![]() |
| Foto: Jesuits.ie |
Saudara-saudari terkasih,hari ini Gereja memperingati St. Paulus Miki dan para kawan-kawannya, dua puluh enam orang suci. Pada tanggal 5 Februari 1596. Para martir pertama Gereja di Jepang, kelompok yang beragam ini termasuk religius Spanyol, Meksiko, dan India, sejumlah katekis dan penerjemah awam Jepang, dan tiga anak, usia 9, 11, dan 12 (yang pernah melayani sebagai putra altar bagi para misionaris).
Santo Paulus Miki dan para sahabatnya dalam kemartiran hidup melalui masa-masa sulit untuk menjadi orang Kristen di Jepang. Setelah menikmati masa kejayaan dan ekspansi pesat yang menyebabkan ratusan ribu orang bertobat dan dibesarkan dalam iman Kristen di Jepang, pada tahun-tahun terakhir periode perang, pemerintah di bawah kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi mulai curiga dan bermusuhan terhadap orang Kristen, dan memulai periode penganiayaan yang semakin intensif terhadap para pengikut Kristus. Karena kesalahpahaman dan persaingan politik pada waktu itu, dan ketakutan akan pengaruh asing, para misionaris Kristen dan kaum awam sama-sama dianiaya, dan dua puluh enam dari mereka, termasuk Santo Paulus Miki, seorang seminaris Yesuit yang belajar untuk menjadi imam, ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Mereka diperintahkan untuk berjalan kaki dari Ibu Kota Kekaisaran Kyoto menuju kota Nagasaki di bagian barat Jepang, tempat populasi dan komunitas Kristen terbesar berada, menempuh jarak hampir seribu kilometer, sambil disiksa dan dipermalukan di sepanjang jalan. Namun, Santo Paulus Miki dan para sahabatnya tetap teguh dalam iman mereka dan tetap berani serta setia pada komitmen mereka kepada Tuhan, dan diceritakan bahwa mereka menyanyikan himne ‘Te Deum’ sepanjang perjalanan menuju kemartiran mereka. Di Nagasaki, di puncak bukit tempat sebuah kuil sekarang berdiri untuk menghormati mereka, Dua Puluh Enam Martir Suci disalibkan dan ditusuk dengan tombak, dan menjadi martir karena pengabdian mereka yang terus-menerus kepada Tuhan, memuliakan Tuhan melalui iman dan kehidupan mereka. Mereka menginspirasi banyak orang Kristen lainnya yang tetap teguh dalam panggilan dan pengabdian Kristen mereka.
Kisah pengalaman orang-orang Kristen Jepang ini dimuat dalam novel Shusaku Endo yang menggugah, Silence. Secara keseluruhan, diperkirakan sebanyak 10.000 orang Kristen kehilangan nyawa mereka dalam penganiayaan Gereja di Jepang antara tahun 1596 dan pertengahan abad ke-19. Hebatnya, begitu Jepang dibuka kembali ke dunia luar pada tahun 1865, ribuan orang Kristiani keluar dari persembunyiannya, meminta patung Yesus dan Maria kepada orang Barat yang baru tiba.
Semoga St. Paulus Miki dan para Martir Nagasaki terus membimbing dan menjadi perantara bagi kita masing-masing, selalu mengingatkan kita bahwa penderitaan dan kegelapan yang kita alami sepanjang hidup kita, dalam hikmat Tuhan, bukanlah sebuah akhir melainkan sebuah permulaan waktu untuk bertumbuh dalam kasih dan terang Kristus.




