Minggu, 26 April 2009, Hari Minggu Paskah III

Minggu, 26 April 2009
Hari Minggu Paskah III

"Tuhan yang bangkit menjumpai kita melalui peristiwa yang sangat sehari-hari dan biasa."


Doa Renungan


Allah Bapa kami yang kekal dan mahakudus, curahilah kami Roh Yesus Putera-Mu, yang telah Kaubangkitkan dari alam maut. Ampunilah dosa-dosa kami, bila kami mendengarkan sabda-Mu dan jadikanlah kami putera dan puteri-Mu, yang berkenan di hati-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kisah Para Rasul (3:13-15.17-19)

"Yesus, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati"

Setelah Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh, orang banyak yang sangat keheranan mengerumuni mereka. Maka kata Petrus kepada mereka, "Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat bahwa Ia harus dilepaskan. Kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, dan malah menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu. Demikianlah Yesus, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan tentang hal itu kami adalah saksi. Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpinmu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 859
Ref. Bagi orang benar Tuhan bercahaya, laksana lampu di dalam gulita

Ayat. (Mzm 42:2.4.7.9)
1. Apabila aku berseru, jawablah aku ya Allah yang adil. Apabila aku bersusah, lapangkanlah dadaku, kasihailah aku dan dengarkanlah doaku.
2. Ketahuilah, Tuhan akan mengerjakan karya agung bagi para kekasih-Nya. Tuhan akan mendengarkan daku, bila aku berseru kepada-Nya.
3. Banyak orang berkata, "Siapa yang akan menurunkan berkat?" Hendaknya cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan.
4. Aku hendak membaringkan diri dan tidur dalam kehadiranku yang menenteramkan. Sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membuat istirahatku aman sentosa.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes (2:1-5)

"Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan juga untuk dosa seluruh dunia."

Anak-anakku, hal-hal ini kutulis kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa. Namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita; malahan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata, 'Aku mengenal Allah' tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalam dia tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman Allah, di dalam orang itu kasih Allah sungguh sudah sempurna.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 955
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat. (Luk 24:32)
Tuhan Yesus, terangkanlah kitab suci, dan kobarkanlah hati kami bila mendengar sabda-Mu.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (24:35-48)

"Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga."

Dua murid yang dalam perjalanan ke Emaus ditemui oleh Yesus yang bangkit segera kembali ke Yerusalem. Di sana mereka menceriterakan kepada saudara-saudara yang lain apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagaimana mereka mengenal Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut, karena menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Mengapa kamu terkejut, dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hatimu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini! Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."Sambil berkata demikian Yesus memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum juga percaya karena girang dan masih heran, berkatalah Yesus kepada mereka, "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Yesus mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Yesus berkata kepada mereka, "Inilah perkataan yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Yesus membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata Yesus kepada mereka, "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Dia Sungguh Hidup!


Kemarin saya diminta mengisi ruang ulasan Injil kali ini. Dengar-dengar Luk 24:35-48 ditampilkan sebagai Injil Minggu Paskah III tahun B ini. Ada kawan yang bertanya, kenapa diceritakan bahwa para murid tak langsung mengenal Yesus yang tiba-tiba hadir di antara mereka. Malah mereka menyangkanya hantu. Ada lagi yang bertanya, apa sih maksudnya kok Yesus minta diberi makan segala, apa ini perkara sajian kepada arwah. Katanya di negeri kalian ada adat seperti itu. Ah, lain padang lain belalangnya.

Tak meleset amatan para ahli tafsir bahwa episode terakhir yang saya ceritakan itu mirip dengan yang lama kemudian tertulis dalam Yoh 20:19-29. Kalangan sumber kami sama. Minggu lalu di ruang ini kan ada kupasan tentang itu. Betul seperti yang ditekankan, Yesus yang telah bangkit itu kini menyertai para murid. Begitulah mereka mengalami kedamaian dan tidak lagi merasa tertekan lagi. Berjumpa dengan dia yang telah bangkit itu membuat para murid menemukan kehidupan baru. Pokok inilah yang saya garap dalam Luk 24:35-48.

