Malam Paskah, 11 April 2009

Bacaan Kitab Suci Malam Paskah klik disini

Renungan Malam Paskah: Kej 1:1-2:2; Kel 14:15-15:1; Yeh 36:16-17a.18-28; Rm 6:3-11; Mrk 16:1-7


“Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan, Ia telah bangkit”


"Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu."

(Mrk 16:6-7)



“Rahasia Paskah mempunyai dua sisi: Dengan kematianNya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru. Hidup baru ini pada tempat pertama adalah pembenaran, yang menempatkan kita kembali dalam rahmat Allah. ‘supaya seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati…demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Pembenaran terletak dalam kemenangan atas kematian yang disebabkan oleh dosa dan dalam keikutsertaan dalam rahmat. Ia melaksanakan penerimaan menjadi anak Allah, karena orang-orang menjadi saudara-saudara Kristus. Yesus sendiri, sesudah kebangkitanNya, menyapa murid-murid-Nya dengan perkataan saudara: ‘Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu…’ (Mat 28:10; Yoh 20:17). Kita adalah saudara-saudariNya bukan atas dasar kodrat kita, melainkan oleh anugerah rahmat, karena hidup sebagai anak angkat ini benar-benar menyertakan kita dalam kehidupan PuteraNya yang tunggal, hidup yang nyata sepenuhnya dalam kebangkitanNya” (Katekismus Gereja Katolik 1993, no 654).



Kematian dan kebangkitan bagaikan mata uang bermuka dua



Kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya dari mati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Saat Ia wafat, mempersembahkan Diri seutuhnya kepada Allah Bapa yang mengutus pada saat itu juga Ia masuk ke dalam hidup baru, hidup mulia kembali di sorga, sebagaimana pernah Ia sabdakan kepada salah satu penjahat yang disalibkan bersamaNya dan bertobat: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Penjahat yang bertobat itu pada saat ia meninggal dunia/mati pada saat itu juga memperoleh anugerah Allah, hidup mulia di dalam Firdaus, di dalam sorga.



“Dengan kematian-Nya Kristus membebaskan kita dari dosa, dengan kebangkitanNya Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru”. Pada malam ini kita mengenangkan kebangkitanNya, yang berarti kita bersama-sama diundang untuk memasuki kehidupan baru, sebagai ‘anak-anak Allah’, meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus. Kita dipanggil untuk memperbarui hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, yang telah dicemari atau dikotori oleh dosa-dosa kita. “Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu” (Yeh 36:23-24). Kita dipanggil untuk menanggaapi secara positif ajakanNya untuk berkumpul kembali ke ‘tanah terjanji’, hidup bahagia dan mulia di sorga.



Hidup bahagia dan mulia di sorga yang dijanjikan kepada kita tersebut kiranya telah dapat kita cicipi atau nikmati selama hidup di dunia ini, yaitu dengan membebaskann diri dari dosa dan memeluk kehidupan baru, sesuai dengan kehendak dan panggilan Tuhan. Secara liturgis hal ini di dalam Perayaan Malam Paskah dikenangkan dengan liturgi pembaharuan janji baptis , dimana kita bersama-sama memperbarui janji untuk “hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan Allah dan menolak semua godaan setan bagaikan mata uang bermuka dua, seperti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan Allah dan menolak untuk berbuat jahat atau berbuat dosa. Jika hati kita sepenuhnya diarahkan kepada Tuhan Allah pasti secara otomatis dikuasai atau dirajai, dan dengan demikian “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”(Yeh 36:26). Hati kita akan meneladan Hati Yesus yang lemah lembut, rendah hati serta terbuka lebar bagi siapapun yang merindukan atau mendambakan Tuhan. Kita akan menjadi orang yang bermurah hati, memberi perhatian kepada saudara-saudari kita.

“Sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu." (Mrk 16:7)

“Demenyar” adalah singkatan dari ‘demen sing anyar’ = suka apa-apa yang baru. Apa-apa yang baru pada umumnya menarik perhatian dan memikat, demikian juga ketika kita memiliki apa-apa yang baru pada umumnya juga tergerak untuk menceriterakan atau menyebarluaskan kepada saudara-saudari kita. Kita telah dianugerahi hati baru, kehidupan baru dan seperti para wanita yang menjadi saksi kebangkitan Yesus kita juga diundang “Pergilah, katakanlan kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu di Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu”



Galilea adalah tempat tinggal para murid, dimana mereka hidup dan mengerjakan tugas pekerjaan sehari-hari. Galilea kita adalah rumah/keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana mayoritas waktu dan tenaga kita boroskan di dalamnya. Ia mendahului kamu masuk ke dalam keluarga atau tempat kerja/ belajar, maka “Jangan takut masuk ke dalam atau pulang kembali ke keluarga dan sebaliknya meninggalkan keluarga menuju ke tempat kerja/belajar”. Marilah kita buka hati kita lebar-lebar dan juga mata kita untuk melihat dan menangkap kehadiran Tuhan yang telah mendahului perjalanan dan keberadaan kita di dalam keluarga maupun tempat kerja/belajar, tanpa takut dan gentar, was-was atau curiga. Dengan kata lain hendaknya dengan gemibra, ceria, dinamis serta penuh harapan memasuki rumah/keluarga, tempat kerja atau belajar. Mulailah, awalilah segala sesuatu dengan gembira, ceria dan penuh harapan.


Dalam dan dengan hati baru, gariah, ceria dan penuh harapan marilah kita “memandang bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya: dalam unsur-unsur , memberi ‘ada’nya; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia, memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung” (St Ignatius Loyola, LR no 235). Dengan kata lain kita dipanggil untuk menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan, dan dengan demikian kita akan mampu meneladan Yesus yang menyapa dan memperlakukan para murid sebagai saudara-saudariNya, kita dapat menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara dan saudari. Jika kita telah mampu menyikapi dan memperlakukan siapapun dan apapun sebagai saudara atau sahabat, maka tidak ada ketakutan sedikitpun untuk meninggalkan rumah/keluarga pergi ketempat kerja/belajar dan sebaliknya pulan dari kerja/belajar untuk pulang ke rumah/keluarga.


“Allah tinggal dan berkarya dalam seluruh ciptaan-Nya, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan citra atau gambar Allah. Maka marilah kita sikapi dan perlakukan diri kita maupun saudara-saudari kita sebagai citra atau gambar Allah. Sebagai gambar atau citra Allah berarti Roh Allah hidup dan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23). Marilah kita hayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut dalam diri kita sendiri serta kita cermati dan imani buah-buah Roh tersebut dalam diri saudara-saudari kita.

“Kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:10 -11)

Pembaruan janji baptis yang kita ikrarkan bersama-sama pada Malam Paskah ini merupakan ajakan atau panggilan untuk menghayati peringatan Paulus “bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Ini dari janji baptis adalah “hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan”. Mengabdi Tuhan Allah berarti kita senantiasa hidup dalam dan oleh “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”, sedangkan godaan setan antara lain berupa “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (lihat Gal 5:20-23). Maka baiklah kutipan surat Paulus kepada umat di Roma di atas kita renungkan atau refleksikan dengan bantuan kutipan surat Paulus kepada umat di Galatia di atas ini.


“Kamu telah mati bagi dosa”


Dosa-dosa seperti percabulan dst.. sebagaimana dikatakan Paulus di atas rasanya masih marak dilakukan orang pada masa kini. Sebagai contoh adalah marah, mengingat marah ini rasanya menjadi sumber dari dosa-dosa lainnya. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain, bahasa marah yang paling lembut adalah mengeluh/menggerutu, sedangkan paling kasar adalah membunuh. Yang menjadi dorongan atau alasan mengeluh adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi, dengan kata lain orang hidup menurut selera pribadi atau berpedoman like and dislike, sehingga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi adalah musuh.


