Surat Gembala Tahun Iman Bagi Umat Katolik Keuskupan Surabaya

   Surat Gembala Tahun Iman
   Bagi Umat Katolik Keuskupan Surabaya
(Dibacakan di semua gereja dan kapel di seluruh wilayah Keuskupan Surabaya, tanggal 6-7  atau 13/14 Oktober 2012)
================================================
Para saudara terkasih,
          Bapa Suci Paus Benediktus XVI melalui Surat Apostolik dengan judul “Porta Fidei” (Pintu Kepada Iman) telah mengumumkan Tahun Iman, yang akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 24 November 2013. Perayaan Tahun Iman ini berkaitan dengan peringatan 50 tahun pembukaan Konsili Vatikan II dan 20 tahun sejak terbit buku Katekismus Gereja Katolik. Untuk di Keuskupan Surabaya, saya akan membukanya dengan perayaan Ekaristi pada tanggal 18 Oktober 2012 di Gua Maria Lourdes Puhsarang- Kediri pukul 23.00 wib.
           Dalam Surat Apostolik tersebut Bapa Suci mengharapkan agar karunia iman yang telah kita peroleh berkat sakramen baptis sungguh dapat memberikan kekuatan dan pembaharuan nyata dalam hidup. Oleh karena itu melalui Surat Gembala ini saya ingin  menyapa para imam, biarawan-biarawati, katekis, para pengurus Gereja dan seluruh umat Allah di Keuskupan Surabaya ini, agar memberi perhatian khusus akan pentingnya iman bagi kehidupan, dan agar mengisi Tahun Iman ini dengan pelbagai kegiatan yang diadakan di tempat masing-masing di tingkat kevikepan, paroki, wilayah, lingkungan, stasi, maupun juga di kelompok-kelompok kategorial.
           Tahun Iman akan sungguh menjadi saat berahmat, bila kita mengisi tahun ini dengan: memperdalam, mempelajari, merayakan dan menghayati iman yang benar dalam kehidupan nyata. Sumber iman kita adalah Kitab Suci dan Tradisi penerusan iman oleh kuasa mengajar Gereja (Magisterium). Dalam hal ini, Bapa Suci mengingatkan bahwa Katekismus Gereja Katolik merupakan salah satu buah dari Konsili Vatikan II sebagai sumber pengajaran iman yang resmi dan benar.
           Iman adalah tanggapan pribadi dan perjumpaan dengan Allah yang mewahyukan diri dalam pribadi Yesus Kristus yang sudah bangkit. Dari perjumpaan pribadi tersebut kita didorong untuk memahami isi pengakuan iman-kepercayaan yang benar dan meneruskannya kepada generasi yang akan datang .
           Saat ini kita menghadapi dua krisis dalam hal iman: kehilangan identitas kekatolikan dan selanjutnya bahaya kehilangan iman. Ditandai dengan maraknya tren 'jajan rohani' di tengah aneka aliran kerohanian serta relativisme keyakinan yang bisa mengaburkan identitas dan otentisitas iman Katolik sebagaimana diwariskan para Rasul.
           Gereja Katolik kaya dengan kekayaan kebenaran ilahi namun kita kurang menggali dan menyantap citarasa sedapnya Sabda Allah dan khazanah Ajaran Gereja. Maka tepatlah seruan Paus, bahwa di jaman kita ini, “iman adalah anugerah yang perlu ditemukan kembali, dipelihara dan dinyatakan dalam kesaksian”.  Jikalau tidak demikian, kita ada dalam bahaya kehilangan iman.
           Manusia dibenarkan karena iman (Rm 3:28) namun iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (bdk. Yak 2:20.24).  Iman membuat kita menjadi tanda yang nyata akan kehadiran Tuhan yang menyelamatkan jikalau diwujudkan dalam kesaksian hidup. Orang  zaman sekarang membutuhkan kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh sabda Tuhan, sekaligus mampu membuka hati dan budi banyak orang untuk merindukan Allah serta kehidupan yang sejati.  
           Untuk menghidupkan, memperdalam dan menguatkan iman agar menjadi subur dan menghasilkan buah berlimpah, perlu pendalaman Kitab Suci dan ajaran Gereja, perayaan liturgi serta kesaksian hidup nyata. Pengakuan iman diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental di mana Kristus hadir, bertindak dan terus membangun Gereja-Nya. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman akan kehilangan daya gunanya, sebab ia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksian Kristiani. Dalam hal ini, katekese memiliki peran yang sentral.
           Sarana katekese yang tak tergantikan untuk sampai pada pemahaman yang sistematis pada iman yang benar adalah Katekismus Gereja Katolik. Apakah kita sudah cukup mengenal dan mendalami Katekismus Gereja Katolik ini, sekurang-kurangnya ringkasannya dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik? Apakah kita sudah memelihara anugerah iman ini dan mewartakannya?
           Konsili Vatikan II telah membangkitkan kesadaran baru tentang arti dan peran Kitab Suci dalam kehidupan iman Gereja. Gereja telah melihat kembali dirinya melalui Kitab Suci. Demikianlah, Sabda Allah itu menjadi “penopang dan keteguhan Gereja” serta “kekuatan iman, santapan jiwa, sumber murni dan abadi dari hidup rohani bagi putera-puteri Gereja” (DV 21). Sabda Allah merupakan sarana untuk memupuk iman, sehingga iman kita tumbuh, berkembang, dan berbuah, dan kita dapat bertahan dalam iman sampai akhir (lih. KGK no. 162).
           Sungguh relevan bagi kita, bertepatan dengan fokus pastoral Keuskupan Surabaya di tahun 2013 adalah Kitab Suci dan Orang Muda Katolik (OMK). Kita melihat bahwa Sabda Allah adalah sumber iman, sedangkan Orang  Muda adalah penerus iman.
            Dalam konteks orang muda sebagai penerus iman, perlulah kita memberi kesempatan kepada Orang Muda Katolik untuk mengalami kegembiraan yang berasal dari iman kepada Yesus Kristus dalam persekutuan dengan seluruh Gereja Katolik. Kita perlu mengusahakan pertemuan katekese untuk Orang Muda Katolik, sehingga mereka menemukan kebanggaan beriman Katolik dan menjadi saksi iman ditengah masyarakat.
           Umat Allah yang terkasih, pada kesempatan ini, saya mengajak Anda untuk juga memberikan perhatian pada sekolah dan perguruan Katolik. Ditempat inilah kekayaan iman Gereja hadir secara nyata di tengah masyarakat. Maka hendaklah kita memelihara iman insan Katolik di dalamnya dengan menggunakan Katekismus Gereja Katolik sebagai referensi utama pengajaran iman.
          Saya berharap agar seluruh umat Allah di keuskupan Surabaya  sungguh terlibat dalam mengisi Tahun Iman ini. Hendaknya para imam, biarawan-biarawati, katekis, guru agama, pengurus DPP-BGKP, kelompok-kelompok kategorial menjadikan Tahun Iman ini sebagai gerakan bersama. Kita semua mengambil bagian secara aktif, memperdalam pengetahuan tentang dokumen Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik, menyegarkan kembali akan tugas dan tanggung jawab serta ketrampilan dalam berkatekese dan membangun kesadaran sebagai saksi iman yang sejati. Secara khusus saya mengingatkan para imam untuk mengajar katekumen, memberikan pendalaman iman bagi umat,  lebih intensif dalam pelayanan sakramen serta mendalami dokumen-dokumen Ajaran Gereja.
           Akhirnya marilah kita mempercayakan saat berahmat ini kepada Bunda Maria, yang diwartakan sebagai yang berbahagia karena telah percaya (Luk 1:45). Semoga melalui doa dan perlindungannya kita sampai pada kepenuhan hidup iman.
           Surabaya, 1 Oktober 2012
           Pesta St. Theresia dari kanak-kanak Yesus
           Berkat Tuhan,
           Msgr. Vincentius Sutikno Wisaksono
           Uskup Keuskupan Surabaya

