Kobus: 11 November 2012




silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 11 November 2012 Hari Minggu Biasa XXXII

Minggu, 11 November 2012
Hari Minggu Biasa XXXII
Peringatan St. Martinus dari Tours, Uskup 

Sebagai orang yang telah dipuaskan dengan tubuh-Nya di dalam Ekaristi, kita sudah termasuk Tubuh Kristus --- Katekismus Gereja Katolik, 1003

Antifon Pembuka (Mzm 88:3)

Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku.

Doa Pagi

Allah Bapa yang mahakuasa dan mahamulia, orang kecil selalu dapat menghadap Engkau, dan orang yang terampas hak wewenangnya selalu Kaulindungi. Kami mohon, berilah kami hati sederhana; perkenankanlah kami mendekati siapa pun yang memerlukan bantuan. Anugerahilah kami keberanian dan kerelaan hati untuk membagi satu sama lain segala yang Kaupercayakan kepada kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Pertama Raja-raja (1Raj 17:10-16)
  
"Janda itu membuat sepotong roti bundar kecil dan memberikannya kepada Elia."
 
Sekali peristiwa Nabi Elia bersiap-siap, lalu pergi ke Sarfat. Ketika ia tiba di dekat gerbang kota itu, tampaklah seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Elia berseru kepada perempuan itu, “Cobalah, ambilkan aku sedikit air dalam kendi untuk kuminum!” Ketika perempuan itu pergi mengambil air, Elia berseru lagi, “Cobalah juga bagiku sepotong roti!” Perempuan itu menjawab, “Demi Tuhan, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, sebentar lagi aku pulang dan mengolanya bagiku dan bagi anakku, dan setelah memakannya, maka kami akan mati.” Tetapi Elia berkata kepadanya, “Janganlah takut, pulanglah, dan buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku; kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel. Tepung dalam tempayan itu takkan habis, dan minyak dalam buli-buli itu pun takkan berkurang sampai tiba waktunya Tuhan menurunkan hujan ke atas muka bumi.” Maka pergilah perempuan itu, berbuat seperti yang dikatakan oleh Elia. Maka Elia, perempuan itu dan anaknya mendapat makanan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang sesuai dengan firman Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do=a, 2/2, PS 863
Ref. Pujilah Tuhan, hai umat Allah, Pujilah Tuhan, hai umat Allah.
Ayat. (Mzm 146:7.8-9a.9bc-10, Ul:2b)
1. Dialah yang menegakkan keadilan, bagi orang yang diperas, dan memberikan roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.
2. Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar, Tuhan menjaga orang-orang asing.
3. Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun temurun.

Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (9:24-28)
 
"Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang."
  
Saudara-saudara, Kristus telah masuk ke dalam tempat kudus bukan yang buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran dari tempat kudus yang sejati, tetapi ke dalam surga sendiri, untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. Ia pun tidak berulang-ulang masuk untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagaimana Imam Agung setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus mempersembahkan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab kalau demikian Kristus harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang ternyata, pada zaman akhir ini, Ia hanya satu kali saja menyatakan diri untuk menghapus dosa lewat kurban-Nya. Seperti manusia ditetapkan Allah untuk mati hanya satu kali, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957.
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mat 5:3)
Berbahagialah yang hidup miskin terdorong oleh karena Roh Kudus, sebab bagi merekalah kerajaan Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:38-44)
  
"Janda miskin ini telah memberi lebih banyak daripada semua orang lain."

Pada suatu hari, dalam pengajaran-Nya, Yesus berkata kepada orang banyak, “Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat! Mereka suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar. Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka mencaplok rumah janda-janda sambil mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” Pada suatu hari lain, sambil duduk berhadapan dengan peti persembahan, Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda miskin. Ia memasukkan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya; semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Kebesaran pemberian seseorang sering diukur menurut nilai uang. Penyumbang besar akan bisa menaruh namanya dalam benda yang didapat berkat sumbangan dana darinya. Seluruh dunia pun akan bisa membaca namanya dan berdecak kagum. Kita pun lupa, bahwa secara tersembunyi ada sekian banyak penyumbang yang dengan segala keterbatasannya ikut berjasa. Orang-orang inilah yang dalam memberi sungguh melibatkan seluruh hati dan hidupnya. Dengan memberi, mereka memberi sepotong hidup mereka.