Awal bacaan kali ini sebetulnya lanjutan kisah kedua orang murid yang bertemu dengan Yesus di Emaus (Luk 24:13-33). Kedua orang itu kemudian bergegas ke Yerusalem memberitakan pengalaman mereka kepada para murid terdekat yang sedang berada bersama beberapa orang lain. Sementara itu disebutkan (Luk 24:34) bahwa Simon juga telah melihat Yesus. Kedua murid tadi kemudian bercerita bagaimana mereka berjalan bersama Yesus ke Emaus, mendapat penjelasan mengenai kata Kitab Suci tentang dirinya, dan bagaimana mereka mengenalinya ketika ia membagi-bagi roti. Kiranya pada waktu itu para murid dan orang-orang yang dekat sedang berbagi pengalaman iman mengenai Yesus. Beberapa orang memang merasa berjumpa dengan Yesus yang bangkit pada kesempatan yang berbeda-beda. Tentu saja yang mereka lihat dan alami tidak sama persis. Namun demikian, akhirnya mereka dapat saling memahami bahwa yang mereka jumpai itu ialah dia yang dulu mereka kenal dalam hidup sehari-hari. Sekarang ia berada dalam cara lain, tapi nyata.

Pengalaman bermacam-macam, tapi sama arahnya. Satu pula intinya. Yesus sudah bangkit dan tetap berada dengan mereka, tapi dengan cara yang masih perlu mereka sadari lebih lanjut. Tentu saja di antara para murid itu ada yang merasa bahwa dirinyalah yang pertama kali berjumpa dengan Yesus. Ada yang merasa paling dekat dengannya. Seperti ada kompetisi siapa yang paling dikasihi! Ini manusiawi. Tetapi kalau begitu terus, perkaranya akan jadi tidak keruan. Bisa-bisa mereka akan saling menyisihkan dan bergilir mengklaim ilham paling utama, paling duluan. Memang benar pada saat-saat awal itu para pengikut Yesus sempat saling meragu-ragukan. Dalam Luk 24:11 saya singgung bagaimana para rasul menganggap perkataan para perempuan tentang Yesus sebagai omong kosong belaka; lihat juga ay. 24 yang diperkatakan kepada Yesus sendiri oleh kedua murid yang ke Emaus itu.

Para murid butuh waktu untuk mengolah pengalaman mengenai Yesus yang wafat di salib dan bangkit. Pada pengantar jilid dua kitab saya, ada saya catat bahwa Yesus menampakkan diri kepada para murid dan menunjukkan dengan banyak bukti bahwa dirinya betul hidup. Bahkan selama 40 hari berulang-ulang ia menampakkan diri dan berbicara mengenai hal yang dulu diwartakannya, yakni Kerajaan Allah (Kis 1:3). Jadi memang para murid perlu waktu mengendapkan pengalaman mereka. Mereka butuh bantuan dari sang Guru sendiri. Lambat-laun mereka belajar mendalami pengalaman mereka dan makin bisa berbicara satu sama lain tentangnya. Para murid akhirnya bisa saling menerima. Begitulah kenyataan tumbuhnya iman kebangkitan. Baru terjadi bila ada sikap saling menghargai. Juga jalan yang dialami tiap orang patut diperhatikan. Bukankah demikian yang dialami kedua murid yang berjalan ke Emaus? Mereka dikawani Yesus tanpa mereka sadari.

Ketika tiba-tiba Yesus berada di tengah-tengah mereka, para murid terkejut dan menyangka mereka sedang berhadapan dengan hantu. Ada sisi yang menggugah perasaan dalam peristiwa itu. Yesus memahami kebingungan para murid. Ia merumuskan yang mereka rasakan. Yesus dapat membaca wajah dan pikiran mereka dan berkata (ay. 38) "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?" Ia malah menyodorkan tangan dan kakinya dan minta mereka meraba sambil berkata (ay. 39-40) "... hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaku!" Dia menyelami kesulitan mereka, dan kini juga, setelah bangkit, ia masih mengajar mereka agar mereka dapat menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Guru itu tidak meninggalkan mereka. Mereka tetap diajarinya melangkah lebih jauh. Memang ini juga baru bagi saya.

