Senin, 15 Oktober 2012 Peringatan Wajib Sta. Teresia dari Avila, Perawan dan Pujangga Gereja

Senin, 15 Oktober 2012
Peringatan Wajib Sta. Teresia dari Avila, Perawan dan Pujangga Gereja


Doa tidak lain dari satu pergaulan yang sangat ramah, di mana kita seringkali berbicara seorang diri dengan Dia, tentang Siapa, kita tahu bahwa Ia mencintai kita. --- St Teresia dari Avila

Antifon Pembuka (Mzm 41:2-3)

Bagaikan rusa merindukan air, demikianlah hatiku rindu pada-Mu, ya Allah. Hatiku haus akan Allah, Allah yang hidup.

Doa Pagi


Allah Bapa kami, dengan perantaraan Yesus Putra-Mu, Engkau telah memanggil semua orang agar bertobat dan percaya kepada Injil. Kami mohon, jauhkanlah kami dari dosa-dosa, berilah kami keberanian untuk menanggapi panggilan-Mu dan menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Yesus, Putra-Mu, Tuhan kami. Amin.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (4:22-24.26-27.31-5:1)

"Kita ini bukanlah anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka."

Saudara-saudara, ada tertulis bahwa Abraham mempunyai dua orang anak, seorang dari wanita yang menjadi hambanya dan seorang dari wanita yang merdeka. Tetapi anak dari wanita yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging, dan anak dari wanita yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua wanita itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari Gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, yaitu Hagar. Tetapi yang lain adalah Yerusalem surgawi, yaitu wanita yang merdeka, ibu kita. Karena ada tertulis, "Bersukacitalah, hai wanita mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai wanita yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab wanita yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai anak lebih banyak daripada yang bersuami." Karena itu, Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak dari wanita hamba melainkan anak-anak dari wanita yang merdeka. Sebab Kristus telah memerdekakan kita, supaya kita benar-benar merdeka. Karena itu berdirilah teguh dan jangan tunduk lagi di bawah perhambaan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
Ayat. (Mzm 113:1-2.3-4.5a.6-7)
1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
3. Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Hari ini dengarkanlah suara Tuhan, dan janganlah bertegar hati.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:29-32)

"Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus."

Sekali peristiwa Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia, "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini. Pada waktu penghakiman ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Salomo! Pada waktu penghakiman orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Yunus!"
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Pesan kekristenan yang menonjol adalah ajakan untuk bertobat. Secara terus-menerus orang diajak untuk bertobat agar orang senantiasa ingat bahwa Kristus telah membebaskan manusia dari kuk perhambaan. Artinya, orang sudah merdeka, tidak terbelenggu dosa lagi. Menjadi sangat ironis kalau orang yang sudah dibebaskan, malah kemudian mau menjadi terbelenggu lagi. Maka, ajakan pertobatan sebenarnya juga berisi ajakan untuk tidak kembali lagi kepada belenggu dosa itu. Tetapi, toh kalau kemudian tetap jatuh dalam dosa yang sama, orang akan selalu ditarik lagi dari lubang dosa itu. Justru karena itulah ajakan pertobatan itu selalu dikumandangkan. Meskipun begitu, kadang orang berpura-pura tidak mendengarkan ajakan itu dan sulit bertobat.

Memang bertobat bukanlah perkara mudah. Yang paling dibutuhkan dalam proses ini adalah kehendak yang kuat untuk berubah. Selain itu, juga perlu kesadaran bahwa pertobatan sejati tidak membutuhkan syarat-syarat atau tanda-tanda tertentu. Misalnya, ”Saya mau bertobat kalau.....” Yang pokok dan terpenting adalah orang tersebut mau bertobat. Kalau orang mau, entah ada tanda atau tidak, orang akan tetap bertobat. Tetapi, meskipun ada banyak tanda, kalau orang tidak ada kemauan bertobat, pertobatan itu juga tidak akan pernah terjadi. Bahkan boleh dikatakan, jika ada orang yang menuntut tanda untuk pertobatannya, yang sebenarnya terjadi adalah ia hanya mencari dalih agar tidak perlu bertobat.

