Senin, 02 November 2026
Peringatan Mulia Arwah Semua Orang Beriman
"Saya melihat Malaikat Pelindung saya, yang memerintahkan saya untuk mengikutinya. Sesaat saya berada di tempat berkabut penuh api di mana ada kerumunan besar jiwa-jiwa yang menderita. Mereka berdoa dengan khusyuk, tetapi tanpa pengaruh bagi diri mereka sendiri; hanya kita bisa datang membantu mereka. Api yang membakar mereka tidak menyentuh saya sama sekali. Malaikat Pelindung saya tidak meninggalkan saya untuk sesaat. Saya bertanya kepada jiwa-jiwa ini apa penderitaan terbesar mereka. Mereka menjawab saya dengan satu suara bahwa siksaan terbesar mereka merindukan Tuhan ... [Aku mendengar suara batin] yang berkata, Rahmat-Ku tidak menginginkan ini, tetapi keadilan menuntutnya." — St. Maria Faustina Kowalska, (Buku Harian Santa Maria Faustina Kowalska, 20)
"Saya melihat Malaikat Pelindung saya, yang memerintahkan saya untuk mengikutinya. Sesaat saya berada di tempat berkabut penuh api di mana ada kerumunan besar jiwa-jiwa yang menderita. Mereka berdoa dengan khusyuk, tetapi tanpa pengaruh bagi diri mereka sendiri; hanya kita bisa datang membantu mereka. Api yang membakar mereka tidak menyentuh saya sama sekali. Malaikat Pelindung saya tidak meninggalkan saya untuk sesaat. Saya bertanya kepada jiwa-jiwa ini apa penderitaan terbesar mereka. Mereka menjawab saya dengan satu suara bahwa siksaan terbesar mereka merindukan Tuhan ... [Aku mendengar suara batin] yang berkata, Rahmat-Ku tidak menginginkan ini, tetapi keadilan menuntutnya." — St. Maria Faustina Kowalska, (Buku Harian Santa Maria Faustina Kowalska, 20)
*Pada hari ini setiap Imam dapat merayakan tiga misa dengan mengingat
ketentuan yang ditetapkan oleh Benediktus XV melalui Konstitusi
Apostolik, 10 Agustus 1915: AAS (1915), hlm. 401-405.
MISA 1
Antifon Pembuka (bdk. 1Tes 4:14; 1Kor 15:22)
Sebagaimana Yesus telah wafat dan bangkit, demikian semua orang yang meninggal dalam Dia, akan dijemput Allah bersama Yesus. Dan seperti semua manusia mati dalam Adam, demikian semua orang dihidupkan kembali dalam Kristus.
Just as Jesus died and has risen again, so through Jesus God will bring with him those who have fallen asleep; and as in Adam all die, so also in Christ will all be brought to life.
Ref. Requiem æternam dona eis Domine: et lux perpetua luceat eis.
1. Te decet hymnus, Deus, in Sion; et tibi reddetur votum in Ierusalem. (Antifon)
2. Qui audis orationem, ad te omnis caro veniet propter iniquitatem. (Antifon)
3. Etsi prævaluerunt super nos impietates nostræ, tu propitiaberis eis. (Antifon)
4. Beatus quem elegisti et assumpsisti, inhabitabit in atriis tuis. (Antifon)
5. Replebimur bonis domus tuæ, sanctitate templi tui. (Antifon)
Pengantar
Hari ini secara khusus kita mengenangkan dan mendoakan kaum keluarga, sahabat, dan kenalan kita yang sedang menantikan keselamatan di api penyucian. Sesudah kematian, hubungan kita dengan semua yang mendahului kita tak terputuskan. Cinta kita kepada mereka diteruskan melampaui batas-batas maut. Cinta kita kepada anggota keluarga, sahabat dan kenalan tidak mati dan berhenti seiring dengan kematiannya. Inilah cinta yang dihayati dalam Gereja Katolik. Karena itu, bukan hanya waktu meninggal dan hari-hari tertentu sesudahnya, tetapi juga setiap tanggal 2 November Gereja Katolik merayakan peringatan mulia arwah semua orang beriman.
