Rabu, 02 Juni 2010 Hari Biasa Pekan IX

Rabu, 02 Juni 2010
Hari Biasa Pekan IX

"Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."

Doa Renungan

Bapa, sabda-Mu adalah pelita dan terang bagi jalan kami. Kami bersyukur karena rahmat penyertaan-Mu dalam setiap perjalanan hidup kami. Biarlah Sabda-Mu yang adalah terang ini, selalu kami ingat, sehingga apa pun peristiwa yang kami alami hari ini, kami tahu bahwa Engkau selalu menyertai kami. Amin.

Rencana keselamatan tidak dari manusia, tetapi melulu dari Tuhan. Semua karya, jerih payah, tantangan dan derita telah dijadwal, ditimbang, dan diatur oleh Tuhan sesuai dengan kekuatan kita. Yang diminta dari kita ialah sikap rendah hati, percaya dan berangkat menjalankan tugas. Jangan terjebak untuk menyusun target sendiri dan menilai buah kerasulan dari sudut pandang kita.

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius (1:1-3.6-12)


"Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu berkat penumpangan tanganku."

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus, kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau. Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 818
Ref. Tuhan sudi dengarkan rintihan umat-Mu.
Ayat. (Mzm 123:1-2a.2bcd; R: 2cd)
1. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, Engkau yang bersemayam di surga, seperti mata para hamba laki-laki, memandang kepada tangan tuannya.
2. Seperti mata hamba perempuan, memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada Tuhan, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.

Bait Pengantar Injil PS 961
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat. Akulah kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya pada-Ku, tak akan mati.

Meyakini hidup sesudah mati tanpa iman, nyaris tidak mungkin. Imanlah yang mengangkat kita melampaui keterbatasan manusiawi, menuju kebenaran ilahi. Namun, kita jangan beriman secara sembarangan atau dengan tidak memedulikan isi iman kita. Bagi kita, tidak ada kesaksian lain yang lebih terpercaya, selain dari Yesus Kristus. Sebab, dalam kebangkitan Kristus kita mendapatkan kepastian kehidupan abadi dan jaminan keselamatan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:18-27)

"Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."

Pada suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita, 'Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.' Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang wanita, lalu mati tanpa meninggalkan keturunan. Maka yang kedua mengawini dia, tetapi juga mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuh-tujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya wanita itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami wanita itu? Sebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka, "Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan; mereka hidup seperti malaikat di surga. Mengenai kebangkitan orang mati, tidakkah kalian baca dalam kitab Musa, yaitu dalam cerita tentang semak berduri, bahwa Allah bersabda kepada Musa, 'Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Dewasa ini, banyak orang diliputi ketakutan: takut akan masa depan yang buruk; takut akan berbagai bencana yang sewaktu-waktu akan menimpa; takut kalau-kalau di tengah perjalanan akan menghadapi perampokan, pencurian, atau penjambretan. Masyarakat takut, kalau-kalau nanti harga-harga sembako kian tak terjangkau, sulit menyekolahkan anak, sulit mendapatkan pengobatan murah, dan masih banyak ketakutan lainnya.

Meski ketakutan bisa membuat kita tercekam, namun—sebagai orang beriman—kita dipanggil untuk tidak terpagut rasa takut, apalagi sampai kehilangan pengharapan. Alasannya, ”Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2Tim 1:7).

Allah tidak pernah membiarkan kita tercekam oleh ketakutan. Sebab, bukan roh ketakutan yang diberikan-Nya kepada kita, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Itulah sebabnya, seburuk apa pun keadaan sekitar kita, asal tetap mengandalkan kekuatan Allah, kita tetap harus kuat, penuh kasih, dan berpengharapan.

Apalagi, Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Artinya, selagi kita hidup, kita bersama dengan Allah yang menyertai kita bahkan menjamin hidup kita. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk hidup dalam ketakutan!

Syukur bagi-Mu ya Allah, atas kasih setia-Mu yang Kaunyatakan dalam hidupku melalui Yesus Kristus Putra-Mu yang telah menjadi dasar pengharapan hidupku. Amin

Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian & Ruah


Bagikan