Doa: Tuhan, ampunilah aku karena kadang hanya mencari-cari alasan saja agar tidak perlu bertobat. Bantu aku agar aku mau merendahkan diri, menyesali segala kesalahan dan dosaku di hadapan-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian

Bacaan Harian 15 - 21 Oktober 2012

Bacaan Harian 15 - 21 Oktober 2012

Senin, 15 Oktober: Peringatan Wajib Sta. Teresia dari Avila, Perawan dan Pujangga Gereja (P).
Gal 4:22-24,26-27,31-5:1; Mzm 11 3:1-2.3-4.5a.6-7; Luk 11:29-32.

Iman sejati itu menyerahkan diri secara total kepada Allah. Ia tidak lagi memerlukan tanda fisik yang spektakuler. Allah sudah menganugerahkan Tanda sejati, yaitu Yesus Kristus, Anak tunggal-Nya. Kebangkitan-Nya dari alam maut menjadi Tanda keselamatan Allah yang nyata. Orang yang tekun bertobat akan mampu menghayati imannya dengan penuh sukacita.

Selasa, 16 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVIII (H).

Gal 4:31b-5:6; Mzm 119:41.43.44.45.47.48; Luk 11:37-41.

Keserasian antara lahir dan batin, yang di dalam dan di luar, antara hati dan perilaku sangat menentukan kehidupan pribadi. Yesus menghendaki para murid-Nya hidup dalam keserasian tersebut.

Rabu, 17 Oktober: Peringatan Wajib St. Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir (M).

Flp 3:17-4:1; Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh 12:24-26.

Mengikuti Yesus berarti melayani. Sebab pelayanan adalah buah dari iman akan Yesus yang melayani. Oleh karena itu, kepenuhan hidup orang beriman terpenuhi dalam pelayanan.

Kamis, 18 Oktober: Pesta St. Lukas, Penginjil (M).

2Tim 4:10-17b; Mzm 145:10-11.12-13ab.17-18; Luk 10:1-9.

Yesus mengutus para murid-Nya, "Pergilah,sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala." Siapakah murid Yesus? Kitalah murid-murid Yesus, jadi perintah ini berlaku untuk kita. Kemana kita diutus pergi? Apakah mesti keluar kampung? Keluar pulau? Keluar negeri? Yesus mengutus kita ‘pergi' ke setiap tempat yang hendak kita kunjungi. Jadi kalau hendak bekerja di kantor, ya ke kantorlah kita diutus untuk memberikan damai sejahtera, kalau hendak ke dapur ya ke dapurlah kita memberikan damai sejahtera.

Jumat, 19 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVIII (H).

Ef 1:11-14; Mzm 33:1-2.4-5.12-13; Luk 12:1-7.

Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan secara ringkas namun padat beberapa nasehat kepada para murid-Nya. Nasehat-nasehat itu untuk membesarkan hati mereka yang tampaknya masih takut atau belum cukup percaya diri sebagai rasul/utusan. Salah satu hal terpenting untuk dimiliki oleh seorang utusan adalah menjaga kesesuaian antara kata/ajaran dan perbuatannya. Kesesuaian inilah yang akan memenangkan hati orang-orang yang mendengarkan pewartaan mereka. Dengan kata lain, jangan sampai terjadi orang menilai mereka sebagai pewarta atau orang-orang yang munafik.

Sabtu, 20 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVIII (H).

Ef 1:15-23; Mzm 8:2-3a.4-5.6-7; Luk 12:8-12.

Sebagai murid Kristus, agar terus tumbuh dan berkembang sebagai pribadi beriman, kita hendaknya mendengarkan dengan baik semua ajaran-Nya dan mencermati setiap informasi yang disampaikan kepada kita. Mendengarkan (to listen) berbeda dengan mendengar (to hear). Mendengarkan berarti mengerahkan dan membuka hati, jiwa, akal budi, dan tubuh sepenuhnya kepada apa yang harus didengarkan, dan untuk itu memang dibutuhkan kerendahan hati. Maka, karena begitu dominannya peran mendengarkan dalam pembentukan pribadi manusia, hendaknya kata-kata kita bermanfaat bagi sesama yang berkehendak untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi cerdas dalam beriman. Semua itu kita laksanakan agar "Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya" (Ef 1:18).

Minggu, 21 Oktober: Hari Minggu Biasa XXIX (H).

Hari Minggu Evangelisasi
Yes 53:10-11; Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Ibr 4:14-16; Mrk 10:35-45 (Mrk 10:42-45).

