| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Hari Minggu Adven II/C - 9 Desember 2012



Hari Minggu Adven II/C
Bar 5:1-9; Flp 1:4-6.8-11; Luk 3:1-6

Salah satu hal yang biasanya (=harus) kita lakukan ketika akan menerima kunjungan dari Bapa Uskup, misalnya dalam rangka penerimaan Sakramen Penguatan, adalah bersih-bersih. Paling tidak, kita akan membersihkan kompleks Gereja dan Pastoran, serta tentu saja kamar dan kamar mandi yang akan dipakai oleh Bapa Uskup. Beberapa ruangan juga akan kita tata dan kita hias sedemikian rupa sehingga tampak rapi, bersih dan indah.

Sebentar lagi kita akan merayakan Natal, yakni perayaan kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Kita akan menerima kehadiran Tuhan, yang tentu saja jauh lebih Agung dibandingkan dengan Bapa Uskup. Maka, kalau menerima kunjungan Bapa Uskup saja kita bersih-bersih dan tata-tata, maka hal ini juga harus kita lakukan untuk menyambut kedatangan Tuhan. Bahkan, kita harus melakukannya lebih sungguh-sungguh karena yang akan kita sambut kedatangan-Nya adalah Tuhan sendiri.

Persiapan kita untuk menyambut kedatangan Tuhan, pertama-tama dan terutama adalah persiapan rohani, yakni membersihkan hati dan menata hidup kita. Inilah yang oleh St. Yohanes disampaikan dengan ajakan “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis!” (Luk 3:3). Dalam konteks pada masa itu, pembaptiskan dikaitkan dengan ritus pentahiran. Melalui baptis, seseorang dibasuh dan dibersihkan dari dosa-dosanya untuk kemudian membuka lembaran hidup yang baru, yakni hidup sebagai anak-anak Allah. Dalam konteks kita saat ini, kita semua sudah dibaptis dan sudah menjadi anak-anak Allah. Namun, kita menyadari bahwa meskipun kita sudah dibasuh dan dibersihkan dari dosa, kita masih sering melakukan dosa. Meskipun kita sudah diangkat menjadi anak Allah, sering/kadang kita meninggalkan Allah seperti anak yang hilang (Luk 15:11-32) atau domba yang tersesat (Luk 15:1-7). Dengan demikian, ajakan St. Yohanes untuk bertobat ini selalu relevan untuk kita.

Bertobat bukan sekedar kapok untuk berbuat dosa dan kesalahan, apalagi kalau alasannya hanya karena takut dihukum Tuhan. Memang, membersihkan diri dari dosa dan berusaha menghindari dosa merupakan salah satu aspek dari pertobatan. Akan tetapi, aspek terdalam dari pertobatan adalah berbalik kembali kepada Allah yang telah kita tinggalkan seperti kembalinya di anak hilang (Luk 15:11-32) dan membiarkan diri ditemukan oleh Tuhan serta dituntun-Nya kembali ke jalan yang benar seperti domba sesat yang ditemukan dan dipanggul-Nya untuk disatukan kembali dengan kawanan (Luk 15:1-7).

Usaha pertobatan tersebut dapat kita lakukan dengan mengikuti ajakan St. Yohanes: “Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya, setiap lembah akan ditimbun, setiap gunung dan bukit akan diratakan. Yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan” (Luk 3:4-5). Mengapa sebagai bentuk pertobatan kita harus menyiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskan jalan bagi-Nya? Ya, seperti yang dinyatakan di atas, bertobat berarti berjalan bersama Tuhan dan membiarkan diri dibimbing oleh-Nya (Sebaliknya, berdosa berarti berjalan bersama setan dan membiarkan diri dibimbing oleh setan). Dari pihak Tuhan sudah jelas, Ia telah membuka jalan bagi kita; Ia telah berkenan mendatangi kita. Sekarang, tinggal kita-nya. Supaya kita bisa berjumpa dengan Tuhan dan berjalan bersama-Nya, atau lebih tepat-Nya dibimbing oleh-Nya, kita harus mempersiapkan dan meluruskan jalan itu. Kalau selama ini jalan kita berliku-liku karena membuat banyak belokan dan menyimpang dari jalan Tuhan (Jw: tlencengan), mari kita luruskan dengan kembali ke jalan Tuhan. Kalau selama ini jalan kita banyak lubangnya, misalnya bolong-bolong dalam berdoa dan ber-Ekaristi, mari kita timbun dengan cara lebih tekun dan setia berdoa dan ber-Ekaristi. Kalau sikap dan tutur kata kita sering keladuk sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain, mari kita ratakan dengan lebih berhati-hati dalam sikap dan tutur kata.

Selain itu, pertobatan sebagai hidup bersama Tuhan dan membiarkan diri dibimbing oleh Tuhan, juga tampak dalam sikap dan usaha untuk bertekun megembangkan cinta kasih, cakap memilih apa yang baik, mengusahakan kekudusan, dan menghasilkan buah kebenaran (bdk. Fil 1:9-11). Dengan demikian, pertobatan bukan sekedar perubahan pikiran tetapi menuntut pula usaha yang nyata. Cinta kasih, jelas tidak cukup hanya dikatakan tetapi harus diwujudkan dalam tindakan memberi dan rela berkorban seperti yang dilakukan Allah sendiri. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Memilih apa yang baik juga merupakan tindakan konkret. Kita seringkali berhadapan dengan banyak pilihan yang tidak semuanya baik. Seringkali pilihan-pilihan yang tidak baik itu justru tampaknya lebih menarik, menggoda dan menggiurkan. Kalau kita membiarkan diri dibimbing oleh Tuhan, tentu kita akan memilih hanya yang baik dan mewujudkannya secara nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Usaha untuk selalu memilih dan melakukan yang baik ini akan membawa kita pada kesucian hidup dan pada akhirnya kita akan menghasilkan dan menikmati buah kebenaran. Nah, apakah buah dari kebenaran itu? Buah dari kebenaran adalah damai sejahtera (Bar 5:4).

Semoga, dengan usaha-usaha pertobatan yang konkret ini, hidup kita menjadi semakin bersih dan tertata, jalan hidup kita menjadi semakin rata dan lurus sehingga semakin pantas merayakan Natal. Dengan demikian, Natal yang merupakan peristiwa iman di mana Tuhan berkenan “menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14) sungguh-sungguh berbuah dalam kehidupan kita. Kita semakin jenak berjalan bersama Tuhan (bukan bersama setan) dan kita semakin membiarkan diri dibimbing oleh Tuhan (bukan oleh setan) sehingga mengalami damai sejahtera. Damai sejehtera dalam relasi dengan sesama sekaligus damai sejahtera dalam relasi kita dengan Tuhan.

