tahun pertama saya menjadi imam, saya berbincang dengan seorang teman—teman seangkatan saya. Kami berbagi cerita tentang berbagai sukacita besar dalam hidup imamat, serta pergumulan dan beban salib yang pernah kami alami. Ia berkata bahwa salah satu hal yang paling sulit adalah kenyataan bahwa saya tidak bisa mengendalikan jalan hidup orang lain. Baik saat mendampingi pasangan dalam persiapan pernikahan maupun saat memberikan konseling, kita memang bisa menawarkan atau menyarankan hal-hal tertentu, namun kita tidak bisa mengendalikan tindakan mereka. Terkadang, kita bisa saja merasa bersalah atau menganggap diri kita telah melakukan kesalahan hanya karena mereka tidak mendengarkan kebenaran yang kita sampaikan atau ajaran Gereja. 
   
Kita tidak boleh membiarkan si jahat masuk dan membiarkan rasa tawar hati itu tumbuh subur. Sebab, tidak satu pun dari panggilan ini baik dari Yehezkiel, Santo Paulus, Injil, maupun Yesus sendiri, tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa kita bertanggung jawab atas keputusan akhir orang lain. Tanggung jawab kita adalah menyadarkan seseorang bahwa mungkin saja mereka sedang hidup di luar Kabar Baik, di luar kebenaran, atau di luar jalan hidup yang bermoral. 
   
Menurut saya, sisi yang sering kali tidak terlihat dari kisah ini adalah pentingnya kita menempatkan diri pada posisi orang lain—bukan sekadar melihat orang lain berbuat dosa, melainkan membayangkan diri kita sendiri sebagai pihak yang perlu ditegur. Kita juga perlu memiliki kerendahan hati dan sikap terbuka untuk diajar. Jika seseorang datang kepada kita dengan niat tulus penuh kasih untuk menegur kita atas perbuatan dosa atau tindakan gegabah yang mereka amati, kita hendaknya memiliki kerendahan hati untuk mengucapkan terima kasih.  Saya ingat saat di seminari, seorang sahabat baik pernah mendatangi saya dan berkata, "Saya mendengar kamu berbicara dengan beberapa orang. Kamu mengatakan sesuatu yang sangat tidak mencerminkan dirimu yang biasanya." Padahal, saya sendiri tidak menyadari bahwa ucapan saya bisa ditafsirkan secara keliru. Sahabat saya itu mengambil risiko dengan menegur saya secara langsung. Namun, saya sangat bersyukur karenanya. Hal itu benar-benar menunjukkan ketulusan persahabatannya; dia berkata, "Saya mengerti dan saya tahu siapa dirimu sebenarnya." "Saya tahu sosok seperti apa yang ingin kamu wujudkan, dan tindakanmu tadi tidak sejalan dengan hal itu." Dengan penuh kasih, dia menegur dan menyemangati saya dengan berkata, "Saya tahu kamu lebih baik daripada itu." Meskipun teguran itu sulit diterima, saya bersyukur telah menerimanya. Allah tidak memanggil saya—atau kita semua—hanya untuk mengikuti-Nya secara pribadi atau sendirian saja.
  
Dia memanggil kita untuk mengikuti-Nya sebagai sebuah komunitas, dengan saling memercayakan tanggung jawab untuk saling membantu dalam perjalanan hidup, saling mendoakan, saling menguatkan, dan—bila diperlukan—saling menegur serta meluruskan jalan sesama dari dosa dengan semangat kasih. Maka, saudara-saudari sekalian, semoga kita memiliki keberanian untuk saling mengajak menuju kebesaran—bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebesaran dan kekudusan. Tentu saja, kita memerlukan kebijaksanaan untuk melakukannya dengan cara yang tepat. Kita membutuhkan kasih untuk melakukannya secara tulus, namun kita sungguh memerlukan keberanian untuk dapat berjalan bersama, saling mengajak maju, dan saling mendukung dalam semangat saling menguatkan. Semoga kita mengindahkan panggilan Injil untuk tidak bersikap individualistis, melainkan sungguh-sungguh menjadi anggota tubuh Kristus, agar kita dapat hidup bersama dalam kemuliaan abadi bersama-Nya untuk selama-lamanya. (T/SF-RENUNGAN PAGI) 
 
 
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini 


Antifon Komuni (Mzm 42:2-3; PS 425)

Bagaikan rusa merindukan air, demikianlah jiwaku merindukan Dikau, ya Allah. Jiwaku haus akan Allah, Allah yang hidup.

Like the deer that yearns for running streams, so my soul is yearning for you, my God; my soul is thirsting for God, the living God.

 

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy