Senin, 09 Februari 2009 Hari Biasa Pekan V

Senin, 09 Februari 2009
Hari Biasa Pekan V

Jauhilah pertikaian, maka dosa kaukurangkan, sebab orang yang panas hati mengobar-ngobarkan pertikaian. Orang yang berdosa mengganggu orang-orang yang bersahabat, dan melontarkan permusuhan di antara orang-orang yang hidup dengan damai. (Sirakh 28:8-9)

Doa Renungan

Yesus penolong sejati, Engkau selalu membawa kebahagiaan dan keselamatan. Biarlah hari ini kami Engkau berkati dan rahmati dengan kuasa Roh Kudus sehingga kami dapat membahagiakan dan menggembirakan semua orang yang kami jumpai. Sehingga dengan demikian nama-Mu semakin dimuliakan oleh banyak orang. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (8:1-7.9-13)

"Imam-imam membawa tabut perjanjian ke tempat mahakudus dan datanglah awan memenuhi rumah Tuhan."

Setelah Rumah Allah selesai dibangun, Raja Salomo memerintahkan para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin keluarga Israel , berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian Tuhan dari kota Daud, yaitu Sion. Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan Raja Salomo semua orang Israel . Setelah semua tua-tua Israel datang, imam-imam mengangkat tabut itu. Mereka mengangkut tabut Tuhan dan Kemah Pertemuan serta segala barang kudus yang ada dalam kemah itu. Semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi. Sedang Raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan terbilang banyaknya. Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian Tuhan itu ke tempatnya, yakni di ruang belakang rumah itu, di tempat mahakudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub. Sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungan dari atas. Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan Tuhan dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir. Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, turunlah awan memenuhi rumah Tuhan, sehingga oleh karena awan itu, imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu. Pada waktu itu berkatalah Salomo, “Tuhan telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.”
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Reff. Semoga Tuhan bersukacita atas karya-Nya
Ayat. (Mzm 132:6-7.8-10)
1. Dengarlah! Kami dengar tabut itu ada di Efrata, kami telah mendapatinya di padang Yaar. “Mari kita pergi ke tempat kediaman-Nya, dan sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya.”
2. Bangunlah, ya Tuhan dan pergilah ke tempat peristirahatan-Mu, Engkau serta tabut kekuasaan-Mu. Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan biarlah bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi. Demi Daud, hamba-Mu janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (6:53-56)

"Semua orang yang menjamah Yesus, menjadi sembuh."

53 Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. 55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. 56 Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.

Renungan

Dalam sebuah ibadat adorasi yang disertai prosesi Sakramen Mahakudus, seorang imam terkagum-kagum menyaksikan sikap umatnya. Ada yang mengungkapkan rasa hormat dengan berlutut tanpa alas. Ada yang membungkuk, dan ada juga yang memegang ujung kasula atau velum yang dipakai sang imam, persis seperti yang digambarkan dalam Injil pada hari ini.

Dalam tradisi Perjanjian Lama, imam-imam mempunyai tugas mengangkat dan mengangkut tabut perjanjian Tuhan ke tempat-tempat yang dikhususkan dalam upacara keagamaan mereka. Tabut perjanjian merepresentasikan Allah sendiri yang ada di tengah-tengah mereka. Perjanjian Baru menghadirkan Yesus sebagai Allah yang hidup di tengah dan bersama jemaatnya. Maka, ke mana pun Ia pergi, ke situ pulalah orang berbondong-bondong datang dan memohonkan mukjizat keselamatan.

Janganlah kita memandang praktik keagamaan secara sempit, sekadar hitam-putih dan kasat mata. Ada ”peristiwa iman” di balik berbagai sikap itu. Bukan tabut perjanjian yang dihormati. Bukan pula kasula atau velum yang disentuh yang menyembuhkan orang sakit. Namun, iman yang diaktualisasikan dalam sikap liturgislah yang telah menyelamatkan dan memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kelemahan.

