| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini |Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik |

CARI RENUNGAN

>
Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Minggu, 08 November 2026 Hari Minggu Biasa XXXII


Minggu, 08 November 2026
Hari Minggu Biasa XXXII
   

Dalam kesatuan iman dan Pembaptisan kita memiliki kedudukan sama bagi kita semua. (St. Leo Agung) 
     
Antifon Pembuka (Mzm 88:3)

Tuhan, biarlah doaku naik ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada permohonanku.

Let my prayer come into your presence. Incline your ear to my cry for help, O Lord.

Intret oratio mea in conspectu tuo: inclina aurem tuam ad precem meam Domine.

Mzm. Domine Deus salutis meƦ: in die clamavi, et nocte coram te.

Doa Pagi
 
Allah Yang Mahakuasa dan Maharahim, singkirkanlah segala sesuatu yang menghalangi kami supaya kami siap lahir batin untuk melaksanakan kehendak-Mu dengan hati yang lapang. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
  
Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (6:3-17)

"Kebijaksanaan ditemukan oleh mereka yang mencarinya."

Kebijaksanaan itu bersinar dan tak dapat layu, mudah dipandang oleh yang kasih kepadanya, dan ditemukan oleh mereka yang mencarinya. Ia mendahului memperkenalkan diri kepada orang yang menginginkannya. Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab kebijaksanaan itu ditemukannya duduk di dekat pintu. Merenungkan kebijaksanaan merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan. Sebab kebijaksanaan sendiri berkelililing mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri kepada mereka yang mencarinya; kebijaksanaan dijumpai pada tiap-tiap pemikiran mereka.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS 843
Ref. Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan, Allahku.
atau Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan, ingin melihat wajah Allah.
Ayat. (Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9; Ul: 2b, 2/4)

1. Ya Allah, Engkaulah Allahku, kucari-cari dan kudambakan Dikau jiwaku menghauskan Tuhanku laksana gurun gersang, tandus tanpa air.
2. Semoga hamba boleh memandang Tuhanku melihat kemuliaan-Mu yang besar. Cinta-Mu lebih berharga daripada hidup hendaknya mulutku memuji-Mu.
3. Demikianlah sepanjang hidupku aku hendak menghormati Engkau. Jiwaku dikenyangkan dengan lemak dan sumsum, aku bersorak-sorai dan memuji-muju.
4. Jiwaku melekat pada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Sungguh Engkau melulu yang menolongku dan di bawah sayap-Mu sentosalah aku.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1Tes 4:13-18)

"Mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus."

Saudara-saudara, kami ingin agar kamu mengetahui tentang orang-orang yang sudah meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena kalau kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus. Hal ini kami katakan kepadamu seturut sabda Allah ini. Kita yang hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan sekali-kali takkan mendahului mereka yang sudah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberikan, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, Tuhan sendiri akan turun dari surga. Dan mereka yang meninggal dalam Kristus Yesus akan lebih dahulu bangkit. Sesudah itu, kita yang hidup dan masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Karena itu hendaklah kamu saling menghibur dengan perkataan-perkataan ini.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (Mat 24:42a.44)
Berjaga-jagalah dan bersiap-sedialah, sebab kamu tidak tahu bilamana Putera Manusia datang.


Inilah Injil Suci menurut Matius (25:1-13) 
    
"Mempelai datang! Songsonglah dia!"

Pada suatu hari Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Yang bodoh itu membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan yang bijaksana, selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang, mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Tengah malam terdengarlah suara berseru, ‘Pengantin datang! Songsonglah dia!’ Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, ‘Berilah kami sedikit dari minyakmu, sebab pelita kami mau padam.’ Tetapi yang bijaksana menjawab, ‘Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi membelinya pada penjual minyak.’ Tetapi, sementara mereka pergi membelinya, datanglah mempelai, dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah. Lalu pintu ditutup. Kemudian datanglah juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata, ‘Tuan, Tuan, bukakanlah kami pintu!’ Tetapi tuan itu menjawab, ‘Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu.’ Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.”
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)

Renungan
  
Pada tengah malam terdengarlah seruan: "Lihat, mempelai laki-laki datang! Sambutlah dia." Setiap perumpamaan yang disampaikan Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah—tentang seperti apa Kerajaan itu, atau dengan kata lain, seperti apa rasanya ikut ambil bagian dalam kehidupan dan kasih Allah. Di antara semua perumpamaan-Nya, yang satu ini—yang berfokus pada kedatangan mempelai laki-laki yang dinantikan oleh sepuluh gadis—merupakan gambaran yang paling indah dan bermakna mengenai hal tersebut.  Lima gadis siap menyambut dimulainya perayaan pernikahan, sementara lima lainnya tidak. Untuk memahami perumpamaan ini, kita perlu ingat bahwa Kitab Suci, dari awal hingga akhir, memiliki dinamika batin yang berpusat pada sosok mempelai laki-laki, yaitu Putra kekal Allah, Yesus. 
   