Rabu, 10 Oktober 2012 Hari Biasa Pekan XXVII

Rabu, 10 Oktober 2012
Hari Biasa Pekan XXVII

Kesetiaan umat yang dibaptis adalah satu prasyarat yang menentukan untuk pewartaan Injil dan untuk perutusan Gereja di dunia. Supaya berita keselamatan dapat menunjukkan kepada manusia kekuatan kebenaran dan kekuatan sinarnya, ia harus disahkan oleh kesaksian hidup orang Kristen "Kesaksian hidup kristiani sendiri beserta amal baik yang dijalankan dengan semangat adikodrati, mempunyai daya kekuatan untuk menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah" (AA 6). -- Katekismus Gereja Katolik, 2044


Antifon Pembuka (Luk 11:1)

Tuhan, ajarilah kami berdoa, sebagaimana yang diajarkan Yohanes kepada murid-murid-Nya.

Doa Pagi


Ya Allah, Putra-Mu telah memperkenalkan Engkau sebagai Bapa Kami. Ia juga mengajari kami bagaimana caranya berdoa. Semoga kami semakin menjadi pendoa yang tekun. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (2:1-2.7-14)

"Mereka melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku."

Saudara-saudara, empat belas tahun setelah dipilih Tuhan, aku pergi ke Yerusalem bersama dengan Barnabas, dan Titus pun kubawa serta. Aku pergi ke sana berdasarkan suatu pernyataan. Di sana aku membentangkan Injil yang kuberitahukan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, jangan sampai dengan percuma aku telah berusaha. Pada kesempatan itu aku berbicara tersendiri dengan orang-orang yang terpandang. Mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil bagi orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus bagi orang-orang bersunat; maka mereka menjadi yakin. Sebab sebagaimana Tuhan telah memberi Petrus kekuatan untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, demikian pula Ia memberi aku kekuatan untuk menjadi rasul bagi orang-orang yang tak bersunat. Mereka pun menjadi yakin mengenai kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku. Maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan daku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan. Semua setuju bahwa kami pergi kepada orang-orang yang tak bersunat, sedangkan mereka kepada orang-orang yang bersunat. Mereka hanya minta agar kami tetap mengingat orang-orang miskin; dan hal itu sungguh-sungguh kuusahakan. Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku terus terang menentang dia, karena ia salah. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat. Tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Juga orang-orang Yahudi lain ikut berlaku munafik seperti dia, sehingga Barnabas sendiri terseret oleh kemunafikan mereka. Aku melihat, bahw kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Maka aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 4/4, PS 827.
Ref. Pergi ke seluruh dunia, wartakanlah Injil!
Ayat. (Mzm 117:1bc.2)
1. Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
2. Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Kalian akan menerima roh pengangkatan menjadi anak; dalam roh itu kita akan berseru, 'Abba, ya Bapa.'

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:1-4)

"Tuhan, ajarilah kami berdoa."

Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya." Maka Yesus berkata kepada mereka, "Bila kalian berdoa, katakanlah: 'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
 
Pendahuluan

Ingatan saya melayang ke tahun-tahun yang silam, ketika saya masih bergabung dalam kegiatan mudika. Dalam kegiatan mudika waktu itu, kelihatannya tak banyak orang yang dengan suka cita mau menawarkan diri untuk memimpin doa. Kebanyakan, harus ditanya dahulu, dan jawabannya tak jarang yang seperti ini, “Kamu saja, ah, aku masih belum berani….” Semoga saja tidak demikian keadaannya sekarang, setelah semakin banyaknya kegiatan di paroki yang melibatkan perkembangan spiritualitas umat, termasuk para mudika dan OMK. Harus diakui, kita semua harus menyadari bahwa doa adalah nafas iman, dan karenanya kita harus menjadikan doa sebagai bagian yang terpenting dalam kehidupan kita. Maka sekarang pertanyaan yang sering muncul di benak kita adalah, “Jadi, bagaimana seharusnya kita berdoa?” Nah, kita tak perlu berkecil hati, karena ternyata para rasul juga pernah bertanya hal yang serupa kepada Kristus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa…” (Luk 11:1), dan Tuhan Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya, sebuah doa yang terindah: Doa Bapa Kami. Namun sayangnya, karena mungkin kita terlalu menghafalnya di kepala, maka malah makna perkataannya tidak turun sampai ke hati….


Doa yang sempurna yang harus didukung sikap batin


Doa Bapa kami merupakan salah satu warisan yang paling berharga, yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Melalui doa ini kita diajak oleh Kristus untuk memanggil Allah sebagai Bapa, sebab kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Doa ini mengandung tujuh permohonan yang terbagi mejadi dua bagian, yang pertama untuk memuliakan Tuhan (6:9-10) sedangkan bagian kedua untuk kebutuhan kita yang berdoa (6:11-13).[1]. Doa ini mengandung pujian/ penyembahan kepada Allah, penyerahan diri kita kepada-Nya, pertobatan dan permohonan.

Namun, betapapun indahnya suatu doa, yang terpenting adalah bagaimana kita meresapkannya, sehingga kata-kata yang diucapkan bukan hanya sekedar hafalan tetapi sungguh-sungguh yang keluar dari hati. St. Teresa dari Avila memberikan satu tips yang sangat berharga, “Arahkanlah matamu ke dalam batin dan lihatlah di dalam dirimu…. Engkau akan menemukan Tuhanmu.”[2]. Maka sebelum kita mengucapkan doa apapun, kita harus mempersiapkan batin terlebih dahulu, supaya kita sadar kepada Siapa kita akan mengajukan doa kita, dan betapa Mahabesar dan MahaKasih-nya Dia, sehingga kita dapat menempatkan diri kita dengan layak. Sepantasnya kita menyadari betapa kecil, lemah, dan berdosa-nya kita, namun juga betapa besarnya kita dikasihi oleh Allah, di dalam Kristus Yesus.