Bukankah ketika orang tidak berani atau tidak mungkin mengungkapkan atau mewujudkan keluhan atau kemarahannya kepada yang menyebabkan ia marah atau mengeluh, kemudian mengarahkan keluhan dan kemarahannya dengan memuaskan diri sendiri, yang nikmat dan enak untuk sesaat, misalnya berbuat cabul atau mabuk-mabukan atau pesta pora? Maka matikanlah, hapuslah aneka macam bentuk keluhan atau kemarahan yang ada dalam diri anda!. Ketrampilan atau kebiasaan untuk tidak mengeluh atau marah ini hemat saya perlu diusahakan dan dihayati dalam kehidupan bersama yang mendasar, yaitu di dalam keluarga atau komunitas, dan kemudian di tempat kerja dengan rekan kerja. Marilah kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, meneladan cara hidup dan cara bertindak atau menghayati sabda-sabda Yesus dalam hidup sehari-hari.



“Kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”



Sabda Yesus yang terkait dengan marah adalah “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:43 -44). Menghayati sabda Yesus ini hemat saya sama dengan melakukan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Galatia , yaitu hidup dalam Roh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23)


Dari buah-buah Roh di atas ini rasanya yang baik kita renungkan atau refleksikan adalah “penguasaan diri”. Diri kita masing-masing adalah ciptaan Allah yang diciptakan sesuai dengan gambar dan citraNya, maka ajakan untuk menguasai diri harus dihayati bersama Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah bagi kita semua adalah agar kita senantiasa hidup suci, baik, berbudi pekerti luhur, sehingga tumbuh berkembang semakin dikasihi oleh Allah maupun sesama manusia. Dengan kata lain orang yang mampu menguasai diri berarti semakin dikasihi oleh banyak orang, semakin memiliki banyak kenalan berarti semakin banyak sahabat.



Untuk membantu keterampilan penguasaan diri antara lain hendaknya senantiasa berpikir positif terhadap diri sendiri maupun orang lain, sebagai tanda bahwa kita hidup dari dan oleh Roh. Maka warta gembira malaikat kepada para perempuan di makam“ Pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu” dapat kita hayati dengan berkata-kata perihal apa yang baik dan benar dan kita senantiasa bersikap dan bertindak untuk melihat dan mengakui apa yang benar dan baik. Bukankah dengan melihat dan mengakui apa yang benar dan baik akan tumbuh berkembang “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri” dalam diri kita?



Mengenangkan dan mengimani misteri Paskah, wafat dan kebangkitan Yesus, berarti kita dipanggil untuk bekerjasama atau bergotong royong dalam melakukan apa yang baik dan benar. Memang untuk melakukan apa yang baik dan benar pada masa kini tidak akan terlepas dari aneka macam tantangan dan hambatan Jangan takut dan gentar menghadapi aneka tantangan dan hambatan, dan marilah meneladan para perempuan yang “pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” tanpa takut dan gentar. Dari peristiwa kebangkitan Yesus dari mati ini kiranya kita dapat mawas diri bahwa kelemahan dapat menjadi kekuatan dan sebaliknya kekuatan dapat menjadi kelemahan. Dalam situasi genting pada umumnya yang berani tampil bebas merdeka adalah mereka yang dipandang atau dinilai lemah dalam situasi normal atau biasa, sedangkan yang dinilai kuat bersembunyi, tidak berani tampil. Bukankah untuk membersihkan apa yang kotor dan amburadul kita sering lebih minta bantuan dari mereka yang dinilai lemah seperti para pembantu atau pekerja kasar? Kuburan atau makam sering menjadi tempat yang menakutkan untuk sementara orang. Dalam arti tertentu juga ada orang yang menakutkan alias disikapi sebagai kuburan atau makam, maka marilah kita dekati dan sikapi orang-orang yang menakutkan dengan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlebutan, penguasaan diri”!




“SELAMAT PASKAH,

MARILAH KITA BANGKIT DAN BERGAIRAH DALAM KASIH, SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KESABARAN, KEMURaHAN, KEBAIKAN, KESETIAAN, KELEMBUTAN DAN PENGUASAAN DIRI”




Jakarta , 11 April 2009
Ignatius Sumarya, SJ


Photobucket

Jumat Agung, 10 April 2009 - I. Sumarya, SJ-

Bacaan Kitab Suci Jumat Agung klik disini


JUMAT AGUNG: Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42

“Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,”