Dalam perumpamaan ini, Yesus menggunakan kata "lihat" (atau "perhatikanlah") agar kita dapat mengenali-Nya. Pada tengah malam terdengarlah seruan: "Lihat, mempelai laki-laki datang!" Beberapa tahun sebelum Yesus menyampaikan perumpamaan ini, saat Yohanes membaptis di Sungai Yordan, ia melihat Yesus datang ke arahnya dan berseru: "Lihatlah, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!" Keesokan harinya, ketika Yohanes sedang bersama dua muridnya dan Yesus lewat, ia berkata kepada mereka: "Lihatlah Anak Domba Allah!" Kata-kata singkat itu cukup membuat kedua murid tersebut meninggalkan Yohanes untuk mengikuti Yesus. Namun, kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus tidak berhenti sampai di situ. Tidak lama kemudian, ketika Yohanes ditanya, "Siapakah engkau?", ia menjawab, "Aku bukanlah Mesias, melainkan aku diutus mendahului Dia."
"Yang empunya pengantin perempuan ialah mempelai laki-laki." Sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dan mendengarkan, sangat bersukacita mendengar suara sang mempelai laki-laki. Maka, sukacitanya—sukacitaku ini—telah menjadi penuh.
"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." Ingatlah nubuat Nabi Yesaya yang mengatakan: "Seperti mempelai laki-laki bersukacita atas pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan bersukacita atasmu." Dan begitulah yang terjadi.
  
Ketika Yesus—sang mempelai laki-laki, Anak Domba Allah—hadir dalam sejarah manusia, saat Ia lahir di Betlehem, malaikat-malaikat Allah memenuhi langit dengan nyanyian ini: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." St. Lukas menceritakan kepada kita bahwa para gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka pada malam hari, ketika tiba-tiba kemuliaan Tuhan bersinar di sekeliling mereka. Dengan demikian, genaplah perkataan nabi Yesaya: bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar—dan terang yang besar itu adalah sang mempelai pria yang datang memasuki hidup kita. 
   
Kembali kepada perumpamaan kita, perhatikanlah bahwa Yesus memusatkan perhatian utama pada hubungan antara kesepuluh gadis itu dengan sang mempelai pria yang sedang dalam perjalanan tiba. Apa yang membedakan gadis-gadis bijaksana dari gadis-gadis bodoh adalah minyak yang diperlukan untuk menghasilkan terang. Apa yang dilambangkan oleh minyak yang menghasilkan kehidupan dan terang ini? Minyak ini melambangkan kesiapan gadis-gadis bijaksana untuk melakukan apa pun yang dikehendaki oleh sang mempelai pria, kapan pun Ia menghendakinya—entah tengah malam, pagi hari, atau kapan pun juga. Mereka siap untuk menyerahkan kehendak mereka kepada sang mempelai pria.
  
Sama seperti yang dilakukan oleh Santa Perawan Maria ketika ia berkata kepada malaikat Gabriel: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu." Melalui kata-kata tersebut, sang mempelai pria memasuki sejarah manusia. Penyerahan diri dan kepercayaan kepada Yesus—sang mempelai pria—adalah bahan bakar yang memungkinkan terang bersinar dalam hidup kita. Inilah yang Ia ajak untuk kita lakukan, baik dalam masa suka maupun duka. Bukan hanya saat rahmat-Nya menolong kita untuk tetap setia pada Sabda-Nya, tetapi juga saat kita telah berdosa dan perlu diselamatkan dari kegelapan oleh belas kasih-Nya. Baik dalam masa suka maupun duka, mempelai bagi jiwa kita menerima persembahan penyerahan diri kita; bahkan, kebanyakan dari kita justru perlu berserah kepada Yesus saat berada dalam kegelapan akibat dosa-dosa kita.
    
Banyak orang kudus yang agung menunjukkan jalan ini kepada kita. Sebagai contoh, saat Maria Magdalena menyambut Yesus ke dalam jiwanya dan dibebaskan dari tujuh roh jahat, batinnya sedang berada dalam kegelapan "tengah malam". Demikian pula dengan Matius; hatinya berada dalam kegelapan saat ia duduk memungut pajak—merasa dirinya sebagai orang yang paling hina—namun kemudian diliputi sukacita ketika Yesus datang, mencarinya, dan berkata, "Matius, ikutlah Aku." Maka, ia pun mulai mengikuti sang mempelai bagi jiwanya. 
   
Begitu pula dengan Simon Petrus; hidupnya berada dalam kegelapan "tengah malam" setelah ia tiga kali menyangkal mengenal Yesus. Untuk meyakinkan Petrus akan kasih-Nya yang penuh belas kasihan, setelah kebangkitan-Nya, Yesus bertanya kepadanya sebanyak tiga kali: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Pertanyaan-pertanyaan tentang kasih dari sang mempelai pria ini menyentuh hati Petrus. Dengan menyerahkan diri dalam kerendahan hati dan menyatakan kasihnya, Petrus kembali masuk ke dalam terang Tuhan. Dan hari ini di dunia kita, jika batin Anda terasa seperti berada di tengah malam yang kelam, janganlah ragu bahwa Ia rindu untuk menyelamatkan Anda melalui kelimpahan belas kasihan-Nya. Ia mendekat kepada mereka yang remuk hatinya. Ia datang untuk memanggil orang-orang berdosa keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Akankah Ia mendapati kita siap untuk menyambut-Nya? Inilah pertanyaan kunci yang diajukan Yesus dalam perumpamaan tersebut. Keputusan kita mengenai hal ini adalah perkara hidup dan mati. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan sampai pada pengenalan akan kebenaran-Nya, namun Ia tidak akan memaksa kita untuk menyambut-Nya. Hal yang terpenting adalah membuka pintu hati dan pikiran kita—melalui pertobatan yang tulus—untuk menerima-Nya sebagai mempelai pria kita.dan Juruselamat. 
   
Setiap hari Minggu dalam Misa, kita diingatkan akan kasih yang bersinar dari mempelai laki-laki bagi jiwa kita. Saat imam mengangkat Ekaristi dan berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah. Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah Saudara yang diundang ke perjamuan Anak Domba." Kita patut menghargai kata "lihatlah" itu. Perlu diingat bahwa perumpamaan terakhir dalam Injil Matius yang merujuk pada Yesus sebagai mempelai laki-laki, disampaikan tepat sebelum Ia menjadi Anak Domba Allah di kayu salib. 
 
Mari kita renungkan kata "lihatlah" ini dan nikmati undangan untuk diperbarui oleh kasih-Nya. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan mengenai perumpamaan tersebut: minyak tidak bisa dipinjam dari lima gadis yang bijaksana. Mengapa tidak? Karena minyak itu melambangkan hubungan yang dibangun melalui penyerahan diri kepada Allah. Hubungan seperti ini tidak bisa dipinjam dari orang lain. Kebiasaan baik pun tidak bisa dipinjam dari orang lain. Seseorang yang berbudi luhur mungkin bisa menginspirasi kita, tetapi kita sendirilah yang harus berjuang keras untuk menumbuhkan kebajikan tersebut. Minyak pertobatan dan komitmen tidak bisa dipinjam dari siapa pun.
   
Yesus menyampaikan perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh bukan sekadar untuk menghibur kita, melainkan untuk membunyikan peringatan agar kita segera bertindak. Kata-kata terakhir-Nya adalah, "Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun jamnya." Bagi banyak orang di dunia saat ini, situasinya bagaikan tengah malam—tercekik oleh budaya kematian, dibutakan oleh ketidaksusilaan dan kekerasan. Begitu pula dalam batin banyak jiwa, yang terasa seperti tengah malam karena terbebani oleh dosa.
  
Kita, para pengikut Kristus, tidak boleh tinggal diam. Jika ada bagian dalam hidup kita yang digelapkan oleh dosa, inilah saatnya untuk menyambut sang mempelai laki-laki dan memohon anugerah pengampunan-Nya. Atau, jika Anda sedang menghadapi kegelapan akibat kesedihan yang mendalam, keputusasaan, atau berada di ambang keputususaan, bukalah pintu hati Anda bagi terang, yaitu Kristus sang mempelai laki-laki.
 
Ia datang bukan sebagai serigala yang hendak merampas martabat kita, melainkan sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Ia datang bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai mempelai pria yang bagi-Nyalah jiwa kita diciptakan dan yang dirindukan oleh jiwa kita. Dan betapapun kelamnya keadaan, bagi Yesus, kegelapan itu sendiri bukanlah kegelapan, dan terang-Nya seterang siang hari. Dialah terang yang takkan pernah bisa dipadamkan. (THOMAS/RENUNGAN PAGI) 

Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini

Antifon Komuni (Mzm 23:1-2)

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.

The Lord is my shepherd; there is nothing I shall want. Fresh and green are the pastures where he gives me repose, near restful waters he leads me.

Dominus regit me, et nihil mihi deerit: in loco pascuƦ ibi me collocavit: super aquam refectionis educavit me.

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id

renunganpagi.id 2026 -

Privacy Policy