Senin, 26 Oktober 2009 :: Hari Biasa Pekan XXX

Senin, 26 Oktober 2009
Hari Biasa Pekan XXX

Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, jangan takut mengungkapkan isi hati kepada-Nya dalam doa dan tindakan baik.

Doa Renungan

Tuhan Yesus, kasih-Mu amat besar dalam hidup kami. Semoga kami yang hendak memulai pekerjaan harian kami sungguh merasakan kembali kasih-Mu itu. Secara istimewa kasih-Mu yang menyembuhkan itu semoga menyembuhkan kami, mereka yang saat ini sedang sakit, dan musuh-musuh kami, juga pada setiap orang yang hendak melaksanakan pekerjaan mereka hari ini. Terpujilah Engkau yang Mahabaik sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Umat di Roma (8:12-17)

"Kalian telah menerima Roh yang menjadikan kalian anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, 'Abba, ya Bapa"

Saudara-saudara, kita ini orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab jika kalian hidup menurut daging, kalian akan mati. Tetapi jika oleh Roh kalian mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, maka kalian akan hidup. Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kalian menerima bukan roh perbudakan yang membuat kalian menjadi takut lagi, melainkan Roh yang menjadikan kalian anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, 'Abba, ya Bapa.' Roh itu memberi kesaksian bersama-sama roh kita bahwa kita ini anak Allah. Dan kalau kita ini anak, berarti juga ahli waris, yakni ahli waris Allah, sama seperti Kristus. Artinya jika kita menderita bersama dengan Dia, kita juga akan dipermuliakan bersama dengan Dia.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan.

Ayat.
(Mzm 68:2.6-7ab.20-21)
1. Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.
2. Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan sehingga mereka bahagia.
3. Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:10-17)

"Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari sabat?"

Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata, "Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh." Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, "Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum? Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh iblis. Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?" Waktu Yesus berbicara demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


“Bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?”

(Rm 8:12-17; Luk 13:10-17)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Di akhir sebuah lokakarya karya pendidikan, para wakil (dari keuskupan-keuskupan) menyampaikan rekomendasi berupa rencana kegiatan kerja di wilayah masing-masing. Cukup menarik ada beberapa wakil dalam menyampaikan rencana kegiatannya dengan catatan kaki, yaitu: pelaksanaan rencana kerja ini perlu rekomendasi Uskup. Dalam hati saya bertanya-tanya: apakah untuk berbuat baik perlu rekomendasi uskup, yang dimaksudkan kiranya perlu dana/beaya dari uskup. Hemat saya semua pimpinan di tingkat manapun tidak akan melarang anak buahnya berbuat baik. Perbuatan baik berada di ranah norma moral, yang mengatasi norma hukum. Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat dan apa yang dilakukan membuat gusar kepala rumah ibadat karena menurut aturan Sabat pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Tetapi setelah Yesus menjelaskan arti Sabat dan perbuatanNya, mereka pun bersukacita. Belajar dan bercermin pada apa yang telah dilakukan oleh Yesus, marilah kita tidak takut atau ragu-ragu untuk berbuat baik dimanapun dan kapanpun, lebih-lebih menolong mereka yang sakit atau menderita. Kita jauhkan dan berantas aneka bentuk kemunafikan. Aneka macam aturan dan tatanan hidup bertujuan untuk kebaikan umum, maka semua perbuatan baik tidak melawan aturan atau tatanan hidup, melainkan memantapkan aturan dan tatanan tersebut, meskipun sekilas nampak melanggar aturan. Usaha dan kegiatan penyelamatan jiwa manusia dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja.