Doa Pagi
Ya Allah, kami mohon, berkenanlah mendengarkan doa-doa kami. Engkau telah menganugerahkan kepada kami iman yang kokoh akan Putra-Mu yang bangkit dari antara orang mati. Semoga Engkau meneguhkan harapan kami bahwa bersama hamba-hamba-Mu yang telah meninggal kami pun akan bangkit untuk hidup abadi. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Kedua Makabe (12:43-46)
"Kami yakin bahwa orang yang meninggal dengan saleh akan menerima pahala yang indah."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 801
Ref. Aku percaya kepada-Mu, Tuhanlah pengharapanku. Tuhan, pada-Mu kuberserah, dan mengharap kerahiman-Mu.
atau
Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan
atau
Aku menanti-nantikan Tuhan, aku mengharapkan firman-Nya.
Ayat. (Mzm 130:1b-2.3-4.5-6ab; Ul:lh.5)
1. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
2. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang takwa kepada-Mu.
3. Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi.
4. Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dan segala kesalahannya.
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4, PS 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ayat. (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ul: 1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan, di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kausiapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku. Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.
atau Mazmur 42, Mazmur 63 atau Mazmur 122
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (Singkat: 15:20-23)
"Semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus."
Saudara-saudara, Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (Panjang: 15:12-34)
Saudara-saudara, jika kami beritakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau kebangkitan orang mati tidak ada, maka Kristus pun tidak dibangkitkan. Dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah pula kepercayaanmu. Apalagi, andaikata betul demikian, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan bahwa Ia telah membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab andaikata benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus pun tidak dibangkitkan. Dan kalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu, dan kamu masih hidup dalam dosamu. Dengan demikian binasa pulalah orang-orang yang mati dalam Kristus. Dan jikalau kita berharap pada Kristus dalam hidup ini saja, maka kita adalah orang-orang yang paling malang di antara semua manusia. Namun ternyata Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa “segala sesuatu telah ditaklukkan”, maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk didalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya dibawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. Jika demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? Dan kami juga—mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.” Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 6:40)
Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku, jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
"Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak beroleh hidup yang kekal."
Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, "Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Saudara-saudari terkasih, lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah. Dan memang demikianlah kita. Saat kita merayakan Peringatan Mulia Arwah Semua Orang Beriman, kita dihadapkan pada ajaran tentang api penyucian (purgatorium). Umat Kristen non-Katolik sering mengkritik Gereja Katolik karena dianggap menciptakan ajaran ini, dengan alasan bahwa istilah "api penyucian" tidak ditemukan di dalam Alkitab. Namun, mari kita renungkan hal ini lebih dalam. Umat Kristen sejati meyakini Tritunggal—Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus—padahal kata "Tritunggal" pun tidak tercantum dalam Kitab Suci. Dengan demikian, umat Kristen yang berpegang pada prinsip bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas penuntun kehidupan Kristiani—namun di saat yang sama menerima doktrin-doktrin yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alkitab—menghadapi sebuah dilema. Sebab, jika Alkitab memang satu-satunya otoritas penuntun kehidupan Kristiani, maka Alkitab seharusnya menyatakan sendiri bahwa ia adalah satu-satunya otoritas tersebut; kenyataannya, Alkitab tidak menyatakan hal itu. Oleh karena itu, kriteria untuk menilai ajaran tentang api penyucian tidak terbatas pada apakah istilah tersebut disebutkan secara eksplisit di dalam Alkitab atau tidak.
