Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Kamis, 17 September 2026 Hari Biasa Pekan XXIV

 
Kamis, 17 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIV
  
“Jeritan Yesus dari kayu salib, 'Aku haus,' berbicara tidak tentang rasa dahaga fisik, sebab Dia menolak minum yang diberikan kepada-Nya. Rasa haus tersebut adalah tentang jiwa-Nya yang terbakar dan hati-Nya yang berkobar. Dia haus akan jiwa-jiwa umat manusia. Gembala sendirian tanpa domba-domba-Nya; Pencipta yang rindu akan ciptaan-Nya...” — Uskup Agung Fulton Sheen
 
Antifon Pembuka (Mzm 118:28)
 
Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meluhurkan Dikau.
  
Doa Pagi
 
Allah Bapa yang Maha Pengasih, Engkau telah mengutus Putra-Mu untuk mengampuni dosa-dosa kami. Semoga Sabda pengampunan-Nya menggerakkan kami untuk melakukan pertobatan yang sejati dengan lebih banyak lagi berbuat kasih kepada sesama kami. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus,  Allah, sepanjang segala masa. Amin. 
  


Bacaan dari Surat Rasul Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (15:1-11)
 
"Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kamu mengimani."
   
Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kalian akan Injil yang sudah kuwartakan kepadamu dan sudah kalian terima, dan yang di dalamnya kalian teguh berdiri. Oleh Injil itu kalian diselamatkan, asal kalian berpegang teguh padanya sebagaimana kuwartakan kepadamu; kecuali kalau kalian sia-sia menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah wafat karena dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah dimakamkan, dan pada hari yang ketiga telah dibangkitkan, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya sudah meninggal dunia. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, lalu kepada semua rasul. Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah, aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidaklah sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu entah aku, entah mereka, begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kalian mengimani.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = bes, 2/4, PS 831

Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 118:1-2.16ab-17.28)

1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata, “Kekal abadi kasih setia-Nya!”
2. Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan! Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan!
3. Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Dikau.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.   
   
Inilah Injil Suci menurut Lukas (7:36-50)

 
"Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih."
  
Pada suatu ketika seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, “Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini; mestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.” “Ada dua orang yang berutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka utang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu!” Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau melihat wanita ini? Aku masuk ke dalam rumahmu, namun engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk, Ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepalaku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena Ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih!” Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati, “Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu, “Imanmu telah menyelamatkan dikau. Pergilah dengan selamat!”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)


Renungan
   

Kisah Injil tentang Yesus yang diundang makan di rumah Simon, seorang Farisi, menyajikan sebuah kontras yang sangat indah dan menyentuh hati. Di satu sisi, ada Simon yang menyambut Yesus secara formal dan memanggil-Nya "Guru", namun tanpa kehangatan yang istimewa. Di sisi lain, hadirlah seorang perempuan yang dikenal berdosa di kota itu; ia menerobos segala batasan sosial demi menunjukkan kasih dan pertobatannya yang luar biasa. Perempuan yang datang bersimpuh dengan air mata ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang Gereja sebagai mempelai perempuan. Sama seperti Israel dalam Perjanjian Lama yang kadang menyimpang namun terus dicari dan dipulihkan oleh Allah, Gereja adalah sosok yang pertama-tama dikasihi oleh Sang Mempelai Laki-laki, dan kini merespons kasih tersebut dengan segenap hatinya. Melalui perempuan ini, kita disadarkan akan realitas fundamental kita: kita adalah manusia berdosa yang mutlak membutuhkan pengampunan, baik melalui rahmat awal pembaptisan maupun pemulihan yang berkelanjutan lewat sakramen pengakuan dosa.

