Selasa, 22 Juli 2008 Peringatan Wajib Sta. Maria Magdalena

Selasa, 22 Juli 2008
Peringatan Wajib Sta. Maria Magdalena


St.. Maria Magdalena adalah seorang pendosa, tetapi Yesus mengampuni dia. Yesus melihat bahwa ia telah banyak berbuat kasih
  • Bacaan I : Mi 7:14-15.18-20
  • Bacaan Injil : Mat 12:46-50
Doa Renungan

Allah Bapa yang mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu atas kepercayaan yang telah Kau berikan pada kami. Semoga kami dapat setia menjaga panggilan dan melaksanakan tugas perutusan. Hadirlah di sini, terangilah hati kami, agar sabda kehidupan-Mu meresap dalam hati kami. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Pembacaan dari Nubuat Mikha (7:14-15.18-20)

"Kiranya Engkau menunjukkan kasih setia-Mu"

Ya Tuhan, gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban! Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = a, 4/4, PS 815
Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 85:2-4.5-6.7-8)
1. Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, ya Tuhan, telah memulihkan keadaan Yakub. Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala.
2. Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?
3. Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!

Bait Pengantar Injil do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan menaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya. (Yoh 14:23)

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (12:46-50)

"Sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Yesus bersabda, "Inilah ibu-Ku, inilah saudara-Ku."

Sekali peristiwa ketika Yesus sedang berbicara dengan orang banyak, ibu dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka berkatalah seseorang kepada-Nya, "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi Yesus menjawab kepadanya, "Siapakah ibu-Ku? Dan siapakah saudara-saudara-Ku?" Dan sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Ia bersabda, "Inilah ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Yesus bukan mau menyangkal asal-usul dan hubungan darah-Nya dengan Maria, ibu-Nya dan kaum kerabat-Nya, tetapi menegaskan bahwa hubungan kekeluargaan yang demikian erat mesti diluaskan kepada semua orang. Hubungan persaudaraan tidak boleh menjadi sempit. Mungkin timbul kesan bahwa sikap Yesus terhadap ibu-Nya berlebihan kalau bukan kurang ajar. Masa Sang Bunda yang melahirkan dan membesarkan-Nya diperlalukan demikian!

Yesus ingin memberikan pelajaran berharga dan mengajak kita untuk meluaskan hubungan kita yang bersaudara dengan sesama manusia karena sama-sama mendengar Firman Tuhan. Yesus sangat menghormati Bunda Maria. Kedekatan tidak boleh tertutup hanya di kalangan keluarga saja, melainkan kepada semua orang yang melakukan kehendak Bapa di surga.

Maka, kita mesti membuat seimbang penghargaan atas darah dan asal-usul kita sendiri dengan panggilan menjadi Keluarga Allah. Kekerabatan kita tidak boleh menjadikan kita picik. Kita tidak pernah boleh meremehkan status seseorang berdasarkan keturunan, melainkan menghormati dan menjadikannya sesama saudara karena melaksanakan kehendak Bapa.

Ya Allah, aku bersyukur atas orangtuaku. Melalui mereka, Engkau telah menciptakan aku sungguh istimewa. Ajarilah aku untuk selalu menghormati mereka dan meluaskan hubungan kami dengan semua orang karena kami semua adalah anak-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2008, Renungan dan Catatan Harian