· “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah”(Rm 8:14-15). Anak Allah berarti orang yang sungguh dikasihi oleh Allah, dan kita semua kiranya mendambakan sebagai yang dikasihi oleh Allah. Kasih Allah kepada kita masing-masing telah kita terima secara melimpah ruah melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, tanpa kenal aturan atau tatanan. Maka hendaknya tidak mengingkari diri sebagai yang telah dikasihi, dan tentu saja kita menanggapinya dengan berterima kasih, dan terima kasih itu kita wujudkan dengan mengasihi orang lain, sehingga kita hidup dan bertindak saling mengasihi. Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi maka tiada ketakutan sedikitpun dalam diri kita masing-masing, dan dengan demikian kita juga handal dan tabah terhadap aneka ancaman jenis penyakit. Maka jika dalam diri kita masing-masing masih ada ketakutan berarti kebersamaan hidup kita kurang atau tidak saling mengasihi atau ada yang bermental budak, dimana bertindak menunggu perintah. Baiklah jika ada saudara-saudari kita yang masih dalam ketakutan, marilah kita tolong dengan rendah hati agar tidak takut, antara lain dengan memperlihatkan kasih Allah yang melimpah ruah dalam diri mereka. Mereka yang takut pada umumnya karena merasa kurang dikasihi, padahal yang benar kasih kepadanya sungguh melimpah ruah. Kita ingatkan mereka bahwa kita sampai kini masih hidup seperti saat ini tidak lain karena kasih Allah yang kita terima melalui banyak orang yang telah mengaasihi kita.

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah bagi kita adalah Allah yang menyelamatkan, ALLAH, Tuhanku, memberi keluputan dari maut

(Mzm 68:20-21).

Jakarta, 26 Oktober 2009

Ignatius Sumarya, SJ

Bacaan Harian: 26 Oktober - 01 November 2009

Bacaan Harian: 26 Oktober - 01 November 2009

Senin, 26 Oktober 2009:
Hari Biasa Pekan XXX (H).
Rm 8:12-17; Mzm 68:2.6-7ab.20-21; Luk 13:10-17.
Dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat, Yesus mengambil resiko untuk dikecam. Berbuat baik demi nilai-nilai kehidupan memang seringkali membawa resiko. Demi mencari aman, orang seringkali menghindar untuk berbuat baik dengan mengajukan banyak alasan.

Selasa, 27 Oktober 2009:
Hari Biasa Pekan XXX(H).
Rm 8:18-25; Mzm 126:1- 6; Luk 13:18-21.
Kerajaan Allah seumpama biji sesawi yang kecil tetapi dapat bertumbuh menjadi pohon yang besar. Hal kecil yang kita lakukan dengan tekun demi Kerajaan Allah, pada saatnya akan menjadi begitu berguna dan berdampak bagi kebaikan. Kekuatannya terletak bukan pada diri kita, tetapi pada kuasa yang berasal dari Tuhan sendiri.

Rabu, 28 Oktober 2009:
Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul (M).
Ef 2:19-22; Mzm 19:2-5; Luk 6:12-19.
Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin berusaha mengikuti ajaran-ajaran-Nya. Tetapi sanggupkah kita juga menjadi ‘rasul’ yang siap diutus mewartakan ajaran-Nya itu di manapun kita berada. Yesus bukan saja mau menyelamatkan diri kita sendiri-sendiri, tetapi Ia juga mau menyelamatkan semua yang lain. Untuk itu Ia membutuhkan kita sebagai pewarta kerajaan-Nya, menjadi penjala manusia.

Kamis, 29 Oktober 2009:
Hari Biasa Pekan XXX (H).
Rm 8:31b-39; Mzm 109:21-22. 26-27.30-31; Luk 13:31-35.
Perjalanan iman bersama Yesus adalah berangkat dari Galilea menuju Yerusalem. Jalan menuju kemuliaan harus melalui Golgota. Yesus taat pada kehendak Bapa. Ia tak gentar terhadap resiko dan ancaman. Sebagai orang beriman, siapkah kita berjuang dalam iman, bagaimanapun sulit dan beratnya, untuk menuju kemuliaan?

Jumat, 30 Oktober 2009:
Hari Biasa Pekan XXX (H).
Rm 9:1-5; Mzm 147:12-15.19-20; Luk 14:1-6.
Berbuat baik haruslah menjadi napas kehidupan dan dilakukan setiap saat. Manusia seringkali terpaku pada berbagai macam aturan, omongan atau anggapan orang, bahkan resiko-resiko yang mungkin timbul, sehingga tidak berani untuk berbuat baik. Marilah kita mulai dari hal-hal kecil untuk tidak lelah dan tidak takut berbuat baik.

