Surat Gembala Menutup Tahun Imam

(dibacakan sebagai pengganti kotbah, pada setiap Misa, Sabtu/Minggu, 12/13 Juni 2010)

1. Para Bapak Uskup, segenap imam, biarawan-biarawati, seluruh umat KAJ yang terkasih. Gereja semesta telah menutup Tahun Imam pada pesta Hati Yesus yang Maha Kudus, yang jatuh pada tanggal 11 Juni 2010 hari jumat yang lalu. Karena alasan praktis Keuskupan kita menutup Tahun Imam di tingkat paroki pada hari ini dengan tetap merayakan pesta Hati Yesus yang Maha Kudus. Penutupan tingkat Keuskupan akan dilaksanakan pada hari Senin esok pukul 18.00 di gereja Katedral, juga dengan merayakan Pesta Hati Yesus yang Maha Kudus. Perayaan ini dilaksanakan oleh para Bapak Uskup dan semua imam di KAJ bersama umat yang hadir.

2. Mengapa kita menutup Tahun Imam dengan merayakan Hati Yesus yang Maha Kudus? Karena Tuhan Yesus Kristus yang diutus Bapa menebus dosa dan menyelamatkan kita, pada hari Jumat Agung sengsara dan wafat di kayu salib, bertindak serentak sebagai Imam dan korban. Korban dan kasih-Nya ini secara tuntas tampak ketika Yesus yang sudah wafat tergantung di salib, hati-Nya ditembusi tombak dan mengalirkan tetes darah terakhir. Merayakan Hati Yesus yang Maha Kudus adalah memuji dan memuliakan kasih Imam Agung yang sekaligus Korban. Memuji dan memuliakan Gembala Baik yang tak ingin seorang anak manusia pun tak terselamatkan karena dosanya tak terampuni. Merayakan Tahun Imam adalah mensyukuri Kasih Allah, menyampaikan terima kasih penuh syukur kepada Hati Yesus yang Maha Kudus, menghargai Imamat Yesus yang memiliki daya penyelamatan dan penebusan bagi seluruh umat manusia. Hati Yesus yang Maha Kudus adalah kasih Allah yang sekaligus memiliki kuasa menyelamatkan yang bersumber dari Imamat-Nya yang diwariskan kepada Gereja. Betapa agung dan berharga Imamat Yesus yang diwariskan dalam Gereja.

3. Dengan mewarisi Imamat Yesus, Gereja seluruhnya ditugasi untuk menghadirkan kuasa kasih penyelamatan tersebut untuk semua orang di sepanjang jaman. Sesuai kekhasan panggilan masing-masing sebagai awam, biarawan-biarawati atau imam, seluruh Gereja diharapkan agar bersama dengan Tuhan Yesus dan Roh-Nya ikut serta memastikan agar karya penyelamatan Tuhan Yesus yang pada dasarnya telah paripurna, tidak sia-sia. Disini para imam tertahbis memiliki peran sentral, karena mereka ini menghadirkan Yesus Imam Agung sendiri di tengah Gereja-Nya lewat pelayanan sakramen, lebih-lebih dalam perayaan Ekaristi.

