Sabtu, 31 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXX
“Doa Rosario adalah salah satu tradisi kontemplasi Kristiani yang terbaik dan paling berharga.” (St. Yohanes Paulus II)
Antifon Pembuka (Mzm 43:3)
Jiwaku haus akan Allah, Allah hidup! Bilakah aku boleh datang menghadap Allah?
Doa Pagi
Allah Bapa Mahabaik, orang yang datang menghadap-Mu dengan sederhana tak pernah dikecewakan. Engkau selalu mendengarkan bila kami sebut nama-Mu. Kami mohon perkenankanlah kami menyerupai Yesus yang sudi merendahkan diri untuk dapat menjunjung kami. Ia sudi menjadi cermin teladan kami dan jalan kehidupan kami. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (1:18b-26)
Hari Biasa Pekan XXX
“Doa Rosario adalah salah satu tradisi kontemplasi Kristiani yang terbaik dan paling berharga.” (St. Yohanes Paulus II)
Antifon Pembuka (Mzm 43:3)
Jiwaku haus akan Allah, Allah hidup! Bilakah aku boleh datang menghadap Allah?
Doa Pagi
Allah Bapa Mahabaik, orang yang datang menghadap-Mu dengan sederhana tak pernah dikecewakan. Engkau selalu mendengarkan bila kami sebut nama-Mu. Kami mohon perkenankanlah kami menyerupai Yesus yang sudi merendahkan diri untuk dapat menjunjung kami. Ia sudi menjadi cermin teladan kami dan jalan kehidupan kami. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
| Credit: valokuvaus/istock.com |
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (1:18b-26)
"Bersukacita dalam iman."
Saudara-saudara, asal saja Kristus diwartakan, aku bersukacita karenanya. Dan aku akan tetap bersukacita sebab aku tahu, bahwa akhir dari semuanya ini ialah keselamatanku berkat doamu dan berkat pertolongan Roh Yesus Kristus. Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan, ialah bahwa dalam segala hal aku tidak mendapat malu. Kuharapkan bahwa seperti dahulu, sekarang pun Kristus dengan nyata dimuliakan dalam tubuhku baik oleh hidup maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup ialah Kristus dan mati keuntungan. Hidup di dunia bagiku berarti bekerja dan menghasilkan buah. Maka aku tidak tahu, mana yang harus kupilih. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama Kristus, karena ini memang jauh lebih baik. Tetapi demi kalian, lebih perlu aku tetap tinggal di dunia ini. Dalam keyakinan ini tahulah aku bahwa aku akan tetap tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kalian semua, supaya kalian makin maju dan bersukacita dalam iman. Dengan demikian kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, yaitu apabila aku kembali kepadamu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS 843.
Ref. Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan ingin melihat wajah Allah.
Ayat. (Mzm 42:2.3.5bcd; R: 42:2, 2/4)
1. Seperti rusa yang merindukan sungai berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
2. Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup! Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
3. Bagaimana aku berjalan maju di tengah kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah di tengah suara sorak sorai dan nyanyian syukur, di tengah keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Mat 11:29ab)
Terimalah beban-Ku dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (14:1.7-11)
"Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan."
Pada suatu hari Sabat Yesus masuk rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama. Melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat terhormat, Yesus lalu mengatakan perumpamaan berikut, “Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan. Sebab mungkin ada undangan yang lebih terhormat daripadamu. Jangan-jangan orang yang telah mengundang engkau dan tamu itu berkata kepadamu, ‘Berikanlah tempat itu kepada orang ini’. Lalu dengan malu engkau harus pindah ke tempat yang paling rendah! Tetapi apabila engkau diundang, duduklah di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata, ‘Sahabat, silakan duduk di depan’. Dengan demikian engkau mendapat kehormatan di mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Hari ini kita merenungkan kata-kata indah yang disampaikan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi—kata-kata yang kelak kita semua pun berharap dapat kita ungkapkan. Dalam surat itu, ia berbicara mengenai perbedaan antara hidup dan mati, namun ia mampu melihat keindahan dalam keduanya. Ia sadar bahwa selama ia hidup, ia melayani Allah, menjalankan misi yang dipercayakan Allah kepadanya, dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah—sebuah jalan hidup yang tentu kita semua dambakan.
Kita ingin menghargai setiap momen, memandang setiap saat sebagai kesempatan untuk melayani Allah, mengasihi-Nya, serta mengasihi sesama. Kita patut bersyukur kepada Allah atas anugerah kehidupan ini, atas segala yang kita miliki, segala yang kita pelajari, bahkan cara kita memikul salib kita; semua itu adalah hal indah yang kita jalani bersama Allah, dan kita harus mensyukurinya. Di sisi lain, kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan. Alih-alih merasa takut, kita hendaknya berharap untuk sampai pada titik yang diungkapkan Rasul Paulus: suatu kerinduan akan kematian, karena dengan demikian ia akan bersatu dengan Kristus untuk selama-lamanya.