RD. Ag. Agus Widodo

Kobus: 09 Desember 2012, bertobat dan dibaptis






silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 09 November 2012 Hari Minggu Adven II (C)

Minggu, 09 November 2012
Hari Minggu Adven II (C)

"Siapkanlah jalan Tuhan; inilah pewartaan Injil, penghiburan baru, dambaan besar, agar keselamatan Tuhan diketahui oleh semua manusia." (St. Eusebius dari Kaisaera


Antifon Pembuka (Yes 30:19.30))


Hai umat Sion, lihatlah, Tuhan akan datang menyelamatkan para bangsa. Ia akan memperdengarkan suara-Nya yang megah untuk menggembirakan hatimu.


Doa Pagi


Allah Bapa yang kekal, Engkau telah membuktikan kasih setia-Mu kepada manusia sepanjang zaman. Datanglah di tengah-tengah kami dan sampaikanlah sabda-Mu kepada kami. Baruilah hidup kami melalui Dia, yang membuka masa depan baru bagi kami, yaitu Yesus Kristus, Sang Adil, Al Masih yang dinantikan-nantikan. Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan dari Nubuat Barukh (5:1-9)

“Allah akan mempertunjukkan seri wajahmu.”

“Hai Yerusalem, hendaklah engkau menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu, lalu mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya. Hendaklah engkau berselubungkan kampuh kebenaran Allah, dan memasang di atas kepalamu tajuk kemuliaan dari Yang Kekal. Sebab di bawah kolong langit seri wajahmu akan dipertunjukkan oleh Allah. Dari pihak Allah engkau akan diberi nama abadi: damai Sejahtera – Hasil – Kebenaran dan Kemuliaan – Hasil – Takwa. Bangkitlah, hai Yerusalem, hendaklah engkau berdiri tegak di ketinggian! Tengoklah ke timur! Lihatlah anak-anakmu sudah berkumpul atas firman dari yang Kudus; mereka berkumpul dari tempat matahari terbenam sampai ke tempat terbitnya. Bersukarialah, karena Allah telah ingat kepada mereka. Memang dahulu mereka pergi dari padamu dengan berjalan kami, digiring oleh musuh. Tetapi kini mereka dikembalikan kepadamu oleh Allah. Mereka diusung dengan hormat seolah-olah di atas tandu kerajaan. Sebab Allah memerintahkan, supaya segala gunung yang tinggi dan segenap bukit abadi diratakan, supaya sekalian jurang ditimbun menjadi tanah yang rata. Dengan demikian Israel dapat berjalan dengan aman di bawah naungan kemuliaan Allah. Hutan rimba dan segala pohon yang harum semerbak pun menaungi Israel atas perintah Allah. Sebab Israel akan dituntun dengan sukacita oleh Allah, oleh cahaya kemuliaan-Nya, dan dengan belas kasihan serta kebenaran-Nya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu, karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; Ul: 1a)
1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini." Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak-sorai.
4. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (1:4-6.8-11)

“Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang Hari Kristus.”

Saudara-saudara, setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, bahwa Allah yang telah memulai karya baik di antaramu, akan melanjutkannya sampai pada hari Kristus Yesus. Sebab Allahlah saksiku betapa dengan kasih mesra Kristus Yesus aku merindukan kamu. Dan inilah doaku: Semoga kasihmu semakin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian. Dengan demikian kamu dapat memilih apa yang baik, agar kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus. Dan akhirnya, semoga kamu dipenuhi dengan buah kebenaran oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 3:4.6)
(Setelah ayat, Alleluya dilagukan dua kali)
Persiapkanlah jalan bagi Tuhan; luruskanlah jalan bagi-Nya, dan semua orang akan melihat keselamatan yang datang dari Tuhan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (3:1-6)

“Semua orang akan melihat keselamatan dari Tuhan.”

Dalam tahun kelima belas pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi walinegeri Yudea, dan Herodes menjadi raja – wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, menjadi waja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias menjadi raja – wilayah Abilene; pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Agung, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun. Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan, Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis! Maka Allah akan mengampuni dosamu, seperti ada tertulis dalam nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya, Setiap lembah akan ditimbun, setiap gunung dan bukit akan menjadi rata. Yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan. Dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

BERTOBATLAH!

Segala sesuatu yang penting dalam hidup kita mesti dipersiapkan dengan baik. Seseorang yang menempuh ujian, agar berhasil, harus mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Seseorang yang mau menjalin ikatan perkawinan juga harus mempersiapkan diri agar perkawinannya menjadi bermakna dan menjadi awal baru dalam membangun keluarga. Kelahiran seorang bayi pun perlu dipersiapkan dengan baik sehingga ketika waktunya tiba, keluarga sudah siap menyambut anggota baru dalam keluarga. Dalam peristiwa-peristiwa penting, kita perlu mempersiapkan diri. Persiapan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi sesuatu.

Masa Adven adalah masa persiapan, tidak hanya masa mempersiapkan perayaan Natal, tetapi terlebih merupakan masa mempersiapkan kedatangan Tuhan. Tuhan sudah datang dan hadir di tengah-tengah kita dalam diri Yesus yang kehadiran-Nya kita rayakan dalam perayaan Natal. Dia datang menerangi dan memulihkan kehidupan kita sampai kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman. Masa Adven merupakan juga masa penantian kedatangan Tuhan. Dalam masa penantian ini, kita perlu mempersiapkan diri agar saat Tuhan datang kita diselamatkan.

Yohanes Pembaptis menyerukan suatu pertobatan agar memperoleh pengampunan dosa, "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis! Maka Allah akan mengampuni dosamu." (Luk 3:3) Yohanes Pembaptis hadir mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Ia menyerukan suatu pertobatan sebagai persiapan menyambut saat kedatangan Tuhan sendiri. Kedatangan-Nya harus disambut dengan hati bersih dan murni. Karena itu, agar pantas menerima Tuhan, orang mesti bertobat dan memberanikan diri untuk dimurnikan. Tuhan datang untuk menyelamatkan dengan mengampuni dosa orang yang bertobat.