4. Sejak kita resmi membuka perayaan Tahun Imam sudah banyak acara kita lakukan untuk memahami dan mendalami makna imamat dalam Gereja. Apa lagi para imam telah menutup Tahun Imam ini dengan melakukan retret baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Umat pun banyak yang aktif terlibat mendukung acara dan mendoakan para imam. Hasil yang dapat diharapkan adalah pembaruan hubungan kasih seluruh umat, biarawan-biarawati dan para imam dengan Yesus Imam Agung yang begitu besar kasih-Nya kepada kita semua orang yang berdosa. Kesadaran ini pasti membarui sikap seluruh umat, biarawan-biarawati dan para imam untuk semakin terlibat dalam usaha bersama Yesus dan Roh Kudus agar sengsara dan kematian Yesus di salib tidak sia-sia. Bagi para imam ini akan berarti selalu siap sedia dalam setiap saat dan dimana pun menghadirkan kuasa penyelamatan Yesus lewat pelayanan sakramen, yang akan disuburkan dengan pelayanan sabda, bahkan lewat doa dan puasa serta bentuk-bentuk matiraga pribadi lainnya. Para imam pasti semakin sadar bahwa tugas imamatnya menempati posisi kunci dalam memaknai perutusan umat, para biarawan-biarawati sebagai ragi, garam dan terang bagi perilaku dan cara hidup masyarakat sekitarnya. Karenanya akan sangat tekun menyatukan usaha misioner mereka dengan sumber daya dan kuasa penyelamatan itu sendiri yaitu Yesus, Imam Agung, dan Gembala Sejati, lewat diri-Nya saat mempersembahkan Ekaristi bersama mereka. Dengan demikian ada pembaruan komitmen terhadap panggilan hidup dan tugas utama sebagai imam, menjadi semakin setia sebagai teman sekerja Yesus dan semakin tepat menjadi alat di tangan Yesus yang menyelamatkan di tengah umat, bahkan semua orang. Dari situ hidup dan karya imam semakin terfokus, teliti dan cermat melaksanakan visi dan misi Keuskupan, mengetrapkan tata kelola pastoral yang baik berdasarkan data, dapat diukur dan transparan.

5. Meskipun demikian, semakin kita ingin makin baik dan makin tepat guna melayani imamat Kristus, pertanyaan berikut tetap menggelitik : ”Betulkah pengorbanan kasih Yesus tidak sia-sia di keuskupan kita bagi banyak sekali orang? Bagi mereka itu apakah sengsara dan wafat, bilur-bilur di daging dan darah yang tercurah tidak menjadi sia-sia? Kelihatannya memang benar mengingat umat Katolik hanya 461.455 dari sekitar 20 juta masyarakat. Semangat pastoral Gembala Baik menantang tidak hanya dalam menggembalakan kawanan yang telah berada dalam kandang, tetapi juga mereka yang tak pernah akan masuk menjadi kawanan kita. Keselamatan di luar Gereja yang terjadi lewat Roh Kudus yang menerangi budi dan hati orang dan menuntun agar orang sungguh mencari Tuhan dan ingin setia terhadap kehendak-Nya pantas mendapat perhatian lebih besar. Kalau kita semua mempengaruhi agar mereka menjalani hidup dengan selalu mempertangung-jawabkan kepada-Nya, berlaku adil, jujur, suka membantu yang membutuhkan, dan menyingkiri segala dosa, kita mendukung karya Roh yang telah berkarya dalam agama, budaya dalam sejarah bangsa menuju hidup yang lebih baik. Allah yang ingin agar semua orang selamat, tahu bagaimana cara orang baik dibawa ke jalan keselamatan sejati.

6. Maka pemberdayaan umat basis perlu ditingkatkan, lebih-lebih berfokus pada usaha agar terjadi perubahan perilaku bagi anggotanya sendiri maupun bersama warga masyarakat sekitar membangun cara hidup yang lebih baik dan budaya baru di tempat mereka tingggal dan hidup. Kesitu pula tujuan adanya dialog antar umat beragama. Yaitu saling mendukung untuk berperilaku yang lebih baik, dengan membuat proyek layanan masyarakat bersama-sama. Pancasila yang sudah menjadi ideologi bangsa dapat jadi pijakan bersama meningkatkan keutamaan hidup bersama di tengah masyarakat, dan menghapus cara hidup berdosa. Kalau itu terjadi Roh Kudus akan lebih mudah membimbing mereka menuju keselamatan sejati.

