| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini |Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Senin, 26 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXX

 

Senin, 26 Oktober 2026
Hari Biasa Pekan XXX
  
Berjalanlah dengan kakimu di bumi, tetapi hatimu di surga. (St. Yohanes Bosko)
    

Antifon Pembuka (Ef 4:32)

Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
  
Doa Pagi

 
Allah Bapa kami di surga, berkatilah kami dengan sabda-Mu dan jadikanlah kami orang yang mewujudkan cinta kasih-Mu kepada manusia di dalam tingkah laku kami, berkat Yesus Putra-Mu terkasih, yang membimbing kami menempuh jalan-Mu. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang masa. Amin.
Public Domain   

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus (4:32-5:8)       
      
"Hiduplah dalam cinta kasih seperti Kristus."
         
Saudara-saudara, hendaklah kalian bersikap ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih sayang dan saling mengampuni, sebagaimana Allah telah mengampuni kalian dalam Kristus. Sebab itu jadilah penurut Allah sebagai anak-anak kesayangan dan hiduplah dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kalian, dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai kurban dan persembahan yang harum mewangi bagi Allah. Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan, disebut saja pun jangan di antara kalian sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus; demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau sembrono, karena hal-hal itu tidak pantas. Sebaliknya ucapkanlah syukur! Ingatlah baik-baik: Orang sundal, orang cabul, atau orang serakah, artinya penyembah berhala, semua itu tidak mendapat bagian dalam kerajaan Kristus dan Allah. Janganlah kalian disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kalian berkawan dengan mereka. Memang dahulu kalian adalah kegelapan, tetapi sekarang kalian adalah terang di dalam Tuhan. Karena itu hiduplah sebagai anak-anak terang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Atau Jadilah penurut Allah sebagai anak-anak kesayangan.
Ayat. (Mzm 1:1-2.3.4.6; R: 40:5a)
1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
2. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan daunnya tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
3. Bukan demikianlah orang-orang fasik; mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
  
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Yoh 17:17b.a) 
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran.
  
Inilah Injil Suci menurut Lukas (13:10-17)
      
"Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari Sabat?"
         
Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata, "Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh." Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu dari hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, "Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum? Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis. Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?" Waktu Yesus berbicara demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)

  
Renungan
    
  
   Jika kita mengenal seseorang sejak ia masih bayi, lalu baru bertemu kembali saat ia berusia 18 tahun, kita pasti akan takjub melihat pertumbuhan dan perkembangannya. Kita akan kagum betapa banyak hal yang bisa terjadi dalam kurun waktu 18 tahun. Kita mungkin bahkan akan berkata bahwa 18 tahun berlalu begitu saja, dan bayi itu kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Namun, bagi perempuan yang tubuhnya lemah dan bungkuk dalam kisah Injil, 18 tahun tidak berlalu begitu saja. Keadaannya pun tidak membaik selama tahun-tahun tersebut; justru, kondisinya mungkin semakin memburuk dari tahun ke tahun. Mungkin kisah ini bukan hanya milik perempuan dalam Injil tersebut. Kita pun mungkin pernah dibuat membungkuk oleh rasa sakit—baik secara fisik, emosional, maupun rohani. Kita merasa terbebani, sehingga kita tidak mampu berdiri tegak dengan kokoh.

Yesus datang untuk mengangkat kita dari rasa sakit dan beban hidup, agar kita dapat mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah dalam ucapan syukur. Secara fisik, kita mungkin bisa berdiri tegak, tetapi secara emosional dan rohani, kita mungkin justru membungkuk, sehingga satu-satunya hal yang bisa kita lihat hanyalah tanah dan kotoran di bawah sana. Mari kita memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan dan mengangkat kita. Ia akan melakukan bagi kita apa yang telah Ia lakukan bagi perempuan dalam Injil tersebut, karena Dialah Penyembuh dan Juruselamat kita. Kita tidak perlu menunggu 18 tahun lagi. Kita tentu tidak ingin menderita selama itu. Begitu pula Yesus; Ia pun tidak ingin melihat kita menderita selama itu..(RENUNGAN PAGI)


Gereja memiliki tanggung jawab terhadap ciptaan dan harus menegaskan tanggung jawab ini di ruang publik. Dengan melakukan hal tersebut, Gereja tidak hanya harus membela bumi, air, dan udara sebagai anugerah ciptaan yang menjadi milik semua orang, tetapi yang terutama, Gereja harus melindungi umat manusia dari kehancuran diri sendiri. Diperlukan apa yang dapat disebut sebagai ekologi manusia, jika dipahami dengan tepat. Kerusakan alam sebenarnya sangat erat kaitannya dengan budaya yang membentuk kehidupan bersama manusia: ketika “ekologi manusia” dihormati di dalam masyarakat, maka ekologi lingkungan pun akan turut terbantu. Sebagaimana kebajikan-kebajikan manusia saling berkaitan—sehingga melemahnya satu kebajikan akan membahayakan kebajikan lainnya—demikian pula sistem ekologis didasarkan pada penghormatan terhadap suatu tatanan yang memengaruhi kesehatan masyarakat sekaligus hubungan baiknya dengan alam.

Untuk melindungi alam, tidaklah cukup hanya dengan menerapkan insentif atau disinsentif ekonomi; pendidikan yang memadai pun belum cukup. Langkah-langkah ini memang penting, namun persoalan yang menentukan adalah corak moral masyarakat secara keseluruhan. Jika rasa hormat terhadap hak untuk hidup dan hak untuk mengalami kematian secara wajar mulai hilang; jika konsepsi, masa kehamilan, dan kelahiran manusia dibuat menjadi artifisial; atau jika embrio manusia dikorbankan demi penelitian, maka hati nurani masyarakat akan kehilangan pemahaman tentang ekologi manusia, dan bersamanya, pemahaman tentang ekologi lingkungan pun turut hilang. Adalah suatu kontradiksi jika kita menuntut generasi mendatang untuk menghormati lingkungan alam, sementara sistem pendidikan dan hukum kita tidak membantu mereka untuk menghormati diri mereka sendiri. Kitab alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan: ia mencakup bukan hanya lingkungan, melainkan juga kehidupan, seksualitas, perkawinan, keluarga, dan hubungan sosial—singkatnya, pembangunan manusia seutuhnya. Kewajiban kita terhadap lingkungan berkaitan erat dengan kewajiban kita terhadap pribadi manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan sesama. Adalah keliru jika kita menjunjung satu jenis kewajiban namun mengabaikan kewajiban lainnya. Di sinilah letak kontradiksi serius dalam mentalitas dan praktik kita saat ini: suatu sikap yang merendahkan martabat pribadi manusia, mengganggu lingkungan, dan merusak tatanan masyarakat.

—Paus Benediktus XVI, Ensiklik *Caritas in Veritate* tentang Pembangunan Manusia Seutuhnya dalam Kasih dan Kebenaran (29 Juni 2009; selanjutnya disebut CiV), no. 48 dan 51


    
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
 
 
 
Antifon Komuni (Ef 5:8)

Dahulu kalian adalah kegelapan, tetapi kini terang di dalam Tuhan. Karena itu hiduplah sebagai putra dan putri terang.

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy