“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Rm 13:13-14).
Antifon Pembuka (Sir 15:5)
Di tengah umat, Tuhan membuka mulut orang yang takut akan Dia dan memenuhi dia dengan roh kebijaksanaan dan pengetahuan, serta mendandani dia dengan jubah kemuliaan.
Doa Pagi
| ||
Mazmur Tanggapan, do = g, 4/4, PS 833
Ref. Kita memuji Allah kar'na besar cinta-Nya.
Ayat. (Mzm. 33:1-2.4-5.10ab,11; R:22)1. Bersorak-sorailah, dalam Tuhan, hai orang-orang benar, dalam Tuhan! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
2. Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
3. Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 24:42a.44)
Inilah Injil Suci menurut Matius (25:1-13)
Pada suatu hari Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak. Sedangkan yang bijaksana, selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya. Tetapi karena pengantin itu lama tidak datang-datang, mengantuklah mereka semua, lalu tertidur. Tengah malam terdengarlah suara berseru, 'Pengantin datang! Songsonglah dia!' Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Yang bodoh berkata kepada yang bijaksana, 'Berilah kami minyakmu sedikit, sebab pelita kami mau padam.' Tetapi yang bijaksana menjawab, 'Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kalian. Lebih baik kalian pergi membelinya pada penjual minyak.' Tetapi sementara mereka pergi membelinya, datanglah pengantin, dan yang sudah siap sedia masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah. Lalu pintu ditutup. Kemudian datanglah juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata, 'Tuan, Tuan, bukakanlah kami pintu!' Tetapi tuan itu menjawab, 'Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kalian.' Karena itu, berjaga-jagalah sebab kalian tidak tahu akan hari maupun saatnya.'
Verbum Domini
Renungan
Hari ini kita merayakan peringatan Santo Agustinus, menyusul peringatan ibundanya kemarin, yang merupakan teladan dan pelindung abadi bagi para ibu.
Mengalahkan Ego: Belajar dari Santo Agustinus
Di masa mudanya, Santo Agustinus pernah merasa arogan. Menginjak usia 18 tahun, ia berseru, "Aku sudah bebas dari orang tuaku, aku sudah cukup dewasa." Namun, kebebasan tanpa arah ini justru membawa kesedihan. Beruntung, ibunya tidak pernah menyerah dan terus berdoa sambil menangis, memohon, "Tuhan, jika Engkau menganugerahkan anak ini kepadaku, bawalah ia kembali kepada-Mu."
Berkat ketekunan doa sang ibu, Agustinus akhirnya dibaptis pada usia 33 tahun. Ia berbalik mengasihi Kristus dan kelak menjadi Uskup serta Pujangga Gereja yang pemikirannya menerangi Gereja. Kisah ini mengingatkan kita akan satu hal mendasar: pentingnya ketaatan dan kerendahan hati untuk mau mendengarkan.
Kebodohan Dunia dan Pemimpin yang Tuli
Sikap mau mendengarkan ini sangat relevan dengan bacaan Injil hari ini tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Lima gadis bodoh melambangkan mereka yang bersandar pada ego serta kebijaksanaan manusia semata, dan menolak kebenaran Allah.
Di zaman sekarang, kita melihat "kebodohan" ini terjadi dalam skala yang menyedihkan di panggung dunia:
Peperangan yang menghancurkan di berbagai belahan bumi, lahir dari ambisi dan ego manusia.
Pemimpin negara yang mengabaikan dan menutup telinga terhadap jeritan penderitaan rakyatnya sendiri.
Obsesi tiada akhir terhadap kekuasaan, uang, prestise, dan kemuliaan duniawi.
Dunia mendefinisikan kesuksesan melalui materi dan kekuasaan. Sayangnya, hasrat manusia sangat sulit dipuaskan; semakin banyak yang diraih, semakin besar keserakahannya. Para pemimpin yang mabuk kekuasaan ini layaknya gadis-gadis bodoh yang terbuai dunia, lupa pada ketidakkekalan hidup, dan tidak siap saat Tuhan datang menuntut pertanggungjawaban.
Membawa Damai dari Dalam Rumah
Di tengah dunia yang penuh peperangan dan pemimpin yang tidak mau mendengar, kita dipanggil untuk tidak ikut terseret dalam arus egoisme tersebut. Kita harus memulai kedamaian dan sikap mendengarkan dari rumah kita sendiri.
Bagi anak-anak dan kaum muda, tunjukkanlah kebijaksanaan melalui tindakan nyata:
Bantulah pekerjaan orang tua di rumah, seperti di dapur atau membersihkan halaman, dengan penuh sukacita.
Tekunlah dalam belajar, ikuti arahan guru, dan jangan menunda-nunda tugas.
Hormati orang tua dan biarkan mereka memberkati jalan hidup kalian dengan doa-doa mereka.
Jangan biarkan orang tua menangis karena pemberontakan kita, seperti yang dulu dilakukan Agustinus muda. Jadilah seperti lima gadis bijaksana yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan. Dengan belajar taat, saling mendengarkan, dan melepaskan ego duniawi di dalam keluarga, kita sedang menyiapkan diri bagi kedatangan Tuhan, sekaligus menanam benih kedamaian di tengah dunia yang sedang terluka ini.