Orang yang melayani itu harus berani berkurban. “Biarlah ia makin besar, aku makin kecil” adalah prinsip pelayanan Yohanes Pembaptis. Para murid Yesus juga mesti meneladan sang Guru untuk melayani sesama. Sanggupkah kita menyediakan waktu, tenaga, pikiran, atau uang untuk sesama yang sedang menderita? Kasih dan pengurbanan kita akan menentukan nasib kita kelak setelah dipanggil Tuhan.

MINGGU BIASA XXVIII/B – Minggu, 14 Oktober 2012



MINGGU BIASA XXVIII/B – Minggu, 14 Oktober 2012
Keb 7:7-11; Ibr 7:12-13; Mrk 10:17-30

Tanggal 11 Oktober 2012 kemarin, baru saja dibuka Tahun Iman dan akan terus berlangsung sampai 24 November 2013 yang akan datang. Selama Tahun Iman, kita diajak meneladan wanita Samaria untuk pergi ke sumur dan menimba air kehidupan, tidak hanya sekali namun berkali-kali. Salah satu sumur, di mana kita setiap saat bisa menimba air kehidupan adalah Kitab Suci. Setiap kali kita membaca dan merenungkan isinya, kita akan selalu mendapatkan inspirasi, terang, dan pencerahan yang menuntun kita di jalan yang benar untuk menuju dan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Maka, kita diajak untuk sesering mungkin pergi ke sumur iman kita, yakni Kitab Suci dan menimba kekayaan iman di dalamnya. Pesan dan ajakan ini ditegaskan oleh bacaan-bacaan hari ini.

Bacaan kedua (Ibr 4:12-13) menegaskan bahwa Firman Tuhan itu hidup dan kuat, sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (ay.12). Dengan kata lain, Firman Tuhan adalah sumber kebijaksanaan yang harus kita cintai. Menurut bacaan pertama (Keb 7:7-11) kebijaksanaan itu harus kita kasihi dan kita “utamanakan lebih daripada tongkat kerajaan dan tahta; ... kekayaan, ... permata, ... emas, ... perak; kesehatan dan keelokan rupa” (ay. 8.9.10). Kalau kita berani seperti Salomo, yaitu mengutamakan kebijaksanaan hidup, pasti harta duniawi datang dengan sendirinya (1Raj 3:11-14).

Kebijaksanaan hidup seperti ini, kalau kita terapkan dalam hidup sehari-hari, salah satunya bermakna demikian: Kita hidup dan bekerja, bukan pertama-tama dan semata-mata untuk mendapat harta kekayaan dan menumpuknya tetapi terutama untuk mengabdi Tuhan dan melayani sesama. Sikap hidup seperti ini akan membuat kita lebih mudah bersyukur atas apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita, entah banyak entah sedikit. Kita juga tidak akan “ngaya” untuk mendapatkan dan menumpuk harta sebanyak mungkin, sehingga terhindar dari cara-cara yang tidak benar. Kita juga tidak mudah iri hati atas apa yang diperoleh orang lain tetapi justru ikut mensyukurinya. Dan yang lebih penting, kita akan lebih mudah dan rela berbagi atas apa yang kita miliki kepada orang-orang yang membutuhkan.

Sikap berbagi inilah yang dituntut oleh Yesus dan merupakan syarat untuk masuk Kerajaan Allah dan mendapatkan harta di surga. Memang, sikap menjadi seperti anak kecil – artinya pasrah dan mengandalkan diri secara penuh kepada Tuhan, seperti seorang anak yang pasrah dan mengandalkan diri pada orangtuanya, sebagaimana diuraikan dalam Injil Minggu lalu (Mrk 10:2-16), itu penting. Hal ini harus menjadi sikap dasar iman kita. Namun, itu saja tidak cukup. Pasrah dan mengandalkan Tuhan, tidak berarti kita hanya diam saja dan tidak berbuat apa-apa, tetapi kita harus aktif dan berusaha. Maka, Yesus meminta kita, “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Maka, engkau akan memperoleh harta di surga. Kemudian datanglah kemari dan mengikuti Aku” (Mrk 10:21).

Dalam Injil hari ini, hal masuk Kerajaan Allah atau memperoleh harta di surga, dikaitkan dengan sikap lepas bebas, tidak terlekat pada harta milik tetapi rela dan mau berbagi harta milik atau kekayaan. Orang yang rela berbagi harta milik kepada orang-orang miskin adalah orang-orang yang merintis jalan ke surga dan akan memasuki Kerajaan Allah. Sebaliknya, orang yang tidak mau berbagi harta milik berarti pergi menjauh dari Kerajaan Allah seperti yang dilakukan pemuda kaya dalam Injil tadi (Mrk 10:22).