Bertobat berarti mengarahkan hati kepada Tuhan dan selalu memilih apa yang baik dan berkenan di hati Tuhan. Inilah yang menjadi doa Paulus bagi jemaat di Filipi, "Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah." (Flp 1:9-11)

Pertobatan dimulai dengan menyadari kembali kerinduan kita akan Tuhan. Tuhan sudah menaburkan kerinduan itu di dalam setiap hati kita. Karena kesibukan dan ketidakpedulian kita, kerinduan itu menjadi tidak kita rasakan. Karena itu, kita perlu waktu hening di hadapan Tuhan, meluangkan waktu kembali bagi Tuhan. Kerinduan hati kita akan Tuhanlah yang akan membimbing kita. Kerinduan kita akan Tuhan akan semakin kuat kalau kita, dengan bantuan rahmat Tuhan, memurnikan hati kita.

Pertobatan di Masa Adven ini dapat kita wujudkan dengan selalu meluangkan waktu untuk merenungkan Sabda Tuhan agar Sabda-Nya memurnikan hati kita. Selalu meluangkan waktu untuk berdoa juga penting karena dengan berdoa kita akan memperoleh rahmat. Kita juga bertobat dengan menata hidup kita kembali agar lebih sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tata kehidupan kita sehingga tidak terarah lagi kepada diri sendiri tetapi kepada Tuhan.

Selamat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan dengan bertobat. Selamat memasuki Minggu Adven kedua!

RUAH

Sabtu, 08 Desember 2012 Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa

Sabtu, 08 Desember 2012
Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa

“Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” -- St. Irenaeus (180) Against Heresies, 189 AD, 3:22:24


Antifon Pembuka (Yes 61:10)


Aku bersukaria di dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku. Sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan padaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti mempelai laki-laki mengenakan perhiasan kepala.


atau

I rejoice heartily in the Lord, in my God is the joy of my soul; for he has clothed me with a robe of salvation, and wrapped me in a mantle of justice, like a bride adorned with her jewels. (Isaiah 61:10; Roman Missal)

Doa Pagi

Ya Allah, dalam diri Perawan Maria yang dikandung tanpa noda, Engkau telah menyiapkan kediaman yang layak bagi Putra-Mu. Sebagaimana Engkau telah membeaskan dia dari setiap noda dosa, semoga berkat doanya Engkau pun memperkenankan kami sampai kepada-Mu dalam keadaan suci murni. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Perempuan yang lahir dari penciptaan adalah sumber ketidaktaatan. Itulah Hawa. Perempuan yang lahir dari penebusan adalah sumber ketaatan. Itulah Maria. Perempuan Hawa terbujuk oleh ular, dan melanggar larangan. Perempuan Maria menginjak kepala ular, dan menghancurkan akar kelicikan tipuan dosa. Perempuan Hawa membuka pintu gerbang dosa. Perempuan Maria membuka pintu gerbang rahmat. Namun, kedua perempuan itu merupakan lambang kondisi nyata kehidupan semua manusia.


Bacaan Pertama

Bacaan dari Kitab Kejadian (3:9-15.20)
  
"Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu."
 
Pada suatu hari, di Taman Eden, setelah Adam makan buah pohon terlarang, Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Ia menjawab, “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Lalu Tuhan berfirman, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa kamu telanjang? Apakah engkau makan buah dari pohon yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab, “Perempuan yang Kautempatkan disisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu, “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan!” Dengan perutmulah engkau akan menjalar, dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu! Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 98:1.2-3ab.3bc-4; Ul: lh.1ab)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang daripada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!

Madah Efesus yang "dinyanyikan" Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini merupakan madah kristologis. Artinya, madah pujian untuk Kristus. Di dalam pribadi Kristus, terangkum keagungan karya penciptaan dan lebih agung lagi karya penebusan Allah. Di dalam Kristus pula, segala rahmat disalurkan. Sebab, tiada nabi yang bersih menjadi saluran rahmat Allah, kecuali Kristus sendiri. Dengan demikian, peranan Kristus bukan hanya karya penebusan, melainkan juga pembaruan karya penciptaan. Kristus merangkum keduanya.

Bacaan Kedua
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (1:3-6.11-12)
  
"Di dalam Kristus, Allah telah memilih kita."
 
Saudara-saudara, terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semua untuk menjadi anak-anak-Nya oleh perantaraan Yesus Kristus sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya. Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan Allah, yakni kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Dengan demikian kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, ditentukan-Nya supaya menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 1:28, 2/4)
Salam Maria, penuh rahmat; Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita.

Jawaban singkat yang mengubah seluruh tata penciptaan, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu." Jawaban Maria itulah yang mampu menghancurkan sikap "semau gue" Hawa, dan sikap "ikut-ikutan" Adam. Jawaban Maria itulah yang nanti dimeteraikan Yesus dalam satu-satunya doa yang diajarkan kepada kita, "Jadilah kehendak-Mu." Seperti Maria, setiap orang yang memiliki sikap yang sama, sekaligus melahirkan Sang Sabda dalam hidupnya.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:26-38)
  
"Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."
 
Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Maka kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Ketidaktaatan Adam dan Hawa membawa kesengsaraan. Ketaatan Yesus dan Maria membawa keselamatan. Dua sikap yang selalu mewarnai hidup beriman kita. Bersama umat yang lain, Bunda Maria telah lama merindukan Yesus, Sang Mesias. Ia pun menerima tugas berat untuk mengandung dan melahirkan Pribadi yang dirindukan oleh banyak orang. "Fiat voluntas Tua", terjadilah padaku menurut kehendakmu. Bagaimana ketaatan iman Anda?

Doa Malam

Allah yang Maharahim, kuatkanlah kami untuk bersedia dan rela meneladan hati Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa. Dia telah mengamini apa yang menjadi rencana dan kehendak-Mu bagi keselamatan dunia. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

RUAH

Jumat, 07 Desember 2012 Jumat Pertama - Peringatan Wajib St. Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja

Jumat, 07 Desember 2012
Jumat Pertama - Peringatan Wajib St. Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja

“Peganglah kemudi iman dengan kuat, jangan engkau diombang-ambingkan oleh badai taufan dunia ini” (St. Ambrosius)


Antifon Pembuka (bdk. 1Sam 2:35)

Tuhan bersabda, "Seorang imam akan Kuangkat bagi-Ku. Ia setia pada-Ku dan bertindak menurut maksud dan keinginan-Ku."

