Minggu, 20 September 2026
Hari Minggu Biasa XXV
Iri hati adalah satu dosa pokok. Ia berarti bahwa orang kecewa karena yang lain mendapat untung, dan menghendaki secara tidak terbatas, untuk memiliki sendiri hartanya atas cara yang tidak adil. Siapa yang menginginkan yang jahat bagi sesamanya, melakukan dosa berat.Santo Agustinus melihat di dalam iri hati "dosa setani" (catech. 4:8). "Dari iri hati muncullah kedengkiah, fitnah, hujah, kegirangan akan kesengsaraan sesama, dan menyesalkan keberuntungannya" (Gregorius Agung., mor. 31,45). (Katekismus Gereja Katolik, 2539)
Antifon Pembuka (lih. Mzm 37:39,40,28)
Akulah keselamatan umat, Sabda Tuhan. Aku akan mendengarkan seruannya dalam segala kesulitan. Aku akan tetap menjadi Tuhan mereka sepanjang masa.
I am the salvation of the people, says the Lord. Should they cry to me in any distress, I will hear them, and I will be their Lord for ever.
Salus populi ego sum, dicit Dominus: de quacumque tribulatione clamaverint ad me, exaudiam eos: et ero illorum Dominus in perpetuum.
Doa Pagi
Ya Allah, segala ketetapan hukum-Mu yang kudus Engkau rangkum dalam hukum kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Semoga dengan menaati perintah-perintah-Mu, kami dapat sampai ke hidup yang kekal. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Yesaya (55:6-9)
Hari Minggu Biasa XXV
Iri hati adalah satu dosa pokok. Ia berarti bahwa orang kecewa karena yang lain mendapat untung, dan menghendaki secara tidak terbatas, untuk memiliki sendiri hartanya atas cara yang tidak adil. Siapa yang menginginkan yang jahat bagi sesamanya, melakukan dosa berat.Santo Agustinus melihat di dalam iri hati "dosa setani" (catech. 4:8). "Dari iri hati muncullah kedengkiah, fitnah, hujah, kegirangan akan kesengsaraan sesama, dan menyesalkan keberuntungannya" (Gregorius Agung., mor. 31,45). (Katekismus Gereja Katolik, 2539)
Antifon Pembuka (lih. Mzm 37:39,40,28)
Akulah keselamatan umat, Sabda Tuhan. Aku akan mendengarkan seruannya dalam segala kesulitan. Aku akan tetap menjadi Tuhan mereka sepanjang masa.
I am the salvation of the people, says the Lord. Should they cry to me in any distress, I will hear them, and I will be their Lord for ever.
Salus populi ego sum, dicit Dominus: de quacumque tribulatione clamaverint ad me, exaudiam eos: et ero illorum Dominus in perpetuum.
Doa Pagi
Ya Allah, segala ketetapan hukum-Mu yang kudus Engkau rangkum dalam hukum kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Semoga dengan menaati perintah-perintah-Mu, kami dapat sampai ke hidup yang kekal. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Yesaya (55:6-9)
"Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu."
Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya. Baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengasihaninya; baiklah ia kembali kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,” demikian firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu, dan rancangan-Ku di atas rancanganmu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 816
Ref. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.
Atau Tuhan mendengarkan doa orang beriman.
Ayat. (Mzm 145:2-3.8-9.17-18; Ul: lh.18a)
1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, ya Allah, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji; kebesaran-Nya tidak terselami.
2. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
3. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (1:20c-24.27a)
Ayat. (Mzm 145:2-3.8-9.17-18; Ul: lh.18a)
1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, ya Allah, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji; kebesaran-Nya tidak terselami.
2. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
3. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (1:20c-24.27a)
"Bagiku hidup adalah Kristus."
Saudara-saudara, dengan nyata Kristus dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus ini memang jauh lebih baik; tetapi demi kamu lebih berguna aku tinggal di dunia ini. Maka hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Kis 16:14b)
Bukalah hati kami, ya Tuhan, sehingga kami memperhatikan Sabda Putra-Mu
Inilah Injil Suci menurut Matius (20:1-16a)
"Iri hatikah engkau karena Aku murah hati?"
Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, ‘Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.’ Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula, dan berbuat seperti tadi. Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, ‘Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?’ jawab mereka, ‘Tidak ada orang yang mengupah kami’. Kata orang itu, ‘Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku’. Ketika hari sudah malam, berkatalah tuan itu kepada mandornya, ‘Panggillah sekalian pekerja itu dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu’. Maka datanglah mereka, mulai yang bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat lebih besar. Tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, ‘Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari’. Tetapi tuan itu menjawab salah seorang dari mereka, ‘Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah! Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?’ Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir.
