Hari Biasa Pekan XXIV
“Jeritan Yesus dari kayu salib, 'Aku haus,' berbicara tidak tentang rasa dahaga fisik, sebab Dia menolak minum yang diberikan kepada-Nya. Rasa haus tersebut adalah tentang jiwa-Nya yang terbakar dan hati-Nya yang berkobar. Dia haus akan jiwa-jiwa umat manusia. Gembala sendirian tanpa domba-domba-Nya; Pencipta yang rindu akan ciptaan-Nya...” — Uskup Agung Fulton Sheen
Antifon Pembuka (Mzm 118:28)
Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meluhurkan Dikau.
Doa Pagi
Allah Bapa yang Maha Pengasih, Engkau telah mengutus Putra-Mu untuk mengampuni dosa-dosa kami. Semoga Sabda pengampunan-Nya menggerakkan kami untuk melakukan pertobatan yang sejati dengan lebih banyak lagi berbuat kasih kepada sesama kami. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 118:1-2.16ab-17.28)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata, “Kekal abadi kasih setia-Nya!”
2. Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan! Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan!
3. Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Dikau.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (7:36-50)
Renungan
Kisah Injil tentang Yesus yang diundang makan di rumah Simon, seorang Farisi, menyajikan sebuah kontras yang sangat indah dan menyentuh hati. Di satu sisi, ada Simon yang menyambut Yesus secara formal dan memanggil-Nya "Guru", namun tanpa kehangatan yang istimewa. Di sisi lain, hadirlah seorang perempuan yang dikenal berdosa di kota itu; ia menerobos segala batasan sosial demi menunjukkan kasih dan pertobatannya yang luar biasa. Perempuan yang datang bersimpuh dengan air mata ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang Gereja sebagai mempelai perempuan. Sama seperti Israel dalam Perjanjian Lama yang kadang menyimpang namun terus dicari dan dipulihkan oleh Allah, Gereja adalah sosok yang pertama-tama dikasihi oleh Sang Mempelai Laki-laki, dan kini merespons kasih tersebut dengan segenap hatinya. Melalui perempuan ini, kita disadarkan akan realitas fundamental kita: kita adalah manusia berdosa yang mutlak membutuhkan pengampunan, baik melalui rahmat awal pembaptisan maupun pemulihan yang berkelanjutan lewat sakramen pengakuan dosa.
Saat perempuan itu mengurapi Yesus dengan minyak wangi dari buli-buli pualam, tindakannya tidak hanya menjadi ungkapan kasih, tetapi juga sebuah nubuat atas penderitaan, kematian, dan pemakaman Kristus demi menebus dosa-dosa kita. Ketika Simon meragukan Yesus di dalam hatinya karena membiarkan diri-Nya disentuk oleh "perempuan semacam itu", Yesus menunjukkan kedalaman interaksi ilahi dengan menyapa Simon secara pribadi—sebuah teguran lembut yang sering kali juga kita alami dalam keheningan doa atau adorasi. Melalui perumpamaan tentang dua orang yang berutang, Yesus menegaskan satu kebenaran yang tak terbantahkan: tak satu pun dari kita mampu melunasi utang dosa kita dengan usaha sendiri. Pengampunan seutuhnya adalah rahmat yang cuma-cuma, sebuah karunia kemurahan hati Tuhan semata, karena Dia terlebih dahulu mengampuni ketidakberdayaan kita.
Momen ketika perempuan itu menangis di kaki Yesus adalah wujud nyata dari apa yang disebut sebagai compunction—sebuah penusukan hati atau rasa duka mendalam atas dosa. Seperti yang sering digambarkan oleh Paus Fransiskus, Roh Kudus bekerja menusuk hati kita, memancarkan air hidup yang menyadarkan kita betapa dosa telah menyia-nyiakan hidup, memecah-belah diri kita, dan melukai orang-orang yang kita kasihi serta Gereja. Kesadaran pahit inilah yang membuat air mata penyesalan mengalir. Dalam teguran-Nya kepada Simon, Yesus dengan sengaja menarik perhatian pada wujud nyata dari compunction tersebut. Ia membandingkan ketiadaan sambutan Simon dengan pengabdian perempuan itu yang meluap-luap. Dengan penuh keberanian dan kerendahan hati, perempuan itu tidak lagi mempedulikan norma budaya; ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya—yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai mahkota kemuliaan perempuan. Ia menanggalkan harga dirinya demi kasih, dan sebagai balasannya, Yesus memberikan anugerah kepastian, "Dosamu telah diampuni. Imanmu telah menyelamatkanmu. Pergilah dengan damai."
Kata-kata pembebasan dari Yesus ini terus bergema hingga hari ini melalui Sakramen Rekonsiliasi. Di tengah dunia yang seolah mabuk oleh kebebasan tanpa batas dan revolusi seksual yang sering kali menghancurkan martabat manusia, ajaran Gereja tentang dosa dan pertobatan menjadi pelindung bagi mereka yang rentan. Mengakui dosa dan memohon ampun adalah sebuah sikap iman yang berani dan sangat berlawanan dengan arus duniawi. Ketika kita datang mengaku dosa, kita membawa penyesalan kita. Idealnya, kita memiliki kontrisi sempurna yang didasari murni oleh kasih kepada Allah. Namun, jika kita baru memiliki kontrisi yang tidak sempurna—penyesalan yang lahir dari ketakutan akan hukuman kekal atau kesadaran akan betapa buruknya akibat dosa—itu pun sudah cukup untuk membawa kita kepada kerahiman-Nya. Seperti yang diajarkan oleh Santo Thomas Aquinas, rahmat sakramen itulah yang nantinya akan menyempurnakan penyesalan kita.
Pada akhirnya, kehidupan iman adalah sebuah panggilan untuk berbalik kepada Allah setiap hari, menanggapi seruan Yesus, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil." Jika pembaptisan adalah pertobatan pertama kita, maka hidup sehari-hari adalah proses pertobatan kedua yang tak kenal henti. Mengutip keindahan kata-kata Santo Ambrosius, "Gereja memiliki air pembaptisan dan air mata pertobatan—keduanya sama-sama membersihkan dan memulihkan. Melalui rahmat yang menggerakkan hati, kita dipanggil untuk memiliki iman dan keberanian seperti perempuan itu: datang kepada Kristus, mengakui kelemahan kita, dan menerima kehidupan baru yang membawa damai."