Saking gembira dan campur heran, para murid belum bisa percaya bahwa yang mereka hadapi ini bukan jadi-jadian, bukan proyeksi pikiran mereka sendiri. Orang dulu sudah tahu bahwa jadi-jadian, hantu, ingatan akan orang mati yang datang lagi, semua itu sebetulnya bayang-bayang belaka. Maka satu-satunya cara untuk menguji ialah dengan menyuruhnya berbuat seperti orang hidup, yakni makan. Tetapi tentu saja para murid tak berani. Yesus memberi jalan, ia minta diberi sesuatu yang bisa dimakannya supaya mereka tak ragu-ragu lagi. Begitulah mereka mendapatkan sepotong ikan bakar, bukan ikan goreng, seperti ada dalam terjemahan kalian. Tapi ini bukan soal yang amat penting. Yang dimaksud ialah ikan yang dimasak dan tentunya akan dimakan oleh para murid sendiri. Ini bukan penjelasan yang dicari-cari lho.

Ikan itu kan hasil kerja para murid, dan tentunya salah satu dari mereka juga yang menyiapkannya untuk disantap bersama hari itu. Perhatikan yang terjadi pada saat itu. Hasil kerja para murid, itulah yang diminta Yesus untuk dipakai sebagai batu uji apa dirinya itu nyata atau hanya bayang-bayang belaka. Kita tidak bisa mulai dari awang-awang sana. Perlu berpijak di bumi. Iman itu begitu. Baru demikian akan jadi iman yang kukuh. Yesus bangkit, hidup berpijak pada kenyataan yang ada, yakni murid-muridnya, jerih payah mereka, suka duka mereka, juga kesederhanaan mereka. Itulah yang saya tangkap dari sumber-sumber saya dan ingin saya sampaikan kepada kalian.

Pada akhir petikan yang kalian bacakan ini ada pengajaran yang amat berharga dari Yesus. Ia membaca kembali hidupnya sebagai penggenapan Kitab Suci (ay. 44). Sabda Ilahi juga menerangi makna penderitaan dan kebangkitannya (ay. 46). Murid-murid kini boleh merasa lega, tak terganjal, "plong"! Mereka juga ingat bahwa mereka diminta membagikan kelegaan itu kepada semua orang, semua bangsa. Bukankah ini yang paling kita butuhkan - jadi lega? Ah, hal itu terungkap dengan cara bicara orang zaman itu, yakni "berita pertobatan dan pengampunan dosa".

Beginilah yang dibayangkan orang dulu. "Dosa" itu bagaikan jerat yang menyeret orang ke dasar telaga yang dalam. Makin tak berdaya, makin sesak, makin gelap. Baca saja Mazmur 18:5-6 yang menyebut tali-tali maut yang melilit yang makin menyesakkan. Orang merasa tak berdaya. Tak ada selesainya. Menyeramkan. Orang yang terbawa ke sana disebut "mati", tapi sebenarnya diikat oleh kekuatan-kekuatan tadi. Tersiksa terus. Satu-satunya yang masih bisa dilakukan ialah berteriak minta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa, seperti yang terjadi dalam Mazmur itu. Ingat juga seruan minta tolong dari jurang yang dalam seperti pada Mazmur 130.

