Sabtu, 19 Juni 2009, Pw. Hati Tersuci SP Maria

Sabtu, 19 Juni 2009
Pw Hati Tersuci SP Maria

Janganlah khawatir akan hal-hal duniawi. Tuhan telah memikirkannya bagi kita dan Ia akan menetapkan yang baik bagi kita. Yang perlu kita lakukan terlebih dahulu adalah mewartakan Kerajaan Allah.


Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, kami bersyukur kepada-Mu atas Bunda Maria, Bunda Yesus Putra-Mu yang telah mengajari kami untuk melaksanakan kehendak-Mu dengan lembuh dan rendah hati. Semoga keteguhan hatinya dalam memegang prinsip menguatkan kami dan kelembutan hatinya menyinari hati kami untuk dapat melayani kebutuhan sesama dengan murah hati, sehingga semakin banyak orang merasa gembira karena dihargai dan disapa sebagai pribadi. Demi Yesus Kristus, Tuhan kami untuk selama-lamanya. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Umat di Korintus (12:1-10)


"Aku suka bermegah atas kelemahanku."


Saudara-saudara, aku harus bermegah, sekalipun hal ini memang tidak ada faedahnya. Namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. Aku tahu tentang seorang Kristen, empat belas tahun yang lalu, entah di dalam tubuh, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allahlah yang tahu orang itu tiba-tiba diangkat ke surga, ke tingkat yang ketiga. Aku juga tahu tentang orang itu ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku. Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menilai aku lebih daripada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. Saudara-saudara, agar aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, aku diberi suatu duri dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, agar aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, agar kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 857
Ref. Kecaplah betapa sedapnya Tuhan, kecaplah betapa sedapnya Tuhan.
Ayat.
(Mzm 34:8-9.10-11.12-13)
1. Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takwa, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
2. Takutlah akan Tuhan, hai orang-orangnya yang kudus, sebab orang yang takut akan Dia takkan berkekurangan. Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari Tuhan tidak kekurangan suatu pun.
3. Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan Tuhan akan Kuajarkan kepadamu! Siapakah yang menyukai hidup? Siapakah yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Yesus Kristus telah menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, agar berkat kemiskinan-Nya, kalian menjadi kaya.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:24-34)


"Jangan khawatir akan hari esok."


Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, apa yang hendak kalian makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, apa yang hendak kalian pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan, dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, toh diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kalian jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kalian yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapakah kalian kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di lading, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal. Namun Aku berkata kepadamu, Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di lading, yang hari ini ada dan esok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan lebih lagi mendandani kalian, hai orang yang kurang percaya? Maka janganlah kalian kuatir dan berkata, ‘Apakah yang akan kami makn? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kalian memerlukan semuanya itu. Maka carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kalian kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Saudara-saudari terkasih, berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Hati Tersuci SP Maria hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Untuk apa orang bekerja? Untuk memeperoleh uang sebanyak-banyaknya atau agar termapil bekerja? Untuk apa para peserta didik atau mahasiswa belajar? Untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya atau agar terampil belajar?”. Jawaban yang baik dan benar adalah bekerja agar terampil bekerja, belajar agar terampil belajar, berdoa agar terampil berdoa, dst… Jika kita terampil bekerja, belajar atau berdoa, dst.., percayalah bahwa kita akan hidup damai sejahtera dan bahagia, tanpa ada kekuatiran sedikitpun. “Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian?”, demikian sabda Yesus.
Maka marilah kita mengusahakan seoptimal mungkin kesehatan dan kebugaran tubuh kita serta kesucian hidup kita dalam dan melalui aneka kesibukan, tugas, pekerjaan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Jika tubuh kita sehat dan segar bugar serta hidup kita baik, suci, tak bercacat, maka kita akan mampu hidup dan bekerja dimanapun dan kapanpun dan dengan demikian kita senantiasa dalam keadaan bahagia, damai sejahtera.
Mengusahakan kesehatan dan kebugaran tubuh serta kesucian hidup merupakan bentuk atau perwujudan “mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”. Kami berharap hendaknya anak-anak sedini mungkin dibina dan dibiasakan dalam mengutamakan hidup daripada makanan, tubuh daripada pakaian, dan tentu saja dengan keteladanan orangtua atau orang dewasa. Marilah kita meneladan Bunda Maria yang menanggapi panggilan Tuhan :”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

· “Jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”(2Kor 12:9), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Kesaksian ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua untuk menyadari dan menghayati bahwa hidup serta segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki atau kuasai saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui kebaikan orang lain atau sesama kita,. Kesehatan, kebugaran, keterampilan, kecantikan, ketampanan, harta benda dst.. adalah anugerah atau kasih karunia Allah kepada kita yang lemah, rapuh dan berdosa. Maka hendaknya kita senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan tidak menjadi sombong dalam bentuk apapun.
Beriman berarti dengan rendah hati mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai atau dirajai oleh Allah, kuasa Allah turun menaungi aku. Aneka keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) adalah anugerah atau kasih karunia Allah.
Marilah kita saling berbagi anugerah atau kasih karunia Allah dalam hidup kita sehari-hari: saling mengasihi, saling sabar, saling bermurah hati, saling berbuat baik, dst… sebagai tanda atau perwujudan bahwa kita bersama-sama “mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”.



“Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia”

(Mzm 34:8-10)



Jakarta, 20 Juni 2009
Ignatius Sumarya, SJ

Renungan Pagi