Faktanya, konsep mengenai perlunya penyucian setelah kematian—sebelum seseorang layak memasuki surga—yang merupakan inti dari ajaran tentang api penyucian, sebenarnya disinggung di berbagai bagian Kitab Suci, meskipun kata itu sendiri tidak disebutkan. Bagi seorang pengkhotbah Katolik pada hari peringatan ini, muncul godaan untuk mengubah homili menjadi sekadar upaya apologetika—yakni pembelaan atas ajaran Katolik mengenai api penyucian dengan menyajikan berbagai bukti dari Kitab Suci. Namun, alih-alih menyerah pada godaan tersebut, mari kita simak beberapa poin dari Kitab Suci sebagai titik tolak untuk merenungkan ajaran tentang api penyucian ini secara lebih mendalam.
Perhatikanlah perkataan Yesus dalam Injil Matius, yang kemudian diikuti oleh pernyataan dalam Kitab Wahyu. Dalam Injil Matius, Yesus bersabda: "Setiap orang yang mengucapkan perkataan menentang Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak." (Mat 12:32) Sungguh pernyataan yang ganjil dari Yesus. Pengampunan di zaman ini—yakni dalam kehidupan saat ini—atau di zaman yang akan datang, yaitu kehidupan setelah kematian.
Jika kita beralih ke kitab terakhir dalam Kitab Suci, yaitu Kitab Wahyu, penulisnya mencatat hal berikut mengenai Yerusalem surgawi: Kota itu tidak memerlukan matahari atau bulan untuk menyinarinya, karena kemuliaan Allah menjadi cahayanya, dan Anak Domba adalah pelitanya. Bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahayanya, raja-raja di bumi akan membawa kemuliaan mereka ke dalamnya, pintu-pintunya tidak akan pernah ditutup pada siang hari, dan di sana tidak akan ada malam. Mereka akan membawa kemuliaan dan kehormatan bangsa-bangsa ke dalamnya. Namun, tidak ada sesuatu yang najis yang boleh masuk ke dalamnya. (Wahyu 21:23-27a)
Saya akan mengulanginya: tidak ada sesuatu yang najis yang dapat masuk ke surga. Jadi, di sini kita menjumpai dua rujukan yang penuh misteri: kemungkinan adanya bentuk pengampunan tertentu setelah kematian, serta fakta bahwa kita tidak mungkin menginjakkan kaki di surga kecuali kita benar-benar bersih—bukan sekadar diampuni dari dosa-dosa kita, melainkan juga dibebaskan dari keterikatan pada dosa. Tentu saja, terdapat rujukan serupa di sepanjang Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun, mari kita renungkan perlunya penyucian lebih lanjut setelah kematian sebelum seseorang dapat memasuki surga, dalam konteks dua praktik penting dalam Gereja Katolik: pengakuan dosa dan adorasi Ekaristi.
Siapa pun yang rutin menerima sakramen pengakuan dosa pasti mendapati dirinya mengakui dosa-dosa yang sama berulang kali. Jika seseorang telah mengakui setiap dosa berat yang ia sadari, maka semua dosa beratnya telah diampuni—belum lagi dosa-dosa yang lebih ringan atau dosa-dosa sehari-hari. Akan tetapi, kita semua—tanpa terkecuali—keluar dari kamar pengakuan dosa dengan kesadaran, berdasarkan pengalaman pribadi, bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang terus menarik kita kembali ke dalam dosa. Tidak seorang pun dapat masuk ke kamar pengakuan dosa lalu berkata, "Saya berjanji tidak akan pernah berdosa lagi." Tidak ada seorang pun. Kita memiliki kecenderungan terhadap dosa. Adanya ketertarikan terhadap hal-hal tertentu yang menuntun kita untuk kembali berbuat dosa—sesuatu yang tetap ada bahkan setelah kita diampuni.