Tuhan Yesus, semoga aku sanggup menyelaraskan imanku dengan hidup keagamaanku sehari-hari. Amin.


Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian

Bagikan

Bacaan Harian 08 - 14 Februari 2010

Bacaan Harian 08 - 14 Februari 2010

Senin, 08 Februari : Hari Biasa Pekan V (H).

1Raj 8:1-7.9-13; Mzm 132:6-10; Mrk 6:53-56.
Kemana pun Yesus pergi, orang mengejar-Nya untuk membawa orang-orang sakit kepada-Nya. Semua yang menjamah jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Sayangnya, ini belum cukup menjadi tanda bagi mereka bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Apakah kita juga masih membutuhkan tanda untuk dapat berserah total kepada-Nya?

Selasa, 09 Februari : Hari Biasa Pekan V (H).

1Raj 8:22-23.27-30; Mzm 84:3- 5.10-11; Mrk 7:1-13.
Kita mudah jatuh dalam sikap yang munafik: tiadanya kesesuaian antara iman dan perbuatan; antara kata dan tindakan; antara cita-cita dan usaha mencapainya. Yesus mencerca sikap seperti itu. Ia menuntut supaya apa yang kita ucapkan sungguh pula berakar pada hati yang dalam dan berwujud dalam perbuatan yang nyata.

Rabu, 10 Februari : Peringatan Wajib Sta. Skolastika, Perawan (P).

1Raj 10:1-10; Mzm 37:5-6.30-31.39-40; Mrk 7:14-23.
Yesus kembali menekankan pentingnya hati yang bersih. Dari hati seperti inilah akan keluar perbuatan-perbuatan baik. Hati yang bersih adalah hati yang tidak mengikuti dorongan-dorongan jahat, tetapi membiarkan Roh Kudus bekerja dan menuntun.

Kamis, 11 Februari : Hari Biasa Pekan V (H).
1Raj 11:4-13; Mzm 106:3-4.35-37.40; Mrk 7:24-30.
Keselamatan itu ternyata milik segala bangsa. Dalam Yesus tidak ada lagi Yahudi, Yunani, orang bebas atau pun budak belian. Maka, murid-murid Yesus pun harus membuka diri untuk semua, tanpa membedakan asal-usul ataupun kaya-miskin.

Jumat, 12 Februari :
Hari Biasa Pekan V (H).
Raj 11:29-32; 12:19; Mzm 81:10 – 11ab.12-15; Mrk 7:31-37.
Selama kita ’tuli’ dan tidak mau membuka hati untuk sungguh mendengarkan, selama itu pula hidup kita sulit ’bicara’. Datanglah pada Yesus, izinkan Dia menjamah kita supaya hati kita terbuka dan mampu ’mendengarkan’. Dengan begitu, hidup kita pun akan bisa banyak ’bicara’ di hadapan orang lain.

Sabtu, 13 Februari : Hari Biasa Pekan V (H).

1Raj 12:26-32 – 13:33-34; Mzm 106:6-7a.19-22; Mrk 8:1-10.
Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Karena banyaknya, kita pun merasa tidak sanggup berbuat apa-apa. Yesus mengingatkan, kita dapat melakukan sesuatu dengan apa yang kita miliki – dan itu tidak perlu harus materi. Selebihnya, Ia yang akan bekerja.


Minggu, 14 Februari : Hari Minggu Biasa VI (H).

Yer 17:5-8; Mzm 1:1-4.6; 1Kor 15:12.16-20; Luk 6:17.20-26.
Berbahagialah orang-orang yang miskin, lapar, menangis, dan dibenci karena Anak Manusia. Betapapun saat ini hal-hal itu tidak diinginkan, orang-orang seperti itu ke masa datang lebih mudah menggantungkan hidup pada Tuhan. Sebaliknya, celakalah yang kaya, kenyang, tertawa, dan dipuji. Betapa pun hal itu saat ini menyenangkan, pada masa depan bisa mencelakakan karena mendorong orang untuk mengandalkan kekuatan diri sendiri.



Bagikan