Doa Bapa Kami


(berdasarkan Mat 6:9-13)
Bapa Kami, yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Bapa Kami

Bapa
, atau “Abba” (lih. Mk 14:36, Rom 8:15; Gal 4:6) dalam bahasa Aramaic adalah panggilan yang erat seorang anak kepada ayahnya. Oleh kasih-Nya kepada kita, Yesus mengizinkan kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, karena Yesus mengangkat kita menjadi saudara- saudari angkatNya. Ya, setiap kita mengucapkan kata “Bapa”, selayaknya kita mengingat bahwa kita ini telah diangkat oleh Allah Bapa menjadi anak-anak-Nya oleh jasa Kristus Tuhan kita. Allah yang begitu agung dan mulia, Ia yang begitu besar dan berkuasa, dapat kita panggil sebagai “Bapa”. St. Teresa dari Avila pernah mengatakan bahwa dalam kesehariannya saat merenungkan Doa Bapa Kami ini, tak jarang ia hanya berhenti pada kata “Bapa” saja, dan Tuhan sudah berkenan memberikan karunia sukacita kontemplatif yang tak terkira. Mari kita belajar dari St. Teresa, bahwa saat kita mengucapkan kata “Bapa”, kita sungguh meresapkannya dalam hati kita: ya, kita manusia yang lemah ini, boleh memanggil Dia, Bapa, karena kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita. Saat kita katakan, “Bapa”…. resapkanlah bahwa kita berada dalam hadirat Allah yang Maha Mulia, namun juga yang Maha Pengasih. Ia yang lebih dahulu rindu kepada kita, sehingga kita diberikan kerinduan untuk berdoa, dan memanggil nama-Nya.

Bapa Kami: Perkataan “kami” di sini mengingatkan kita bahwa kita dapat memanggil Allah sebagai “Bapa” karena Kristus. Alangkah baiknya, jika dalam mengucapkan doa ini kita membayangkan bahwa kita berada di antara para rasul pada saat pertama kali Yesus mengajarkan doa ini kepada mereka. Bayangkan bahwa kita memandang Kristus yang mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kami, karena Kristus tidak hanya mengangkat “saya saja” menjadi saudara angkat-Nya, tetapi juga orang-orang lain yang dipilih-Nya, yaitu anggota-anggota Gereja. Oleh karena itu, Doa Bapa Kami ini merupakan doa Gereja,[3], doa yang ditujukan kepada Allah Bapa yang mengangkat kita semua menjadi anak-anak-Nya. Dan, mari kita renungkan juga, betapa besar harga yang telah dibayar oleh Kristus Sang Putera untuk mengangkat kita semua untuk menjadi anggota keluarga Allah! Sebab di kayu salib-lah Kristus telah menumpahkan Darah-Nya, Darah Perjanjian Baru dan Kekal, sehingga Darah itulah yang mengikat kita semua menjadi satu saudara.

Yang ada di surga: Ya, kita mempunyai seorang Bapa di surga, yang mengasihi kita sedemikian rupa, sehingga tak menyayangkan Anak-Nya sendiri untuk wafat bagi kita, supaya dosa-dosa kita diampuni dan kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya.[4]

Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu: : Ini merupakan kerinduan kita agar semakin banyak orang dapat mengenal Allah yang mulia dan kudus.[5] Dan ini juga seharusnya disertai dengan keinginan kita untuk dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk memuliakan nama-Nya. “Dimuliakanlah nama-Mu, ya Tuhan, dalam keluargaku, pekerjaanku, perkataanku, segala sikapku….; Jadilah Engkau Raja dalam rumahku, pekerjaanku, studiku, dalam pikiran dan perbuatanku.” Ini mengingatkan kita agar kita jangan mencari dan mengejar kemuliaan diri sendiri dalam segala sesuatu, karena segala sesuatu yang ada pada diri kita sesungguhnya adalah milik Tuhan dan harus kita gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan. Dan agar dalam setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil, kita dapat menomorsatukan Tuhan, kiranya, keputusan/ tindakan apa yang terbaik yang bisa kulakukan untuk lebih memuliakan Tuhan?

Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga: Ketaatan dan penyerahan diri pada kehendak orang lain mensyaratkan kerendahan hati, demikian pula penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Sering manusia berkeras dalam memohon sesuatu kepada Allah, namun di sini kita melihat, Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk berserah kepada Allah Bapa. Sebab Bapa yang Maha Pengasih mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik bagi kita, bukan saja untuk hidup kita di dunia, tetapi untuk hidup kita yang ilahi di surga kelak. Ungkapan penyerahan diri yang total ini mengingatkan kita akan doa Yesus di Taman Getsemani, “… tetapi bukanlah kehendak-Ku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk 22:42). Karena ketaatan Yesus pada kehendak Bapa inilah, maka Ia menggenapi rencana keselamatan Allah Bapa, dengan wafat-Nya di salib dan kebangkitan-Nya. Semoga kitapun bisa taat dan menyerahkan diri kita secara total kepada Allah, sehingga kita dapat mengambil bagian dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.

Berilah kami rejeki pada hari ini: Yesus sangat mengasihi kita dan peduli pada kita, sehingga Ia mengajarkan kepada kita permohonan ini. Ia mengingatkan kepada kita bahwa rejeki dan nafkah kita, “our daily bread“, adalah berkat dari Tuhan. Tuhanlah yang mengizinkan kita mendapatkan rejeki hari ini, memiliki kesehatan dan hidup sampai pada saat ini, sehingga dapat menikmati rejeki yang Tuhan berikan. “Berilah padaku rejeki hari ini, ya Tuhan, dan ingatkanlah aku bahwa semua rejeki yang kuterima adalah semata-mata berkat-Mu, dan bukan milikku sendiri.” Maka kitapun harus teringat pada orang lain, terutama mereka yang berkekurangan, agar merekapun beroleh berkat Tuhan. Selanjutnya, para Bapa Gereja, terutama St. Agustinus mengkaitkan “our daily Bread” dengan Ekaristi,[6] yang menjadi berkat/ rejeki rohani kita. Ini mengingatkan kepada kita agar kita tidak semata-mata mencari rejeki duniawi, tetapi juga berkat rohani. Bagi kita, berkat rohani yang tertinggi maknanya adalah Ekaristi, saat kita boleh menerima Kristus Sang Roti Hidup. Di sini kita diingatkan oleh para Bapa Gereja untuk memohon kehadiran Yesus, Sang Roti Hidup, di dalam hidup kita setiap hari. Dan jika “setiap hari” ini diucapkan setiap hari, maka artinya adalah selama-lamanya. “Semoga Tuhan Yesus, Sang Roti Hidup itu, sungguh menguatkanku dan menyembuhkanku hari ini, dan selama-lamanya.

Dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami: Dikatakan di sini bukan “ampunilah kami, seperti kami akan mengampuni yang bersalah kepada kami.” Maka seharusnya, pada saat kita mengucapkan doa ini, kita sudah harus mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita atau yang menyakiti hati kita. Mari kita renungkan, kalimat yang sederhana ini namun sangat dalam artinya: Bahwa Tuhan akan mengampuni kita kalau kita terlebih dahulu mengampuni orang lain. Jadi artinya, kalau kita tidak mengampuni maka kitapun tidak beroleh ampun dari Tuhan. Betapa sulitnya perkataan ini kita ucapkan pada saat kita mengalami sakit hati yang dalam oleh karena sikap sesama, terutama jika itu disebabkan oleh mereka yang terdekat dengan kita. Namun Tuhan menghendaki kita mengampuni mereka, agar kitapun dapat diampuni oleh-Nya. Maka mengampuni orang lain sesungguhnya bukan saja demi orang itu, tetapi sebaliknya, demi kebaikan diri kita sendiri: supaya kita-pun diampuni oleh Tuhan.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat: Mari kita sadari bahwa kita ini manusia yang lemah dan mudah jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Kita belum sampai pada tingkat di mana kita benar- benar terbebas dari segala godaan dan pencobaan. Pencobaan itu bisa bermacam- macam: ketakutan menghadapi masa depan, sakit penyakit, masalah keluarga dan pekerjaan, dst, namun bisa juga merupakan ‘pencobaan rohani’, terutama godaan untuk menjadi sombong, karena merasa telah diberkati dengan aneka karunia dan kebajikan. Untuk yang terakhir ini, St. Teresa, mengingatkan bahwa kita harus selalu rendah hati, tidak boleh terlalu yakin bahwa kita tidak akan jatuh ke dalam dosa. Jangan sampai kita bermegah akan suatu kebajikan. St Teresa mengambil contoh, bahwa kita tidak boleh terlalu cepat menganggap diri sabar, sebab akan ada saatnya bila seseorang hanya sedikit saja menyinggung hati kita, namun langsung kesabaran kita itu hilang. Maka sikap yang terbaik adalah selalu berjaga-jaga, menimba kekuatan dari Tuhan, dan menyadari bahwa kita sungguh tergantung kepada-Nya.

Ada banyak cara untuk meresapkan perkataan dalam doa Bapa Kami. Kita dapat berhenti sejenak, setelah kita mengucapkan satu kalimat, dan merenungkannya, atau kita dapat memilih satu bagian kalimat dalam doa Bapa Kami itu dan kita renungkan berulang kali sepanjang hari. Kedua cara ini dapat menghantar kita pada pemahaman yang lebih mendalam setiap kali kita mengulangi doa Bapa Kami di kemudian hari.
Contohnya, pada saat mengucapkan doa Bapa Kami, kita dapat meresapkannya demikian,

Bapa Kami yang ada di surga, …………………………………………… Betapa bersyukurnya aku boleh menyebut Engkau, “Bapa”
Dimuliakanlah nama-Mu, Datanglah kerajaan-Mu ………………… Biarlah nama-Mu dimuliakan di dalam hidupku
Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga …….. Aku mau taat dan menjadikan kehendakMu yang terutama
Berilah kami rejeki pada hari ini ……………………………………….. terutama rejeki rohani, yaitu Kristus Sang Roti Hidup
Dan ampunilah kesalahan kami ………………………………………… Kasihanilah aku, yang berdosa ini
seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami …….. Berilah aku kekuatan untuk mengampuni sesama
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan ……………… Sebab aku mengakui kelemahanku
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat …………………………….. terutama terhadap kesombongan dan ketinggian hati


Kesimpulan

Maka jika kita perhatikan, walaupun singkat dan sederhana, sesungguhnya makna doa Bapa Kami sangatlah dalam. Jika kita belum melihatnya demikian, maka sudah saatnya kita mohon ampun kepada Tuhan, dan memohon kepada Roh Kudus untuk membantu kita untuk meresapkan doa ini. Sebab, jika kita perhatikan, doa spontan yang baik sesungguhnya mengambil sumber dari doa Bapa Kami ini. Misalnya: “Tuhan, aku bersyukur dan memuji Engkau (=Dimuliakanlah nama-Mu), karena Engkau sungguh baik (“Bapa”). Aku rindu menyenangkan-Mu, ya Tuhan, dan ingin melayani Engkau (Datanglah Kerajaan-Mu). Namun seringkali aku jatuh, dan melukai-Mu dengan dosa-dosaku. Kasihanilah aku ya Tuhan (Ampunilah kesalahan kami). Maka, kumohon ya Tuhan, dampingilah aku, supaya aku bisa memperbaiki diri, dan hidup lebih baik dari hari kemarin (Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan). Dan kumohon juga dari-Mu, berkat jasmani dan rohani agar aku dapat menjalani hari ini dengan baik (Berilah kami rejeki pada hari ini). Engkaulah Tuhan dan Allahku, kepada-Mulah aku berserah… (Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga). Amin.

Dengan demikian, dengan meresapkan doa Bapa Kami, kitapun dapat menilai, apakah doa-doa kita selama ini sudah cukup baik. Selanjutnya, mari kita menilik hati kita masing-masing, apakah kita sudah meresapkan doa Bapa Kami, setiap kali kita mendaraskannya. Doa ini adalah doa yang diajarkan oleh Yesus, oleh karena itu selayaknya kita hayati dan kita resapkan di dalam hati. Jangan sampai kita kita hanya menghafalkan kata-katanya saja, tanpa menjadikan kata-kata itu ungkapan hati. Atau sebaliknya, kita tidak lagi rajin mengucapkannya, karena lebih menyukai doa- doa dengan perkataan kita sendiri. Alangkah baiknya, jika di samping doa- doa spontan maupun doa hening, kita tetap mengucapkan doa Bapa Kami ini dengan sikap batin yang baik. Sebab doa Bapa Kami adalah doa yang sempurna yang berasal dari Allah sendiri, dan karenanya marilah kita mengucapkannya dengan kasih yang besar kepada Dia yang telah mengajarkan-Nya kepada kita!


