Sabtu, 03 Oktober 2009 Pw. St. Fransiskus Assisi

Sabtu, 03 Oktober 2009
Pw. St. Fransiskus Assisi

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya -- Yesaya 32:17

Tuhan, Jadikanlah Aku Pembawa Damai (Santo Fransiskus Asisi)






Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
Sebab dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku diampuni
Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin

Ada seorang arsitek yang meninggalkan kehidupan kota. Ia menjual segala miliknya untuk membuat padepokan di kaki gunung. Karena keramah-tamahan yang diberikan, padepokan ini banyak dikunjungi orang. Ada empat rumah yang dibuat pak arsitek untuk menampung keluarga-keluarga yang datang untuk beristirahat. Ia minta agar para pengunjung menikmati yang disediakan alam. Ia berharap, mereka mau makan singkong, makan dengan lauk ikan dari tamu yang membawa banyak bekal yang berlimpah. Katanya, anugerah alam sudah begitu banyak; namun orang masih ingin menjamin dirinya secara berlebihan. Itu kerakusan, imbuhnya.

Hari ini kita memperingati Santo Fransiskus Assisi, seorang bangsawan kaya raya yang memutuskan menjadi orang miskin. Ia menjadi orang yang tidak lagi mengandalkan keluarganya yang makmur, melainkan Allah Bapa-Nya yang mahabaik. Dan kebaikan Allah itu ia alami lewat orang-orang yang mengulurkan tangan pada waktu ia berkeliling sebagai peminta-minta. Teladan Santo Fransiskus menyadarkan banyak orang pada kebaikan Allah dan mendekatkan mereka pada-Nya.

Kita memang harus bertanggung jawab pada hidup kita dengan rajin bekerja. Namun, dengan segala sesuatu yang kita hasilkan, jangan sampai kita menjamin diri terlalu hebat, seolah-olah Allah tidak ada. Kita justru harus memberi kesaksian bahwa Allah sungguh ada, berkarya dalam hidup kita, menjamin dan menyertai kita.

Inspirasi Batin 2007

Doa Renungan

Ya Tuhan, terima kasih atas perlindungan semalam yang lalu. Saat ini kami akan menjalani hari kami. Bantu kami ya Tuhan agar dalam sehari ini kami dapat melaksanakan tugas untuk menjadi utusan-Mu mewartakan Kerajaan-Mu kepada sesama kami sehingga mereka semua dapat terbawa kepada-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Barukh (4:5-12.27-29)


"Allah telah mengirimkan segala bencana ini kepadamu, dan Dia pulalah yang akan mengirimkan sukacita kepadamu. "


Kuatkanlah hatimu, hai bangsaku, yang membawa nama Israel ! Kamu telah dijual kepada bangsa-bangsa lain, tetapi tidak untuk dibinasakan. Karena telah memurkakan Allah maka kamu diserahkan kepada para lawan. Sebab Pembuatmu telah kamu marahkan, dengan mempersembahkan korban kepada setan, bukannya kepada Allah. Pengasuhmu telah kamu lupakan, yakni Allah kekal, dan hati Yerusalem, dayahmupun telah kamu dukakan. Melihat kemurkaan Allah mendatangi diri kamu maka Yerusalem berkata: "Dengarlah, hai sekalian tetangga Sion! Allah telah mengirim kepadaku kesedihan besar." Sebab anak-anakku yang laki-laki dan perempuan kulihat tertawan, sebagaimana yang telah dikirimkan Yang Kekal kepada mereka. Mereka telah kuasuh dengan sukacita, tetapi sekarang kulihat pergi dengan tangisan dan sedih hati. Janganlah seorangpun bersukaria oleh karena diriku, seorang janda yang telah ditinggalkan banyak anak. Karena dosa anak-anakku aku menjadi kesepian, sebab mereka telah berpaling dari hukum Taurat Allah, Kuatkanlah hatimu, anak-anakku, berserulah kepada Allah; Dia yang mengirim bencana itu akan teringat kepadamu pula. Seperti dahulu angan-angan hatimu tertuju untuk bersesat dari Allah, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin. Memang Dia yang telah mengirim segala bencana itu kepada kamu akan mengirim pula sukacita abadi bersama dengan penyelamatanmu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan mendengarkan kaum miskin.
Ayat. (Mzm 69: 33-35.36-37)
1. Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah! Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan. Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya.
2. Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya; anak cucu hamba-hamba-Nya akan mewarisinya, dan orang-orang yang mencintai nama-Nya akan diam di situ.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat: Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (10:17-24)


"Bersukacitalah karena nama-Mu terdaftar di surga."