Oleh karena itu, saat hari itu kian mendekat—terutama jika kita menyadarinya—kita semestinya dipenuhi keyakinan bahwa jika kita mengasihi Allah dalam hidup kita, dan karena Ia senantiasa mengasihi kita, maka hubungan kasih itu akan terus terjalin selamanya. Saya pernah mengunjungi seorang biarawati kontemplatif dari tarekat Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity) karya Bunda Teresa. Ia sudah lanjut usia dan kesehatannya memang kurang baik, namun kemudian ia didiagnosis menderita kanker dan diperkirakan hanya memiliki sisa waktu satu atau dua bulan lagi untuk hidup. Meski demikian, ia tampak lebih bahagia daripada kapan pun sebelumnya.
Saya datang mengunjunginya untuk berdoa bersama. Ia begitu antusias—seperti seseorang yang sangat bersemangat, bahkan mungkin lebih antusias daripada seseorang yang sudah lama tidak pulang untuk bertemu keluarganya dan kini sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang tersebut. Begitu besarnya antusiasme beliau; beliau berkata, "Saya tidak sabar untuk segera bertemu Yesus dan Maria. Seumur hidup saya menantikan momen ini, dan akhirnya tiba juga." Wajahnya berseri-seri penuh sukacita. Sungguh menginspirasi melihat hal itu, karena beliau telah mengabdi kepada Tuhan, dan kini tiba gilirannya untuk menerima upah—disambut masuk ke dalam Kerajaan Surga. Tentu saja beliau merasa sangat bahagia. Bahkan, orang-orang yang berada di dekatnya saat-saat menjelang ajal sempat melihat beliau menatap ke kejauhan dan berseru bahwa Perawan Maria hadir untuk menjemputnya.
Hal seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi; kita perlu tahu bahwa saat kita menghadapi ajal, Kerajaan Surga hadir untuk menyambut kita, termasuk orang-orang terkasih kita. Kita tidak melaluinya sendirian; kita ditemani oleh orang-orang yang paling mengasihi kita—tentu saja Yesus Kristus, Bunda Maria, serta siapa pun yang mengasihi kita.
Ada kisah lain, sebuah kesaksian yang baru-baru ini saya dengar dari seorang teman imam.
Saat itu, sang imam sedang mendampingi seorang wanita yang akan menerima sakramen pengurapan orang sakit, dan di sana juga hadir suami wanita tersebut. Ada seorang wanita yang sedang berada di ambang kematian, didampingi oleh suaminya dan seorang imam. Seminggu sebelumnya, ibu dari wanita tersebut telah meninggal dunia. Karena kondisi wanita itu sendiri sudah berada di hari-hari terakhirnya, mereka memutuskan untuk tidak memberitahukannya—lagipula, dalam kondisinya saat itu, ia tidak lagi sepenuhnya sadar akan keadaan di sekitarnya. Namun, saat ia mendekati ajalnya, sang imam hadir di sisinya. Tiba-tiba, wanita itu menatap ke kejauhan dan berkata, "Ibu, aku tidak tahu kalau Ibu sudah meninggal." Ternyata, sang ibu datang untuk menjemputnya. Padahal, wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa ibunya telah tiada, namun sang ibu hadir untuk menjemputnya. Saat itulah ia menyadarinya, lalu ia pun mengembuskan napas terakhir.
Saat itu, sang imam sedang mendampingi seorang wanita yang akan menerima sakramen pengurapan orang sakit, dan di sana juga hadir suami wanita tersebut. Ada seorang wanita yang sedang berada di ambang kematian, didampingi oleh suaminya dan seorang imam. Seminggu sebelumnya, ibu dari wanita tersebut telah meninggal dunia. Karena kondisi wanita itu sendiri sudah berada di hari-hari terakhirnya, mereka memutuskan untuk tidak memberitahukannya—lagipula, dalam kondisinya saat itu, ia tidak lagi sepenuhnya sadar akan keadaan di sekitarnya. Namun, saat ia mendekati ajalnya, sang imam hadir di sisinya. Tiba-tiba, wanita itu menatap ke kejauhan dan berkata, "Ibu, aku tidak tahu kalau Ibu sudah meninggal." Ternyata, sang ibu datang untuk menjemputnya. Padahal, wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa ibunya telah tiada, namun sang ibu hadir untuk menjemputnya. Saat itulah ia menyadarinya, lalu ia pun mengembuskan napas terakhir.
Ini adalah pengingat yang indah bahwa kelak, saat kita tiba di Kerajaan Surga—jika kita melihat segala keajaiban dan kasih yang Tuhan berikan dalam hidup ini—bayangkanlah, betapa jauh lebih luar biasa hal-hal yang telah Ia siapkan bagi kita di surga, yang bahkan tak sanggup kita bayangkan. Maka, marilah kita berdoa agar kita sampai pada titik itu; agar kita mampu mengucapkan kata-kata seperti Rasul Paulus, atau seperti biarawati yang telah mendedikasikan hidupnya dalam doa ini. Semoga kita dapat menghargai setiap detik yang Tuhan anugerahkan dalam hidup ini, sekaligus menantikan kehidupan yang akan datang.
Tuhan memberkati Anda sekalian.
Tuhan memberkati Anda sekalian.
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Antifon Komuni (Flp 1:21)
Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati suatu keuntungan.
EQS/RENUNGAN PAGI