Maka bukan besar kecilnya pemberian menurut nilai uang, tetapi besar kecilnya keterlibatan hati dan hidup kita dalam memberi. Pemberian sederhana dalam bentuk air minum dan roti justru dipandang oleh Tuhan sebagai pemberian luar biasa. Karena itulah mukjizat besar terus mengalir. Yesus pun memberikan diri-Nya secara total, dan dari sana pula mengalir mukjizat kehidupan untuk kita. Tindakan baik yang kita lakukan sebagai sebuah pertunjukan sungguh menjijikkan di mata Tuhan.

Yesus, aku persembahkan hatiku yang paling dalam kepada-Mu. Aku ingin agar seluruh hidupku menjadi persembahan pujian bagi kebesaran nama-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian

HARI MINGGU BIASA XXXII/B - 11 Nopember 2012

HARI MINGGU BIASA XXXII/B - 11 Nopember 2012
1Raj 17:10-16; Ibr 9:24-28; Mrk 12:38-44
Dua dari tiga bacaan hari ini, yakni bacaan pertama dan Injil berkisah tentang janda. Dalam bahasa Ibrani, kata janda disebut dengan istilah “alamah” yang maknanya dekat dengat kata “ilem”, artinya bisu. Hal ini sesuai dengan kondisi janda pada waktu itu. Dalam tradisi Yahudi, kaum wanita tidak diperhitungkan dan tidak diberi hak dalam kehidupan bersama (bdk. Mat 14:21). Dalam berumah tangga, ia tergantung sepenuhnya pada kaum lelaki, entah suami, anak lelaki atau saudara lelaki. Maka, kalau suaminya meninggal dan ia tidak mempunyai anak lelaki dewasa serta tidak mempunyai saudara yang mau menanggungnya, ia akan mengalami kesulitan untuk menopang hidupnya. Hidup sebatang kara, tidak diperhitungkan dan tidak diberi hak apa pun dalam masyarakat, ditambah lagi tidak ada yang menjamin kebutuhan hidupnya. Kalau ia mempunyai anak yang masih kecil, harus menghidupi anaknya seorang diri.
Mengingat kondisi janda yang begitu lemah ini, para janda berhak mendapatkan perlindungan dari masyarakat. Hukum Taurat dan Kitab para Nabi menegaskan bahwa para janda harus dilindungi, bukannya malah ditindas. Mereka berhak mendapat bantuan meteriil (Ul 14:29; Am 2:8). Pada saat panen, mereka mendapat bagian dari hasil panen (Ul 24:19-21). Bahkan, mereka juga mendapat perlindungan dari Tuhan Allah sendiri, tidak seorang pun boleh menindas mereka (Kel 22:22; Yes 1:17.23; 10:2). Tanggungjawab terhadap para janda yang lemah ini terus diperhatikan oleh Gereja Awal. Maka, para rasul memilih dan mengangkat tujuh orang yang secara khusus diutus untuk melayani para janda (bdk. Kis 6:1-7).
Dalam kondisi normal (seharusnya), para janda memang dilindungi. Namun tak jarang ada banyak orang yang tega mencari keuntungan material dari kelemahan dan kemiskinan mereka. Itulah yang seringkali dilakukan oleh para ahli Taurat. Misalnya, mereka seolah-olah membantu dan membela para janda tetapi menuntut bayaran. Mungkin juga mereka memintakan bantuan dari orang-orang kaya dan mengorganisir bantuan untuk para janda tersebut, tetapi mereka sendiri mengambil keuntungan. Tidak semua bantuan disalurkan kepada para janda tetapi sebagian (besar) diambil untuk dirinya sendiri. Tindakan-tindakan seperti inilah yang dikatakan oleh Yesus bahwa mereka “mencaplok rumah janda-janda” (Mrk 12:40).