Santo Paulus menulis tentang hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Ia berkata, "Aku tidak mengerti perbuatanku sendiri, karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, melainkan apa yang aku benci, itulah yang aku buat. Kehendak untuk berbuat baik memang ada padaku, tetapi bukan hal baik itu yang aku lakukan." (Roma 7:15,18-19)
"Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, itulah yang aku perbuat. Jadi, jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, bukan lagi aku yang melakukannya, melainkan dosa yang diam di dalam diriku. Demikianlah aku mendapati hukum ini: jika aku menghendaki untuk berbuat baik, yang jahat itu ada padaku." (Roma 7:19-21)
"Sebab di dalam batin aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita." (Roma 7:22-25)
"Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, itulah yang aku perbuat. Jadi, jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, bukan lagi aku yang melakukannya, melainkan dosa yang diam di dalam diriku. Demikianlah aku mendapati hukum ini: jika aku menghendaki untuk berbuat baik, yang jahat itu ada padaku." (Roma 7:19-21)
"Sebab di dalam batin aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita." (Roma 7:22-25)
Kita memang diampuni dari dosa-dosa kita melalui pengakuan dosa— baik dosa berupa perbuatan jahat yang telah kita lakukan, maupun kegagalan untuk melakukan kebaikan yang seharusnya kita lakukan. Namun, hukum dosa ini terus berdiam di dalam diri kita dan menawan kita. Kita harus berjuang untuk mengatasi hukum ini sedikit demi sedikit setiap hari dengan rahmat Allah, tetapi kemungkinan besar kita akan meninggal dengan masih membawa setidaknya kecenderungan untuk berbuat dosa di dalam diri kita.
Renungkanlah hal ini. Jika kita jujur—benar-benar jujur—berapa banyak dari kita yang dapat berkata dengan penuh keyakinan dan kredibilitas bahwa kita sama kudusnya dengan, katakanlah, Paus Santo Yohanes Paulus II pada hari kematiannya? Bukan sekadar kudus dalam artian "pada dasarnya saya orang baik"—bukan itu yang saya maksud. Maksud saya adalah kekudusan yang sesungguhnya. Kekudusan secara objektif. Disucikan dengan sempurna. Tanpa dosa dan bebas dari kecenderungan untuk berbuat dosa. Tahukah Anda bahwa Uskup Agung Fulton Sheen atau Beato Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia—yang telah beatifikasi—belum secara resmi dinyatakan sebagai orang kudus (santo/santa) oleh Gereja Katolik? Jadi, jika ada penundaan dari pihak Gereja dalam menetapkan seseorang sebagai orang kudus, hal itu seharusnya membuat kita semua berpikir ulang saat kita merasa sudah memiliki tiket langsung menuju surga. Namun, dalam hampir setiap pemakaman Katolik, ada saja pihak yang seolah-olah telah menyatakan mendiang sebagai orang kudus—terkadang bahkan imam sendiri yang melakukannya—dengan mengatakan bahwa orang tersebut sudah berada di surga. Tetapi, berdasarkan kriteria apa? Apakah hanya karena mereka telah meninggal? Padahal, syarat untuk masuk surga jauh lebih ketat daripada sekadar meninggal dunia.
Kita harus menjadi kudus. Dan kita tidak bisa menguduskan diri kita sendiri. Allah-lah yang menguduskan kita melalui kerja sama kita, melalui iman kita, serta melalui kepercayaan dan kerja sama kita dengan rahmat-Nya. Ada cara lain untuk memahami perlunya penyucian sebelum kita diperkenankan masuk surga, yaitu melalui konteks adorasi Sakramen Mahakudus.
Mari kita renungkan tentang "pandangan surgawi". Istilah teologis ini merujuk pada pengalaman memandang Allah secara langsung—berhadapan muka—di surga. Menariknya, dalam salah satu Doa Syukur Agung, terdapat permohonan: "Terimalah mereka dalam cahaya wajah-Mu." Jadi, "pandangan surgawi" adalah kemampuan untuk melihat dan memandang Allah secara langsung, berhadapan muka. Katekismus menjelaskan bahwa karena transendensi-Nya, Allah tidak dapat dilihat sebagaimana adanya, kecuali jika Ia sendiri menyingkapkan misteri tersebut kepada manusia dan memberikan kemampuan bagi manusia untuk memandang-Nya. Gereja menyebut kontemplasi akan Allah dalam kemuliaan surgawi-Nya ini sebagai "pandangan surgawi".