Sabtu, 31 Oktober 2009:
Hari Biasa Pekan XXX (H).
Rm 11:1-2a.11-12.25-29; Mzm 94:12-13a.14-15; Luk 14:1.7-11.
Seperti umumnya manusia, kita cenderung bertindak mencari pujian, mengutamakan diri, dan sombong akan kemampuan diri. Yesus hari ini mengajarkan untuk rendah hati. Rendah hati artinya rela dan siap sedia mengutamakan kepentingan orang lain, mendahulukan orang lain dan tidak selalu berpusat pada diri sendiri. Dengan sikap itulah kita ditinggikan oleh-Nya.

Minggu, 01 November 2009:
Hari Raya Semua Orang Kudus (P).
Why 7:2-4.9-14; Mzm 24:1-4ab.5-6; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a.
Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan setia untuk menjalankan tugas perutusan kita. Pekerjaan ini tidak mudah. Ada banyak tantangan dan godaan. Namun, semua orang kudus yang kita rayakan hari ini menjadi teladan dan sekaligus menjadi dorongan bagi kita untuk mengusahakannya dengan bantuan rahmat Allah.

Minggu, 25 Oktober 2009 :: Mg Biasa XXX oleh Rm. I. Sumarya, SJ

Minggu, 25 Oktober 2009

Hari Minggu Biasa XXX: Yes 31:7-9; Ibr 5:1-6; Mrk 10:46-52

oleh Romo I. Sumarya, SJ

"Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”

Indera ‘mata’ atau penglihatan merupakan salah satu dari lima indera yang cukup penting. Orang buta berarti mengalami kekurangan atau kelemahan untuk menerima aneka informasi yang dapat dilihat dan dinikmati melalui mata; yang bersangkutan juga dapat dengan mudah ditipu atau dikelabui orang lain. Dengan mata atau penglihatan yang baik kita dapat menikmati panorama atau pemandangan yang indah serta menyegarkan, entah itu tanaman, binatang maupun manusia atau alam pegunungan, dst.. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan orang buta, yang berteriak-teriak mohon penyembuhan dari Yesus. Yesus pun tergerak hatiNya oleh belas kasihan dan akhirnya menyembuhkan orang buta tersebut sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!’, demikian sabda Yesus kepada orang buta tersebut, dan ia pun sembuh, dapat melihat, kemudian “ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya

"Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mrk 10:52)

Mungkin di antara kita tidak ada yang buta matanya, namun kiranya ada yang kabur atau buta mata hatinya. “It be better to follow the blind man than to follow the blind heart”, demikian rumor yang berkembang ketika Gus Dur, yang buta matanya, terpilih menjadi presiden RI. Ungkapan tersebut apakah merupakan bentuk kekecewaan atau kebanggaan, nampaknya tidak jelas. Saya pribadi terkesan dengan rumor tersebut, dan setelah saya refleksikan hemat saya memang benar bahwa buta mata hati lebih merugikan daripada buta mata phisik. Buta mata hati berarti tidak/kurang beriman, sehingga orang yang buta hatinya akan hidup seenaknya sendiri, mengikuti selera pribadi, tidak mengikuti kehendak Tuhan atau menghayati janji-janji yang pernah diikrarkan.

Imanmu telah menyelamatkan engkau”, demikian sabda Yesus kepada orang yang buta matanya. Beriman berarti mempersembahkan atau menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dalam cara hidup serta cara bertindak setiap hari senantiasa mentaati dan melaksanakan aturan atau tatanan hidup yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusannya, dan dengan demikian selamat, damai sejahtera. Maka jika kita mengakui diri sebagai orang beriman, marilah kita mawas diri: sejauh mana kita melaksanakan atau menghayati aturan dan tatanan hidup yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing? Jika kita masih sakit-sakitan, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh, berarti kita kurang atau tidak beriman.