7. Pantas kita syukuri hadirnya kekuatan rohani di tengah umat dan masyarakat. Hadirnya biarawan-biarawati serta awam dengan karya pendidikan, kesehatan dan sosial lainnya. Ada banyak umat katolik yang sudah dalam posisi strategis untuk menggarami kehidupan sosial, ekonomi dan politik karena mereka adalah penulis atau penerbit koran atau majalah yang baik, menjadi pelaku ekonomi, menduduki suatu jabatan meski sekecil apapun dalam pemerintahan, menjadi anggota DPRD atau pusat. Tak terkecuali para penegak hukum dan keadilan, para penjaga ketertiban dan keamanan. Pengaruh mereka ini sangat besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku orang dan karenanya juga dalam usaha mengembangkan cara hidup yang berbudaya sesuai ideologi bangsa. Dari semuanya tadi, persekolahan dan asrama sangat strategis dalam mendidik perilaku yang baik sesuai dengan nilai-nilai agama, budaya dan ideologi bangsa. Adalah tugas kita bersama, terlebih para imam untuk menyemangati dan mengarahkan kegiatan mereka ke fokus utama: makin berbakti kepada Allah dan makin baik berperilaku menuju terbinanya budaya hidup baru yang lebih baik. Di situ, bersama dengan kuasa penyelamatan Yesus, kita berusaha untuk meresapi tatanan hidup bersama dengan semangat Injil. Semoga Roh Kudus makin mudah menyempurnakan perilaku hidup setiap orang menuju tujuan hidupnya yang sejati. Dengan demikian Gereja turut berusaha agar sengsara dan wafat Tuhan Yesus tidak sia-sia. Amin.

Mgr. Ignatius Suharyo
Uskup Koajutor KAJ
Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ
Uskup Agung Jakarta



Bagikan

Minggu, 13 Juni 2010 Hari Minggu Biasa XI

Minggu, 13 Juni 2010
Hari Minggu Biasa XI

Tuhan telah menjauhkan dosamu; engkau tidak akan mati.

Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Engkaulah keselamatan siapa saja yang berseru kepada-Mu. Katakanlah sabda-Mu, agar menjadi pegangan kami dalam bahaya dan bebaskanlah kami dari keragu-raguan. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menolong kami dan teguhkanlah iman kami akan kehadiran-Mu di tengah kami dalam diri Yesus Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel (12:7-10.13)

"Tuhan telah menjauhkan dosamu; engkau tidak akan mati."

Setelah Daud mengambil istri Uria, Nabi Natan berkata kepadanya, "Beginilah Firman Tuhan Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan istri-istri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu kutambah lagi ini dan itu. Mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang, istrinya kauambil menjadi istrimu, dan dia sendiri kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dan keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dengan mengambil istri Uria, orang Het itu, untuk menjadi istrimu." Lalu berkatalah Daud kepada Natan, "Aku sudah berdosa Tuhan!" Dan Natan berkata kepadaa Daud, "Tuhan telah menjauhkan dosamu itu; engkau tidak akan mati."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan la = d, 3/4, PS 813
Ref. Mohon ampun, kami orang berdosa. Ya Tuhanku, hapuslah dosaku.
Ayat. (Mzm 32:1-2.5.7.11)
1. Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni, dan dosa-dosanya ditutupi! Berbahagialah orang, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan tidak berjiwa penipu.
2. Dosa-dosaku kuungkapkan kepadamu, dan kesalahanku tidak kusembunyikan; aku berkata, "Aku akan menghadap Tuhan, dan mengakui segala pelanggaranku." Maka Engkau sudah mengampuni kesalahanku.
3. Engkaulah persembunyian bagiku, ya Tuhan! Engkau menjagaku terhadap kesesakan. Engkau melindungi aku, sehingga aku luput dan bersorak.
4. Bersukacitalah dalam Tuhan! (sekalian orang yang beriman!) Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Umat di Galatia (2:16.19-21)

"Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."

Saudara-saudara, kamu tahu, tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan karena iman dalam Kristus dan bukan karena melakukan hukum Taurat. Sebab "tidak seorang pun dibenarkan" karena melakukan hukum Taurat. Sebab oleh hukum Taurat aku telah mati terhadap hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus. Meskipun demikian, aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidup yang kuhayati sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran karena hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 4:10b)
Allah mengasihi kita, dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian untuk dosa-dosa kita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:36-50)

"Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih."