Kita masing-masing, entah banyak atau sedikit, entah besar atau kecil, pasti mempunyai harta kekayaan. Wujudnya tidak selalu uang atau barang tetapi bisa berupa bakat, keterampilan, atau keutamaan tertentu. Atas apa yang kita miliki, atau lebih tepatnya atas apa pun yang dianugerahkan Tuhan untuk menjadi milik kita, marilah kita syukuri. Bersyukur berarti kita mengarahkan pandangan ke surga. Namun, supaya kita tidak hanya memandang saja tetapi diperkenankan masuk ke dalamnya, kita harus rela berbagi. Kemauan untuk berbagi ini tidak usah menunggu sampai kita mempunyai harta melimpah. Ingat, persembahan janda yang memberi dari kekurangannya (Luk 21:2-4).

Meskipun demikian, perihal masuk Kerajaan Allah dan hidup kekal itu tidak bisa diklaim sebagai usaha kita tetapi mutlak anugerah Tuhan. Dengan usaha dan kekuatan sendiri, kita tidak mungkin mendapatkannya. Mengapa? Sedikit saja kita berbuat baik, ternyata kita lebih banyak berbuat dosa. Kita ber-amal sedikit saja, ngomel-nya jauh lebih banyak. Sedikit saja kita memberi, ternyata Tuhan jauh lebih banyak memberi kepada kita. Maka, sampai kapan pun usaha kita tidak akan cukup untuk masuk surga. Kita pun bertanya seperti para murid, “Kalau Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus pun memandang kita yang telah berusaha hidup bijaksana, penuh syukur dan rela berbagi ini sambil berkata, “Bagi manusia, hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab, bagi Allah, segala sesuatu adalah mungkin”. Termasuk membuat kita yang tidak mungkin selamat ini menjadi selamat.

Untung dan syukur, Tuhan itu mahabaik. Kalau Tuhan kita begitu baik, lantas bagaimana sikap dan tanggapan kita? 

RD. Ag. Agus Widodo

Minggu, 14 Oktober 2012 Hari Minggu Biasa XXVIII/B

Minggu, 14 Oktober 2012
Hari Minggu Biasa XXVIII/B

Perayaan hari Minggu yakni hari Tuhan dan Ekaristi-Nya merupakan pusat kehidupan Gereja ---- Katekismus Gereja Katolik, 2177


Antifon Pembuka (Mzm 130:3-4)

Jika Engkau ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, siapakah yang dapat bertahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan.

Doa Pagi


Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, bagi orang yang benar-benar menaruh cinta kasih kepada-Mu dan kepada sesama, maka iman adalah keuntungan yang amat besar, harta benda yang tak ternilai. Kami mohon berilah kebebasan sejati, yang tak terikat oleh kehormatan atau pun kekayaan. Curahkanlah kebijaksanaan-Mu yang luhur kepada kami, agar kami berani mengorbankan segalanya dan mengikuti Yesus Kristus, Putra-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (7:7-11)

"Dibandingkan dengan roh kebijaksanaan, kekayaan kuanggap bukan apa-apa."

Aku berdoa, dan aku pun diberi pengertian, aku bermohon, dan roh kebijaksanaan pun datang kepadaku. Dialah yang lebih kuutamakan daripada tongkat kerajaan dan takhta; dibandingkan dengannya, kekayaan kuanggap bukan apa-apa. Permata yang tak terhingga nilainya tidak kusamakan dengan dia, sebab segala emas di bumi hanya pasir saja di hadapannya, dan perak dianggap lumpur belaka di sampingnya. Kebijaksanaan kukasihi lebih daripada kesehatan dan keelokan rupa, dan aku lebih suka memiliki dia daripada cahaya, sebab kemilaunya tak kunjung henti. Namun demikian besertanya datang pula kepadaku segala harta milik, dan kekayaan yang tak terpemanai ada di tangannya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, la = fis, PS 846
Ref. Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera
Ayat. (Mzm 90:12-13.14-15.16-17)

1. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, berapa lama lagi? Dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
2. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat. Buatlah sukacita kami seimbang dengan dukacita di masa lalu, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.
3. Biarlah hamba-hamba-Mu menyaksikan perbuatan-Mu, biarlah anak-anak mereka menyaksikan semarak-Mu. Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas bumi! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah!

