Sabtu, 19 September 2026
Hari Biasa Pekan XXIV
“Sakramen Mahakudus adalah Kristus yang tersamar. Orang-orang miskin dan sakit adalah Kristus yang terlihat.” — St. Gerardus Majella
Antifon Pembuka (1Kor 15:49)
Seperti kini kita mengenakan rupa dari manusia duniawi, demikian pula kita akan mengenakan rupa dari yang surgawi.
Doa Pagi
Allah Bapa kami, sumber segapa pembaruan, perkenankanlah kami menyerupai Sang Manusia baru yang telah Kauutus mendatangi kami. Kami mohon agar dapat mendiami dunia seperti rumah-Mu. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Hari Biasa Pekan XXIV
“Sakramen Mahakudus adalah Kristus yang tersamar. Orang-orang miskin dan sakit adalah Kristus yang terlihat.” — St. Gerardus Majella
Antifon Pembuka (1Kor 15:49)
Seperti kini kita mengenakan rupa dari manusia duniawi, demikian pula kita akan mengenakan rupa dari yang surgawi.
Doa Pagi
Allah Bapa kami, sumber segapa pembaruan, perkenankanlah kami menyerupai Sang Manusia baru yang telah Kauutus mendatangi kami. Kami mohon agar dapat mendiami dunia seperti rumah-Mu. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (15:35-37.42-49)
"Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan."
Saudara-saudara, mungkin ada orang bertanya, “Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apa mereka akan datang kembali?” Hai orang bodoh! Benih yang kautaburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, jika tidak mati dahulu. Dan yang kautaburkan itu bukanlah rupa tanaman yang akan tumbuh, melainkan biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Demikian pulalah halnya dengan kebangkitan orang mati: Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. Seperti ada tertulis, ‘Manusia pertama, Adam, menjadi makhluk yang hidup. Tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan’. Tetapi yang mula-mula datang, bukanlah yang rohaniah, melainkan yang alamiah; barulah kemudian yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani; manusia kedua berasal dari surga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan yang berasal dari debu tanah, dan makhluk-makhluk surgawi sama dengan Dia yang berasal dari surga. Jadi seperti kini kita mengenakan rupa dari manusia duniawi, demikian pula kita akan mengenakan rupa dari yang surgawi.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.
Ayat. (Mzm 56:10.11-12.13-14)
1. Musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin bahwa Allah berpihak kepadaku.
2. Kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Tuhan, yang sabda-Nya kujunjung tinggi, kepada-Nya aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku?
3.Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kupenuhi dan kurban syukur akan kupersembahkan kepada-Mu. Sebab Engkau telah meluputkan daku dari maut, dan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; sehingga aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Luk 8:15)
Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (8:4-15)
Inilah Injil Suci menurut Lukas (8:4-15)
"Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan
menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Hari ini, kita mendengar perumpamaan indah yang disampaikan Yesus mengenai benih dan menghasilkan banyak buah. Sebagai permulaan, ada satu pengingat penting terkait perumpamaan ini—sebuah cara indah untuk mulai memahaminya—yang berasal dari Santa Theresia dari Lisieux. Dalam buku hariannya yang indah dan mendalam—sebuah karya wajib baca berjudul *Kisah Sebuah Jiwa*—ia membandingkan dirinya (dan itulah sebabnya ia dijuluki "Bunga Kecil").
Ia mengamati bahwa semua jiwa ibarat taman bagi Allah. Ada jiwa-jiwa yang ditempatkan Allah bagaikan bunga-bunga eksotis yang megah atau bunga-bunga indah nan menakjubkan; namun, ia menulis bahwa dirinya hanyalah sekuntum bunga kecil di taman Allah—bunga kecil yang sangat sederhana dan rendah hati. Meskipun demikian, itulah sosok yang dikehendaki Allah bagi dirinya, dan itulah peran yang ia jalani dengan kemampuan terbaiknya.
Ini adalah pengingat yang indah saat kita merenungkan perumpamaan seperti ini, karena kita dipanggil untuk menghasilkan buah sesuai dengan rancangan, kejeniusan, dan kehendak Allah bagi kita—sesuai dengan bagaimana Dia menciptakan jiwa kita masing-masing.
Jadi, hal pertama yang perlu kita pikirkan adalah menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, karena itulah yang diinginkan Allah bagi kita, dan bukan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Kita harus mengenal diri sendiri dan menjadi versi terbaik dari diri kita, karena kita ibarat bunga kecil di taman Allah, dan kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri sesuai kehendak-Nya.
Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang yang memiliki pola pikir agraris; segala hal yang disebutkan Yesus dalam banyak perumpamaan—seperti ladang, pertanian, atau pekerjaan sebagai gembala—adalah hal-hal yang sangat akrab bagi para pendengar pertama-Nya.
Namun, tentu saja, ini adalah hal yang patut kita renungkan bersama. Pertama-tama dalam perumpamaan ini, kita perlu menyadari—jika kita mencermatinya dengan saksama—bahwa Yesus tidak sedang mengatakan ada orang yang hanya memiliki jenis tanah ini, sementara yang lain memiliki jenis tanah itu, dan seterusnya.
Ia menggambarkan bagaimana benih disebar ke ladang luas; sebagian jatuh di jenis tanah tertentu, sebagian lagi di jenis tanah lainnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa tanah dalam perumpamaan ini melambangkan jiwa kita—kondisi jiwa kita—tempat kita akan menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah sesuai dengan kehendak-Nya atas hidup kita.
Di dalam jiwa kita, terdapat unsur-unsur dari setiap jenis tanah tersebut; tidak ada seorang pun yang kebal terhadap hal-hal ini. Kita semua akan dicobai oleh musuh. Kita semua bisa terhimpit oleh kekhawatiran hidup, berbagai persoalan yang muncul, masa-masa sulit, serta penderitaan dalam hidup kita. Kita semua akan dicobai oleh godaan kekayaan, kesenangan duniawi, dan segala hal yang masuk ke dalam hidup kita yang dapat menyita waktu kita bersama Allah.
Namun, berkat kasih karunia, kita semua sudah memiliki "tanah yang baik" di dalam diri kita—tempat di mana kita akan bertumbuh subur. Yang terpenting adalah kita mengakuinya, sangat menyadari kondisi jiwa kita, serta melihat jenis tanah mana yang akan mendominasi dan di mana sebagian besar benih kasih karunia Allah akan tertanam. Itulah hal yang harus kita waspadai dengan sungguh-sungguh.
Jika, misalnya, kita lebih sering jatuh ke dalam salah satu pencobaan yang mencerminkan "tanah yang buruk" dalam jiwa kita, maka kita harus berhati-hati agar hal itu tidak menjadi faktor yang menguasai segalanya. Kita harus berfokus pada sisi kebaikan yang kita miliki dan mengembangkannya. Sementara bagian lainnya harus kita olah dan benahi.
Sama seperti seseorang yang menggarap ladang atau kebun—di mana ada proses menyingkirkan batu, semak berduri, dan ilalang—kita pun harus melakukan hal yang sama. Lalu, biarlah benih yang Allah tanamkan dalam diri kita tumbuh sesuai kehendak-Nya, agar menghasilkan banyak buah bagi Kerajaan Allah. Satu-satunya hal yang perlu kita pikirkan hanyalah menjadi bunga—menjadi sosok yang dikehendaki Allah bagi kita—dan menjalaninya dengan sebaik mungkin. Sebab itulah kehendak-Nya.
Seperti kata Santa Theresia, ia ingin menjadi bunga kecil yang terbaik di taman Allah. Maka, marilah kita memohon bantuan Roh Kudus untuk memurnikan "tanah" jiwa kita, agar kita dapat berbuah dan menjadi pribadi serta anak Allah yang memang dikehendaki-Nya bagi kita. Tuhan memberkati.
Antifon Komuni (Luk 8:15)
Yang jatuh di tanah baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah dalam ketekunan.
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Doa Malam
Ya Yesus, bantulah kami untuk selalu menyiapkan lahan yang subur di hati kami. Dengan demikian setiap benih sabda-Mu yang ditaburkan dapat tumbuh, hidup dan menghasilkan buah melimpah sesuai dengan kehendak-Mu sendiri. Engkaulah Tuhan yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.
Ya Yesus, bantulah kami untuk selalu menyiapkan lahan yang subur di hati kami. Dengan demikian setiap benih sabda-Mu yang ditaburkan dapat tumbuh, hidup dan menghasilkan buah melimpah sesuai dengan kehendak-Mu sendiri. Engkaulah Tuhan yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.
EQS/RENUNGAN PAGI