Doa Pagi

Allah Bapa yang Mahatinggi, hari ini Engkau melindungi orang benar dan melenyapkan orang sombong dan pencemooh. Jagalah pintu bibirku, ya Allah, agar di sepanjang hari ini aku mau dan mampu membawa kebenaran dengan segala resiko dan konsekuensinya. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, yang bersama dengan Dikau, dalam persatuan dengan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bagi Yesaya, orang jahat dan pencemooh; serta orang yang berniat jahat adalah musuh Tuhan yang akan dilenyapkan. Yang termasuk orang jahat adalah orang sombong. Ia suka menuduh dan menjerat orang tak bersalah, orang yang mencari-cari alasan untuk menyalahkan orang benar. Ancaman kenabian Yesaya ini sekaligus juga untuk membangkitkan kembali iman yang mulai berwajah "pucat" dan bersungut-sungut, serta sudah mulai dipengaruhi pikiran sesat.


Bacaan dari Kitab Yesaya (29:17-24)
  
"Pada waktu itu orang-orang butaakan melihat."
  
Beginilah firman Tuhan, “Tiada lama lagi Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan. Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar sabda sebuah kitab, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan. Orang-orang sengsara akan bersukaria dalam Tuhan dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorai di dalam Yang Mahakudus Allah Israel. Sebab orang yang gagah sombong akan lenyap dan orang pencemooh akan habis. Semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, yang memasang jerat terhadap orang yang menegur mereka di pintu gerbang, dan yang menyalahkan orang benar dengan alasan yang dibuat-buat. Sebab itu beginilah firman Tuhan, Allah kaum keturunan Yakub, yang telah membebaskan Abraham, “Mulai sekarang Yakub takkan lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat. Sebab keturunan Yakub akan melihat karya tangan-Ku di tengah-tengah mereka, dan mereka akan menguduskan nama-Ku. Mereka akan menguduskan Yang Kudus Allah, dan mereka akan gentar terhadap Allah Israel. Pada waktu itu orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan mereka yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 865
Ref. Tuhan adalah terang dan keselamatanku
atau Tuhan, Engkaulah penyelamatku.
Ayat. (Mzm 27:1.4.13-14)
1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
2. Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
3. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Tuhan pasti datang; Ia datang dengan megah, dan mata para hamba-Nya akan berseri-seri.

Percaya bahwa Tuhan mampu melakukan penyembuhan adalah syarat terjadinya mukjizat. Jawaban yang dikehendaki Tuhan dari "penyakit" kita adalah iman. Yesus mengingatkan daya iman yang sangat besar, karena mengubah harapan menjadi kenyataan, "Terjadilah padamu menurut imanmu." Namun, daya iman yang menyembuhkan itu baru memancar keluar, setelah ada jamahan "pribadi" tangan Yesus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:27-31)
  
"Dua orang buta disembuhkan karena percaya kepada Yesus."
   
Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya. Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Lalu dengan tegas Yesus berpesan kepada mereka, “Jagalah, jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
  
Pendalaman Iman merupakan salah satu sarana membina keteguhan iman kita. Setiap saat, kita selalu berhadapan dengan aneka tantangan dan hambatan. Bila punya iman yang kuat, kita akan mampu menghadapi semuanya dalam terang Tuhan. Sebaliknya, bila kurang beriman, kita akan mudah putus asa. Nah, bagaimana dengan iman Anda? Mampukah kita melihat tiap peristiwa dalam kaca mata iman? Mari kita mohon terang Tuhan agar pada Tahun Iman ini Dia mencelikkan mata hati kita.

SANTO AMBROSIUS

Ambrosius lahir sekitar tahun 339 di Trier, Jerman, dari keluarga Kristen. Ayahnya adalah seorang gubernur dan ibunya, seorang wanita intelek dan Kristen yang saleh. Setelah kematian ayahnya, Ambrosius dibimbing untuk mengikuti jejak karir ayahnya menjadi seorang politikus. Karena itu ia dibawa ke Roma untuk belajar sastra hukum dan retorika (ilmu berpidato). Bersama sang ibu dan adiknya, Marcellina, mereka berpindah ke Roma. Di sana, Ambrosius banyak bergaul dengan para imam dan ia bersimpati dengan agama Katolik.

Karirnya dimulai sebagai seorang kepala dewan kota di Liguria dan Aemilia, Milan, sekitar tahun 370. Ia segera menjadi seorang tokoh politik yang unggul dan terkenal di kalangan masyarakat. Sementara itu, Keuskupan Milan pada tahun 374 baru saja kehilangan seorang uskupnya. Kemudian, dimulailah proses pencalonan uskup yang baru namun proses ini menemui persoalan besar karena di Milan terjadi perpecahan kelompok Kristen antara Katolik dan pengikut Arianisme (ajaran sesat yang menyangkal keIlahian Yesus). Kedua kelompok ini saling berebut pengaruh untuk menjadikan calon mereka sebagai Uskup Milan.

Di tengah keadaan yang memanas, Ambrosius sebagai seorang gubernur kota Milan pergi secara pribadi ke basilika tempat pemilihan tersebut berlangsung untuk mencegah terjadinya kerusuhan. Di tengah pidatonya, seorang hadirin berteriak kepada Ambrosius dan berkata, "Angkat Ambrosius menjadi Uskup!" yang kemudian diikuti oleh sorak-sorai seluruh hadirin saat itu. Ambrosius memang merupakan calon yang potensial karena wibawa dan pengaruhnya di mata masyarakat yang cukup netral. Ia bersimpati dengan kelompok Katolik dan juga diterima oleh kaum Arianis. Awalnya, Ambrosius menolak keras pengangkatan tersebut karena ia belum siap. Saat itu, Ambrosius memang masih menjadi seorang katekumen dan sama sekali tidak mengerti ajaran Katolik. Namun, karena desakan banyak pihak, Ambrosius akhirnya menyerah dan menyediakan diri untuk dijadikan Uskup Milan. Ia pun dibaptis dan ditahbiskan menjadi uskup hanya dalam waktu 8 hari. Selanjutnya, Ambrosius banyak berjasa dalam perjuangan melawan penyebaran pengaruh kaum Arianis pada masa itu.

Ia dikenal sebagai seorang penafsir Kitab Suci yang handal dan teolog. Ia banyak melahirkan karya-karya tulis yang indah dan bermutu. Banyak dari karyanya dipuji sebagai mahakarya (masterpieces) dalam literatur Latin tentang ilmu berpidato. Ia juga sempat menciptakan beberapa buah madah (lagu-lagu Gereja untuk peribadatan). Dialah yang berjasa untuk menobatkan Agustinus dari Hippo, yang kemudian menjadi Uskup dan pujangga besar Gereja.

