Hari Biasa Pekan I Prapaskah -- Hari Pantang
"Allah telah mencipta kita tanpa kita, tetapi ia tidak mau menyelamatkan kita tanpa kita" (Agustinus, semi. 169,11,13). Supaya mendapat belas kasihan-Nya kita harus mengakui kesalahan kita: "Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yoh 1:8-9). (Katekismus Gereja Katolik, 1847)
Antifon Pembuka (Mzm 25 (24):17-18)
Tuhan, lepaskanlah aku dari deritaku. Indahkanlah kehinaan dan kesusahanku dan hapuskanlah segala dosaku.
Set me free from my distress, O Lord. See my lowliness and suffering, and take away all my sins.
Doa Pagi
Allah Bapa Maharahim, dalam masa tobat ini kami mempersiapkan diri untuk merayakan Paskah. Berilah kami rahmat-Mu, agar usaha kami berguna bagi kemajuan rohani kami. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Beginilah Tuhan Allah berfirman, "Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya, dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi, ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? firman Tuhan Allah. Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup? Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan orang fasik, apa ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukan tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berubah setia, dan karena dosa yang dilakukannya. Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel! Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat, ataukah tindakanmu yang itdak tepat. Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya, dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insyaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Ref. Pada Tuhan ada kasih setia dan penebusan berlimpah
atau Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan?
Ayat. (Mzm 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8; R:lh.7)
1. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian, kepada suara permohonanku.
2. Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, maka orang-orang bertakwa kepada-Mu.
3. Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.
4. Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.
Ayat. (Yeh 18:31)
Buanglah daripada-Mu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, sabda Tuhan, dan perbaharuilah hati serta rohmu.
Inilah Injil Suci menurut Matius (5:20-26)
Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
Renungan
Meskipun kita harus mengakui bahwa kita adalah orang berdosa, bukan berarti kita adalah orang berdosa yang tanpa harapan.
Karena ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat kita, maka kita telah menjadi orang berdosa yang penuh harapan.
Dan sebagai orang berdosa yang penuh harapan, Allah memberi kita anugerah untuk berjuang demi kekudusan.
Tetapi bahkan ketika kita berjuang demi kekudusan, marilah kita ingat bahwa godaan untuk berbuat dosa selalu mengintai di sekitar kita.
Godaan untuk berbuat dosa bisa begitu halus sehingga bahkan dapat membuat kita berpikir bahwa kita lebih baik daripada orang lain.
Seperti yang diperingatkan dalam bacaan pertama, kita mungkin mempraktikkan integritas, tetapi kita mungkin menyerah pada kesombongan rohani dan mulai mengkritik orang lain atas kesalahan dan kegagalan mereka.
Jadi kita mungkin tidak membunuh atau melakukan dosa berat yang mematikan, tetapi Yesus memperingatkan kita bahwa bahkan menyebut orang lain dengan nama-nama yang merendahkan seperti "bodoh" atau "pemberontak" adalah pelanggaran serius.
Jadi, doa, pertobatan, dan puasa dimaksudkan untuk membuat kita rendah hati dan menyadari kelemahan dan keberdosaan kita.
Menjadi kudus berarti berdoa untuk diri sendiri dan juga untuk orang lain, menaruh harapan kita kepada Tuhan yang membantu kita bertumbuh dalam kekudusan, serta menyadari kelemahan dan dosa kita.
Antifon Komuni (Bdk. Yeh 33:11)
Tuhan telah bersumpah: Aku menghendaki bukan supaya orang berdosa mati, melainkan supaya ia bertobat dan hidup.
As I live, says the Lord, I do not desire the death of the sinner, but rather that he turn back and live.
Doa Malam
Allah Bapa Mahakudus, anugerah-Mu telah menyegarkan kami. Semoga kami Kausucikan dari noda hidup di masa lampau dan Kauberi bagian dalam misteri Paskah Putra-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami. Amin.
Jumat Pekan Pertama Prapaskah
Komentar hari ini
Paus Benediktus XVI, Ucapan Selamat Natal kepada Kuria Roma, 21 Desember 2009
"Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (Mat 5:23 dst.). Allah, yang mengetahui bahwa kita belum berdamai dan melihat bahwa kita memiliki sesuatu terhadap-Nya, bangkit dan datang menemui kita, meskipun hanya Dia yang benar. Dia datang menemui kita bahkan sampai ke Salib, untuk mendamaikan kita. Inilah artinya memberi dengan cuma-cuma: kesediaan untuk mengambil langkah pertama; menjadi yang pertama mengulurkan tangan kepada yang lain, menawarkan rekonsiliasi, menerima penderitaan yang menyertai saat melepaskan kebenaran. Bertekun dalam keinginan untuk berdamai: Allah memberi kita sebuah contoh, dan inilah cara bagi kita untuk menjadi seperti Dia; Sikap ini terus dibutuhkan di dunia kita. Hari ini kita harus belajar sekali lagi bagaimana mengakui kesalahan, kita harus menyingkirkan ilusi bahwa kita tidak bersalah. Kita harus belajar bagaimana melakukan penebusan dosa, membiarkan diri kita diubah; untuk memperhatikan yang lain dan membiarkan Tuhan memberi kita keberanian dan kekuatan untuk pembaruan ini. Hari ini, di dunia kita ini, kita perlu menemukan kembali Sakramen Tobat dan Rekonsiliasi. Fakta bahwa Sakramen ini sebagian besar telah menghilang dari kehidupan dan kebiasaan sehari-hari orang Kristen merupakan gejala hilangnya kejujuran baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap Tuhan; kehilangan yang membahayakan kemanusiaan kita dan mengurangi kapasitas kita untuk mencapai perdamaian. Santo Bonaventura berpendapat bahwa Sakramen Tobat adalah sakramen kemanusiaan itu sendiri, sakramen yang telah ditetapkan Tuhan dalam hakikatnya segera setelah dosa asal melalui penebusan dosa yang Ia bebankan kepada Adam, meskipun sakramen ini hanya dapat mengambil bentuk penuhnya di dalam Kristus, yang adalah kuasa pendamaian Tuhan dalam pribadi dan yang menanggung penebusan dosa kita atas diri-Nya sendiri. Sesungguhnya, kesatuan dosa, pertobatan dan pengampunan merupakan salah satu syarat mendasar untuk menjadi manusia sejati: syarat-syarat ini menemukan ekspresi lengkapnya dalam sakramen, namun pada akarnya yang terdalam, syarat-syarat ini merupakan bagian dari pengalaman menjadi manusia sebagaimana adanya.




