Jumat, 19 Maret 2010 Hari Raya St Yosef, Suami SP. Maria

Jumat, 19 Maret 2010
Hari Raya St Yosef, Suami SP. Maria

"Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Markus 1:20b)

Doa Renungan Pagi

Allah yang mahakuasa, Santo Yusuf, abdi-Mu yang setia telah Kauberi tugas mulia untuk menjaga dan melindungi keluarga kudus di Nazaret yang menjadi awal keselamatan kami. Ajarilah kami hari ini, beriman seperti St. Yusuf yang dengan tekun dan takwa berbakti kepada-Mu mengabdikan diri dalam karya penyelamatan umat manusia yang telah Kaumulai dalam diri Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel (7:4-5a.12-14a.16)

"Tuhan Allah akan memberikan kepada Dia takhta Daud bapa-Nya."

4 Pada suatu malam datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: 5a "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: 12 Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. 13 Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. 14a Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku.16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 845
Ref. Tuhan adalah kasih setia bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya.
Ayat.
(Mzm 89:2-3.4-5.27.29; R:37)
1. Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya, hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.
2. Engkau berkata, "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku; Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya, dan membangun takhtamu turun-temurun."
3. Dia pun akan berseru kepada-Ku, "Bapakulah Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku". Untuk selama-lamanya Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia, dan perjanjian-Ku dengannya akan Kupegang teguh".

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (4:13.16-18.22)

"Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya."

13 Saudara-saudara, bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. 16 Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, --17 seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" --di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 966
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Sang Raja kemuliaan kekal.
Ayat. Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. (Mzm 84:5)

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (1:16.18-21.24a)

"Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan."

16 Menurut silsilah Yesus Kristus, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. 18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." 24a Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Siapakah St. Yosef?

St. Yosef adalah
seorang santo besar. Ia adalah bapa asuh Yesus dan suami Santa Perawan Maria. Yosef memperoleh hak istimewa untuk merawat Putra Allah sendiri, Yesus, serta BundaNya, Maria. Yosef seorang yang miskin sepanjang hidupnya. Ia harus bekerja keras dalam bengkel tukang kayunya, tetapi ia tidak berkeberatan. Ia bahagia dapat bekerja bagi keluarga kecilnya. Ia amat mengasihi Yesus dan Maria.

Apa pun yang Tuhan ingin ia lakukan, St. Yosef segera melaksanakannya, tak peduli betapa sulit hal tersebut. Ia seorang yang rendah hati serta tulus hati, lemah lembut serta bijaksana. Yesus dan Maria mengasihinya serta taat kepadanya sebab Tuhan telah menjadikannya kepala rumah tangga mereka. Betapa bahagianya St. Yosef dapat hidup bersama dengan Putra Allah sendiri. Yesus taat kepadanya, membantunya serta mengasihinya. Kita biasa memohon bantuan doa St. Yosef sebagai pelindung mereka yang sedang menghadapi ajal, sebab kita percaya bahwa St. Yosef meninggal dunia dengan damai dalam pelukan Yesus dan Bunda Maria.


St. Theresia dari Avila
memilih St. Yosef sebagai pelindung ordonya, ordo para biarawati Karmelit. Ia menaruh pengharapan besar dalam memohon bantuan doa St. Yosef. “Setiap kali aku meminta sesuatu kepada St. Yosef,” demikian katanya, “ia selalu memperolehkannya bagiku.”

Paus Pius IX menyatakan St. Yosef sebagai pelindung Gereja Universal.


“Apa yang telah dijanjikan Allah yang baik kepada mereka (para nabi dan para bapa bangsa), ia gendong dalam pelukannya.” ~ St. Bernardin dari Siena

Sumber: http://indocell.net/yesaya/id271_s__yusuf.htm


Renungan


2Sam 7:4-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

“Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum”

“Setiap tahun terjadi 2,6 juta kasus aborsi di Indonesia atau setiap jamnya terdapat 300 wanita telah menggugurkan kandungannya dengan cara yang membahayakan jiwanya sendiri itu. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Siswanto Agus Wilopo, di Jakarta, Kamis, mengatakan, data aborsi tersebut meliputi kasus aborsi yang terjadi secara spontan maupun dengan induksi."Dari jumlah itu, 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja atau perempuan berusia di bawah 20 tahun," kata Ketua Minat Kesehatan Ibu dan Anak/Reproduksi Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.” (www.antara.co.id/ tgl 23/11/06). 700 ribu per tatun berarti kurang lebih 2 per hari, yaitu 2 (dua) remaja atau perempuan menggugurkan kandungan. Remaja atau gadis yang menggugurkan kandungan-nya mungkin karena pergaulan bebas serta ditinggal lari oleh pacarnya, yang tidak bertanggungjawab. Bergitulah sikap mental beberapa remaja laki-laki atau pemuda, yang sering hanya cari enaknya dan tak bersedia bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya. Hari ini kita kenangkan St.Yusuf, ‘suami SP Maria’ atau tunangan SP Maria, yang mengetahui bahwa Maria mengandung, tergerak untuk meninggalkannya, tetapi ia juga tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Yusuf, suami SP Maria, hari ini saya mengajak lebih-lebih para rekan laki-laki untuk berhati tulus dan tidak mau mencemarkan nama orang lain di muka umum.

“Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum” (Mat 1:19)

Tulus hati berarti memiliki hati yang mulus dan bersih alias suci, dan secara konkret untuk masa kini antara lain “tidak mencemarkan nama orang lain di muka umum”. Pada masa kini kiranya cukup banyak orang yang suka mencemarkan nama baik orang lain yaitu dengan ‘ngrumpi/ngrasani’, yang pada umumnya membicarakan kekurangan, kelamahan dan dosa orang lain, dimana orang yang dijadikan bahan pembicaraan tidak ada di depannya. Orang yang berbuat demikian berarti melecehkan atau merendahkan orang lain alias melanggar atau menginjak-injak hak asasi manusia. Saya sering mendengar keluhan dari beberapa orang, entah suami atau isteri, yang merasa kurang puas dalam pelayanan kebutuhan pribadi di rumah atau di tempat tidur, dengan mudah menceriterakan kepada rekan kerjanya yang berlainan jenis perihal kekurangan atau kelemahan pasangan hidupnya. Dampaknya adalah kerenggangan hubungan suami-isteri yang dibumbui dengan perselingkuhan.

“Tidak mencemarkan nama baik orang lain di muka umum” antara lain berarti menceriterakan apa yang baik, indah, luhur dan mulia yang ada dalam diri sesamanya, dengan kata lain senantiasa ‘berpikiran positif’ (positive thinking). Kami percaya dalam diri kita masing-masing pasti lebih banyak apa yang baik, indah, luhur dan mulia daripada apa yang buruk, remeh, jorok dan kotor. Apa yang baik, luhur, indah dan mulia dalam diri kita antara lain keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh, yaitu :” kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kami berharap kebiasaan berpikir positif ini sedini mungkin ditanamkan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja antara lain dengan teladan konkret dari orangtua/bapak ibu. Apa yang telah dibiasakan di dalam keluarga tersebut hendaknya kemudian diperdalam dan diteguhkan di dalam sekolah-sekolah dan masyarakat. Para pemimpin atau pejabat kami harapkan ketika mengunjungi atau mendatangi bawahannya tidak mencari-cari kelemahan dan kekurangan mereka agar nampak lebih unggul dan wibawa, tetapi lebih melihat apa yang baik, luhur, indah dan mulia. Biarkanlah pada waktunya mereka dengan rendah hati dan jujur menceriterakan sendiri kelemahan dan kekurangannya.

“Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.” (Rm 4:13)

Bapa Abraham adalah bapa dan teladan umat beriman, maka siapapun yang mengaku beriman hendaknya meneladan Bapa Abraham, sebagaimana dikatakan Paulus ini “Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Rm 4:18). Apa yang dimaksudkan dengan ‘dasar untuk berharap’ adalah segala sesuatu yang masuk akal alias dapat difahami dengan akal budi atau logis, dapat dirasakan oleh panca indera kita. Apa yang disebut harapan memang tidak/belum kelihatan, belum dapat dinikmati atau disarakan, jika sudah kelihatan dan dapat dinikmati berarti bukan harapan. Janji merupakan harapan dan belum kelihatan, dan kita semua kiranya pernah berjanji, maka marilah kita mawas diri sejauh mana telah berusaha agar janji tersebut menjadi kenyataan atau terwujud.

Marilah berbagai macam janji yang pernah kita ikrarkan kita hayati berdasarkan iman, yang berarti kita mempersembahkan diri seutuhnya pada janji yang pernah kita ikrarkan beserta aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan janji. Kita hayati janji dengan semangat kasih, hukum utama dan pertama, maka marilah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh kita laksanakan aneka kewajiban dan tugas sebagai uraian aturan atau tatanan. Kepada para pelajar/siswa atau mahasiswa yang sedang belajar kami harapkan sungguh belajar, kepada rekan-rekan pegawai atau pekerja kami harapkan sungguh bekerja, melaksanakan tugas yang dibebankan, dst.. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak anda semua yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri yang diikat dan didasari oleh cintakasih, ajaran utama dan pertama. Hendaknya suami-isteri setia saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehingga anak-anak yang dianugerahkan juga hidup saling mengasihi. Pengalaman hidup saling mengasihi di dalam keluarga akan menjadi modal dan kekuatan untuk dikembangkan dan diperdalam lebih lanjut di dalam masyarakat.

Selain berdasarkan iman, kita juga diharapkan hidup dan bertindak karena kebenaran. Apa yang disebut benar atau baik senantiasa berlaku secara umum atau universal. Salah satu kebenaran dari jati diri kita sebagai manusia adalah sebagai ‘gambar atau citra Allah’, maka selayaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi atau kelompok saja. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan pedoman dan acuan kesejahteraan atau kebahagiaan umum (bonum commune). Para pemimpin atau pejabat kami dambakan dapat menjadi teladan dalam hidup dan bertindak atau memfungsikan jabatan atau kedudukannya demi kesejahteraan atau kebahagiaan umum atau rakyat.

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)

Jakarta, 19 Maret 2010

Ign Sumarya, SJ

Doa Renungan Malam

Allah Bapa yang mahabaik, kami mohon pada-Mu pada malam hari ini utuslah Santo Yusuf untuk menjagai keluarga kamiseperti ia menjaga keluarga Nazaret. Agar karunia yang ada padanya yang berasal dari pada-Mu dapat juga kami rasakan dalam rumah kami ini. Santo Yusuf doakan dan jagalah keluarga kami. Amin.

Bagikan