Kamis, 10 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIII
“Para kudus selalu menjadi sumber dan akar pembaruan dalam masa-masa paling sulit di dalam sejarah Gereja.” (St. Yohanes Paulus II)
Antifon Pembuka (1Kor 8:6)
Bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus. Segala sesuatu diciptakan dengan pengantaraan-Nya dan kita hidup karena Dia.
Hari Biasa Pekan XXIII
“Para kudus selalu menjadi sumber dan akar pembaruan dalam masa-masa paling sulit di dalam sejarah Gereja.” (St. Yohanes Paulus II)
Antifon Pembuka (1Kor 8:6)
Bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus. Segala sesuatu diciptakan dengan pengantaraan-Nya dan kita hidup karena Dia.
Doa Pagi
Ya Allah yang penuh kasih, Engkau menghendaki agar kami saling mengasihi, sebagaimana Engkau sendiri telah mengasihi kami melalui Yesus Kristus, Putra-Mu yang rela mengorbankan Diri-Nya demi keselamatan kami. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Credit: JMLPYT/istock.com |
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 8:1b-7.11-13)
"Bila engkau melukai hati mereka yang lemah, engkau berdosa terhadap Kristus."
Saudara-saudara, pengetahuan menjadikan orang sombong, tetapi kasih itu membangun. Orang yang menyangka diri mempunyai pengetahuan sebenarnya belum mencapai pengetahuan yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, dikenal oleh Allah. Tentang makan daging persembahan berhala kita tahu bahwa tidak ada berhala di dunia ini, dan tidak ada Allah lain, selain Allah yang esa. Sebab sungguhpun ada apa yang disebut allah, baik di surga maupun di bumi dan memang benar ada banyak allah dan banyak tuhan yang demikian, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, asal segala sesuatu. Bagi Dialah kita hidup. Dan bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus; segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan kita hidup karena Dia. Tetapi tidak semua orang mempunyai pengetahuan ini. Ada orang yang karena masih terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Karena hati nurani mereka lemah, maka hati nuraninya ternoda. Dengan demikian, “pengetahuan” menyebabkan kebinasaan saudaramu yang masih lemah. Padahal Kristus juga wafat untuk dia. Maka engkau berdosa terhadap saudara-saudaramu, karena engkau melukai suara hati mereka yang masih lemah. Dan dengan demikian engkau sebenarnya berdosa terhadap Kristus sendiri. Oleh karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, untuk selama-lamanya aku takkan mau makan daging lagi, jangan sampai aku menjadi batu sandungan bagi saudaraku.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuntunlah aku di jalan yang kekal.
Ayat. (Mzm 139:1-3.13-14ab.23-24)
1. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
2. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku; ajaiblah apa yang Kaubuat.
3. Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 4:12)
Jika kita saling menaruh cinta kasih, Allah tinggal dalam kita; dan cinta kasih Allah dalam kita menjadi sempurna.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (6:27-38)
Inilah Injil Suci menurut Lukas (6:27-38)
"Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya."
Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Dengarkanlah perkataan-Ku ini: Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Bila orang menampar pipimu yang satu, berikanlah pipimu yang lain. Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kalian kehendaki orang berbuat kepada kalian, demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka. Kalau kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. [Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.] Lagipula kalau kalian memberikan pinjaman kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyaknya. Tetapi kalian, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan, maka ganjaranmu akan besar dan kalian akan menjadi anak Allah yang maha tinggi. Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang-orang jahat. Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya. Janganlah menghakimi orang, maka kalian pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah menghukum orang, maka kalian pun tidak akan dihukum. Ampunilah, maka kalian pun akan diampuni. Berilah, dan kalian akan diberi. Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah ke luar akan dicurahkan ke pangkuanmu. Sebab ukuran yang kalian pakai, akan diukurkan pula kepadamu.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, panggilan utama kita sebagai pengikut-Nya adalah mewujudkan kasih yang tulus dan murah hati dalam setiap napas kehidupan kita. Kasih ini bukanlah sekadar perasaan, melainkan sebuah tindakan nyata yang mendefinisikan identitas kita; kasih yang menjangkau mereka yang terpinggirkan, merawat mereka yang terlupakan, bahkan merangkul mereka yang memusuhi kita. Tanpa kasih yang meneladani Allah ini, sebutan Kristen pada diri kita hanyalah sebuah nama tanpa makna.
