APP KAJ 2010 : Sub Tema V Sub Tema V: Bertindak Seperti Kristus (Mat 25: 31-46)

APP 2010 : Sub Tema V
Sub Tema V: Bertindak Seperti Kristus
(Mat 25: 31-46)

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (25:31-46)

"Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan dan semua malaikat datang bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya, dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing; Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya, dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Maka Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ni, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal, yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan bertanya kepada-Nya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Kriteria untuk Hidup Bersama Yesus


Oleh M. Muliady Wijaya www.reginacaeli.org

Inilah kisah penghakiman terakhir. Pada waktu itu Anak Manusia datang dalam kemuliaan. Ia akan bertindak sebagai Raja yang akan mengumpulkan semua bangsa di hadapan-Nya. Bangsa-bangsa itu akan dipisahkan seorang dari yang lain seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Domba akan ditempatkan di sisi kanan, kambing akan ditempatkan di sisi kiri. Pemisahan itu bukan atas dasar suku, bangsa, atau agama; tidak juga diadili secara massal; tetapi masing-masing menurut TINDAKANNYA sendiri.

Tindakan yang mana? Ternyata bukanlah tindakan-tindakan ’mulia’ seperti ketekunan beribadat, memajukan agama, membela negara, menyejahterakan keluarga; tetapi tindakan pelayanan kasih kepada mereka yang ”lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan dalam penjara”. Mereka itu adalah gambaran orang-orang kecil, menderita, tersisih, tak berdaya, lemah dan hina. Artinya, semua tindakan-tindakan ”mulia” lainnya bukan berarti tidak penting; itu semua tentu penting sejauh akhirnya menghasilkan buah untuk orang-orang yang sedang berkesusahan. Sebab – nyatanya – playanan kasih terhadap mereka adalah UKURAN TERAKHIR yang dipakai untuk menempatkan seorang di sisi kanan atau di sisi kiri.

Itu berarti, tindakan terhadap orang atau masyarakat kecil ini menjadi perhatian yang besar bagi Allah. Apa yang sekarang ini dibuat untuk membantu dan meringankan penderitaan mereka, akan menentukan apakah seorang kelak akan hidup bahagia atau celaka.

Yang menarik adalah bahwa orang-orang yang berkesusahan itu diidentikkan dengan gambar dan rupa Yesus sendiri. Tindakan belas kasih terhadap mereka adalah tindakan untuk Anak Manusia, sang Raja dan Hakim. “… segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Maka jelaslah, orang yang mau mengabdi pada Kristus tidak bisa tidak harus berbuat sesuatu pada sesamanya yang berkesusahan. Bahkan, orang yang tidak mengenal Kristus, sudah berbuat sesuatu untuk-Nya, jika orang itu melayani dengan kasih orang-orang yang bersengsara itu. Kepada orang-orang seperti itulah, rahmat kebahagiaan yang telah disiapkan Bapa akan diberikan, yaitu sebagai “domba” yang ditempatkan di sisi kanan-Nya.

Orang-orang yang berkesusahan itu ada di sekitar kita, mulai di dalam rumah kita, di daerah sekitar kita, di jalanan-jalanan yang kita lalui, di pemukiman-pemukiman kumuh, di penjara, di panti asuhan/panti jompo, dll. Pendek kata, mereka yang kecil, sederhana, miskin, terbelakang, lemah, tak berdaya, dianggap berdosa, disingkirkan, tertindas oleh kuasa lain, mengalami sakit-penyakit, luka-luka batin dll sejenis adalah “saudara yang paling hina”. Tak henti-henti-Nya Tuhan ‘mengirim’ orang-orang itu untuk hadir di hadapan kita dan ‘mengetuk’ pintu hati belas kasihan kita, sekaligus sebagai sarana untuk ’melatih’ dan ’memurnikan’ iman kita.

Pertanyaan yang sekarang tersisa: Apa yang sudah kita buat untuk mereka? Apakah komunitas kita sudah juga mewujudkan tindakan nyata bagi mereka? Dari jawaban terhadap pertanyaan itu, kita sekarang bisa tahu: Apakah kita betul-betul murid Yesus atau cuma sekedar ‘mengaku’ murid Yesus?




Bagikan

Kamis, 25 Maret 2010 Hari Raya Kabar Sukacita

Kamis, 25 Maret 2010
Hari Raya Kabar Sukacita

Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu

Yes 7: 10-14; 8:10; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38

Dalam berbagai kesempatan menilpon beberapa orang, ada satu dua orang yang dengan spontan menjawab tilpon saya sungguh mengesan dan menyentuh hati saja. Begitu mendengarkan suara panggilan saya via tilpon orang tersebut menanggapi: “Matur nuwun Romo, wonten dhawuh” (Terima kasih Romo, ada perintah). Orang tersebut begitu siap sedia untuk dimintai tolong apapun atau secara kasar diperintah apapun. Bukankah hal itu sungguh menggembirakan, dan jawaban macam itu senada dengan tanggapan atau jawaban Bunda Maria atas sapaan dan penjelasan malaikat dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.". Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah sebagai umat beriman kita mawas diri dengn bantuan tanggapan Bunda Maria atas sapaan malaikat tersebut.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38)