Setelah disembuhkan si buta langsung mengikuti Yesus dalam perjalananNya, artinya ia berjalan bersama dan bersatu dengan Tuhan. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus/Tuhan, kita dipanggil mengikutiNya dalam perjalananNya, yang tidak lain berjalan atau pergi kemanapun dan dimanapun untuk menyelamatkan atau membahagiakan orang lain. Kita dipanggil untuk membahagiakan orang lain dalam dan melalui cara hidup, cara bertindak serta sepak terjang kita setiap hari. Kita semua kiranya memiliki mata tubuh yang sehat alias dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, maka kami harapkan setelah melihat dan mungkin menemukan sesuatu yang tidak baik, tidak beres dan amburadul, hendaknya langsung diperbaiki, dibereskan dan diatur. Kami percaya jika kita sungguh beriman, maka ketika melihat sesuatu pasti langsung tergerak untuk melakukan sesuatu yang menyelamatkan dan membahagiakan. Orang sungguh beriman pada umumnya juga lebih melihat ke bawah dari pada ke atas, sehingga melihat kenyataan yang ada dengan jelas serta hidup dalam kenyataan bukan mimpi-mimpi; ia rendah hati.

“Setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri.”(Ibr 5:1-3)

Kutipan di atas ini kiranya baik menjadi bahan refleksi para imam/pastor khususnya, dan juga umat Allah pada umumnya yang juga memiliki cirikhas imamat umum kaum beriman. Sebagai imam atau pastor hendaknya ‘dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat’, karena untuk itulah ia dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya Yesus, Imam Agung, yang datang untuk menyelamatkan orang berdosa, bukan orang sehat dan baik. Untuk itu sebagai imam atau pastor harus mendunia atau memahami seluk-beluk atau hal-ikhwal duniawi, kebutuhan hidup sehari-hari umat Allah serta lingkungan hidup mereka. Dengan kata lain hendaknya sering ‘turba’, turun ke bawah, melepaskan atribut kebesarannya dan menjadi sama dengan mereka yang didatangi kecuali dalam hal dosa.

Kita perlu mengerti kelemahan dan kerapuhan diri kita sendiri maupun mereka yang harus kita layani, agar kita tahu bentuk atau wujud persembahan macam apa yang harus kita haturkan alias bantuan atau pertolongan yang harus kita berikan. Kelemahan atau kerapuhan dapat terletak dalam hati, jiwa, akal budi atau tubuh. Orang-orang jahil dan sesat pada umumnya kelemahannya terletak dalam hati dan jiwa mereka, tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Maka jika kita jahil dan sesat atau siapapun yang merasa jahil dan sesat, marilah kita berdoa seperti ini: “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"(1Raj 3:9).

Sesungguhnya, Aku akan membawa mereka dari tanah utara dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; di antara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali ke mari! Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung;”(Yer 31:8-9). Kutipan dari kitab Yeremia ini kiranya dapat kita refleksikan sebagai pendukung panggilan imamat kita, entah imamat jabatan maupun imamat umum kaum beriman. Kita dipanggil untuk membawa saudara-saudari kita ‘di jalan yang rata, dimana mereka tidak akan tersandung’. Kita dipanggil untuk membawa saudara-saudari kita kembali ke jalan benar, jalan hidup yang telah digelutinya, dialaminya sesuai dengan panggilan Tuhan. Dengan kata lain kita diingatkan untuk tanpa takut dan gentar menegor dan meluruskan mereka yang suka atau sering selingkuh, mengingkari panggilan dan tugas pengutusannya. Kepada siapapun yang sering ‘tersandung; apalagi ‘jatuh’ kami ingatkan: jangan-jangan telah berselingkuh; jika memang telah dan sedang berselingkuh kami ajak untuk bertobat, kembali ke jalan benar, demi kebahagiaan anda sendiri maupun saudara-saudari anda.

Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”(Mzm 126)

Jakarta, 25 Oktober 2009

.