Ambrosius meninggal pada tahun 397. Bersama St. Agustinus, St. Hieronimus dan St. Gregorius I, ia dianggap sebagai empat Pujangga besar Gereja Barat dalam Sejarah Gereja kuno. Pestanya dirayakan setiap tanggal 7 Desember. (Robertus Yudi/RUAH)

Doa Malam

Yesus, malam ini kami berdoa bagi mereka yang sedang sakit dan sangat mengharapkan pertolongan-Mu untuk sembuh. Kasihanilah mereka dan sudilah menjamah mereka demi kemurahan belas kasih-Mu. Amin.

“Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. “Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimam Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya” (CIC, can. 751).“ ~ Katekismus Gereja Katolik, 2089

RUAH

Pertemuan Kelima (Natal) Keuskupan Agung Semarang 2012: YESUS SUMBER IMAN KELUARGA

Pertemuan Kelima

RENUNGAN DAN IBADAT SABDA
PESTA KELUARGA KUDUS

"YESUS SUMBER IMAN KELUARGA"

RITUS PEMBUKA

1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dan Salam Pembuka

3. Pengantar

Pesta Keluarga Kudus jatuh tanggal 30 Desember 2012. Pesta Keluarga Kudus dalam liturgi diresmikan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893. Pada awalnya Hari Raya Keluarga Kudus dirayakan pada hari Minggu dalam Oktaf Epifani. Arinya, dirayakan pada hari Minggu manapun yang jatuh antara tanggal 7 Jnuari sampai dengan 13 Januari. Namun sekarang, hari raya tersebut dirayakan pada hari Minggu antara Natal dan Tahun Baru, atau dalam Oktaf Natal.

Melalui empat pertemuan sebelumnya, kita diajak merefleksikan bahwa pusat iman kita adalah Yesus Kristus. Ia telah lahir dalam sebuah keluarga, yaitu keluarga Yusuf dan Maria. Oleh karena kehadiran Yesus Kristus, keluarga itu menjadi keluarga kudus Nasareth. Yesus tidak hanya menjadi Anak dalam keluarga itu tetapi juga menjadi pusat hidup keluarga. Melalui renungan dan ibadat ini, pertama, kita diajak untuk mensyukuri apa yang dialami Yusuf dan Maria, sebuah keluarga muda yang dihadiri oleh Yesus, sekaligus sebagai anak dan pusat hidup mereka. Kehadiran Yesus dalam keluarga itu telah menjadi bintang yang memberi arah hidup keluarga, juga cahaya yang menerangi kehidupan keluarga. Kedua, kita diajak pula untuk meneladan keluarga kudus Nasareth yang mempersembahkan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan dan bagi keselamatan banyak orang. Ketiga, dalam rangka Tahun Iman, kita diajak pula untuk membangun keluarga yang berbasis iman dan kasih. Keluarga menjadi tempat persemaian iman sejati, yakni tempat dimana iman tertanam, tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah-buah keselamatan.

4. Pernyataan Tobat

5. Doa Pembuka

LITURGI SABDA

Bacaan I : Fil 1:3-8

6. Lagu tanggapan sabda

7. Bacaan Injil (Luk 2:41-52)

8. Renungan

Dalam sebuah retret keluarga, ada seorang bapak tersungkur di depan kaki isteri dan anaknya. Dan ia memberi kesaksian, bahwa selama 50 th lebih menjadi katolik, yang namanya misa dan berdoa bersama bisa dihitung dengan jari. Hidupnya jauh dari Tuhan. Dan dia berjanji di depan peserta retret dan di hadapan isteri dan anaknya untuk menjadikan keluarga sebagai mesbah Allah. Setelah setahun lebih, banyak orang memberi kesaksian bahwa keluarga itu semakin baik dalam relasi. Anak yang dulu takut dengan ayahnya yang sering marah dan memukul, demikian dekat dengan ayahnya. Setiap hari bapak ini memimpin isteri dan anak membaca bacaan harian dan berdoa bersama. "Seorang bapak dipulihkan, keluarga dipulihkan" demikian katanya. "Sungguh semua bagai mimpi!"

Yesus hadir terus menerus, tetapi tidak setiap kali kita mengalami kehadiran-Nya. Dan dari beberapa orang yang mengalami kehadiran-Nya, ada yang masih berpendapat bahwa "Ndherek Gusti itu enak kepenak. Tidak akan menderita, tidak berkekurangan." Pandangan ini kadang dipahami demikian sempit, sehingga pada suatu saat ketika menjadi murid Yesus tidak menguntungkan dan sulit, orang meragukan identitasnya bahkan menyangkal kemuridannya.

Sebagaimana Maria dan Yusuf, dua pribadi yang sangat baik. Namun tidaklah mudah secara manusiawi menerima Yesus hadir di antara mereka. Kehadiran Yesus boleh dikatakan secara negatif membawa persoalan-persoalan rumit dalam hidup mereka: harga diri Maria dan Yusuf yang sedang bertunangan dipertaruhkan, kelahiran Yesus di tengah situasi hiruk pikuk sensus, menjadi pelarian ke Mesir, hidup sebagai keluarga urban, hidup tersembunyi di Nazareth, sampai pada peristiwa kehadiran Maria di kaki salib Yesus. Tetapi justru, berpangkal dari pengalaman tersebut, kita melihat bahwa keluarga muda ini tidak berfokus kesulitan dan penderitaan, tetapi berfokus pada pelaksanaan rencana Allah yang ada dalam diri Yesus. Fokus pada rencana Allah itulah yang menempa pribadi Yusuf dan Maria dengan aneka-aneka keutamaan dan kedewasaan hidup. Mereka berkembang menjadi pribadi yang sangat dewasa dan hidup dalam aneka keutamaan. Kehadiran Yesus di tengah mereka menjadi sumber iman. Cukup dengan melihat perkataan, perbuatan dan cara hidup, kita dapat meneropong bagaimana perkataan, perbuatan dan cara hidup Yusuf dan Maria. Sungguh luar biasa. Kehadiran Yesus, dengan segala situasi sulit, dan tuntutan untuk mendidik Yesus, membawa dan mengembangkan kekudusan dalam hidup Yusuf dan Maria. Mereka sungguh sebagai ayah dan ibu bagi Yesus dalam segala hal.