  1. Dua versi Bapa Kami menurut Matius dan Lukas: Mat 6:9-13 dan Lukas 11:2-4 memberikan pengajaran akan doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Beberapa ahli Kitab Suci mengatakan bahwa dua teks ini mungkin adalah kejadian yang berbeda. Namun text lengkap doa Bapa Kami adalah berdasarkan dari text menurut Injil Matius.
  2. Ada dua manuskrip menurut Matius 6:9-13: Text pertama yang ditemukan dalam ayat ke 13 ada yang memuat “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” dan satu text di ayat ke 13 tidak memuat kalimat tersebut. Dan disinilah perlunya “textual criticism”. Dan dari metode ini, Gereja Katolik dan juga sebagian gereja protestan mengambil ayat ke-13 tanpa “text tersebut”. Kalau kita perhatikan, kitab suci King James Version memuat text tersebut, RSV, Vulgate Bible tidak memuatnya, LAI, NAB memuat text tersebut di dalam tanda kurung. Nanti kalau ada waktu saya coba buat perbandingan beberapa versi Kitab Suci.
  3. Dalam didakhe: Bab 8. Puasa dan Berdoa (Doa Bapa Kami). Tapi janganlah puasamu seperti orang orang munafik (farisi), karena mereka hanya berpuasa pada hari kedua dan kelima dalam satu minggu. Sebaliknya, berpuasalah pada hari keempat dan pada hari Persiapan (Jumat). Jangan berdoa seperti orang orang munafik (farisi), sebaliknya seperti yang diperintahkan Tuhan dalam GerejaNya, seperti ini : Bapa Kami yang berada di dalam surga, dimuliakanlah nama Mu. Datanglah kerajaan Mu. Jadilah kehendak Mu diatas bumi, seperti didalam surga. Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami kepada pencobaan, tapi jauhkanlah kami dari yang jahat; karena segala Kekuasaan dan Kemuliaan adalah milikmu untuk selama lamanya.
    Didakhe adalah doktrin dari dua belas rasul. Dan dokumen ini yang menjadi pegangan bagi jemaat perdana. Di dalam pengajaran ini dituliskan juga doa Bapa Kami yang mengambil text dari Matius 6:9-13 dengan adanya text “segala kekuasaan dan kemuliaan adalah milikmu untuk selama-lamanya”. Namun Gereja Katolik mempercayai bahwa dalam Didakhe, text tersebut bukanlah bagian asli dari Injil Matius, namun ditambahkan kemudian di sekitar abad pertama atau kedua masehi.
  4. Di dalam Perjamuan Ekaristi Kudus, kita sering mengucapkan doa Bapa Kami, dan sering disusul dengan perkataan/nyanyian “Sebab Engkaulah Raja, yang mulia dan berkuasa, untuk selama-lamanya”, yang dikenal dengan nama embolisme.
  5. Jadi kita dapat simpulkan bahwa Gereja Katolik memberikan doa Bapa Kami sesuai dengan apa yang ditulis di Alkitab.
Namun yang terpenting disini adalah Doa Bapa Kami adalah doa yang sempurna, yang diajarkan oleh Yesus Sendiri, yang terdiri dari tujuh hal.


CATATAN KAKI:

  1. Lihat KGK 2765, 2781
  2. St. Teresa of Avila, The Way of Perfection, Text prepared by Kieran Kavanaugh OCD, (Washington DC: ICS Publication, 2000), p. 317
  3. KGK 2768
  4. 2 Pet 1:4; 1 Yoh 3:1; KGK 2766, 2780
  5. Mzm 111:9; Luk 1:49
  6. Letters of St. Augustine to Proba, CXXX, chap. XI- 21


Sumber: http://katolisitas.org/2102/doa-bapa...-yang-sempurna
http://katolisitas.org/1960/dua-versi-doa-bapa-kami

Surat Gembala Tahun Iman Bagi Umat Katolik Keuskupan Sibolga


Umat Allah yang saya kasihi!

Melalui Surat Apostolik dengan judul “PINTU KEPADA IMAN” (“Porta Fidei”), Santo Bapa Benediktus XVI telah mengumumkan Tahun Iman, yang akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam pada tanggal 24 November 2013. Dalam Surat Apostolik ini Bapa Suci mengharapkan agar kurnia iman yang telah kita peroleh berkat sakramen babtis sungguh dapat memberikan pencerahan dan pembaharuan nyata dalam hidup. Oleh karena itu saya menulis surat gembala ini untuk menyapa para imam, diakon, katekis, para pengurus Gereja, biarawan-biarawati dan seluruh umat Allah di Keuskupan ini, agar memberi perhatian khusus akan pentingnya iman bagi kehidupan, dan agar mengisi Tahun Iman ini dengan pelbagai kegiatan yang diadakan di tempat masing-masing di tingkat dekanat dan paroki, bahkan stasi dan lingkungan.

Saat Berahmat

Tahun Iman ini menjadi saat berahmat bagi kita umat katolik, karena seluruh umat diingatkan akan dasar dan inti hidup kita, yakni iman, yang kita miliki sejak kita dibaptis. Baptisan telah memasukkan kita ke dalam hidup yang baru, yakni hidup sebagai anak Allah di dalam kehidupan Allah Tritunggal. Oleh karena itu pada tahun yang khusus ini kita mau seperti wanita Samaria, untuk mendengar Yesus yang mengundang kita untuk percaya kepadaNya, serta menimba dari sumber air hidup yang memancar keluar dari dalam diriNya (bdk Yoh 4:14).

Tahun Iman ini menjadi saat berahmat bagi kita, bila kita mengisi tahun ini untuk memperdalam iman kita dengan mempelajari dasar-dasar iman yang benar, merayakan iman itu dalam liturgi terutama dalam ekaristi, dan menghayati iman itu dalam kehidupan nyata, sehingga orang lain dapat menyaksikan dan merasakan buah-buah iman kita. Untuk mengisi Tahun Iman ini kita mesti saling mendukung dengan memberi diri dan waktu untuk pertemuan-pertemuan.

Kita tidak tahu rahmat apa yang kita terima dari Tahun Iman ini. Yang pasti ialah bahwa Roh Kudus berkarya dan membuahi segala usaha dan kegiatan kita dalam merayakan tahun yang khusus ini, sehingga sungguh membawa pembaharuan dalam kehidupan Gereja kita, seperti terjadi ketika Pentakosta. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana Roh Kudus berkarya (bdk Yoh 3:8), tapi kita percaya akan daya kekuatanNya. Sebab “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37), dan “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23).

Pendalaman Iman

Iman adalah jawaban manusia atas kelimpahan cinta kasih Allah yang menyapa manusia sebagaii sahabat-sahabatNya, bergaul dengan mereka, dan mengundang mereka kepada persekutuan dengan diriNya (lih. KGK no.142-143).  Akan tetapi iman adalah rahmat, anugerah Allah, satu kebajikan adikodrati yang dicurahkan oleh Allah kepada manusia, karena hanya dengan bantuan rahmat Allah dan pertolongan batin Roh Kudus, manusia mampu percaya (lih. KGK 153-155).

Tujuan iman kepercayaan ialah keselamatan. Tuhan sendiri berkata: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16:16). Karena itu inti iman kita ialah percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutusNya. Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (bdk Ibr 11:6).

