"Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia"

Selasa, 10 Februari, 2015
Peringatan Wajib Sta. Skolastika, Perawan


Kej. 1:20-2:4a; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Mrk. 7:1-13 

"Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia"

Ibadah kepada Tuhan yang tidak diimbangi dan dibarengi dengan cinta kasih yang konkret kepada Tuhan dan sesama, akan menjadi ibadah yang percuma. Cinta kasih itulah perintah Allah yang utama sehingga tidak boleh diabaikan dan juga tidak bisa diganti dengan seolah-olah tekun beribadah. Dalam hal ini, Gereja menegaskan bahwa antara ibadat dan cinta kasih tidak boleh dipisahkan tetapi harus senantiasa menjadi cara hidup kita. Olah karena itu, ibadah kepada Tuhan hendaknya semakin mendorong kita untuk menjadi sehati-sejiwa dalam kasih dan dan mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang telah kita rayakan dan doakan (bdk. SC 10).

Doa: Tuhan, semoga ibadah kami tidak pernah sia-sia karena kami selalu menyertainya dengan cinta kasih yang konret, baik kepada-Mu maupun kepada sesama. Amin. -agawpr-

Selasa, 10 Februari, 2015 Peringatan Wajib Sta. Skolastika, Perawan

Selasa, 10 Februari, 2015
Peringatan Wajib Sta. Skolastika, Perawan

“Aku berpaling kepada Allahku dan Ia mendengarkan doaku” (St. Skolastika)

Antifon Pembuka (Mzm 15:5-6)

Tuhan, Engkaulah milik pusaka dan warisanku, dalam tangan-Mulah nasibku. Tanah permai akan menjadi bagianku, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

Doa Pagi

   
Ya Tuhan, semoga berkat teladan Santa Skolastika, yang kami peringati hari ini, kami sanggup mengabdi Engkau dengan kasih yang tulus dan berbahagia menikmati karunia kasih-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   
Binatang-binatang diciptakan dan diberkati Allah untuk berkembang biak. Namun manusia adalah puncak segala ciptaan dan diciptakan sesuai dengan citra Allah. Manusia mengatasi segala ciptaan lainnya karena relasi khususnya dengan Allah. Kepada manusia, Allah juga memerintahkan untuk berkembang biak dan beranak cucu, memenuhi muka bumi, menguasai tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang.
   

Bacaan dari Kitab Kejadian (1:20-2:4a)
   
"Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita."
    
Ketika menciptakan alam semesta, Allah bersabda, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, sabda-Nya, “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” Jadilah petang dan pagi: hari kelima. Bersabdalah Allah, “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata serta segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar, segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Bersabdalah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara; atas ternak dan atas seluruh bumi, serta atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah bersabda kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Bersabdalah Allah, “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji. Itulah akan menjadi makananmu. Sedang kepada segala binatang di bumi dan burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. Maka jadilah petang dan pagi: hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi beserta segala isinya. Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Maka berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/4, PS 832
Ref. Betapa megah nama-Mu Tuhan, di seluruh bumi.
Ayat. (Mzm 8:4-5.6-7.8-9; R: 2)
1. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kaupasang: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
2. Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah, Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Kauberi dia kuasa atas perbuatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kautundukkan di bawah kakinya.
3. Domba, sapi dan ternak semuanya, hewan di padang dan margasatwa; burung di udara dan ikan di laut, dan semua yang melintasi arus lautan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku

Yesus mengecam cara hidup orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka lebih menekankan aspek-aspek lahiriah dari penghayatan hukum. Mereka lupa apa yang menjadi intisarinya, yaitu cinta dan belas kasih. Mereka lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (7:1-13)
   
"Kamu mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
     
Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat-istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat-istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?” Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadat kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia.” Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu!’ Dan: ‘Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati’. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya: ‘Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah,’ maka kamu membiarkan dia untuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya. Dengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat-istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
 
Yesus marah, Tuhan pantas marah. Karena mereka sudah terlalu. Yesus menyebut mereka munafik. Kemarahan Yesus tertuju kepada para ahli Taurat yang mempunyai pengetahuan Kitab Suci, tetapi lebih mementingkan adat istiadat buatan manusia daripada firman Allah yang agung. Lebih memilih dan mementingkan aksesori daripada yang hakiki. Teguran benar dan beralasan untuk orang yang berbesar hati, akan menerima dan mengucap terima kasih. Tetapi kita tahu reaksi apa yang terjadi pada hati mereka yang membatu. Allah Pencipta dan Penyelamat yang penuh kasih sayang dan kerahiman bagi mereka dipandang sebagai saingan merugikan.

Doa Malam

Allah Bapa Yang Mahakuasa dan kekal, semoga berkat Sabda-Mu ini kami belajar dari teladan Santa Skolastika. Kiranya kami mengutamakan Dikau di atas segalanya dan di dunia ini hidup sebagai manusia baru yang penuh cinta kasih. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


RUAH

"Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh"

Senin, 09 Februari 2015
Hari Biasa Pekan V
 
Kej. 1:1-19; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,24,35c; Mrk. 6:53-56. 

"Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh"

Betapa luar biasanya kekuatan sebuah jamahan atau sentuhan. Semua orang yang menjamah Yesus menjadi sembuh. Kita ingat juga kisah wanita yang 12 tahun menderita pendarahan dan menjadi sembuh setelah menjamah jumbai jubah Yesus. Ini adalah jamahan dari pihak manusia yang percaya dan mengharapkan belas kasih Tuhan. Ada jamahan lain yang tentunya jauh lebih dahsyat, yakni jamahan dari pihak Tuhan. Misalnya, Yesus menjamah orang yang sakit kusta (Mrk 1:43) dan menjamah mata orang buta (Mat 20:34) sehingga mereka menjadi sembuh. Marilah, kita pun berusaha menghadirkan jamahan Tuhan bagi saudara-saudari kita. Jamahan ini bisa berarti uluran tangan untuk memberikan bantuan konkret kapada mereka yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan kita. Bisa juga dalam rupa kata-kata yang menentuh dan menyejukkan hati, kata-kata penghiburan dan peneguhan yang membangkitkan semangat, dan tentu saja tidak kalah pentingnya adalah kata-kata pengampunan dan permohonan maaf yang menyembuhkan luka di hati.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu untuk mampu menghadirkan jamahan kasih-Mu bagi saudara-saudari kami. Amin. -agawpr-