Jumat, 25 September 2026
Hari Biasa Pekan XXV
Membaca Kitab Suci berarti berpaling kepada Kristus untuk meminta nasihat (St. Fransiskus Assisi)
Antifon Pembuka (Mzm 144:1a-2abc)
Terpujilah Tuhan gunung batuku! Dialah tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku.
Hari Biasa Pekan XXV
Membaca Kitab Suci berarti berpaling kepada Kristus untuk meminta nasihat (St. Fransiskus Assisi)
Antifon Pembuka (Mzm 144:1a-2abc)
Terpujilah Tuhan gunung batuku! Dialah tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku.
Doa Pagi
Ya Allah, bukalah hati kami untuk semakin mengenal Putra-Mu yang telah Kauutus untuk menebus dosa-dosa kami. Semoga, kami Kauberi kekuatan untuk mengikuti jejak Putra-Mu itu, yaitu kerelaan untuk mengampuni sesama kami. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Pengkhotbah (3:1-11)
"Untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya."
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Terpujilah Tuhan gunung batuku.
Ayat. (Mzm 144:1-2.3-4)
1.. Terpujilah Tuhan, Gunung batuku! Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung.
2. Ya Tuhan, apakah manusia itu, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Manusia tak ubahnya seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang berlalu.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mrk 10:45)
Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (9:18-22)
Inilah Injil Suci menurut Lukas (9:18-22)
"Engkaulah Kristus dari Allah. Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan."
Pada suatu ketika Yesus sedang berdoa seorang diri. Maka datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus lalu bertanya kepada mereka, "Kata orang banyak siapakah Aku ini?" Mereka menjawab, "Yohanes Pembaptis; ada juga yang mengatakan: Elia; ada pula yang mengatakan: Salah seorang nabi dari zaman dulu telah bangkit." Yesus bertanya lagi, "Menurut kalian, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus, "Engkaulah Kristus dari Allah." Dengan keras Yesus melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapa pun. Ia lalu berkata, "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh para tua-tua, oleh para imam kepala dan para ahli Taurat, lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga."
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Saudara-saudari terkasih, panggilan kita sebagai pengikut Kristus adalah sebuah peziarahan untuk terus-menerus memancarkan kebenaran dan Kabar Baik-Nya di tengah dunia. Dalam perjalanan ini, kita menyadari bahwa Gereja bukanlah sekadar institusi, melainkan diri kita sendiri—umat beriman yang membentuk Tubuh Kristus, di mana setiap dari kita memikul tanggung jawab dan peran yang khas.
Untuk menghayati peran tersebut, Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita akan harmoni kehidupan: bahwa senantiasa ada waktu untuk segala sesuatu. Ada saatnya kita bekerja, berinteraksi, dan merajut kebersamaan dengan keluarga serta orang-orang tercinta; ada pula saatnya kita menghadapi suka dan duka. Namun, di tengah seluruh dinamika itu, harus selalu ada waktu yang secara khusus kita sediakan untuk bersekutu dengan Allah. Kita dipanggil untuk memusatkan pandangan kepada-Nya, agar tidak mudah terhanyut oleh hiruk-pikuk pengejaran kesenangan duniawi, godaan kesombongan, maupun hal-hal yang kerap menjadi batu sandungan dalam pelayanan kita.
Memusatkan pandangan kepada Allah berarti kita harus berani mengenali dan mengakui-Nya secara pribadi, sebagaimana yang diteladankan oleh Santo Petrus. Ketika banyak orang hanya bisa menebak-nebak identitas Yesus—menganggap-Nya sebagai nabi Elia atau Yohanes Pembaptis—Petrus tampil mewakili para murid dengan iman yang jernih dan menyatakan secara langsung bahwa Yesus adalah Mesias, Yang Kudus dari Allah. Pengakuan iman yang lugas dan berani inilah yang menjadi alasan Tuhan mempercayakan fondasi kepemimpinan Gereja kepadanya. Keberanian yang sama pulalah yang memampukan para Rasul dan murid-murid perdana untuk terus mewartakan kebenaran, meski mereka harus menghadapi penderitaan, tantangan, dan penganiayaan yang luar biasa. Mereka rela bertaruh nyawa demi iman yang mereka saksikan sendiri, didorong oleh keyakinan teguh bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.
Semangat juang para Rasul dan teladan para kudus yang telah mendahului kita ini sudah sepatutnya menjadi cermin bagi kita saat ini. Kita semua telah dianugerahi talenta, kesempatan, dan jalan hidup yang unik untuk menghadirkan wajah kasih Allah agar semakin dekat dengan sesama. Kitalah yang kini menentukan bagaimana kita menanggapi panggilan tersebut. Namun, di saat yang sama, kita harus selalu mawas diri. Sejarah kelam telah menunjukkan bahwa hidup yang kehilangan fokus pada kehendak Allah—bahkan yang dilakukan oleh kaum elit atau pemimpin Gereja sekalipun—dapat melahirkan skandal besar yang mencederai iman, mendatangkan aib, dan mencoreng Nama Kudus Allah.
Kenyataan ini menjadi peringatan bagi kita bahwa cara kita menjalani hidup sehari-hari sangatlah berdampak. Jangan sampai kelemahan atau kelalaian kita menjadi batu sandungan bagi iman orang lain. Sebaliknya, marilah kita melangkah maju dengan komitmen yang tulus untuk menjadi suluh yang hidup—membaktikan diri lewat tindakan-tindakan nyata, bahkan dalam hal-hal terkecil dan tersederhana sekalipun. Dengan dedikasi dan kasih yang tulus, kita dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang kita jumpai. Semoga Tuhan senantiasa mengobarkan keberanian dan semangat di dalam hati kita, agar hidup yang kita jalani semakin layak di hadapan-Nya, penuh kasih bagi sesama, dan memberkati dunia di sekitar kita. Amin.
Antifon Komuni (Luk 9:22)
Putra Manusia harus menderita
banyak, dibuang dan dibunuh orang tua-tua, imam-imam kepala dan
ahli-ahli Taurat. Tetapi pada hari ketiga ia akan bangkit.
(RENUNGAN PAGI)