Pemahaman akan kasih yang otentik ini membawa kita pada perenungan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yang menyoroti bagaimana kasih tersebut harus tercermin dalam kehati-hatian kita saat bertindak dan berinteraksi. Pada masa itu, umat berhadapan dengan dilema mengenai boleh tidaknya menyantap makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala kafir. Walaupun secara esensial makanan tersebut tidak membawa pengaruh fisik apa-apa—karena berhala-berhala itu pada dasarnya tidak nyata—Rasul Paulus dengan tegas mengingatkan bahwa tindakan menyantapnya bisa membawa dampak yang jauh lebih besar dari sekadar urusan perut atau pemenuhan kebutuhan jasmani.
Dampak yang dikhawatirkan Rasul Paulus adalah munculnya batu sandungan bagi iman sesama. Ketika saudara-saudari seiman yang mungkin belum memiliki pemahaman yang utuh melihat tindakan tersebut, mereka bisa saja menjadi bingung, salah paham, atau bahkan kehilangan iman karena mengira praktik penyembahan berhala diperbolehkan dan dinormalisasi oleh sesama orang Kristen. Meski ada sebagian umat masa itu yang berkompromi dengan ritual pagan demi menyelamatkan nyawa atau sekadar menjaga kenyamanan hidup, Rasul Paulus menekankan bahwa tindakan mementingkan diri sendiri ini justru menuntun pada perpecahan. Di sinilah esensi kasih itu diuji: sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk saling menjaga dan tidak membiarkan kebebasan atau pilihan pribadi kita menjerumuskan saudara kita ke dalam kehancuran iman.
Kehati-hatian untuk tidak menjadi batu sandungan ini adalah bentuk nyata dari kepedulian kita terhadap sesama, yang kemudian dipertegas dan diperluas maknanya oleh Tuhan Yesus dalam bacaan Injil. Tuhan menantang kita untuk melangkah lebih jauh. Jika menjaga iman dan berbuat baik kepada orang-orang yang kita kasihi saja dituntut dari kita, kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama kepada mereka yang bersikap sulit terhadap kita. Mengasihi keluarga dan sahabat adalah hal yang membahagiakan, namun kasih Kristiani memanggil kita untuk mencurahkan perhatian, pengampunan, dan kebaikan yang sama kepada mereka yang membenci, menganiaya, dan menganggap kita sebagai musuh.
Tentu saja, mewujudkan kasih semacam ini jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun di sanalah kita menemukan makna sejati dari mengikuti jejak Kristus. Ia tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menghidupi kasih itu secara sempurna hingga ke kayu salib. Ketika Ia ditolak, dianiaya, dan diolok-olok, cinta-Nya tak sedikit pun pudar. Ia tetap teguh melayani dan bahkan dari atas Salib di Kalvari, Ia memandang mereka yang menyalibkan-Nya dengan penuh belas kasih, lalu memohon kepada Bapa untuk tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka dan mengampuni mereka.
Jika Tuhan kita serta para murid dan orang kudus-Nya telah mampu menunjukkan kelembutan, kerahiman, dan pengampunan yang begitu tulus, kita pun diundang untuk berani mengambil jalan yang sama dalam hidup kita sendiri. Marilah kita melangkah menjadi murid-murid yang tidak hanya setia dalam perkataan, tetapi juga bersinar dalam perbuatan, menjauhi tindakan yang dapat menjadi batu sandungan akibat kurangnya iman kita. Di tengah segala tantangan dan kesulitan hidup, semoga Allah senantiasa menyertai dan memampukan kita untuk terus menginspirasi satu sama lain, belajar mengampuni mereka yang telah menorehkan luka, dan merangkul sesama dalam perjalanan hidup Kristiani yang otentik, penuh keberanian, dan setia, kini dan selamanya. Amin.