Tanggapan Maria atas sapaan Tuhan melalui malaikat-Nya ini kiranya merupakan bentuk penghayatan keutamaan ‘ketaatan’, dan memang hemat saya siapapun yang unggul dalam penghayatan ketaatan juga merupakan kabar sukacita, kabar baik atau kabar gembira. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri perihal penghayatan ketaatan, yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan masih begitu marak aneka macam bentuk pelanggaran peraturan alias ketidak-taatan terhadap aneka aturan dan tatanan hidup bersama. Jika kita mencermati apa yang terjadi di jalanan nampak sekali bahwa masih cukup banyak para pengendara atau sopir maupun pejalan kaki yang tidak mentaati aneka aturan atau rambu-rambu lalu lintas. Apa yang terjadi di jalanan hemat saya merupakan cermin kwalitas masyarakat atau bangsa.

Di dalam etika dikenal adanya tiga tingkatan norma atau nilai, yaitu: norma sopan santun, norma hukum dan norma moral. Yang pertama-tama kita kenal dan hayati rasanya adalah norma sopan santun, yang kita terima melalui orangtua kita masing-masing. Norma sopan santun berlaku bagi wilayah atau kelompok tertentu dan tidak jelas seberapa jauh dan lebarnya wilayah alias tidak ada batas jelas. Sedangkan norma hukum dikenal kemudian ketika kita mulai hidup bersama dengan orang lain, di luar keluarga. Norma hukum berlaku untuk wilayah atau daerah tertentu dan terbatas untuk wilayah atau daerah tersebut. Norma moral, yaitu baik atau buruk, berlaku secara universal atau umum, dimana saja dan kapan saja. Mentaati atau melaksanakan norma-norma tersebut dengan baik sungguh merupakan kabar baik, kabar gembira bagi orang lain.

Ketaatan Maria kepada kehendak atau panggilan Tuhan bersifat moral atau spiritual, dan menurut kami merupakan keutamaan tertinggi, karena mengandaikan yang bersangkutan sungguh berbudi pekerti luhur atau cerdas secara spiritual. Pribadi yang bersangkutan telah sampai pada penghayatan ‘contemplativus in actione’, menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. .Ia akrab dengan sabda-sabda Tuhan, bergaul mesra dengan Tuhan, yang mahasegalanya, sehingga mau tidak mau yang bersangkutan akan dikuasai atau dirajai alias senantiasa melaksanakan atau menghayati perintah-perintah Tuhan. Taat kepada kehendak atau perintah Tuhan berarti juga rendah hati serta senantiasa bersikap melayani yang lain, siapapun juga. Di mana ia berada atau kemana ia pergi senantiasa berusaha melayani dan membahagiakan atau menggembirakan yang lain, maka dirinya sendiri sungguh merupakan kabar baik atau kabar gembira. Kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, maka marilah kita saling melayani dan membahagiakan, sehingga kebersamaan hidup kita otomatis merupakan kabar gembira.

"Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” (Ibr 10:9-10)

Kutipan dari surat Ibrani di atas ini menunjuk pada ketaatan Yesus, sebagaimana dikatakan oleh Paulus kepada umat di Filipi :” Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Fil 2:5-7). Marilah kita meneladan Yesus, sebagaimana dikatakan dalam surat Ibrani di atas : ”Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendakMu”.

Marilah kemanapun pergi atau dimanapun berada kita senantiasa melakukan kehendak Tuhan, dan hal ini secara konkret berarti senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka aturan atau tatanan yang berlaku dan terkait dengan hidup dan kesibukan kita masing-masing, sehingga kita bersih dan bebas serta tidak melakukan pelanggaran apapun. Hari Raya Kabar Sukacita ini kita rayakan di hari-hari terakhir dalam rangka mawas diri selama Masa Prapaskah, maka baiklah saya mengajak kita semua untuk mawas diri apakah setelah berpartisipasi dalam kegiatan Prapaskah, pantang dan puasa atau matiraga kita mampu semakin mengenali diri, sebagai yang terpanggil dan telah dibaptis. Sejauh mana kita merasa telah atau tergerak untuk mempersembahkan seluruh tubuh kita kepada Tuhan. Mentaati sepenuhnya aturan atau tatanan hidup memang juga berarti mempersembahkan tubuh kita, mengerahkan seluruh tenaga, waktu, perhatian dst.. pada pelaksanaan aturan atau tatatan hidup, sehingga kita akan menjadi pribadi yang terbiasa untuk taat dan melayani.

“Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7: 14). Hidup taat dan melayani akan melahirkan keutamaan-keutamaan yang menyelamatkan dan membahagiakan. Sebagaimana melalui lambung Yesus, yang tergantung di kayu, yang ditusuk tombak dan dari HatiNya keluar darah dan air segar, lambang sakramen-sakramen Gereja yang menyelamatkan, kami berharap melalui cara hidup dan cara bertindak kita juga ‘lahir’ atau keluar keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan. Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam kehidupan atau kerja bersama dapat menjadi teladan dalam hal ketaatan dan melayani, sehingga mereka yang terpengaruh juga tergerak untuk taat dan melayani. Semoga kebersamaan hidup dan kerja kita dimanapun dan kapanpun melahirkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, sehingga kita semua terus tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas spiritual, menjadi pewarta-pewarta kabar baik dimana saja dan kapan saja.

“Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api! "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mzm 46:9-11)


Ignatius Sumarya, SJ





Bagikan

Kamis, 25 Maret 2010 HARI RAYA KABAR SUKACITA

Kamis, 25 Maret 2010
Hari Raya Kabar Sukacita

"Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau ... --- Yer 33:3

Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, hari ini Engkau memberi kabar gembira kepada kami umat manusia melalui Bunda Maria, wanita yang terpuji dari antara wanita. Bantulah kami hari ini mengimani Yesus Kristus yang sungguh Allah sungguh manusia, sehingga hidup kami pun ditandai oleh sukacita ilahi untuk selama-lamanya. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yesaya (7:10-14; 8:10)

"Seorang perempuan muda akan mengandung."

Tuhan berfirman kepada Raja Ahas, "Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, entah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah, entah sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." Tetapi Ahas menjawab, "Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!" Lalu berkatalah Nabi Yesaya, "Baiklah! Dengarkanlah, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu, Tuhan sendirilah yang akan memberikan suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel, artinya: Allah menyertai kita."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 850
Ref. Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.
Ayat. (Mzm 40:7-8a.8b-9.10-17)
1. Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut, lalu aku berkata, "Lihatlah, Tuhan, aku datang!"
2. Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: "Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku."
3. Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.
4. Keadilan-Mu tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan dan keselamatan-Mu kubicarakan, kasih dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan, tapi kuwartakan kepada jemaat yang besar.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:4-10)

"Lihatlah Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu."

Saudara-saudara, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Kristus masuk ke dunia, Ia berkata, "Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki. Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau juga tidak berkenan. Maka Aku berkata: Lihatlah, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku." Jadi mula-mula Ia berkata, "Engkau tidak menghendaki kurban dan persembahan; Engkau tidak berkenan akan kurban bakaran dan kurban penghapus dosa -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. -- Dan kemudian Ia berkata, "Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Jadi yang pertama telah Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil
Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya. (Yoh 1:14ab)

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:26-38)

"Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."

Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Maka kata Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Luk 1:16-38: Kebebasan dalam Iman

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Maria Menerima Kabar dari Malaikat Tuhan. Peristiwa ini dirayakan oleh Gereja secara khusus karena peristiwa itu adalah “awal” dari peristiwa inkarnasi yang berarti karya keselamatan Allah bagi manusia. Dikatakan “awal” karena peristiwa Sabda menjadi manusia berawal saat Maria menyatakan kesediaan dan persetujuannya. Dan semenjak itu pula Maria disebut Bunda Allah. Namun dibalik peristiwa yang sangat populer itu sebenarnya terdapat pergumulan yang hebat di hati Maria.

Kabar malaikat “sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” yang bagi pembaca Injil dan Gereja saat ini sering disebut kabar sukacita itu, bagi Maria pribadi bukan sekedar kabar sukacita melainkan juga kabar yang menuntut pilihan, sekaligus mengandung resiko.

Maria menerima kabar malaikat itu dalam kebebasan dan iman. Allah tidak memaksa Maria untuk menerima Sabda Allah dalam rahimnya. Allah meminta kesediaan Maria untuk menerima Sang Sabda itu dalam rahimnya dan melahirkannya. Maria sadar bahwa kesediaannya menerima Sang Sabda mengandung resiko. Awalnya ia merasa ragu-ragu dan berkata kepada malaikat Tuhan itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Namun saat ia merasa yakin dan siap menganggung resiko dari kesediaannya, Maria menyatakan imannya: “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Maria percaya Allah Yang Mahatahu telah memilih dia karena Allah menganggap Maria layak untuk menerima kabar gembira itu.


Allah menganugerahi kita kebebasan. Kebebasan itu adalah salah satu wujud keserupaan manusia dengan Allah. Dengan kebebasan itu kita dapat memilih melakukan kebenaran ataukah kejahatan. Allah tak pernah memaksa kita. Ia sangat menghargai kebebasan kita untuk menentukan pilihan hidup. Selama ini, Bagaimanakah aku menggunakan kebebasanku? Apakah kebebasan itu aku pergunakan untuk mengembangkan hidupku, ataukah sebaliknya menghancurkan hidupku?


Maria adalah teladan pribadi yang menggunakan kebebasannya dengan baik. Ia juga seorang yang beriman. Ia percaya bahwa yang dialaminya adalah rencana atau kehendak Allah. Oleh karena semuannya itu adalah kehendak Allah, maka Ia percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan dia di saat-saat hamil yang penuh resiko ini. Apakah aku mengimani rencana Allah atas hidupku? Beranikah aku menanggung resiko yang buruk demi melaksanakan Sabda Allah?


Selamat Hari Raya Kabar Sukacita!



Romo. Bastian Wawan, CM.
http://diamsejenak.wordpress.com/2008/03/31/renungan-senin-31-maret-2008/

Bagikan