| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Selasa, 06 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXVII

 
Selasa, 06 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXVII
   
     “
Melalui pekerjaanmu, engkau menunjukkan apa yang engkau cintai dan apa yang engkau ketahui."

- Santo Bruno

Antifon Pembuka (Mzm 139:13)

Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku.

Doa Pagi

Allah Bapa kami yang Mahakudus, berilah kami ketenangan, agar sempat merenungkan Sabda-Mu. Semoga kami dapat merasakan cinta kasih-Mu yang melestarikan dan memperbarui manusia dan apa saja. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 
           
Siouxfall Diocese
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (1:13-24)

"Allah berkenan menyatakan Anak-Nya dalam diriku agar aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa."

Saudara-saudara, kalian tentu telah mendengar tentang hidupku dalam agama Yahudi dulu. Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Dalam agama Yahudi itu aku jauh lebih maju dari banyak teman sebaya di antara bangsaku, karena aku sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Tetapi Allah telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh karena kasih karunia-Nya. Ia berkenan menyatakan Anak-Nya dalam diriku, agar aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa lain. Pada waktu itu sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia. Aku juga tidak pergi ke Yerusalem untuk mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku. Tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Baru tiga tahun kemudian aku pergi ke Yerusalem untuk menemui Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi rasul-rasul yang lain tak seorang pun yang kulihat, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Di hadapan Allah kutegaskan: Apa yang kutulis kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. Tetapi aku tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka hanya mendengar, bahwa orang yang dahulu menganiaya mereka sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. Dan mereka memuliakan Allah karena aku.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; R:13b)
1. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan atau berbaring segala jalanku Kaumaklumi.
2. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandunagn ibuku. Aku bersyukur kepada_mu oleh karena misteri kejadianku; ajaiblah apa yang Kaubuat.
3. Jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aaku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.
       
Inilah Injil Suci menurut Lukas (10:38-42)

"Marta menerima Yesus di rumahnya. Maria telah memilih bagian yang terbaik."

Dalam perjalanan ke Yerusalem Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Wanita itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria itu duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan sabda-Nya. Tetapi Marta sangat sibuk melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli, bahwa saudariku membiarkan daku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Yesus menjawabnya, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)


Renungan
 Setiap kali bagian dari Injil Lukas ini dibahas, tampaknya lebih banyak orang yang merasa bisa memahami posisi Marta dibandingkan Maria. Bahkan, bagi kebanyakan orang, keluhan Marta kepada Tuhan mengenai saudarinya itu tampak beralasan. Banyak orang yang menyimak kisah ini mungkin juga sering kewalahan dengan pekerjaan mereka sendiri, sehingga mereka dapat dengan mudah merasakan apa yang dialami Marta.
  
Sebagai sahabat dekat Yesus, Marta dan Maria merasa senang saat Tuhan berkunjung ke rumah mereka. Keduanya sangat mengasihi Tuhan, namun masing-masing memiliki cara unik untuk mengungkapkan kasih tersebut. Maria duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya, sementara Marta sibuk melakukan berbagai hal untuk melayani Tuhan dan memenuhi kebutuhan-Nya. Marta tampak gelisah saat melihat saudarinya hanya duduk diam tanpa membantu apa pun. Padahal, kenyataannya Maria sedang melakukan sesuatu yang sangat penting bagi Tuhan—sesuatu yang belum sepenuhnya disadari oleh saudarinya. Ia meluangkan waktu dan tenaga semata-mata untuk bersama Tuhan, mendengarkan perkataan-Nya, serta menyambut-Nya dengan sikap yang lebih terbuka dan penuh penerimaan. Bisa juga dikatakan bahwa Maria sedang "membuang-buang waktu" bersama Yesus. Namun kenyataannya, menghabiskan waktu bersama Yesus tidak pernah benar-benar merupakan pemborosan waktu. Hal itu justru menjadi awal dari doa kontemplasi.
 
Salah satu kewajiban bagi setiap biarawan di komunitas saya adalah menjalani "jam suci" setiap hari di hadapan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan. Seseorang dengan pola pikir duniawi mungkin melihat kewajiban ini dan menganggap bahwa kami, para biarawan, sedang membuang-buang waktu. Ada begitu banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu tersebut, sehingga kami seolah-olah menghambat produktivitas kami sendiri. Namun, jika Anda bertanya kepada salah satu biarawan apakah "jam suci" itu membuang-buang waktu, tentu saja mereka akan menjawab dengan tegas bahwa itu bukan pemborosan. Kasih kita kepada Allah tidak diukur semata-mata oleh kesibukan aktivitas dan karya kerasulan. Hal ini bukan berarti bahwa karya-karya semacam itu tidak penting atau tidak diperlukan.
  
Tuhan memanggil kita masing-masing untuk berkarya demi Dia dan demi Kerajaan Surga. Namun, ada saat-saat ketika tepat dan bahkan perlu untuk "membuang waktu" bersama Tuhan dengan duduk dalam hadirat-Nya. Sungguh baik untuk memberi Tuhan kesempatan seluas-luasnya guna menyampaikan firman-Nya kepada kita dan mendengarkan-Nya dengan penuh perhatian. Hal ini dapat disamakan dengan menghabiskan waktu bersama anggota keluarga atau sahabat, terutama mereka yang sedang tidak berdaya. Sering kali, orang tersebut hanya ingin kita hadir dan mendengarkan mereka. Saat kita meluangkan waktu dan memberikan perhatian kepada orang-orang yang kita kasihi, kita sama sekali tidak membuang-buang waktu, meskipun tidak ada kata yang terucap atau tindakan yang dilakukan selama waktu kebersamaan itu.
 
Dalam melayani Tuhan melalui berbagai aktivitas yang tiada henti, Marta tidaklah melakukan kesalahan. Namun, ia luput menyadari bahwa Tuhan tidak membutuhkan pelayanan aktifnya itu. Memang, ada saat-saat di mana pelayanan semacam itu penting, tetapi sesungguhnya Tuhanlah yang hadir untuk memberi makan serta melayani Marta dan Maria. Maria memahami betapa berharganya mendengarkan Tuhan dan meresapkan firman-Nya ke dalam hati. Dengan "membuang waktu" bersama Tuhan, ia memperoleh santapan rohani; dengan demikian, ia memberikan gambaran tentang doa kontemplatif. Santa Teresa dari Avila menggambarkan doa kontemplatif sebagai sebuah perjumpaan akrab antara dua sahabat. Hal ini berarti sering meluangkan waktu untuk menyendiri bersama Dia yang kita tahu mengasihi kita. Ini merupakan analogi yang sangat tepat untuk menggambarkan bentuk doa ini. Kita sering berkumpul dengan sahabat, menghabiskan waktu bersama mereka, serta berbagi hal-hal pribadi yang mendalam dengan sahabat-sahabat terdekat kita.
  
Dalam berbagai kisah Injil, Yesus digambarkan sering menyendiri untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Terkadang, Ia bahkan menghabiskan sepanjang malam dalam doa. Hal ini menjadi bukti nyata betapa eratnya hubungan kasih yang Ia jalin dengan Bapa surgawi-Nya. Bagian keempat dari Katekismus Gereja Katolik sepenuhnya membahas topik doa Kristiani. Bagian yang menguraikan tentang doa kontemplatif sungguh indah dan sangat layak untuk dibaca berulang kali. 
 
Berikut ini adalah beberapa paragraf yang secara khusus berkaitan dengan bacaan Injil hari ini.
Paragraf 2709 menyatakan:     "Apakah doa batin? Santa Teresia dari Yesus menjawab: "Menurut saya, doa batin itu tidak lain dari satu pergaulan yang sangat ramah, di mana kita sering kali berbicara seorang diri dengan Dia, tentang Siapa, kita tahu bahwa Ia mencintai kita" (vida 8,5). Doa batin mencari Dia, "yang jiwaku cintai" (Kid 1:7) Bdk. Kid 3:1-4.: Yesus, dan di dalam Dia, Bapa. Kita mencari Dia, karena kerinduan kepada-Nya adalah awal cinta kasih kepada-Nya. Kita mencari Dia dalam iman yang murni, dalam iman yang membuat kita dilahirkan dari Dia dan hidup di dalam Dia. Kita juga masih dapat bermeditasi dalam doa batin, tetapi pandangan sudah diarahkan kepada Tuhan." 