Pada waktu itu ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan


Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Fransiskus dari Assisi hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:



1.“Madecer” = Masa depan cerah, itulah rumor yang mengatakan bahwa masa depan sungguh cerah dan tidak perlu khawatir akan menjadi penganggur atau akan kekurangan pekerjaan. Masa depan siapa? Tentu saja masa depan orang-orang yang dipanggil khusus untuk menjadi imam, bruder atau suster, karena jumlah panggilan maupun kwalitas yang telah terpanggil mengalami kemerosotan sementara itu pekerjaan bertambah banyak serta berat sarat dengan tantangan, hambatan dan kesulitan. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”, demikian sabda Yesus kepada para murid, kepada kita semua. Para pekerja kiranya berasal dari keluarga dan tentu saja berasal dari daya tarik para imam, bruder dan suster yang memberi kesaksian atau teladan hidup sebagai yang terpanggil. Maka dengan ini kami mengajak para bapak-ibu atau orangtua maupun yang terpanggil menjadi imam, bruder atau suster untuk mawas diri, sejauh mana kita minta kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu:

· Bapak-ibu atau orangtua hendaknya mengusahakan kehidupan berkeluarga sedemikian rupa sehingga di antara anak-anaknya ada yang tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster, atau menjadi ‘man or woman for others’. Sedini mungkin anak-anak dididik dan dibina dalam hal kepekaan sosial, solidaritas serta keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan dan tentu saja dalam hal hidup beriman atau beragama. Keteladanan orangtua atau bapak ibu sangat dibutuhkan dalam hal ini: kepekaan sosial, solidaritas, keberpihakan kepada yang miskin dan berkekurangan serta berdoa. Sedini mungkin anak-anak ‘difungsikan’ dalam kehidupan bersama di dalam keluarga maupun masyarakat atau teman-temannya, sesuai dengan perkembangan kepribadian dan kedewasaannya. Sebagai contoh perbuatan atau pekerjaan sederhana seperti mengatur selimut, sepatu dan sandal, membuang sampah pada tempatnya, mematikan kran kamar mandi, mematikan listrik yang tidak berguna, menyapu, mengepel, mencuci piring atau gelas dst…. Dari yang sederhana ini pelan-pelan berkembang ke yang lebih besar, sulit dan berbelit-belit-> aktif dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial, masyarakat maupun gerejani, dst.. Jauhkan anak-anak dari aneka macam bentuk pemanjaan yang akan mencelakakan masa depan mereka.

· Kesaksian atau keteladanan para imam, bruder dan suster merupakan bentuk utama dan pertama dalam hal promosi panggilan:

1) “Dalam hidupnya para klerikus terikat untuk mengejar kesucian dengan alasan khusus, yakni mereka telah dibaktikan kepada Allah dengan dasar baru dalam penerimaan tahbisan menjadi pembagi misteri-misteri Allah dalam mengabdi umatNya. Agar mereka mampu mengejar kesempurnaan ini:

a. Hendaknya pertama-tama mereka menjalankan tugas-tugas pelayanan pastoral dengan setia dan tanpa kenal lelah

b. Hendaknya mereka memupuk hidup rohani….

c. Hendaknya menunaikan ibadat harian setiap hari….

d. Wajib meluangkan waktu untuk latihan rohani…

e. Melakukan doa batin secara teratur, sering menerima sakramen tobat, berbakti kepada Perawan Bunda Allah…(KHK kan 276)

2) “Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat” (KHK kan 673). Berdoa berarti berkomunikasi dengan Tuhan, dan karena Tuhan itu maha segalanya, maka bertemu atau berkomunikasi denganNya kita pasti akan dipengaruhi, dikuasai dan diperbaharui alias bertobat.



2.“Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan”, demikian sabda Yesus kepada para muridNya, kepada kita semua. Kita diutus untuk membawa dan menyebarluaskan kebenaran, berbahasa kebenaran di tengah-tengah banyak orang yang berbahasa politik dan bisnis. St.Fransiskus Assisi pada zamannya kiranya telah menghayati panggilan dan tugas perutusan ini; ia meninggalkan kemewahan dan gemerlapan duniawi dan merasuk hidup sederhana dan miskin. “Di kala Gereja menjadi lemah dan sakit karena harta kekayaan dan kekuasaan, Fransiskus menemukan kembali cita-cita Injili yang asli: kerendahan(hati) , kemiskinan dan cinta” (Ensiklopedi Orang Kudus, Yayasan Citpa Loka Caraka –Jakarta , hal 120). Maka baiklah pada pesta St.Fransiskus Assisi hari ini, kami mengajak dan mengingatkan kita semua, lebih-lebih rekan-rekan pengikut St.Fransiskus Assisi, untuk menghayati dan menyebarluaskan cita-cita Injil yang asli tersebut di tengah-tengah keserakahan, kesombongan, kebencian dan permusuhan yang masih marak masa kini. Situasi dan kondisi hidup bersama masa kini merupakan kesempatan emas untuk hidup dalam dan menghayati kerendahan hati, kemiskinan dan cinta. Dari ketiga keutamaan ini kiranya dapat kita wujudkan dengan saling terbuka antar kita, sehingga tiada manipulasi, korupsi maupun cinta diri. Baiklah dalam rangka mengeangkan St.Fransiskus Assisi hari ini kita doakan dan hayati serta sebarluaskan doa St.Fransiskus Assisi ini:

" Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai,

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih,

Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,

Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,

Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,

Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan,

Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,

Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang “ (PS no 221)

Jakarta, 4 Oktober 2007.

SELAMAT PESTA REKAN-REKAN PENGIKUT ST.FRANSISKUS ASSISI

Ignatius Sumarya, SJ