Sekali peristiwa orang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kakinya, lalu membasahi kaki Yesus dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, "Jika Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya itu: mestinya Ia tahu bahwa wanita itu adalah orang yang berdosa." Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon, "Katakanlah, Guru!" "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka hutang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Rekan-rekan yang baik!
Injil Minggu Biasa XI tahun C (Luk 7:36-8:30) menceritakan bagaimana Yesus datang ke perjamuan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Di kota itu, seperti disebutkan dalam Injil, ada seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa. Ketika mendengar tentang Yesus, ia pun datang membawa botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pun datang membasahi kakinya dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, lalu diciumnya kakinya dan diminyakinya Simon orang Farisi yang mengundang Yesus tadi berkata dalam hati, jika Yesus itu nabi pasti tahu bahwa perempuan itu seorang pendosa. Yesus mengetahui pikiran Simon. Mulailah sebuah pembicaraan antara tuan rumah itu dengan Yesus. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan. Ada orang yang berhutang 50 dinar dan orang lain yang berhutang 500 dinar, jadi sepuluh kali lipat. Ketika jelas kedua-duanya tak bisa melunasinya, pemilik uang menghapus hutang mereka. Lalu Yesus menanyai Simon orang Farisi tadi: siapa yang bisa dikatakan "lebih mengasihi" dari antara keduanya? Tentu saja, jawab Simon, orang yang berhutang lebih besar. Jawaban ini dibenarkan Yesus dan dipakai untuk menjelaskan keadaan perempuan pendosa tadi. Ditegaskan oleh Yesus bahwa perempuan tadi telah diampuni dari dosanya yang banyak itu karena ia telah mengungkapkan kasih yang besar.

SIAPAKAH PEREMPUAN ITU

Kisah seorang perempuan yang datang mengurapi Yesus dalam sebuah perjamuan ini mirip-mirip dengan yang diceritakan dalam Mrk 14:3-9, Mat 26:6-13, dan Yoh 12:1-7. Tetapi semakin disimak semakin kentara perbedaannya. Dalam Injil Lukas, peristiwa ini terjadi di sebuah kota di Galilea, di utara dan jauh-jauh hari sebelum Yesus datang di Yerusalem. Dalam ketiga Injil yang lain, peristiwa yang mirip itu terjadi di Betania, di dekat Yerusalem, menjelang hari-hari Yesus mengalami penolakan oleh para pemimpin dan disingkirkan oleh mereka. Namun lebih penting lagi, tidak seperti dalam Injil Lukas, perempuan yang mendekat ke Yesus itu bukan seorang pendosa, melainkan seorang yang datang menghargai Yesus dengan mengurapinya dengan minyak yang mahal. Menurut Lukas perempuan tadi menangis lalu mengurapi kaki Yesus; tapi dalam Injil Markus dan Matius sang perempuan mengurapi kepala Yesus tanpa menangis. Injil Yohanes bahkan menyebutkan bahwa Maria mengurapi kaki dan kepala Yesus dan menyeka dengan rambutnya. Selain Lukas, ketiga Injil tadi menampilkan pernyataan Yesus menanggapi amatan orang bahwa perempuan itu boros belaka dengan menegaskan, yang dilakukan perempuan tadi ialah melembangkan pemakamannya nanti. Ia pun menambahkan bahwa peristiwa ini akan dikisahkan untuk mengenang sang perempuan tadi - maksudnya tindakannya memperlambangkan penguburannya nanti. Pernyataan ini tidak ada dalam Lukas. Selain itu semua, menurut Lukas, tuan rumah yang mengundang Yesus ialah seorang Farisi yang bernama Simon. Markus dan Matius memang menyebut tuan rumah yang bernama Simon, tetapi agaknya bukan orang yang sama. Dari perbandingan ini dapat disimpulkan, meskipun ada kemiripan di antara kisah-kisah itu, peristiwa yang ditampilkan dalam Injil Lukas bukanlah peristiwa yang diceritakan dalam ketiga Injil lainnya.