Ketika Allah menyatakan diri-Nya dan memanggil manusia, manusia tidak dapat menanggapi kasih ilahi tersebut sepenuhnya dengan kekuatannya sendiri. Ia harus berharap agar Allah menganugerahkan kemampuan untuk mengasihi-Nya kembali dan bertindak selaras dengan perintah kasih. "Pandangan surgawi"—di mana Allah menyingkapkan diri-Nya secara tak terbatas kepada orang-orang pilihan-Nya—akan menjadi sumber kebahagiaan, kedamaian, dan persekutuan yang senantiasa mengalir. Perhatikan bahwa di sini tidak disebutkan mengenai pengampunan dosa. Hal ini mengasumsikan bahwa kita sedang membicarakan seseorang yang meninggal tanpa menanggung dosa berat dalam jiwanya, sehingga ia dipastikan akan masuk surga. Namun, hal itu tidak terjadi secara otomatis ataupun seketika. Perhatikan bahwa Katekismus menyatakan bahwa Allah harus menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk memandang-Nya sebagaimana Dia adanya, untuk mengasihi-Nya sebagai tanggapan, dan untuk hidup dengan kasih yang sejati. Itu adalah anugerah dari Allah. Jika dipikirkan, hal ini mungkin terasa ganjil.
Kita harus dipersiapkan agar mampu memandang Allah. Lantas, apa masalahnya? Bukankah saya bisa saja memandang Allah dan terus menatap-Nya? Mari kita renungkan apa yang terjadi ketika kita mencoba untuk tetap berada dalam doa yang terpusat di hadapan Sakramen Mahakudus saat berada di dunia ini. Pengalaman saat adorasi Sakramen Mahakudus memberi kita gambaran mengenai kapasitas yang kita miliki—atau justru tidak kita miliki—untuk dapat menyerap keindahan, keagungan, dan kasih Allah secara utuh.
Dalam Sakramen Mahakudus, Tuhan Yesus Kristus hadir secara nyata, sungguh-sungguh, dan substansial. Namun, berapa lama kita bisa menjaga hati agar tetap terpusat sepenuhnya dan terus-menerus kepada-Nya, tanpa pikiran atau keinginan kita melantur ke hal lain? Meski bukan perumpamaan yang sempurna, hal ini menunjukkan betapa terpecahnya hati kita. Ya, kita memang ingin berada di hadirat Kristus, tetapi keinginan-keinginan rendah, kesibukan, dan berbagai gangguan terus-menerus menarik perhatian serta tatapan kita menjauh dari Tuhan.
Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus menggambarkan dinamika ini dengan kata-kata berikut. Adapun benih yang ditaburkan di tanah berbatu-batu, ini adalah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan sukacita, namun ia tidak berakar dalam dirinya sendiri dan hanya bertahan untuk sementara waktu. Ketika kesukaran atau penganiayaan timbul karena firman itu, ia pun segera murtad. Adapun benih yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, tetapi kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga menjadi tidak berbuah.
Jadi, jika kita mempertimbangkan beberapa aspek kehidupan di dunia ini—seperti kecenderungan untuk kembali kepada dosa dan ketidakmampuan kita untuk terus-menerus memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah—kita dapat melihat bahwa meskipun dosa-dosa kita telah diampuni, masih ada ketidakseimbangan dalam diri kita; suatu kecenderungan atau ketertarikan pada hal-hal selain Allah, yang tidak mampu kita hilangkan dengan kekuatan kita sendiri. Hal ini memberikan sudut pandang baru untuk merenungkan kembali bacaan pertama kita yang diambil dari Kitab Kebijaksanaan. Bacaan ini sering dibacakan dalam upacara pemakaman, dan kita biasanya menganggapnya merujuk pada mereka yang sudah berada di surga.
