Surat Kepada Keluarga bulan Agustus 2012

Sentuhan ibu bisa menyembuhkan


Pelukan ayah sangat menentramkan


Pernyataan kasih anak-anak bisa melegakan


Dan seluruh keluarga disatukan dalam peneguhan

Keluarga-keluarga KAJ terkasih,


Akhirnya keluarga kita memasuki masa-masa sibuk bersama lagi. Anak-anak memasuki rutinitas sekolahnya; orang tua kembali menata pekerjaan atau usahanya sambil menantikan liburan panjang menjelang hari raya lebaran yang akan datang. Kalau boleh saya bertanya, “Apa yang Anda peroleh dari liburan kemarin?” Apakah Anda menikmatinya? Apakah anak-anak gembira untuk kebersamaan itu?

Saya berharap, seluruh keluarga menikmati rekreasi yang membangkitkan semangat baru untuk bekerja, belajar, dan melakukan aktivitas lainnya. Semakin kuat kebersamaan diciptakan, semakin kuat pula relasi di antara kita sebagai satu keluarga. Kali ini saya ingin membagikan pesan indah untuk memberikan kata kata peneguhan yang sangat dibutuhkan oleh setiap anggota keluarga.

Seorang anak SMP membagikan pengalaman hidup kepada teman-temannya dalam sebuah rekoleksi. Ia membagikan bahwa selama ini studi adalah sebuah tekanan. Ia jarang mengalami kegagalan dan selalu naik kelas, tetapi baginya pengalaman sekolah sama dengan pengalaman kekerasan belajar bersama ibunya. Ibunya selalu menuntutnya untuk rajin, mengerjakan PR, mendapat nilai di atas rata-rata, dan mencapai 10 besar di kelas. Itu semua selalu diperjuangkannya.

Akan tetapi, anak laki-laki ini tidak memperoleh kegembiraan penuh meskipun ia sejaun ini bisa meraihnya. Ibunya selalu menuntut, bahkan menyebutnya “bodoh”, “telmi”, “tidak seperti kakak perempuan yang pandai”, atau “malas”. Ia pernah mencapai 6 besar, tetapi itupun tidak membuat si ibu puas. Kalimat ibunya adalah, “Kamu harusnya bisa lebih dari itu kalau rajin”.

Si anak merasakan bingung. Di satu pihak, ia merasa bahwa kata-kata ibunya itu benar dan penting, tetapi ia merasa semakin hari ibunya jauh dan tidak mencintainya. Keinginannya adalah menjadi besar dan berpisah dengan ibu yang selalu membuatnya tertekan. Baginya bersama ibu itu hanya dituntut dan dimarahi, dicela dan dikecilkan. Rupanya anak itu membutuhkan kata-kata afirmasi atau peneguhan positif dari ibunya.

Keluarga-keluarga di KAJ yang terkasih, setiap kita membutuhkan peneguhan dan kata-kata peneguhan yang keluar dari mulut yang jujur dan hati yang penuh kasih. Kita dapat memberikan peneguhan itu melalui kata kata yang baik, positif, membesarkan hati, dan disampaikan secara spontan dan langsung. Kebutuhan akan kata kata yang meneguhkan dan positif ini sering kita abaikan.

Cara mendidik kita pasti mempunyai tujuan baik. Setiap orang tua pasti menginginkan kesuksesan anak-anaknya. Di sela-sela itu, terseliplah ambisi, ketakutan gagal, gengsi, emosi, dll yang bisa sangat bertentangan dengan tujuan baik tadi. Anak-anak belajar karena takut, terpaksa, dan bahkan merasa “dikekang” kebebasannya. Meskipun sukses, tetapi dihantui rasa minder karena tuntutan dan kata-kata kasar orangtuanya.

Kalau kita berteriak, maksudnya adalah agar didengarkan. Tetapi kita mengabaikan perasaan anak, yang barangkali akan merasa ditindas, tidak dihargai dan direndahkan. Ketika kita memukul, barangkali kita merasa putus asa dengan cara-cara halus, tetapi bagi anak hal ini adalah penganiayaan dan pemaksaan sebagai bukti tidak dicintai oleh orangtua. Ketika kita memaki, anak-anak tidak menangkap disiplin, melainkan belajar memaki juga.

Keluarga-keluarga terkasih, sebenarnya, anak-anak itu belum tentu pemalas atau kurang bertanggungjawab, sikap mereka itu memberi pesan adanya kerinduan untuk mendapat pengakuan dan penghargaan atas dirinya sendiri serta hal baik yang sudah dilakukannya. Mereka ingin belajar sambil menikmati waktu dengan lega. Mereka ingin menjadi dewasa dan bertanggungjawab tanpa teriakan, pukulan, atau kata-kata kasar.

Mungkin bagi beberapa bapak ibu, mengajar tanpa kekerasan itu tidak mungkin, tetapi bukankah kita yang dulu memulai cara “andalan” itu? Bagaimanapun, kelembutan haruslah menjadi kekuatan yang diprioritaskan. Salah satu bentuk yang bisa menyembuhkan dan memperbaiki hubungan antar keluarga adalah kalimat-kalimat yang baik dan positif tadi. Kalimat-kalimat itu selain mendukung juga memberikan penghargaan dan rasa percaya diri pada orang-orang yang kita kasihi.