Pemahaman akan kasih yang otentik ini membawa kita pada perenungan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yang menyoroti bagaimana kasih tersebut harus tercermin dalam kehati-hatian kita saat bertindak dan berinteraksi. Pada masa itu, umat berhadapan dengan dilema mengenai boleh tidaknya menyantap makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala kafir. Walaupun secara esensial makanan tersebut tidak membawa pengaruh fisik apa-apa—karena berhala-berhala itu pada dasarnya tidak nyata—Rasul Paulus dengan tegas mengingatkan bahwa tindakan menyantapnya bisa membawa dampak yang jauh lebih besar dari sekadar urusan perut atau pemenuhan kebutuhan jasmani.
Dampak yang dikhawatirkan Rasul Paulus adalah munculnya batu sandungan bagi iman sesama. Ketika saudara-saudari seiman yang mungkin belum memiliki pemahaman yang utuh melihat tindakan tersebut, mereka bisa saja menjadi bingung, salah paham, atau bahkan kehilangan iman karena mengira praktik penyembahan berhala diperbolehkan dan dinormalisasi oleh sesama orang Kristen. Meski ada sebagian umat masa itu yang berkompromi dengan ritual pagan demi menyelamatkan nyawa atau sekadar menjaga kenyamanan hidup, Rasul Paulus menekankan bahwa tindakan mementingkan diri sendiri ini justru menuntun pada perpecahan. Di sinilah esensi kasih itu diuji: sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk saling menjaga dan tidak membiarkan kebebasan atau pilihan pribadi kita menjerumuskan saudara kita ke dalam kehancuran iman.
Kehati-hatian untuk tidak menjadi batu sandungan ini adalah bentuk nyata dari kepedulian kita terhadap sesama, yang kemudian dipertegas dan diperluas maknanya oleh Tuhan Yesus dalam bacaan Injil. Tuhan menantang kita untuk melangkah lebih jauh. Jika menjaga iman dan berbuat baik kepada orang-orang yang kita kasihi saja dituntut dari kita, kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama kepada mereka yang bersikap sulit terhadap kita. Mengasihi keluarga dan sahabat adalah hal yang membahagiakan, namun kasih Kristiani memanggil kita untuk mencurahkan perhatian, pengampunan, dan kebaikan yang sama kepada mereka yang membenci, menganiaya, dan menganggap kita sebagai musuh.
Tentu saja, mewujudkan kasih semacam ini jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, namun di sanalah kita menemukan makna sejati dari mengikuti jejak Kristus. Ia tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menghidupi kasih itu secara sempurna hingga ke kayu salib. Ketika Ia ditolak, dianiaya, dan diolok-olok, cinta-Nya tak sedikit pun pudar. Ia tetap teguh melayani dan bahkan dari atas Salib di Kalvari, Ia memandang mereka yang menyalibkan-Nya dengan penuh belas kasih, lalu memohon kepada Bapa untuk tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka dan mengampuni mereka.
Jika Tuhan kita serta para murid dan orang kudus-Nya telah mampu menunjukkan kelembutan, kerahiman, dan pengampunan yang begitu tulus, kita pun diundang untuk berani mengambil jalan yang sama dalam hidup kita sendiri. Marilah kita melangkah menjadi murid-murid yang tidak hanya setia dalam perkataan, tetapi juga bersinar dalam perbuatan, menjauhi tindakan yang dapat menjadi batu sandungan akibat kurangnya iman kita. Di tengah segala tantangan dan kesulitan hidup, semoga Allah senantiasa menyertai dan memampukan kita untuk terus menginspirasi satu sama lain, belajar mengampuni mereka yang telah menorehkan luka, dan merangkul sesama dalam perjalanan hidup Kristiani yang otentik, penuh keberanian, dan setia, kini dan selamanya. Amin.
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Doa Malam
Terima kasih ya Yesus, atas sabda-Mu hari ini. Engkau mengajak aku untuk terus menerus membarui diri. Engkau juga mengajar aku untuk bersikap rendah hati kepada sesama. Berkatilah usahaku untuk bersikap penuh kasih, terutama kepada mereka yang menyakiti hatiku. Amin.
RENUNGAN PAGI