Kini, cobalah bacalah bacaan ini—mungkin untuk pertama kalinya—dalam konteks jiwa-jiwa yang berada di api penyucian (purgatorium). "Jiwa orang-orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan apa pun tidak akan menyentuh mereka. Dalam pandangan orang-orang bodoh, mereka tampak telah mati; kepergian mereka dianggap sebagai suatu kemalangan, dan kepergian mereka dari tengah kita dianggap sebagai kehancuran total. Namun, mereka berada dalam damai sejahtera. Sebab, meskipun di mata orang lain mereka tampak dihukum, harapan mereka penuh dengan kekekalan. Setelah mengalami sedikit hukuman, mereka akan menerima berkat yang melimpah, karena Allah telah menguji mereka dan mendapati mereka layak bagi diri-Nya. Seperti emas dalam perapian, Ia menguji mereka; dan seperti persembahan kurban, Ia menerima mereka bagi diri-Nya. Pada saat penghakiman, mereka akan bersinar dan melesat bagaikan percikan api di antara jerami. Mereka akan menghakimi bangsa-bangsa dan memerintah atas banyak suku, dan Tuhan akan bertahta untuk selama-lamanya. Mereka yang percaya kepada-Nya akan memahami kebenaran, dan orang-orang yang setia akan tinggal bersama-Nya dalam kasih. Sebab kasih karunia dan belas kasihan menyertai orang-orang kudus-Nya, dan pemeliharaan-Nya tertuju kepada orang-orang pilihan-Nya." (Kebijaksanaan 3:1-9)
Perhatikanlah betapa banyak bagian dalam bacaan ini yang menggunakan bentuk waktu masa depan (akan). Jiwa orang-orang benar ini memang berada di tangan Allah, namun mereka belum mencapai surga. Pengharapan mereka—yang tertuju pada masa depan, sesuatu yang mereka nantikan—penuh dengan keabadian. Mereka dididik, diuji, dan dimurnikan layaknya emas di dalam perapian. Segala sesuatu yang kelak akan mereka nikmati di masa depan adalah hal-hal surgawi.
Jiwa yang berada di api penyucian (purgatorium) dipastikan akan masuk surga setelah Tuhan mempersiapkan jiwa tersebut, memurnikannya dari segala keterikatan pada dosa, serta menganugerahinya kemampuan untuk menerima kasih Allah secara penuh dan utuh. Hal ini ditegaskan dalam katekismus. Setiap orang yang meninggal dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah—artinya, tanpa dosa berat—namun belum dimurnikan secara sempurna, sungguh dijamin akan memperoleh keselamatan kekal.
Akan tetapi, setelah kematian, mereka menjalani proses pemurnian demi mencapai kekudusan yang diperlukan untuk memasuki sukacita surga. Saat Yesus menetapkan syarat-syarat untuk menjadi murid-Nya dalam bacaan Injil minggu lalu, Ia menegaskan bahwa kita harus menggunakan akal budi kita untuk merenungkan hal-hal ilahi. Ia bersabda: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu." Ya, kita dipanggil untuk memikirkan dan mendalami iman Kristiani kita, serta menggunakan pikiran dan akal sehat kita dalam merenungkan perkara-perkara Allah. Mendalami konsep api penyucian—yang didukung oleh Kitab Suci—semakin menguatkan keyakinan kita akan kebijaksanaan ajaran Gereja, bahkan terhadap ajaran-ajaran yang mungkin lebih sulit untuk dipahami. Api penyucian bukanlah sekadar rekaan Gereja Katolik, melainkan bukti betapa besarnya kerinduan Tuhan agar kita dapat menghabiskan hidup kekal bersama-Nya di surga.