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe
(U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Tuhan sungguh menginginkan pekerja. Sebagaimana Yesus sampaikan dalam perumpamaan itu, pemilik kebun anggur—yang melambangkan Allah—pergi mencari pekerja pada pukul 6 pagi, 9 pagi, tengah hari, jam 3 sore, bahkan jam 5 sore. Ia tidak menunggu orang datang melamar pekerjaan. Ia mengambil inisiatif dan terus mencari mereka sepanjang hari. Dari pagi hingga petang, Ia terus berkata, "Pergilah kamu juga ke kebun anggur-Ku, dan aku akan memberimu apa yang pantas." Santo Matius sangat bersyukur atas upaya Allah yang tak kenal lelah dalam mencari pekerja ini.
Penting untuk diketahui bahwa di antara semua penulis Injil, hanya Santo Matius yang mencatat perumpamaan ini. Sering kali, perumpamaan dicatat oleh lebih dari satu penulis Injil, namun hanya Matius yang memuat perumpamaan ini. Sebab tanpa Allah yang terus-menerus mencari pekerja, ia tidak akan pernah bertemu dengan Yesus.
Tak diragukan lagi, perumpamaan hari ini memiliki makna mendalam bagi seorang mantan pemungut cukai, yang merasa senasib dengan orang-orang yang baru dipekerjakan pada saat-saat terakhir hari itu. Sebab ia bukanlah termasuk rasul-rasul pertama—para nelayan seperti Petrus dan Andreas, serta dua bersaudara Yakobus dan Yohanes.
Karena tahu betapa orang Yahudi memandang rendah pemungut cukai, ia tak pernah membayangkan Yesus akan memanggilnya. Mungkin pada awalnya, saat mendengar tentang Yesus, Matius tidak memiliki keinginan untuk dipanggil bekerja. Namun, tiba saatnya minatnya terhadap Yesus mulai tumbuh. Kerinduan untuk mengikut Yesus tumbuh dalam jiwanya.
Setelah bertahun-tahun dipandang rendah dan dibenci, Matius merasa kesepian dan kehilangan arah; ia berada di ambang keputusasaan, berpikir bahwa Allah tidak akan pernah memanggilnya. Lalu, sungguh ajaib, Yesus berhenti di meja pemungutan cukainya, menatap matanya, dan berkata, "Matius, mari, ikutlah Aku."
Bukan hanya Matius yang segera mengikut-Nya, tetapi juga banyak pemungut cukai dan orang berdosa lainnya. Matius sadar bahwa dirinya tidak layak menerima panggilan Yesus. Namun, ia melihat bahwa Yesus tidak memilih orang-orang yang merasa diri layak atau benar sendiri. Ia tidak mempekerjakan pekerja yang terlatih secara khusus. Sebaliknya, Ia sering memanggil orang-orang seperti dirinya—mereka yang dipandang rendah dan tersesat.
Ketika orang-orang Farisi dengan lantang mengeluhkan tindakan Yesus yang makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa, Yesus berkata, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit." "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Fakta bahwa Yesus memanggil orang-orang berdosa untuk mengikuti-Nya merupakan tanda harapan bagi Matius, dan juga bagi Anda dan saya.
Ingatlah kata-kata pertama Yesus yang tercatat saat Ia memulai pelayanan publik-Nya. Ia berkata, "Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah pada Injil." Inilah tugas pertama yang Yesus minta untuk dilakukan oleh para murid: bertobat dari dosa-dosa mereka. Melakukan upaya berat untuk merendahkan hati serta memohon belas kasih Tuhan.
Dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan berfirman kepada kita melalui nabi Yesaya, "Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-jalanmu bukanlah jalan-jalan-Ku." Kata-kata ini pastilah juga menarik perhatian Matius, karena ia menyadari bahwa pikirannya sendiri bukanlah pikiran Tuhan, dan pikiran-pikiran itu tidak mendatangkan kebahagiaan baginya—pikiran yang hanya tertuju pada hal-hal seperti uang, bukan pada kasih terhadap sesama. Matius juga tahu bahwa betapapun keras usahanya, ia tidak dapat mengubah dirinya sendiri. Ia tidak mampu mengubah pola pikirnya. Ia membutuhkan seorang Juruselamat.
Seseorang yang mampu menyingkirkan hati batu yang cemar dan menggantinya dengan hati yang bersih serta penuh belas kasih. Seseorang yang mampu melenyapkan kekacauan dalam pikirannya dan menggantinya dengan terang kebenaran. Hanya Yesus yang dapat menyelamatkan Matius dari rasa kesepian yang menyiksa.
Hal ini patut kita pada masa kini, banyak saudara-saudari para lanjut usia menderita akibat rasa kesepian; mereka yang tidak dikunjungi oleh orang lain. Justru itulah yang ingin dilakukan Yesus. Ia mengajak Matius untuk melakukan upaya pertobatan yang berat, lalu tugas sulit untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus dalam iman. Inilah tugas utama bagi kita semua.
Bukan hanya bagi pemungut cukai dan orang berdosa yang nyata-nyata terlihat. Itulah sebabnya kita mengawali Misa hari Minggu dengan kata-kata ini: "Marilah kita mengakui dosa-dosa kita dan mempersiapkan diri untuk merayakan misteri suci ini." Cara untuk mempersiapkan diri bagi tugas memuji Allah—yakni liturgi suci—adalah dengan mengingat kembali dosa-dosa kita. Demikianlah Misa dimulai, dan demikian pula karya Gereja bermula.
Hal ini juga menjelaskan mengapa saat pembaptisan dan pada setiap perayaan Paskah setelahnya, kita secara terbuka menolak Iblis beserta segala perbuatan dan janji-janjinya yang sia-sia, lalu mengucapkan pengakuan iman secara terbuka. Begitu kita bertobat dan mengakui iman kita kepada Injil, Yesus menjadikan kita pekerja bagi Kerajaan-Nya. Ia sungguh menghendaki kita menjadi pekerja karena hal itu baik bagi kita. Melalui cara itulah kita bertumbuh menyerupai Putra-Nya dan Bapa, Sang Pencipta segalanya.
Yang terutama, baiklah kita melakukan karya-karya belas kasih. Tindakan amal kasih di mana kita membantu sesama dalam kebutuhan jasmani maupun rohani. Karya jasmani, seperti memberi makan orang yang lapar dan pakaian bagi mereka yang telanjang, serta merawat orang sakit dan mereka yang dipenjara. Juga karya rohani, seperti mengampuni dan mendoakan musuh kita. Menanggung beban sesama dan menegur orang berdosa. Iman yang bekerja melalui kasih, sebagaimana dikatakan Santo Paulus. Inilah karya yang senantiasa Yesus panggil untuk kita lakukan. Dan Yesus menyatakannya dengan cara lain: "Kasihilah seorang akan yang lain sebagaimana Aku telah mengasihi kamu."
Satu poin lagi mengenai perumpamaan tentang para pekerja itu. Semua menerima upah yang sama besarnya, terlepas dari berapa lama mereka bekerja. Bagaimana hal itu bisa adil? Nah, hal itu adil karena upah tersebut merupakan anugerah yang melampaui segala anugerah. Sebuah anugerah yang jauh melebihi apa pun yang dapat dibeli dengan uang. Itu adalah anugerah berupa persahabatan penuh kasih dengan Yesus.
Matius menyadari bahwa ia menerima jauh lebih banyak daripada yang pantas ia dapatkan dari usahanya sendiri. Ia tidak pernah bermimpi bisa menjadi murid Yesus. Ia sependapat dengan kata-kata terakhir Yesus dalam Injil hari ini: "Yang terakhir akan menjadi yang pertama, dan yang pertama akan menjadi yang terakhir."
Allah tidak memberikan kepada manusia apa yang pantas mereka terima (berdasarkan jasa mereka). Ia memberikan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita capai melalui usaha kita sendiri tidak ada bandingannya dengan diselamatkan dan diubahkan oleh Yesus. Tanpa kasih Tuhan, hidup kita dipenuhi dengan hubungan yang rusak dan dosa-dosa yang memalukan. Semua itu menghancurkan hati dan memberatkan jiwa.
Karya yang paling penting di atas segala karya lainnya adalah karya penebusan Yesus. Ia menebus mereka yang menjadi budak keegoisan dan dosa. Ia membebaskan mereka dan menjadikan mereka putra-putri terkasih Allah. Ia menawarkan kepada kita anugerah untuk menjadi murid-murid-Nya dan murid-murid misionaris-Nya. Ia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang pantas kita terima.
Seperti yang ditulis Santo Agustinus: "Engkau menciptakan kami bagi diri-Mu, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan tenang sampai ia beristirahat di dalam Engkau." Dengan alasan yang kuat, Santo Paulus menulis dalam bacaan kedua hari ini: "Bagiku, hidup adalah Kristus." Santo Matius pun akan mengatakan hal yang sama. Sejak saat ia dipanggil oleh Yesus, ia akan berkata: Bagiku, hidup adalah Kristus. Segala hal lainnya hanyalah sampah belaka. Dan sungguh, Maria Magdalena, Santo Agustinus, dan semua orang kudus menyadari berkat terbesar dari semuanya, yaitu hidup di dalam Kristus. Semoga Anda dan saya dapat berkata dengan penuh syukur dan sukacita: Bagiku, hidup adalah Kristus.
(THOMAS/RENUNGAN PAGI)
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Meditasi Antonio Kardinal Bacci: Bahaya sikap suam-suam kuku
Antifon Komuni (Mzm 119:4-5)
Engkau telah menyampaikan titah-Mu, supaya ditepati dengan sungguh-sungguh. Semoga tetaplah jalan hidupku, untuk melaksanakan ketetapan-Mu.
You have laid down your precepts to be carefully kept; may my ways be firm in keeping your statutes.