Saat perempuan itu mengurapi Yesus dengan minyak wangi dari buli-buli pualam, tindakannya tidak hanya menjadi ungkapan kasih, tetapi juga sebuah nubuat atas penderitaan, kematian, dan pemakaman Kristus demi menebus dosa-dosa kita. Ketika Simon meragukan Yesus di dalam hatinya karena membiarkan diri-Nya disentuk oleh "perempuan semacam itu", Yesus menunjukkan kedalaman interaksi ilahi dengan menyapa Simon secara pribadi—sebuah teguran lembut yang sering kali juga kita alami dalam keheningan doa atau adorasi. Melalui perumpamaan tentang dua orang yang berutang, Yesus menegaskan satu kebenaran yang tak terbantahkan: tak satu pun dari kita mampu melunasi utang dosa kita dengan usaha sendiri. Pengampunan seutuhnya adalah rahmat yang cuma-cuma, sebuah karunia kemurahan hati Tuhan semata, karena Dia terlebih dahulu mengampuni ketidakberdayaan kita.

Momen ketika perempuan itu menangis di kaki Yesus adalah wujud nyata dari apa yang disebut sebagai compunction—sebuah penusukan hati atau rasa duka mendalam atas dosa. Seperti yang sering digambarkan oleh Paus Fransiskus, Roh Kudus bekerja menusuk hati kita, memancarkan air hidup yang menyadarkan kita betapa dosa telah menyia-nyiakan hidup, memecah-belah diri kita, dan melukai orang-orang yang kita kasihi serta Gereja. Kesadaran pahit inilah yang membuat air mata penyesalan mengalir. Dalam teguran-Nya kepada Simon, Yesus dengan sengaja menarik perhatian pada wujud nyata dari compunction tersebut. Ia membandingkan ketiadaan sambutan Simon dengan pengabdian perempuan itu yang meluap-luap. Dengan penuh keberanian dan kerendahan hati, perempuan itu tidak lagi mempedulikan norma budaya; ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya—yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai mahkota kemuliaan perempuan. Ia menanggalkan harga dirinya demi kasih, dan sebagai balasannya, Yesus memberikan anugerah kepastian, "Dosamu telah diampuni. Imanmu telah menyelamatkanmu. Pergilah dengan damai."

Kata-kata pembebasan dari Yesus ini terus bergema hingga hari ini melalui Sakramen Rekonsiliasi. Di tengah dunia yang seolah mabuk oleh kebebasan tanpa batas dan revolusi seksual yang sering kali menghancurkan martabat manusia, ajaran Gereja tentang dosa dan pertobatan menjadi pelindung bagi mereka yang rentan. Mengakui dosa dan memohon ampun adalah sebuah sikap iman yang berani dan sangat berlawanan dengan arus duniawi. Ketika kita datang mengaku dosa, kita membawa penyesalan kita. Idealnya, kita memiliki kontrisi sempurna yang didasari murni oleh kasih kepada Allah. Namun, jika kita baru memiliki kontrisi yang tidak sempurna—penyesalan yang lahir dari ketakutan akan hukuman kekal atau kesadaran akan betapa buruknya akibat dosa—itu pun sudah cukup untuk membawa kita kepada kerahiman-Nya. Seperti yang diajarkan oleh Santo Thomas Aquinas, rahmat sakramen itulah yang nantinya akan menyempurnakan penyesalan kita.

Pada akhirnya, kehidupan iman adalah sebuah panggilan untuk berbalik kepada Allah setiap hari, menanggapi seruan Yesus, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil." Jika pembaptisan adalah pertobatan pertama kita, maka hidup sehari-hari adalah proses pertobatan kedua yang tak kenal henti. Mengutip keindahan kata-kata Santo Ambrosius, "Gereja memiliki air pembaptisan dan air mata pertobatan—keduanya sama-sama membersihkan dan memulihkan. Melalui rahmat yang menggerakkan hati, kita dipanggil untuk memiliki iman dan keberanian seperti perempuan itu: datang kepada Kristus, mengakui kelemahan kita, dan menerima kehidupan baru yang membawa damai."


Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
 
 
Doa Malam

Yesus yang penuh kasih, Engkau telah mengampuni wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ampunilah juga dosa-dosa kami agar esok hari kami dapat memulai hari yang baru dengan penuh berkat. Engkaulah Tuhan dan pegangan hidup kami. Amin.

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy