Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus, Uskup
Hendaklah semua perbuatan kamu lakukan dalam cinta. (St. Karolus Borromeus)
Antifon Pembuka (Yeh 14:11.23-24)
Tuhan bersabda, "Aku akan memperhatikan domba-domba-Ku, mengangkat seorang gembala sebagai pemimpin, dan Aku, Tuhan sendiri, menjadi Allah mereka."
Doa Pagi
Allah Bapa, sumber segala pembaruan, kuatkanlah kiranya dalam umat-Mu semangat yang menjiwai uskup-Mu Santo Karolus Borromeus. Semoga Gereja-Mu selalu diperbarui dan semakin menyerupai Kristus, sehingga sanggup menampakkan wajah Kristus kepada dunia. Sebab Dialah yang hidup dan berkuasa, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
![]() |
| Credit: wideonet/istock.com |
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (2:12-18)
Saudara-saudara kekasih, kalian senantiasa taat. Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi lebih-lebih sekarang waktu aku tidak hadir. Sebab Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu baik kemauan maupun pelaksanaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kalian tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini. Maka kalian akan bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada sabda kehidupan. Dengan demikian aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa tidak sia-sialah aku berlomba dan berjerih payah. Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadat imanmu, aku bergembira dan bersukacita bersama kalian. Dan kalian pun hendaknya bergembira dan bersukacita bersama aku.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan adalah terang dan keselamatanku.
Ayat. (Mzm 27:1.4.13-14)
1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
2. Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
3. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (1 Ptr 4:14)
Inilah Injil Suci menurut Lukas (14:25-33)
Renungan
"Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar." Kalimat dari Sabda Tuhan ini mungkin terdengar agak mencemaskan dan terasa sedikit menakutkan. Terutama di zaman sekarang, kita sering kali lebih menyukai dan mengharapkan agama sebagai sesuatu yang sekadar menenangkan serta menguatkan perasaan.
Ketika Sabda Tuhan justru menantang atau memanggil kita untuk sungguh-sungguh bertobat, tidak jarang kita merasa terganggu dan enggan menerimanya. Ungkapan "takut dan gentar" ini seolah mengusik zona nyaman spiritual kita, memunculkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya harus kita perbuat.
Menanggapi kegelisahan ini, para kudus yang agung memberikan sebuah jalan permenungan yang mendalam, yaitu dengan mengajak kita membayangkan diri sedang berdiri di kaki salib. Saat kita menatap Yesus di kayu salib, rasa takut dan gentar itu memang akan menguasai hati, sebab kita disadarkan bahwa dosa-dosa kitalah yang telah menempatkan-Nya di sana.
Namun, saat kita terus menatap-Nya, kita juga akan perlahan merasakan aliran penghiburan dan damai sejahtera yang sejati. Di balik gentarnya hati akan besarnya pelanggaran kita, tumbuh keyakinan iman yang menyembuhkan, sebab kita tahu bahwa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, segala dosa tersebut telah diampuni.
Oleh karena itu, keselamatan yang kita kerjakan bukanlah sebuah keputusasaan yang diiringi ketakutan, melainkan sebuah respons syukur atas kasih Allah yang menyanggupkan kita untuk hidup tanpa bersungut-sungut, agar kita dapat senantiasa bercahaya seperti bintang-bintang di tengah dunia yang kelam.
Antifon Komuni (Mat 20:28)
Komentar hari ini
Paus Benediktus XVI, Angelus, 20 Juni 2010
Santo Maximus Pengaku Iman mencatat bahwa "tanda khas kekuatan Tuhan kita Yesus Kristus adalah Salib yang Ia pikul di pundak-Nya" (Ambiguorum 32, PG 91, 1284 C). Bahkan, "Ia berkata kepada semua orang, 'Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku'" (Luk 9:23). Memikul Salib berarti berjuang untuk mengalahkan dosa yang menjadi penghalang dalam perjalanan menuju Allah, menerima kehendak Tuhan setiap hari, meningkatkan iman, terutama dalam menghadapi masalah, kesulitan dan penderitaan. Santa Edith Stein, Karmelit (Benedikta dari Salib), memberikan kesaksian tentang hal ini di masa penganiayaan. Maka pada tahun 1938 ia menulis dari Biara Karmelit di Cologne, "Hari ini saya mengerti... apa artinya menjadi Mempelai Kristus dalam tanda Salib, meskipun ini tidak akan pernah sepenuhnya dipahami karena ini adalah misteri.... Semakin gelap di sekitar kita, semakin kita harus membuka hati kita terhadap terang yang datang dari atas" (La scelta di Dio. Lettere [1917-1942], Roma, 1973, 132-133]. Pada zaman kita juga ada banyak orang Kristen di dunia yang, dimotivasi oleh kasih kepada Allah, memikul salib mereka setiap hari, baik salib pencobaan sehari-hari maupun salib yang disebabkan oleh kebiadaban manusia yang terkadang menuntut keberanian untuk berkorban. Semoga Tuhan mengusahakan agar kita masing-masing selalu menaruh harapan teguh kepada-Nya, yakin bahwa dengan mengikuti-Nya, memikul salib kita sendiri, kita akan meraih bersama-Nya terang Kebangkitan.