Pada hari ini kita diundang untuk mengenangkan Sengsara dan Wafat Yesus di puncak Kalvari, di kayu salib, dengan ibadat-ibadat. Siang atau sore hari kita menghadiri dan berpartisipasi dalam ibadat yang terdiri dari Liturgi Sabda, Penghormatan Salib dan Komuni, sementara itu pada umumnya di gereja-gereja atau kapel-kapel diadakan ibadat jalan salib bersama-sama. Kita menghormati dan bersembah sujud kepada Yang Tersalib, maka perkenankan secara sederhana kami sajikan renungan atau refleksi atas sabda-sabda Dia Yang Tersalib:

"Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” (Mrk 15:34)

Berat dan mulia itulah pemenuhan tugas pengutusan Yesus. Ketika Ia disiksa, didera dan harus memikul salib yang berat sambil diejek dan dihina, tidak ada satupun sahabat-sahabatNya yang menyertai. Mereka ketakutan dan meninggalkan Yesus sendirian. Kiranya sebagai seorang manusia hal itu sungguh menyakitkan, apalagi ketika Ia tergantung di kayu salib, berada di puncak penderitaan sendirian. Namun karena kesetiaan dan ketaatan kepada Yang Mengutus , Ia merasa masih didampingi oleh Yang Mengutus, maka di puncak penderitaan Ia berdoa “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”.



Mungkin pada saat ini kita, lebih-lebih rekan-rekan yang sedang menderita sakit berat dan harus dirawat di rumah sakit serta sering sendirian di tempat tidur dalam kesakitan, sedang mengalami penderitaan atau sesuatu yang berat dan menyesakkan. Dengan kata lain tidak mampu bekerja atau bertugas seperti biasanya. Kami berharap,jika kita berada dalam keadaan yang demikian itu, hendaknya mmanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa, mengarahkan hati kepada Tuhan sepenuhnya. Mungkin berupa doa batin atau kata-kata singkat. Persembahkan dan satukan penderitaan anda kepada Allah dan penderitaan Yesus. Hendaknya dalam puncak kelemahan dan kerapuhan tubuh , hati dan jiwa semakin terbuka terhadap dan dekat dengan Allah, yang telah menganugerahi hidup dan tugas pengutusan. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2Kor 12:9)

"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34)

Di puncak penderitaan tidak ada hiburan, tetapi yang datang bertubi-tubi adalah penghinaan, ejekan, cemoohan, cacimaki dst., itulah yang dialami oleh Yesus di puncak kayu salib. Ia tidak membalas dendam atau membenci mereka, melainkan mengampuni dan mendoakan mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Sungguh merupakan sikap dan perilaku pahlawan karya penyelamatan sejati: tidak marah, mengeluh, menggerutu melainkan mengasihi mereka yang telah membuatNya menderita, “sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”


Di dalam hidup dan kerja sehari-hari kiranya kita sering merasa diperlakukan tidak baik, tidak enak dan menyakitkan. Dengan kata lain kita sering merasa dilecehkan dan direndahkan. Jika mengalami yang demikian itu, marilah kita meneladan Yesus dengan berdoa:”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Sadari dan hayati bahwa mereka tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan kita, karena mereka tidak tahu. Orang yang tidak tahu hemat saya tidak bersalah, maka selayaknya tidak dimusuhi atau dibenci. “Berkat kuasaMu juga, cinta mengalahkan kebencian, ampun menaklukkan balas dendam, dan saling kasih mengenyahkan perselisihan” (Prefasi DSA VI). Dalam puncak kelemahan dan kerapuhan diri kita, kuasa Tuhan lebih hidup dan berkarya.


"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)

Di menit-menit atau detik-detik terakhir hidupnya, salah satu penjahat yang disalibkan disamping Yesus, berdoa: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42 )..Dengan dan dalam kemurahan HatiNya Yesus menjawab:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”(Luk 23:43 ). Dialog ini kiranya baik menjadi permenungan kita semua, lebih-lebih atau terutama mereka yang mendekati dipanggil Tuhan, tetapi sebenarnya sewaktu-waktu kita juga dapat dipanggil Tuhan, meninggal dunia.