Kekudusan ini bukan hanya milik Keluarga Kudus, tetapi dapat menjadi milik keluarga-keluarga jaman sekarang. Tanggal 21 Oktober 2001, Bapa Paus Yohanes Paulus II mengangkat pasangan suami isteri Luigi dan Maria Beltrame Cuattrochi menjadi beato-beata. Bukan karena pribadi-pribadi mereka, tetapi terutama karena perkawinan mereka. Dalam situasi hidup yang tidak mudah di Italia pada akhir abad 19 dan awal abad 20, mereka berfokus pada kehadiran Yesus yang nampak dalam rencana Allah atas perkawinan mereka. Kardinal Jose Saraiva Martins, Perfect Kongregasi untuk Beatifikasi mengatakan bahwa "mereka membangun Gereja domestik dalam keluarga mereka: terbuka terhadap hidup, berdoa, memberikan pelayanan sosial, solidaritas bagi orang miskin dan penuh persahabatan dengan semua orang". Demikian juga kita pada masa ini dapat bertanya: Apakah Yesus kuterima dalam hidup keluargaku? Lalu apakah wujud kehadiran Yesus dalam pribadi dan relasiku dalam keluarga? Dan jikalau keluarga kita masih harus berjuang karena mengalami aneka kesulitan dan goncangan iman, kita boleh bertanya: Apakah aku berpusat pada kesulitan-kesulitan hidup keluargaku ataukah aku berpusat pada Yesus yang hadir? Bagaimanakah kehadiran Yesus di tengah badai keluarga mampu membawaku bertumbuh dalam iman?
Kita hening sejenak untuk mengendapkan permenungan kita.

9. Aku Percaya

10. Doa Umat

11. Bapa Kami

RITUS PENUTUP

12. Doa Penutup

13. Berkat Penutup

14. Lagu Penutup

Pertemuan Keempat Adven Keuskupan Agung Semarang 2012: MEWUJUDKAN IMAN

Pertemuan Keempat

MEWUJUDKAN IMAN

Tujuan:

Menyadari kembali bahwa iman senantiasa harus diwujudkan melalui kesaksian dan laku hidup, yang memancarkan sabda kebenaran sesuai dengan iman yang dirayakan serta kedalaman iman yang dihayati.

1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dilanjutkan Doa Pembuka

3. Pengantar

Kita sebagai umat Kristiani menyadari, bahwa iman yang dewasa adalah iman yang "terlibat" atau bisa dikatakan sebagai iman yang terwujud dalam laku kehidupan. Perwujudan iman bukanlah urusan pribadi saja, akan tetapi juga kesaksian hidup secara nyata bahwa kita telah diselamatkan. Prinsipnya, iman tidak hanya sekedar di bibir saja, tetapi harus bisa merasuki seluruh sendi-sendi kehidupan kita, terutama terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. Pada pertemuan sebelumnya, kita diajak menyadari bahwa perayaan iman, yang terpuncak dalam Ekaristi merupakan sumber kehidupan beriman kita. Bagaimana perayaan iman menjadi bagian dari keselamatan Kristus benar-benar hadir dan menghantar kita untuk semakin terjun dalam hidup bermasyarakat. Maka dalam pertemuan keempat ini, kita diajak mewujudkan iman kita. Perwujudan iman hendaknya kita sadari, sebagai laku nyata akan pengakuan Kristus sebagai sumber iman dan buah dari perayaan-perayaan iman yang semakin diwujudkan dalam kehidupan nyata. Iman dihidupi dan akhirnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga dan masyarakat.

4. Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

Bacaan: Luk 10:25-28

5. Inspirasi dan Permenungan

Mengasihi Tuhan dan sesama dengan totalitas hidup

Membaca kembali Luk 10:25-28, kita diajak untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan totalitas hidup kita. Kita diajak menyadari bahwa iman membutuhkan totalitas yang mendalam. Iman dimulai dari memikirkannya dengan sungguh-sungguh, didalami, mencari tahu, mempelajari hingga dengan "segenap jiwa", artinya tidak berpura-pura, di luar tampaknya penuh perhatian tapi di dalamnya tak peduli. Iman yang diharapkan dalam bacaan di atas, adalah iman yang bisa dikatakan sebagai iman yang "berintegritas". Iman yang tak hanya menyangkut hubungannya dengan Allah, melainkan juga dengan sesama manusia. Mengasihi Tuhan itu sama dengan menjadi manusia yang semakin utuh. Jadi iman itu mencerminkan juga solidaritas bagi sesama. Artinya, iman harus tampak dalam wujudnya yang paling nyata, dalam laku hidup dan tindak tanduk keseharian.

Kita menyadari, di lain pihak, banyak orang katolik yang kelihatan khusuk beribadat di gereja, akan tetapi, di lain pihak, mereka juga bersemangat menjalankan bisnis-bisnis kotor, meraup untung sebanyak-banyaknya bahkan dengan praktek korupsi. Tidak hanya itu, banyak juga yang masih hidup dalam perselingkuhan, pergaulan dan hiburan yang tidak sehat, melakukan peminjaman uang dengan bunga yang mencekik, dan lain sebagainya. Kita perlu menengok kembali, sering kali, benar seperti apa yang pernah dikatakan oleh Charlie Douglas dalam artikelnya di "Moral Hazards in the Marketplace". Mungkin yang menjadi masalah saat ini adalah demarkasi (pemisahan) antara yang dianggap sakral dan sekuler. Pembicaraan soal cinta dan iman hanya ketika di gereja pada hari Minggu, sementara di tempat kerja masing-masing, orang dituntut fokus kepada kepentingan diri sendiri dan keunggulan kompetitif dalam bertahan hidup. Hal inilah yang kadang menjadi permenungan bagi kita. Sejauh inikah iman yang kita akui dan rayakan? Kurang menunjukkan laku dalam hidup senyatanya. Iman yang kita akui, rayakan hanya sebatas lip service, sebatas pengakuan, tanpa ada kenyataan yang diwujudkan, atau sering dikatakan "gajah diblangkoni, iso kojah ora iso nglakoni."

Pertanyaannya, apakah iman kita, tampak kelihatannya seperti pohon yang rindang namun tidak berbuah. Di sana hanya kelihatan sejuknya, rindangnya, gagahnya, tapi belum bisa dinikmati buahnya. Maka seperti halnya iman, selain menjadi subur iman harus nyata dalam perbuatan supaya buah rahmat itu membuat semakin banyak orang mengenal Kristus, seperti yang dikatakan dalam Yak 2:26, "sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan adalah mati".