Bacaan dari Surat Kepada Orang Ibrani (4:12-13)


"Firman Allah sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."

Saudara-saudara, firman Allah itu hidup dan kuat, lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun! Firman itu menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum! Firman itu sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do= f, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 5:3)
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (10:17-30)
(Singkat: 10:17-27)

"Juallah apa yang kaumiliki, lalu ikutlah Aku!"

(Pada suatu hari Yesus berangkat meneruskan perjalanan-Nya. Maka datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain Allah! Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta dan jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah dan ibumu!" Kata orang itu kepada Yesus, "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, "Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Maka engkau akan beroleh harta di surga. Kemudian datanglah ke mari, dan ikutlah Aku." Mendengar perkataan Yesus, orang itu menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyaklah hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." Murid-murid tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi, "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Para murid semakin gempar dan berkata seorang kepada yang lain, "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata, "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin!") Lalu berkatalah Petrus kepada Yesus, "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Maka Yesus menjawab, "Sungguh, Aku berkata kepadamu, barangsiapa, karena Aku dan karena Injil, meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak-anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan; dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
 
Renungan

Pada era kemajuan sarana-prasarana teknologi canggih yang terus bertumbuh dan berkembang saat ini, antara lain sarana komunikasi seperti tilpon/HP atau internet, kiranya segala sesuatu ingin diselesaikan dengan seccpat mungkin. Maka mau tak mau hal itu juga mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak manusia, yaitu ingin ‘cepat-cepat sukses atau menikmati sesuatu, dst.’, misalnya cepat-cepat menerima ijazah kemudian membeli nilai atau menyontek, cepat-cepat ingin kaya maka kemudian melakukan korupsi seenaknya, cepat-cepat naik pangkat dan golongan atau jabatan kemudian melakukan KKN, cepat-cepat ingin menikmati kegairahan seksual kemudian meskipun masih remaja atau muda-mudi melakukan hubungan seks bebas yang berdampak kehamilan dan kemudian melakukan aborsi, dst.. Yang kiranya marak pada masa kini adalah cepat-cepat menikmati makanan atau minuman, dan untuk itu senantiasa mengkonsumsi makanan dan minuman instant dalam kemasan. Penelitian menunjukkan bahwa karena begitu banyak mengkonsumsi (kalau tidak boleh dikatakan sebagai menu sehari-hari) makanan dan minuman instant maka daya tahan fisik melemah alias tidak memiliki kebugaran dan kesehatan fisik/tubuh yang handal dan tahan terhadap aneka serangan virus penyakit. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak mengikuti proses sebagaimana dikehendaki oleh Allah.

"Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 10:24-25).

“Masuk ke dalam Kerajaan Allah” berarti hidup dan bertindak sesuai dengan perintah dan kehendak Allah, tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera pribadi atau keinginan sendiri. Kebanyakan orang masa kini adalah hidup dan bertindak mengikuti selera atau keinginan pribadi, cari seenaknya sendiri; aneka aturan atau tata tertib berhenti dalam tulisan dan tidak pernah dilakukan atau dihayati, sebagaimana dapat kita saksikan di jalanan dimana para pengendara kurang atau tidak mentaati rambu-rambu lalu lintas. Demikian juga banyak orang telah melanggar perjanjian atau ikrar yang telah diucapkan, misalnya janji baptis, janji perkawinan, kaul, janji/sumpah pegawai atau jabatan dst..

“Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup bahagia, damai sejahtera orang harus siap sedia berkorban dan berjuang, demikian kata peribahasa Jawa. Peribahasa ini kiranya merupakan suatu ajakan bagi kita semua untuk hidup dan bertindak mengikuti proses sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Marilah kita lihat dan cermati bahwa tanaman atau binatang yang hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan proses alamiah lebih sehat dan segar daripada yang perkembangan dan pertumbuhannya diintervensi dengan obat atau vitamin buatan. Sebagai contoh ayam kampung yang tumbuh berkembang secara alamiah meskipun kecil lebih mahal dan berkualitas daripada ayam piaraan dikandang yang dibesarkan dengan suntikan hormon maupun makanan-makanan instant.