"Pertobatan" ialah berseru dan percaya masih ada yang bisa menolong meski lilitan tali-tali maut makin menyesakkan dan jurang makin dalam. Dan "pengampunan" ialah pertolongan, pelonggaran, pelepasan dari tarikan ke dasar jurang tadi. Hanya yang mahakuasa sendirilah yang dapat melakukannya. Ketika wafat , Yesus turun ke tempat orang mati, terlilit oleh hutang-hutang kemanusiaan pada kekuatan jahat, terseret sampai ke dasar jurang yang kelam. Satu-satunya harapannya ialah Bapanya di surga. Dan kami semua percaya ia berseru agar tak ditinggalkan. Dan Dia yang di atas sana tidak tinggal diam. Dia turun membebaskannya. Inilah yang terjadi dalam kebangkitan. Bagi kemanusiaan, ini pengampunan. Kelegaan. Tapi bukan itu saja. Coba pikirkan baik-baik. Yesus sampai ke dasar penderitaan itu bukan karena hutang-hutangnya kepada yang jahat. Karena itu pembebasan yang diperolehnya pun juga bukan bagi dirinya sendiri saja, melainkan bagi kemanusiaan. Inilah yang diharapkan agar dibagikan kepada makin banyak orang. Kalian bisa juga ikut mengupayakan agar kebangkitan itu juga menjadi kenyataan hidup di masyarakat. Pemerdekaan dari jerat-jerat sosial yang mengerdilkan kemanusiaan dan keadaban. Itu kan dimensi sosial iman kebangkitan? Murid-murid diminta Yesus menjadi saksi bahwa "pertobatan" bisa dijalankan dan "pengampunan" bisa digapai. Kita juga.


Salam,

Luc


DARI BACAAN KEDUA: (1Yoh 2:1-5a)

Pokok yang hendak ditonjolkan dalam petikan kali ini berkisar pada bagaimana orang bisa lepas dari keadaan yang menjauhkan orang dari hadirat ilahi (keadaan ini disebut "berdosa") dan mengalami damai. Bagi sang penulis surat Yohanes itu, ini terjadi dalam Yesus Kristus yang telah sedemikian dekat dengan keilahian dan oleh karena itu siapa yang bersamanya akan ikut dekat pada Allah sendiri. Orang yang demikian itu "mengenal" Yang Ilahi (ay. 4). MengenaliNya baru terjadi dengan jalan menuruti "perintah-perintah-Nya" yang dirumuskan kembali sebagai "firmanNya" (ay. 5). Bila ini terjadi maka "mengenal" Yang Ilahi itu maka sempurnalah "kasih ilahi", dalam arti mengalami damai oleh karenanya. Gagasan-gagasan ini sarat dengan pemikiran teologi. Semuanya merujuk pada tokoh Yesus Kristus yang lahir di dunia, hidup di tengah-tengah kemanusiaan, mangajar tentang Allah yang diperkenalkan sebagai Bapa yang Maharahim, tapi karena itulah ia mengalami perlawanan, ditolak dan disalibkan hingga wafat. Dalam kesadaran para pengikutnya, ia tidak habis di situ. Allah sendiri membangkitkannya dan kini hidup dalam ujud lain tapi dapat dialami oleh mereka yang menerimanya sebagai kenyataan firman Allah yang menjadi jalan untuk mengenal-Nya.

Membaca surat Yohanes dapat menjadi latihan mendengarkan firman Allah tadi. Bisa dicoba dengan mengikuti irama kata-kata surat itu sendiri. Kemudian hendaknya dirasa-rasakan betapa akrabnya sapaan penulis kepada pembaca: "Anak-anakku". Sama makna dan hangatnya dengan ungkapan yang dipakai penulisnya dalam ay. 7 yang tak ikut dibacakan: "Saudara-saudara terkasih!" Bukan sekadar pembukaan sebuah uraian, melainkan ajakan untuk bersama-sama mendalami perkara-perkara rohani. Kemudian bisa disimak "hal-hal ini kutuliskan kepada kamu", pada awal petikan. Sebetulnya dalam ungkapan aslinya bukan hanya "kutuliskan" begitu saja, seakan-akan setelah selesai ya sudah, melainkan "tetap kutuliskan". Seolah-olah penulisnya mau terus menyertai pembacanya. Bahkan pembaca boleh membayangkan bagaimana nanti penulisnya mengulang dan menggarisbawahi bagian ini, bagian itu. Bisa menjadi kegiatan yang mengasyikkan.