Baik dicatat bahwa perempuan pendosa yang diceritakan Lukas ini bukanlah Maria Magdalena yang memang disebut-sebut dalam bagian kedua petikan kali ini (Luk 8:2) dan jelas pula bukan Maria saudara Marta dan Lazarus (Yoh 12:3). Kisah perempuan ini tidak dapat dibaca dengan memancangkannya pada seorang tokoh yang dikenal pembaca dulu maupun kini. Justru karena tidak dapat dikenali lagi siapa dia maka kisah ini dapat lebih berarti bagi umum.

APA YANG HENDAK DISAMPAIKAN?

Semakin dibaca dan didalami, kisah ini tampil bukan sebagai kisah bertobatnya seorang perempuan pendosa, melainkan sebagai pengajaran untuk menumbuhkan kepekaan batin akan kebesaran sang Maharahim. Bagaimana penjelasannya?
Melihat ada perempuan pendosa yang dikenal di kota itu datang menangis dan mengurapi kaki Yesus, maka Simon, tuan rumah yang mengundang Yesus berpikir, kalau sungguh orang yang dihargai ini orang "pintar" - nabi - pasti tahu siapa dan apa yang terjadi! Maka lihat saja! Tentu saja tokoh Farisi ini orang terpandang di kota itu. Orang baik-baik. Orang saleh. Jauh dari kawanan orang dosa. Dan ia mau tahu apa nabi kita ini tahu siapa yang mendekatinya. Dalam hati kecil, pembaca zaman dulu dan zaman kini bisa jadi akan juga berpikir seperti Simon.

Ada ironi. Yesus bukan hanya saja tahu bahwa perempuan yang datang menangis dan mengurapi kakinya itu pendosa, tetapi juga mengetahui isi pikiran Simon yang ingin menjajaginya! Di sini jalan ceritanya beralih menjadi kisah pengajaran bagi Simon. Tentunya juga pengajaran bagi siapa saja yang berpikir dan bersikap sebagai Simon, bagi semua orang yang beranggapan sudah berada pada rel keselamatan, merasa aman, tak perlu meributkan diri dengan keadaan orang lain. Sebagaimana orang yang telah merasa yakin mendapat keselamatan dan serba beres, Simon juga merasa perlu menarik garis jelas yang memisahkan kaum saleh seperti dia dengan para pendosa seperti perempuan yang dikenal sebagai pendosa itu. Ia juga yakin bahwa semua orang baik-baik, bila betul saleh, akan menarik garis batas dengan para pendosa. Diharapkannya Yesus juga akan begitu.

Sebelum mendalami lebih jauh, baik diingat bahwa sepanjang kisah ini Yesus tidak mencela Simon. Ia hanya diajak berpikir lewat sebuah perumpamaan mengenai dua orang yang sama-sama dihapus hutangnya, tapi yang satu berhutang sepuluh kali lipat dari yang lain (Luk 7:41-42). Simon ditanya siapa yang lebih mengasihi orang yang menghapus hutang tadi. Jawabnya tentu yang hutangnya lebih besar.

Perumpamaan yang diceritakan Yesus kepada Simon itu kerap diartikan sebagai ajaran bahwa orang yang berhutang lebih besar tadi seharusnya lebih berterima kasih bila hutangnya dihapus. Dengan kata lain, orang yang berdosa besar sepatutnyalah lebih mengasihi Tuhan bila dosanya diampuni. Tapi maksud perumpamaan itu lain. Kedua orang yang berhutang tadi sebenarnya berhubungan baik - mengasihi - pemilik uang. Katakan saja, ada dua orang yang memang dekat dengan Tuhan meski satu ketika mereka berbuat salah terhadapNya. Yang satu jauh lebih besar kesalahannya dari yang lain. Tapi kedua-duanya dihapus hutangnya. Besar kecilnya tak dihitung lagi. Bila Tuhan sama-sama mengampuni dua orang yang jauh berbeda kesalahannya, yang satu sepuluh kali lihat dari yang lain, maka apa yang dapat disimpulkan mengenai sikap kedua orang yang membuat mereka diampuni? Jawabnya tentu saja karena mereka masih tetap mengasihi Tuhan meski telah menyalahiNya. Tapi karena yang satu hutangnya - dosanya - sepuluh kali lipat dari yang lain, tentunya dia lebih merasa sedih telah menyalahi Tuhan jauh lebih dari yang lebih sedikit hutangnya.