6. Refleksi dan Sharing Pengalaman

Iman yang kita yakini, haruslah senantiasa mendampingi dan membuat membuat diri kita menjadi tanda kehadiran Tuhan, sehingga dengan menghidupinya secara mendalam, iman mampu memberikan kesaksian bagi sesama.

Ketika kita dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, berarti kita mengimani Yesus Kristus dan menjadi Katolik, artinya kita telah memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup kita (Kis 14:27). Ini artinya, melalui baptisan kita telah disatukan dengan Yesus Kristus sepanjang hidup kita. Kita masuk dalam persekutuan hidup dengan Allah dan Gereja-Nya. Melalui baptisan ini pula, kita disatukan dengan kumpulan orang-orang yang beriman di dalam Kristus.

Hidup dalam Kristus membawa konsekuensi yang tidak ringan. Kita harus bisa menanggalkan manusia lama kita dan menjadi pribadi yang baru, pribadi yang telah ditebus oleh Kristus. Kita diajak untuk melakukan pembaruan melalui kesaksian hidup yang diberikan sebagai anggota umat beriman. Kita dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang diwariskan Kristus. Maka melalui masa Adven sebagai bagian dari Tahun Iman ini, kita diajak masuk dalam pertobatan untuk semakin mengimani Kristus.

Hidup baru bersama Kristus mendorong setiap orang yang percaya semkin dikuasai oleh kasih Kristus. "Kasih Kristus menguasai kita" (2Kor 15:14). Kasih Kristus inilah yang memenuhi hati dan mendorong kita untuk semakin membagikannya dalam keluarga, Gereja dan masyarakat (bdk. mat 28:16). Iamn tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedangkan kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang senantiasa bimbang. Iman dan kasih saling melengkapi satu sama lain. Iman yang kita yakini, senantiasa mendampingi dan membuat diri kita menjadi tanda kehadiran Tuhan, sehingga dengan menghidupinya secara mendalam, iman mampu memberikan kesaksian bagi sesama.

7. Doa Umat dan Doa Penutup

8. Lagu Penutup

Pertemuan Ketiga Adven Keuskupan Agung Semarang 2012: MERAYAKAN IMAN

Pertemuan Ketiga

MERAYAKAN IMAN

Tujuan:

Menyadari kembali bahwa iman senantiasa harus dirayakan sehingga menjadi perjumpaan dengan Tuhan yang menyelamatkan.

1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dilanjutkan Doa Pembuka

3. Pengantar

Pada pertemuan Adven ketiga ini, kita diajak merefleksikan kembali makna dari perayaan-perayaan iman kita.

4. Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

Bacaan: Yohanes 6:51-58

5. Inspirasi dan Permenungan

Yesus sebagai "Roti Hidup"

Membaca kembali Yohanes 6:51-58, kita diajak merenungkan mengenai Yesus sebagai "Roti Hidup". Yesus memperkenalkan diri sebagai "roti kehidupan", yakni makanan yang memberi hidup. Kita sebagai orang yang mengimani Yesus, diajak untuk percaya, bahwa Dia ada di tengah-tengah kita dan hadir ketika kita menghayatinya dalam Ekaristi Kudus. Bacaan Yohanes 6:51-58 menegaskan mengenai apa yang disampaikan Yesus. Ia bukan hanya "roti" yang mengenyangkan secara lahiriah, namun Yesus mengajak kita melihat lebih dalam, bahwa diri-Nya lah roti yang turun dari surga. Menerima Dia, mempercayai-Nya, akan membuat kita mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:32-40). Iman kita akan Ekaristi merupakan iman akan kebenaran mengenai warta Yesus itu. Pertanyaannya bagi kita, apakah melalui Ekaristi Kudus sebagai perayaan iman, kita telah merasakan dan menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya dalam hidup sehari-hari kita? Yaitu menemukan Yesus sendiri sebagai "Roti Hidup".

Iman adalah rahmat, maka kita perlu menerima, memelihara serta merayakannya dengan bangga dan penghayatan sungguh-sungguh. Seorang beriman Katolik, tentu akan bangga dengan imannya. Masih ingat ajakan imam setelah konsekrasi dalam Ekaristi Kudus? "Agungkanlah iman kita!" Lalu umat menjawab secara aklamasi, "Tuhan, Engkau telah wafat, Tuhan, Engkau kini hidup, Engkau Sang Juruselamat, datanglah ya Yesus Tuhan." Kebanggaan umat Katolik akan imannya tampak jelas dalam ungkapan itu. Kita mengimani misteri Allah yang agung, karena itu iman kita pun agung, dan sudah sepantasnya kita agungkan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam wujud perayaan iman itu.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar merayakan iman kita secara sungguh-sungguh. Apakah kita menyambut komuni dalam perayaan Ekaristi denan kesungguhan hati, mampu merayakan Kristus yang hadir dalam hidup kita sehari-hari? Jika begitu, kok kita tidak menjadi semakin baik. Acapkali kita mungkin sering memandang perayaan iman akan Ekaristi sebagai sekedar layaknya "obat kuat rohani" atau "rutinitas" yang tanpa arti. Maka, Ekaristi sebagai sakramen yang menghadirkan kenyataan rohani dalam diri kita, tidak sungguh-sungguh menghadirkan Kristus dalam hidup kita.

Padahal orang yang percaya akan kekuatan Ekaristi, akan semakin melihat dan mengakui bahwa kemampuan berbuat baik serta keberanian untuk menjadi makin manusiawi dan makin lurus itu datang dari sumber akan iman Kristus yang telah diterima dari komuni suci. Bukan dari kekuatan manusiawi sendiri. Bagi orang yang percaya, kemampuan berbuat baik itu anugerah ilahi. Dan anugerah inilah yang ditandai dengan Ekaristi. Dalam arti inilah Ekaristi membuat kita semakin dekat dengan kehidupan Yang Ilahi sendiri.

Merayakan iman mungkin mudah, kalau sekedar mengikuti, apalagi kalau hanya pasif: datang, duduk, diam, setelah selesai pulang. Tetapi tak semudah memaknai dan mewujudkannya dalam hidup. Diam saja atau sekedar mengikuti rutinitas bukanlah cara merayakan iman yang baik. Iman adalah "rahmat" yang perlu dirayakan dengan tindakan aktif.

6. Refleksi dan Sharing Pengalaman

Perayaan iman, merupakan perayaan perjumpaan dengan Allah yang agung, anggun, khidmat, serta mendatangkan rahmat.