Meskipun dalam banyak hal para janda mengalami situasi yang lemah, namun mereka toh masih bisa mempunyai kekuatan dalam hal iman. Inilah yang tampak dalam dua tokoh janda yang dikisahkan dalam bacaan pertama dan Injil hari ini. Kisah janda dalam Injil, yang memberikan persembahan dari kekurangannya, dari semua yang ada padanya, yakni seluruh nafkahnya, menunjukkan bahwa ia adalah orang yang beriman (Mrk 12:44). Kendati semua nafkahnya dipersembahkan sehingga ia tidak punya apa-apa lagi, ia tidak khawatir karena percaya akan pemeliharaan Tuhan. Hal yang sama dilakukan oleh seorang janda dari Sarfat yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Karena percaya pada penyelenggaraan dan pemeliharaan Allah, maka ia rela membagikan air dan roti sedikit yang dimilikinya untuk nabi Elia. Dan betul yang terjadi, kemurahan-hatinya dan kerelaannya untuk berbagi, tidak membuat apa yang dimilikinya habis tetapi malah terus ada karena Tuhan menjamin (1Raj 17:11-16). Maka, pesan pertama dari bacaan-bacaan hari ini adalah kita diajak meneladan sikap iman kedua janda ini. Kita diajak untuk percaya dan mengandalkan diri pada pemeliharaan Tuhan. Kendati kita terbatas dan lemah, itu bukan berarti kita tidak bisa memberi. Kita masih tetap bisa memberi persembahan dan berbagi dari kekurangan kita. Berbagi tidak akan membuat kita jatuh miskin tetapi justru akan semakin mempercaya dan menjadikan kita berlimpah berkat.
Pesan yang kedua kita ambil secara khusus dari apa yang dilakukan janda miskin dalam Injil. “Janda itu memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:44). Artinya, dengan memberi pesembahan tersebut, ia tidak mempunyai apa-apa lagi untuk menopang dan menjamin hidupnya. Bahkan, untuk makan setelah ia pulang dari Bait Allah pun sudah tidak ada. Kalau Yesus menyampaikan hal ini kepada para murid, tentunya Ia tidak hanya mengajak mereka untuk meneladan sikap janda miskin ini (pesan pertama tadi) tetapi lebih dari itu, Yesus mengajak para murid untuk berbuat sesuatu bagi di janda yang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi itu. Artinya, dengan mengingat warisan iman para leluhur yang menekankan kewajiban untuk memperhatikan para janda, Yesus mengasah kepekaan para murid dan para pendengar untuk berbelarasa terhadap para janda dan kaum miskin pada umumnya.
Menurut Mgr. Suharyo, kalau kisah janda miskin ini dimaknai sebagai tantangan untuk berbelarasa, maka kritik terhadap orang kaya yang memberikan persembahan dalam jumlah besar (Mrk 12:42) dapat dimaknai secara sama. Di telinga kita, seolah-olah Yesus berkata: “kae lho, mbok randha kae wus ora duwe apa-apa. Kabeh barang darbeke wus dipisungsungake. Mosok, kowe mung arep meneng wae?” Lalu, kepada orang-orang kaya yang memberikan persembahan dalam jumlah besar, Yesus berkata: “tidak cukup kalian hanya memberikan persembahan dalam jumlah yang besar. Kamu harus juga berbelarasa dan berbelas kasih kepada orang-orang miskin yang tidak punya apa-apa, seperti si janda ini”.  Sapaan dan tantangan Yesus ini, tentunya menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu atas dasar belas kasih dan belarasa.
Dengan demikian, dua pesan diberikan kepada kita. Pertama, kita diajak untuk meneladan sikap iman janda miskin dengan mengandalkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga tidak ragu untuk memberi kendati kita sendiri berkekurangan. Kedua, kita diajak untuk berbelarasa dan berbelas kasih dengan berbuat sesuatu untuk para janda (= orang-orang miskin dan menderita).

RD. Ag. Agus Widodo