Cara ini tidak hanya perlu diperhatikan oleh para orang tua. Anak-anak, misalnya, yang tinggal dengan orangtua yang sudah lanjut pun dapat melakukannya sebagai tanda dukungan dan peneguhan pada mereka. Semua anggota keluarga seharusnya membuktikan kasihnya melalui kesungguhan saling memberi peneguhan positif dan baik.

Kita juga dapat mengungkapkan peneguhan dan ungkapkan positif dengan surat, kartu, sms, email, dll. akan tetapi, cara terbaik menyampaikan peneguhan adalah mengungkapkannya secara verbal (berbicara). Ketika kita mengungkapkannya yang perlu diingat adalah bahwa tujuan ekspresi ini adalah menyenangkan pasangan atau anggota keluarga lain, bukan memenuhi kebutuhan pribadi kita saja.

Semoga kita semua mampu menjadi pelaku-pelaku kasih bagi pasangan, anak-anak serta orang tua kita di rumah. Mari menjadikan keluarga sebagai ladang menabur kasih melalui ekspresi penuh kasih untuk kemudian hari menuai kesejahteraan lahir batin, kerukunan dan kebahagiaan berkeluarga. Tuhan memberkati.

Salam Keluarga Kudus Nazareth


Rm. Alexander Erwin MSF

Selasa, 28 Agustus 2012 Peringatan Wajib St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja

Selasa, 28 Agustus 2012
Peringatan Wajib St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja

“Lambat aku mencintai Engkau! Sebab sesungguhnya Engkau ada di dalam, dan aku ada di luar; dan aku mencari Engkau di luar, pada barang-barang menarik yang Engkau buat” (St. Agustinus)


Antifon Pembuka (Sir 15:5)


Ia membuka mulutnya di tengah umat. Roh kebijaksanaan dan pengetahuan dilimpahkan Tuhan ke dalam hatinya. Ia dihiasi semarak kemuliaan.


Doa Pagi


Terpujilah Engkau, ya Tuhan, yang telah menarik kembali St. Agustinus dari lembah kesesatan. Kauselamatkan dia berkat Roh yang menguduskan, membarui dan memimpin kepada kebenaran. Bimbinglah aku dalam kuasa Roh Kudus-Mu agar aku dapat membedakan dengan tepat dan cermat ajaran-ajaran yang benar dan yang palsu dan menyesatkan. St. Agustinus, doakanlah aku. Amin.


Rupanya umat di Tesalonika sedang mendapatkan ‘surat palsu’ yang berisi tentang datangnya hari Tuhan (kiamat). Paulus minta agar umat tetap berpegang pada ajaran yang telah disampaikan. Dalam kondisi terombang-ambing oleh aneka ajaran dan opini, berpegang pada ‘dogma’ adalah sikap yang paling aman.


Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (2:1-3a.13b-17)


Saudara-saudara, tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan berkumpulnya kita dengan Dia, kami minta kepadamu, jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh kabar atau surat yang dikatakan berasal dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Hendaknya kalian jangan sampai disesatkan orang dengan cara bagaimana pun juga. Allah dari mulanya telah memilih kalian untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kalian dan dalam kebenaran yang kalian percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kalian lewat Injil yang kami wartakan, sehingga kalian dapat memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita. Sebab itu berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kalian terima dari kami baik secara lisan, maupun secara tertulis. Semoga Tuhan kita Yesus Kristus dan Allah, Bapa kita, menghibur dan memperkuat hatimu dalam segala karya dan tutur kata yang baik. Sebab Allah mengasihi kita, Ia memberi kita hiburan abadi dan harapan baik karena kasih karunia-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan

Ref. Tuhan akan datang menghakimi dunia dengan adil.
Ayat. (Mzm 96:10-13)

1. Katakanlah di antara bangsa-bangsa, “Tuhan itu Raja! Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
2. Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biar gemuruhlah laut serta segala isinya; biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
3. Biarlah mereka bersukacita di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya
Ayat. Sabda Allah itu hidup dan penuh daya, menguji segala pikiran dan maksud hati. Alleluya.

Yang terpenting dalam hukum Taurat adalah keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Menghayati ketiga hal tersebut, serupa dengan membersihkan cawan dan pinggan kehidupan kita yang ada di sebelah dalam. Jika setiap tindakan ritual keagamaan didasari oleh ketiga nilai tersebut, maka kehidupan agama menjadi lebih mendarat, karena ketiganya menyangkut hubungan dengan sesama. Agama yang mengabaikan hal tersebut, hanyalah kedok kemunafikan.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (23:23-26)


Pada waktu itu Yesus bersabda, “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kalian bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kalian abaikan, yaitu keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan. Hai kalian pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kalian tepiskan dari minumanmu tetapi unta di dalamnya, kalian telan. Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kalian orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kalian bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang-orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena tidak mampu membedakan mana yang utama dan mana yang sampingan. Mereka hanya mau menampilkan sisi luar tapi dalamnya mereka tidak pedulikan. Kecaman Yesus ini menjadi bahan pelajaran bagi kita. Integritas diri harus kita perhatikan. Itulah keselarasan antara sikap batin dan ungkapan lahiriah kehidupan.


Doa Malam


Yesus tumpuan hidupku, semoga kekuatan ilahi-Mu yang mengalir dalam hatiku melalui santapan Ekaristi menghancurleburkan benih-benih kemunafikan dalam diriku. Jadikanlah diriku cawan dan pinggan yang bersih luar dalam, supaya layak menjadi tempat kediaman-Mu sebagai sibori yang hidup. Amin.


RUAH