Ekaristi sebagai perayaan iman, merupakan lambang kesatuan dengan Tubuh Mistik Kristus: Siapa yang menerima Ekaristi, disatukan lebih erat dengan Kristus. Olehnya Kristus menyatukan kita dengan semua umat beriman yang lain menjadi satu tubuh: Gereja. Komuni membarui, memperkuat, dan memperdalam penggabungan ke dalam Gereja, yang telah dimulai dengan Pembaptisan. Di dalam Pembaptisan kita dipanggil untuk membentuk satu tubuh (Bdk. 1Kor 12:13). Konsili Vatikan II melalui Sacrosanctum Consilium (SC), secara tegas mengatakan mengenai peran aktif umat dalam perayaan iman, yaitu liturgi, terlebih karena Gereja menyadari bahwa Liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan Gereja (bdk. SC 10). Dalam Konsili Vatikan II ini pula secara tegas dinyatakan pengertian Liturgi yakni sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kepala dan para anggota-Nya (bdk. SC 7). Tugas imamat Yesus Kristus untuk melaksanakan karya keselamatan Allah perlu dihadirkan oleh Gereja di dalam liturgi. Maka liturgi dalam perspektif ini, mendapatkan pendasaran yang kuat; sebagai perayaan kerinduan berjumpa dengan Kristus, kepantasan untuk berjumpa dengan Kristus, ambil bagian secara sadar (paham atas simbol Liturgi) dan aktif (terlibat lahiriah dan sakramental) dan buahnya dari perayaan itu, yaitu persatuan dengan Kristus dan Gereja.

7. Doa Umat dan Doa Penutup

8. Lagu Penutup

Kamis, 06 Desember 2012 Hari Biasa Pekan I Adven

Kamis, 06 Desember 2012
Hari Biasa Pekan I Adven

Cinta yang ingin melihat Allah, memiliki semangat bakti, meskipun ia kurang mengerti. --- St. Petrus Krisologus.


Antifon Pembuka (bdk. Mzm 119:151-152)


Engkau sungguh dekat, ya Tuhan dan segala jalan-Mu benar; sejah dulu aku tahu dari sabda-Mu, bahwa Engkau selalu besertaku.


Doa Pagi


Allah yang Mahakuasa, bukalah pintu-pintu hati kami yang tertutup oleh kesombongan dan kekejian. Limpahkanlah ke dalam hati kami sukacita dan damai sejahtera sehingga langkah kami hari ini menggembirakan mereka yang kami jumpai. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


Tuhan mencintai orang-orang yang setia, teguh hati, dan mau tetap percaya dalam situasi dan kondisi apa pun. Dia akan memperlakukan orang-orang yang sekualitas itu dengan damai sejahtera. Tuhan tidak mengecewakan! Maka, Yesaya minta supaya kita membuka "pintu-pintu gerbang" hati kita untuk mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Sampai pada taraf, bukan lagi kita yang hidup, tetapi Tuhan yang hidup dalam diri kita.


Bacaan dari Kitab Yesaya (26:1-6)

   
"Bangsa yang benar dan tetap setia biarlah masuk."
 
Pada masa itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: "Kita mempunyai kota yang kuat! Tuhan telah memasang tembok dan benteng untuk keselamatan kita. Bukalah pintu-pintu gerbangnya, agar masuklah bangsa yang benar dan yang tetap setia. Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepada-Mu. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal. Kota-kota di atas gunung telah ditaklukkan-Nya; benteng-benteng yang kuat telah dirobohkan-Nya, diratakan-Nya dengan tanah dan dicampakkan-Nya menjadi debu. Kaki orang-orang sengsara dan telapak orang-orang lemah akan menginjak-injaknya."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan.
Ayat. (Mzm 118:1.8-9.19-21.25-27a)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada insan! Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada para bangsawan.
2. Bukakan aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada Tuhan. Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.
3. Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan. Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali pada tanduk-tanduk mezbah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yes 55:6)
Carilah Tuhan, selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat.

Sabda Tuhan baru sungguh-sungguh merasuki kehidupan seseorang, dan menjadi kekuatan luar biasa baginya, jika dilaksanakan. Sabda Tuhan harus dijelmakan sebagai perbuatan; bukan dirumuskan kembali dalam kata-kata saja. Gambaran kekuatan orang yang melaksanakan sabda Tuhan adalah seperti pondasi batu rumah yang kokoh, yang tak roboh dilanda hujan lebat dan banjir yang hebat.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:21.24-27)
   
"Barangsiapa melakukan kehendak Bapa akan masuk Kerajaan Allah."
     
Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan! Tuhan' akan masuk kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Semua orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Tetapi rumah itu tidak roboh sebab dibangun di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Maka robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Iman itu merupakan persembahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Iman yang mendalam akan menguatkan perjuangan hidup kita. Kita tidak cepat menyerah dan putus asa. Sebaliknya, kita lebih optimis menghadapi berbagai macam peristiwa hidup sehari-hari. Kita lebih positif menyikapi tantangan, hambatan dan penderitaan. Karena itu, kita mesti harus mengolah diri dengan mendengarkan firman Tuhan. Sudahkah kita setia melakukannya?

Doa Malam

Yesus, sabda-Mu hari ini menyadarkan kami untuk tidak hanya berteriak kepada Allah tetapi juga mendengar dan melaksanakan kehendak Bapa di surga. Tambahkanlah kepekaan kami untuk lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak terhadap kehendak Bapa. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Bapa dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

"Masa Adven yang agung. Inilah masa yang senantiasa dirayakan Gereja dengan kekhidmatan khusus. Kita pun sepantasnya senantiasa merayakan dengan iman dan kasih, dengan melambungkan puji-pujian dan ucapan syukur kepada Bapa atas belas kasihan dan cinta yang telah dinyatakan-Nya kepada kita dalam misteri ini. Dalam kasih-Nya yang tak terbatas bagi kita, meskipun kita orang-orang berdosa, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk membebaskan kita dari kuasa setan, mengantar kita ke surga, menyambut kita dalam istirahat yang paling dalam, menunjukkan kepada kita kebenaran itu sendiri, melatih kita dalam melakukan yang benar, menanamkan dalam diri kita benih-benih keutamaan, dan memperkaya kita dengan harta pusaka rahmat-Nya serta menjadikan kita anak-anak Allah dan ahli waris kehidupan kekal." (St. Karolus Borromeus, sumber: indocell.net/yesaya )

RUAH

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy