Senin, 03 Juni 2013 Peringatan Wajib St. Karolus Lwanga, dkk, Martir

Senin, 03 Juni 2013
Peringatan Wajib St. Karolus Lwanga, dkk, Martir
  
Kemartiran adalah kesaksian teragung yang dapat diberikan orang untuk kebenaran iman; itulah kesaksian sampai mati --- Katekismus Gereja Katolik, 2474

Antifon Pembuka (Why 12:11)

Mereka itulah orang suci yang jaya berkat darah anak domba. Hidup tidak mereka sayangi, maut tidak mereka takuti. Sebab itu mereka jaya bersama Kristus selama-lamanya. Alleluya.

Doa Pagi


Allah yang kekal dan kuasa, teguhkanlah aku saat merasa sendiri dalam memperjuangkan kebajikan-kebajikan cinta kasih di tengah situasi yang tidak bersahabat. Mampukanlah aku dalam membela kebenaran demi kemuliaan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Kitab Tobit (1:1-3, 2:1b-8)
   
"Tobit lebih takut kepada Tuhan daripada kepada raja."
    
Aku, Tobit, menempuh jalan kebenaran dan kesalehan seumur hidupku dan banyak melakukan kebajikan kepada para saudara dan segenap bangsaku yang bersama dengan daku telah berangkat ke pembuangan, ke negeri Asyur, ke kota Niniwe. Sekali peristiwa pada hari raya Pentakosta, yaitu hari raya Tujuh Minggu, disajikan kepadaku suatu jamuan makan yang baik. Aku pun telah duduk untuk makan. Sebuah meja ditempatkan di hadapanku dan kepadaku disajikan banyak hidangan. Tetapi berkatalah aku kepada anakku Tobia, “Nak, pergilah, dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudara kita yang diangkut tertawan ke Niniwe dan yang dengan segenap hati ingat akan Tuhan, bawalah ke mari, supaya ikut makan. Aku hendak menunggu, hingga engkau kembali.” Maka keluarlah Tobia untuk mencari seorang saudara yang miskin. Sepulangnya berkatalah ia, “Pak!” Sahutku, “Ada apa, nak?” Jawabnya, “Salah seorang dari bangsa kita telah dibunuh. Ia dicekik dan dibuang di pasar. Jenazahnya masih ada di situ!” Aku meloncat berdiri, dan jamuan itu kutinggalkan sebelum kukecap. Jenazah itu kuangkat dari lapangan dan kutaruh di dalam salah satu rumah hingga matahari terbenam, untuk kukuburkan nanti. Kemudian aku pulang, kubasuh diriku, lalu makan dengan sedih hati. Maka teringatlah aku akan sabda yang diucapkan Nabi Amos mengenai kota Betel, “Hari-hari rayamu akan berubah menjadi hari sedih dan segala nyanyianmu akan menjadi ratapan!” Lalu menangislah aku. Setelah matahari terbenam aku pergi menggali liang, lalu jenazah itu kukuburkan. Para tetangga menertawakan daku, katanya, “Ia belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahulu ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan jenazah lagi!” Tetapi Tobit lebih takut kepada Allah daripada kepada Raja.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan
Ayat. (Mzm 112:1-2.3-4.5-6)
1. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang sangat suka akan segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati.
2. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap dikenang selama-lamanya. Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap, ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil.
3. Orang baik menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, ia melakukan segala urusan dengan semestinya. Orang jujur tidak pernah goyah, ia kan dikenang selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 4:10b)
Yesus Kristus, Engkaulah saksi yang setia, yang pertama bangkit dari alam maut; Engkau mengasihi kami dan mencuci dosa kami dalam darah-Mu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:1-12)
   
"Mereka menangkap dan membunuh putra kesayangan, dan melemparkannya ke luar kebun anggur."
 
Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua dengan perumpamaan, kata-Nya, "Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
  
Renungan

 
Menarik, Injil hari ini! Penggarap-penggarap kebun anggur itu adalah orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih. Bukankah mereka itu hanya para pekerja yang mendapatkan kepercayaan dari sang empunya kebun anggur? Seharusnya mereka menggunakan kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka. Seharusnya mereka berterima kasih, karena mereka mendapat kepercayaan untuk mengolah kebun anggur yang luas.

Para penggarap itu juga memberi gambaran kepada setiap orang yang tidak mau menanggapi kehendak Tuhan yang menyelamatkan. Program keselamatan yang sudah dilaksanakan oleh banyak nabi, dan terus mengalami penolakan oleh bangsa terpilih, tidak menyurutkan hati Tuhan yang penuh kasih untuk menyelamatkan umat-Nya. Allah yang begitu setia pada janji-Nya tidak menghendaki seorang pun hilang dan binasa.

"Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang lain," tegas Yesus. Janganlah hal itu terjadi pada diri kita. Janganlah kita mengulang sejarah yang tidak mengenakkan itu.

Apa yang dapat kita lakukan? Kita semakin berani berusaha untuk menjadi orang yang tahu berterima kasih. Kalau pun kita harus bekerja keras seperti para penggarap kebun anggur yang selalu memeras keringat, baiklah kita tetap berani bersyukur kepada Tuhan, sang Empunya kehidupan, yang memberikan kesempatan dan kemampuan kepada kita untuk bekerja. Adanya aneka tantangan dan rintangan, hendaknya tidak menghentikan kita untuk berjuang demi hidup yang lebih baik.

Para tetangga menertawakan Tobit, katanya, "Ia belum juga takut! Sudah pernah ia dicari untuk dibunuh karena perkara yang sama. Dahulu ia melarikan diri dan sekarang ia menguburkan mayat lagi!" (Tob 2:8). Kata-kata mereka terhadap Tobit sebenarnya merupakan sebuah peneguhan dan pengakuan, bahwasanya memang dia adalah orang yang tekun dan setia dalam tugasnya. Tobit tidak gentar dengan aneka perlawanan dalam tugas perutusannya. Dia hanya menanggapi sabda dan kehendak Tuhan.

Hal serupa juga dilakukan oleh St. Karolus Lwanga dan kawan-kawannya. Kemartiran mereka mengungkapkan bahwa mereka tahu berterima kasih kepada Tuhan.

CAFE ROHANI/GUNAWAN