Salam hangat,

A. Gianto


Photobucket

Minggu, 26 April 2009, Hari Minggu Paskah III


Pada suatu hari saya ditugasi untuk menangani kasus korupsi keuangan yang terjadi dalam salah satu Komisi Kerasulan Keuskupan, yang konon dilakukan oleh pegawai bendahara komisi yang bersangkutan. Kasus tersebut katanya sulit diselesaikan di dalam tingkar kantor sendiri, maka saya sebagai Ekonom Keuskupan dimintai bantuannya, katanya yang bersangkutan dituduh melakukan korupsi tidak mengakui perbuatannya. Dalam menangani kasus ini pertama-tama saya temui yang bersangkutan, yang dituduh korupsi, sebut saja namanya ‘Bu Inem’ (samaran). Setelah mendengarkan cerita dari yang bersangkutan, maka saya ajukan usulan: “Masalah ini ingin diselesaikan secara Gerejani/Katolik atau sipil/pemerintah?” . “Apa maksudnya Romo?”, tanggapan singkat dari Bu Inem. “Maksudnya: secara Gerejani/Katolik adalah siapapun yang melakukan kesalahan terbuka saja, langsung mengaku dan kemudian diampuni serta menyesal, tentu saja mewujudkan penyesalan dengan berusaha seoptimal mungkin memperbaharui diri dan mengembalikan apa yang telah diambil; sedangkan cara sipil atau pemerintah berarti seperti terjadi di pengadilan dimana saya harus mencari tahu dari orang-orang yang terkait dengan tugas anda, sebagai saksi dalam rangka mencari kebenaran”, demikian penjelasan saya. Sekilas cara Gerejani/Katolik nampak lebih mudah dan cepat tetapi kiranya sangat berat bagi yang bersangkutan untuk menjadi saksi kebenaran atas dirinya sendiri, sedangkan cara sipil atau pemerintah nampak sulit dan lebih lama serta mungkin melelahkan. Namun hemat saya jika orang lebih memilih cara Gerejani/Katolik lebih baik, tetapi sekali lagi mungkin berat dan mulia untuk dengan ksatria menjadi saksi kebenaran atas dirinya sendiri.


“ Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk 24:48)

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita semua dipanggil untuk menjadi saksi dari semua yang kita hayati, lihat dan dengarkan, dan tentu saja pertama-tama dan terutama tentang ajaran-ajaran atau sabda-sabda serta cara hidup dan cara bertindak Yesus, antara lain “dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Luk 24:47). Yerusalem adalah tempat/kota, idaman serta tempat kesibukan sehari-hari bagi para murid, dan bagi kita semua “Yerusalem” berarti tempat kerja/kantor atau tempat belajar kita setiap hari, dimana kita mengusahakan kebutuhan hidup masa kini maupun masa depan, demi diri sendiri maupun anggota keluarga dan sesama manusia. Di tempat-tempat itulah kita dipanggil menjadi saksi ‘pertobatan dan pengampunan’.

Bertobat kiranya dimulai dengan tobat batin dan kemudian diwujudkan kedalam tindakan konkret. “Tobat batin adalah satu penataan baru seluruh kehidupan, satu langkah balik, pertobatan kepada Allah dengan segenap hati, pelepasan dosa, berpaling dari yang jahat, yang dihubungkan dengan keengganan terhadap perbuatan jahat yang telah dilakukan. Sekaligus ia membawa kerinduan dan keputusan untuk mengubah kehidupan, serta harapan atas belas kasihan ilahi dan bantuan rahmat-Nya. Perubahan jiwa ini diiringi dengan kesedihan yang menyelamatkan dan kepiluan yang menyembuhkan, yang bapa-bapa Gereja namakan ‘animi cruciatus’ (kesedihan jiwa) , ‘compunctio cordis’ (penyesalan hati)” (Kamus Gereja Katolik no 1431). Dalam tradisi Gereja pertobatan ini secara konkret berupa “doa, matiraga dan memberi seedekah”.