Perlu kita ingat bahwa sekarang iman itu sering kita hayati dalam kegelapan dan kadang mengalami cobaan yang berat. Dunia, di mana kita hidup, masih sangat jauh dari apa yang dijamin oleh iman bagi kita. Dalam surat gembalanya Bapa Suci mengatakan: “Iman itu bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang sudah diterima, juga bila ia dikomunikasikan sebagai suatu pengalaman rahmat dan kebahagiaan. Iman itu membuat kita berbuah subur, sebab ia memperluas hati kita dalam harapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang juga menghidupkan” (PF no.7).

Melihat semuanya itu, maka jelas bagi kita bahwa iman itu perlu dipelihara dan dipupuk, diperdalam dan dikuatkan dan kita bertekun di dalamnya (bdk Kol 1:23; Mat 10:22; 24:13; Mrk 13:13). Bapa Suci dalam surat apostoliknya menganjurkan dalam merayakan Tahun Iman ini: “Renungan-renungan tentang iman hendaknya diintensifkan, untuk membantu segenap umat yang percaya kepada Kristus untuk mendapatkan kesadaran yang lebih baik dan secara lebih bersemangat melekatkan diri kepada Kabar Gembira, khususnya ketika sedang terjadi perubahan mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini” (PF no.8).

Untuk menghidupkan, memperdalam dan menguatkan iman itu, sehingga menjadi subur dan menghasilkan buah berlimpah, perlu: katekese, pendalaman Kitab Suci, perayaan liturgi, kesaksian hidup nyata.

Kabar Gembira bagi kita manusia adalah bahwa “Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4-5). Yesus Putera Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat di salib dan bangkit, menjadii penyelamat kita. Agar kabar gembira itu sampai kepada manusia dan menyelamatkannya, perlu katekese. Katekese ialah segala usaha Gereja untuk menjadikan manusia menjadi murid-murid Kristus, agar mereka dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, supaya dengan perantaraan iman itu mereka memperoleh kehidupan dalam namaNya. Melalui pengajaran, Gereja berusaha mendidik manusia menuju kehidupan ini dan dengan demikian membangun Tubuh Kristus. Jadi, tujuan katekese adalah untuk mengantar para pendengar memasuki kepenuhan kehidupan Kristen (lih. KGK no. 4-5).

Bapa Suci menjelaskan dalam surat gembalanya bahwa sarana yang tak tergantikan untuk sampai pada pemahaman yang sistematik pada iman kepercayaan adalah Katekismus Gereja Katolik. Apa yang disajikan di dalam Katekismus itu bukanlah teori belaka, tetapi sungguh suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman itu disuburkan oleh kehidupan sakramental di mana Kristus hadir. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman akan kehilangan kemanjurannya (lih. PF no.11). Apakah sudah cukup dikenal oleh umat Katekismus Gereja Katolik ini, sekurang-kurangnya ringkasannya dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik?

Agar katekese yang benar dapat terlaksana, hendaklah para katekis dan guru agama berusaha, supaya melalui pengajaran yang disertai tingkah lakunya menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus. Maka pada awal Tahun Iman ini amat tepatlah bila para katekis kita disegarkan kembali akan tugas dan tanggung-jawab serta ketrampilan mereka dalam berkatekese. Dengan demikian katekese yang mereka berikan selama Tahun Iman ini dan seterusnya sungguh dapat membawa dan menghantar orang kepada Kristus Penyelamat.
Pada masa ini kita alami bahwa makin sulit orang untuk memberi waktu mengikuti pertemuan, apalagi yang dinamakan pengajaran atau pendalaman-pendalaman yang diadakan oleh Gereja. Maka khusus pada Tahun Iman ini hendaknya umat memberi waktu untuk lebih setia dan intensif mengikuti pertemuan dan pembinaan yang diadakan di lingkungan atau stasi.

b.    Pendalaman Kitab Suci

Sejak awal, Gereja tak putus-putusnya menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan yang Gereja terima baik dari meja Sabda Allah, maupun dari meja Tubuh Kristus. Di dalam Kitab Suci, Gereja selalu mendapatkan makanannya dan kekuatannya, karena di dalamnya ia tidak hanya menerima kata-kata manusiawi, tetapi apa sebenarnya Kitab Suci itu, yakni Sabda Allah. Karena di dalam kitab-kitab Suci, Bapa yang ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putraNya, dan berwawancara dengan mereka (lih. KGK no.103-104).

Sabda Allah merupakan sarana untuk memupuk iman, sehingga iman kita tumbuh, berkembang, dan berbuah, dan kita dapat bertahan dalam iman sampai akhir (lih. KGK no. 162). Oleh Sabda Allah iman dipupuk dalam mereka yang percaya (lih. PO 4). Karena itu juga dalam perayaan liturgi, Kitab Suci sangat penting; di dalam setiap perayaan liturgi ada kutipan-kutipan Kitab Suci yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili (lih. SC 24), yang dihidupkan oleh Roh Kudus, supaya sabda Allah itu dapat diterima dan dilaksanakan dalam kehidupan nyata dan menyuburkan iman.

Kitab Suci adalah pelita bagi kaki kita dan cahaya bagi langkah kita. Karena itu, Gereja menganjurkan semua umat beriman untuk sering membaca Kitab Suci, karena tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus (lih. KKGK no. 24). Oleh karena itu perlulah bahwa Kitab Suci dekat dengan kita, ada di setiap rumah, supaya anggota keluarga secara pribadi dan bersama dapat membacanya. Demikian juga perlu suatu tuntunan atau pembinaan yang membantu umat beriman dapat mendalami Kitab Suci baik secara pribadi maupun dalam kelompok Pendalaman Kitab Suci.

c.    Merayakan Liturgi

“Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitanNya. Dengan merayakan imamat Yesus Kristus, liturgi menyatakan misteri Kristus dalam tanda-tanda dan membawa pengudusan bagi umat manusia. Pemujaan kepada Allah dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu oleh kepala dan para anggotanya” (KKGK no.218). Jadi dalam liturgi, misteri Kristus dirayakan oleh umat secara bersama-sama untuk pengudusan mereka.

Agar liturgi berdaya guna, semua orang beriman mesti ikut serta dengan sepenuh hati, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan liturgi, karena liturgi sendiri menuntut keikutsertaan umat kristiani sebagai “bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang  kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr 2:9).

“Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan iman itu akan kehilangan kemanjurannya, sebab dia akan kehilangan rahmat yang mendukung kesaksiannya secara kristiani” (PF no.11). Oleh karena itu perlu diintensifkan perayaan iman dalam liturgi yang menarik dan menyentuh hati umat, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi yang merupakan puncak seluruh kegiatan Gereja dan sumber kekuatan Gereja (lih. PF 9).
Berdoa adalah bagian dari liturgi, karena dalam doa kita mengungkapkan hubungan kita dengan Allah Bapa yang Mahabaik. “Doa Kristen ialah relasi anak-anak Allah yang personal dan hidup dengan Bapa mereka yang mahabaik, dengan PutraNya Yesus Kristus, dan dengan Roh Kudus yang tinggal dalam hati mereka” (KKGK no.534). Allah selalu mendengarkan pujian, syukur dan doa-doa permohonan kita anak-anakNya. Oleh karena itu doa membangun dan menguatkan iman kita, menyuburkan kasih kita akan Allah Bapa yang Mahabaik, yang kita imani.

d.    Kesaksian Iman

Dalam sejarah keselamatan kita dapat melihat contoh teladan orang-orang beriman yang telah memberi kesaksian iman dalam hidupnya yang nyata, seperti Bunda Maria, para Rasul dan orang-orang kudus. Bapa Suci mengajak kita masing-masing agar tidak ada di antara kita yang malas di dalam iman, supaya kesaksian iman kita kuat. Dunia sekarang ini membutuhkan kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang telah dicerahi oleh sabda Tuhan dan mampu membuka hati dan budi banyak orang untuk merindukan Allah dan hidup yang sejati, yakni hidup yang kekal abadi (PF no.15). Dan Tuhan sendiri telah berpesan: “Kamu adalah garam dunia. … Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13.14).

Tahun Iman ini juga merupakan satu kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan kesaksian amal kasih kita, sebab kasih lebih besar dari pada iman dan pengharapan (bdk 1Kor 13:13). Oleh karena itu iman mesti disertai oleh kasih dalam perbuatan nyata. Kasih akan sesama adalah bukti bahwa kita murid Kristus (bdk Yoh 13:35; Yak 2:17; 2:20).

Yesus sendiri mengatakan: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 5:40). Solidaritas, yang menjadi satu unsur penting dari Visi Keuskupan Sibolga, merupakan perwujudan dari sabda Yesus ini. Maka mari kita kita mendukung usaha-usaha karya kasih melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang kita lakukan pada masa Prapaska, melalui dukungan yang kita berikan kepada Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Caritas Keuskupan Sibolga yang melakukan karya-karya sosial, demikian juga panti-panti asuhan yang diurus oleh para suster dan karya-karya sosial lainnya. Tapi pertama-tama mari kita perhatikan tetangga dan orang-orang yang kita jumpai setiap hari yang menderita entah karena apapun.

Pertobatan

Dalam surat apostoliknya Bapa Suci mengharapkan bahwa Tahun Iman ini semakin mengobarkan semangat pembaharuan yang menjadi tujuan dari Konsili Vatikan II, sehingga Tahun Iman ini merupakan suatu panggilan kepada pertobatan yang otentik untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya Juruselamat dunia, yang telah menyatakan kasih Allah yang menyelamatkan melalui wafat dan kebangkitanNya dan yang memanggil kita kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (lih. PF no.6).

Oleh karena itu pada Tahun Iman hendaknya kita sesering mungkin menerima sakramen Tobat, agar kita hidup dalam hidup yang baru bersama Kristus (bdk Rom 6:4), sehingga kita semakin dimurnikan dan semakin menyerupai Kristus. Hidup kita yang telah dibaharui tentu dapat juga menggugah hati sesama dan mendorong mereka untuk membaharui dirinya dan mendekatkan diri kepada Kristus. Dengan demikian pembaharuan diri itu semakin meluas.

Penutup

Sebagai gembala saya berharap bahwa seluruh umat Allah di keuskupan ini sungguh terlibat dalam mengisi Tahun Iman ini. Hendaknya para petugas pastoral dalam segala kegiatan pastoralnya memberi pendalaman-pendalaman iman bagi umat, lebih intensif melayani umat dalam liturgi, dan mendorong umat untuk semakin memberikan kesaksian iman dalam hidup harian mereka. Untuk itu hendaklah para imam dan katekis mendalami isi surat gembala Bapa Suci “Porta Fidei”, mempelajari Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik dan Kompendium Katekismus Gereja Katolik, agar dapat menyampaikan intisarinya kepada para petugas pastoral lainnya dan kepada umat beriman.

Hendaklah Tahun Imam ini membuat hubungan kita dengan Kristus, Tuhan, semakin bertambah dalam dan kuat, karena hanya di dalam Dia kita temukan tujuan iman kita, yakni keselamatan, yang akan mencapai kesempurnaannya pada akhir zaman (bdk 1Ptr 1:6-9). Bapa Suci telah mengatakan dalam surat gembalanya: “Gereja, secara keseluruhan, bersama dengan semua pastornya, seperti Kristus, harus bergerak untuk membimbing umat keluar dari padang gurun menuju ke tempat kehidupan, ke dalam persahabatan dengan Putra Allah, kepada Dia, Sang pemberi kehidupan, bahkan kehidupan yang berkelimpahan” (PF no.2).

Sesuai dengan anjuran Bapa Suci dalam surat gembalanya, mari kita mempercayakan saat berahmat ini kepada Bunda Maria, yang diwartakan sebagai yang berbahagia karena telah percaya (Luk 1:45). Dengan teladan Bunda Maria, kita yakin bahwa orang yang percaya, akan mengalami kebahagiaan.

Sibolga, 21 September 2012, Pesta St. Matius, Rasul dan Pengarang Injil.

Uskup Sibolga,



Mgr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap.

SINGKATAN

PF    :    Porta Fidei, Surat Apostolik Santo Bapa Benediktus XVI, 11 Oktober 2011, diterjemahkan oleh Departemen Dokpen KWI.
KGK    :    Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus, Ende 1995.
KKGK    :    Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Penerbit Kanisius 2009.
PO    :    “Presbyterorum Ordinis”, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Penerbit Obor 1993.
SC    :    “Sacrosanctum Concilium”, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Penerbit Obor 1993.

Surat Gembala Tahun Iman Bagi Umat Katolik Keuskupan Amboina

Menyongsong Tahun Iman yang secara resmi akan dicanangkan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 14 Oktober 2012, Uskup Diosis Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC menerbitkan “Surat Gembala Tahun Iman”. Di dalamnya tersurat pesan dan ajakan sang Gembala bagi seluruh Umat Katolik Keuskupan Amboina. Berikut kutipan selengkapnya dari surat bernomor 008.02-KA/PCM/IX/2012.


Umat katolik seluruh Keuskupan Amboina yang sangat dikasihi oleh Allah.
Dengan Surat Apostolik “Pintu Kepada Iman” (Porta Fidei) telah dicanangkan oleh Paus Benediktus XVI Tahun Iman. Tahun Iman ini berlangsung dari tanggal 11 Oktober 2012 sampai dengan 24 November 2013.
Apakah arti Tahun Iman ini bagi kita umat Katolik? Surat Apostolik “Pintu Kepada Iman” membantu kita untuk memahami arti Tahun Iman ini. Saya ingin menyampaikan kepada anda sekalian beberapa pesan, yang terungkap dalam Surat Apostolik itu.