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
YOHANES/RENUNGANPAGI
Allah
mewahyukan kepada umat-Nya tentang kebangkitan dari antara orang mati
langkah demi langkah. Harapan akan kebangkitan badan dari orang-orang
yang telah meninggal, muncul sebagai akibat dari iman akan satu Allah,
yang menciptakan seluruh manusia dengan jiwa dan badan. Juga Pencipta
langit dan bumi memegang teguh dan dengan setia akan perjanjian-Nya
kepada Abraham dan keturunannya. Sambil memandang kedua kenyataan ini,
mulailah iman akan Kebangkitan menyata. (Katekismus Gereja Katolik, 992)
Antifon Komuni (Bdk. Yoh 11:25-26)
Akulah kebangkitan dan kehidupan, Sabda Tuhan. Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup, walaupun Ia sudah mati. Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.
I am the Resurrection and the Life, says the Lord. Whoever believes in me, even though he dies, will live, and everyone who lives and believes in me will not die for ever.
atau
Lux æterna luceat eis, Domine, cum sanctis tuis in æternam, quia pius es.
MISA 2
Antifon Pembuka (Bdk. Ezr 2:34-35)
Istirahat kekal, ya Tuhan, anugerahkanlah kepada mereka dan semoga cahaya abadi menyinari mereka.
Eternal rest grant unto them, O Lord, and let perpetual light shine upon them.
Ezra 2:34-35 / Mzm 65:2-5 (Graduale Romanum, 669)
Ref. Requiem æternam dona eis Domine: et lux perpetua luceat eis.
1. Te decet hymnus, Deus, in Sion; et tibi reddetur votum in Ierusalem.
2. Qui audis orationem, ad te omnis caro veniet propter iniquitatem.
3. Etsi prævaluerunt super nos impietates nostræ, tu propitiaberis eis.
4. Beatus quem elegisti et assumpsisti, inhabitabit in atriis tuis..
5. Replebimur bonis domus tuæ, sanctitate templi tui.
Bacaan dari Kitab Ayub (19:1.23-27a)
"Aku tahu bahwa penebusku hidup."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 801
Ref. Aku percaya kepada-Mu, Tuhanlah pengharapanku. Tuhan, pada-Mu kuberserah, dan mengharap kerahiman-Mu.
atau
Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan
atau
Aku menanti-nantikan Tuhan, aku mengharapkan firman-Nya.
Ayat. (Mzm 130:1b-2.3-4.5-6ab; Ul:lh.5)
1. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
2. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang takwa kepada-Mu.
3. Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi.
4. Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dan segala kesalahannya.
atau
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4, PS 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ayat. (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ul: 1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan, di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kausiapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku. Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.
atau Mazmur 42, Mazmur 63 atau Mazmur 122
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (2Kor 4:14 -5:1)
"Yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal."
Saudara-saudara, kami yakin bahwa Allah, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Allah itu akan menghadapkan kami bersama dengan kamu ke hadirat-Nya. Sebab semuanya itu terjadi demi kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar karena semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menghasilkan ucapan syukur yang semakin melimpah bagi kemuliaan Allah. Sebab itu kami tidak tawar hati! Meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari hari ke hari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan itu sementara, sedangkan yang tak kelihatan itu kekal. Kami tahu, jika kemah kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang bukan buatan tangan manusia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Why 14:3)
Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan. Mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (23:33.39-43)
"Hari ini juga Engkau akan bersama-sama Aku di dalam Firdaus."
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Antifon Komuni (Bdk. Ezr 2:35,34)
Semoga cahaya abadi menerangi mereka hingga kekal, bersama para Kudus-Mu, ya Tuhan, karena Engkau maharahim.
Let perpetual light shine upon them, O Lord, with your Saints for ever, for you are merciful.