Doa dan matiriga mungkin lebih bersifat pribadi, sedangkan ‘memberi sedekah’ lebih bersifat sosial. Tentu saja ‘memberi sedekah’ ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk karitatif, tetapi juga edukasionis atau formatif. Secara edukasionis atau formatif berarti mereka yang bertobat tumbuh-bekembang (satu langkah balik menjadi lebih baik) sebagai pribadi yang cerdas beriman. Mereka yang sedang bekerja menjadi semakin terampil dan cekatan dalam bekerja, yang sedang belajar menjadi semakin terampil dan cekatan dalam belajar, yang sedang mencinta semakin terampil dan cekatan dalam mencintai, dst.. Tempat kerja maupun belajar menjadi sarana pengembangan dan pertumbuhan diri menuju ke pemenuhan sebagai pribadi cerdas beriman, kita semakin mengenal dan akrab dengan Allah. .

“Inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah” (1Yoh 2:3-5a)

“Mengenal dan akrab dengan Allah” berarti tidak pernah berdusta melainkan senantiasa hidup dan bertindak dalam kebenaran, menuruti perintah-perintah Allah. Berdusta berarti dikuasai atau dirajai oleh setan atu iblis, dan dengan demikian merusak dan memporak-porandakan hidup bersama, sedangkan hidup dan bertindak dalam kebenaran berarti membangun dan memperkuat hidup bersama dalam kasih, sehingga semua orang hidup saling mengasihi dan mengampuni. Hidup dan berindak dalam kebenaran ini kiranya sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan dalam diri anak-anak, entah di dalam keluarga atau sekolah, dan tentu saja harus disertai dengan teladan atau kesaksian hidup dan bertindak dari orangtua dan para guru/pendidik.

Hidup dan bertindak dalam kebenaran berarti juga hidup jujur. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur- Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 17). Maka kepada mereka yang tidak jujur “sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” (Kis 3:19 ). Ada rumor yang mengatakan bahwa ‘orang jujur akan hancur’, tentu saja yang hancur adalah kejahatan dan dosa-dosa dan mungkin tubuh kita, tetapi jiwa akan selamat dan damai sejahtera.

Berlatih atau membiasakan diri dalam hal kejujuran kiranya antara lain dapat kita usahakan dalam mengurus atau mengelola harta benda atau uang, apa-apa yang kelihatan dan disukai oleh banyak orang. Jika kita dapat jujur dalam mengelola harta benda atau uang kiranya kita akan memperoleh kemudahan atau jalan untuk jujur dalam hati dan jiwa, jujur terhadap diri sendir dan Tuhan. Maka berapapun jumlah harta benda atau uang yang kita miliki dan kuasai marilah kita urus atau kelola dengan jujur. Kejujuran dalam pengurusan atau pengelolaan harta benda atau uang ini, saya sangat terkesan pada apa yang dilakukan oleh Bapak Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr alm. Ketika saya sebagai Ekonom KAS membongkar kamar almarhum, saya terkesan dengan ketertiban dan pengelolaan uang yang dilakukan Bapak Kardinal, antara lain semua pemasukan dan pengeluaran uang dicatat setiap hari, misalnya beaya cukur, beaya bayar jalan tol, beli obat nyamuk, penerimaan pension sebagai Uskup, dst.. Bahwa hal itu dikerjakan setiap hari nampak terlihat dalam tulisan tangan. Tanpa serah terima dari almarhum perihal keuangan, dalam waktu singkat saya dapat menyelesaikan harta benda dan uang yang ada untuk diteruskan kepada yang berhak. Marilah kita jujur apa-apa yang kelihatan agar lebih mudah untuk tumbuh berkembang jujur terhadap diri sendiri maupun Tuhan.



Ignatius Sumarya, SJ