Dalam kisah ini, "mengasihi" dapat dibaca kembali dengan menerapkannya pada kepekaan batin seorang pendosa yang merasa pilu telah melakukan kesalahan, telah mengurangi kebesaran Tuhan dengan perbuatan yang kurang baik. Dan inilah yang terjadi pada perempuan pendosa yang datang kepada Yesus di rumah Simon tadi. Inilah cara berpikir yang mendasari perumpamaan yang diceritakan untuk menajamkan batin Simon. Dan Simon pun akhirnya menangkapnya.

PENGAJARAN BAGI SEMUA

Pengajaran bagi Simon ini juga pengajaran bagi semua orang seperti dia. Tetapi untuk memperjelas Lukas juga menyampaikan perkataan Yesus yang menerangkan tindakan perempuan tadi (Luk 7:44-47). Sikap Simon diperhadapkan dengan sikap perempuan tadi. Perempuan pendosa tadi mengungkapkan kepiluan hatinya dengan menangis dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Tapi Simon sang tuan rumah tidak memberi air pada Yesus untuk berbasuh kaki. Memang adat orang di sana dulu bila masuk rumah untuk dijamu, tetamu diberi air oleh pelayan untuk berbasuh kaki. Atau bila tamu amat dihormati maka tuan rumah sendiri akan memberikan kendi air tadi. Dalam kisah ini justru yang menyambut kedatangan Yesus ialah pendosa dan bukan hanya dengan air pembasuh, melainkan dengan air mata. Perempuan itu berkali-kali mencium kaki Yesus. Penghargaan sebesar ini tidak diungkapkan oleh Simon. Bahkan ungkapan keramah-tamahan yang lazim, yakni memeluk tamu yang datang ("mencium" cara orang di sana) tidak dilakukan Simon. Juga penghargaan khusus dengan mengurapi kepala tamu tidak terjadi. Tapi perempuan itu bahkan mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi. Perbandingan seperti ini dimaksud juga sebagai ajaran bagi orang banyak. Yesus hendak menunjukkan bahwa ada orang yang amat mengasihi Tuhan yang entah karena apa telah menyalahi Dia. Orang seperti ini akan merasa pilu dan sedih bila mendapati diri berdosa. Ia menyadari bahwa kesalahannya itu menyakitkan bagi Tuhan. Tetapi ada juga orang yang tak sepeka itu. Simon dan siapa saja yang seperti Simon. Dan kepada Simon ada ajakan untuk berkaca pada rekan yang lebih berkepekaan batin tadi. Itulah inti kisah ini.

Kebesaran Tuhan terarah bagi siapa saja. Besar kecilnya dosa bukan ukuran bagi kerahimanNya. Lalu apa arti pengampunan? Injil Lukas justru memusatkan pada orang yang diampuni sendiri. Dosa itu menyakitkan, dan orang yang diajak untuk ikut merasakan betapa pedihnya dosa itu bagi Tuhan. Yesus dalam tampilan Injil Lukas ini amat berani. Diajarkannya, pengampunan itu terjadi ketika orang bisa dan mau ikut mengalami kepedihan Tuhan. Terlihat bagaimana Lukas menampilkan kekhasan pribadi Yesus dan pengajarannya.


Salam hangat,
A. Gianto

Bagikan