  1. I.Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik
Secara khusus Tahun Iman ini dicanangkan untuk merayakan Hari Ulang Tahun ke-50 Pembukaan Konsili Vatikan II dan Hari Ulang Tahun ke-20 Terbitnya Buku Katekismus Gereja Katolik. Buku ini dipromulgasikan oleh Beato Yohanes Paulus II. Buku ini merupakan buah asli dari Konsili Vatikan II. Digambarkan dalam buku ini kekuatan dan keindahan dari iman kepercayaan. Kata Beato Yohanes Paulus II: “Katekismus ini akan menjadi suatu kontribusi yang sangat penting bagi karya pembaharuan seluruh kehidupan Gereja... Maka, saya menyatakan Katekismus ini menjadi suatu sarana bantu yang sah dan benar bagi persekutuan Gerejani dan menjadi patokan yang pasti bagi pengajaran iman.”

  1. II.Penemuan Kembali akan Iman Kepercayaan
Memang secara khusus Tahun Iman ini dicanangkan untuk merayakan Hari Ulang Tahun ke-50 Pembukaan Konsili Vatikan II dan Hari Ulang Tahun ke-20 Publikasi Buku Katekismus Gereja Katolik. Namun, secara umum Tahun Iman adalah waktu yang khusus dan istimewa untuk menemukan kembali iman kepercayaan kita. Kata Paus Benediktus ke-16: “Pintu Kepada Iman (Kis. 14:27) senantiasa terbuka bagi kita untuk memasukkan kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan untuk menawarkan kepada kita masuk ke dalam Gereja-Nya.”
Iman kepercayaan merupakan sebuah perjalanan. Dan perjalanan itu bergerak keluar dari padang gurun kehidupan, yang diwarnai kekosongan dan kekeringan karena dosa-dosa, menuju kepada persahabatan dengan Yesus, Putera Allah. Dialah Sang Pemberi kehidupan; bahkan Dialah Sang Pemberi kehidupan yang berlimpah.
Betapa penting kita menemukan kembali iman kepercayaan kita. Mengapa? Pertama, Iman itu memberikan pencerahan lebih jelas mengapa kita hidup dalam kegembiraan dan semangat yang berkobar-kobar. Harus kita akui bahwa hanya dalam iman atau persekutuan dengan Yesus Kristus seseorang akan mengalami kegembiraan sejati dan hidup dalam semangat yang penuh. Kedua, iman kita tak jarang mengalami krisis. Tak jarang karena dikuasai oleh materialisme, hedonisme dan egoisme kita menjadi garam yang tawar dan pelita yang ditaruh di bawah gantang.
Memang, ketika dipermandikan kita telah memiliki Iman dan menyatakan iman itu dengan lantang. Namun, benarlah apa yang dikatakan oleh Santo Agustinus dalam sebuah homili kepada umatnya:
“Kalian telah menerima iman, namun kalian harus tetap memeliharanya di dalam akal budi dan hati sanubari kalian; kalian harus tetap mengulang-ulangnya di ranjang tempat tidur kalian, tetap mengingat-ingatnya di pasar-pasar, tidak melupakannya sementara kalian makan-
makan; bahkan ketika kalian sedang tidur pun kalian harus tetap memperhatikannya dengan hati kalian.”

  1. III.Pengakuan Iman, Pembaharuan Diri dan Evangelisasi
Dalam Tahun Iman ini, kita ingin menemukan kembali iman kepercayaan kita. Apakah yang merupakan tanda-tanda bahwa kita sudah menemukan kembali iman kepercayaan kita? Ada tiga tanda, yang dapat kami sebut:

  1. 1.Pengakuan iman
Dalam hal pengakuan iman, kita harus mengambil contoh pada Rasul Petrus dan Paulus. Hendaknya kita melaksanakan pengakuan iman baik secara pribadi, maupun secara bersama-sama. Pengakuan iman itu juga hendaknya dilaksanakan secara bebas, namun bertanggung jawab, baik secara lahiriah, maupun secara batiniah, baik secara rendah hati, maupun secara terus terang.

  1. 2.Pembaharuan diri
Memang, seorang beriman adalah suci, namun sekaligus harus selalu dibersihkan dan terus menerus menjalankan pertobatan atau pembaharuan diri.
Tahun Iman ini adalah saat yang istimewa untuk melaksanakan pertobatan yakni “kembali kepada Tuhan, satu-satunya Juruselamat melalui pengakuan dosa dan kemudian masuk dalam kepenuhan kasih Allah yang menyelamatkan, atau masuk dalam kehidupan baru”.
Dalam kehidupan baru itu, pikiran, perasaan, mentalita dan perilaku kita sedikit demi sedikit dimurnikan dan mengalami transformasi.

  1. 3.Evangelisasi
Seorang beriman yang telah menemukan kembali imannya, dengan sendirinya melaksanakan Evangelisasi atau pewartaan. Kasih Kristus mendorong orang beriman untuk menjalankan pewartaan (bdk. 2Kor. 5:14). Ke lorong-lorong dunia Yesus mengutus kita untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di bumi (bdk. Mat. 28:16).
Memang, tak gampang untuk melaksanakan evangelisasi atau pewartaan. Namun, janganlah takut. Kita Gereja memperoleh kekuatan dan kegairahan, yang tak pernah pudar, dari penemuan kembali akan kasih Allah dari hari ke hari.

  1. IV.Beberapa Ajakan bagi Pelaksanaan Tahun Iman
    1. 1.Marilah kita memandang Yesus Kristus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan (bdk. Ibr. 12:2).
    2. 2.Marilah kita mengikuti teladan Bunda Maria dalam hal beriman.
    3. 3.Marilah kita mengikuti contoh Para Rasul dalam hal beriman. Demi iman, Para Rasul telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Tuhan Yesus (bdk. Mat. 10:28).
    4. 4.Marilah kita meneladan Para Kudus dalam Gereja. Demi iman, Para Kudus itu telah membaktikan hidup mereka kepada Kristus.
    5. 5.Marilah kita memberikan kesaksian iman kita dengan amal kasih yang lebih intensif. Iman tanpa kasih tak akan menghasilkan buah, sedangkan kasih tanpa iman hanya akan merupakan sebuah perasaan, yang senantiasa berada di bawah kuasa kebimbangan.
    6. 6.Akhirnya, marilah kita mengejar iman kepercayaan dengan kesetiaan (bdk. 2Tim. 2:22). Janganlah ada di antara kita, yang bersikap malas di dalam beriman.

Umat yang terkasih, semoga dalam Tahun Iman ini hubungan kita dengan Kristus, Tuhan, semakin bertambah erat dan kuat. Kita percaya dengan kepastian yang kokoh bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan dan kematian.
Kepada anda sekalian, umat yang terkasih, saya ucapkan “Selamat menjalankan Tahun Iman ini”.

                                                                   Ambon, 18 September 2012.

Hormat dan salamku,
Mgr. P.C. Mandagi, MSC,
Uskupmu.