Sabda Yesus di atas ini kiranya menjadi sumber inspirasi dan iman kita bahwa hidup mulia kembali bersama Bapa di sorga dan Yesus yang kita imani setelah meninggal dunia adalah anugerah Allah. Orang yang dapat siap sedia menerima anugerah Allah pada detik-detik akhir hidupnya kiranya adalah mereka yang dalam perjalanan hidup dan tugas pengutusannya dengan dan dalam kelemahan serta kerapuhannya senantiasa berusaha untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Mungkin dalam hidup dan cara bertindak sehari-hari di mata duniawi mereka terpaksa berbuat jahat, seperti mencopet, mencuri dst… Perbuatan jahat tersebut dilakukan untuk mempertahankan hidup yang dihayati sebagai anugerah Allah, karena tidak ada yang memberi kesempatan dan kemungkinan untuk bertindak sebagaimana mestinya. Mereka tetap berkehendak baik untuk mempertahankan hidup, anugerah Tuhan, maka ketika menjelang dipanggil Tuhan, di detik-detik terakhir hidupnya mereka akan berdoa seperti salah seorang penjahat yang disalibkan di samping Yesus :”Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Marilah kita tetap setia berkehendak baik dalam kelemahan dan kerapuhan kita.

"Ibu, inilah, anakmu! "Inilah ibumu!” "(Yoh 19:26.27)


Seorang ibu yang baik senantiasa berada di samping anaknya, apalagi ketika anaknya sedang menderita sakit berat. “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh 19:25 ). Bunda Maria berada di dekat salib Yesus: kesanggupan Maria untuk menjadi Bunda Penyelamat Dunia berkembang terus dengan sabda Yesus: “Ibu, inilah, anakmu!...Inilah ibumu!”. Yesus mempercayakan para murid atau pengikutNya kepada Bunda Maria , Ia mohon agar Bunda Maria mendampingi dan menyertai para murid atau pengikutNya dalam meneruskan karya penyelamatanNya. Kiranya kita tahu bahwa sampai kini Bunda Maria senantiasa mendampingi dan menyertai para murid atau pengikut Yesus, antara lain dengan peristiwa-peristiwa penampakannya dengan melelehkan air mata cintakasih bagi orang-orang berdosa agar bertobat.



Bunda Maria adalah teladan umat beriman, teladan hidup dan cara bertindak bagi para murid atau pengikut Yesus. Tidak ingat akan kasih Bunda/ibu berarti kurang beriman. “Adapun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankannya di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke sorga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita karunia-karunia yang menghantar kepada keselamatan kekal” (Vatikan II: LG no 62). Maka marilah kita tingkatkan dan perdalam devosi kita kepada Bunda Maria, antara lain dengan meneladan ketaatan dan kesetiaannya pada panggilan dan kehendak Tuhan sampai mati, dipanggil Tuhan. “Nderek Dewi Mariyah, tentu geng kang manah, boten yen kuwatosa ibu jangkung tansah. Kanjeng Ratu ing swarga, amba sumarah samya”, demikian syair bait pertama lagu “Nderek Dewi Mariyah”, yang sangat populer dalam kehidupan iman dan beragama orang-orang katolik.

"Aku haus!"(Yoh 19:28)

Kehausan Yesus di puncak kayu salib merupakan ajakan bagi para murid-murid atau pengikut Yesus untuk ‘memberiNya minum’ dengan melengkapi penderitaan Yesus dalam dan melalui hidup dan cara bertindak setiap hari. “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.”(Kol 1:24 ), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Kolose, kepada kita semua yang percaya kepadaNya. Setiap kali berdoa kita mengawali dan mengakhiri dengan membuat tanda salib; hal ini merupakan ajakan agar apa yang akan kita lakukan atau kerjakan sebagai usaha “ menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat”.


Kita semua dipanggil untuk mempersembahkan diri seutuhnya demi keselamatan atau kebahagiaan umum, seluruh bangsa manusia. Maka baiklah apapun yang menjadi tugas, kesibukan, kewajiban atau pekerjaan kita, marilah kita hayati atau lakukan sebaik mungkin. Kita harus rela berkoban bagi keselamatan atau kebahagiaan umum/bersama. “Rela berkorban adalah sikap dan perilaku yang tindakannya dilakukan dengan ikhlas hati dan dengan kehendak sendiri. Dalam hal ini, ia lebih mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri” (Prof Dr Edy Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 23).

