"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

Kamis, 19 Februari 2015
Hari Kamis sesudah Rabu Abu

 

Ul. 30:15-20; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 9:22-25.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

Salah satu kecenderungan manusiawi kita adalah keinginan untuk selalu mencari enak dan kepenak, kemudian ngenak-enak. Setiap kali ada kesulitan sedikit, kalau bisa ya dihindari. Hal ini merupakan kelemahan yang membuat kita seringkali tidak mudah untuk menyangkal diri dan memikul salib dengan ikhlas, apalagi dengan sukacita. Ilustrasi ini mungkin berguna. Para petani yang mempunyai sapi atau kambing di kandang, setiap hari pasti selalu mencarikan rumput untuk mereka. Meskipun badan capek sekali, meskipun hujan deras, meskipun badan sedang tidak enak, mereka akan tetap mencari rumput dan tidak mau membiarkan kambing dan sapinya kelaparan. Paling tidak itu yang terjadi dalam keluarga saya. Saya kira ini merupakan salah satu bentuk penyangkalan diri. Namun, penyangkalan diri semacam ini seringkali tidak kita lakukan untuk Tuhan. Ketika badan capek atau kurang sehat sedikit saja, kita seringkali malas untuk berdoa dan ke Gereja. Kalau hujan, kita juga malas atau aras-arasen untuk pergi ke Gereja atau mengikuti kegiatan lingkungan. Padahal, kalau untuk kambing atau sapinya saja (bisa ditambah dengan pekerjaan dan hal-hal lain), kita rela menyangkal diri dan berjerih payah, seharusnya untuk Tuhan kan lebih atau malah berlipat. Sapi dan kambing itu kan hanya harta duniawi kita, yang memberikan pupuk melalui kotorannya atau makanan melalui dagingnya atau uang kalau kita jual. Lah, Tuhan itu harta dunia dan akhirat kita. Dia memberikan segala-galanya kepada kita.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu menyangkal diri, memikul salib kami setiap hari dan mengikuti Engkau. Amin. -agawpr-

Kamis, 19 Februari 2015 Hari Kamis sesudah Rabu Abu

Kamis, 19 Februari 2015
Hari Kamis sesudah Rabu Abu

“Hendaklah kita rendah hati sedikit dengan meninggalkan sikap sombong, pembual dan pertengkaran busuk” (Paus Klemens II)

Antifon Pembuka (Mzm 55:17.20.23)

Ketika aku berseru kepada Tuhan, Ia mendengarkan daku dan membebaskan daku dari musuh-musuhku. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhanku dan Dia akan menolong engkau.

When I cried to the Lord, he heard my voice; he rescued me from those who attack me. Entrust your cares to the Lord, and he will support you.

     
Doa Pagi


Allah Bapa pangkal dan tujuan kehidupan kami, terangilah hati dan budi kami dalam merencanakan pekerjaan kami. Dampingilah kami dalam melaksanakannya dan berikanlah rahmat-Mu untuk menyelesaikannya dengan baik. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Allah menantang umat-Nya untuk menjatuhkan pilihan. Kehidupan atau kematian. Keberuntungan atau kecelakaan. Berkat atau kutuk. Tuhan menghendaki dan manusia normal mengharapkan kehidupan, keberuntungan dan berkat, dan bukan sebaliknya. Jalan untuk mencapainya adalah pertobatan, berbalik kepada Tuhan.

Bacaan dari Kitab Ulangan (30:15-20)
  
 
"Pada hari ini aku menghadapkan kepadamu: berkat dan kutuk."
    
Di padang gurun di seberang Sungai Yordan Musa berkata kepada bangsanya, “Ingatlah, pada hari ini aku menghadapkan kepadamu kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan. Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan serta peraturan-Nya. Dengan demikian engkau hidup dan bertambah banyak, dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu, di negeri yang kau masuki untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, apalagi jika engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka pada hari ini aku memberitahukan kepadamu bahwa pastilah kamu akan binasa, dan tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi Sungai Yordan, untuk mendudukinya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau tidak mati, baik engkau maupun keturunanmu, yaitu dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya. Sebab hal itu berarti hidup bagimu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe, harapanku pada Allah Tuhanku
atau Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan.
Ayat. (Mzm 1:1-2.3.4.6; Ul: Mzm 40:5a)
1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
2. Ia seperti pohon, yang di tanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
3. Bukan demikianlah orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. (Mat 10:7)
Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.

Yesus memberikan syarat untuk menjadi murid-Nya. Sekurang-kurangnya, ada tiga syarat, yaitu menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Kalau tiga syarat ini ditaati, kehidupan dan keselamatan akan dialami. Yesus sungguh mencintai kita umat-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (9:22-25)
  
"Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya."
   
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga. Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Nabi Musa mendapat wejangan hidup dari Allah untuk dihayati, “Kepadamu kuhadapan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau tidak mati.” Pilihan ini membawa konsekuensi. Untuk menjadi pohon itu, Yesus harus banyak menderita, dibunuh namun pada hari ketiga bangkit. Kita ingat akan “pohon kehidupan” dalam Perjanjian Lama, lalu menjadi gambaran dari Tuhan Yesus sendiri. Setiap orang yang mau mengikuti Yesus berarti juga perlu memilih “kehidupan”.

Antifon Komuni (Mzm 51:12)

Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam diriku.

Create a pure heart for me, O God; renew a steadfast spirit within me.

Doa Malam

Allah Bapa, pangkal dan tujuan kegiatan kami, bimbinglah kami selalu agar hidup kami selaras dengan Sabda-Mu. Berkatilah kami dalam usaha mencari damai-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

RUAH

Hari Rabu Abu

Rabu, 18 Februari 2015
Hari Rabu Abu - Hari Puasa dan Pantang

 

Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20 - 6:2; Mat. 6:1-6,16-18.
Hari ini kita memasuki Masa Prapaskah dengan Perayaan Rabu Abu. Sejak semula, yakni sejak zaman Bapa-Bapa Gereja, masa prakaskah dimaksudkan untuk meningkatkan olah rohani. Dalam bacaan Injil, kita menemukan 3 bentuk olah rohani yang hendaknya secara khusus kita tingkatkan dan kita hayati dengan sungguh-sungguh selama masa prapaskah ini, yakni ay. 2-4: memberi sedekah (amal, derma, APP); ay. 5-6: berdoa (Ekaristi, jalan salib, renungan/pendalaman APP); ay, 16-18: berpuasa (termasuk pantang). Secara khusus, ketiga hal tersebut kita hayati sebagai bentuk pertobatan yang nyata sebagaimana diserukan dalam bacaan I dan II. Sebab, bertobat bukan sekedar menyesal dan tidak mengulangi lagi dosa-dosa yang telah kita lakukan tetapi "berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati" (Yl 2, 12-13) dan dengan demikian kita diperdamaikan dengan Allah (2Kor 5, 20).

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar melalui amal, doa dan puasa, kami mampu menghayati pertobatan yang sejati. Amin. -agawpr-