Gambar Minggu Ini: Minggu Prapaskah II / A


Minggu, 12 Maret 2017 Hari Minggu Prapaskah II

Minggu, 12 Maret 2017
Hari Minggu Prapaskah II
   
Apabila kita tetap tabah mengakui dan mencintai Tuhan, kita mendapat kemenangan yang Ia peroleh, dan menerima ganjaran yang Ia janjikan. (St. Leo Agung)
  
Antifon Pembuka (Mzm 27:8-9)

Kepada-Mu, ya Tuhan, hatiku berkata, "Kucari wajah-Mu." Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, janganlah memalingkan muka daripadaku.
 
Tibi dixit cor meum, quæsivi vultum tuum, vultum tuum Domine requiram: ne avertas faciem tuam a me.

(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mazmur 84)

     
Doa Pembuka
 
Ya Allah, Engkau menghendaki agar kami mendengarkan Putra-Mu yang terkasih. Semoga Engkau berkenan menggerakkan hati kami dengan Sabda-Mu dan memurnikan mata batin kami agar dapat memandang kemuliaan-Mu dengan sukacita. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (12:1-4a)
    
"Panggilan Abraham, bapa Umat Allah."
   
Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 812
Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Ayat. (Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Ul: 22)
1. Firman itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 1:8b-10)
 
"Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup."
      
Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Mrk 9:6)
Dari awan terdengarlah suara Bapa, "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (17:1-9)
  
"Wajah-Nya bercahaya seperti matahari."
 
Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka: Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan


Hari ini Yesus menampakkan kemuliaan-Nya disaksikan oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes. Menyaksikan kemuliaan Yesus, mereka begitu bahagia: "Betapa bahagianya kita berada di tempat ini!" Kemuliaan Yesus yang mempesona itu juga terjadi dalam setiap perayaan Ekaristi. 
 
Dalam perayaan Ekaristi pun Kristus menampakkan kemuliaan-Nya seperti Ia menampakkan kemuliaan-Nya seperti Ia menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung. Maka, seperti tanggapan mereka terhadap kemuliaan Yesus di gunung, begitulah hendaknya tanggapan kita terhadap kemuliaan Allah yang turun dan menjadi nyata dalam perayaan Ekaristi. Di bagian manakah dalam perayaan Ekaristi Yesus menampakkan kemuliaan-Nya? Pertama-tama dalam bacaan Injil hari ini. Ketika Injil dibacakan, kita juga menyaksikan Yesus yang menampakkan kemuliaan-Nya, dan kita pun takjub seperti ketiga murid Yesus itu. 
  
Pada bagian lain, misalnya dalam Doa Syukur Agung: Ketika imam memperlihatkan hosti kudus, pada saat itulah Yesus menampakkan kemuliaan tubuh-Nya yang telah bangkit. Maka, pada saat kita menatap hosti kudus yang diperlihatkan imam, kita sedang menatap Yesus sendiri dalam kemuliaan-Nya. Ketika kita menyambut Tubuh Kristus dalam komuni, kita juga menyaksikan kemuliaan-Nya. Bahkan, Tubuh yang mulia cemerlang itu masuk ke dalam diri kita. Maka, marilah dalam perayaan Ekaristi hari ini, kita sungguh-sungguh menatap kemuliaan Tuhan yang tampak dalam hosti kudus. Tetapi, kedua kemuliaan itu (di gunung dan di dalam perayaan Ekaristi) hanyalah realita sekejap, seolah-olah Allah hanya menunjukkan kemuliaan itu sejenak, dan memberi kita kesempatan untuk mencicipinya. Kemuliaan itu akan kita nikmati sampai kekal sesudah kebangkitan kita.

Antifon Komuni (Mat 17:5)

Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia.

Visionem quam vidistis, nemini dixeritis, donec a mortuis resurgat Filius hominis.

(Antifon ini dapat diulangi sesudah tiap ayat dari Mzm 45:2ab,3,4,5,6,7,8,18ab atau Mzm 97:1,2,3,4,5,6,11,12)

“Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya di hadapan saksi-saksi yang dipilih-Nya; dan Ia membuat tubuh, yang Ia miliki bersama dengan manusia lainnya. Ia bersinar dengan cahaya cemerlang, hingga wajah-Nya menjadi terang seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih seperti kapas. Dengan mengubah rupa-Nya seperti ini, Tuhan khususnya ingin menghindarkan, agar para murid jangan sampai mendapatkan sandungan dalam hatinya, salib.” (Paus Leo Agung) 
 
 
Renungan Harian Mutiara Iman 2017