Kepada para pelajar atau peserta didik kami harapkan berusaha menjadi pandai atau cerdas dengan berproses seperti biasa saja, artinya belajar terus menerus, tidak hanya belajar menjelang ulangan atau ujian, demikian juga dalam hal mengusahakan keterampilan hendaknya mulai dari yang sederhana kemudian berkembang ke yang lebih sulit dan akhirnya yang sulit dan berbelit-belit. Kepada mereka yang ingin kaya hendaknya lebih mengandalkan pada keterampilan, kecakapan dan kemampuannya, tidak melakukan korupsi sedikitpun dan dalam bentuk apapun.

Kita juga diingatkan bahwa ‘bersama dan bersatu dengan Allah’ pekerjaan atau tugas sesulit dan seberat apapun pasti akan dapat kita lakukan, karena bersama dan bersatu denganNya segala sesuatu mungkin dapat dilakukan. Tumbuh berkembang menjadi pribadi yang cerdas spiritual, beriman dan bermoral memang tidak mudah dan harus menghadapi aneka macam bentuk tantangan, hambatan maupun masalah yang berat dan sulit. Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang siap sedia bekerja keras dengan membaktikan diri sepenuhnya kepada tugas dan pekerjaan serta Penyelenggaraan Ilahi senantiasa sukses menyelesaikan tugas atau pekerjaan sesulit dan seberat apapun. Hidup baik, suci dan berbudi pekerti luhur di era kemerosotan moral masa kini tetap mungkin jika kita usahakan bersama dan bersatu dengan Tuhan. Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup dan tugas kita jika kita membuka diri terhadap-Nya.

“Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr 4:12-13)

Kutipan di atas ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dan bertindak berpedoman pada firman atau sabda Tuhan, antara lain sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Marilah kita ingat dan sadari serta tentu saja kita tiru bahwa para santo-santa semasa hidupnya senantiasa berpedoman pada sabda Tuhan, yang kemudian juga diikuti oleh para gembala kita, paus maupun uskup, dan juga para imam, dimana para gembala kita memiliki motto pelayanan dan perjalanan panggilan dari ayat-ayat Kitab Suci. “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita”, demikian peringatan bagi kita semua.

Dalam kenyataan sehari-hari sering terjadi bahwa kata-kata teman atau saudara sendiri lebih kuat dan tajam daripada firman atau sabda Allah. Hal ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan kurang atau tidak beriman. Kami berharap kepada segenap umat beriman atau beragama untuk setiap hari membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, dan temukan ayat yang mengesan serta selanjutnya jadikan pedoman atau pegangan perjalanan hidup dan panggilan anda. Tentu saja ayat tersebut sesuai dengan pengalaman iman atau perjalanan hidup anda. Sebagai contoh ketika menjelang ditahbiskan imam saya menemukan ayat Kitab Suci “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef 3:12). Yang tercetak dengan tebal inilah yang menjadi motto penghayatan imamat saya sampai sekarang.

“Maka itu aku berdoa dan akupun diberi pengertian, aku bermohon lalu roh kebijaksanaan datang kepadaku. Dialah yang lebih kuutamakan dari pada tongkat kerajaan dan takhta, dan dibandingkan dengannya kekayaan kuanggap bukan apa-apa.Permata yang tak terhingga nilainya tidak kusamakan dengan dia, sebab segala emas di bumi hanya pasir saja di hadapannya dan perak dianggap lumpur belaka di sampingnya.Ia kukasihi lebih dari kesehatan dan keelokan rupa, dan aku lebih suka memiliki dia dari pada cahaya, sebab kilau dari padanya tidak kunjung hentinya.” (Keb 7:7-10). Hidup dan bertindak ‘dalam Dia/Allah’ memang tak terlepas dari doa. Dengan kata lain saya mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan doa-doa harian sebagai umat beriman atau beragama. Hadapi dan sikapi aneka tugas, pekerjaan, masalah, tantangan dan beban dalam dan dengan doa alias bersama dan bersatu dengan Allah, karena dengan demikian pasti akan dapat kita laksanakan dengan baik dan sukses.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya TUHAN -- berapa lama lagi? -- dan sayangilah hamba-hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celak “ (Mzm 90:12-15)

Rm. Ign. Sumarya, SJ - 14 Oktober 2012

Kobus: Orang kaya model gini (Mrk 10:17-30)




silahkan klik gambar untuk memperbesar