Sabtu, 03 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXVI
“Menjadi kecil berarti tidak putus asa karena kekurangannya sendiri” (St. Teresia dari Lisieux)
Antifon Pembuka (Luk 10:21)
Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil.
Doa Pagi
Allah Bapa kami, sumber kedamaian, penuhilah kami dengan Roh Kudus, agar dapat mengenal nama-Mu, agar dapat mengakui Dia, yang berbicara tentang Dikau, yaitu Yesus, saksi-Mu, yang merupakan sabda kedamaian bagi setiap orang di dunia. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Ayub (42:1-3.5-6.12-17)
Hari Biasa Pekan XXVI
“Menjadi kecil berarti tidak putus asa karena kekurangannya sendiri” (St. Teresia dari Lisieux)
Antifon Pembuka (Luk 10:21)
Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil.
Doa Pagi
Allah Bapa kami, sumber kedamaian, penuhilah kami dengan Roh Kudus, agar dapat mengenal nama-Mu, agar dapat mengakui Dia, yang berbicara tentang Dikau, yaitu Yesus, saksi-Mu, yang merupakan sabda kedamaian bagi setiap orang di dunia. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
![]() |
Lauren/flickr (CC BY-NC-ND 2.0) |
"Sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Maka aku mencabut perkataanku."
Ayub berkata kepada Tuhan, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Sabda-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah berceritera tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Maka Tuhan memberkati Ayub dalam kelanjutan hidupnya lebih daripada dalam hidup yang dahulu. Ayub mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. Di seluruh negeri tidak terdapat wanita yang secantik anak-anak Ayub. Ayub mewariskan kepada mereka bagian milik pusaka seperti kepada anak-anaknya laki-laki. Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya. Ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Maka Ayub meninggal dunia pada usia yang tua dan lanjut.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu.
Ayat. (Mzm 119:66.71.75.91.125.130)
1. Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya pada perintah-perintah-Mu.
2. Memang baik bahwa aku tertindas, supaya aku belajar memahami ketetapan-ketetapan-Mu.
3. Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil; dan memang tepat bahwa Engkau telah menyiksa aku.
4. Menurut hukum-hukum-Mu sekarang semuanya itu ada, sebab segala sesuatu melayani Engkau.
5. Hamba-Mulah aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku paham akan peringatan-peringatan-Mu.
6. Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Mat 11:25
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan kaunyatakan kepada orang kecil. Alleluya.
Inilah Injil Suci menurut Lukas (10:17-24)
"Bersukacitalah karena nama-Mu terdaftar di surga."
Pada waktu itu ketujuhpuluh dua murid Yesus kembali dari perutusannya dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberi kalian kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tiada yang dapat membahayakan kalian. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tiada seorang pun yang tahu siapa Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada para murid dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Karena Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, tetapi tidak melihatnya dan ingin mendengar apa yang kalian dengar, tetapi tidak mendengarnya.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Kita menyukai akhir yang bahagia. Baik dalam buku cerita maupun film, akhir yang bahagia akan mendapat sambutan positif dari kita.
Bahkan dalam hidup ini, apa pun yang kita kerjakan—baik itu proyek, tugas, maupun pekerjaan lainnya—kita berharap semuanya berakhir dengan kebahagiaan agar kita mendapatkan pengakuan atau apresiasi dari orang lain.
Dalam bacaan pertama, kita akhirnya sampai pada bab terakhir Kitab Ayub. Kitab Ayub sering kali menjadi bahan bacaan bagi mereka yang memiliki pertanyaan seputar penderitaan orang yang tidak bersalah.
Kitab Ayub ditutup dengan akhir yang bahagia: nasib Ayub dipulihkan, dan ia hidup hingga usia lanjut serta menikmati hidup yang penuh berkat.
Namun, Ayub tidak menemukan jawaban mengapa ia harus mengalami penderitaan dan tragedi tersebut. Penghiburan baginya—selain pemulihan nasibnya—adalah kesadaran akan siapa Allah itu, sebagaimana ia berkata, "tetapi sekarang mata-Ku sendiri melihat Engkau."