Pada tahun ini, sebagai dampak dari krisis financial yang melanda seluruh dunia, kiranya cukup banyak orang yang hidupnya kurang atau tidak sejahtera. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk rela berkorban: tidak berfoya-foya atau hidup bermewah-mewah dan memperhatikan saudara-saudari kita yang serba berkekurangan. Marilah kita tingkatkan dan perdalam sodaritas kita terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Solidaritas kiranya berasal dari akar kata bahasa Latin solido/solidare yang antara lain berarti memperkuat, mengukuhkan, mengutuhkan kembali, menegakkan, meneguhkan. Marilah kita perkuat mereka yang lemah, kita kukuhkan yang ragu-ragu, kita utuhkan kembali yang pecah dan retak, kita tegakkan yang miring-miring dan kita teguhkan yang cemas.

"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk 23:46)

Nyawa adalah gairah hidup, yang menghidupkan tubuh menjadi dinamis dan sehat, segar bugar. “Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”(Rm 14: 8), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. Hidup yang adalah anugerah Tuhan pada suatu saat, sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh Tuhan ketika kita dipanggil Tuhan, meninggal dunia. Kiranya kita semua mendambakan pada detik-detik terakhir hidup kita masing-masng, kita dapat meneladan Yesus yang menyerahkan nyawa atau hidup kembali kepada Tuhan, Bapa di sorga, antara lain dapat berdoa seperti Yesus :” Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku, hidupku”. Kita akan mampu berdoa atau bertindak demikian itu jika dalam perjalanan hidup dan kerja di dunia ini, dalam kelemahan dan kerapuhan serta bantuan rahmat Tuhan kita senantiasa berusaha untuk mennyerahkan gairah, cita-cita, harapan, dambaan, impian hidup kita kepada kehendak Tuhan, dengan kata lain senantiasa berusaha untuk berbudi pekerti luhur.



Berbudi pekerti luhur berarti memiliki sikap dan perilaku yang baik dan bermoral dalam hubungannya atau relasinya dengan Tuhan, diri sendiri, anggota keluarga, sesama/masyarakat dan bangsa serta alam sekitar. Maka marilah kita mawas diri perihal hubungan atau relasi dengan pribadi-pribadi maupun lingkungan hidup kita, apakah kita memiliki hubungan yang baik dan bermoral? Apakah kita berhubungan dan berrelasi terus menerus dalam dan bersama dengan Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga semauanya menjadi baik? Apakah kita semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia kapanpun dan dimanapun?

"Sudah selesai.” (Yoh 19:30)


“Sudah selesai”, itulah sabda terakhir dari Yesus yang tergantung di kayu salib, “lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya” (Yoh 19:30 ), wafat. “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.”(Mat 27:51-52). Penyerahan Diri total, wafat Yesus membangkitkan dan menggerakkan seluruh bumi, dan “orang-orang kudus yang telah meninggal dunia bangkit”.


Wafat dan Kebangkitan Yesus tak dapat dipisahkan, hanya dapat dibedakan. Suatu misteri agung: kematian yang membangkitkan, mati satu tumbuh seribu. Dia yang taat sampai wafat di kayu salib membangkitkan dan menggairahkan orang-orang kudus, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Rasanya misteri salib ini juga terjadi dalam hidup sehari-hari, misalnya ketika ada seseorang meninggal dunia, maka tanpa diundang begitu mendengar saudara-saudari, sahabat-sahabat dan kenalan-kenalan bangkit, bergegas untuk berdoa dan bersembah sujud di hadapan yang meninggal dunia. Mungkin kita dalam keadaan letih, lesu dan tak bergairah atau putus asa; jika demikian adanya marilah kita menatap dan memandang Yang Tersalib, percayalah kita anda berani memandang Yang Tersalib pasti akan digairahkan, ditegakkan sehingga anda bangkit dan bergairah dalam hidup maupun bekerja meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan.
Jakarta, 10 April 2009
Ignatius Sumarya, SJ