Kemudian dalam paragraf 2713 disebutkan bahwa "Dengan demikian doa batin adalah ungkapan misteri doa yang paling sederhana. Ini adalah satu anugerah dan rahmat, yang hanya dapat diterima dalam kerendahan hati dan kemiskinan. Doa batin adalah hubungan perjanjian, yang Allah letakkan dalam dasar hakikat kita Bdk. Yer 31:33.. Suatu persekutuan, di mana Tritunggal Mahakudus membentuk manusia, citra Allah, menjadi "serupa" dengan diri-Nya." 
 
Kemudian dalam paragraf 2715 disebutkan bahwa "Kontemplasi ialah memandang Yesus dengan penuh iman. "Aku memandang Dia dan Dia memandang aku", demikian kata-kata seorang petani dari Ars, yang berdoa di depan tabernakel kepada pastomya yang saleh. Pandangan penuh perhatian kepada Yesus ini adalah penyangkalan "aku", karena pandangan Yesus membersihkan hati. Cahaya wajah-Nya menyinari mata hati kita dan membiarkan kita melihat segala-galanya dalam sinar kebenaran dan belas kasihan-Nya terhadap semua orang. Kontemplasi memandang misteri kehidupan Kristus dan dengan demikian memperoleh "pengertian batin mengenai Tuhan", untuk mencintai-Nya lebih sungguh dan mengikuti-Nya dengan lebih baik lagi Bdk. Ignasius, ex. spir. 104.
    
Akhirnya, paragraf 2716 sangat relevan dengan kisah Marta dan Maria.
Maria sedang mendengarkan Tuhan. Dikatakan bahwa Doa batin ialah mendengarkan Sabda Allah. Mendengarkan ini bukanlah pasif, melainkan suatu ketaatan iman, dalamnya hamba menerima tugas tanpa syarat dan anak setuju dengan penuh cinta. Ia mengambil bagian dalam "Ya" Putra yang telah menjadi hamba, dan dalam "Fiat" hamba Tuhan yang rendah hati.  
   
Mendengarkan seseorang dengan penuh perhatian membutuhkan usaha lebih daripada sekadar mendengar bunyi kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mendengarkan adalah tindakan kasih dan latihan hati yang berupaya memahami hati orang yang berbicara serta menangkap makna yang lebih dalam dari kata-kata mereka. Belajar mendengarkan Tuhan dan sabda-Nya dengan sungguh-sungguh pada gilirannya dapat membantu kita belajar mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian sebagai wujud kasih kepada sesama.

Kemudian seperti biasa, Bunda Maria adalah teladan sempurna, model sempurna dari doa kontemplatif. Berkali-kali sepanjang hidupnya, ia merenungkan perkataan dan tindakan Tuhan kita serta menyimpannya di dalam hatinya. Sabda Allah menjadi hidup dan berdaya guna di dalam dirinya—baik secara kiasan maupun harfiah—saat ia melahirkan Sang Sabda yang menjadi manusia. Berdoa Rosario merupakan sarana yang sangat efektif untuk melakukan kontemplasi. Melalui Rosario, kita dapat memandang wajah Kristus lewat mata Bunda-Nya. Dan sebagaimana diajarkan oleh Paus Santo Yohanes Paulus II, kontemplasi akan Kristus memiliki teladan yang tiada bandingnya dalam diri Maria.
  
Dengan cara yang unik, wajah Sang Putra adalah milik Maria. Di dalam rahimnyalah Kristus terbentuk dan menerima rupa manusia darinya, yang menandakan kedekatan rohani yang jauh lebih mendalam. Tidak ada seorang pun yang pernah mengabdikan diri pada kontemplasi wajah Kristus dengan kesetiaan sebesar Maria. Bunda Maria membantu kita mendengarkan Putranya dengan kerendahan hati dan kemurnian hati, agar kita dapat mengenal hati Dia yang mengasihi kita dan yang berkehendak menjadikan hati kita semakin serupa dengan hati-Nya. 
  

Orang Kudus hari ini: 06 Oktober 2026 St. Bruno 
 
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
 
Antifon Komuni (Luk 11:28)
 
Berbahagialah yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.   
    
 
Ikuti saluran renunganpagi.id di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaonOZUF1YlJiTezU80h Saluran WhatsApp bersifat satu arah, tidak seperti grup WhatsApp, tidak menyebabkan memori ponsel anda cepat penuh. renunganpagi.id di WhatsApp hanya ada di bagian saluran, bukan grup.  
     
RENUNGAN PAGI

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy