Hari Biasa Pekan XXV
”Tak seorang pun dapat mempunyai Allah sebagai Bapa jika tidak mempunyai Gereja sebagai Bunda” (St. Siprianus)
Antifon Pembuka (Pkh 1:9)
Doa Pagi
Allah Bapa, sumber iman kepercayaan, ajarilah kami mengimani Dia, yang bagaikan Elia baru, mengajar kami menikmati kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, yaitu Yesus Putra-Mu yang membaptis kami dengan Roh Kudus. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia! Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjem
ukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak bosan-bosan melihat, telinga tidak puas-puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tiada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang dapat dikatakan, “Lihat, ini baru!” Tetapi sebenarnya hal itu dahulu sudah ada, lama sebelum kita. Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun
Ayat. (Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1)
1. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.
2. Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.
3. Ajarilah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
4. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat. Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas kami! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami teguhkanlah!
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (bdk. Yoh 14:6)
Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (9:7-9)
Ketika Herodes, raja wilayah Galilea, mendengar segala sesuatu yang terjadi, ia merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi zaman dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes kan telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?” Lalu ia berusaha untuk dapat bertemu dengan Yesus.
Renungan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, pada hari ini kita diajak untuk merenungkan sebuah kenyataan mendasar tentang betapa fananya kehidupan ini jika hanya diukur dari apa yang tampak oleh mata. Sebagaimana diungkapkan dalam Kitab Pengkhotbah, segala pencapaian, kemuliaan, dan kesibukan kita di dunia ini ibarat aliran air sungai yang tak henti-hentinya bermuara, namun tidak akan pernah bisa benar-benar memenuhi lautan. Demikian pula dengan hasrat manusia; tidak peduli seberapa banyak kekayaan, ketenaran, prestise, pujian, atau pengaruh yang telah kita genggam, semua itu tidak akan pernah memuaskan rasa lapar batin kita. Sudah menjadi sifat alamiah manusia bahwa setelah mencapai satu kepuasan, kita justru akan semakin terdorong oleh keinginan dan hasrat yang lebih besar untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Akibatnya, kita sering kali kehabisan waktu dan tenaga hanya untuk mengejar dan menimbun hal-hal yang sementara. Padahal, pada akhirnya kita harus bertanya pada diri sendiri: apa manfaat sejati dari semua pencapaian dan kemuliaan tersebut jika tidak satu pun darinya mampu bertahan selamanya atau memberikan kedamaian yang hakiki?
Ketidakmampuan hal-hal duniawi dalam menenangkan jiwa yang gelisah ini pada akhirnya menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa melarikan diri dari masalah hidup, apalagi dengan cara memendam perasaan dan luka batin kita di balik kesibukan ragawi, sebagaimana yang juga diakui oleh ilmu psikologi modern. Hal ini tergambar dengan sangat jelas dalam penderitaan Raja Herodes, yang menjadi contoh nyata tentang bagaimana kemegahan takhta tidak mampu menutupi pergolakan batin yang hebat. Meskipun memiliki segalanya, hidup Herodes dihantui oleh rasa bersalah yang mendalam akibat keputusannya mengeksekusi Yohanes Pembaptis. Pergolakan itu memuncak ketika ia mendengar tentang Yesus Kristus dan mulai percaya bahwa Yohanes telah bangkit kembali dalam diri-Nya. Rasa bersalah yang tak terselesaikan itu berubah menjadi rasa penasaran yang gelisah, membuat Herodes menghabiskan sisa hidupnya dalam ketidaktenangan—hanya sebatas ingin bertemu dan mencari tahu tentang Yesus tanpa pernah benar-benar membuka hatinya. Kisah Herodes ini sepatutnya menjadi cermin dan pelajaran penting bagi dasar hubungan kita sendiri dengan Tuhan. Kita diundang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama; kita harus berani melangkah lebih jauh dari sekadar rasa ingin tahu atau ketertarikan sesaat tentang Yesus, menuju sebuah iman yang utuh dan hidup, menyambut-Nya tidak sekadar sebagai sosok pembuat mukjizat, melainkan sebagai sahabat, saudara, dan Juru Selamat yang sungguh-sungguh memuaskan segala dahaga jiwa kita.
Doa Malam
Allah Bapa yang Mahakuasa dan kekal, kami bersyukur karena telah Kau perkenankan mendengarkan firman-Mu. Semoga firman-Mu yang telah kami dengar menghidupkan dan menghidupi kami, sehingga kami makin mampu memuliakan Dikau. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.