Ia menyadari bahwa segala sesuatu terjadi di bawah pengawasan Allah, dan rencana Allah bagi kita senantiasa demi kebaikan kita, bukan sebaliknya.
Dalam Injil, tujuh puluh dua murid kembali kepada Yesus dengan sukacita karena bahkan roh-roh jahat tunduk kepada mereka saat mereka menggunakan nama Yesus yang penuh kuasa.
Namun, akan tiba saatnya ketika seluruh kekuatan musuh menyerang mereka; mereka akan dianiaya dan bahkan harus menghadapi kematian.
Mungkin itu bukanlah akhir bahagia yang diharapkan banyak orang, namun apa pun akhir yang terjadi, para murid akan menerimanya dengan rela hati.
Sebab akhir bahagia yang sesungguhnya adalah ketika nama mereka tercatat di surga.
Semoga kita pun bersedia menerima kesulitan dan penderitaan hidup serta menyadari siapa Allah itu, agar nama kita juga tercatat di surga.
Bahkan dalam hidup ini, apa pun yang kita kerjakan—baik itu proyek, tugas, maupun pekerjaan lainnya—kita berharap semuanya berakhir dengan kebahagiaan agar kita mendapatkan pengakuan atau apresiasi dari orang lain.
Dalam bacaan pertama, kita akhirnya sampai pada bab terakhir Kitab Ayub. Kitab Ayub sering kali menjadi bahan bacaan bagi mereka yang memiliki pertanyaan seputar penderitaan orang yang tidak bersalah.
Kitab Ayub ditutup dengan akhir yang bahagia: nasib Ayub dipulihkan, dan ia hidup hingga usia lanjut serta menikmati hidup yang penuh berkat.
Namun, Ayub tidak menemukan jawaban mengapa ia harus mengalami penderitaan dan tragedi tersebut. Penghiburan baginya—selain pemulihan nasibnya—adalah kesadaran akan siapa Allah itu, sebagaimana ia berkata, "tetapi sekarang mata-Ku sendiri melihat Engkau."
Ia menyadari bahwa segala sesuatu terjadi di bawah pengawasan Allah, dan rencana Allah bagi kita senantiasa demi kebaikan kita, bukan sebaliknya.
Dalam Injil, tujuh puluh dua murid kembali kepada Yesus dengan sukacita karena bahkan roh-roh jahat tunduk kepada mereka saat mereka menggunakan nama Yesus yang penuh kuasa.
Namun, akan tiba saatnya ketika seluruh kekuatan musuh menyerang mereka; mereka akan dianiaya dan bahkan harus menghadapi kematian.
Mungkin itu bukanlah akhir bahagia yang diharapkan banyak orang, namun apa pun akhir yang terjadi, para murid akan menerimanya dengan rela hati.
Sebab akhir bahagia yang sesungguhnya adalah ketika nama mereka tercatat di surga.
Semoga kita pun bersedia menerima kesulitan dan penderitaan hidup serta menyadari siapa Allah itu, agar nama kita juga tercatat di surga.
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Antifon Komuni (Luk 10:22)
Antifon Komuni (Luk 10:22)
Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku, dan tiada seorang pun yang tahu siapakah Putra selain Bapa, dan siapa Bapa selain Putra dan orang yang dianugerahi Putra mengenal Bapa.
Doa Malam
Ya Allah, bersihkanlah pancainderaku dari kotoran yang membutakan aku dari kasih-Mu. Semoga di akhir pekan ini aku mampu memuji dan memuliakan Engkau, Pemberi hidup dan Pemelihara jiwa ragaku, kini dan sepanjang masa. Amin.
Ya Allah, bersihkanlah pancainderaku dari kotoran yang membutakan aku dari kasih-Mu. Semoga di akhir pekan ini aku mampu memuji dan memuliakan Engkau, Pemberi hidup dan Pemelihara jiwa ragaku, kini dan sepanjang masa. Amin.
RENUNGAN PAGI