Manusia
disatukan dengan semua makhluk hidup oleh asal-usul duniawinya, tetapi
hanya melalui jiwanya yang oleh Allah telah dihembuskan napas ke
dalamnya, maka ia menjadi manusia. Maka dianugerahkanlah kepada martabat
yang tak tergantikan dan juga tanggung jawabnya yang uni. (Kardinal
Christoph Schonborn, 1945, Uskup Agung Wina)
MISA 3
Antifon Pembuka (Bdk. Rm 8:11)
Allah yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, akan membangkitkan pula tubuh kita yang fana ini karena Roh-Nya yang tinggal dalam diri kita.
God, who raised Jesus from the dead, will give life also to your mortal bodies, through his Spirit that dwells in you.
Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (4:7-15)
"Hidup yang tak bercela, itulah usia lanjut!"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = c, 2/4, PS 844
Ref. 'Ku menuju ke altar Allah dengan sukacita.
Ayat. (Mzm 122.1-2.4-5.6-7;8-9; Ul:1)
1. Ku bersukacita waktu orang berkata kepadaku: Mari kita pergi ke rumah Tuhan. Sekarang kaki kami berdiri di gerbangmu, hai Yerusalem.
2. Kepadamu suku-suku berziarah, yakni suku-suku Tuhan, untuk bersyukur pada nama Tuhan sesuai dengan peraturan.
3. Berdoalah agar Yerusalem sejahtera "Damai bagi orang yang mencintai Engkau. "Semoga damai turun atas wilayahmu dan kesentosaan atas purimu."
4. Atas nama saudara dan sahabatku kuucapkan selamat kepadamu. Demi bait Tuhan Allah kita ku- mohonkan bahagia bagimu.
Bacaan dari Surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 2:8-13)
"Jika kita bertekun, kita pun akan memerintah dengan Kristus."
Saudaraku terkasih, ingatlah akan ini: Yesus Kristus, keturunan Daud, yang telah bangkit dari antara orang mati, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pewartaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi sabda Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka pun memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Benarlah sabda ini, “Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 6:51)
Akulah roti hidup yang telah turun dari surga, Sabda Tuhan. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.
Inilah Injil Suci menurut Yohanes (6:51-58)
"Tubuh-Ku benar-benar makanan, Darah-Ku benar-benar minuman."
Di
rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, “Akulah
roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti
ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan ialah
daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi
bertengkar antar mereka sendiri dan berkata, “Bagaimana Yesus ini dapat
memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan!” Maka kata Yesus kepada
mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan
daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di
dalam dirimu. Barangsiapa makan Daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia
mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir
zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah
benar-benar minuman. Barangsiapa makan Daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia
tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup
mengutus Aku, dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan
Aku, ia akan hidup oleh Aku. Akulah roti yang telah turun dari surga,
bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati.
Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”
Antifon Komuni (Bdk. Flp 3:20-21)
Kita menantikan Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan Tubuh-Nya yang mulia.
We await a savior, the Lord Jesus Christ, who will change our mortal bodies, to conform with his glorified body.
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Antifon Komuni (Bdk. Flp 3:20-21)
Kita menantikan Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan Tubuh-Nya yang mulia.
We await a savior, the Lord Jesus Christ, who will change our mortal bodies, to conform with his glorified body.
Di
rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, "Semua
yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa
datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh 6:37)
Apa itu Api Penyucian?
Api Penyucian atau ‘purgatorium’ adalah ‘tempat’/ proses
kita disucikan. Catatan: ‘Disucikan’ bukan ‘dicuci’, oleh sebab itu
disebut Api Penyucian (bukan Api Pencucian). Gereja Katolik mengajarkan
hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat
disarikan sebagai berikut:
1) Api Penyucian adalah suatu kondisi
yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan
dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga
memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.
2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.
3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada
di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan
ujud Misa Kudus bagi mereka. (Sumber: katolisitas.org)





